BOLEHKAH MELAFAZKAN TAKBIR DENGAN SELAIN LAFAZ ALLAHU AKBAR SEPERTI ALLAHU AJALL, ALLAHU A’ZHAM DAN YANG LAINNYA?

BOLEHKAH MELAFAZKAN TAKBIR DENGAN SELAIN LAFAZ ALLAHU AKBAR SEPERTI ALLAHU AJALL, ALLAHU A’ZHAM DAN YANG LAINNYA?

Jawabannya bahwa pendapat yang benar adalah tidak boleh karena lafaz takbir itu datangnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan itu yang selalu dilafazkan beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat!”
(HR. al-Bukhari, no. 6008).

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

ولابد أن يقول الله أكبر فلا يجزي أن يقول: الله أجل، أو الله أعظم وما أشبه ذلك

“Seseorang harus mengucapkan Allahu akbar (Allah maha besar)! Tidak sah jika dia berucap Allahu ajall (Allah maha mulia) atau Allahu a’zham (Allah maha agung) dan yang semisalnya.”
(Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 13, hlm. 343).

HATI-HATI DARI SALAH PENGUCAPAN LAFAZ TAKBIR

Hal ini seperti memanjangkan huruf hamzah di awal atau huruf ba. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

ولا يصح التكبير بمد همزة آل فلا يقول: “الله أكبر” لأنها تنقلب حينئذ استفهاما، ولا يصح أن يمد الباء فيقول: “أكبار” لأنه حينئذ تكون جمعا للكبر، والكبر هو الطبل فهو أكبار كأسباب جمع سبب وأكبار جمع كبر هكذا قال أهل العلم.

“Tidak sah lafaz takbir dengan memanjangkan huruf hamzah al, jangan seseorang mengucapkan ‘Aallahu akbar’ karena maknanya berubah menjadi pertanyaan (mempertanyakan kebesaran Allah).

Tidak sah pula dengan memanjangkan huruf ba (Allaahu akbaar) karena ketika ini berubah menjadi bentuk jamak dari kabr yang maknanya adalah gendang. Lafaz akbaar bentuknya seperti asbaab kata jamak dari sabab sedangkan akbaar kata jamak dari kabr, demikian kata para ulama.” (Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 13, hlm. 343).

SAHKAH MENGUCAPKAN ALLAHU WAKBAR?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

وأما ما يقوله بعض الناس “الله وكبر” فيجعل الهمزة واوا، فهذا له مساغ في اللغة العربية فلا تبطل به الصلاة.

“Adapun apa yang diucapkan sebagian manusia, ‘Allahu wakbar’ dengan merubah hamzah menjadi wau, maka ini ada sisi bolehnya dalam bahasa Arab sehingga salatnya tidak batal.” (Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 13, hlm. 343).

BAGAIMANA TAKBIRNYA ORANG YANG BISU?

Hendaknya dia bertakbir sesuai dengan kemampuannya. Al-Lajnah ad-Dāimah pernah ditanya dengan suatu pertanyaan,

كيف يصلي من لا يستطيع أن يتكلم ولا يسمع، أو يتكلم ولا يسمع؟
ج١: يصلي على قدر استطاعته لقوله تعالى: {لا يكلف الله نفسا إلا وسعها} وقوله: {ما يريد الله ليجعل عليكم من حرج} وقوله تعالى: {يريد الله بكم اليسر} وقوله تعالى: {فاتقوا الله ما استطعتم}

Pertanyaan:
Bagaimana salatnya orang yang tidak bisa berbicara dan tidak bisa mendengar atau bisa berbicara dan tidak bisa mendengar?

Jawaban:
Hendaknya dia salat sesuai dengan kemampuannya berdasarkan firman Allah Ta’ala,

‘Allah tidak membebani jiwa di luar kesanggupannya.’
(al-Baqarah: 286). Dan firman Allah,

‘Allah tidak ingin menjadikan kalian berat.’
(al-Maidah: 6). Dan firman Allah,

‘Allah ingin memudahkan kalian.’
(al-Baqarah: 185). Dan firman Allah,

‘Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kesanggupan kalian.’
(at-Taghabun: 16). (Sumber: Fatāwā al-Lajnah ad-Dāimah, no. 5343).

✍🏻 Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: SIFAT SALAT NABI

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

TAKBIRATUL IHRAM

بسم الله الرحمن الرحيم

TAKBIRATUL IHRAM

Setelah seseorang berniat yakni bertekad dalam salatnya hendak melakukan salat tertentu, selanjutnya adalah dia bertakbir yaitu dengan mengucapkan Allahu Akbar. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan dalam riwayat yang shahih,

كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يَسْتَفْتِحُ الصَّلَاةَ بالتَّكْبِيرِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai salatnya dengan takbir.” ( Shahih Muslim, no. 498).

HUKUM MENGUCAPKAN TAKBIRATUL IHRAM

Mengucapkan takbiratul ihram adalah termasuk salah satu rukun salat tidak sah salat orang yang tidak bertakbir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تحريمها التكبير وتحليلها التسليم.

“Yang mengharamkan salat adalah takbir, dan yang menghalalkannya adalah salam.”
(Abu Daud dan disahihkan oleh syekh al-Albani di dalam al-Irwā’, no. 301).

Makna hadis di atas adalah salat diawali dengan takbir, diakhiri dengan salam dan salat seseorang tidak sah tanpa takbir, tatkala sudah masuk takbir, maka seseorang diharamkan melakukan perkara yang membatalkannya sedangkan yang mengakhirinya adalah salam. Syekh al-Albani menerangkan,

تحريم ما حرم الله منها من الأفعال وكذا تحليلها أي تحليل ما أحل خارجها من الأفعال … الدخول غي تحريمها لا يكون إلا بالتكبير والخروج منها لا يكون إلا بالتسليم

“Maknanya adalah mengharamkan perbuatan-perbuatan yang Allah haramkan dari salat tersebut demikian pula yang menghalalkannya yakni menjadikan halal perbuatan yang dikerjakan di luar salat … masuk dalam pengharaman salat (yakni diharamkan mengerjakan perbuatan yang dilarang saat salat, -pen.) tidaklah terjadi kecuali dengan takbir dan keluar darinya tidaklah terjadi melainkan dengan salam.”
( Shifah Shalah an-Nabi, hlm. 75).

SAHKAH SALAT TANPA TAKBIRATUL IHRAM?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan,

فلو نسي الإنسان تكبيرة الإحرام، جاء ووقف في الصف ثم نسي وشرع في القراءة وصلى فصلاته غير صحيحة وغير منعقدة إطلاقا، لان تكبيرة الإحرام لا تنعقد الصلاة إلا بها، قال النبي صلي الله عليه وسلم لرجل علمه كيف يصلي،
((قال: ((إذا قمت إلى الصلاة فاسبغ الوضوء، ثم استقبل القبلة فكبر
فلابد من التكبير، وكان النبي صلي الله عليه وسلم مداوما علي ذلك.

“Jika seseorang lupa takbiratul ihram misal, dia datang dan berdiri masuk ke dalam saf kemudian dia lupa dan memulai salatnya dengan langsung membaca bacaan salat, dan dia telah menyelesaikan salat. Maka salatnya tidak sah secara mutlak karena salat, tidak sah tanpa takbiratul ihram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seseorang, beliau mengajarinya bagaimana tata cara salat,

‘Apabila engkau berdiri hendak salat, maka perbaguslah wudumu kemudian menghadaplah ke kiblat dan bertakbirlah.’

Maka harus ada takbiratul ihram karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu terus menerus membaca takbiratul ihram.”
( Syarh Riyadh ash-Shālihīn, jilid 1, hlm. 389).

BAGAIMANA SALAT ORANG YANG LUPA MEMBACANYA DAN HAL ITU DIA INGAT KETIKA SEDANG SALAT?

Dalam hal ini ada dua keadaan;

  1. Dia benar-benar lupa.
  2. Perasaan was-was.

Jika keadaannya yang pertama, maka hendaknya dia bertakbir ketika ingat dan jika keadaannya hanya perasaan was-was, maka hendaknya diabaikan saja. Syekh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah Ta’ala menjelaskan,

إذا نسي تكبيرة الإحرام أو شك في ذلك فعليه أن يكبر في الحال، ويعمل بما أدرك بعد التكبيرة، فإذا كبر بعد فوات الركعة الأولى من صلاة الإمام اعتبر نفسه قد فاتته الركعة الأولى فيقضيها بعد سلام الإمام، واذا أعاد التكبيرة في الركعة الثالثة اعتبر نفسه قد فاتته ركعتان فيأتي بركعتين بعد السلام من الصلاة، هذا إذا كان ليس لديه وسوسة، أما إن كان موسوسا فإنه يعتبر نفسه قد كبر في أول الصلاة ولا يقضي شيئا مراغمة للشيطان ومحاربة لوسوسته، .والحمد لله

“Apabila dia lupa takbiratul ihram atau ragu, maka wajib baginya untuk melakukannya ketika itu dan melanjutkan amalan yang sedang dia kerjakan setelah bertakbir. Apabila dia baru melakukan takbiratul ihram setelah lewat satu rakaat imam, dan dia menganggap dirinya tertinggal satu rakaat, setelah salam dia tetap menambah satu rakaat.

