HAK SIAPAKAH IKAMAH ITU?

بسم الله الرحمن الرحيم

HAK SIAPAKAH IKAMAH ITU?

Saudaraku sekalian yang semoga dirahmati oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala pada kesempatan ini kita akan membahas tentang menegakkan ikamah. Mudah-mudahan dapat bermanfaat teruntuk kaum muslimin secara umum.

Disebutkan di dalam Sunan at-Tirmidzi,

بَابُ مَا جَاءَ أَنَّ الإِمَامَ أَحَقُّ بِالإِقَامَةِ

“Bab tentang imam lebih berhak terhadap ikamah.”

Kemudian al-Imam at-Tirmidzi menyebutkan hadis Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu,

كَانَ مُؤَذِّنُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُمْهِلُ فَلاَ يُقِيمُ، حَتَّى إِذَا رَأَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ خَرَجَ أَقَامَ الصَّلاَةَ حِينَ يَرَاهُ.

“Dahulu muazin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunda, tidaklah menegakkan ikamah sampai apabila melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam sungguh benar telah keluar, dia menegakkan ikamah ketika melihat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
( Sunan at-Tirmidzi, no. 202  dan dihasankan oleh at-Tirmidzi).

Dan al-Imam at-Tirmidzi pun menukil dari sebagian ulama. Beliau berkata,

وَهَكَذَا قَالَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ: إِنَّ الْمُؤَذِّنَ أَمْلَكُ بِالأَذَانِ، وَالإِمَامُ أَمْلَكُ بِالإِقَامَةِ.

“Demikianlah sebagian ulama berkata,
‘Sesungguhnya muazin lebih berhak terhadap azan sedangkan imam lebih berhak terhadap ikamah.'”
( Sunan at-Tirmidzi, no. 202  dan dihasankan oleh at-Tirmidzi).

Di dalam Shahih Muslim dari sahabat Jabir bin Samurah pula disebutkan,

كانَ بلَالٌ يُؤَذِّنُ إذَا دَحَضَتْ، فلا 

يُقِيمُ حتَّى يَخْرُجَ النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ ،فَإِذَا خَرَجَ أَقَامَ الصَّلَاةَ 

حِينَ يَرَاهُ

“Dahulu Bilal melakukan azan tatkala matahari tergelincir. Tidaklah beliau menegakkan ikamah sampai apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah keluar. Apabila beliau telah keluar, Bilal pun menegakkan ikamah tatkala melihat beliau shallallahu ‘alaihi wa salllam.”( Shahih Muslim, no. 606).

Sedangkan di dalam riwayat yang lain dari sahabat Abu Qatadah al-Harits bin Rib’ī   
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فلا تَقُومُوا حتَّى تَرَوْنِي

“Apabila ikamah telah ditegakkan, maka janganlah kalian berdiri sampai kalian melihat aku.”
( al-Bukhari, no. 637, 638  dan Muslim, no. 604).

Hadis pertama, yakni dari sahabat Jabir bin Samurah memberikan faedah bahwa tidaklah ditegakkan ikamah kecuali setelah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan hadis kedua yakni dari sahabat Abu Qatadah memberikan faedah bahwa tidaklah ditegakkan ikamah kecuali sebelum melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana menggabungkan dua hadis tersebut? Pembaca sekalian yang semoga dirahmati oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala marilah kita simak penjelasan dari ulama kita tentang hal ini. Al-Imam al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan,

وَيُجْمَعُ بَيْنَهُمَا بِأَنَّ بِلَالًا كَانَ يُرَاقِبُ وَقْتَ خُرُوجِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَوَّلَ مَا يَرَاهُ يَشْرَعُ فِي الْإِقَامَةِ قَبْلَ أَنْ يَرَاهُ غَالِبُ النَّاسِ ثُمَّ إِذَا رَأَوْهُ قَامُوا

“Kedua hadis tersebut digabungkan pemahamannya, yaitu bahwa Bilal dahulu menanti waktu keluarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Awal mula beliau melihat Rasulullah, beliau langsung memulai ikamah sebelum keumuman manusia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian tatkala mereka melihat beliau, mereka pun langsung berdiri.”    (  Tuhfah al-Ahwadzī, jilid 1, hlm. 513 )

Saudaraku yang semoga dirahmati oleh Allah, seperti inilah keadaan pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; tidaklah muazin menegakkan ikamah melainkan tatkala melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau adalah sebagai imam salat, maka atas dasar ini, imam lebih berhak terhadap ikamah dan semestinya bagi setiap masjid kaum muslimin memiliki imam tetap dalam menunaikan salat 5 waktu. Saudaraku sekalian yang semoga selalu dibimbing oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala ada beberapa permasalahan yang perlu kita bahas, mungkin hal ini terjadi pada zaman kita.

  1. JIKA IMAM BELUM TIBA DAN MUAZIN INGIN MENEGAKKAN IKAMAH, APAKAH HARUS IZIN KEPADA IMAM?

Saudaraku yang semoga selalu dirahmati oleh Allah ‘Azza wa Jalla jika kita lihat kepada hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, kita akan dapati, tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlambat, beberapa sahabat mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta izin agar segera menegakkan salat. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أَعْتَمَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ في العِشَاءِ حتَّى نَادَاهُ عُمَرُ: قدْ نَامَ النِّسَاءُ والصِّبْيَانُ، فَخَرَجَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَقَالَ: إنَّه ليسَ أحَدٌ مِن أهْلِ الأرْضِ يُصَلِّي هذِه الصَّلَاةَغَيْرُكُمْ، ولَمْ يَكُنْ أحَدٌ يَومَئذٍ يُصَلِّي غيرَ أهْلِ المَدِينَةِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan salat isya sampai Umar memanggil beliau (meminta izin untuk menegakkan salat) karena para wanita dan anak-anak yang hadir di masjid sudah tertidur, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun keluar dari rumahnya dan berkata,

‘Sesungguhnya tidak ada seorang pun dari penduduk bumi yang salat seperti ini melainkan kalian.’

Dan tidak ada seorang pun ketika itu yang salat selain penduduk Madinah.” ( al-Bukhari, no. 862).

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,

كانَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذاسَكَتَ المُؤَذِّنُ بالأُولَى 

مِن صَلاةِ الفَجْرِقامَ، فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ صَلاةِالفَجْرِ، بَعْدَ أنْ يَسْتَبِينَ الفَجْرُ، ثُمَّ اضْطَجَعَ علَى شِقِّهِ الأيْمَنِ، حتَّى يَأْتِيَهُ المُؤَذِّنُ لِلْإِقامَةِ

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila muazin telah selesai azan salat subuh, beliau pun berdiri melakukan salat dua rakaat ringan sebelum subuh. Kemudian beliau berbaring pada lambung sebelah kanannya sampai muazin mendatangi beliau meminta izin untuk menegakkan ikamah.” ( al-Bukhari, no. 626).

Bahkan, tatkala beliau sedang sakit parah pun para sahabat tetap meminta izin beliau selaku imam salat agar menegakkan ikamah untuk menunaikan salat. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha

لَمَّا مَرِضَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ

مَرَضَهُ الذي مَاتَ فيه أَتَاهُ 

بلَالٌ يُوذِنُهُ بالصَّلَاةِ، فَقالَ: مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ

“Ketika Rasulullah sakit yang mengantarkannya sampai meninggal, Bilal mendatangi beliau memberitahukan beliau tentang salat, maka beliau pun bersabda,

‘Perintahkanlah Abu Bakr untuk menjadi imam.'”( al-Bukhari, no. 712).

Atas dasar ini, para ulama menyebutkan bahwa ikamah itu tidaklah ditegakkan oleh muazin melainkan setelah mendapat izin dari imam. Al-Imam Ibnu Qudamah al-Hambali berkata,

وَلَا يُقِيمُ حَتَّى يَأْذَنَ لَهُ الْإِمَامُ، فَإِنَّ بِلَالًا كَانَ يَسْتَأْذِنُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Tidaklah muazin menegakkan ikamah sampai mendapat izin dari imam karena sesungguhnya Bilal dahulu meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Mughnī, jilid 1, hlm. 302.)  

Al-Imam an-Nawawi berkata,

قَالَ أَصْحَابُنَاوَقْتُ الْأَذَانِ مَنُوطٌ بِنَظَرِ الْمُؤَذِّنِ لَا يَحْتَاجُ فِيهِ إلَى مُرَاجَعَةِ الْإِمَامِ وَوَقْتُ الْإِقَامَةِ مَنُوطٌ بِالْإِمَامِ فَلَا يُقِيمُ الْمُؤَذِّنُ إلَّا بِإِشَارَتِهِ

“Mazhab kami (mazhab Syafi’i) berkata, ‘Waktu azan, diserahkan kepada pandangan muazin. Tidak perlu dia bertanya kepada imam. Sedangkan waktu ikamah, diserahkan kepada imam. Tidak boleh muazin menegakkan ikamah kecuali dengan isyaratnya.”  ( al-Majmū’, jilid 3, hlm. 128).

  • Apa hukumnya jika muazin mengumandangkan ikamah tanpa izin imam?

Hal ini telah diterangkan oleh syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin beliau berkata,

يجب أن نعلم أن لكلٍ من المؤذن والإمام وظيفة فوظيفة الأذان إلى المؤذن هو المسؤول عنه ووظيفة الإقامة إلى الإمام هو المسؤول عنها ولا يحل للمؤذن أن يقيم حتى يحضر الإمام وإن أقام قبل أن يحضر فمحرمٌ عليه ذلك وهو آثم ومن العلماء من يقول إن الصلاة لا تصح لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال (لا يؤم الرجل الرجل في سلطانه إلا بإذنه) والسلطان في إقامة الصلاة هو الإمام

“Wajib bagi kita untuk mengetahui bahwa bagi masing-masing dari muazin dan imam memiliki tugas. Tugas dalam mengumandangkan azan, merupakan hak muazin, sedangkan tugas  ikamah merupakan hak imam. Tidak halal bagi muazin untuk menegakkan ikamah sampai imam telah datang. Jika dia menegakkan ikamah sebelum kedatangan imam, haram hukumnya dan dia berdosa. Di antara ulama ada yang berpendapat salatnya tidak sah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Tidak boleh seorang muslim menjadi imam bagi muslim lain yang berada di wilayah kewenangannya kecuali dengan izinnya.’

Yang berwenang dalam menegakkan ikamah adalah imam salat.”

  • Bagaimana jika imam sudah mengizinkan orang lain untuk menjadi imam?

Syekh pun melanjutkan,

نعم لو أذن الإمام وقال للمؤذن متى انتهى الوقت الذي حدد فأقم الصلاة فلا بأس

“Jika imam telah mengizinkan dan berkata kepada muazin, ‘Kapan pun waktu yang telah ditentukan habis (sesuai kesepakatan), tegakkanlah ikamah, maka tidak mengapa.”
(Fatāwā Nūrun ‘Alā ad-Darb, 8/2.)

  • Apa yang harus dilakukan jika imam terlambat sampai hampir habis waktu salat?

Saudaraku yang mulia, kejadian seperti ini kadang terjadi, terlebih pada salat yang waktunya sempit dan tidak lama seperti salat subuh. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menjelaskan,

إذا تأخر الإمام حتى كادت الشمس تطلع وضاق الوقت فحينئذ يصلون ولا ينتظرونه، أما ما دام الوقت باقياً فإنهم لا يصلون حتى يحضر الإمام، لكن ينبغي للإمام أن يحدد وقتاً معيناً للناس فيقول مثلاً: إذا تأخرت عن هذا الوقت فصلوا ليكون في هذا الحال أيسر لهم وأصلح له هو أيضاً ولا يقع الناس في حرج أو ضيق

“Apabila imam terlambat sampai hampir matahari terbit dan waktunya sempit, maka dalam keadaan seperti ini, hendaknya para makmum menegakkan salat tanpa menantinya. Adapun jika waktunya masih lapang, maka tidaklah mereka salat sampai kedatangan imam. Namun, semestinya bagi imam untuk menentukan waktu tertentu bagi para jamaah seperti dia mengucapkan, ‘Apabila aku terlambat pada waktu ini, maka dirikanlah salat agar dalam keadaan ini lebih mudah bagi mereka dan lebih bermaslahat baginya juga dan dia tidak memberatkan para jamaah.” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 12, hlm. 192).

