FAEDAH RINGKAS TENTANG TAKZIAH

بسم الله الرحمن الرحيم

FAEDAH RINGKAS TENTANG TAKZIAH

Saudaraku sekalian, pada kesempatan ini, kita akan menyampaikan penjelasan ulama kita rahimahumullah tentang takziah. Mudah-mudahan faedah ringkas ini dapat menjadi sebab datangnya kebaikan dan manfaat untuk kita semua semoga Allah selalu menjaga kita semua dari segala bentuk kejelekan di dunia dan di akhirat.

DEFINISI

Berikut ini kita akan nukilkan pengertian takziah. Al-Imam an-Nawawi-beliau salah satu dari ulama besar yang bermazhab syafi’i- rahimahullah berkata,

واعلم أن التعزية هي التصبير وذكر ما يسلي صاحب الميت ويخفف حزنه ويهون مصيبته وهي مستحبة، فإنها مشتملة على الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، وهي داخلة أيضا في قول الله تعالى: {وتعاونوا على البر والتقوى}

“Ketahuilah! Bahwa takziah itu adalah menyabarkan dan menghibur hati keluarga jenazah (yang mendapat musibah), meringankan kesedihan dan musibahnya. Takziah hukumnya sunah karena sesungguhnya takziah ini tercakup dalam amalan amar makruf nahi mungkar dan termasuk juga ke dalam firman Allah Ta’alā,

Hendaknya kalian saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.'” ( al-Maidah: 2).( al-Adzkār, hlm. 255).

Maka semestinya bagi setiap muslim untuk saling tolong-menolong, bahu-membahu dan saling menghibur ketika saudaranya tampak bersedih terlebih jika ditimpa musibah dengan meninggalnya keluarganya. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

ينبغي للإنسان أن يراعي قلوب الناس فإذا انكسر قلب شخص فليحرص على جبره بما استطاع لأن في هذا فضلا عظيما

“Semestinya bagi seseorang memperhatikan hati manusia, apabila ada seorang yang bersedih, maka bersemangatlah untuk menghiburnya sesuai dengan kemampuan, karena dalam hal ini terdapat keutamaan yang besar.” ( Fath Dzī al-Jalāli wal Ikrām, jilid 4, hlm. 584).

WAKTU DAN TEMPAT

Para pembaca sekalian yang semoga selalu dibimbing oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada waktu dan tempat yang khusus untuk bertakziah bahkan boleh dilakukan di mana pun dan kapan pun. Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bertakziah kepada salah satu putrinya sebagaimana diterangkan di dalam hadis yang shahih dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,

كنا عند النبي صلى الله عليه وسلم فأرسلت إليه إحدى بناته تدعوه وتخبره أن صبيا لها أو ابنا لها في الموت فقال رسول الله : ارجع إليها فأخبرها أن لله ما أخذ وله ما أعطى وكل شيء عنده بأجل مسمى فمرها فلتصبر ولتحتسب.

“Dahulu kami berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka datanglah salah satu utusan putri beliau memanggil dan mengabarkan beliau kalau anaknya telah meninggal, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada utusan tersebut, kembalilah kepadanya dan kabarkan!

‘Bahwa milik Allahlah apa yang Dia ambil, apa yang Dia beri dan segala sesuatu disisi-Nya berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan. Perintahkan dia untuk bersabar dan mengharap pahala kepada Allah.'” ( al-Bukhari, no. 284 dan Muslim, no. 923).

Syekh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah telah menerangkan,

ليس للعزاء مكان ولا عدد من 
الأيام، لم يحدد أيام العزاء ولا مكان العزاء، يعزيه في أي مكان، في الطريق، في المسجد، في المقبرة، في بيته عن طريق الهاتف، ما فيه بأس، وليس للأيام حد، يعزيه في اليوم الأول أو في اليوم الثاني أو في اليوم الثالث أو الرابع، والمستحب أن يبادر بالتعزية؛ لأن المصيبة في أولها أشد

“Tidak ada pada takziah tempat dan bilangan waktu tertentu. Tidak ada batasan pada hari-hari dan tempat takziah. Boleh seseorang bertakziah di tempat manapun; di jalan, di masjid, di kuburan (saat pemakaman), dirumahnya, melalui telepon, tidak mengapa. Tidak ada batasan hari-harinya, boleh dia bertakziah pada hari pertama, kedua, ketiga atau keempat. Yang dianjurkan adalah bersegera dalam bertakziah karena musibah di awal itu lebih dahsyat.” ( Fatāwā Nūrun ‘Alā ad-Darb, jilid 14, hlm. 336).

