BERTANYA KABAR MERUPAKAN KEBIASAAN SALAF

بسم الله الرحمن الرحيم

Kita sering mendengarkan ucapan apa kabar; bagaimana kabarmu, kalimat ini merupakan ungkapan yang menunjukkan keakraban dan sambutan hangat pada masing-masing dari kedua belah pihak yang sedang berinteraksi. Perkara yang perlu kita ketahui bahwa kalimat tersebut merupakan kebiasaan generasi salaf kita, maka dari itu semestinya bagi setiap muslim untuk bersemangat dalam membiasakannya dalam berinteraksi, berikut ini kami akan menyajikan beberapa faedah dari ulama tentang hal ini.

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menyebutkan di dalam kitabnya beberapa riwayat tentang hal ini di antaranya atsar ‘Umar, beliau menerangkan,

وقد صح موقوفا على عمر فالظاهر أنه تلقاه من النبي صلى الله عليه وسلم …عن أنس بن مالك رضي الله عنه أنه سمع عمر بن الخطاب وسلم عليه رجل فرد عليه السلام ثم سأل الرجل كيف أنت فقال أحمد الله إليك فقال عمر ذلك الذي أردت منك وإسناده صحيح

“Sungguh telah shahih berita dari ‘Umar radhiyallahu ‘anhu -yang nampak beliau mengambil sunah ini tentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
.. dari Anas bin Malik dia mendengar ‘Umar bin al-Khaththab bahwa ada seorang laki-laki yang mengucapkan salam kepadanya, kemudian beliau membalasnya, setelah itu beliau bertanya, ‘Bagaimana keadaanmu?’ Lelaki itu pun menjawab, ahmadullah ilaik(aku memuji Allah bersamamu) maka ‘Umar menjawab demikianlah yang aku inginkan darimu. sanadnya shahih (ash-Shahihah, no. 2.952).

Beliau rahimahullah menerangkan di dalam kitab dan nomor hadits yang sama bahwa perbuatan seperti ini adalah amalan para salaf, beliau berkata,

وعمل بذلك السلف كما يدل على ذلك توارد الآثار بذلك

“Para salaf telah mengamalkan yang demikian itu sebagaimana ditunjukkan dalam riwayat-riwayat yang datang.”

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa, kebiasaan salaf adalah bertanya tentang kabar tatkala berinteraksi dan menjawab pertanyaan tersebut dengan ucapan ahmadullah ilaik

Yang demikian ini dilakukan tentu untuk menampakkan rasa syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena Allah tabaraka wa ta’ala berfirman,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah engkau beritakan.”
(adh-Dhuha, ayat 11).

Syekh ‘Abdurrahman as-Sa’di berkata,

فإن التحدث بنعمة الله داع لشكرها

“Sesungguhnya menceritakan nikmat Allah mendorong seseorang untuk bersyukur terhadapnya.” (Tafsir Surah adh-Dhuha, ayat 11).

Al-Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi menerangkan,

وقد كان السلف يتساءلون، ومرادهم استخراج الشكر لله

“Sungguh para salaf dahulu saling bertanya (kabar) dengan tujuan menampakkan rasa syukur kepada Allah.” (Mukhtashar Minhāj al-Qāshidìn, jilid 1, hlm. 277).

Wal ‘ilmu ‘indallah

✍🏻 Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: TATKALA HATI MULAI CONDONG PADA PERHIASAN DUNIA

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *