FAEDAH RINGKAS TENTANG TAKZIAH

بسم الله الرحمن الرحيم

FAEDAH RINGKAS TENTANG TAKZIAH

Saudaraku sekalian, pada kesempatan ini, kita akan menyampaikan penjelasan ulama kita rahimahumullah tentang takziah. Mudah-mudahan faedah ringkas ini dapat menjadi sebab datangnya kebaikan dan manfaat untuk kita semua semoga Allah selalu menjaga kita semua dari segala bentuk kejelekan di dunia dan di akhirat.

DEFINISI

Berikut ini kita akan nukilkan pengertian takziah. Al-Imam an-Nawawi-beliau salah satu dari ulama besar yang bermazhab syafi’i- rahimahullah berkata,

واعلم أن التعزية هي التصبير وذكر ما يسلي صاحب الميت ويخفف حزنه ويهون مصيبته وهي مستحبة، فإنها مشتملة على الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، وهي داخلة أيضا في قول الله تعالى: {وتعاونوا على البر والتقوى}

“Ketahuilah! Bahwa takziah itu adalah menyabarkan dan menghibur hati keluarga jenazah (yang mendapat musibah), meringankan kesedihan dan musibahnya. Takziah hukumnya sunah karena sesungguhnya takziah ini tercakup dalam amalan amar makruf nahi mungkar dan termasuk juga ke dalam firman Allah Ta’alā,

Hendaknya kalian saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.'” ( al-Maidah: 2).( al-Adzkār, hlm. 255).

Maka semestinya bagi setiap muslim untuk saling tolong-menolong, bahu-membahu dan saling menghibur ketika saudaranya tampak bersedih terlebih jika ditimpa musibah dengan meninggalnya keluarganya. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

ينبغي للإنسان أن يراعي قلوب الناس فإذا انكسر قلب شخص فليحرص على جبره بما استطاع لأن في هذا فضلا عظيما

“Semestinya bagi seseorang memperhatikan hati manusia, apabila ada seorang yang bersedih, maka bersemangatlah untuk menghiburnya sesuai dengan kemampuan, karena dalam hal ini terdapat keutamaan yang besar.” ( Fath Dzī al-Jalāli wal Ikrām, jilid 4, hlm. 584).

WAKTU DAN TEMPAT

Para pembaca sekalian yang semoga selalu dibimbing oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada waktu dan tempat yang khusus untuk bertakziah bahkan boleh dilakukan di mana pun dan kapan pun. Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bertakziah kepada salah satu putrinya sebagaimana diterangkan di dalam hadis yang shahih dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,

كنا عند النبي صلى الله عليه وسلم فأرسلت إليه إحدى بناته تدعوه وتخبره أن صبيا لها أو ابنا لها في الموت فقال رسول الله : ارجع إليها فأخبرها أن لله ما أخذ وله ما أعطى وكل شيء عنده بأجل مسمى فمرها فلتصبر ولتحتسب.

“Dahulu kami berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka datanglah salah satu utusan putri beliau memanggil dan mengabarkan beliau kalau anaknya telah meninggal, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada utusan tersebut, kembalilah kepadanya dan kabarkan!

‘Bahwa milik Allahlah apa yang Dia ambil, apa yang Dia beri dan segala sesuatu disisi-Nya berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan. Perintahkan dia untuk bersabar dan mengharap pahala kepada Allah.'” ( al-Bukhari, no. 284 dan Muslim, no. 923).

Syekh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah telah menerangkan,

ليس للعزاء مكان ولا عدد من 
الأيام، لم يحدد أيام العزاء ولا مكان العزاء، يعزيه في أي مكان، في الطريق، في المسجد، في المقبرة، في بيته عن طريق الهاتف، ما فيه بأس، وليس للأيام حد، يعزيه في اليوم الأول أو في اليوم الثاني أو في اليوم الثالث أو الرابع، والمستحب أن يبادر بالتعزية؛ لأن المصيبة في أولها أشد

“Tidak ada pada takziah tempat dan bilangan waktu tertentu. Tidak ada batasan pada hari-hari dan tempat takziah. Boleh seseorang bertakziah di tempat manapun; di jalan, di masjid, di kuburan (saat pemakaman), dirumahnya, melalui telepon, tidak mengapa. Tidak ada batasan hari-harinya, boleh dia bertakziah pada hari pertama, kedua, ketiga atau keempat. Yang dianjurkan adalah bersegera dalam bertakziah karena musibah di awal itu lebih dahsyat.” ( Fatāwā Nūrun ‘Alā ad-Darb, jilid 14, hlm. 336).

Para pembaca sekalian yang semoga dirahmati oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala atas dasar ini, takziah itu tidak mesti seseorang mendatangi rumah orang yang terkena musibah. Bahkan, jika di wilayah tersebut menyebar penyakit menular yang mewabah yang sangat berbahaya sehingga tidak memungkinkan untuk datang, maka sebaiknya bertakziah melalui telepon atau dengan cara yang semisal ini. Adapun menyengaja menyediakan tempat khusus untuk didatangi oleh orang-orang yang bertakziah, maka akan datang pembahasannya insya Allah demikian pula dalam hal waktu, tidak ada batasan akhir dari waktunya.

BOLEHKAH BERTAKZIAH SEBELUM PEMAKAMAN?

Hal ini telah dijawab oleh syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin beliau berkata,

نعم، تجوز قبل الدفن وبعده؛ لأن وقتها من حين ما يموت الميت إلى أن تنسى المصيبة، وقد ثبت أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عزى ابنة له حين أرسلت تخبره أن صبياً لها في الموت فقال النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “ارجع إليها، فأخبرها أن لله ما أخذ، وله ما أعطى، وكل شيء عنده بأجل مسمى، فمرها فلتصبر ولتحتسب

“Boleh bertakziah sebelum dan sesudah jenazah dimakamkan karena waktu takziah itu, mulai dari meninggalnya jenazah, sampai musibah itu terlupakan dan sungguh telah shahih riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakziah kepada salah satu putrinya ketika mengutus utusan untuk mengabarkan bahwa anaknya meninggal. Beliau berkata kepada utusan tersebut, kembalilah kepadanya dan kabarkan!

‘Bahwa milik Allahlah apa yang Dia ambil, apa yang Dia beri dan segala sesuatu di sisi-Nya berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan. Perintahkan dia untuk bersabar dan mengharap pahala kepada Allah.'” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 17 hlm. 340).

ADAKAH BACAAN KHUSUS KETIKA TAKZIAH?

Pembaca yang semoga selalu dijaga oleh Allah Ta’ala Tidak ada bacaan-bacaan khusus ketika bertakziah bahkan boleh seseorang mengucapkan ucapan-ucapan baik kepada keluarga yang tertimpa musibah.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

وَلَيْسَ فِي التَّعْزِيَةِ شَيْءٌ مُؤَقَّتٌ يُقَالُ

“Tidak ada pada takziah, ucapan yang dibatasi untuk dikatakan.” ( al-Umm, 1/317).

Al-Imam Ibnu Qudamah al-Hambali berkata,

 لَا نَعْلَمُ فِي التَّعْزِيَةِ شَيْئًا مَحْدُودًا

“Kami tidak mengetahui dalam takziah ini ada batasan tertentu dalam ucapannya.” ( al-Mughnī, jilid 2, hlm. 405).

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata,

فَكُلُّ مَا يَجْلِبُ لِلْمُصَابِ صَبْرًا يُقَالُ لَهُ تَعْزِيَةٌ بِأَيِّ لَفْظٍ كَانَ

“Setiap ucapan yang dapat membuat orang yang tertimpa musibah bersabar, maka itu dikatakan takziah dengan lafaz apa pun.” ( an-Nail, jilid 4, hlm. 117).

Yang afdal adalah sebagaimana penjelasan al-Imam asy-Syaukani beliau berkata,

وَأَحْسَنُ مَا يُعَزَّى بِهِ مَا أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ: «كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَأَرْسَلَتْ إلَيْهِ إحْدَى بَنَاتِهِ تَدْعُوهُ وَتُخْبِرُهُ أَنَّ صَبِيًّا لَهَا أَوْ ابْنًا لَهَا فِي الْمَوْتِ، فَقَالَ لِلرَّسُولِ: ارْجِعْ إلَيْهَا وَأَخْبِرْهَا أَنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلِلَّهِ مَا أَعْطَى، وَكُلَّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى فَمُرْهَا فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ»

Yang paling bagus dalam bertakziah adalah sebagaimana ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Muslim dari hadis Usamah bin Zaid berkata,

‘Dahulu kami berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka datanglah salah satu utusan putri beliau memanggil dan mengabarkan beliau kalau anaknya telah meninggal, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada utusan tersebut, kembalilah kepadanya dan kabarkan!

‘Inna lillaahi maa akhodza wa lahu maa a’thoo wa kullu syai’in ‘indahu biajalin musamma (Bahwa milik Allahlah apa yang Dia ambil, apa yang Dia beri dan segala sesuatu di sisi-Nya berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan). Perintahkan dia untuk bersabar dan mengharap pahala kepada Allah.'” ( an-Nail, jilid 4, hlm. 117).

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

وأما ما اشتهر عند الناس من قولهم: “عظَّم الله أجرك، وأحسن الله عزاءك، وغفر الله لميتك”، فهي كلمة اختارها بعض العلماء، لكن ما جاءت به السنة أولى وأحسن

“Adapun ucapan yang tersebar di kalangan manusia yaitu,

‘Adzdzomallaahu ajrok wa ahsana ‘azaa aka wa ghafaro limayyitika.’ (Semoga Allah membesarkan pahalamu, berbuat baik kepadamu dalam musibah ini dan mengampuni keluargamu yang meninggal ini).

Ini merupakan kalimat yang dipilih oleh sebagian ulama namun, kalimat yang disebutkan di dalam sunah tentu lebih utama dan lebih baik.” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 13, hlm. 340).

Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala. Ucapan yang disampaikan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, subhanallah luar biasa, sangat bagus dan sangat menyentuh hati. Al-Imam an-Nawawi menerangkan maknanya,

ومعنى “أن لله تعالى ما أخذ” أن العالم كله ملك لله تعالى، فلم يأخذ ما هو لكم، بل أخذ ما هو له عندكم في معنى العارية؛ ومعنى “وله ما أعطى” أن ما وهبه لكم ليس خارجًا عن ملكه، بل هو له سبحانه يفعل فيه مايشاء، وكل شيء عنده بأجلٍ مسمّى فلا تجزعوا، فإن من قبضه قد انقضى أجَله المسمى

Makna ucapan beliau ‘Bahwa milik Allahlah apa yang Dia ambil,’ alam semesta ini semuanya milik Allah Ta’ala, Dia tidak mengambil apa yang menjadi milik kalian. Bahkan, Dia mengambil apa yang menjadi milik-Nya yang ada di sisi kalian sebagai titipan.

Makna ucapan beliau, ‘Dan milik-Nya apa yang Dia berikan,’ bahwa apa yang Dia berikan kepada kalian, tidaklah lepas dari kepemilikan-Nya. Bahkan, menjadi milik-Nya Subhanahu, Dia berbuat sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.

Dan segala sesuatu di sisi-Nya sesuai dengan batas waktu tertentu, maka janganlah kalian mengeluh karena sesungguhnya orang yang telah Dia ambil sungguh telah habis waktunya yang ditentukan.” ( al-Adzkār, no. 403).

YANG HARUS DIHINDARI KETIKA TAKZIAH

Disebutkan di dalam kitab al-Fiqhu al-Muyassar bahwa ada tiga hal yang semestinya dihindari ketika takziah:

  1. Berkumpul ketika takziah di tempat khusus dengan membawa kursi, lampu, dan para pembaca.
  2. Membuat makanan pada hari-hari takziah dari keluarga mayit yang tertimpa musibah untuk menjamu orang-orang yang datang.
  3. Melakukan takziah dengan berulang kali. Secara asal takziah itu dilakukan hanya satu kali kecuali dengan diulang ada maslahat mengingatkan maka tidak mengapa. Adapun jika tanpa tujuan ini, maka tidak boleh karena tidak ada tuntunannya dari Nabi dan para sahabat. ( al-Fiqhu al-Muyassar, hlm. 124).

Adapun urutan ke tiga, ini sangat jelas dan mudah dipahami. Nomor satu dan dua yang akan kita bahas.

  1. Adanya tempat khusus untuk bertakziah.

Tempat khusus di sini, tentu untuk berkumpul menyambut orang-orang yang bertakziah, pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah mari kita simak penjelasan para ulama tentang hal ini.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

وَأَكْرَهُ الْمَأْتَمَ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ بُكَاءٌ فَإِنَّ ذَلِكَ يُجَدِّدُ الْحُزْنَ، وَيُكَلِّفُ الْمُؤْنَةَ مَعَ مَا مَضَى فِيهِ مِنْ الْأَثَرِ 

“Aku tidak menyukai adanya ma’tam yaitu perkumpulan saat bertakziah walaupun mereka tidak menangis. Sesungguhnya yang demikian ini akan menambahkan kesedihan dan menambah beban padahal baru berlalu bagi mereka kesan dari musibah ini.” ( al-Umm, 1/318).

  1. Membuat makanan pada hari-hari takziah dari keluarga mayit yang tertimpa musibah untuk menjamu orang-orang yang datang.

Para pembaca yang semoga selalu dibimbing oleh Allah Ta’ala, ini juga perkara yang dilarang karena tidak ada sedikit pun bimbingan dari Nabi kita Muhammad dan para sahabatnya terkait hal ini. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata,

وَأَمَّا إصْلَاحُ أَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا وَجَمْعُ النَّاسِ عَلَيْهِ فَلَمْ يُنْقَلْ فيه شيء

“Adapun membuat makanan dari keluarga jenazah yang tertimpa musibah dan mengumpulkan manusia, maka tidak ada tuntunannya sedikit pun di dalam agama Islam.” ( al-Majmū’, jilid 5, hlm. 320).

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata,

فهاهو رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم يموت له أبناء وأعمام وأصحاب ولم يجلس يوماً من الدهر ليتلقى العزاء، مع أنه هو المشرع، ومع أن الصحابة رضي الله عنهم أشد الناس في مواساة الرسول عليه الصلاة والسلام وتعزيته، لكن لم يفعلوا، ولم يتوافدوا إليه ليعزوه وما علمنا بهذا أبداً، 

Inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah meninggal anak-anak, paman-paman dan para sahabat beliau dan tidaklah beliau duduk pada suatu hari untuk menyambut kedatangan orang-orang yang bertakziah padahal beliau adalah yang mensyariatkan agama ini, padahal para sahabat adalah orang yang paling menyantuni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paling kuat takziah mereka kepada beliau. Tetapi mereka tidak melakukan dan tidak beramai-ramai datang untuk bertakziah kepada beliau, ini yang sama sekali tidak kita ketahui.” ( Liqā’ al-Bāb al-Maftūh, 79/7).

Maka menjadi jelaslah bahwa dua hal di atas tidak boleh dilakukan. Yang lebih meyakinkan lagi adalah bahwa dua perbuatan tersebut termasuk dari perkara yang dilarang oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Jarir bin Abdillah al-Bajali radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,

كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيعَةَ الطَّعَامِ مِنْ النِّيَاحَةِ

“Kami menganggap berkumpul di tempat keluarga jenazah yang tertimpa musibah dan mereka membuat makanan termasuk dari meratap.” ( Ahmad dan dishahihkan oleh an-Nawawi di dalam al-Majmū’, ( al-Majmū’, jilid 5, hlm. 320).

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

وإذا كان الصحابة رضي الله عنهم يعدون ذلك من النياحة، وهم أعلم الأمة بمقاصد الشريعة، وأقومهم عملاً بها، وأسدهم رأياً، وأطهرهم قلوباً فإنه قد ثبت عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أنه قال: “الميت يعذب في قبره بما نيح عليه” فهل يرضى أحد أن يعذب أبوه، أو أمه، أو ابنه، أو بنته، أو أحد من أقاربه بشيء من صنعه؟! وهل يرضى أحد أن يسيء إلى هؤلاء وهو الذي أصيب بهم؟! إذا كان صادقاً في محبتهم ومصيبتهم فليتجنب ما يكون سبباً في تعذيبهم.

“Apabila para sahabat radhiyallahu ‘anhum menganggap yang demikian itu termasuk dari meratap sedangkan mereka adalah yang paling berilmu dari umat Muhammad ini tentang tujuan-tujuan syariat, paling lurus amalannya, paling benar pendapatnya dan paling bersih hatinya, maka sungguh telah shahih berita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,

‘Mayit itu akan diazab di kuburnya disebabkan ratapan.’

Apakah seseorang rela ayahnya, ibunya, putra-putrinya atau salah satu dari kerabat-kerabatnya diazab dikerenakan perbuatannya.

Apakah seseorang rela menyakiti mereka sedangkan dialah yang ditimpa musibah dengan wafatnya mereka. Jika dia jujur dalam mencintai mereka, dan musibah yang menimpa mereka, maka jauhilah segala sesuatu yang dapat menjadi sebab mereka diazab.”( al-Majmū’ al-Fatāwā, jilid 13, hlm. 363).

JIKA ADA YANG DATANG TAKZIAH SEBAGAI TAMU YANG TENTUNYA SEBAGAI TAMU MESTI DIJAMU ATAU TAMU ITU YANG DATANG MEMBAWA JAMUAN UNTUK DISUGUHKAN

Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah menerangkan,

لا حرج في هذا إذا تصدقوا عليهم وجاؤوا لهم بشيء من الغنم أو شيء من اللحم لا حرج في ذلك إذا صنعه أهل الميت لهم لأنهم ضيوف وأكرموهم بما جاؤوا به من اللحم أو من الذبائح لا حرج عليهم في ذلك، وإن أعطوهم مالا أو غنما أو غير ذلك، وذهبوا ولم يجلسوا مساعدة لأهل الميت فلا بأس بذلك، وقد ثبت عن رسول الله عليه الصلاة والسلام أنه لما جاء نعي جعفر بن أبي طالب رضي الله عنه وهو ابن عمه لما قتل في مؤتة في الشام قال النبي صلى الله عليه وسلم لأهله: «ابعثوا لآل جعفر طعاما؛ فقد أتاهم ما يشغلهم » فأمر أهله أن يبعثوا إليهم طعاما مصنوعا؛ لأنه أتاهم ما يشغلهم، فالأفضل لهؤلاء أن يبعثوا طعاما مصنوعا دون ذبائح يكلفون بها أهل الميت، لكن ما داموا جاؤوا بها وأعطوها أهل الميت، فأهل الميت عليهم أن يضيفوا ضيوفهم، ويحسنوا إليهم، ويكونوا كرماء لا لؤماء. فإذا صنعوا منها طعاما لهم، وأطعموهم غداء أو عشاء فلا حرج في ذلك

“Tidak mengapa hal ini apabila para tamu bersedekah kepada keluarga jenazah yang tertimpa musibah dan datang kepada mereka dengan membawa sesuatu seperti kambing atau daging tidak mengapa jika keluarga jenazah tersebut membuatkan untuk mereka karena mereka adalah tamu, mereka memuliakan tamu-tamu ini dengan sesuatu yang dibawanya berupa daging-daging, tidak mengapa. Jika mereka memberi uang, kambing dan selain itu, lalu mereka pergi dan tidak membantu keluarga jenazah tersebut, tidak mengapa. Sungguh telah disebutkan di dalam riwayat yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tatkala datang berita meninggalnya Jakfar bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau adalah anak pamannya Rasulullah ketika terbunuh dalam perang mu’tah di Syam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada keluarganya,

‘Kirimkanlah makanan untuk keluarga Jakfar, sungguh mereka telah sibuk.’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan keluarganya untuk mengirimkan makanan yang sudah dibuat karena keluarga Jakfar sedang sibuk.

