PENTINGNYA MEMPERBAIKI AKHLAK SETELAH MENGENAL MANHAJ SALAF

بسم الله الرحمن الرحيم

PENTINGNYA MEMPERBAIKI AKHLAK SETELAH MENGENAL MANHAJ SALAF

As-Syaikh Abdullah Ibnu Abdurrahim al-Bukhari hafizhahullah.

Saya akan menggunakan kesempatan di sini (untuk menyampaikan hal-hal yang penting).

Sebagian ikhwan—semoga Allah memberkahi mereka—, hal ini sangat disayangkan, saya katakan setelah berpengalaman terhadap keadaan kebanyakan dari para penuntut ilmu dan ikhwan -semoga Allah menunjuki mereka-. Ini adalah nasihat dari orang yang mengasihimu dan juga peringatan bagi yang menginginkan untuk diingatkan, sebagian Ikhwan-semoga Allah menunjuki mereka terhadap as-Sunnah– terbagi menjadi beberapa bagian.

Ada yang dahulunya kafir atau terjatuh ke dalam kekufuran, maka Allah Jalla Wa a’ala memberikan kenikmatan kepadanya dengan Islam dan as-Sunnah, ini adalah nikmat, bukankah demikian?

Ada yang dahulunya muslim secara asal namun, dia berada dalam kesesatan, lalai dalam menunaikan kewajiban terhadap Allah, kemudian Allah berikan hidayah kepada as-Sunnah dan istikamah.

Ada yang tumbuh (dari kecil hingga besar) walhamdulillah di atas kebaikan dan keselamatan di antara Ahlus Sunnah, beradab dengan adab mereka, belajar ilmu dari mereka, jelas?

Bagian pertama dan kedua tidak diragukan bahwa hal ini merupakan nikmat yang sangat besar, Allah berikan kenikmatan dia dengan Islam dan as-Sunnah nikmat yang sangat besar yang tidak ada bandingannya.

Akan tetapi, yang disayangkan dan menyedihkan adalah tetap tinggalnya noda-noda kekufuran dan akhlak-akhlak fasik (akhlak jelek) yang lalu padanya seperti berburuk sangka, menipu, dusta, mengadu domba, membuat makar, dan yang lainnya dari akhlak yang merusak.

Tetap tinggal bersamanya setelah dia menetapi (jalan) sunnah. Tidak ada usaha untuk memperbaikinya, inilah yang membuat kerusakan yang banyak dan besar. Bahkan, terkadang bisa menjadi sebab dalam hal membuat sebagian manusia yang menghadap kepada as-Sunnah lari, disebabkan akhlak yang diwarisinya.

Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (kepada salah seorang sahabat), ‘Sesungguhnya padamu ada sifat jahiliah.’ Ketika sebagian mereka saling memanggil, ‘Wahai kaum Muhajirin, wahai kaum Anshar.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apakah dengan panggilan jahiliah (kalian memanggil) dalam keadaan saya ada di antara kalian? Tinggalkan perbuatan ini! Sesungguhnya itu adalah panggilan yang jelek.’ maka perkara ini tidak boleh.

Bagi orang yang menetapi jalan as-Sunnah wajib baginya untuk berakhlak dengan akhlak Ahlus Sunnah dan mempelajari apa yang ditunjukkan oleh as-Sunnah berupa akhlak yang mulia, baiknya adab dan santun. Demi Allah, perkara ini sungguh saya telah menjumpainya dan kebanyakan dari pertikaian di antara penuntut ilmu yang satu manhaj yang sunni salafiy kembalinya ke hal-hal yang seperti ini. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan, meskipun hal ini samar bagimu, mesti hal ini tampak dari yang terlepas pada lisan dan perbuatannya.

Maka wajib atas setiap Insan wahai saudara-saudara sekalian untuk memperbaiki, bertaubat, kembali (kepada Allah), mengoreksi, dan memperbaiki dirinya, serta memperbaiki jalan yang dia berjalan di atasnya. Adapun tetap berjalan dengan akhlak jelek tersebut, (maka hal itu tidak semestinya, —pen.).

Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam datang membawa Islam, manusia berada dalam akhlak jahiliah, ini adalah perkara yang tampak dan jelas seperti zina, syirik, sihir, riba, perjudian, dan yang lainnya dari akhlak-akhlak yang rusak dan sesat. Akan tetapi, dari sebagian akhlak mereka ada yang baik seperti pemberani, dermawan, memuliakan tamu, berbuat baik kepada orang yang membutuhkan, dan selain itu, maka datanglah Islam menetapkan akhlak yang baik tersebut dan melarang yang berlawanan dengannya, semua akhlak yang jelek tersebut diperangi dan dihapus oleh Islam.

