TAKBIRATUL IHRAM

بسم الله الرحمن الرحيم

TAKBIRATUL IHRAM

Setelah seseorang berniat yakni bertekad dalam salatnya hendak melakukan salat tertentu, selanjutnya adalah dia bertakbir yaitu dengan mengucapkan Allahu Akbar. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan dalam riwayat yang shahih,

كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يَسْتَفْتِحُ الصَّلَاةَ بالتَّكْبِيرِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai salatnya dengan takbir.” ( Shahih Muslim, no. 498).

HUKUM MENGUCAPKAN TAKBIRATUL IHRAM

Mengucapkan takbiratul ihram adalah termasuk salah satu rukun salat tidak sah salat orang yang tidak bertakbir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تحريمها التكبير وتحليلها التسليم.

“Yang mengharamkan salat adalah takbir, dan yang menghalalkannya adalah salam.”
(Abu Daud dan disahihkan oleh syekh al-Albani di dalam al-Irwā’, no. 301).

Makna hadis di atas adalah salat diawali dengan takbir, diakhiri dengan salam dan salat seseorang tidak sah tanpa takbir, tatkala sudah masuk takbir, maka seseorang diharamkan melakukan perkara yang membatalkannya sedangkan yang mengakhirinya adalah salam. Syekh al-Albani menerangkan,

تحريم ما حرم الله منها من الأفعال وكذا تحليلها أي تحليل ما أحل خارجها من الأفعال … الدخول غي تحريمها لا يكون إلا بالتكبير والخروج منها لا يكون إلا بالتسليم

“Maknanya adalah mengharamkan perbuatan-perbuatan yang Allah haramkan dari salat tersebut demikian pula yang menghalalkannya yakni menjadikan halal perbuatan yang dikerjakan di luar salat … masuk dalam pengharaman salat (yakni diharamkan mengerjakan perbuatan yang dilarang saat salat, -pen.) tidaklah terjadi kecuali dengan takbir dan keluar darinya tidaklah terjadi melainkan dengan salam.”
( Shifah Shalah an-Nabi, hlm. 75).

SAHKAH SALAT TANPA TAKBIRATUL IHRAM?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan,

فلو نسي الإنسان تكبيرة الإحرام، جاء ووقف في الصف ثم نسي وشرع في القراءة وصلى فصلاته غير صحيحة وغير منعقدة إطلاقا، لان تكبيرة الإحرام لا تنعقد الصلاة إلا بها، قال النبي صلي الله عليه وسلم لرجل علمه كيف يصلي،
((قال: ((إذا قمت إلى الصلاة فاسبغ الوضوء، ثم استقبل القبلة فكبر
فلابد من التكبير، وكان النبي صلي الله عليه وسلم مداوما علي ذلك.

“Jika seseorang lupa takbiratul ihram misal, dia datang dan berdiri masuk ke dalam saf kemudian dia lupa dan memulai salatnya dengan langsung membaca bacaan salat, dan dia telah menyelesaikan salat. Maka salatnya tidak sah secara mutlak karena salat, tidak sah tanpa takbiratul ihram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seseorang, beliau mengajarinya bagaimana tata cara salat,

‘Apabila engkau berdiri hendak salat, maka perbaguslah wudumu kemudian menghadaplah ke kiblat dan bertakbirlah.’

Maka harus ada takbiratul ihram karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu terus menerus membaca takbiratul ihram.”
( Syarh Riyadh ash-Shālihīn, jilid 1, hlm. 389).

BAGAIMANA SALAT ORANG YANG LUPA MEMBACANYA DAN HAL ITU DIA INGAT KETIKA SEDANG SALAT?

Dalam hal ini ada dua keadaan;

  1. Dia benar-benar lupa.
  2. Perasaan was-was.

Jika keadaannya yang pertama, maka hendaknya dia bertakbir ketika ingat dan jika keadaannya hanya perasaan was-was, maka hendaknya diabaikan saja. Syekh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah Ta’ala menjelaskan,

إذا نسي تكبيرة الإحرام أو شك في ذلك فعليه أن يكبر في الحال، ويعمل بما أدرك بعد التكبيرة، فإذا كبر بعد فوات الركعة الأولى من صلاة الإمام اعتبر نفسه قد فاتته الركعة الأولى فيقضيها بعد سلام الإمام، واذا أعاد التكبيرة في الركعة الثالثة اعتبر نفسه قد فاتته ركعتان فيأتي بركعتين بعد السلام من الصلاة، هذا إذا كان ليس لديه وسوسة، أما إن كان موسوسا فإنه يعتبر نفسه قد كبر في أول الصلاة ولا يقضي شيئا مراغمة للشيطان ومحاربة لوسوسته، .والحمد لله

“Apabila dia lupa takbiratul ihram atau ragu, maka wajib baginya untuk melakukannya ketika itu dan melanjutkan amalan yang sedang dia kerjakan setelah bertakbir. Apabila dia baru melakukan takbiratul ihram setelah lewat satu rakaat imam, dan dia menganggap dirinya tertinggal satu rakaat, setelah salam dia tetap menambah satu rakaat.