Maka yang afdal adalah mereka mengirimkan makanan yang sudah dibuat bukan yang bentuknya hewan yang disembelih sehingga memberatkan yang terkena musibah. Namun, selama mereka datang membawa hewan yang akan disembelih tersebut dan memberikannya kepada yang tertimpa musibah, maka semestinya bagi mereka untuk menjamu tamu dan berbuat baik kepada tamu-tamu tersebut serta bersikap dermawan dan tidak kikir, jika mereka membuat makanan dan para tamu itu makan siang atau malam, tidak mengapa.”

🔳 Jika tamu tersebut tidak membawa makanan untuk dimasak, bolehkah bagi keluarga jenazah membuatkan mereka makanan dan menyuguhkannya?

Saudaraku yang mulia. Hal ini juga telah diterangkan oleh syekh rahimahullah beliau berkata,

إكرام الضيف أمر لازم، ولا حرج في إكرام الضيف بل هو واجب، والنبي صلى الله عليه وسلم قال: «من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه » فإذا جاءهم الضيوف سواء معهم طعام أو ما معهم طعام، إذا جاءهم الضيوف ونزلوا عندهم وجلسوا إلى وقت الغداء أو العشاء وضيفوهم فلا بأس

“Memuliakan tamu merupakan perkara yang semestinya dilakukan, tidak mengapa memuliakan tamu bahkan hukumnya wajib. Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia memuliakan tamunya.’

Apabila tamu datang ke rumah keluarga yang ditimpa musibah ini baik tamu tersebut membawa makanan ataupun tidak, tamu itu datang dan singgah di tempat mereka dan duduk sampai waktu makan siang atau makan malam dan keluarga yang terkena musibah ini menjamu mereka, maka tidak mengapa.”

🔳 Kalau begitu, yang dilarang itu bagaimana gambarannya? Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah mari kita simak penjelasan syekh.
Beliau melanjutkan,

إنما المكروه الذي لا ينبغي والمنكر الذي يكون من عمل الجاهلية كون أهل الميت يصنعون الطعام من مالهم للناس، يجعلون هذا مأتما للميت، يصنعون الطعام للناس، هذا هو الذي لا ينبغي، وهو من عمل الجاهلية، وقال جرير رضي الله عنه: «كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصناعة الطعام بعد الموت من النياحة »

“Hanyalah yang dibenci yang tidak semestinya dilakukan, mungkar, dan termasuk dari perbuatan jahiliah adalah keluarga yang terkena musibah membuat makanan dari harta mereka untuk orang-orang yang datang dan menjadikan hal ini sebagai ma’tam yaitu tempat berkumpul dalam rangka meninggalnya jenazah ini, mereka membuat makanan untuk orang-orang yang datang. Inilah yang tidak semestinya dilakukan dan ini termasuk amalan orang-orang jahiliah. Jarir radhiyallahu ‘anhu berkata,

‘Kami menganggap berkumpul di tempat keluarga jenazah yang tertimpa musibah dan mereka membuat makanan termasuk dari meratap.'”

🔳 Bagaimanakah yang afdal bagi orang-orang yang bertakziah?

Beliau rahimahullah belanjutkan,

والأفضل للذين يزورونهم أن يصنعوا الطعام في بيوتهم، ويبعثوه إليهم مصنوعا كاملا حتى لا يكلفهم صنعة الطعام؛ لأنهم مشغولون بالمصيبة، فالذي فعله الرسول صلى الله عليه وسلم وسنه للأمة أن جيرانهم أو أقاربهم يبعثون بالطعام مصنوعا إليهم حتى يكفوهم المؤنة، هذا هو الأفضل

“Yang afdal bagi orang-orang yang berkunjung, mereka membuat makanan sendiri di rumah-rumah mereka dan mengirimkan makanan tersebut kepada keluarga yang tertimpa musibah secara utuh sehingga tidak membebani mereka membuat makanan karena mereka saat itu sibuk dengan musibah yang terjadi. Yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap umat ini adalah tetangga atau ķerabat mereka yang mengirimkan makanan yang sudah dibuat sehingga dapat memenuhi kebutuhan mereka. Inilah yang afdal.” ( Fatāwā Nūrun ‘alā ad-Darb, 251).

Mudah-mudahan pembahasan yang ringkas ini bisa meluas untuk kaum muslimin manfaatnya mohon maaf atas segala kekurangan.

Baturaja senin 16 Agustus 2021/7 al-Muharram 1443 H.

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

HUKUM JUAL BELI DAN MENGUMUMKAN BARANG HILANG DI DALAM MASJID

HUKUM JUAL BELI DAN MENGUMUMKAN BARANG HILANG DI DALAM MASJID

Berkaitan tentang hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan,
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا رأيتم من يبيع أو يبتاع فى المسجد فقولوا: لا أربح الله تجارتك

“Apabila kalian melihat orang yang melakukan jual beli di dalam masjid, maka doakanlah, ‘Semoga Allah tidak memberikan keuntungan pada perniagaanmu.'”
(HR. at-Tirmidzi dan disahihkan oleh syekh al-Albani di dalam al-Irwā’, no. 1.295).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Baca juga: HUKUM MELAKUKAN JUAL BELI DAN MENGUMUMKAN BARANG HILANG DI DEPAN PINTU MASJID BAGIAN LUAR

مَن سَمِعَ رَجُلًا يَنْشُدُ ضالَّةً في المَسْجِدِ فَلْيَقُلْ لا رَدَّها اللَّهُ عَلَيْكَ فإنَّ المَساجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهذا

“Barang siapa yang mendengar seseorang mengumumkan barangnya yang hilang di dalam masjid, maka doakanlah, ‘Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu.’ Karena sesungguhnya masjid-masjid itu tidaklah dibangun untuk ini.” (HR. Muslim, no. 568).