Kalau begitu tidak boleh wahai saudaraku! Saya bukanlah orang yang menyingkap isi dada-dada manusia. Akan tetapi, engkau lebih mengetahui tentang dirimu, duduklah bersama dirimu wahai saudaraku! Hisablah dirimu! Ketahuilah! Bahwa sahabat Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,

‘Hisablah diri-diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah amalan kalian sebelum kalian ditimbang.’ (Ingatlah!)

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ،وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسُهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الْأَمَانِي

‘Orang yang cerdas adalah yang menundukkan jiwanya dan beramal untuk persiapan kehidupan setelah kematian. Adapun orang yang lemah adalah orang yang mengikuti keinginan hawa nafsunya tetapi mengharapkan kepada Allah angan-angannya.’

Wahai saudaraku! Duduklah! Hisablah dirimu! Akhlak-akhlak (jelek) ini wajib engkau tinggalkan.

Kalau begitu apa yang benar, akhlak-akhlak jelek tersebut diganti dengan apa? As-Sunnah walhamdulillah terjaga. Oleh karena ini, para ulama sangat memperhatikan dalam memberikan peringatan untuk berada di atas akhlak yang mulia dan mencegah dari kebalikannya.

Di dalam kitab-kitab dan tulisan-tulisan, (bisa dilihat) di dalam Shahih al-Bukhari, kitab adab, riqaq (akhlak yang lembut), dan selainnya. Bahkan, al-Imam al-Bukhari menyusun kitab tersendiri di dalam al-Adab al-Mufrad bukankah demikian? Lihatlah Wahai saudaraku, lihatlah akhlak-akhlak ini, bacalah adab-adab nabawi.

Abu syekh juga memiliki risalah yang tersusun tentang akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baca dan pelajarilah wahai saudaraku, tidaklah seseorang dilahirkan dalam keadaan berilmu. Adapun jika engkau tetap bersama kami dalam keadaan menetapi (akhlak jelek tersebut) sampai meninggal dunia, kapan kita akan memperbaiki? Kapan minta ampun? Kapan bertaubat (dari ini semua)?

Kalau begitu menetapi as-Sunnah di dalamnya terdapat kebaikan, melampaui as-Sunnah di dalamnya terdapat kejelekan.

Hendaklah engkau berhati-hati dari menyandarkan akhlak dan perbuatanmu yang jelek kepada as-Sunnah.

💥Perhatikan!!

(Dengan sebab yang demikian itu) engkau bisa menjadi musuh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan engkau menjadi salah satu dari yang berdusta terhadap beliau.

Sumber: https://youtu.be/q2rgM18oBys

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: CELAAN ITU TIDAK AKAN MEMUDARATKAN RASUL SEDIKIT PUN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

MENYANDARKAN FAEDAH KEPADA PEMILIKNYA

بسم الله الرحمن الرحيم

MENYANDARKAN FAEDAH KEPADA PEMILIKNYA

Merupakan sesuatu yang sangat menggembirakan seorang mukmin terlebih khusus adalah para penuntut ilmu agama, tatkala mendapatkan faedah-faedah ilmiyah yang tentunya hal itu sangat bermanfaat bagi dirinya karena keadaannya dalam menuntut ilmu ini, tidak lepas dari salah satu dari dua perkara;

  1. Adakalanya dia memberi faedah atau
  2. Dia mendapatkan faedah.

Dan perkara yang tidak kalah penting untuk diketahui bersama adalah tatkala seseorang mendapatkan faedah, hendaknya faedah tersebut disandarkan kepada pemiliknya, misal ketika dia membawakan suatu ucapan yang ringkas dan sangat bermanfaat untuk diamalkan dari salah seorang ulama, maka semestinya dia menukil bahwa ucapan ini dari alim tersebut.

Demikian pula dalam sebuah tulisan baik di dalam dunia maya atau tulisan biasa, hendaknya disampaikan bahwa faedah ini dari kitab ini atau dari link (tautan) ini.

Pada kesempatan ini kita akan menyimak dan mendapatkan keterangan serta faedah dari ulama kita terdahulu dalam menyampaikan dan menyandarkan ilmu kepada pemiliknya:

  1. Menyandarkan ilmu kepada pemiliknya termasuk dari keberkahan ilmu tersebut, Ibnu Abdil Bar rahimahullah berkata,

إن من بركة العلم أن تضيف الشيء إلى قائله

“Sesungguhnya termasuk dari keberkahan ilmu engkau menyandarkan sesuatu kepada orang yang mengatakannya.” (Jāmi’ Bayānil ‘Ilm wa Fadhlih, jilid 2, hlm. 922).

Al-Imam an-Nawawi berkata,

ومن النصيحة أن تضاف الفائدة التي تستغرب إلى قائلها فمن فعل ذلك بورك له في علمه وحاله ومن أوهم ذلك وأوهم فيما يأخذه من كلام غيره أنه له فهو جدير أن لا ينتفع بعلمه ولا يبارك له في حال. ولم يزل أهل العلم والفضل على إضافة الفوائد إلى قائلها نسأل الله تعالى التوفيق لذلك دائما.

“Termasuk dari nasihat adalah menyandarkan faedah yang engkau dapatkan kepada orang yang mengatakannya. Barang siapa yang melakukan hal itu, niscaya dia akan diberkahi dalam ilmu dan keadaannya.

Barang siapa yang tidak melakukannya, menjadikan seolah-olah yang dia ambil dari ucapan orang lain adalah ucapan dia, maka sangat pantas ilmunya tidak bermanfaat dan tidak diberkahi pada keadaannya.

Para ulama dan orang yang memiliki keutamaan selalu menyandarkan faedah-faedah kepada orang yang mengucapkannya, kita memohon kepada Allah Ta’ala hidayah taufik untuk mengamalkan hal itu selalu.” (Bustānul ‘ārifīn, jilid 1, hlm. 16).

  1. Sebagai bentuk kejujuran dan amanah ilmiyah, al-Hafizh as-Sakhawi rahimahullah berkata,

وصح عن سفيان الثوري أنه قال ما معناه: نسبة الفائدة إلى مفيدها من الصدق في العلم وشكره، وأن السكوت عن ذلك من الكذب في العلم وكفره

“Telah sahih berita dari Sufyan ats-Tsauri bahwa beliau berkata yang maknanya adalah menyandarkan faedah kepada yang memberikannya termasuk kejujuran dalam ilmu dan sebagai bentuk rasa syukur, sedangkan diam dan tidak melakukannya termasuk dari kedustaan dalam ilmu dan mengkufurinya.” (Al-Jawāhir, jilid 1, hlm. 181).

Berikut ini kita akan simak penjelasan ulama kita dan adab mereka dalam menukil faedah, al-Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata,

وشرطي في هذا الكتاب: إضافة الأقوال إلى قائليها، والأحاديث إلى مصنفيها، فإنه يقال: من بركة العلم أن يضاف القول إلى قائله. وكثيرا ما يجئ الحديث في كتب الفقه والتفسير مبهما، لا يعرف من أخرجه إلا من اطلع على كتب الحديث، فيبقى من لا خبرة له بذلك حائرا، لا يعرف الصحيح من السقيم، ومعرفة ذلك علم جسيم، فلا يقبل منه الاحتجاج به، ولا الاستدلال حتى يضيفه إلى من خرجه من الأئمة الأعلام، والثقات المشاهير من علماء الإسلام. ونحن نشير إلى جمل من ذلك في هذا الكتاب، والله الموفق للصواب.

“Syaratku di dalam kitab ini (tafsir al-Qurthubi) menyandarkan ucapan-ucapan kepada yang menyampaikannya dan hadis-hadis kepada penyusunnya karena sesungguhnya telah di katakan, ‘Termasuk dari keberkahan ilmu adalah menyandarkan ucapan kepada pengucapnya.’

Kebanyakan hadis yang datang di dalam kitab-kitab fikih dan tafsir disebutkan secara tidak jelas, tidak diketahui siapa yang mengeluarkannya kecuali ada yang meneliti kitab-kitab hadis. Maka hal ini membuat orang yang tidak pengalaman dalam perkara tersebut bimbang, tidak mengetahui hadis shahih dan yang berpenyakit, sedangkan mengetahui yang demikian itu ilmunya sangat luas.

Tidak akan diterima argumen sampai menyandarkannya kepada siapa yang mengeluarkannya dari imam-imam yang mumpuni dan orang-orang yang terpercaya dan dikenal dari kalangan ulama Islam dan kami mengisyaratkan kepada itu semua di dalam kitab ini. Hanya Allah-lah yang memberi hidayah taufik kepada kebenaran.” (Tafsir al-Qurthubī, jilid 1,hlm. 3).

Al-Hafidz adz-Dzahabi menyebutkan di dalam kitabnya as-Siyar tentang biografi imam Ahmad al-Khalil al-Farahidi Abu Abdirrahman salah seorang ulama besar pada zamannya. Beliau menyebutkan sifat rendah hati Ahmad al-Khalil,

قال أيوب بن المتوكل: كان الخليل إذا أفاد إنسانا شيئا، لم يره بأنه أفاده، وإن استفاد من أحد شيئا، أراه بأنه استفاد منه.
قلت: صار طوائف في زماننا بالعكس.

“Ayyub ibnu al-Mutawakil berkata,

‘Dahulu al-Khalil apabila memberi faedah sesuatu kepada seseorang, beliau tidak memperlihatkan bahwa beliaulah yang memberi faedah. Apabila mendapat faedah sesuatu dari seseorang, beliau memperlihatkannya bahwa telah mendapatkan faedah darinya.’

Saya katakan (adz-Dzahabi),

‘Sekelompok manusia pada zaman kita sekarang ini keadaannya terbalik dari itu.’ (Siyar a’lām an-Nubalā’, jilid 7, hlm. 431).

Subhanallah alangkah butuhnya kita dengan penjelasan di atas, semoga kita semua diberi taufik untuk bisa mengamalkannya.”

Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: BETAPA BESAR PENGARUH NASIHAT YANG TULUS

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

CELAAN ITU TIDAK AKAN MEMUDARATKAN RASUL SEDIKIT PUN

بسم الله الرحمن الرحيم

CELAAN ITU TIDAK AKAN MEMUDARATKAN RASUL SEDIKIT PUN

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata,

“Orang-orang yang mencela Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka menghina, ini bukan perkara baru. Bahkan, terjadi pada masa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

وَإِذَا رَأَوْكَ إِنْ يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَٰذَا الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ رَسُولًاإِن كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ ءَالِهَتِنَا لَوْلَآ أَن صَبَرْنَا عَلَيْهَا

‘Dan apabila mereka melihat engkau (Muhammad), mereka hanyalah menjadikanmu sebagai ejekan (dengan mengatakan), inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul? Sesungguhnya hampirlah dia menyesatkan kita dari sesembahan-sesembahan kita, kalaulah kita tidak sabar (menyembah)nya.’ (al-Furqan: 41-42).

Mereka mencela dan menghina Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam semenjak Allah mengutus Rasul. Mereka tidak hanya mencela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan seluruh para Nabi, menghina dan mencela serta membunuh di antara para Nabi. Ini bukan sesuatu yang asing.

Ini adalah rantai yang bersambung dari perbuatan orang-orang kafir. Akan tetapi, alhamdulillah hal itu tidak akan memudaratkan Allah dan Rasul-Nya sedikit pun dan mereka tidak akan bisa melemahkan tekad kaum muslimin bahkan, nampaknya pengingkaran dari kaum muslimin, hal itu merupakan tanda bahwa kaum muslimin walillahilhamd dalam kebaikan, bisa jadi ini terdapat kebaikan di dalamnya walhamdulillah.
Allah berfirman,

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ

‘Bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal hal itu amat baik bagi kalian.’ (al-Baqarah: 216).

Kaum muslimin sekarang membela Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hal ini insya Allah akan menjadi sebab berpegang teguh terhadap sunah beliau dan ditinggalkannya bidah dan perkara baru dalam agama, ini adalah jalan kebaikan walhamdulillah.

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ

‘Bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal hal itu amat baik bagi kalian.’ (al-Baqarah: 216).

Adapun mereka, maka tidak akan memudaratkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَشَاقُّوا الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَىٰ لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا وَسَيُحْبِطُ أَعْمَالَهُمْ

‘Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun. Dan Allah akan menghapuskan amal-amal mereka.’ (Muhammad: 32).

Kalau begitu kemudaratan itu akan kembali kepada mereka walhamdulillah.

