SEPUTAR HUKUM MASJID

SEPUTAR HUKUM MASJID

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah, pada kesempatan ini kami akan menuangkan pembahasan yang mudah-mudahan bermanfaat untuk kaum muslimin secara umum, yakni pembahasan ringkas berkaitan tentang hukum seputar masjid. Kami memohon pertolongan kepada Allah agar dapat menyelesaikan pembahasan ini dengan sebaik mungkin.

PENGERTIAN MASJID

Pengertian secara bahasa dan istilah saling berdekatan maknanya, masjid secara bahasa adalah tempat yang digunakan untuk sujud dan beribadah kepada Allah. Di dalam kamus Lisanul Arab disebutkan pengertian masjid secara bahasa,

والمسجد: الذي يسجد فيه،
وفي الصحاح: واحد المساجد. وقال الزجاج: كل موضع يتعبد فيه فهو مسجد [مسجد]،
ألا ترى أن النبي، صلى الله عليه وسلم، قال: جعلت لي الأرض مسجدا وطهورا.

Masjid adalah yang digunakan untuk sujud padanya.
Di dalam kitab ash-Shihhāh disebutkan, masjid merupakan kata tunggal dari masājid.
Dan az-Zujaj berkata,

“Setiap tempat yang digunakan untuk beribadah padanya, maka itulah masjid.
Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Telah dijadikan bagiku bumi ini sebagai masjid dan suci.'” ( Lisān al-‘Arab, jilid 3, hlm. 243).

Komite al-Lajnah ad-Dāimah menyebutkan pengertian masjid dari dua sisinya,

المسجد لغة موضع السجود، وشرعا كل ما أعد ليؤدي فيه المسلمون الصلوات الخمس جماعة

“Masjid secara bahasa adalah tempat sujud sedangkan secara istilah syariat adalah segala yang disiapkan untuk kaum muslimin menunaikan ibadah salat lima waktu secara berjamaah.”
( Fatāwā al-Lajnah, no. 1.319).

BATASAN MASJID

Berkaitan tentang hal ini, sungguh dewan komite fatwa al-Lajnah ad-Dāimah telah menerangkan,

حدود المسجد الذي أعد ليصلي فيه المسلمون الصلوات الخمس جماعة هي ما أحاط به من بناء أو أخشاب أو جريد أو قصب أو نحو ذلك، وهذا هو الذي يعطي حكم المسجد

“Batasan masjid (secara syariat) adalah tempat yang disediakan untuk salat lima waktu secara berjamaah bagi kaum muslimin, yaitu yang tercakup pada bagian dari bangunan baik dari bangunan permanen, kayu, pelepah kurma, rotan, atau yang semisal itu. Inilah yang memberikan hukum masjid.” ( Fatāwā al-Lajnah, jilid 6, hlm. 223).

Baca juga: HUKUM JUAL BELI DAN MENGUMUMKAN BARANG HILANG DI DALAM MASJID

PERBEDAAN ANTARA MASJID DAN MUSHALLA

Dalam hal ini, sungguh para ulama telah menerangkan dengan jelas perbedaan antara keduanya. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah tatkala ditanyakan tentang perbedaan di antara keduanya. Beliau menerangkan,

أما بالمعنى العام فكل الأرض مسجد لقوله صلى الله عليه وسلم: ((جعلت لي الأرض مسجدا وطهورا)) . وأما بالمعنى الخاص فالمسجد: ما أعد للصلاة فيه دائما وجعل خاصا بها سواء بني بالحجارة والطين والإسمنت أم لم يبن، وأما المصلى فهو ما اتخذه الإنسان ليصلي فيه، ولكن لم يجعله موضعا للصلاة دائما، إنما يصلي فيه إذا صادف الصلاة ولا يكون هذا مسجدا، ودليل ذلك أن الرسول صلى الله عليه وسلم كان يصلي في بيته النوافل، ولم يكن بيته مسجدا، وكذلك دعاه عتبان بن مالك إلى بيته ليصلي في مكان يتخذه عتبان مصلى ولم يكن ذلك المكان مسجدا . فالمصلى ما أعد للصلاة فيه دون أن يعين مسجدا عاما يصلي فيه الناس ويعرف أنه قد خصص لهذا الشيء.