Apabila dia mengucapkan takbiratul ihram tersebut di rakaat ke tiga dan dia menganggap dirinya tertinggal dua rakaat, setelah salam dia tetap menambah dua rakaat. Hal ini apabila tidak ada rasa was-was terhadap dirinya, adapun jika dia dihantui perasaan was-was, maka dia tetap menganggap dirinya telah bertakbir pada awal salat dan tidak mengqadanya sedikit pun, yang demikian ini dilakukan dalam rangka memerangi setan dan perasaan was-wasnya.”
( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 11, hlm. 275-276).

✍🏻 Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: SIFAT SALAT NABI

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

BOLEHKAH MELAFAZKAN TAKBIR DENGAN SELAIN LAFAZ ALLAHU AKBAR SEPERTI ALLAHU AJALL, ALLAHU A’ZHAM DAN YANG LAINNYA?

BOLEHKAH MELAFAZKAN TAKBIR DENGAN SELAIN LAFAZ ALLAHU AKBAR SEPERTI ALLAHU AJALL, ALLAHU A’ZHAM DAN YANG LAINNYA?

Jawabannya bahwa pendapat yang benar adalah tidak boleh karena lafaz takbir itu datangnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan itu yang selalu dilafazkan beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat!”
(HR. al-Bukhari, no. 6008).

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

ولابد أن يقول الله أكبر فلا يجزي أن يقول: الله أجل، أو الله أعظم وما أشبه ذلك

“Seseorang harus mengucapkan Allahu akbar (Allah maha besar)! Tidak sah jika dia berucap Allahu ajall (Allah maha mulia) atau Allahu a’zham (Allah maha agung) dan yang semisalnya.”
(Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 13, hlm. 343).

HATI-HATI DARI SALAH PENGUCAPAN LAFAZ TAKBIR

Hal ini seperti memanjangkan huruf hamzah di awal atau huruf ba. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

ولا يصح التكبير بمد همزة آل فلا يقول: “الله أكبر” لأنها تنقلب حينئذ استفهاما، ولا يصح أن يمد الباء فيقول: “أكبار” لأنه حينئذ تكون جمعا للكبر، والكبر هو الطبل فهو أكبار كأسباب جمع سبب وأكبار جمع كبر هكذا قال أهل العلم.

“Tidak sah lafaz takbir dengan memanjangkan huruf hamzah al, jangan seseorang mengucapkan ‘Aallahu akbar’ karena maknanya berubah menjadi pertanyaan (mempertanyakan kebesaran Allah).

Tidak sah pula dengan memanjangkan huruf ba (Allaahu akbaar) karena ketika ini berubah menjadi bentuk jamak dari kabr yang maknanya adalah gendang. Lafaz akbaar bentuknya seperti asbaab kata jamak dari sabab sedangkan akbaar kata jamak dari kabr, demikian kata para ulama.” (Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 13, hlm. 343).

SAHKAH MENGUCAPKAN ALLAHU WAKBAR?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

وأما ما يقوله بعض الناس “الله وكبر” فيجعل الهمزة واوا، فهذا له مساغ في اللغة العربية فلا تبطل به الصلاة.

“Adapun apa yang diucapkan sebagian manusia, ‘Allahu wakbar’ dengan merubah hamzah menjadi wau, maka ini ada sisi bolehnya dalam bahasa Arab sehingga salatnya tidak batal.” (Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 13, hlm. 343).

BAGAIMANA TAKBIRNYA ORANG YANG BISU?

Hendaknya dia bertakbir sesuai dengan kemampuannya. Al-Lajnah ad-Dāimah pernah ditanya dengan suatu pertanyaan,

كيف يصلي من لا يستطيع أن يتكلم ولا يسمع، أو يتكلم ولا يسمع؟
ج١: يصلي على قدر استطاعته لقوله تعالى: {لا يكلف الله نفسا إلا وسعها} وقوله: {ما يريد الله ليجعل عليكم من حرج} وقوله تعالى: {يريد الله بكم اليسر} وقوله تعالى: {فاتقوا الله ما استطعتم}

Pertanyaan:
Bagaimana salatnya orang yang tidak bisa berbicara dan tidak bisa mendengar atau bisa berbicara dan tidak bisa mendengar?

Jawaban:
Hendaknya dia salat sesuai dengan kemampuannya berdasarkan firman Allah Ta’ala,

‘Allah tidak membebani jiwa di luar kesanggupannya.’
(al-Baqarah: 286). Dan firman Allah,

‘Allah tidak ingin menjadikan kalian berat.’
(al-Maidah: 6). Dan firman Allah,

‘Allah ingin memudahkan kalian.’
(al-Baqarah: 185). Dan firman Allah,

‘Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kesanggupan kalian.’
(at-Taghabun: 16). (Sumber: Fatāwā al-Lajnah ad-Dāimah, no. 5343).

✍🏻 Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: SIFAT SALAT NABI

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com