Sumber: https://youtu.be/rrSRfLCi6Es

Alih bahasa: Abu Fudhail ‘Abdurrahman ibnu ‘Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: MENYANDARKAN FAEDAH KEPADA PEMILIKNYA

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

USAHA ITU HARUS DISERTAI DENGAN DOA

بسم الله الرحمن الرحيم

USAHA ITU HARUS DISERTAI DENGAN DOA

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

قال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم (المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف وفي كل خير احرص على ما ينفعك واستعن بالله) فأمر بالحرص والاستعانة لأن الحرص وحده لا يكفي والاستعانة بدون حرص لا تنفع لأن الاستعانة بدون حرص ليست استعانة حقيقية إذ أن المستعين بالله لابد أن يفعل الأسباب ويستعين بالرب عز وجل.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Masing-masing dari keduanya terdapat kebaikan. Bersemangatlah untuk perkara-perkara yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah.’

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan bersemangat dan memohon pertolongan karena semangat saja tidak cukup. Memohon pertolongan kepada Allah tanpa ada kesemangatan tidak akan bermanfaat karena memohon pertolongan tanpa ada kesemangatan bukanlah memohon pertolongan pada hakikatnya. Seseorang yang memohon pertolongan kepada Allah, harus menjalankan sebab disertai dengan memohon pertolongan kepada Rabb ‘Azza wa Jalla.”

Sumber: Fatāwā Nūrun ‘alā ad-Darb, jilid 24. Hlm. 2.

Alih Bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: JIKA SUDAH REZEKIMU, MAKA TIDAK AKAN KE MANA

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

ADA SAATNYA TEGAS DAN ADA SAATNYA LEMBUT DALAM MENDIDIK

ADA SAATNYA TEGAS DAN ADA SAATNYA LEMBUT DALAM MENDIDIK

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

والإنسان العاقل يعرف كيف يربي أهله، يعاملهم تارة بالحزم وتارة باللين، حسب ما تقتضيه الأحوال، إذا رأى منهم شدة فليكن أمامهم لينا، وإذا رأى منهم لينا وقبولا فليكن أمامهم حازما ولا أقول: شديدا بل يكون حازما لا يفوت الفرصة.

“Seorang yang berakal mengetahui bagaimana cara mendidik keluarganya. Terkadang dia bergaul bersama mereka dengan tegas dan terkadang dengan lemah lembut, sesuai dengan keadaan. Apabila dia melihat mereka sedang dalam keadaan keras, maka hendaknya dia menyikapi mereka dengan lemah lembut. Apabila melihat mereka sedang dalam keadaan lunak dan bisa menerima, maka hendaknya dia menyikapi mereka dengan tegas, dan aku tidak mengatakan keras. Bahkan hendaknya dia tegas sehingga tidak terluputkan darinya kesempatan.”

Sumber: Al-Liqā’ asy-Syahrī, jilid 28, hlm. 10.

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga : BETAPA BESAR KEUTAMAAN MEMBANTU ORANG LAIN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

TIDAK BAIK BERMUSUHAN KARENA URUSAN DUNIA

TIDAK BAIK BERMUSUHAN KARENA URUSAN DUNIA

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

الأعمال تعرض على الرب عز وجل كل إثنين وكل خميس إلا رجلين بينهما شحناء وفي قلوبهما شيء من الكراهية والعداوة فإنه يقال: (أنظرا هذين حتى يصطلحا) ولذلك ينبغي للإنسان أن يحاول ألا يكون في قلبه غل على أحد من المسلمين، حتى لو أن النفس الأمارة بالسوء قالت له: إن فلانا فعل كذا وفعل كذا وقال كذا، يجب أن يمحو ذلك من قلبه وأن يكون قلبه نظيفا بالنسبة لإخوانه المسلمين.

“Setiap amalan kebaikan akan dihadapkan kepada Rabb ‘Azza wa Jalla setiap hari Senin dan Kamis kecuali dua orang yang terjadi di antara mereka permusuhan dan di hati mereka berdua terdapat kebencian dan permusuhan. Sesungguhnya dikatakan, ‘Tundalah amalan mereka berdua ini sampai mereka berdamai’. Oleh karena ini, semestinya bagi seseorang untuk berusaha agar tidak ada di hatinya kebencian kepada seorang pun dari muslimin, sekalipun jika jiwa yang memerintahkan kepada kejelekan ini berbisik kepadanya, ‘Sesungguhnya si anu telah berbuat demikian dan demikian, telah berkata demikian’. Maka wajib baginya untuk menghapus itu dari hatinya. Wajib baginya untuk membersihkan hatinya dari kebencian terhadap saudara-saudaranya semuslim.”

Sumber: Al-Liqā’ asy-Syahrī, jilid 36, hlm. 26.

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga :TATKALA TUJUAN IBADAH INGIN DISEBUT-SEBUT ORANG LAIN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com