Para pembaca sekalian yang semoga dirahmati oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala atas dasar ini, takziah itu tidak mesti seseorang mendatangi rumah orang yang terkena musibah. Bahkan, jika di wilayah tersebut menyebar penyakit menular yang mewabah yang sangat berbahaya sehingga tidak memungkinkan untuk datang, maka sebaiknya bertakziah melalui telepon atau dengan cara yang semisal ini. Adapun menyengaja menyediakan tempat khusus untuk didatangi oleh orang-orang yang bertakziah, maka akan datang pembahasannya insya Allah demikian pula dalam hal waktu, tidak ada batasan akhir dari waktunya.

BOLEHKAH BERTAKZIAH SEBELUM PEMAKAMAN?

Hal ini telah dijawab oleh syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin beliau berkata,

نعم، تجوز قبل الدفن وبعده؛ لأن وقتها من حين ما يموت الميت إلى أن تنسى المصيبة، وقد ثبت أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عزى ابنة له حين أرسلت تخبره أن صبياً لها في الموت فقال النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “ارجع إليها، فأخبرها أن لله ما أخذ، وله ما أعطى، وكل شيء عنده بأجل مسمى، فمرها فلتصبر ولتحتسب

“Boleh bertakziah sebelum dan sesudah jenazah dimakamkan karena waktu takziah itu, mulai dari meninggalnya jenazah, sampai musibah itu terlupakan dan sungguh telah shahih riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakziah kepada salah satu putrinya ketika mengutus utusan untuk mengabarkan bahwa anaknya meninggal. Beliau berkata kepada utusan tersebut, kembalilah kepadanya dan kabarkan!

‘Bahwa milik Allahlah apa yang Dia ambil, apa yang Dia beri dan segala sesuatu di sisi-Nya berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan. Perintahkan dia untuk bersabar dan mengharap pahala kepada Allah.'” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 17 hlm. 340).

ADAKAH BACAAN KHUSUS KETIKA TAKZIAH?

Pembaca yang semoga selalu dijaga oleh Allah Ta’ala Tidak ada bacaan-bacaan khusus ketika bertakziah bahkan boleh seseorang mengucapkan ucapan-ucapan baik kepada keluarga yang tertimpa musibah.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

وَلَيْسَ فِي التَّعْزِيَةِ شَيْءٌ مُؤَقَّتٌ يُقَالُ

“Tidak ada pada takziah, ucapan yang dibatasi untuk dikatakan.” ( al-Umm, 1/317).

Al-Imam Ibnu Qudamah al-Hambali berkata,

 لَا نَعْلَمُ فِي التَّعْزِيَةِ شَيْئًا مَحْدُودًا

“Kami tidak mengetahui dalam takziah ini ada batasan tertentu dalam ucapannya.” ( al-Mughnī, jilid 2, hlm. 405).

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata,

فَكُلُّ مَا يَجْلِبُ لِلْمُصَابِ صَبْرًا يُقَالُ لَهُ تَعْزِيَةٌ بِأَيِّ لَفْظٍ كَانَ

“Setiap ucapan yang dapat membuat orang yang tertimpa musibah bersabar, maka itu dikatakan takziah dengan lafaz apa pun.” ( an-Nail, jilid 4, hlm. 117).