Dari kedua hadis di atas diambil kesimpulan bahwa tidak boleh melakukan jual beli dan mengumumkan barang yang hilang di dalam masjid terlepas dari perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang makna larangan tersebut apakah haram atau makruh, maka seorang mukmin tatkala mendapati larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan berusaha menjauhinya semaksimal mungkin.

Di antara hikmah dari larangan ini adalah sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibnu Abdil Barr rahimahullah beliau berkata,

وقد ذكر الله تعالى المساجد بأنها بيوت أذن الله أن ترفع ويذكر فيها اسمه وأن يسبح له فيها بالغدو والآصال فلهذا بنيت فينبغي أن تنزه عن كل ما لم تبن له

“Sungguh Allah Ta’ala telah menyebutkan bahwa masjid-masjid itu adalah rumah yang telah Allah izinkan untuk diagungkan dan disebut di dalamnya nama-Nya serta bertasbih kepada-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang. Untuk inilah masjid-masjid itu dibangun. Maka semestinya untuk dibersihkan dari segala yang tidak menjadi tujuan dibangunnya.”
( al-Istidzkār, jilid 2, hlm. 368).

Baca Juga: Seputar Hukum Masjid

Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Penyusun: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar
Murajaah: al-Ustadz Ahmad Khadim hafidzahullah
Editor bahasa: Abu Abdil Muhsin Fudhail

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

KAIDAH PENTING BAGI MUSAFIR TENTANG BERPUASA PADA BULAN RAMADAN

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

قال أبو الدرداء رضي الله عنه: «سافرنا مع النبي صلى الله عليه وسلم في حر شديد وما منا صائم إلا رسول الله صلى الله عليه وسلم وعبد الله بن رواحة»
والقاعدة في المسافر أنه يخيز بين الصيام والإفطار، ولكن إن كان الصوم لا يشق عليه فهو أفضل؛ لأن فيه ثلاث فوائد:
الأولى: الاقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم.
الثانية: سهولة الصوم على الإنسان؛ لأن الإنسان إذا صام مع الناس كان أسهل عليه.
الثالثة: سرعة إبراء ذمته، هذا إذا كان الصوم لا يشق عليه.
فإن كان يشق عليه فإنه لا يصوم، وليس من البر الصيام في السفر في مثل هذه الحال
لأن الرسول عليه الصلاة والسلام رأى رجلا قد ظلل عليه وحوله زحام فقال: «ما هذا؟» قالوا: صائم، فقال: «ليس من البر الصيام في السفر» فينزل هذا العموم على من كان في مثل حال هذا الرجل يشق عليه الصوم

“Abu ad-Darda’ berkata, ‘Kami melakukan safar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu siang yang sangat panas. Dan tidak ada di antara kami yang berpuasa kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abdullah ibnu Rawahah.’

Kaidah pada musafir adalah diberi pilihan antara berpuasa dan tidak namun, jika berpuasa tidak memberatkannya, maka itulah yang afdal karena padanya ada tiga faedah,

  1. Mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Mudahnya berpuasa bagi seseorang karena apabila dia berpuasa bersama manusia, maka hal itu lebih mudah baginya.
  3. Lebih bersegera dalam menunaikan tanggungannya.

Ini jika puasa itu tidak memberatkannya, tetapi jika memberatkannya, maka hendaknya dia tidak berpuasa dan bukanlah termasuk dari kebaikan puasa pada saat safar dalam keadaan seperti ini karena Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjumpai seseorang yang tergeletak dikerumuni, maka beliau bertanya,

‘Ada apa ini?’

Lalu para sahabat menjawab,

‘Dia sedang berpuasa wahai Rasulullah!’ Maka beliau berkata,

Bukan termasuk kebaikan puasa pada saat safar.’

Maka yang dimaksud dengan hadis ini adalah orang yang seperti ini keadaannya, yakni yang terasa berat baginya berpuasa saat safar.”

Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 19, hlm. 136.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

BOLEHKAH MEMBATALKAN PUASA KARENA SANGAT LELAH DAN HAUS ?

بسم الله الرحمن الرحيم

BOLEHKAH MEMBATALKAN PUASA KARENA SANGAT LELAH DAN HAUS ?

Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz berkata,

إذا كان أفطر؛ لأنه لم يستطع الصوم لشدة الظمأ؛ بسبب الإرهاق الذي أصابه، وخاف على نفسه الموت أو مرضا شديدا فهذا له عذر، وليس عليه إلا أن يقضي اليوم بدل اليوم؛ 

“Apabila dia membatalkan puasanya karena tidak mampu meneruskannya, karena dahaga yang sangat disebabkan rasa lelah yang menimpanya dan dia khawatir terhadap kematian yang akan menimpa dirinya, atau khawatir akan terkena sakit yang parah, maka dia mendapat uzur dan tidak ada kewajiban lain baginya kecuali mengganti hari yang dia tidak berpuasa tersebut pada hari lain di luar bulan Ramadan.”

Sumber: Fatāwā Nūrun ‘Alā ad-Darb, jilid 16, hlm. 165.

Alih bahasa:
Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar غفر الرحمن له.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram:
https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

ISTIRAHAT DI SETIAP EMPAT RAKAAT SALAT TARAWIH

بسم الله الرحمن الرحيم

ISTIRAHAT DI SETIAP EMPAT RAKAAT SALAT TARAWIH

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

التراويح هو قيام الليل في رمضان وسمي تراويح لأن الناس كانوا يطيلون القيام فيه والركوع والسجود فإذا صلوا أربعا استراحوا ثم استأنفوا الصلاة أربعا ثم استراحوا ثم صلو ثلاثا على حديث عائشة رضي الله عنها قالت: كان النبي صلى الله عليه وسلم لا يزيد في رمضان ولا غيره على إحدى عشرة ركعة يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي ثلاثا

“Tarawih adalah salat malam pada bulan Ramadan. Dinamakan tarawih karena manusia memperlama berdiri, rukuk, dan sujud. Apabila telah menunaikan salat empat rakaat, mereka istirahat, kemudian memulai lagi salat empat rakaat, kemudian istirahat, kemudian salat tiga rakaat. Hal itu berlandaskan pada hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menambah salat (malam) pada bulan Ramadan atau selainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat. Jangan engkau tanya tentang bagus dan lamanya. Kemudian beliau salat empat rakaat. Jangan engkau tanya tentang bagus dan lamanya. Setelah itu, beliau salat tiga rakaat’.”