Apabila dia mengucapkan takbiratul ihram tersebut di rakaat ke tiga dan dia menganggap dirinya tertinggal dua rakaat, setelah salam dia tetap menambah dua rakaat. Hal ini apabila tidak ada rasa was-was terhadap dirinya, adapun jika dia dihantui perasaan was-was, maka dia tetap menganggap dirinya telah bertakbir pada awal salat dan tidak mengqadanya sedikit pun, yang demikian ini dilakukan dalam rangka memerangi setan dan perasaan was-wasnya.”
( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 11, hlm. 275-276).

✍🏻 Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: SIFAT SALAT NABI

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

APA HUKUMNYA APABILA LUPA NIAT?

APA HUKUMNYA APABILA LUPA NIAT?

Misal, seseorang mengerjakan salat zuhur pada waktu zuhur, tetapi dia niatnya salat asar. Setelah salam, dia baru ingat kalau niatnya salah, maka dalam hal ini syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan,

ولا يمكن العجز عنها، لكن في الحقيقة يمكن النسيان فيها، مثل أن يأتي الإنسان ليصلي الظهر، ثم يغيب عن خاطره نية الظهر، وينوي العصر، وهذا يقع كثيرا، فهل تصح صلاته أم لا؟
الجواب: لا تصح؛ لأنه عين خلاف فرض الوقت، فلا تصح، لأن النية لا تسقط بحال

“Tidak mungkin seseorang kesulitan dalam berniat. Tetapi, pada hakikatnya mungkin seseorang lupa dalam berniat contohnya, seseorang mengerjakan salat zuhur kemudian pergi dari pikirannya niat zuhur dan dia berniat asar, hal ini sering terjadi. Apakah salatnya sah? Jawabannya adalah salatnya tidak sah karena dia telah menentukan waktu salat wajib yang berbeda, maka salatnya tidak sah karena niat itu tidaklah gugur disebabkan suatu keadaan.” ( Asy-Syarhul-Mumti’, jilid 3, hlm. 328).

Maka hendaknya seseorang menghadirkan niat selalu ketika hendak salat apa pun jangan sampai salah atau tidak sadar sama sekali sedang mengerjakan salat apa, jika seperti ini keadaannya maka salatnya tidak sah, wallahua’lam.

BOLEHKAH MERUBAH NIAT KETIKA SALAT?

Dalam hal ini syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menyebutkan 3 keadaan:

  1. Dari yang mu’ayyan(1) menuju yang mu’ayyan seperti merubah niat salat zuhur ke salat asar, maka dalam keadaan seperti ini salat zuhurnya tidak sah karena dia sudah merubahnya dan tidak sah salat asarnya karena dia tidak meniatkannya dari awal, maka atas dasar ini kedua salat itu wajib untuk diulangi.
  2. Dari mutlak(2) menuju mu’ayyan seperti seseorang memulai salat sunah mutlak kemudian merubah niatnya ke salat mu’ayyan, dia rubah niatnya ke salat rawatib yakni seseorang memulai salatnya dengan niat salat sunah mutlak, kemudian dia ingin merubah niatnya ke salat sunah rawatib zuhur, maka salat rawatibnya tidak sah karena dia tidak niat dari awal.
  3. Dari mu’ayyan menuju mutlak seperti dia berniat salat rawatib magrib kemudian karena suatu alasan, nampak baginya bahwa dia ingin berpindah ke niat salat sunah mutlak. Maka jika seperti ini keadaannya sah salatnya dan tidak batal karena dia niat salat mu’ayyan yang tercakup padanya niat salat mutlak.” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 12, hlm. 449-450).

(1) Salat mu’ayyan adalah salat yang berkaitan dengan sebab tertentu seperti tahiyatul masjid yang berkaitan dengan tempat dan rawatib yang berkaitan dengan waktu.

(2) Salat sunah mutlak adalah salat dua rakaat yang tidak berkaitan dengan sebab, kapan pun bisa dia lakukan selama tidak pada waktu terlarang.

✍🏻 Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: SIFAT SALAT NABI bagian 1

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

SIFAT SALAT NABI

بسم الله الرحمن الرحيم

SIFAT SALAT NABI

Pada kesempatan ini kita akan menyebutkan faedah-faedah dari Ulama tentang tata cara salat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sesuai dengan yang dimudahkan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala, kita akan berusaha meringkas sebisa mungkin dan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh kaum muslimin. Semoga Allah memberikan kemudahan untuk pembahasan ini sampai selesai dan menjadikannya bernilai pahala untuk si pembaca, penulis, serta yang menjadi sebab tersebarnya pembahasan ini.

