BOLEHKAH MELAFAZKAN TAKBIR DENGAN SELAIN LAFAZ ALLAHU AKBAR SEPERTI ALLAHU AJALL, ALLAHU A’ZHAM DAN YANG LAINNYA?

BOLEHKAH MELAFAZKAN TAKBIR DENGAN SELAIN LAFAZ ALLAHU AKBAR SEPERTI ALLAHU AJALL, ALLAHU A’ZHAM DAN YANG LAINNYA?

Jawabannya bahwa pendapat yang benar adalah tidak boleh karena lafaz takbir itu datangnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan itu yang selalu dilafazkan beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat!”
(HR. al-Bukhari, no. 6008).

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

ولابد أن يقول الله أكبر فلا يجزي أن يقول: الله أجل، أو الله أعظم وما أشبه ذلك

“Seseorang harus mengucapkan Allahu akbar (Allah maha besar)! Tidak sah jika dia berucap Allahu ajall (Allah maha mulia) atau Allahu a’zham (Allah maha agung) dan yang semisalnya.”
(Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 13, hlm. 343).

HATI-HATI DARI SALAH PENGUCAPAN LAFAZ TAKBIR

Hal ini seperti memanjangkan huruf hamzah di awal atau huruf ba. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

ولا يصح التكبير بمد همزة آل فلا يقول: “الله أكبر” لأنها تنقلب حينئذ استفهاما، ولا يصح أن يمد الباء فيقول: “أكبار” لأنه حينئذ تكون جمعا للكبر، والكبر هو الطبل فهو أكبار كأسباب جمع سبب وأكبار جمع كبر هكذا قال أهل العلم.

“Tidak sah lafaz takbir dengan memanjangkan huruf hamzah al, jangan seseorang mengucapkan ‘Aallahu akbar’ karena maknanya berubah menjadi pertanyaan (mempertanyakan kebesaran Allah).

Tidak sah pula dengan memanjangkan huruf ba (Allaahu akbaar) karena ketika ini berubah menjadi bentuk jamak dari kabr yang maknanya adalah gendang. Lafaz akbaar bentuknya seperti asbaab kata jamak dari sabab sedangkan akbaar kata jamak dari kabr, demikian kata para ulama.” (Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 13, hlm. 343).

SAHKAH MENGUCAPKAN ALLAHU WAKBAR?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

وأما ما يقوله بعض الناس “الله وكبر” فيجعل الهمزة واوا، فهذا له مساغ في اللغة العربية فلا تبطل به الصلاة.

“Adapun apa yang diucapkan sebagian manusia, ‘Allahu wakbar’ dengan merubah hamzah menjadi wau, maka ini ada sisi bolehnya dalam bahasa Arab sehingga salatnya tidak batal.” (Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 13, hlm. 343).

BAGAIMANA TAKBIRNYA ORANG YANG BISU?

Hendaknya dia bertakbir sesuai dengan kemampuannya. Al-Lajnah ad-Dāimah pernah ditanya dengan suatu pertanyaan,

كيف يصلي من لا يستطيع أن يتكلم ولا يسمع، أو يتكلم ولا يسمع؟
ج١: يصلي على قدر استطاعته لقوله تعالى: {لا يكلف الله نفسا إلا وسعها} وقوله: {ما يريد الله ليجعل عليكم من حرج} وقوله تعالى: {يريد الله بكم اليسر} وقوله تعالى: {فاتقوا الله ما استطعتم}

Pertanyaan:
Bagaimana salatnya orang yang tidak bisa berbicara dan tidak bisa mendengar atau bisa berbicara dan tidak bisa mendengar?

Jawaban:
Hendaknya dia salat sesuai dengan kemampuannya berdasarkan firman Allah Ta’ala,

‘Allah tidak membebani jiwa di luar kesanggupannya.’
(al-Baqarah: 286). Dan firman Allah,

‘Allah tidak ingin menjadikan kalian berat.’
(al-Maidah: 6). Dan firman Allah,

‘Allah ingin memudahkan kalian.’
(al-Baqarah: 185). Dan firman Allah,

‘Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kesanggupan kalian.’
(at-Taghabun: 16). (Sumber: Fatāwā al-Lajnah ad-Dāimah, no. 5343).

✍🏻 Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: SIFAT SALAT NABI

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *