TAKBIRATUL IHRAM

بسم الله الرحمن الرحيم

TAKBIRATUL IHRAM

Setelah seseorang berniat yakni bertekad dalam salatnya hendak melakukan salat tertentu, selanjutnya adalah dia bertakbir yaitu dengan mengucapkan Allahu Akbar. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan dalam riwayat yang shahih,

كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يَسْتَفْتِحُ الصَّلَاةَ بالتَّكْبِيرِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai salatnya dengan takbir.” ( Shahih Muslim, no. 498).

HUKUM MENGUCAPKAN TAKBIRATUL IHRAM

Mengucapkan takbiratul ihram adalah termasuk salah satu rukun salat tidak sah salat orang yang tidak bertakbir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تحريمها التكبير وتحليلها التسليم.

“Yang mengharamkan salat adalah takbir, dan yang menghalalkannya adalah salam.”
(Abu Daud dan disahihkan oleh syekh al-Albani di dalam al-Irwā’, no. 301).

Makna hadis di atas adalah salat diawali dengan takbir, diakhiri dengan salam dan salat seseorang tidak sah tanpa takbir, tatkala sudah masuk takbir, maka seseorang diharamkan melakukan perkara yang membatalkannya sedangkan yang mengakhirinya adalah salam. Syekh al-Albani menerangkan,

تحريم ما حرم الله منها من الأفعال وكذا تحليلها أي تحليل ما أحل خارجها من الأفعال … الدخول غي تحريمها لا يكون إلا بالتكبير والخروج منها لا يكون إلا بالتسليم

“Maknanya adalah mengharamkan perbuatan-perbuatan yang Allah haramkan dari salat tersebut demikian pula yang menghalalkannya yakni menjadikan halal perbuatan yang dikerjakan di luar salat … masuk dalam pengharaman salat (yakni diharamkan mengerjakan perbuatan yang dilarang saat salat, -pen.) tidaklah terjadi kecuali dengan takbir dan keluar darinya tidaklah terjadi melainkan dengan salam.”
( Shifah Shalah an-Nabi, hlm. 75).

SAHKAH SALAT TANPA TAKBIRATUL IHRAM?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan,

فلو نسي الإنسان تكبيرة الإحرام، جاء ووقف في الصف ثم نسي وشرع في القراءة وصلى فصلاته غير صحيحة وغير منعقدة إطلاقا، لان تكبيرة الإحرام لا تنعقد الصلاة إلا بها، قال النبي صلي الله عليه وسلم لرجل علمه كيف يصلي،
((قال: ((إذا قمت إلى الصلاة فاسبغ الوضوء، ثم استقبل القبلة فكبر
فلابد من التكبير، وكان النبي صلي الله عليه وسلم مداوما علي ذلك.

“Jika seseorang lupa takbiratul ihram misal, dia datang dan berdiri masuk ke dalam saf kemudian dia lupa dan memulai salatnya dengan langsung membaca bacaan salat, dan dia telah menyelesaikan salat. Maka salatnya tidak sah secara mutlak karena salat, tidak sah tanpa takbiratul ihram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seseorang, beliau mengajarinya bagaimana tata cara salat,

‘Apabila engkau berdiri hendak salat, maka perbaguslah wudumu kemudian menghadaplah ke kiblat dan bertakbirlah.’

Maka harus ada takbiratul ihram karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu terus menerus membaca takbiratul ihram.”
( Syarh Riyadh ash-Shālihīn, jilid 1, hlm. 389).

BAGAIMANA SALAT ORANG YANG LUPA MEMBACANYA DAN HAL ITU DIA INGAT KETIKA SEDANG SALAT?

Dalam hal ini ada dua keadaan;

  1. Dia benar-benar lupa.
  2. Perasaan was-was.

Jika keadaannya yang pertama, maka hendaknya dia bertakbir ketika ingat dan jika keadaannya hanya perasaan was-was, maka hendaknya diabaikan saja. Syekh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah Ta’ala menjelaskan,

إذا نسي تكبيرة الإحرام أو شك في ذلك فعليه أن يكبر في الحال، ويعمل بما أدرك بعد التكبيرة، فإذا كبر بعد فوات الركعة الأولى من صلاة الإمام اعتبر نفسه قد فاتته الركعة الأولى فيقضيها بعد سلام الإمام، واذا أعاد التكبيرة في الركعة الثالثة اعتبر نفسه قد فاتته ركعتان فيأتي بركعتين بعد السلام من الصلاة، هذا إذا كان ليس لديه وسوسة، أما إن كان موسوسا فإنه يعتبر نفسه قد كبر في أول الصلاة ولا يقضي شيئا مراغمة للشيطان ومحاربة لوسوسته، .والحمد لله