  • Bagaimana jika imam terlambat dari waktu kebiasaannya?

Jika seperti ini keadaannya terkadang banyak dari para jamaah yang merasa keberatan karena masing-masing dari mereka, tentu ada kesibukan. Maka dari itu, jika tempat tinggal imam dekat dengan masjid, maka sebaiknya ditemui dan muazin meminta izin untuk segera ditegakkan ikamah agar imam tersebut segera mengimami para jamaah kecuali jika dia memerintahkan orang lain sebagaimana penjelasan yang telah lalu, yaitu  yang terjadi pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beberapa sahabat datang menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menegakkan ikamah dan tempat tinggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdampingan dengan masjid. Jika terasa sulit mungkin karena imamnya sulit ditemui dan dihubungi atau tempat tinggalnya jauh, maka tidak mengapa menegakkan ikamah walaupun tanpa izin imam. Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman,

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidaklah membebani jiwa melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” ( al-Baqarah: 286).

Allah Ta’ala berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kesanggupan kalian.” ( at-Taghabun:16).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُم

“Apabila aku perintahkan kalian terhadap suatu perkara maka tunaikanlah semampu kalian.”
( al-Bukhari, no. 7.288).

Dewan fatwa al-Lajnah ad-Dāimah mengeluarkan fatwa,

 الأصل ألا يصلي أحد إماما بالناس في مسجد له إمام راتب إلا بإذنه؛ لأنه بمنزلة صاحب البيت، وهو أحق بالإمامة؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم «لا يؤمن الرجل الرجل في سلطانه ولا يقعد على  تكرمته إلا بإذنه  » رواه مسلم فإن تأخر عن وقته المعتاد حضوره فيه جاز أن يتقدم غيره للصلاة بالناس دفعا للحرج

“Secara asal, tidak boleh seorang pun salat menjadi imam bagi para jamaah di masjid yang memiliki imam tetap kecuali dengan izinnya karena dia kedudukannya sama dengan tuan rumah dan dia lebih berhak menjadi imam berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‘Janganlah sekali-kali seorang muslim menjadi imam bagi muslim lainnya dan jangan pula duduk di ruang tamunya kecuali telah mendapat izin darinya.’ (Muslim).

Jika dia terlambat datang dari waktu kebiasaannya, boleh bagi yang lain untuk maju menjadi imam agar para jamaah tidak merasa keberatan.”

  • Jika imam ini datang dan ternyata salat sudah dimulai, apa yang harus dia lakukan? Jawabannya adalah boleh dia mengambil alih posisi imamnya dan penggantinya mengambil posisi sebagai makmum dan boleh juga dia menjadi makmum. Dijelaskan di dalam fatwa di atas lanjutannya,

فإذا حضر الإمام الراتب فله أن يتقدم للإمامة وله أن يصلي مأموما…

 وقد تأخر النبي صلى الله عليه وسلم مرة في السفر حين ذهب ليقضي حاجته فجاء صلى الله عليه وسلم وعبد الرحمن بن عوف يصلي بالناس فأراد عبد الرحمن أن يتأخر فأشار النبي صلى الله عليه وسلم إليه أن يستمر وصلى مأموما وراء عبد الرحمن .  وتأخر مرة أخرى في المدينة ليصلح بين بني عمرو بن عوف ثم جاء وأبو بكر رضي الله عنه يصلي بالناس. فلما أحس به أبو بكر رضي الله عنه تأخر إلى الصف وتقدم النبي صلى الله عليه وسلم إماما

“Apabila imam tetap tersebut datang, boleh baginya untuk menjadi imam dan boleh juga menjadi makmum. Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlambat pada suatu ketika dalam kondisi safar, ketika itu beliau sedang menunaikan hajatnya dan Abdurrahman bin Auf yang menjadi imam salat, ketika Nabi datang, Abdurrahman ingin mundur, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan kepadanya untuk melanjutkan salatnya, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam salat menjadi makmum Abdurrahman.  Pernah juga terjadi pada suatu ketika di Madinah, Rasulullah terlambat karena beliau sedang mendamaikan antara bani Amr bin Auf, kemudian beliau datang ke masjid untuk salat dan saat itu Abu Bakr yang menjadi imam, maka tatkala Abu Bakr merasa ada Rasulullah di belakang, Abu Bakr pun akhirnya mundur ke saf, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maju menjadi imam.”
(Fatāwā al-Lajnah, jilid 7, hlm. 418)

2. BERAPAKAH JARAK WAKTU ANTARA AZAN DAN IKAMAH?

Saudaraku yang semoga selalu diberi taufik oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala pentingnya bagi imam masjid untuk memperkirakan waktu yang tepat untuk menegakkan ikamah. Namun, adakah batasan waktu tertentu di dalam syariat tentang batasan waktu ini. Jika seseorang salat sendiri di rumah karena uzur syar’i atau seorang wanita yang salat sendiri di rumahnya, yang afdal adalah bersegera berdasarkan firman Allah Ta’ala,

فاستبقوا الخيرات

“Bersegeralah menuju kebaikan.” ( al-Baqarah: 148).

Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Abdullah bin Masud radhiyallahu ‘anhu berkata,

سَأَلْتُ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أيُّ العَمَلِ أحَبُّ إلى اللَّهِ؟ قالَ: الصَّلَاةُ علَىوقْتِهَا قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: برُّ الوَالِدَيْنِقالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: الجِهَادُ في سَبيلِ اللَّهِ

“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah? Beliau menjawab, ‘Salat pada waktunya.’ Kemudian apa lagi, beliau menjawab, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Kemudian apa lagi, beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah.'”
(al-Bukhari, no. 5.970  dan Muslim, no. 85).

Adapun jika berjamaah di masjid, seorang imam mesti memperkirakan waktu. Al-Imam al-Bukhari di dalam Shahihnya di dalam kitab al-Adzaan menyebutkan bab,

كم بين الأذان والإقامة

“Berapa jarak waktu antara azan dan ikamah.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan,

وَلَعَلَّهُ أَشَارَ بِذَلِكَ إِلَى مَارُوِيَ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ 

وَسلم قَالَ لِبِلَالٍ اجْعَلْ بَيْنَ أَذَانِكَ وَإِقَامَتِكَ قَدْرَ مَايَفْرُغُ الْآكِلُ مِنْ أَكْلِهِ وَالشَّارِبُ مِنْ شُرْبِهِ وَالْمُعْتَصِرُ إِذَا دَخَلَ لِقَضَاءِ حَاجَتِهِ أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ لَكِنْ إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ وَلَهُ شَاهِدٌ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَمِنْ حَدِيثِ سَلْمَانَ أَخْرَجَهُمَا أَبُو الشَّيْخِ وَمِنْ حَدِيثِ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَخْرَجَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ فِي زِيَادَاتِ الْمُسْنَدِ وَكُلُّهَا وَاهِيَةٌ فَكَأَنَّهُ أَشَارَ إِلَى أَنَّ التَّقْدِيرَ بِذَلِكَ لَمْ يثبت وَقَالَ ابن بَطَّالٍ لَا حَدَّ لِذَلِكَ غَيْرَ تَمَكُّنِ دُخُولِ الْوَقْتِ وَاجْتِمَاعِ الْمُصَلِّينَ

“Bisa jadi beliau mengisyaratkan kepada yang telah diriwayatkan dari Jabir bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal,

‘Jadikanlah antara azan dan ikamahmu seukuran orang yang makan selesai dari makannya dan orang yang minum selesai dari minumnya serta orang yang telah membuang hajat apabila menunaikan hajatnya.’

Hadis ini dikeluarkan oleh at-Tidmidzi dan al-Hakim namun sanadnya lemah dan ada penguatnya, yaitu hadis dari sahabat Abu Hurairah dan Salman yang dikeluarkan oleh Abu asy-Syaikh serta dari sahabat Ubay bin Ka’ab yang dikeluarkan oleh Abdullah bin Ahmad di dalam Ziyaadaah al-Musnad dan semua riwayatnya lemah. Seakan-akan al-Imam al-Bukhari mengisyaratkan bahwa hadis yang menyebutkan dengan ukuran waktu tersebut tidak shahih. Ibnu Bathal berkata,

‘Tidak ada batasan dalam hal ini. Hanya saja yang menjadi tolok ukurnya adalah masuknya waktu dan para jamaah salat yang sudah berkumpul.'” ( Fath al-Bārī, jilid 2, hlm. 106 ).

Kesimpulan dari penjelasan di atas, tidak ada dalil yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang batasan waktu terkait hal ini. Hanya saja yang dilakukan imam adalah dengan memperkirakan waktu yang tepat untuk memerintahkan muazin menegakkan ikamah.

  • Bolehkah menggunakan timer untuk digunakan sebagai batasan jarak antara azan dan ikamah?

Saudaraku yang semoga selalu dibimbing oleh Allah, dalam hal ini dikembalikan kepada keputusan imam, jika imam memandang perlu, tidak mengapa dan jika tidak, maka tidak. Syekh Abdul Aziz ibnu Baz pernah ditanya tentang hal ini dan beliau menjelaskan,

إن رأى الإمام ذلك للمصلحة لا حرج

“Apabila imam memandang hal itu diperlukan karena ada maslahatnya, maka tidak mengapa.”
( Masāil al-Imām Ibnu Baz, 1/70).

3. IMAM MASJID ITU SEBAGAI TUAN RUMAH.

Saudaraku yang semoga selalu diberi petunjuk oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala, sungguh telah disebutkan oleh para ulama kriteria yang lebih utama untuk menjadi imam salat namun, ini tidak masuk dalam pembahasan kita. Pembahasan kita kali ini berkaitan tentang seseorang yang telah ditetapkan sebagai imam tetap di suatu masjid, maka dialah tuan rumah di masjid tersebut dan yang paling berhak menjadi imam. Al-Imam an-Nawawi berkata,

قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ مَعْنَاهُ مَا ذَكَرَهُ أَصْحَابُنَا وَغَيْرُهُمْ أَنَّ صَاحِبَ الْبَيْتِ

وَالْمَجْلِسِ وَإِمَامَ الْمَسْجِدِ أَحَقُّ مِنْ غَيْرِهِ وَإِنْ كَانَ ذَلِكَ الْغَيْرُ أَفْقَهَ وَأَقْرَأَ وَأَوْرَعَ وَأَفْضَلَ مِنْهُ 

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Janganlah seseorang menjadi imam bagi orang lain di tempat kekuasaannya.’ Maknanya adalah sebagaimana yang telah disebutkan oleh ulama dari mazhab kami (Syafi’i) dan yang lainnya, ‘Tuan rumah dan pemimpin majelis serta imam masjid lebih berhak dari selainnya. Meskipun orang lain tersebut lebih fakih, lebih hafal, lebih wara’, dan lebih utama darinya.”
( Syarh Shahih Muslim, jilid 5, hlm. 173).

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

وَإِمَامُ الْمَسْجِدِ الرَّاتِبُ أَوْلَى مِنْ غَيْرِهِ؛ لِأَنَّهُ فِي مَعْنَى صَاحِبِ الْبَيْتِ وَالسُّلْطَانِ

“Imam masjid tetap lebih berhak dibandingkan yang lain karena dia tuan rumah dan penguasa di tempatnya.”
( al-Mughni, jilid 2, hlm. 151).

  • Bagaimanakah cara imam memberi izin kepada yang lain untuk mengimami salat?

Saudaraku sekalian, sudah kita lalui pembahasan ini. Dan pada kesempatan ini, insya Allah akan kita perjelas lagi bahwa izin dari imam agar orang lain menggantikannya dengan dua cara; izin secara umum dan izin secara khusus. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan ,

إلا بإذنه أي: إلاَّ إذا وَكَّلَهُ توكيلاً خاصًّا أو توكيلاً عاماً. فالتوكيل الخاص: أن يقول: يا فلان صَلِّ بالناس، والتوكيل العام أن يقول للجماعة: إذا تأخَّرتُ عن موعدِ الإقامةِ المعتادِ كذا وكذا فصلُّوا.

“‘Kecuali dengan izinnya,’ maknanya adalah kecuali jika dia mewakilkan kepada seseorang secara khusus atau secara umum. Secara khusus seperti dia berkata, ‘Wahai polan, imamilah para jamaah!’ Secara umum seperti dia berkata kepada para jamaah, ‘Apabila aku terlambat dari waktu ikamah yang biasanya, maka salatlah kalian!” ( asy-Syarhul Mumti’, jilid 4, hlm. 153-154). 

  • Sahkah salat, jika imamnya tidak mendapat izin dari imam tetap?

Para pembaca sekalian, telah kita lewati hadis,

لا يؤم الرجل الرجل في سلطانه إلا بإذنه

“Janganlah seorang muslim mengimami muslim lainnya di wilayah wewenangnya kecuali dengan izinnya.”

Hadis ini merupakan hadis yang shahih diriwayatkan oleh al-Imam Muslim di dalam Shahihnya dengan lafaz,

ولا يؤمنَّ الرجل الرجل في سلطانه ولا يقعد في بيته على تكرمته إلا بإذنه

“… dan janganlah seorang muslim mengimami muslim lainnya yang di daerah wewenangnya, dan jangan pula duduk di ruang tamunya kecuali telah mendapatkan izin darinya.” ( Muslim no. 673).

Adapun terkait tentang sahkah salat orang yang seperti ini keadaannya. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan,

في هذا لأهلِ العِلمِ قولان:

القول الأول: أنَّ الصَّلاة تصحُّ مع الإثم.

القول الثاني: أنهم آثمون، ولا تصحُّ صلاتُهم، ويجبُ عليهم أن يُعيدُوها.

والرَّاجح القول الأول: لأنَّ تحريمَ الصَّلاةِ بدون إذن الإمام أو عُذره ظاهرٌ من الحديثِ والتعليل، وأما صِحةُ الصلاةِ؛ فالأصلُ الصحةُ حتى يقومَ دليلٌ على الفسادِ

“Dalam hal ini ada dua pendapat di kalangan ulama:

1. Salatnya sah disertai dosa.

2. Mereka berdosa, salatnya tidak sah dan wajib mengulangi salatnya.

Pendapat yang kuat adalah pendapat pertama karena pengharaman mengimami tanpa izin dan uzur imam itulah yang nampak dari hadis dan sebab hukum pada hadis tersebut. Adapun salatnya, secara asal sah sampai ada dalil yang menyebutkan bahwa salatnya tidak sah.”
( asy-Syarhul Mumti’, jilid 4, hlm. 153).

Namun, sebagaimana penjelasan yang telah lalu, hendaknya kita lebih berhati-hati dan tidak memberanikan diri menjadi iman di tempat yang bukan kewenangan kita kecuali dengan izin dari tuan rumah.

Semoga manfaatnya bisa tersebar luas kepada segenap kaum muslimin. Mohon mohon maaf atas segala kekurangan dan jazaakumullahu khairan kepada semua pihak yang telah membantu penyebaran artikel ini.

Baturaja, 27  Agustus 2021  bertepatan dengan, 18  al-Muharram 1443 Hijriah.

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

FAEDAH RINGKAS TENTANG TAKZIAH

بسم الله الرحمن الرحيم

FAEDAH RINGKAS TENTANG TAKZIAH

Saudaraku sekalian, pada kesempatan ini, kita akan menyampaikan penjelasan ulama kita rahimahumullah tentang takziah. Mudah-mudahan faedah ringkas ini dapat menjadi sebab datangnya kebaikan dan manfaat untuk kita semua semoga Allah selalu menjaga kita semua dari segala bentuk kejelekan di dunia dan di akhirat.

DEFINISI

Berikut ini kita akan nukilkan pengertian takziah. Al-Imam an-Nawawi-beliau salah satu dari ulama besar yang bermazhab syafi’i- rahimahullah berkata,

واعلم أن التعزية هي التصبير وذكر ما يسلي صاحب الميت ويخفف حزنه ويهون مصيبته وهي مستحبة، فإنها مشتملة على الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، وهي داخلة أيضا في قول الله تعالى: {وتعاونوا على البر والتقوى}

“Ketahuilah! Bahwa takziah itu adalah menyabarkan dan menghibur hati keluarga jenazah (yang mendapat musibah), meringankan kesedihan dan musibahnya. Takziah hukumnya sunah karena sesungguhnya takziah ini tercakup dalam amalan amar makruf nahi mungkar dan termasuk juga ke dalam firman Allah Ta’alā,

Hendaknya kalian saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.'” ( al-Maidah: 2).( al-Adzkār, hlm. 255).

Maka semestinya bagi setiap muslim untuk saling tolong-menolong, bahu-membahu dan saling menghibur ketika saudaranya tampak bersedih terlebih jika ditimpa musibah dengan meninggalnya keluarganya. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

ينبغي للإنسان أن يراعي قلوب الناس فإذا انكسر قلب شخص فليحرص على جبره بما استطاع لأن في هذا فضلا عظيما

“Semestinya bagi seseorang memperhatikan hati manusia, apabila ada seorang yang bersedih, maka bersemangatlah untuk menghiburnya sesuai dengan kemampuan, karena dalam hal ini terdapat keutamaan yang besar.” ( Fath Dzī al-Jalāli wal Ikrām, jilid 4, hlm. 584).

WAKTU DAN TEMPAT

Para pembaca sekalian yang semoga selalu dibimbing oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada waktu dan tempat yang khusus untuk bertakziah bahkan boleh dilakukan di mana pun dan kapan pun. Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bertakziah kepada salah satu putrinya sebagaimana diterangkan di dalam hadis yang shahih dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,

كنا عند النبي صلى الله عليه وسلم فأرسلت إليه إحدى بناته تدعوه وتخبره أن صبيا لها أو ابنا لها في الموت فقال رسول الله : ارجع إليها فأخبرها أن لله ما أخذ وله ما أعطى وكل شيء عنده بأجل مسمى فمرها فلتصبر ولتحتسب.

“Dahulu kami berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka datanglah salah satu utusan putri beliau memanggil dan mengabarkan beliau kalau anaknya telah meninggal, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada utusan tersebut, kembalilah kepadanya dan kabarkan!

‘Bahwa milik Allahlah apa yang Dia ambil, apa yang Dia beri dan segala sesuatu disisi-Nya berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan. Perintahkan dia untuk bersabar dan mengharap pahala kepada Allah.'” ( al-Bukhari, no. 284 dan Muslim, no. 923).

Syekh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah telah menerangkan,

ليس للعزاء مكان ولا عدد من 
الأيام، لم يحدد أيام العزاء ولا مكان العزاء، يعزيه في أي مكان، في الطريق، في المسجد، في المقبرة، في بيته عن طريق الهاتف، ما فيه بأس، وليس للأيام حد، يعزيه في اليوم الأول أو في اليوم الثاني أو في اليوم الثالث أو الرابع، والمستحب أن يبادر بالتعزية؛ لأن المصيبة في أولها أشد

“Tidak ada pada takziah tempat dan bilangan waktu tertentu. Tidak ada batasan pada hari-hari dan tempat takziah. Boleh seseorang bertakziah di tempat manapun; di jalan, di masjid, di kuburan (saat pemakaman), dirumahnya, melalui telepon, tidak mengapa. Tidak ada batasan hari-harinya, boleh dia bertakziah pada hari pertama, kedua, ketiga atau keempat. Yang dianjurkan adalah bersegera dalam bertakziah karena musibah di awal itu lebih dahsyat.” ( Fatāwā Nūrun ‘Alā ad-Darb, jilid 14, hlm. 336).

Para pembaca sekalian yang semoga dirahmati oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala atas dasar ini, takziah itu tidak mesti seseorang mendatangi rumah orang yang terkena musibah. Bahkan, jika di wilayah tersebut menyebar penyakit menular yang mewabah yang sangat berbahaya sehingga tidak memungkinkan untuk datang, maka sebaiknya bertakziah melalui telepon atau dengan cara yang semisal ini. Adapun menyengaja menyediakan tempat khusus untuk didatangi oleh orang-orang yang bertakziah, maka akan datang pembahasannya insya Allah demikian pula dalam hal waktu, tidak ada batasan akhir dari waktunya.

BOLEHKAH BERTAKZIAH SEBELUM PEMAKAMAN?

Hal ini telah dijawab oleh syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin beliau berkata,

نعم، تجوز قبل الدفن وبعده؛ لأن وقتها من حين ما يموت الميت إلى أن تنسى المصيبة، وقد ثبت أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عزى ابنة له حين أرسلت تخبره أن صبياً لها في الموت فقال النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “ارجع إليها، فأخبرها أن لله ما أخذ، وله ما أعطى، وكل شيء عنده بأجل مسمى، فمرها فلتصبر ولتحتسب

“Boleh bertakziah sebelum dan sesudah jenazah dimakamkan karena waktu takziah itu, mulai dari meninggalnya jenazah, sampai musibah itu terlupakan dan sungguh telah shahih riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakziah kepada salah satu putrinya ketika mengutus utusan untuk mengabarkan bahwa anaknya meninggal. Beliau berkata kepada utusan tersebut, kembalilah kepadanya dan kabarkan!

‘Bahwa milik Allahlah apa yang Dia ambil, apa yang Dia beri dan segala sesuatu di sisi-Nya berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan. Perintahkan dia untuk bersabar dan mengharap pahala kepada Allah.'” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 17 hlm. 340).

ADAKAH BACAAN KHUSUS KETIKA TAKZIAH?

Pembaca yang semoga selalu dijaga oleh Allah Ta’ala Tidak ada bacaan-bacaan khusus ketika bertakziah bahkan boleh seseorang mengucapkan ucapan-ucapan baik kepada keluarga yang tertimpa musibah.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

وَلَيْسَ فِي التَّعْزِيَةِ شَيْءٌ مُؤَقَّتٌ يُقَالُ

“Tidak ada pada takziah, ucapan yang dibatasi untuk dikatakan.” ( al-Umm, 1/317).

Al-Imam Ibnu Qudamah al-Hambali berkata,

 لَا نَعْلَمُ فِي التَّعْزِيَةِ شَيْئًا مَحْدُودًا

“Kami tidak mengetahui dalam takziah ini ada batasan tertentu dalam ucapannya.” ( al-Mughnī, jilid 2, hlm. 405).

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata,

فَكُلُّ مَا يَجْلِبُ لِلْمُصَابِ صَبْرًا يُقَالُ لَهُ تَعْزِيَةٌ بِأَيِّ لَفْظٍ كَانَ

“Setiap ucapan yang dapat membuat orang yang tertimpa musibah bersabar, maka itu dikatakan takziah dengan lafaz apa pun.” ( an-Nail, jilid 4, hlm. 117).

Yang afdal adalah sebagaimana penjelasan al-Imam asy-Syaukani beliau berkata,

وَأَحْسَنُ مَا يُعَزَّى بِهِ مَا أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ: «كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَأَرْسَلَتْ إلَيْهِ إحْدَى بَنَاتِهِ تَدْعُوهُ وَتُخْبِرُهُ أَنَّ صَبِيًّا لَهَا أَوْ ابْنًا لَهَا فِي الْمَوْتِ، فَقَالَ لِلرَّسُولِ: ارْجِعْ إلَيْهَا وَأَخْبِرْهَا أَنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلِلَّهِ مَا أَعْطَى، وَكُلَّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى فَمُرْهَا فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ»

Yang paling bagus dalam bertakziah adalah sebagaimana ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Muslim dari hadis Usamah bin Zaid berkata,

‘Dahulu kami berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka datanglah salah satu utusan putri beliau memanggil dan mengabarkan beliau kalau anaknya telah meninggal, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada utusan tersebut, kembalilah kepadanya dan kabarkan!

‘Inna lillaahi maa akhodza wa lahu maa a’thoo wa kullu syai’in ‘indahu biajalin musamma (Bahwa milik Allahlah apa yang Dia ambil, apa yang Dia beri dan segala sesuatu di sisi-Nya berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan). Perintahkan dia untuk bersabar dan mengharap pahala kepada Allah.'” ( an-Nail, jilid 4, hlm. 117).

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

وأما ما اشتهر عند الناس من قولهم: “عظَّم الله أجرك، وأحسن الله عزاءك، وغفر الله لميتك”، فهي كلمة اختارها بعض العلماء، لكن ما جاءت به السنة أولى وأحسن

“Adapun ucapan yang tersebar di kalangan manusia yaitu,

‘Adzdzomallaahu ajrok wa ahsana ‘azaa aka wa ghafaro limayyitika.’ (Semoga Allah membesarkan pahalamu, berbuat baik kepadamu dalam musibah ini dan mengampuni keluargamu yang meninggal ini).