Sumber: Al-Syarh al-Mumti‘, Jilid 4, hlm. 10–11.

Alih Bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

TENTANG PUASA RAMADAN

بسم الله الرحمن الرحيم

TENTANG PUASA RAMADAN

Puasa pada bulan Ramadan adalah salah satu di antara sekian ibadah yang disyariatkan dalam Islam. Oleh karena itu, semestinya bagi setiap muslim untuk mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengannya sesuai dengan bimbingan Islam agar amalannya diterangi dengan cahaya ilmu dan jauh dari kegelapan yang menyesatkannya.

Berikut ini beberapa faedah tentang puasa Ramadan. Semoga dapat memberikan manfaat yang luas untuk kaum muslimin.

1.DEFINISI PUASA
2.RUKUN-RUKUN PUASA
3.KEUTAMAAN PUASA RAMADAN
4.HUKUM-HUKUM PUASA
5.HIKMAH WAJIBNYA PUASA RAMADAN
6.SYARAT-SYARAT WAJIBNYA PUASA RAMADAN
7.BAGAIMANA PENETAPAN AWAL DAN AKHIR BULAN RAMADAN?
8.BAGAIMANA PENETAPAN AWAL DAN AKHIR RAMADAN BAGI YANG TINGGAL DI NEGERI KAFIR?

Selengkapnya baca pada link berikut:
https://www.alfudhail.com/tentang-puasa-ramadan/

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

BOLEHKAH MELAFAZKAN TAKBIR DENGAN SELAIN LAFAZ ALLAHU AKBAR SEPERTI ALLAHU AJALL, ALLAHU A’ZHAM DAN YANG LAINNYA?

BOLEHKAH MELAFAZKAN TAKBIR DENGAN SELAIN LAFAZ ALLAHU AKBAR SEPERTI ALLAHU AJALL, ALLAHU A’ZHAM DAN YANG LAINNYA?

Jawabannya bahwa pendapat yang benar adalah tidak boleh karena lafaz takbir itu datangnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan itu yang selalu dilafazkan beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat!”
(HR. al-Bukhari, no. 6008).

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

ولابد أن يقول الله أكبر فلا يجزي أن يقول: الله أجل، أو الله أعظم وما أشبه ذلك

“Seseorang harus mengucapkan Allahu akbar (Allah maha besar)! Tidak sah jika dia berucap Allahu ajall (Allah maha mulia) atau Allahu a’zham (Allah maha agung) dan yang semisalnya.”
(Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 13, hlm. 343).

HATI-HATI DARI SALAH PENGUCAPAN LAFAZ TAKBIR

Hal ini seperti memanjangkan huruf hamzah di awal atau huruf ba. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

ولا يصح التكبير بمد همزة آل فلا يقول: “الله أكبر” لأنها تنقلب حينئذ استفهاما، ولا يصح أن يمد الباء فيقول: “أكبار” لأنه حينئذ تكون جمعا للكبر، والكبر هو الطبل فهو أكبار كأسباب جمع سبب وأكبار جمع كبر هكذا قال أهل العلم.

“Tidak sah lafaz takbir dengan memanjangkan huruf hamzah al, jangan seseorang mengucapkan ‘Aallahu akbar’ karena maknanya berubah menjadi pertanyaan (mempertanyakan kebesaran Allah).

Tidak sah pula dengan memanjangkan huruf ba (Allaahu akbaar) karena ketika ini berubah menjadi bentuk jamak dari kabr yang maknanya adalah gendang. Lafaz akbaar bentuknya seperti asbaab kata jamak dari sabab sedangkan akbaar kata jamak dari kabr, demikian kata para ulama.” (Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 13, hlm. 343).

SAHKAH MENGUCAPKAN ALLAHU WAKBAR?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

وأما ما يقوله بعض الناس “الله وكبر” فيجعل الهمزة واوا، فهذا له مساغ في اللغة العربية فلا تبطل به الصلاة.

“Adapun apa yang diucapkan sebagian manusia, ‘Allahu wakbar’ dengan merubah hamzah menjadi wau, maka ini ada sisi bolehnya dalam bahasa Arab sehingga salatnya tidak batal.” (Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 13, hlm. 343).

BAGAIMANA TAKBIRNYA ORANG YANG BISU?

Hendaknya dia bertakbir sesuai dengan kemampuannya. Al-Lajnah ad-Dāimah pernah ditanya dengan suatu pertanyaan,

كيف يصلي من لا يستطيع أن يتكلم ولا يسمع، أو يتكلم ولا يسمع؟
ج١: يصلي على قدر استطاعته لقوله تعالى: {لا يكلف الله نفسا إلا وسعها} وقوله: {ما يريد الله ليجعل عليكم من حرج} وقوله تعالى: {يريد الله بكم اليسر} وقوله تعالى: {فاتقوا الله ما استطعتم}

Pertanyaan:
Bagaimana salatnya orang yang tidak bisa berbicara dan tidak bisa mendengar atau bisa berbicara dan tidak bisa mendengar?

Jawaban:
Hendaknya dia salat sesuai dengan kemampuannya berdasarkan firman Allah Ta’ala,

‘Allah tidak membebani jiwa di luar kesanggupannya.’
(al-Baqarah: 286). Dan firman Allah,

‘Allah tidak ingin menjadikan kalian berat.’
(al-Maidah: 6). Dan firman Allah,

‘Allah ingin memudahkan kalian.’
(al-Baqarah: 185). Dan firman Allah,

‘Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kesanggupan kalian.’
(at-Taghabun: 16). (Sumber: Fatāwā al-Lajnah ad-Dāimah, no. 5343).

✍🏻 Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: SIFAT SALAT NABI

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

TAKBIRATUL IHRAM

بسم الله الرحمن الرحيم

TAKBIRATUL IHRAM

Setelah seseorang berniat yakni bertekad dalam salatnya hendak melakukan salat tertentu, selanjutnya adalah dia bertakbir yaitu dengan mengucapkan Allahu Akbar. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan dalam riwayat yang shahih,

كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يَسْتَفْتِحُ الصَّلَاةَ بالتَّكْبِيرِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai salatnya dengan takbir.” ( Shahih Muslim, no. 498).