Yang afdal adalah sebagaimana penjelasan al-Imam asy-Syaukani beliau berkata,

وَأَحْسَنُ مَا يُعَزَّى بِهِ مَا أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ: «كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَأَرْسَلَتْ إلَيْهِ إحْدَى بَنَاتِهِ تَدْعُوهُ وَتُخْبِرُهُ أَنَّ صَبِيًّا لَهَا أَوْ ابْنًا لَهَا فِي الْمَوْتِ، فَقَالَ لِلرَّسُولِ: ارْجِعْ إلَيْهَا وَأَخْبِرْهَا أَنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلِلَّهِ مَا أَعْطَى، وَكُلَّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى فَمُرْهَا فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ»

Yang paling bagus dalam bertakziah adalah sebagaimana ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Muslim dari hadis Usamah bin Zaid berkata,

‘Dahulu kami berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka datanglah salah satu utusan putri beliau memanggil dan mengabarkan beliau kalau anaknya telah meninggal, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada utusan tersebut, kembalilah kepadanya dan kabarkan!

‘Inna lillaahi maa akhodza wa lahu maa a’thoo wa kullu syai’in ‘indahu biajalin musamma (Bahwa milik Allahlah apa yang Dia ambil, apa yang Dia beri dan segala sesuatu di sisi-Nya berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan). Perintahkan dia untuk bersabar dan mengharap pahala kepada Allah.'” ( an-Nail, jilid 4, hlm. 117).

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

وأما ما اشتهر عند الناس من قولهم: “عظَّم الله أجرك، وأحسن الله عزاءك، وغفر الله لميتك”، فهي كلمة اختارها بعض العلماء، لكن ما جاءت به السنة أولى وأحسن

“Adapun ucapan yang tersebar di kalangan manusia yaitu,

‘Adzdzomallaahu ajrok wa ahsana ‘azaa aka wa ghafaro limayyitika.’ (Semoga Allah membesarkan pahalamu, berbuat baik kepadamu dalam musibah ini dan mengampuni keluargamu yang meninggal ini).

Ini merupakan kalimat yang dipilih oleh sebagian ulama namun, kalimat yang disebutkan di dalam sunah tentu lebih utama dan lebih baik.” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 13, hlm. 340).

Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala. Ucapan yang disampaikan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, subhanallah luar biasa, sangat bagus dan sangat menyentuh hati. Al-Imam an-Nawawi menerangkan maknanya,

ومعنى “أن لله تعالى ما أخذ” أن العالم كله ملك لله تعالى، فلم يأخذ ما هو لكم، بل أخذ ما هو له عندكم في معنى العارية؛ ومعنى “وله ما أعطى” أن ما وهبه لكم ليس خارجًا عن ملكه، بل هو له سبحانه يفعل فيه مايشاء، وكل شيء عنده بأجلٍ مسمّى فلا تجزعوا، فإن من قبضه قد انقضى أجَله المسمى

Makna ucapan beliau ‘Bahwa milik Allahlah apa yang Dia ambil,’ alam semesta ini semuanya milik Allah Ta’ala, Dia tidak mengambil apa yang menjadi milik kalian. Bahkan, Dia mengambil apa yang menjadi milik-Nya yang ada di sisi kalian sebagai titipan.

Makna ucapan beliau, ‘Dan milik-Nya apa yang Dia berikan,’ bahwa apa yang Dia berikan kepada kalian, tidaklah lepas dari kepemilikan-Nya. Bahkan, menjadi milik-Nya Subhanahu, Dia berbuat sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.

Dan segala sesuatu di sisi-Nya sesuai dengan batas waktu tertentu, maka janganlah kalian mengeluh karena sesungguhnya orang yang telah Dia ambil sungguh telah habis waktunya yang ditentukan.” ( al-Adzkār, no. 403).

YANG HARUS DIHINDARI KETIKA TAKZIAH

Disebutkan di dalam kitab al-Fiqhu al-Muyassar bahwa ada tiga hal yang semestinya dihindari ketika takziah:

  1. Berkumpul ketika takziah di tempat khusus dengan membawa kursi, lampu, dan para pembaca.
  2. Membuat makanan pada hari-hari takziah dari keluarga mayit yang tertimpa musibah untuk menjamu orang-orang yang datang.
  3. Melakukan takziah dengan berulang kali. Secara asal takziah itu dilakukan hanya satu kali kecuali dengan diulang ada maslahat mengingatkan maka tidak mengapa. Adapun jika tanpa tujuan ini, maka tidak boleh karena tidak ada tuntunannya dari Nabi dan para sahabat. ( al-Fiqhu al-Muyassar, hlm. 124).

Adapun urutan ke tiga, ini sangat jelas dan mudah dipahami. Nomor satu dan dua yang akan kita bahas.

  1. Adanya tempat khusus untuk bertakziah.

Tempat khusus di sini, tentu untuk berkumpul menyambut orang-orang yang bertakziah, pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah mari kita simak penjelasan para ulama tentang hal ini.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

وَأَكْرَهُ الْمَأْتَمَ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ بُكَاءٌ فَإِنَّ ذَلِكَ يُجَدِّدُ الْحُزْنَ، وَيُكَلِّفُ الْمُؤْنَةَ مَعَ مَا مَضَى فِيهِ مِنْ الْأَثَرِ 

“Aku tidak menyukai adanya ma’tam yaitu perkumpulan saat bertakziah walaupun mereka tidak menangis. Sesungguhnya yang demikian ini akan menambahkan kesedihan dan menambah beban padahal baru berlalu bagi mereka kesan dari musibah ini.” ( al-Umm, 1/318).

  1. Membuat makanan pada hari-hari takziah dari keluarga mayit yang tertimpa musibah untuk menjamu orang-orang yang datang.

Para pembaca yang semoga selalu dibimbing oleh Allah Ta’ala, ini juga perkara yang dilarang karena tidak ada sedikit pun bimbingan dari Nabi kita Muhammad dan para sahabatnya terkait hal ini. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata,

وَأَمَّا إصْلَاحُ أَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا وَجَمْعُ النَّاسِ عَلَيْهِ فَلَمْ يُنْقَلْ فيه شيء

“Adapun membuat makanan dari keluarga jenazah yang tertimpa musibah dan mengumpulkan manusia, maka tidak ada tuntunannya sedikit pun di dalam agama Islam.” ( al-Majmū’, jilid 5, hlm. 320).

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata,

فهاهو رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم يموت له أبناء وأعمام وأصحاب ولم يجلس يوماً من الدهر ليتلقى العزاء، مع أنه هو المشرع، ومع أن الصحابة رضي الله عنهم أشد الناس في مواساة الرسول عليه الصلاة والسلام وتعزيته، لكن لم يفعلوا، ولم يتوافدوا إليه ليعزوه وما علمنا بهذا أبداً، 

Inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah meninggal anak-anak, paman-paman dan para sahabat beliau dan tidaklah beliau duduk pada suatu hari untuk menyambut kedatangan orang-orang yang bertakziah padahal beliau adalah yang mensyariatkan agama ini, padahal para sahabat adalah orang yang paling menyantuni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paling kuat takziah mereka kepada beliau. Tetapi mereka tidak melakukan dan tidak beramai-ramai datang untuk bertakziah kepada beliau, ini yang sama sekali tidak kita ketahui.” ( Liqā’ al-Bāb al-Maftūh, 79/7).

Maka menjadi jelaslah bahwa dua hal di atas tidak boleh dilakukan. Yang lebih meyakinkan lagi adalah bahwa dua perbuatan tersebut termasuk dari perkara yang dilarang oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Jarir bin Abdillah al-Bajali radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,

كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيعَةَ الطَّعَامِ مِنْ النِّيَاحَةِ

“Kami menganggap berkumpul di tempat keluarga jenazah yang tertimpa musibah dan mereka membuat makanan termasuk dari meratap.” ( Ahmad dan dishahihkan oleh an-Nawawi di dalam al-Majmū’, ( al-Majmū’, jilid 5, hlm. 320).

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

وإذا كان الصحابة رضي الله عنهم يعدون ذلك من النياحة، وهم أعلم الأمة بمقاصد الشريعة، وأقومهم عملاً بها، وأسدهم رأياً، وأطهرهم قلوباً فإنه قد ثبت عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أنه قال: “الميت يعذب في قبره بما نيح عليه” فهل يرضى أحد أن يعذب أبوه، أو أمه، أو ابنه، أو بنته، أو أحد من أقاربه بشيء من صنعه؟! وهل يرضى أحد أن يسيء إلى هؤلاء وهو الذي أصيب بهم؟! إذا كان صادقاً في محبتهم ومصيبتهم فليتجنب ما يكون سبباً في تعذيبهم.