“Adapun makna masjid secara umum, maka setiap bagian bumi bisa dikatakan masjid. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‘Telah dijadikan bagiku bumi ini sebagai masjid dan suci.’

Sedangkan makna secara khusus, maka masjid adalah tempat yang di dalamnya digunakan dan dikhususkan selalu untuk salat baik terbuat dari batu, tanah, disemen, atau bahkan tidak dibangun.

Adapun mushalla adalah tempat yang digunakan di dalamnya untuk melakukan salat, tetapi tempat tersebut tidak dijadikan untuk salat selalu, hanyalah seseorang salat di dalamnya apabila kebetulan saja bertepatan dengan waktu salat dan tempat ini tidak dikatakan sebagai masjid. Landasan dalam hal ini adalah bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan salat sunah di rumahnya dan tentu rumah beliau bukan masjid, demikian pula tatkala ‘Itban bin Malik memanggil beliau ke rumahnya untuk salat di tempat yang telah disediakan ‘Itban sebagai mushalla, dan tempat itu bukanlah masjid. Mushalla itu adalah tempat yang digunakan untuk salat di dalamnya namun, tidak ditentukan sebagai masjid secara umum yang manusia salat di dalamnya dan mengetahui kekhususannya untuk hal ini.”
( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 12, hlm. 394-395).

Syekh Abdul Aziz ibnu Baz pun menerangkan,

وإنما المسجد ما يعد للصلاة وقفا تؤدى فيه الصلاة كسائر المساجد، أما المصلى المؤقت فتصلي فيه جماعة الدائرة، أو جماعة نزلوا لوقت معين ثم يرتحلون، فهذا لا يسمى مسجدا

“Tidaklah dikatakan masjid melainkan tempat yang disediakan untuk salat dalam bentuk wakaf, ditunaikan di dalamnya salat seperti masjid-masjid secara umumnya. Adapun tempat salat sementara waktu (mushalla) yang salat di dalamnya jamaah dari kalangan pegawai di kantor atau jamaah yang singgah pada waktu tertentu kemudian pergi, maka tempat ini tidak dinamakan masjid.” ( Fatāwā Nūrun ‘alā ad-Darb, jilid 11, hlm. 293.)

Dari penjelasan ke dua syekh di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dikatakan masjid apabila terpenuhi padanya beberapa ketentuan:

  1. Diwakafkan dan bukan milik pribadi atau instansi tertentu. Maka atas dasar ini bagaimanapun bentuk bangunannya, meskipun tidak digunakan untuk salat jumat namun, bangunan tersebut dibangun di atas tanah yang diwakafkan, maka itu adalah masjid.
  2. Mendapatkan izin secara umum yakni tidak dilarang seorang pun salat di dalamnya.
  3. Digunakan untuk salat lima waktu secara terus menerus.

Dan menjadi jelas pula dalam hal ini bahwa mushalla di kantor-kantor pemerintahan tidak termasuk masjid demikian pula dengan tempat salat khusus wanita. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

المصليات التي تكون في مكاتب
الأعمال الحكومية لا يثبت لها حكم المسجد، وكذلك مصليات النساء في مدارس البنات لا يعتبر لها حكم المسجد، لأنها ليست مساجد حقيقة، ولا حكما

” Mushalla yang ada di kantor pemerintah tidaklah bisa dikatakan masjid. Demikian pula dengan mushalla-mushalla wanita yang berada di sekolahan putri, tidak teranggap padanya hukum masjid karena tempat-tempat tersebut bukanlah disebut masjid-masjid baik secara hakikatnya maupun hukumnya.” ( asy-Syarhul Mumti‘, jilid 6, hlm. 512).

Baca Juga: HUKUM MEMBICARAKAN URUSAN DUNIA DI MASJID

APAKAH BERLAKU HUKUM MASJID DI MUSHALLA?