Ini merupakan kalimat yang dipilih oleh sebagian ulama namun, kalimat yang disebutkan di dalam sunah tentu lebih utama dan lebih baik.” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 13, hlm. 340).

Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala. Ucapan yang disampaikan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, subhanallah luar biasa, sangat bagus dan sangat menyentuh hati. Al-Imam an-Nawawi menerangkan maknanya,

ومعنى “أن لله تعالى ما أخذ” أن العالم كله ملك لله تعالى، فلم يأخذ ما هو لكم، بل أخذ ما هو له عندكم في معنى العارية؛ ومعنى “وله ما أعطى” أن ما وهبه لكم ليس خارجًا عن ملكه، بل هو له سبحانه يفعل فيه مايشاء، وكل شيء عنده بأجلٍ مسمّى فلا تجزعوا، فإن من قبضه قد انقضى أجَله المسمى

Makna ucapan beliau ‘Bahwa milik Allahlah apa yang Dia ambil,’ alam semesta ini semuanya milik Allah Ta’ala, Dia tidak mengambil apa yang menjadi milik kalian. Bahkan, Dia mengambil apa yang menjadi milik-Nya yang ada di sisi kalian sebagai titipan.

Makna ucapan beliau, ‘Dan milik-Nya apa yang Dia berikan,’ bahwa apa yang Dia berikan kepada kalian, tidaklah lepas dari kepemilikan-Nya. Bahkan, menjadi milik-Nya Subhanahu, Dia berbuat sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.

Dan segala sesuatu di sisi-Nya sesuai dengan batas waktu tertentu, maka janganlah kalian mengeluh karena sesungguhnya orang yang telah Dia ambil sungguh telah habis waktunya yang ditentukan.” ( al-Adzkār, no. 403).

YANG HARUS DIHINDARI KETIKA TAKZIAH

Disebutkan di dalam kitab al-Fiqhu al-Muyassar bahwa ada tiga hal yang semestinya dihindari ketika takziah:

  1. Berkumpul ketika takziah di tempat khusus dengan membawa kursi, lampu, dan para pembaca.
  2. Membuat makanan pada hari-hari takziah dari keluarga mayit yang tertimpa musibah untuk menjamu orang-orang yang datang.
  3. Melakukan takziah dengan berulang kali. Secara asal takziah itu dilakukan hanya satu kali kecuali dengan diulang ada maslahat mengingatkan maka tidak mengapa. Adapun jika tanpa tujuan ini, maka tidak boleh karena tidak ada tuntunannya dari Nabi dan para sahabat. ( al-Fiqhu al-Muyassar, hlm. 124).

Adapun urutan ke tiga, ini sangat jelas dan mudah dipahami. Nomor satu dan dua yang akan kita bahas.

  1. Adanya tempat khusus untuk bertakziah.

Tempat khusus di sini, tentu untuk berkumpul menyambut orang-orang yang bertakziah, pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah mari kita simak penjelasan para ulama tentang hal ini.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

وَأَكْرَهُ الْمَأْتَمَ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ بُكَاءٌ فَإِنَّ ذَلِكَ يُجَدِّدُ الْحُزْنَ، وَيُكَلِّفُ الْمُؤْنَةَ مَعَ مَا مَضَى فِيهِ مِنْ الْأَثَرِ 

“Aku tidak menyukai adanya ma’tam yaitu perkumpulan saat bertakziah walaupun mereka tidak menangis. Sesungguhnya yang demikian ini akan menambahkan kesedihan dan menambah beban padahal baru berlalu bagi mereka kesan dari musibah ini.” ( al-Umm, 1/318).

  1. Membuat makanan pada hari-hari takziah dari keluarga mayit yang tertimpa musibah untuk menjamu orang-orang yang datang.

Para pembaca yang semoga selalu dibimbing oleh Allah Ta’ala, ini juga perkara yang dilarang karena tidak ada sedikit pun bimbingan dari Nabi kita Muhammad dan para sahabatnya terkait hal ini. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata,

وَأَمَّا إصْلَاحُ أَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا وَجَمْعُ النَّاسِ عَلَيْهِ فَلَمْ يُنْقَلْ فيه شيء

“Adapun membuat makanan dari keluarga jenazah yang tertimpa musibah dan mengumpulkan manusia, maka tidak ada tuntunannya sedikit pun di dalam agama Islam.” ( al-Majmū’, jilid 5, hlm. 320).

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata,

فهاهو رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم يموت له أبناء وأعمام وأصحاب ولم يجلس يوماً من الدهر ليتلقى العزاء، مع أنه هو المشرع، ومع أن الصحابة رضي الله عنهم أشد الناس في مواساة الرسول عليه الصلاة والسلام وتعزيته، لكن لم يفعلوا، ولم يتوافدوا إليه ليعزوه وما علمنا بهذا أبداً، 

Inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah meninggal anak-anak, paman-paman dan para sahabat beliau dan tidaklah beliau duduk pada suatu hari untuk menyambut kedatangan orang-orang yang bertakziah padahal beliau adalah yang mensyariatkan agama ini, padahal para sahabat adalah orang yang paling menyantuni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paling kuat takziah mereka kepada beliau. Tetapi mereka tidak melakukan dan tidak beramai-ramai datang untuk bertakziah kepada beliau, ini yang sama sekali tidak kita ketahui.” ( Liqā’ al-Bāb al-Maftūh, 79/7).

Maka menjadi jelaslah bahwa dua hal di atas tidak boleh dilakukan. Yang lebih meyakinkan lagi adalah bahwa dua perbuatan tersebut termasuk dari perkara yang dilarang oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Jarir bin Abdillah al-Bajali radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,

كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيعَةَ الطَّعَامِ مِنْ النِّيَاحَةِ

“Kami menganggap berkumpul di tempat keluarga jenazah yang tertimpa musibah dan mereka membuat makanan termasuk dari meratap.” ( Ahmad dan dishahihkan oleh an-Nawawi di dalam al-Majmū’, ( al-Majmū’, jilid 5, hlm. 320).

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

وإذا كان الصحابة رضي الله عنهم يعدون ذلك من النياحة، وهم أعلم الأمة بمقاصد الشريعة، وأقومهم عملاً بها، وأسدهم رأياً، وأطهرهم قلوباً فإنه قد ثبت عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أنه قال: “الميت يعذب في قبره بما نيح عليه” فهل يرضى أحد أن يعذب أبوه، أو أمه، أو ابنه، أو بنته، أو أحد من أقاربه بشيء من صنعه؟! وهل يرضى أحد أن يسيء إلى هؤلاء وهو الذي أصيب بهم؟! إذا كان صادقاً في محبتهم ومصيبتهم فليتجنب ما يكون سبباً في تعذيبهم.

“Apabila para sahabat radhiyallahu ‘anhum menganggap yang demikian itu termasuk dari meratap sedangkan mereka adalah yang paling berilmu dari umat Muhammad ini tentang tujuan-tujuan syariat, paling lurus amalannya, paling benar pendapatnya dan paling bersih hatinya, maka sungguh telah shahih berita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,

‘Mayit itu akan diazab di kuburnya disebabkan ratapan.’

Apakah seseorang rela ayahnya, ibunya, putra-putrinya atau salah satu dari kerabat-kerabatnya diazab dikerenakan perbuatannya.

Apakah seseorang rela menyakiti mereka sedangkan dialah yang ditimpa musibah dengan wafatnya mereka. Jika dia jujur dalam mencintai mereka, dan musibah yang menimpa mereka, maka jauhilah segala sesuatu yang dapat menjadi sebab mereka diazab.”( al-Majmū’ al-Fatāwā, jilid 13, hlm. 363).

JIKA ADA YANG DATANG TAKZIAH SEBAGAI TAMU YANG TENTUNYA SEBAGAI TAMU MESTI DIJAMU ATAU TAMU ITU YANG DATANG MEMBAWA JAMUAN UNTUK DISUGUHKAN

Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah menerangkan,

لا حرج في هذا إذا تصدقوا عليهم وجاؤوا لهم بشيء من الغنم أو شيء من اللحم لا حرج في ذلك إذا صنعه أهل الميت لهم لأنهم ضيوف وأكرموهم بما جاؤوا به من اللحم أو من الذبائح لا حرج عليهم في ذلك، وإن أعطوهم مالا أو غنما أو غير ذلك، وذهبوا ولم يجلسوا مساعدة لأهل الميت فلا بأس بذلك، وقد ثبت عن رسول الله عليه الصلاة والسلام أنه لما جاء نعي جعفر بن أبي طالب رضي الله عنه وهو ابن عمه لما قتل في مؤتة في الشام قال النبي صلى الله عليه وسلم لأهله: «ابعثوا لآل جعفر طعاما؛ فقد أتاهم ما يشغلهم » فأمر أهله أن يبعثوا إليهم طعاما مصنوعا؛ لأنه أتاهم ما يشغلهم، فالأفضل لهؤلاء أن يبعثوا طعاما مصنوعا دون ذبائح يكلفون بها أهل الميت، لكن ما داموا جاؤوا بها وأعطوها أهل الميت، فأهل الميت عليهم أن يضيفوا ضيوفهم، ويحسنوا إليهم، ويكونوا كرماء لا لؤماء. فإذا صنعوا منها طعاما لهم، وأطعموهم غداء أو عشاء فلا حرج في ذلك

“Tidak mengapa hal ini apabila para tamu bersedekah kepada keluarga jenazah yang tertimpa musibah dan datang kepada mereka dengan membawa sesuatu seperti kambing atau daging tidak mengapa jika keluarga jenazah tersebut membuatkan untuk mereka karena mereka adalah tamu, mereka memuliakan tamu-tamu ini dengan sesuatu yang dibawanya berupa daging-daging, tidak mengapa. Jika mereka memberi uang, kambing dan selain itu, lalu mereka pergi dan tidak membantu keluarga jenazah tersebut, tidak mengapa. Sungguh telah disebutkan di dalam riwayat yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tatkala datang berita meninggalnya Jakfar bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau adalah anak pamannya Rasulullah ketika terbunuh dalam perang mu’tah di Syam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada keluarganya,

‘Kirimkanlah makanan untuk keluarga Jakfar, sungguh mereka telah sibuk.’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan keluarganya untuk mengirimkan makanan yang sudah dibuat karena keluarga Jakfar sedang sibuk.

Maka yang afdal adalah mereka mengirimkan makanan yang sudah dibuat bukan yang bentuknya hewan yang disembelih sehingga memberatkan yang terkena musibah. Namun, selama mereka datang membawa hewan yang akan disembelih tersebut dan memberikannya kepada yang tertimpa musibah, maka semestinya bagi mereka untuk menjamu tamu dan berbuat baik kepada tamu-tamu tersebut serta bersikap dermawan dan tidak kikir, jika mereka membuat makanan dan para tamu itu makan siang atau malam, tidak mengapa.”

🔳 Jika tamu tersebut tidak membawa makanan untuk dimasak, bolehkah bagi keluarga jenazah membuatkan mereka makanan dan menyuguhkannya?

Saudaraku yang mulia. Hal ini juga telah diterangkan oleh syekh rahimahullah beliau berkata,

إكرام الضيف أمر لازم، ولا حرج في إكرام الضيف بل هو واجب، والنبي صلى الله عليه وسلم قال: «من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه » فإذا جاءهم الضيوف سواء معهم طعام أو ما معهم طعام، إذا جاءهم الضيوف ونزلوا عندهم وجلسوا إلى وقت الغداء أو العشاء وضيفوهم فلا بأس

“Memuliakan tamu merupakan perkara yang semestinya dilakukan, tidak mengapa memuliakan tamu bahkan hukumnya wajib. Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia memuliakan tamunya.’

Apabila tamu datang ke rumah keluarga yang ditimpa musibah ini baik tamu tersebut membawa makanan ataupun tidak, tamu itu datang dan singgah di tempat mereka dan duduk sampai waktu makan siang atau makan malam dan keluarga yang terkena musibah ini menjamu mereka, maka tidak mengapa.”