HUKUM MENGUCAPKAN TAKBIRATUL IHRAM

Mengucapkan takbiratul ihram adalah termasuk salah satu rukun salat tidak sah salat orang yang tidak bertakbir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تحريمها التكبير وتحليلها التسليم.

“Yang mengharamkan salat adalah takbir, dan yang menghalalkannya adalah salam.”
(Abu Daud dan disahihkan oleh syekh al-Albani di dalam al-Irwā’, no. 301).

Makna hadis di atas adalah salat diawali dengan takbir, diakhiri dengan salam dan salat seseorang tidak sah tanpa takbir, tatkala sudah masuk takbir, maka seseorang diharamkan melakukan perkara yang membatalkannya sedangkan yang mengakhirinya adalah salam. Syekh al-Albani menerangkan,

تحريم ما حرم الله منها من الأفعال وكذا تحليلها أي تحليل ما أحل خارجها من الأفعال … الدخول غي تحريمها لا يكون إلا بالتكبير والخروج منها لا يكون إلا بالتسليم

“Maknanya adalah mengharamkan perbuatan-perbuatan yang Allah haramkan dari salat tersebut demikian pula yang menghalalkannya yakni menjadikan halal perbuatan yang dikerjakan di luar salat … masuk dalam pengharaman salat (yakni diharamkan mengerjakan perbuatan yang dilarang saat salat, -pen.) tidaklah terjadi kecuali dengan takbir dan keluar darinya tidaklah terjadi melainkan dengan salam.”
( Shifah Shalah an-Nabi, hlm. 75).

SAHKAH SALAT TANPA TAKBIRATUL IHRAM?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan,

فلو نسي الإنسان تكبيرة الإحرام، جاء ووقف في الصف ثم نسي وشرع في القراءة وصلى فصلاته غير صحيحة وغير منعقدة إطلاقا، لان تكبيرة الإحرام لا تنعقد الصلاة إلا بها، قال النبي صلي الله عليه وسلم لرجل علمه كيف يصلي،
((قال: ((إذا قمت إلى الصلاة فاسبغ الوضوء، ثم استقبل القبلة فكبر
فلابد من التكبير، وكان النبي صلي الله عليه وسلم مداوما علي ذلك.

“Jika seseorang lupa takbiratul ihram misal, dia datang dan berdiri masuk ke dalam saf kemudian dia lupa dan memulai salatnya dengan langsung membaca bacaan salat, dan dia telah menyelesaikan salat. Maka salatnya tidak sah secara mutlak karena salat, tidak sah tanpa takbiratul ihram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seseorang, beliau mengajarinya bagaimana tata cara salat,

‘Apabila engkau berdiri hendak salat, maka perbaguslah wudumu kemudian menghadaplah ke kiblat dan bertakbirlah.’

Maka harus ada takbiratul ihram karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu terus menerus membaca takbiratul ihram.”
( Syarh Riyadh ash-Shālihīn, jilid 1, hlm. 389).

BAGAIMANA SALAT ORANG YANG LUPA MEMBACANYA DAN HAL ITU DIA INGAT KETIKA SEDANG SALAT?

Dalam hal ini ada dua keadaan;

  1. Dia benar-benar lupa.
  2. Perasaan was-was.

Jika keadaannya yang pertama, maka hendaknya dia bertakbir ketika ingat dan jika keadaannya hanya perasaan was-was, maka hendaknya diabaikan saja. Syekh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah Ta’ala menjelaskan,

إذا نسي تكبيرة الإحرام أو شك في ذلك فعليه أن يكبر في الحال، ويعمل بما أدرك بعد التكبيرة، فإذا كبر بعد فوات الركعة الأولى من صلاة الإمام اعتبر نفسه قد فاتته الركعة الأولى فيقضيها بعد سلام الإمام، واذا أعاد التكبيرة في الركعة الثالثة اعتبر نفسه قد فاتته ركعتان فيأتي بركعتين بعد السلام من الصلاة، هذا إذا كان ليس لديه وسوسة، أما إن كان موسوسا فإنه يعتبر نفسه قد كبر في أول الصلاة ولا يقضي شيئا مراغمة للشيطان ومحاربة لوسوسته، .والحمد لله

“Apabila dia lupa takbiratul ihram atau ragu, maka wajib baginya untuk melakukannya ketika itu dan melanjutkan amalan yang sedang dia kerjakan setelah bertakbir. Apabila dia baru melakukan takbiratul ihram setelah lewat satu rakaat imam, dan dia menganggap dirinya tertinggal satu rakaat, setelah salam dia tetap menambah satu rakaat.

Apabila dia mengucapkan takbiratul ihram tersebut di rakaat ke tiga dan dia menganggap dirinya tertinggal dua rakaat, setelah salam dia tetap menambah dua rakaat. Hal ini apabila tidak ada rasa was-was terhadap dirinya, adapun jika dia dihantui perasaan was-was, maka dia tetap menganggap dirinya telah bertakbir pada awal salat dan tidak mengqadanya sedikit pun, yang demikian ini dilakukan dalam rangka memerangi setan dan perasaan was-wasnya.”
( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 11, hlm. 275-276).

✍🏻 Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: SIFAT SALAT NABI

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

APA HUKUMNYA APABILA LUPA NIAT?

APA HUKUMNYA APABILA LUPA NIAT?

Misal, seseorang mengerjakan salat zuhur pada waktu zuhur, tetapi dia niatnya salat asar. Setelah salam, dia baru ingat kalau niatnya salah, maka dalam hal ini syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan,

ولا يمكن العجز عنها، لكن في الحقيقة يمكن النسيان فيها، مثل أن يأتي الإنسان ليصلي الظهر، ثم يغيب عن خاطره نية الظهر، وينوي العصر، وهذا يقع كثيرا، فهل تصح صلاته أم لا؟
الجواب: لا تصح؛ لأنه عين خلاف فرض الوقت، فلا تصح، لأن النية لا تسقط بحال

“Tidak mungkin seseorang kesulitan dalam berniat. Tetapi, pada hakikatnya mungkin seseorang lupa dalam berniat contohnya, seseorang mengerjakan salat zuhur kemudian pergi dari pikirannya niat zuhur dan dia berniat asar, hal ini sering terjadi. Apakah salatnya sah? Jawabannya adalah salatnya tidak sah karena dia telah menentukan waktu salat wajib yang berbeda, maka salatnya tidak sah karena niat itu tidaklah gugur disebabkan suatu keadaan.” ( Asy-Syarhul-Mumti’, jilid 3, hlm. 328).