“Apabila dia lupa takbiratul ihram atau ragu, maka wajib baginya untuk melakukannya ketika itu dan melanjutkan amalan yang sedang dia kerjakan setelah bertakbir. Apabila dia baru melakukan takbiratul ihram setelah lewat satu rakaat imam, dan dia menganggap dirinya tertinggal satu rakaat, setelah salam dia tetap menambah satu rakaat.

Apabila dia mengucapkan takbiratul ihram tersebut di rakaat ke tiga dan dia menganggap dirinya tertinggal dua rakaat, setelah salam dia tetap menambah dua rakaat. Hal ini apabila tidak ada rasa was-was terhadap dirinya, adapun jika dia dihantui perasaan was-was, maka dia tetap menganggap dirinya telah bertakbir pada awal salat dan tidak mengqadanya sedikit pun, yang demikian ini dilakukan dalam rangka memerangi setan dan perasaan was-wasnya.”
( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 11, hlm. 275-276).

✍🏻 Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: SIFAT SALAT NABI

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

APA HUKUMNYA APABILA LUPA NIAT?

APA HUKUMNYA APABILA LUPA NIAT?

Misal, seseorang mengerjakan salat zuhur pada waktu zuhur, tetapi dia niatnya salat asar. Setelah salam, dia baru ingat kalau niatnya salah, maka dalam hal ini syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan,

ولا يمكن العجز عنها، لكن في الحقيقة يمكن النسيان فيها، مثل أن يأتي الإنسان ليصلي الظهر، ثم يغيب عن خاطره نية الظهر، وينوي العصر، وهذا يقع كثيرا، فهل تصح صلاته أم لا؟
الجواب: لا تصح؛ لأنه عين خلاف فرض الوقت، فلا تصح، لأن النية لا تسقط بحال

“Tidak mungkin seseorang kesulitan dalam berniat. Tetapi, pada hakikatnya mungkin seseorang lupa dalam berniat contohnya, seseorang mengerjakan salat zuhur kemudian pergi dari pikirannya niat zuhur dan dia berniat asar, hal ini sering terjadi. Apakah salatnya sah? Jawabannya adalah salatnya tidak sah karena dia telah menentukan waktu salat wajib yang berbeda, maka salatnya tidak sah karena niat itu tidaklah gugur disebabkan suatu keadaan.” ( Asy-Syarhul-Mumti’, jilid 3, hlm. 328).

Maka hendaknya seseorang menghadirkan niat selalu ketika hendak salat apa pun jangan sampai salah atau tidak sadar sama sekali sedang mengerjakan salat apa, jika seperti ini keadaannya maka salatnya tidak sah, wallahua’lam.

BOLEHKAH MERUBAH NIAT KETIKA SALAT?

Dalam hal ini syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menyebutkan 3 keadaan:

  1. Dari yang mu’ayyan(1) menuju yang mu’ayyan seperti merubah niat salat zuhur ke salat asar, maka dalam keadaan seperti ini salat zuhurnya tidak sah karena dia sudah merubahnya dan tidak sah salat asarnya karena dia tidak meniatkannya dari awal, maka atas dasar ini kedua salat itu wajib untuk diulangi.
  2. Dari mutlak(2) menuju mu’ayyan seperti seseorang memulai salat sunah mutlak kemudian merubah niatnya ke salat mu’ayyan, dia rubah niatnya ke salat rawatib yakni seseorang memulai salatnya dengan niat salat sunah mutlak, kemudian dia ingin merubah niatnya ke salat sunah rawatib zuhur, maka salat rawatibnya tidak sah karena dia tidak niat dari awal.
  3. Dari mu’ayyan menuju mutlak seperti dia berniat salat rawatib magrib kemudian karena suatu alasan, nampak baginya bahwa dia ingin berpindah ke niat salat sunah mutlak. Maka jika seperti ini keadaannya sah salatnya dan tidak batal karena dia niat salat mu’ayyan yang tercakup padanya niat salat mutlak.” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 12, hlm. 449-450).