🔳 Kalau begitu, yang dilarang itu bagaimana gambarannya? Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah mari kita simak penjelasan syekh.
Beliau melanjutkan,

إنما المكروه الذي لا ينبغي والمنكر الذي يكون من عمل الجاهلية كون أهل الميت يصنعون الطعام من مالهم للناس، يجعلون هذا مأتما للميت، يصنعون الطعام للناس، هذا هو الذي لا ينبغي، وهو من عمل الجاهلية، وقال جرير رضي الله عنه: «كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصناعة الطعام بعد الموت من النياحة »

“Hanyalah yang dibenci yang tidak semestinya dilakukan, mungkar, dan termasuk dari perbuatan jahiliah adalah keluarga yang terkena musibah membuat makanan dari harta mereka untuk orang-orang yang datang dan menjadikan hal ini sebagai ma’tam yaitu tempat berkumpul dalam rangka meninggalnya jenazah ini, mereka membuat makanan untuk orang-orang yang datang. Inilah yang tidak semestinya dilakukan dan ini termasuk amalan orang-orang jahiliah. Jarir radhiyallahu ‘anhu berkata,

‘Kami menganggap berkumpul di tempat keluarga jenazah yang tertimpa musibah dan mereka membuat makanan termasuk dari meratap.'”

🔳 Bagaimanakah yang afdal bagi orang-orang yang bertakziah?

Beliau rahimahullah belanjutkan,

والأفضل للذين يزورونهم أن يصنعوا الطعام في بيوتهم، ويبعثوه إليهم مصنوعا كاملا حتى لا يكلفهم صنعة الطعام؛ لأنهم مشغولون بالمصيبة، فالذي فعله الرسول صلى الله عليه وسلم وسنه للأمة أن جيرانهم أو أقاربهم يبعثون بالطعام مصنوعا إليهم حتى يكفوهم المؤنة، هذا هو الأفضل

“Yang afdal bagi orang-orang yang berkunjung, mereka membuat makanan sendiri di rumah-rumah mereka dan mengirimkan makanan tersebut kepada keluarga yang tertimpa musibah secara utuh sehingga tidak membebani mereka membuat makanan karena mereka saat itu sibuk dengan musibah yang terjadi. Yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap umat ini adalah tetangga atau ķerabat mereka yang mengirimkan makanan yang sudah dibuat sehingga dapat memenuhi kebutuhan mereka. Inilah yang afdal.” ( Fatāwā Nūrun ‘alā ad-Darb, 251).

Mudah-mudahan pembahasan yang ringkas ini bisa meluas untuk kaum muslimin manfaatnya mohon maaf atas segala kekurangan.

Baturaja senin 16 Agustus 2021/7 al-Muharram 1443 H.

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

SEPUTAR HUKUM MASJID

SEPUTAR HUKUM MASJID

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah, pada kesempatan ini kami akan menuangkan pembahasan yang mudah-mudahan bermanfaat untuk kaum muslimin secara umum, yakni pembahasan ringkas berkaitan tentang hukum seputar masjid. Kami memohon pertolongan kepada Allah agar dapat menyelesaikan pembahasan ini dengan sebaik mungkin.

PENGERTIAN MASJID

Pengertian secara bahasa dan istilah saling berdekatan maknanya, masjid secara bahasa adalah tempat yang digunakan untuk sujud dan beribadah kepada Allah. Di dalam kamus Lisanul Arab disebutkan pengertian masjid secara bahasa,

والمسجد: الذي يسجد فيه،
وفي الصحاح: واحد المساجد. وقال الزجاج: كل موضع يتعبد فيه فهو مسجد [مسجد]،
ألا ترى أن النبي، صلى الله عليه وسلم، قال: جعلت لي الأرض مسجدا وطهورا.

Masjid adalah yang digunakan untuk sujud padanya.
Di dalam kitab ash-Shihhāh disebutkan, masjid merupakan kata tunggal dari masājid.
Dan az-Zujaj berkata,

“Setiap tempat yang digunakan untuk beribadah padanya, maka itulah masjid.
Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Telah dijadikan bagiku bumi ini sebagai masjid dan suci.'” ( Lisān al-‘Arab, jilid 3, hlm. 243).

Komite al-Lajnah ad-Dāimah menyebutkan pengertian masjid dari dua sisinya,

المسجد لغة موضع السجود، وشرعا كل ما أعد ليؤدي فيه المسلمون الصلوات الخمس جماعة

“Masjid secara bahasa adalah tempat sujud sedangkan secara istilah syariat adalah segala yang disiapkan untuk kaum muslimin menunaikan ibadah salat lima waktu secara berjamaah.”
( Fatāwā al-Lajnah, no. 1.319).

BATASAN MASJID

Berkaitan tentang hal ini, sungguh dewan komite fatwa al-Lajnah ad-Dāimah telah menerangkan,

حدود المسجد الذي أعد ليصلي فيه المسلمون الصلوات الخمس جماعة هي ما أحاط به من بناء أو أخشاب أو جريد أو قصب أو نحو ذلك، وهذا هو الذي يعطي حكم المسجد

“Batasan masjid (secara syariat) adalah tempat yang disediakan untuk salat lima waktu secara berjamaah bagi kaum muslimin, yaitu yang tercakup pada bagian dari bangunan baik dari bangunan permanen, kayu, pelepah kurma, rotan, atau yang semisal itu. Inilah yang memberikan hukum masjid.” ( Fatāwā al-Lajnah, jilid 6, hlm. 223).

Baca juga: HUKUM JUAL BELI DAN MENGUMUMKAN BARANG HILANG DI DALAM MASJID

PERBEDAAN ANTARA MASJID DAN MUSHALLA

Dalam hal ini, sungguh para ulama telah menerangkan dengan jelas perbedaan antara keduanya. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah tatkala ditanyakan tentang perbedaan di antara keduanya. Beliau menerangkan,

أما بالمعنى العام فكل الأرض مسجد لقوله صلى الله عليه وسلم: ((جعلت لي الأرض مسجدا وطهورا)) . وأما بالمعنى الخاص فالمسجد: ما أعد للصلاة فيه دائما وجعل خاصا بها سواء بني بالحجارة والطين والإسمنت أم لم يبن، وأما المصلى فهو ما اتخذه الإنسان ليصلي فيه، ولكن لم يجعله موضعا للصلاة دائما، إنما يصلي فيه إذا صادف الصلاة ولا يكون هذا مسجدا، ودليل ذلك أن الرسول صلى الله عليه وسلم كان يصلي في بيته النوافل، ولم يكن بيته مسجدا، وكذلك دعاه عتبان بن مالك إلى بيته ليصلي في مكان يتخذه عتبان مصلى ولم يكن ذلك المكان مسجدا . فالمصلى ما أعد للصلاة فيه دون أن يعين مسجدا عاما يصلي فيه الناس ويعرف أنه قد خصص لهذا الشيء.

“Adapun makna masjid secara umum, maka setiap bagian bumi bisa dikatakan masjid. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‘Telah dijadikan bagiku bumi ini sebagai masjid dan suci.’

Sedangkan makna secara khusus, maka masjid adalah tempat yang di dalamnya digunakan dan dikhususkan selalu untuk salat baik terbuat dari batu, tanah, disemen, atau bahkan tidak dibangun.

Adapun mushalla adalah tempat yang digunakan di dalamnya untuk melakukan salat, tetapi tempat tersebut tidak dijadikan untuk salat selalu, hanyalah seseorang salat di dalamnya apabila kebetulan saja bertepatan dengan waktu salat dan tempat ini tidak dikatakan sebagai masjid. Landasan dalam hal ini adalah bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan salat sunah di rumahnya dan tentu rumah beliau bukan masjid, demikian pula tatkala ‘Itban bin Malik memanggil beliau ke rumahnya untuk salat di tempat yang telah disediakan ‘Itban sebagai mushalla, dan tempat itu bukanlah masjid. Mushalla itu adalah tempat yang digunakan untuk salat di dalamnya namun, tidak ditentukan sebagai masjid secara umum yang manusia salat di dalamnya dan mengetahui kekhususannya untuk hal ini.”
( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 12, hlm. 394-395).

Syekh Abdul Aziz ibnu Baz pun menerangkan,

وإنما المسجد ما يعد للصلاة وقفا تؤدى فيه الصلاة كسائر المساجد، أما المصلى المؤقت فتصلي فيه جماعة الدائرة، أو جماعة نزلوا لوقت معين ثم يرتحلون، فهذا لا يسمى مسجدا

“Tidaklah dikatakan masjid melainkan tempat yang disediakan untuk salat dalam bentuk wakaf, ditunaikan di dalamnya salat seperti masjid-masjid secara umumnya. Adapun tempat salat sementara waktu (mushalla) yang salat di dalamnya jamaah dari kalangan pegawai di kantor atau jamaah yang singgah pada waktu tertentu kemudian pergi, maka tempat ini tidak dinamakan masjid.” ( Fatāwā Nūrun ‘alā ad-Darb, jilid 11, hlm. 293.)

Dari penjelasan ke dua syekh di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dikatakan masjid apabila terpenuhi padanya beberapa ketentuan:

  1. Diwakafkan dan bukan milik pribadi atau instansi tertentu. Maka atas dasar ini bagaimanapun bentuk bangunannya, meskipun tidak digunakan untuk salat jumat namun, bangunan tersebut dibangun di atas tanah yang diwakafkan, maka itu adalah masjid.
  2. Mendapatkan izin secara umum yakni tidak dilarang seorang pun salat di dalamnya.
  3. Digunakan untuk salat lima waktu secara terus menerus.

Dan menjadi jelas pula dalam hal ini bahwa mushalla di kantor-kantor pemerintahan tidak termasuk masjid demikian pula dengan tempat salat khusus wanita. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

المصليات التي تكون في مكاتب
الأعمال الحكومية لا يثبت لها حكم المسجد، وكذلك مصليات النساء في مدارس البنات لا يعتبر لها حكم المسجد، لأنها ليست مساجد حقيقة، ولا حكما

” Mushalla yang ada di kantor pemerintah tidaklah bisa dikatakan masjid. Demikian pula dengan mushalla-mushalla wanita yang berada di sekolahan putri, tidak teranggap padanya hukum masjid karena tempat-tempat tersebut bukanlah disebut masjid-masjid baik secara hakikatnya maupun hukumnya.” ( asy-Syarhul Mumti‘, jilid 6, hlm. 512).

Baca Juga: HUKUM MEMBICARAKAN URUSAN DUNIA DI MASJID

APAKAH BERLAKU HUKUM MASJID DI MUSHALLA?

Telah diketahui bahwa tidak boleh melakukan jual beli di masjid, mengumumkan barang hilang, disyariatkan ketika masuk masjid untuk melakukan salat dua rakaat tahiyatul masjid dan yang semisal ini. Apakah hukum ini juga berlaku untuk mushalla? Syekh Abdul Aziz ibnu Baz menerangkan,

ليس للمصلى حكم المساجد، فلا تشرع الركعتان لدخوله، ولا حرج في البيع والشراء فيه؛ لأنه موضع للصلاة عند الحاجة وليس مسجدا

” Mushalla tidaklah sama dengan hukum masjid. Tidak disyariatkan ketika memasukinya salat dua rakaat tahiyatul masjid dan tidak mengapa berjual beli di dalamnya karena tempat tersebut adalah tempat salat ketika diperlukan saja dan bukan masjid.” ( Fatāwā Nūrun ‘alā ad-Darb, jilid 11, hlm. 293.).

Baca juga: JIKA ADA RUANGAN KHUSUS SEPERTI PERPUSTAKAAN BERADA DI DEKAT MASJID, APAKAH ITU TERMASUK MASJID?

MAKNA LAIN DARI MUSHALLA

Mushalla juga bisa bermakna tanah lapang sebagaimana ketika disandarkan kepada dua id dan jenazah berdasarkan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan wafatnya Najasyi pada hari wafatnya. Beliau pun keluar menuju mushalla (tanah lapang) memerintahkan para sahabat berbaris di shaf mereka lalu beliau mengerjakan salat jenazah dengan empat takbir.” (HR. al-Bukhari, no. 1.245).

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,

كان النبي صلى الله عليه وسلم يخرج في الفطر والأضحى إلى المصلى

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menunaikan salat idulfitri dan iduladha menuju mushalla
(tanah lapang).” (HR. al-Bukhari_, no. 956 dan Muslim, no. 889).

Baca juga: ORANG YANG DI MASJID, TETAPI SERING KELUAR MASUK KARENA HAJAT SEPERTI BERWUDU, APAKAH TETAP SALAT TAHIYATUL MASJID?