Telah diketahui bahwa tidak boleh melakukan jual beli di masjid, mengumumkan barang hilang, disyariatkan ketika masuk masjid untuk melakukan salat dua rakaat tahiyatul masjid dan yang semisal ini. Apakah hukum ini juga berlaku untuk mushalla? Syekh Abdul Aziz ibnu Baz menerangkan,

ليس للمصلى حكم المساجد، فلا تشرع الركعتان لدخوله، ولا حرج في البيع والشراء فيه؛ لأنه موضع للصلاة عند الحاجة وليس مسجدا

” Mushalla tidaklah sama dengan hukum masjid. Tidak disyariatkan ketika memasukinya salat dua rakaat tahiyatul masjid dan tidak mengapa berjual beli di dalamnya karena tempat tersebut adalah tempat salat ketika diperlukan saja dan bukan masjid.” ( Fatāwā Nūrun ‘alā ad-Darb, jilid 11, hlm. 293.).

Baca juga: JIKA ADA RUANGAN KHUSUS SEPERTI PERPUSTAKAAN BERADA DI DEKAT MASJID, APAKAH ITU TERMASUK MASJID?

MAKNA LAIN DARI MUSHALLA

Mushalla juga bisa bermakna tanah lapang sebagaimana ketika disandarkan kepada dua id dan jenazah berdasarkan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan wafatnya Najasyi pada hari wafatnya. Beliau pun keluar menuju mushalla (tanah lapang) memerintahkan para sahabat berbaris di shaf mereka lalu beliau mengerjakan salat jenazah dengan empat takbir.” (HR. al-Bukhari, no. 1.245).

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,

كان النبي صلى الله عليه وسلم يخرج في الفطر والأضحى إلى المصلى

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menunaikan salat idulfitri dan iduladha menuju mushalla
(tanah lapang).” (HR. al-Bukhari_, no. 956 dan Muslim, no. 889).

Baca juga: ORANG YANG DI MASJID, TETAPI SERING KELUAR MASUK KARENA HAJAT SEPERTI BERWUDU, APAKAH TETAP SALAT TAHIYATUL MASJID?

MANA YANG LEBIH UTAMA, SALAT DI MASJID TEMPAT TINGGALNYA ATAU DI MASJID LAIN?

Dalam hal ini syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

والصواب أن يقال: إن الأفضل أن تصلي فيما حولك من المساجد؛ لأن هذا سبب لعمارته إلا أن يمتاز أحد المساجد بخاصية فيه فيقدم، مثل: لو كنت في المدينة، أو كنت في مكة، فإن الأفضل أن تصلي في المسجد الحرام في مكة وفي المسجد النبوي في المدينة.
أما إذا لم يكن هناك مزية فإن صلاة الإنسان في مسجده أفضل؛ لأنه يحصل به عمارته؛ والتأليف للإمام وأهل الحي، ويندفع به ما قد يكون في قلب الإمام إذا لم تصل معه؛ لا سيما إذا كنت رجلا لك اعتبارك

“Pendapat yang benar, sesungguhnya yang afdal adalah engkau salat di masjid-masjid yang ada di sekitar mu karena hal ini menjadi sebab kemakmurannya kecuali jika salah satu dari masjid-masjid tersebut memiliki keistimewaan secara khusus, maka itu yang lebih didahulukan seperti tatkala engkau berada di Madinah atau di Makkah, maka sesungguhnya yang afdal adalah engkau salat di masjidilharam ketika di Makkah dan di masjid nabawi ketika di Madinah. Adapun apabila tidak ada keistimewaan, maka sesungguhnya seseorang salat di masjidnya lebih utama karena dengan itu bisa memakmurkannya dan menyatukan hati dengan imam dan penduduk kampung dan dapat menepis perasaan di hati imam apabila engkau tidak salat bersamanya terlebih jika engkau dianggap oleh mereka.”
( asy-Syarhul Mumti’, jilid 4, hlm. 151-152).

Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Baturaja, 22 Dzulqa’dah 1442 H bertepatan dengan 3 Juli 2021.

Penyusun: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar
Murajaah: al-Ustadz Ahmad Khadim hafidzahullah
Editor bahasa: Abu Abdil Muhsin Fudhail

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com