“Apabila para sahabat radhiyallahu ‘anhum menganggap yang demikian itu termasuk dari meratap sedangkan mereka adalah yang paling berilmu dari umat Muhammad ini tentang tujuan-tujuan syariat, paling lurus amalannya, paling benar pendapatnya dan paling bersih hatinya, maka sungguh telah shahih berita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,

‘Mayit itu akan diazab di kuburnya disebabkan ratapan.’

Apakah seseorang rela ayahnya, ibunya, putra-putrinya atau salah satu dari kerabat-kerabatnya diazab dikerenakan perbuatannya.

Apakah seseorang rela menyakiti mereka sedangkan dialah yang ditimpa musibah dengan wafatnya mereka. Jika dia jujur dalam mencintai mereka, dan musibah yang menimpa mereka, maka jauhilah segala sesuatu yang dapat menjadi sebab mereka diazab.”( al-Majmū’ al-Fatāwā, jilid 13, hlm. 363).

JIKA ADA YANG DATANG TAKZIAH SEBAGAI TAMU YANG TENTUNYA SEBAGAI TAMU MESTI DIJAMU ATAU TAMU ITU YANG DATANG MEMBAWA JAMUAN UNTUK DISUGUHKAN

Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah menerangkan,

لا حرج في هذا إذا تصدقوا عليهم وجاؤوا لهم بشيء من الغنم أو شيء من اللحم لا حرج في ذلك إذا صنعه أهل الميت لهم لأنهم ضيوف وأكرموهم بما جاؤوا به من اللحم أو من الذبائح لا حرج عليهم في ذلك، وإن أعطوهم مالا أو غنما أو غير ذلك، وذهبوا ولم يجلسوا مساعدة لأهل الميت فلا بأس بذلك، وقد ثبت عن رسول الله عليه الصلاة والسلام أنه لما جاء نعي جعفر بن أبي طالب رضي الله عنه وهو ابن عمه لما قتل في مؤتة في الشام قال النبي صلى الله عليه وسلم لأهله: «ابعثوا لآل جعفر طعاما؛ فقد أتاهم ما يشغلهم » فأمر أهله أن يبعثوا إليهم طعاما مصنوعا؛ لأنه أتاهم ما يشغلهم، فالأفضل لهؤلاء أن يبعثوا طعاما مصنوعا دون ذبائح يكلفون بها أهل الميت، لكن ما داموا جاؤوا بها وأعطوها أهل الميت، فأهل الميت عليهم أن يضيفوا ضيوفهم، ويحسنوا إليهم، ويكونوا كرماء لا لؤماء. فإذا صنعوا منها طعاما لهم، وأطعموهم غداء أو عشاء فلا حرج في ذلك

“Tidak mengapa hal ini apabila para tamu bersedekah kepada keluarga jenazah yang tertimpa musibah dan datang kepada mereka dengan membawa sesuatu seperti kambing atau daging tidak mengapa jika keluarga jenazah tersebut membuatkan untuk mereka karena mereka adalah tamu, mereka memuliakan tamu-tamu ini dengan sesuatu yang dibawanya berupa daging-daging, tidak mengapa. Jika mereka memberi uang, kambing dan selain itu, lalu mereka pergi dan tidak membantu keluarga jenazah tersebut, tidak mengapa. Sungguh telah disebutkan di dalam riwayat yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tatkala datang berita meninggalnya Jakfar bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau adalah anak pamannya Rasulullah ketika terbunuh dalam perang mu’tah di Syam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada keluarganya,

‘Kirimkanlah makanan untuk keluarga Jakfar, sungguh mereka telah sibuk.’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan keluarganya untuk mengirimkan makanan yang sudah dibuat karena keluarga Jakfar sedang sibuk.

Maka yang afdal adalah mereka mengirimkan makanan yang sudah dibuat bukan yang bentuknya hewan yang disembelih sehingga memberatkan yang terkena musibah. Namun, selama mereka datang membawa hewan yang akan disembelih tersebut dan memberikannya kepada yang tertimpa musibah, maka semestinya bagi mereka untuk menjamu tamu dan berbuat baik kepada tamu-tamu tersebut serta bersikap dermawan dan tidak kikir, jika mereka membuat makanan dan para tamu itu makan siang atau malam, tidak mengapa.”