Maka hendaknya seseorang menghadirkan niat selalu ketika hendak salat apa pun jangan sampai salah atau tidak sadar sama sekali sedang mengerjakan salat apa, jika seperti ini keadaannya maka salatnya tidak sah, wallahua’lam.

BOLEHKAH MERUBAH NIAT KETIKA SALAT?

Dalam hal ini syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menyebutkan 3 keadaan:

  1. Dari yang mu’ayyan(1) menuju yang mu’ayyan seperti merubah niat salat zuhur ke salat asar, maka dalam keadaan seperti ini salat zuhurnya tidak sah karena dia sudah merubahnya dan tidak sah salat asarnya karena dia tidak meniatkannya dari awal, maka atas dasar ini kedua salat itu wajib untuk diulangi.
  2. Dari mutlak(2) menuju mu’ayyan seperti seseorang memulai salat sunah mutlak kemudian merubah niatnya ke salat mu’ayyan, dia rubah niatnya ke salat rawatib yakni seseorang memulai salatnya dengan niat salat sunah mutlak, kemudian dia ingin merubah niatnya ke salat sunah rawatib zuhur, maka salat rawatibnya tidak sah karena dia tidak niat dari awal.
  3. Dari mu’ayyan menuju mutlak seperti dia berniat salat rawatib magrib kemudian karena suatu alasan, nampak baginya bahwa dia ingin berpindah ke niat salat sunah mutlak. Maka jika seperti ini keadaannya sah salatnya dan tidak batal karena dia niat salat mu’ayyan yang tercakup padanya niat salat mutlak.” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 12, hlm. 449-450).

(1) Salat mu’ayyan adalah salat yang berkaitan dengan sebab tertentu seperti tahiyatul masjid yang berkaitan dengan tempat dan rawatib yang berkaitan dengan waktu.

(2) Salat sunah mutlak adalah salat dua rakaat yang tidak berkaitan dengan sebab, kapan pun bisa dia lakukan selama tidak pada waktu terlarang.

✍🏻 Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: SIFAT SALAT NABI bagian 1

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

SIFAT SALAT NABI

بسم الله الرحمن الرحيم

SIFAT SALAT NABI

Pada kesempatan ini kita akan menyebutkan faedah-faedah dari Ulama tentang tata cara salat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sesuai dengan yang dimudahkan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala, kita akan berusaha meringkas sebisa mungkin dan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh kaum muslimin. Semoga Allah memberikan kemudahan untuk pembahasan ini sampai selesai dan menjadikannya bernilai pahala untuk si pembaca, penulis, serta yang menjadi sebab tersebarnya pembahasan ini.

NIAT

Niat merupakan sesuatu yang harus ada dalam setiap ibadah baik berupa salat atau yang lainnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ …

“Sesunguhnya saja amalan itu tergantung dengan niatnya …
” (HR. al-Bukhari no. 1, Muslim no. 1907).

DIMANAKAH LETAK NIAT?

Tempatnya adalah di hati, syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

النية)) محلها القلب، ولا محل لها في اللسان في جميع الأعمال)

“Niat itu tempatnya di hati dan tidak ada tempat untuk niat ini pada lisan. Ini berlaku pada semua amalan.” ( Syarh Riyadh ash-Shālihīn, jilid 1, hlm. 14).

DEFINISI NIAT

Asy-Syaikh Abdullah Alu Bassam rahimahullah menerangkan tentang definisi niat. Beliau menuturkan,

النية لغة القصد

“Niat secara bahasa maknanya adalah tujuan.”

Demikian pula beliau menerangkan secara istilah syariat Islam,

وشرعا العزم على فعل العبادة تقربا إلى الله تعالى

“Secara syariat maknanya adalah tekad untuk melakukan ibadah dengan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.” ( Taisīr al-Allām, hlm. 15).

BAGAIMANA PRAKTIK NIAT?

Niat ini sangat mudah praktiknya, karena tidaklah seseorang melakukan sesuatu melainkan disertai dengan niat, tujuan, dan tekad, syekh Ibnu Utsaimin menerangkan,

! قال بعض العلماء : لو كلفنا الله عملا بلا نية لكان من تكليف ما لا يطاق

“Sebagian Ulama berkata,

‘Jika seandainya Allah membebani kita pada suatu amalan tanpa niat, tentu ini adalah pembebanan yang tidak dimampui.”
( Syarh Riyadh ash-Shālihīn, jilid 1, hlm. 16).

HUKUM MELAFAZKAN NIAT

Maka tatkala seseorang bertekad melakukan sesuatu, maka inilah yang disebut dengan niat. Adapun melafazkan niat, maka ini adalah perbuatan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi dan para sahabat, syekh Ibnu Utsaimin menerangkan,

ولهذا كان من نطق بالنية عند إرادة الصلاة، أو الصوم، أو الحج، أو الوضوء، أو غير ذلك من الأعمال كان مبتدعا قائلا في دين الله ما ليس منه؛ لأن النبي صلي الله عليه وسم كان يتوضأ، ويصلي ويتصدق، ويصوم ويحج، ولم يكن ينطق بتالنية، فلم يكن يقول: اللهم إني نويت أن أتوضأ، اللهم إني نويت أن أصلي، اللهم إني نويت أن أتصدق، اللهم إني نويت أن أحج، لم يكن يقول هذا؛ وذلك لأن النية محلها القلب، والله عز وجل يعلم ما في القلب، ولا يخفي عليه شيء.

“Oleh karena ini, barang siapa yang melafazkan niat ketika hendak salat, puasa, haji, wudu, atau amalan-amalan lainnya, maka sungguh dia melakukan kebidahan, dia berkata di dalam agama Allah yang bukan bagian darinya.

Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam dahulu berwudu, salat, bersedekah, puasa, dan haji, beliau tidak pernah melafazkan niat, beliau tidak mengatakan Allahumma inni nawaitu an atawadhdha’ (ya Allah aku niat berwudu), Allahumma inni nawaitu an ushalli (Ya Allah aku niat salat), Allahumma inni nawaitu an atashaddaq (Ya Allah aku niat bersedekah), Allahumma inni nawaitu an ahujj (Ya Allah aku niat berhaji).

Hal ini karena niat itu letaknya di hati, Allah Azza wa Jalla mengetahui apa yang ada di dalam hati, tidak samar bagi Allah sesuatu pun.”
( Syarh Riyadh ash-Shālihīn, jilid 1, hlm. 14).

✍🏻 Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: APA HUKUMNYA APABILA LUPA NIAT?

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com