MANA YANG LEBIH UTAMA, SALAT DI MASJID TEMPAT TINGGALNYA ATAU DI MASJID LAIN?

Dalam hal ini syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

والصواب أن يقال: إن الأفضل أن تصلي فيما حولك من المساجد؛ لأن هذا سبب لعمارته إلا أن يمتاز أحد المساجد بخاصية فيه فيقدم، مثل: لو كنت في المدينة، أو كنت في مكة، فإن الأفضل أن تصلي في المسجد الحرام في مكة وفي المسجد النبوي في المدينة.
أما إذا لم يكن هناك مزية فإن صلاة الإنسان في مسجده أفضل؛ لأنه يحصل به عمارته؛ والتأليف للإمام وأهل الحي، ويندفع به ما قد يكون في قلب الإمام إذا لم تصل معه؛ لا سيما إذا كنت رجلا لك اعتبارك

“Pendapat yang benar, sesungguhnya yang afdal adalah engkau salat di masjid-masjid yang ada di sekitar mu karena hal ini menjadi sebab kemakmurannya kecuali jika salah satu dari masjid-masjid tersebut memiliki keistimewaan secara khusus, maka itu yang lebih didahulukan seperti tatkala engkau berada di Madinah atau di Makkah, maka sesungguhnya yang afdal adalah engkau salat di masjidilharam ketika di Makkah dan di masjid nabawi ketika di Madinah. Adapun apabila tidak ada keistimewaan, maka sesungguhnya seseorang salat di masjidnya lebih utama karena dengan itu bisa memakmurkannya dan menyatukan hati dengan imam dan penduduk kampung dan dapat menepis perasaan di hati imam apabila engkau tidak salat bersamanya terlebih jika engkau dianggap oleh mereka.”
( asy-Syarhul Mumti’, jilid 4, hlm. 151-152).

Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Baturaja, 22 Dzulqa’dah 1442 H bertepatan dengan 3 Juli 2021.

Penyusun: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar
Murajaah: al-Ustadz Ahmad Khadim hafidzahullah
Editor bahasa: Abu Abdil Muhsin Fudhail

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

LARANGAN MEMOTONG KUKU RAMBUT DAN KULIT BAGI YANG BERKURBAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Dalam hal ini terdapat dalil yang jelas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ummul mukminin ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا دخلت العشر وأراد أحدكم أن يضحي فلا يمس من شعره وبشره شيئا

“Apabila sudah masuk sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dan di antara kalian ada yang ingin berkurban, maka janganlah dia mengambil sedikitpun dari rambut dan kulitnya.” (HR. Muslim no. 1.977).

Di dalam lafaz lain disebutkan,

مَن كانَ له ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فإذا أُهِلَّ هِلالُ ذِي الحِجَّةِ، فلا يَأْخُذَنَّ مِن شَعْرِهِ، ولامِن أظْفارِهِ شيئًا حتَّى يُضَحِّيَ.

“Barang siapa yang memiliki sesembelihan yang akan disembelihnya (untuk kurban) dan telah masuk bulan Zulhijah, maka janganlah dia memotong rambut dan kukunya sedikitpun sampai dia berkurban.” (HR. Muslim no. 1.977).

Kesimpulan dari kedua lafaz hadis di atas, bahwa tidak boleh mengambil salah satu dari bagian yang disebutkan di dalam hadis ini yaitu rambut, kulit dan kuku, larangan tersebut berlaku tatkala seseorang ingin berkurban mulai awal bulan Zulhijah sampai dia berkurban.

Masalah pertama: Hukum mengambil salah satu dari bagian-bagian tersebut.

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum mengambil bagian-bagian yang disebutkan di dalam hadis di atas, pendapat yang kuat wal’ilmu ‘indallah bahwa hukumnya adalah haram karena hukum asal di dalam larangan adalah haram, al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan tentang hadis di atas beliau berkata,

ومقتضى النهي التحريم

“Konsekuensi larangan di dalam hadis tersebut adalah hukumnya haram.” (al-Mughni, Jilid 9, hlm. 437).

Syekh Abdul Aziz ibnu Baz berkata,

حرم على من أراد الضحية من الرجال أو النساء أخذ شيء من الشعر، أو الظفر، أو البشرة من جميع البدن، سواء كان من شعر الرأس، أو من الشارب أو من العانة، أو من الإبط، أو من بقية البدن… حتى يضحي

“Haram hukumnya bagi yang ingin berkurban dari kalangan laki-laki maupun perempuan untuk mengambil sesuatu dari rambut, kuku atau kulit dari seluruh tubuh, baik rambut kepala, kumis, rambut kemaluan dan ketiak atau semua yang tumbuh di anggota badan…sampai dia berkurban.” (Majmu’ al-Fatawa, Jilid 18, hlm. 181).

Masalah kedua: Seseorang hendak berkurban setelah tanggal 1 Zulhijah dan sebelum itu sudah memotong rambut.

Jika seseorang hendak berkurban di pertengahan hari-hari dari sepuluh hari pertama bulan Zulhijah, misal dia hendak berkurban pada tanggal 6 tetapi antara tanggal 1 sampai 5, dia sudah melakukan potong rambut dan kuku, bolehkah yang demikian ini? Jawabannya adalah boleh, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan hukum larangan tidak bolehnya mengambil bagian-bagian tersebut dengan keinginan untuk berkurban. Maka larangan tersebut berlaku ketika seseorang memiliki keinginan untuk berkurban, Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

فإن دخل العشر وهو لا يريد الأضحية ثم أرادها في أثناء العشر أمسك عن أخذ ذلك منذ إرادته ولا يضره ما أخذ قبل إرادته

“Jika telah masuk sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dalam keadaan dia belum ada keinginan berkurban, kemudian dia baru berkeinginan di pertengahannya (setelah tanggal 1), maka hendaknya dia menahan diri dari mengambil bagian-bagian tersebut semenjak dia berkeinginan. Dan tidak mengapa jika dia telah melakukannya sebelum itu.” (Ahkam al-Udhiyyah, Jilid 2, hlm. 255).

Masalah ketiga: Jika seseorang lupa atau tidak sengaja.

Tatkala seseorang lupa atau tidak sengaja memotong kuku atau melakukan larangan tersebut, maka tidak berdosa berdasarkan firman Allah ta’ala,

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (QS. Al Baqarah: 286).
Lalu Allah menjawab, “ya (Aku telah mengabulkannya).”
(HR. Muslim no. 125).

Masalah keempat: Jika seseorang sengaja melanggarnya apakah kurbannya tidak diterima?

Tidak diragukan lagi tatkala seseorang melanggar larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia terjatuh ke dalam perbuatan dosa, namun apakah konsekuensinya kurbannya tidak akan diterima? Dalam hal ini syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah telah menerangkan,

يتوهم بعض العامة أن من أراد الأضحية ثم أخذ من شعره أو ظفره أو بشرته شيئا في أيام العشر لم تقبل أضحيته هذا خطأ بين فلا علاقة بين قبول الأضحية والأخذ مما ذكر لكن من أخذ بدون عذر فقد خالف أمر النبي صلى الله عليه وسلم بالإمساك ووقع فيما نهى عنه من الأخذ فعليه أن يستغفر الله ويتوب إليه ولا يعود وأما ضحيته فلا يمنع قبولها أخذه من ذلك

“Sebagian orang awam memahami bahwa barang siapa yang ingin berkurban, kemudian dia mengambil sesuatu dari rambut, kuku atau kulitnya pada waktu sepuluh hari itu, maka kurbannya tidak akan diterima. Ini adalah kesalahan yang jelas, tidak ada kaitannya antara diterimanya kurban dengan mengambil bagian-bagian yang telah disebutkan. Akan tetapi, barang siapa yang melakukannya tanpa uzur, maka sungguh dia telah menyelesihi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menahan diri dari melakukannya dan dia telah terjatuh ke dalam melanggar larangan. Maka wajib baginya untuk beristigfar bertaubat kepada Allah dan tidak mengulanginya. Adapun kurbannya, maka tidak menghalangi untuk diterima.” (Ahkam al-Udhiyyah, Jilid 2, hlm. 256).

Masalah kelima: Jika diperlukan untuk memotong rambut, kuku dan kulit dalam kondisi darurat.

Jika seseorang terluka di kepala atau di tempat manapun dari anggota tubuhnya yang mengharuskan untuk diambil kulit, rambut atau kukunya, maka hukumnya boleh karena itu semua adalah perkara darurat, dalam hal ini syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan,

وأما من احتاج إلى أخذ الشعر والظفر والبشرة فأخذها فلا حرج عليه مثل أن يكون به جرح فيحتاج إلى قص الشعر عنه أو ينكسر ظفره فيؤذيه فيقص ما يتأذى به أو تتدلى قشرة من جلده فتؤذيه فيقصها فلا حرج عليه في ذلك كله

“Adapun seseorang yang memerlukan untuk mengambil rambut, kuku dan kulit, maka tidak mengapa, seperti terdapat luka (dikepalanya) maka diperlukan untuk menggunting rambutnya, atau kukunya retak sehingga hal itu mengganggunya, maka digunting bagian kuku yang mengganggu tersebut, atau kulitnya menggantung sehingga mengganggunya, maka digunting bagian yang mengganggu tersebut, semua ini hukumnya tidak mengapa.” ( Ahkam al-Udhiyyah, Jilid 2, hlm. 256).

Masalah keenam: Ketika bersisir rambut berjatuhan.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

إذا احتاجت المرأة إلى المشط في هذه الأيام وهي تريد أن تضحي فلا حرج عليها أن تمشط رأسها ولكن تكده برفق فإن سقط شيء من الشعر بغير قصد فلا إثم عليها لأنها لم تكد الشعر من أجل أن يتساقط ولكن من أجل إصلاحه والتساقط حصل بغير قصد.

“Apabila seorang wanita memerlukan untuk bersisir pada sepuluh hari pertama ini dan dia berkeinginan untuk berkurban, maka tidak mengapa dia menyisir rambutnya tetapi, dengan perlahan. Jika berjatuhan tanpa sengaja maka tidak ada dosa baginya karena tidaklah dia menyisir rambutnya dengan tujuan untuk merontokkannya, tetapi untuk merapikannya. Dan berjatuhannya rambut tersebut terjadi tanpa disengaja.” (Fatāwa Nūrun āla ad-Darb, Jilid 13, hlm. 2).

Masalah ketujuh: Apakah ada tebusan bagi yang melakukannya?

Tatkala larangan tersebut dilanggar baik karena lupa ataupun sengaja, maka tidak ada tebusan apapun bagi pelakunya berdasarkan kesepakatan para ulama dan tidak menghalangi keabsahan kurbannya, al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

إذَا ثَبَتَ هَذَا، فَإِنَّهُ يَتْرُكُ قَطْعَ الشَّعْرِ وَتَقْلِيمَ الْأَظْفَارِ، فَإِنْ فَعَلَ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ تَعَالَى. وَلَا فِدْيَةَ فِيهِ إجْمَاعًا، سَوَاءٌ فَعَلَهُ عَمْدًا أَوْ نِسْيَانًا.

“Apabila hal ini telah tetap, maka tidak boleh rambut dan kuku dipotong, jika dia lakukan, maka hendaknya dia beristigfar kepada Allah ta’ala. Dan tidak ada tebusan apapun bagi yang melakukannya sesuai dengan kesepakatan ulama baik dikerjakan dengan sengaja ataupun tidak, seperti lupa.” (al-Mughni, Jilid 9, hlm. 437).

Masalah kedelapan: Apakah larangan tersebut berlaku pula bagi keluarga yang berkurban dan yang lainnya?

Larangan ini hanya berlaku bagi yang berkurban saja, adapun orang-orang yang diniatkan pahalanya seperti keluarga dan yang lainnya maka syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

وأما من يضحى عنه فظاهر الحديث وكلام كثير من أهل العلم أن النهي لا يشمله، فيجوز له الأخذ من شعره وظفره وبشرته، ويؤيد ذلك أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يضحي عن آل محمد ولم ينقل أنه كان ينهاهم عن ذلك

“Adapun orang yang diniatkan pahalanya, maka yang nampak dari hadis dan penjelasan kebanyakan ulama bahwa larangan tersebut tidak mencakup mereka. Maka boleh bagi mereka untuk mengambil rambut, kuku dan kulitnya, yang menguatkan hal ini adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berkurban untuk keluarga Muhammad dan tidak dinukil bahwa beliau melarang mereka dari yang demikian itu.” (Ahkam al-Udhiyyah, Jilid 2, hlm. 256).

Dan larangan ini juga tidak berlaku pada wakil yang diserahi penyembelihan, syekh Abdul Aziz Ibnu Baz rahimahullah berkata,

أما الوكيل الموكل على الضحايا، فهذا لا حرج عليه، الوكيل ما هو مضحٍّ

“Adapun wakil yang diserahi penyembelihan hewan-hewan kurban maka tidak mengapa, karena wakil itu bukanlah yang berkurban.”
(Fatāwā Nūrun Alā ad-Darb, Jilid 18, hlm. 181).

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: 
RINGKASAN FIKIH KURBAN
SYARAT-SYARAT HEWAN KURBAN
JENIS HEWAN YANG DIJADIKAN KURBAN
PIHAK YANG BERHAK MENERIMA KURBAN
HAL YANG BERKAITAN TENTANG PENYEMBELIHAN
LARANGAN MEMOTONG KUKU RAMBUT DAN KULIT BAGI YANG BERKURBAN
HAL LAIN YANG TERKAIT DENGAN HEWAN KURBAN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

ORANG YANG DI MASJID, TETAPI SERING KELUAR MASUK KARENA HAJAT SEPERTI BERWUDU, APAKAH TETAP SALAT TAHIYATUL MASJID?

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

أما الذي يخرج من المسجد ويعود عن قرب فلا يصلي تحية المسجد؛ لأنه لم يخرج خروجا منقطعا، ولهذا لم ينقل عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه كان إذا خرج لبيته لحاجة وهو معتكف ثم عاد أنه كان يصلي ركعتين، وأيضا فإن هذا الخروج لا يعد خروجا، بدليل أنه لا يقطع اعتكاف المعتكف، ولو كان خروجه يعتبر مفارقة للمسجد لقطع الاعتكاف به، ولهذا لو خرج شخص من المسجد على نية أنه لن يرجع إلا في وقت الفرض التالي، وبعد أن خطا خطوة رجع إلى المسجد ليتحدث مع شخص آخر ولو بعد نصف دقيقة فهذا يصلي ركعتين؛ لأنه خرج بنية الخروج المنقطع.

“Adapun orang yang keluar dari masjid dan kembali dalam waktu dekat, maka dia tidak salat tahiyatul masjid karena dia tidak keluar dengan memutus hubungan dengan masjid. Oleh karena ini, tidak dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa tatkala beliau keluar menuju rumahnya untuk suatu keperluan dalam keadaan beliau sedang beriktikaf kemudian kembali lagi lalu salat dua rakaat ketika masuk. Dan keluar dengan bentuk yang seperti ini, tidak dianggap keluar dengan dalil bahwa hal ini tidak memutus iktikafnya orang yang beriktikaf, kalaulah keluarnya dia terhitung memisahkan diri dari masjid, tentu iktikafnya terputus. Dan atas dasar ini jika ada seseorang yang keluar dari masjid dengan niat tidak akan kembali lagi kecuali pada waktu salat wajib yang berikutnya, setelah dia melangkahkan kakinya, dia kembali lagi ke masjid ingin berbincang-bincang dengan orang lain walaupun hanya dalam waktu setengah menit, maka dia menunaikan salat dua rakaat karena dia telah keluar dengan niat yang terputus.”
( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 14, hlm. 353).

Baca Juga: Seputar Hukum Masjid

Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Penyusun: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar
Murajaah: al-Ustadz Ahmad Khadim hafidzahullah
Editor bahasa: Abu Abdil Muhsin Fudhail

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

JIKA ADA RUANGAN KHUSUS SEPERTI PERPUSTAKAAN BERADA DI DEKAT MASJID, APAKAH ITU TERMASUK MASJID?

JIKA BANGUNAN ITU BERTINGKAT, SALAH SATUNYA DIGUNAKAN UNTUK KEPERLUAN KHUSUS, APAKAH ITU BAGIAN DARI MASJID?

Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang hal yang semisal ini.
Beliau menjawab,

إذا كان المبنى المذكور قد أعد مسجدا ويسمع أهل الدورين الأعلى والأسفل صوت الإمام صحت صلاة الجميع…أما إن كان الدور الأسفل لم ينوه الواقف من المسجد، وإنما نواه مخزنا ومحلا لما ذكر في السؤال من الحاجات، فإنه لا يكون له حكم المسجد

“Apabila bangunan tersebut disediakan untuk masjid dan masing-masing dari yang berada di tingkat bangunan itu mendengar suara imam, maka salat mereka semua sah. Adapun jika bangunan bawah, tidak diniatkan oleh pewakaf sebagai masjid, hanya saja dia niatkan untuk tempat penyimpanan keperluan-keperluan sebagaimana disebutkan dalam pertanyaan, maka itu bukanlah masjid.” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 10, hlm. 221-222).

Jadi kesimpulan dari penjelasan beliau di atas, dikembalikan kepada niat pengurus wakaf pada bagian pembangunan. Jika tempat tersebut, digunakan untuk masjid, maka itu bagian dari masjid, jika tidak, maka tidak. Wallahua’lam.

JIKA ADA RUANGAN KHUSUS SEPERTI PERPUSTAKAAN BERADA DI DEKAT MASJID, APAKAH ITU TERMASUK MASJID?

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hal ini pada tiga keadaan,

١– إذا كان باب المكتبة داخل المسجد .

٢– إذا كان باب المكتبة خارج المسجد .

٣– إذا كان للمكتبة بابان أحدهما داخله والآخر خارجه .

1. Apabila pintu perpustakaan tersebut di bagian dalam masjid.
2. Apabila pintunya di bagian luar masjid.
3. Apabila pintunya ada dua yakni di bagian dalam dan di bagian luar.

Beliau menjawab,

في الحال الأولى وهي: ما إذا كان باب المكتبة داخل المسجد تكون المكتبة من المسجد فلها حكمه، فتشرع تحية المسجد لمن دخلها، ولا يحل للجنب المكث فيها إلا بوضوء، ويصح الاعتكاف فيها، ويحرم فيها البيع والشراء، وهكذا بقية أحكام المسجد المعروفة

وفي الحال الثانية وهي: ما إذا كان بابها خارج المسجد، وليس لها باب على المسجد، لا تكون من المسجد فلا يثبت لها أحكام المساجد، فليس لها تحية مسجد، ولا يصح الاعتكاف فيها، ولا يحرم فيها البيع والشراء، لأنها ليست من المسجد لانفصالها عنه.

وفي الحال الثالثة وهي: ما إذا كان لها بابان، أحدهما: داخل المسجد. والثاني: خارجه، إن كان سور المسجد محيطا بها فهي من المسجد فتثبت لها أحكام المسجد، وإن كان غير محيط بها بل لها سور مستقل فليس لها حكم المسجد فلا تثبت لها أحكامه؛ لأنها منفصلة عن المسجد، ولهذا لم تكن بيوت النبي صلى الله عليه وسلم من مسجده، مع أن لها أبوابا على المسجد؛ لأنها منفصلة عنه

“Pada keadaan pertama, yaitu apabila pintu perpustakaan tersebut, di bagian dalam masjid, maka ruangan perpustakaan itu termasuk dari masjid dan hukumnya hukum masjid. Disyariatkan salat tahiyatul masjid bagi yang memasukinya, (menurut sebagian pendapat ulama, -pen) tidak boleh bagi orang yang junub tinggal di dalamnya kecuali dalam keadaan berwudu, sah beriktikaf di dalamnya, dan tidak boleh melakukan jual beli di dalamnya, demikian pula hukum-hukum masjid yang lain yang sudah diketahui.

Pada keadaan kedua, yaitu apabila pintunya di bagian luar masjid dan tidak ada pintu yang menyambung ke masjid, maka ruangan ini bukanlah masjid, tidak berlaku padanya hukum masjid, tidak berlaku padanya tahiyatul masjid, tidak sah dijadikan tempat iktikaf dan tidak dilarang jual beli di dalamnya karena ruangan tersebut bukan bagian dari masjid sebab, sudah terpisah dari masjid.

Pada keadaan ketiga, yaitu apabila ruangan tersebut memiliki dua pintu, di bagian dalam masjid dan di bagian luar masjid. Jika pagar masjid mengelilinginya, ruangan tersebut termasuk dari masjid, berlaku padanya hukum-hukum masjid. Dan jika tidak dikelilingi oleh pagar masjid, bahkan tempat tersebut memiliki pagar  tersendiri, maka tidak ada padanya hukum masjid dan tidak berlaku hukum-hukum yang berkaitan dengan masjid padanya karena ruangan tersebut terpisah dari masjid. Oleh karena inilah, rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak termasuk bagian dari masjidnya padahal di rumah beliau banyak pintu ke masjid sebab, rumah beliau terpisah dari masjid.” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 14, hlm. 351-352).

Baca Juga: Seputar Hukum Masjid

Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Penyusun: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar
Murajaah: al-Ustadz Ahmad Khadim hafidzahullah
Editor bahasa: Abu Abdil Muhsin Fudhail

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

HUKUM MEMBICARAKAN URUSAN DUNIA DI MASJID

BOLEHKAH MENEMPEL PENGUMUMAN TENTANG KEBERANGKATAN HAJI DAN UMRAH MELALUI TRAVEL-TRAVEL TERTENTU?

Berkaitan tentang hal ini, syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan,

لا يجوز أن تعلق الإعلانات للحج والعمرة داخل المسجد؛ لأن غالب الذين يأخذون هذه الرحلات يقصدون الكسب المالي فيكون هذا نوعا من التجارة، لكن بدلا من أن تكون في المسجد تكون عند باب المسجد من الخارج.

 “Tidak boleh meletakkan pengumuman-pengumuman tentang haji dan umrah di bagian dalam masjid karena secara umum, orang-orang yang mengurusi urusan keberangkatan-keberangkatan yang seperti ini, tujuan mereka untuk pekerjaan dalam mencari harta. Namun, solusinya sebaiknya di tempel di pintu masjid bagian luar.” ( Liqā’ Bab al-Maftūh, 151/19).

HUKUM MEMBICARAKAN URUSAN DUNIA DI MASJID

Berkaitan tentang hal ini syekh Abdul Aziz ibnu Baz berkata,

التحدث في المساجد إذا كان في أمور الدنيا، والتحدث بين الإخوان والأصحاب في أمور دنياهم إذا كان قليلا لا حرج فيه إن شاء الله، أما إن كان كثيرا فيكره؛ لأنه يكره اتخاذ المساجد محل أحاديث الدنيا، فإنها بنيت لذكر الله وقراءة القرآن والصلوات الخمس وغير هذا من وجوه الخير؛ كالتنفل والاعتكاف وحلقات العلم، أما اتخاذها للسواليف في أمور الدنيا فيكره ذلك،

“Berbincang-bincang di dalam masjid apabila berkaitan dengan perkara dunia dan berbincang-bincang di antara ikhwan dan sahabat dalam urusan-urusan dunia, jika sedikit, tidak mengapa insya Allah. Adapun jika banyak, maka hal itu dibenci karena menjadikan masjid-masjid sebagai tempat pembicaraan dunia merupakan perbuatan yang dibenci. Karena tujuan dibangunnya masjid adalah untuk berzikir kepada Allah, membaca al-Qur’an, salat lima waktu, dan selain ini dari perkara-perkara kebaikan seperti salat sunah, iktikaf dan halakah-halakah ilmu. Adapun menjadikan masjid sebagai tempat pembicaraan-pembicaran  dalam perkara-perkara dunia, maka hal itu dibenci.” ( Fatāwā Nūrun ‘alā ad-Darb, 11/344-345).

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan,

الكلام في المسجد ينقسم إلى قسمين:

القسم الأول أن يكون فيه تشويش على المصلىن والقارئين والدارسين فهذا لا يجوز وليس لأحد أن يفعل ما يشوش على المصلىن والقارئين والدارسين.

القسم الثاني أن لا يكون فيه تشويش على أحد فهذا إن كان في أمور الخير فهو خير وإن كان في أمور الدنيا فإن منه ما هو ممنوع ومنه ما هو جائز فمن الممنوع البيع والشراء والإجارة فلا يجوز للإنسان أن يبيع أو يشتري في المسجد أو يستأجر أو يؤجر في المسجد وكذلك إنشاد الضالة فإن الرسول عليه الصلاة والسلام قال (إذا سمعتم من ينشد الضالة فقولوا لا ردها الله عليك فإن المساجد لم تبن لهذا) ومن الجائز أن يتحدث الناس في أمور الدنيا بالحديث الصدق الذي ليس فيه شيء محرم.