🔳 Jika tamu tersebut tidak membawa makanan untuk dimasak, bolehkah bagi keluarga jenazah membuatkan mereka makanan dan menyuguhkannya?

Saudaraku yang mulia. Hal ini juga telah diterangkan oleh syekh rahimahullah beliau berkata,

إكرام الضيف أمر لازم، ولا حرج في إكرام الضيف بل هو واجب، والنبي صلى الله عليه وسلم قال: «من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه » فإذا جاءهم الضيوف سواء معهم طعام أو ما معهم طعام، إذا جاءهم الضيوف ونزلوا عندهم وجلسوا إلى وقت الغداء أو العشاء وضيفوهم فلا بأس

“Memuliakan tamu merupakan perkara yang semestinya dilakukan, tidak mengapa memuliakan tamu bahkan hukumnya wajib. Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia memuliakan tamunya.’

Apabila tamu datang ke rumah keluarga yang ditimpa musibah ini baik tamu tersebut membawa makanan ataupun tidak, tamu itu datang dan singgah di tempat mereka dan duduk sampai waktu makan siang atau makan malam dan keluarga yang terkena musibah ini menjamu mereka, maka tidak mengapa.”

🔳 Kalau begitu, yang dilarang itu bagaimana gambarannya? Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah mari kita simak penjelasan syekh.
Beliau melanjutkan,

إنما المكروه الذي لا ينبغي والمنكر الذي يكون من عمل الجاهلية كون أهل الميت يصنعون الطعام من مالهم للناس، يجعلون هذا مأتما للميت، يصنعون الطعام للناس، هذا هو الذي لا ينبغي، وهو من عمل الجاهلية، وقال جرير رضي الله عنه: «كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصناعة الطعام بعد الموت من النياحة »

“Hanyalah yang dibenci yang tidak semestinya dilakukan, mungkar, dan termasuk dari perbuatan jahiliah adalah keluarga yang terkena musibah membuat makanan dari harta mereka untuk orang-orang yang datang dan menjadikan hal ini sebagai ma’tam yaitu tempat berkumpul dalam rangka meninggalnya jenazah ini, mereka membuat makanan untuk orang-orang yang datang. Inilah yang tidak semestinya dilakukan dan ini termasuk amalan orang-orang jahiliah. Jarir radhiyallahu ‘anhu berkata,

‘Kami menganggap berkumpul di tempat keluarga jenazah yang tertimpa musibah dan mereka membuat makanan termasuk dari meratap.'”

🔳 Bagaimanakah yang afdal bagi orang-orang yang bertakziah?

Beliau rahimahullah belanjutkan,

والأفضل للذين يزورونهم أن يصنعوا الطعام في بيوتهم، ويبعثوه إليهم مصنوعا كاملا حتى لا يكلفهم صنعة الطعام؛ لأنهم مشغولون بالمصيبة، فالذي فعله الرسول صلى الله عليه وسلم وسنه للأمة أن جيرانهم أو أقاربهم يبعثون بالطعام مصنوعا إليهم حتى يكفوهم المؤنة، هذا هو الأفضل

“Yang afdal bagi orang-orang yang berkunjung, mereka membuat makanan sendiri di rumah-rumah mereka dan mengirimkan makanan tersebut kepada keluarga yang tertimpa musibah secara utuh sehingga tidak membebani mereka membuat makanan karena mereka saat itu sibuk dengan musibah yang terjadi. Yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap umat ini adalah tetangga atau ķerabat mereka yang mengirimkan makanan yang sudah dibuat sehingga dapat memenuhi kebutuhan mereka. Inilah yang afdal.” ( Fatāwā Nūrun ‘alā ad-Darb, 251).

Mudah-mudahan pembahasan yang ringkas ini bisa meluas untuk kaum muslimin manfaatnya mohon maaf atas segala kekurangan.

Baturaja senin 16 Agustus 2021/7 al-Muharram 1443 H.

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com