(1) Salat mu’ayyan adalah salat yang berkaitan dengan sebab tertentu seperti tahiyatul masjid yang berkaitan dengan tempat dan rawatib yang berkaitan dengan waktu.

(2) Salat sunah mutlak adalah salat dua rakaat yang tidak berkaitan dengan sebab, kapan pun bisa dia lakukan selama tidak pada waktu terlarang.

✍🏻 Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: SIFAT SALAT NABI bagian 1

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

SIFAT SALAT NABI

بسم الله الرحمن الرحيم

SIFAT SALAT NABI

Pada kesempatan ini kita akan menyebutkan faedah-faedah dari Ulama tentang tata cara salat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sesuai dengan yang dimudahkan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala, kita akan berusaha meringkas sebisa mungkin dan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh kaum muslimin. Semoga Allah memberikan kemudahan untuk pembahasan ini sampai selesai dan menjadikannya bernilai pahala untuk si pembaca, penulis, serta yang menjadi sebab tersebarnya pembahasan ini.

NIAT

Niat merupakan sesuatu yang harus ada dalam setiap ibadah baik berupa salat atau yang lainnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ …

“Sesunguhnya saja amalan itu tergantung dengan niatnya …
” (HR. al-Bukhari no. 1, Muslim no. 1907).

DIMANAKAH LETAK NIAT?

Tempatnya adalah di hati, syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

النية)) محلها القلب، ولا محل لها في اللسان في جميع الأعمال)

“Niat itu tempatnya di hati dan tidak ada tempat untuk niat ini pada lisan. Ini berlaku pada semua amalan.” ( Syarh Riyadh ash-Shālihīn, jilid 1, hlm. 14).

DEFINISI NIAT

Asy-Syaikh Abdullah Alu Bassam rahimahullah menerangkan tentang definisi niat. Beliau menuturkan,

النية لغة القصد

“Niat secara bahasa maknanya adalah tujuan.”

Demikian pula beliau menerangkan secara istilah syariat Islam,

وشرعا العزم على فعل العبادة تقربا إلى الله تعالى

“Secara syariat maknanya adalah tekad untuk melakukan ibadah dengan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.” ( Taisīr al-Allām, hlm. 15).

BAGAIMANA PRAKTIK NIAT?

Niat ini sangat mudah praktiknya, karena tidaklah seseorang melakukan sesuatu melainkan disertai dengan niat, tujuan, dan tekad, syekh Ibnu Utsaimin menerangkan,

! قال بعض العلماء : لو كلفنا الله عملا بلا نية لكان من تكليف ما لا يطاق

“Sebagian Ulama berkata,

‘Jika seandainya Allah membebani kita pada suatu amalan tanpa niat, tentu ini adalah pembebanan yang tidak dimampui.”
( Syarh Riyadh ash-Shālihīn, jilid 1, hlm. 16).

HUKUM MELAFAZKAN NIAT

Maka tatkala seseorang bertekad melakukan sesuatu, maka inilah yang disebut dengan niat. Adapun melafazkan niat, maka ini adalah perbuatan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi dan para sahabat, syekh Ibnu Utsaimin menerangkan,

ولهذا كان من نطق بالنية عند إرادة الصلاة، أو الصوم، أو الحج، أو الوضوء، أو غير ذلك من الأعمال كان مبتدعا قائلا في دين الله ما ليس منه؛ لأن النبي صلي الله عليه وسم كان يتوضأ، ويصلي ويتصدق، ويصوم ويحج، ولم يكن ينطق بتالنية، فلم يكن يقول: اللهم إني نويت أن أتوضأ، اللهم إني نويت أن أصلي، اللهم إني نويت أن أتصدق، اللهم إني نويت أن أحج، لم يكن يقول هذا؛ وذلك لأن النية محلها القلب، والله عز وجل يعلم ما في القلب، ولا يخفي عليه شيء.

“Oleh karena ini, barang siapa yang melafazkan niat ketika hendak salat, puasa, haji, wudu, atau amalan-amalan lainnya, maka sungguh dia melakukan kebidahan, dia berkata di dalam agama Allah yang bukan bagian darinya.

Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam dahulu berwudu, salat, bersedekah, puasa, dan haji, beliau tidak pernah melafazkan niat, beliau tidak mengatakan Allahumma inni nawaitu an atawadhdha’ (ya Allah aku niat berwudu), Allahumma inni nawaitu an ushalli (Ya Allah aku niat salat), Allahumma inni nawaitu an atashaddaq (Ya Allah aku niat bersedekah), Allahumma inni nawaitu an ahujj (Ya Allah aku niat berhaji).