“Pembicaraan di dalam masjid terbagi menjadi dua:

1. Pembicaraan yang mengganggu orang-orang yang sedang salat, membaca al-Qur’an dan belajar. Maka ini hukumnya tidak boleh, tidak boleh bagi seorang pun melakukan hal ini.

2. Pembicaraan yang tidak mengganggu seorang pun, maka jenis ini, jika dalam urusan kebaikan, maka itu adalah kebaikan dan jika dalam urusan dunia, maka ada yang dilarang dan ada yang boleh, yang dilarang, seperti jual beli dan sewa menyewa. Tidak boleh bagi seorang pun untuk melakukan jual beli dan sewa menyewa di dalam masjid, demikian pula dengan mengumumkan barang hilang karena Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Barang siapa yang mendengar seseorang mengumumkan barangnya yang hilang di dalam masjid, maka doakanlah, ‘Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu.’ Karena sesungguhnya masjid-masjid itu tidaklah dibangun untuk ini.’

Dan yang diperbolehkan adalah seseorang berbicara tentang urusan dunia dengan pembicaraan yang jujur dan tidak ada pada pembicaraan tersebut keharaman.”
( Fatāwā Nūrun ‘Alā ad-Darb, 8/2).

Baca Juga: Seputar Hukum Masjid

Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Penyusun: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar
Murajaah: al-Ustadz Ahmad Khadim hafidzahullah
Editor bahasa: Abu Abdil Muhsin Fudhail

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

HUKUM MELAKUKAN JUAL BELI DAN MENGUMUMKAN BARANG HILANG DI DEPAN PINTU MASJID BAGIAN LUAR

HUKUM MELAKUKAN JUAL BELI DAN MENGUMUMKAN BARANG HILANG DI DEPAN PINTU MASJID BAGIAN LUAR

Komite al-Lajnah ad-Dāimah pernah ditanya tentang jual beli di depan pintu masjid bagian luar, maka jawabannya,

 البيع عند باب المسجد خارجه جائز

“Melakukan jual beli di pintu masjid bagian luarnya hukumnya boleh.”
( Fatāwā al-Lajnah, no. 1.5316).

Demikian pula yang berkaitan dengan barang hilang, boleh seseorang berdiri di depan pintu masjid bagian luar, lalu mengumumkan hal itu. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

إنشاد الضالة يجيء رجل ويقول ضاع مني كذا مثل محفظة الدراهم فهذا حرام لا يجوز حتى وإن غلب على أمرك أنه سرق في المسجد لا تقل هذا كيف أتوصل إلى هذا اجلس عند باب المسجد خارج المسجد وقل جزاكم الله خيرا ضاع مني كذا 

“Mengumumkan barang hilang (di masjid), contohnya, seseorang datang dan berkata, aku telah kehilangan dompet. Maka yang demikian ini haram hukumnya, tidak boleh walaupun berdasarkan perkiraan yang kuat bahwa ada seseorang yang disangka telah mencuri di masjid, jangan engkau katakan yang seperti ini.
Lantas bagaimana aku bisa mengatasi hal ini?
Jawabannya adalah duduklah engkau di sisi pintu masjid bagian luar, lalu katakanlah, ‘Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan, aku telah kehilangan barang, demikian dan demikian.'” ( Syarh Riyadh ash-Shālihīn, jilid 6, hlm. 444).

Bahkan dewan komite al-Lajnah ad-Dāimah memberikan solusi jika pengumuman tersebut berkaitan dengan hal yang bukan bagian dari agama,

ويمكن أن يلصق الإعلان خارج باب المسجد في مكان معين دائما

ليعرفه الناس، وبهذا تدرأ المفسدة عن المسجد وتحصل المصلحة من الإعلان

“Memungkinkan pengumuman tersebut ditempel di pintu masjid bagian luar di tempat tertentu. Hal itu dilakukan  terus menerus agar manusia mengetahuinya. Dan dengan ini tercegahlah kerusakan di masjid dan kemaslahatan yang diinginkan pun terwujud dari pengumuman tersebut.” ( Fatāwā al-Lajnah, no. 3.842).

Namun, apakah halaman atau teras masjid yang berada di pinggiran masjid dan terkadang digunakan untuk salat jika bagian dalam masjid penuh bukan bagian dari masjid padahal tempat ini masih masuk dalam lingkup pagar masjid? Jawabannya adalah sebaiknya tidak berjual beli dan tidak mengumumkan barang hilang karena tempat tersebut masih tercakup pada bagian dari bangunan masjid dan bersambung dengan masjid, maka tentu hukumnya, hukum masjid sebagaimana dalam penjelasan batasan masjid. Bisa jadi yang dimaksud penjelasan di depan pintu masjid bagian luar di atas adalah di depan pintu teras masjid wallahua’lam.
Sebagaimana ditegaskan oleh As-Suyuthī rahimahullah beliau berkata,

وحريم المسجد، فحكمه حكم المسجد، ولا يجوز الجلوس فيه للبيع ولا للجنب،
 ويجوز الاقتداء فيه بمن في المسجد، والاعتكاف فيه .

“Teras pinggiran masjid termasuk dalam hukum masjid. Tidak boleh berjual beli di sana dan tidak boleh bagi orang yang junub memasukinya (menurut pendapat sebagian ulama, -pen). Dan boleh mengikuti salat orang yang di dalam masjid (jika kondisi bagian dalam penuh) dan boleh beriktikaf di sana.” ( al-Asybāh wa an-Nadzāir, jilid 1/ 125).

Dari penjelasan di atas, menjadi jelas bagi kita  bahwa semestinya bagi setiap muslim, untuk tidak melakukan jual beli dan mengumumkan barang hilang di dalam atau di teras masjid. Jika ingin melakukannya, lakukanlah di luar pintu bagian depan masjid atau di tempat parkir yang tidak termasuk bagian dalam masjid. Wallahua’lam.

Baca Juga: Seputar Hukum Masjid

Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Penyusun: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar
Murajaah: al-Ustadz Ahmad Khadim hafidzahullah
Editor bahasa: Abu Abdil Muhsin Fudhail

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

HUKUM JUAL BELI DAN MENGUMUMKAN BARANG HILANG DI DALAM MASJID

HUKUM JUAL BELI DAN MENGUMUMKAN BARANG HILANG DI DALAM MASJID

Berkaitan tentang hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan,
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا رأيتم من يبيع أو يبتاع فى المسجد فقولوا: لا أربح الله تجارتك

“Apabila kalian melihat orang yang melakukan jual beli di dalam masjid, maka doakanlah, ‘Semoga Allah tidak memberikan keuntungan pada perniagaanmu.'”
(HR. at-Tirmidzi dan disahihkan oleh syekh al-Albani di dalam al-Irwā’, no. 1.295).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Baca juga: HUKUM MELAKUKAN JUAL BELI DAN MENGUMUMKAN BARANG HILANG DI DEPAN PINTU MASJID BAGIAN LUAR

مَن سَمِعَ رَجُلًا يَنْشُدُ ضالَّةً في المَسْجِدِ فَلْيَقُلْ لا رَدَّها اللَّهُ عَلَيْكَ فإنَّ المَساجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهذا

“Barang siapa yang mendengar seseorang mengumumkan barangnya yang hilang di dalam masjid, maka doakanlah, ‘Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu.’ Karena sesungguhnya masjid-masjid itu tidaklah dibangun untuk ini.” (HR. Muslim, no. 568).

Dari kedua hadis di atas diambil kesimpulan bahwa tidak boleh melakukan jual beli dan mengumumkan barang yang hilang di dalam masjid terlepas dari perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang makna larangan tersebut apakah haram atau makruh, maka seorang mukmin tatkala mendapati larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan berusaha menjauhinya semaksimal mungkin.

Di antara hikmah dari larangan ini adalah sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibnu Abdil Barr rahimahullah beliau berkata,

وقد ذكر الله تعالى المساجد بأنها بيوت أذن الله أن ترفع ويذكر فيها اسمه وأن يسبح له فيها بالغدو والآصال فلهذا بنيت فينبغي أن تنزه عن كل ما لم تبن له

“Sungguh Allah Ta’ala telah menyebutkan bahwa masjid-masjid itu adalah rumah yang telah Allah izinkan untuk diagungkan dan disebut di dalamnya nama-Nya serta bertasbih kepada-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang. Untuk inilah masjid-masjid itu dibangun. Maka semestinya untuk dibersihkan dari segala yang tidak menjadi tujuan dibangunnya.”
( al-Istidzkār, jilid 2, hlm. 368).

Baca Juga: Seputar Hukum Masjid

Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Penyusun: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar
Murajaah: al-Ustadz Ahmad Khadim hafidzahullah
Editor bahasa: Abu Abdil Muhsin Fudhail

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

KAIDAH PENTING BAGI MUSAFIR TENTANG BERPUASA PADA BULAN RAMADAN

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

قال أبو الدرداء رضي الله عنه: «سافرنا مع النبي صلى الله عليه وسلم في حر شديد وما منا صائم إلا رسول الله صلى الله عليه وسلم وعبد الله بن رواحة»
والقاعدة في المسافر أنه يخيز بين الصيام والإفطار، ولكن إن كان الصوم لا يشق عليه فهو أفضل؛ لأن فيه ثلاث فوائد:
الأولى: الاقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم.
الثانية: سهولة الصوم على الإنسان؛ لأن الإنسان إذا صام مع الناس كان أسهل عليه.
الثالثة: سرعة إبراء ذمته، هذا إذا كان الصوم لا يشق عليه.
فإن كان يشق عليه فإنه لا يصوم، وليس من البر الصيام في السفر في مثل هذه الحال
لأن الرسول عليه الصلاة والسلام رأى رجلا قد ظلل عليه وحوله زحام فقال: «ما هذا؟» قالوا: صائم، فقال: «ليس من البر الصيام في السفر» فينزل هذا العموم على من كان في مثل حال هذا الرجل يشق عليه الصوم

“Abu ad-Darda’ berkata, ‘Kami melakukan safar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu siang yang sangat panas. Dan tidak ada di antara kami yang berpuasa kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abdullah ibnu Rawahah.’

Kaidah pada musafir adalah diberi pilihan antara berpuasa dan tidak namun, jika berpuasa tidak memberatkannya, maka itulah yang afdal karena padanya ada tiga faedah,

  1. Mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Mudahnya berpuasa bagi seseorang karena apabila dia berpuasa bersama manusia, maka hal itu lebih mudah baginya.
  3. Lebih bersegera dalam menunaikan tanggungannya.

Ini jika puasa itu tidak memberatkannya, tetapi jika memberatkannya, maka hendaknya dia tidak berpuasa dan bukanlah termasuk dari kebaikan puasa pada saat safar dalam keadaan seperti ini karena Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjumpai seseorang yang tergeletak dikerumuni, maka beliau bertanya,

‘Ada apa ini?’

Lalu para sahabat menjawab,

‘Dia sedang berpuasa wahai Rasulullah!’ Maka beliau berkata,

Bukan termasuk kebaikan puasa pada saat safar.’

Maka yang dimaksud dengan hadis ini adalah orang yang seperti ini keadaannya, yakni yang terasa berat baginya berpuasa saat safar.”

Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 19, hlm. 136.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

ANANDA PERLU DILATIH PUASA RAMADAN

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

والصغير لا يلزمه الصوم حتى يبلغ، ولكن يؤمر به متى أطاقه ليتمرن عليه ويعتاده، فيسهل عليه بعد البلوغ، وقد كان الصحابة رضي الله عنهم وهم خير هذه الأمة يصومون أولادهم
وهم صغار.

“Anak kecil, tidaklah diwajibkan berpuasa sampai dia balig. Namun, jika dia mampu, diperintahkan berpuasa agar dia latihan dan terbiasa dengan puasa, maka dengan sebab itu akan memudahkannya setelah dia balig nantinya. Para sahabat radhiyallahu ‘anhum, mereka adalah orang-orang terbaik umat ini, mereka membiasakan anak-anak mereka berpuasa ketika masih kecil.”

Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 19, hlm. 28-29.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com