APA HUKUMNYA APABILA LUPA NIAT?

APA HUKUMNYA APABILA LUPA NIAT?

Misal, seseorang mengerjakan salat zuhur pada waktu zuhur, tetapi dia niatnya salat asar. Setelah salam, dia baru ingat kalau niatnya salah, maka dalam hal ini syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan,

ولا يمكن العجز عنها، لكن في الحقيقة يمكن النسيان فيها، مثل أن يأتي الإنسان ليصلي الظهر، ثم يغيب عن خاطره نية الظهر، وينوي العصر، وهذا يقع كثيرا، فهل تصح صلاته أم لا؟
الجواب: لا تصح؛ لأنه عين خلاف فرض الوقت، فلا تصح، لأن النية لا تسقط بحال

“Tidak mungkin seseorang kesulitan dalam berniat. Tetapi, pada hakikatnya mungkin seseorang lupa dalam berniat contohnya, seseorang mengerjakan salat zuhur kemudian pergi dari pikirannya niat zuhur dan dia berniat asar, hal ini sering terjadi. Apakah salatnya sah? Jawabannya adalah salatnya tidak sah karena dia telah menentukan waktu salat wajib yang berbeda, maka salatnya tidak sah karena niat itu tidaklah gugur disebabkan suatu keadaan.” ( Asy-Syarhul-Mumti’, jilid 3, hlm. 328).

Maka hendaknya seseorang menghadirkan niat selalu ketika hendak salat apa pun jangan sampai salah atau tidak sadar sama sekali sedang mengerjakan salat apa, jika seperti ini keadaannya maka salatnya tidak sah, wallahua’lam.

BOLEHKAH MERUBAH NIAT KETIKA SALAT?

Dalam hal ini syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menyebutkan 3 keadaan:

  1. Dari yang mu’ayyan(1) menuju yang mu’ayyan seperti merubah niat salat zuhur ke salat asar, maka dalam keadaan seperti ini salat zuhurnya tidak sah karena dia sudah merubahnya dan tidak sah salat asarnya karena dia tidak meniatkannya dari awal, maka atas dasar ini kedua salat itu wajib untuk diulangi.
  2. Dari mutlak(2) menuju mu’ayyan seperti seseorang memulai salat sunah mutlak kemudian merubah niatnya ke salat mu’ayyan, dia rubah niatnya ke salat rawatib yakni seseorang memulai salatnya dengan niat salat sunah mutlak, kemudian dia ingin merubah niatnya ke salat sunah rawatib zuhur, maka salat rawatibnya tidak sah karena dia tidak niat dari awal.
  3. Dari mu’ayyan menuju mutlak seperti dia berniat salat rawatib magrib kemudian karena suatu alasan, nampak baginya bahwa dia ingin berpindah ke niat salat sunah mutlak. Maka jika seperti ini keadaannya sah salatnya dan tidak batal karena dia niat salat mu’ayyan yang tercakup padanya niat salat mutlak.” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 12, hlm. 449-450).

(1) Salat mu’ayyan adalah salat yang berkaitan dengan sebab tertentu seperti tahiyatul masjid yang berkaitan dengan tempat dan rawatib yang berkaitan dengan waktu.

(2) Salat sunah mutlak adalah salat dua rakaat yang tidak berkaitan dengan sebab, kapan pun bisa dia lakukan selama tidak pada waktu terlarang.

✍🏻 Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: SIFAT SALAT NABI bagian 1

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

SIFAT SALAT NABI

بسم الله الرحمن الرحيم

SIFAT SALAT NABI

Pada kesempatan ini kita akan menyebutkan faedah-faedah dari Ulama tentang tata cara salat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sesuai dengan yang dimudahkan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala, kita akan berusaha meringkas sebisa mungkin dan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh kaum muslimin. Semoga Allah memberikan kemudahan untuk pembahasan ini sampai selesai dan menjadikannya bernilai pahala untuk si pembaca, penulis, serta yang menjadi sebab tersebarnya pembahasan ini.

NIAT

Niat merupakan sesuatu yang harus ada dalam setiap ibadah baik berupa salat atau yang lainnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ …

“Sesunguhnya saja amalan itu tergantung dengan niatnya …
” (HR. al-Bukhari no. 1, Muslim no. 1907).

DIMANAKAH LETAK NIAT?

Tempatnya adalah di hati, syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

النية)) محلها القلب، ولا محل لها في اللسان في جميع الأعمال)

“Niat itu tempatnya di hati dan tidak ada tempat untuk niat ini pada lisan. Ini berlaku pada semua amalan.” ( Syarh Riyadh ash-Shālihīn, jilid 1, hlm. 14).

DEFINISI NIAT

Asy-Syaikh Abdullah Alu Bassam rahimahullah menerangkan tentang definisi niat. Beliau menuturkan,

النية لغة القصد

“Niat secara bahasa maknanya adalah tujuan.”

Demikian pula beliau menerangkan secara istilah syariat Islam,

وشرعا العزم على فعل العبادة تقربا إلى الله تعالى

“Secara syariat maknanya adalah tekad untuk melakukan ibadah dengan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.” ( Taisīr al-Allām, hlm. 15).

BAGAIMANA PRAKTIK NIAT?

Niat ini sangat mudah praktiknya, karena tidaklah seseorang melakukan sesuatu melainkan disertai dengan niat, tujuan, dan tekad, syekh Ibnu Utsaimin menerangkan,

! قال بعض العلماء : لو كلفنا الله عملا بلا نية لكان من تكليف ما لا يطاق

“Sebagian Ulama berkata,

‘Jika seandainya Allah membebani kita pada suatu amalan tanpa niat, tentu ini adalah pembebanan yang tidak dimampui.”
( Syarh Riyadh ash-Shālihīn, jilid 1, hlm. 16).

HUKUM MELAFAZKAN NIAT

Maka tatkala seseorang bertekad melakukan sesuatu, maka inilah yang disebut dengan niat. Adapun melafazkan niat, maka ini adalah perbuatan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi dan para sahabat, syekh Ibnu Utsaimin menerangkan,

ولهذا كان من نطق بالنية عند إرادة الصلاة، أو الصوم، أو الحج، أو الوضوء، أو غير ذلك من الأعمال كان مبتدعا قائلا في دين الله ما ليس منه؛ لأن النبي صلي الله عليه وسم كان يتوضأ، ويصلي ويتصدق، ويصوم ويحج، ولم يكن ينطق بتالنية، فلم يكن يقول: اللهم إني نويت أن أتوضأ، اللهم إني نويت أن أصلي، اللهم إني نويت أن أتصدق، اللهم إني نويت أن أحج، لم يكن يقول هذا؛ وذلك لأن النية محلها القلب، والله عز وجل يعلم ما في القلب، ولا يخفي عليه شيء.

“Oleh karena ini, barang siapa yang melafazkan niat ketika hendak salat, puasa, haji, wudu, atau amalan-amalan lainnya, maka sungguh dia melakukan kebidahan, dia berkata di dalam agama Allah yang bukan bagian darinya.

Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam dahulu berwudu, salat, bersedekah, puasa, dan haji, beliau tidak pernah melafazkan niat, beliau tidak mengatakan Allahumma inni nawaitu an atawadhdha’ (ya Allah aku niat berwudu), Allahumma inni nawaitu an ushalli (Ya Allah aku niat salat), Allahumma inni nawaitu an atashaddaq (Ya Allah aku niat bersedekah), Allahumma inni nawaitu an ahujj (Ya Allah aku niat berhaji).

Hal ini karena niat itu letaknya di hati, Allah Azza wa Jalla mengetahui apa yang ada di dalam hati, tidak samar bagi Allah sesuatu pun.”
( Syarh Riyadh ash-Shālihīn, jilid 1, hlm. 14).

✍🏻 Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: APA HUKUMNYA APABILA LUPA NIAT?

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com