Hal ini karena niat itu letaknya di hati, Allah Azza wa Jalla mengetahui apa yang ada di dalam hati, tidak samar bagi Allah sesuatu pun.”
( Syarh Riyadh ash-Shālihīn, jilid 1, hlm. 14).

✍🏻 Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: APA HUKUMNYA APABILA LUPA NIAT?

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

SEMPURNANYA SYARIAT ISLAM DALAM HAL AKHLAK

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa termasuk dari tujuan beliau diutus adalah sebagai penyempurna akhlak yang mulia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya saja aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.”

Syariat-syariat terdahulu yang Allah syariatkan untuk hamba-hamba-Nya semuanya menghasung untuk berakhlak mulia. Oleh karena ini, para ulama menyebutkan bahwa akhlak mulia adalah apa yang dituntut oleh syariat dalam penerapannya. Syariat yang sempurna ini, Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah datang membawanya dengan menyempurnakan akhlak dan perangai-perangai yang baik. Kita sebutkan di antara contohnya:

Tentang hukum qishash

Para ulama telah menyebutkan tentang permasalahan hukum qishash, yaitu jika ada seseorang yang telah berbuat melampaui batas terhadap orang lain, apakah diqishash atau tidak? Para ulama menyebutkan bahwa qishash di dalam syariat Yahudi merupakan keharusan, tidak ada pilihan bagi yang telah berbuat pelanggaran. Dan perkara ini di dalam syariat Nasrani adalah kebalikannya, yakni wajib memaafkan. Akan tetapi, di dalam syariat kita hukum ini telah disebutkan dengan sempurna dari dua sisi; ada qishash dan ada memaafkan. Ini karena menghukum orang yang melampaui batas dengan perbuatannya merupakan bentuk menolak kejelekannya, dan memaafkannya merupakan perbuatan baik, indah, dan berbuat baik kepada orang yang sudah engkau maafkan.

Syariat kita datang dengan sempurna walhamdulillah. Orang yang memiliki hak diberi pilihan, antara maaf dan hukuman agar dia bisa memaafkan dengan sempurna dan menghukum pada tempatnya.

Hal ini tidak diragukan lagi lebih utama daripada syariat Yahudi yang menelantarkan hak orang-orang yang telah melampaui batas untuk dimaafkan, yang bisa jadi pada hal ini terdapat kemaslahatan bagi mereka. Dan juga lebih utama daripada syariat Nasrani yang menelantarkan hak orang yang dizalimi; mereka mengharuskan untuk memberi maaf, dan bisa jadi kemaslahatan itu terdapat dalam menjalankan hukuman.”

Diterjemahkan oleh:
Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar

Sumber: Makārim al-Akhlāq

Baca Juga : PENGARUH AKHLAK PADA KEHORMATAN SESEORANG

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

BERPARTISIPASI DALAM ACARA HARI-HARI RAYA ORANG KAFIR

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

لا يجوز مشاركة الكفار في أعيادهم؛ لأن الرضا بالكفر يخشى أن يوقع صاحبه في الكفر والعياذ بالله، هل ترضى أن شعائر الكفر تقام وتشارك فيها؟ لا يرضى بهذا أحد من المسلمين، لهذا قال ابن القيم – رحمه الله- وهو من تلاميذ شيخ الإسلام البارزين: إن الذي يشارك هؤلاء في أعيادهم ويهنئهم فيها، إن لم يكن أتى الكفر فإنه قد فعل محرماً بلا شك، وصدق رحمه الله ولهذا يجب علينا أن نحذر إخواننا المسلمين من مشاركة الكفار في أعيادهم، لأن مشاركتهم في أعيادهم أو تهنئتهم فيها، مثل قول: عيد مبارك، أو هنأك الله بالعيد وما أشبه ذلك، لا شك أنه رضاً بشعائر الكفر والعياذ بالله.

“Tidak boleh berpartisipasi dengan orang-orang kafir pada hari-hari raya mereka. Karena rida dengan kekufuran, dikhawatirkan akan menjerumuskan pelakunya ke dalam kekufuran, wal’iyadzu billah. Apakah engkau rida syiar-syiar kekufuran ditegakkan dalam keadaan engkau berpartisipasi di dalamnya? Tidak akan rida dengan hal ini seorang pun dari kalangan muslimin.

Oleh karena itu, Ibnul Qayyim rahimahullah—beliau adalah salah satu murid dari Syaikhul Islam yang menonjol—berkata,

‘Sesungguhnya orang yang berpartisipasi dengan mereka pada hari-hari raya mereka dan memberikan ucapan selamat kepada mereka, jika dia tidak mendatangi kekufuran, maka sungguh dia telah melakukan perbuatan yang haram tanpa diragukan lagi.’

Beliau benar rahimahullah. Oleh karena ini, wajib bagi kita memberikan peringatan kepada saudara-saudara kita semuslim dari berpartisipasi dengan orang-orang kafir pada hari-hari raya mereka, karena berpartisipasi dengan mereka pada hari-hari raya mereka atau mengucapkan selamat kepada mereka dan yang semisal ini, tidak diragukan lagi bahwa hal itu adalah bentuk rida dengan syiar-syiar kekufuran, wal’iyadzu billah.”

Sumber: Syarh Riyadh ash-Shālihīn, jilid 2, hlm. 356-357.

Alih bahasa: Abu Fudhail ‘Abdurrahman ibnu ‘Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: HUKUM MENGUCAPKAN ISTIRJA’ UNTUK NONMUSLIM YANG MENINGGAL

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

PENTINGNYA MEMPERBAIKI AKHLAK SETELAH MENGENAL MANHAJ SALAF

بسم الله الرحمن الرحيم

PENTINGNYA MEMPERBAIKI AKHLAK SETELAH MENGENAL MANHAJ SALAF

As-Syaikh Abdullah Ibnu Abdurrahim al-Bukhari hafizhahullah.

Saya akan menggunakan kesempatan di sini (untuk menyampaikan hal-hal yang penting).

Sebagian ikhwan—semoga Allah memberkahi mereka—, hal ini sangat disayangkan, saya katakan setelah berpengalaman terhadap keadaan kebanyakan dari para penuntut ilmu dan ikhwan -semoga Allah menunjuki mereka-. Ini adalah nasihat dari orang yang mengasihimu dan juga peringatan bagi yang menginginkan untuk diingatkan, sebagian Ikhwan-semoga Allah menunjuki mereka terhadap as-Sunnah– terbagi menjadi beberapa bagian.

Ada yang dahulunya kafir atau terjatuh ke dalam kekufuran, maka Allah Jalla Wa a’ala memberikan kenikmatan kepadanya dengan Islam dan as-Sunnah, ini adalah nikmat, bukankah demikian?

Ada yang dahulunya muslim secara asal namun, dia berada dalam kesesatan, lalai dalam menunaikan kewajiban terhadap Allah, kemudian Allah berikan hidayah kepada as-Sunnah dan istikamah.

Ada yang tumbuh (dari kecil hingga besar) walhamdulillah di atas kebaikan dan keselamatan di antara Ahlus Sunnah, beradab dengan adab mereka, belajar ilmu dari mereka, jelas?

Bagian pertama dan kedua tidak diragukan bahwa hal ini merupakan nikmat yang sangat besar, Allah berikan kenikmatan dia dengan Islam dan as-Sunnah nikmat yang sangat besar yang tidak ada bandingannya.

Akan tetapi, yang disayangkan dan menyedihkan adalah tetap tinggalnya noda-noda kekufuran dan akhlak-akhlak fasik (akhlak jelek) yang lalu padanya seperti berburuk sangka, menipu, dusta, mengadu domba, membuat makar, dan yang lainnya dari akhlak yang merusak.

Tetap tinggal bersamanya setelah dia menetapi (jalan) sunnah. Tidak ada usaha untuk memperbaikinya, inilah yang membuat kerusakan yang banyak dan besar. Bahkan, terkadang bisa menjadi sebab dalam hal membuat sebagian manusia yang menghadap kepada as-Sunnah lari, disebabkan akhlak yang diwarisinya.

Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (kepada salah seorang sahabat), ‘Sesungguhnya padamu ada sifat jahiliah.’ Ketika sebagian mereka saling memanggil, ‘Wahai kaum Muhajirin, wahai kaum Anshar.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apakah dengan panggilan jahiliah (kalian memanggil) dalam keadaan saya ada di antara kalian? Tinggalkan perbuatan ini! Sesungguhnya itu adalah panggilan yang jelek.’ maka perkara ini tidak boleh.

Bagi orang yang menetapi jalan as-Sunnah wajib baginya untuk berakhlak dengan akhlak Ahlus Sunnah dan mempelajari apa yang ditunjukkan oleh as-Sunnah berupa akhlak yang mulia, baiknya adab dan santun. Demi Allah, perkara ini sungguh saya telah menjumpainya dan kebanyakan dari pertikaian di antara penuntut ilmu yang satu manhaj yang sunni salafiy kembalinya ke hal-hal yang seperti ini. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan, meskipun hal ini samar bagimu, mesti hal ini tampak dari yang terlepas pada lisan dan perbuatannya.

Maka wajib atas setiap Insan wahai saudara-saudara sekalian untuk memperbaiki, bertaubat, kembali (kepada Allah), mengoreksi, dan memperbaiki dirinya, serta memperbaiki jalan yang dia berjalan di atasnya. Adapun tetap berjalan dengan akhlak jelek tersebut, (maka hal itu tidak semestinya, —pen.).

Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam datang membawa Islam, manusia berada dalam akhlak jahiliah, ini adalah perkara yang tampak dan jelas seperti zina, syirik, sihir, riba, perjudian, dan yang lainnya dari akhlak-akhlak yang rusak dan sesat. Akan tetapi, dari sebagian akhlak mereka ada yang baik seperti pemberani, dermawan, memuliakan tamu, berbuat baik kepada orang yang membutuhkan, dan selain itu, maka datanglah Islam menetapkan akhlak yang baik tersebut dan melarang yang berlawanan dengannya, semua akhlak yang jelek tersebut diperangi dan dihapus oleh Islam.

Kalau begitu tidak boleh wahai saudaraku! Saya bukanlah orang yang menyingkap isi dada-dada manusia. Akan tetapi, engkau lebih mengetahui tentang dirimu, duduklah bersama dirimu wahai saudaraku! Hisablah dirimu! Ketahuilah! Bahwa sahabat Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,

‘Hisablah diri-diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah amalan kalian sebelum kalian ditimbang.’ (Ingatlah!)

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ،وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسُهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الْأَمَانِي

‘Orang yang cerdas adalah yang menundukkan jiwanya dan beramal untuk persiapan kehidupan setelah kematian. Adapun orang yang lemah adalah orang yang mengikuti keinginan hawa nafsunya tetapi mengharapkan kepada Allah angan-angannya.’

Wahai saudaraku! Duduklah! Hisablah dirimu! Akhlak-akhlak (jelek) ini wajib engkau tinggalkan.

Kalau begitu apa yang benar, akhlak-akhlak jelek tersebut diganti dengan apa? As-Sunnah walhamdulillah terjaga. Oleh karena ini, para ulama sangat memperhatikan dalam memberikan peringatan untuk berada di atas akhlak yang mulia dan mencegah dari kebalikannya.

Di dalam kitab-kitab dan tulisan-tulisan, (bisa dilihat) di dalam Shahih al-Bukhari, kitab adab, riqaq (akhlak yang lembut), dan selainnya. Bahkan, al-Imam al-Bukhari menyusun kitab tersendiri di dalam al-Adab al-Mufrad bukankah demikian? Lihatlah Wahai saudaraku, lihatlah akhlak-akhlak ini, bacalah adab-adab nabawi.

Abu syekh juga memiliki risalah yang tersusun tentang akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baca dan pelajarilah wahai saudaraku, tidaklah seseorang dilahirkan dalam keadaan berilmu. Adapun jika engkau tetap bersama kami dalam keadaan menetapi (akhlak jelek tersebut) sampai meninggal dunia, kapan kita akan memperbaiki? Kapan minta ampun? Kapan bertaubat (dari ini semua)?

Kalau begitu menetapi as-Sunnah di dalamnya terdapat kebaikan, melampaui as-Sunnah di dalamnya terdapat kejelekan.

Hendaklah engkau berhati-hati dari menyandarkan akhlak dan perbuatanmu yang jelek kepada as-Sunnah.

💥Perhatikan!!

(Dengan sebab yang demikian itu) engkau bisa menjadi musuh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan engkau menjadi salah satu dari yang berdusta terhadap beliau.

Sumber: https://youtu.be/q2rgM18oBys

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: CELAAN ITU TIDAK AKAN MEMUDARATKAN RASUL SEDIKIT PUN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com