NIAT

Niat merupakan sesuatu yang harus ada dalam setiap ibadah baik berupa salat atau yang lainnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ …

“Sesunguhnya saja amalan itu tergantung dengan niatnya …
” (HR. al-Bukhari no. 1, Muslim no. 1907).

DIMANAKAH LETAK NIAT?

Tempatnya adalah di hati, syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

النية)) محلها القلب، ولا محل لها في اللسان في جميع الأعمال)

“Niat itu tempatnya di hati dan tidak ada tempat untuk niat ini pada lisan. Ini berlaku pada semua amalan.” ( Syarh Riyadh ash-Shālihīn, jilid 1, hlm. 14).

DEFINISI NIAT

Asy-Syaikh Abdullah Alu Bassam rahimahullah menerangkan tentang definisi niat. Beliau menuturkan,

النية لغة القصد

“Niat secara bahasa maknanya adalah tujuan.”

Demikian pula beliau menerangkan secara istilah syariat Islam,

وشرعا العزم على فعل العبادة تقربا إلى الله تعالى

“Secara syariat maknanya adalah tekad untuk melakukan ibadah dengan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.” ( Taisīr al-Allām, hlm. 15).

BAGAIMANA PRAKTIK NIAT?

Niat ini sangat mudah praktiknya, karena tidaklah seseorang melakukan sesuatu melainkan disertai dengan niat, tujuan, dan tekad, syekh Ibnu Utsaimin menerangkan,

! قال بعض العلماء : لو كلفنا الله عملا بلا نية لكان من تكليف ما لا يطاق

“Sebagian Ulama berkata,

‘Jika seandainya Allah membebani kita pada suatu amalan tanpa niat, tentu ini adalah pembebanan yang tidak dimampui.”
( Syarh Riyadh ash-Shālihīn, jilid 1, hlm. 16).

HUKUM MELAFAZKAN NIAT

Maka tatkala seseorang bertekad melakukan sesuatu, maka inilah yang disebut dengan niat. Adapun melafazkan niat, maka ini adalah perbuatan yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi dan para sahabat, syekh Ibnu Utsaimin menerangkan,

ولهذا كان من نطق بالنية عند إرادة الصلاة، أو الصوم، أو الحج، أو الوضوء، أو غير ذلك من الأعمال كان مبتدعا قائلا في دين الله ما ليس منه؛ لأن النبي صلي الله عليه وسم كان يتوضأ، ويصلي ويتصدق، ويصوم ويحج، ولم يكن ينطق بتالنية، فلم يكن يقول: اللهم إني نويت أن أتوضأ، اللهم إني نويت أن أصلي، اللهم إني نويت أن أتصدق، اللهم إني نويت أن أحج، لم يكن يقول هذا؛ وذلك لأن النية محلها القلب، والله عز وجل يعلم ما في القلب، ولا يخفي عليه شيء.

“Oleh karena ini, barang siapa yang melafazkan niat ketika hendak salat, puasa, haji, wudu, atau amalan-amalan lainnya, maka sungguh dia melakukan kebidahan, dia berkata di dalam agama Allah yang bukan bagian darinya.

Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam dahulu berwudu, salat, bersedekah, puasa, dan haji, beliau tidak pernah melafazkan niat, beliau tidak mengatakan Allahumma inni nawaitu an atawadhdha’ (ya Allah aku niat berwudu), Allahumma inni nawaitu an ushalli (Ya Allah aku niat salat), Allahumma inni nawaitu an atashaddaq (Ya Allah aku niat bersedekah), Allahumma inni nawaitu an ahujj (Ya Allah aku niat berhaji).

Hal ini karena niat itu letaknya di hati, Allah Azza wa Jalla mengetahui apa yang ada di dalam hati, tidak samar bagi Allah sesuatu pun.”
( Syarh Riyadh ash-Shālihīn, jilid 1, hlm. 14).

✍🏻 Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: APA HUKUMNYA APABILA LUPA NIAT?

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

HUKUM MENGANGKAT SALAH SATU TELAPAK TANGAN KETIKA SUJUD

HUKUM MENGANGKAT SALAH SATU TELAPAK TANGAN KETIKA SUJUD

Pertanyaan:

Bismillah.
Afwan ustadz ingin bertanya. Ketika seseorang sujud, dia mengangkat satu telapak tangannya karena ada keperluan kemudian meletakkannya ulang, apakah sujudnya batal?

Jazakumullahu khayran.

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail ‘Abdurrahman Ibnu ‘Umar hafizhahullah.

Di dalam hadis sahih disebutkan,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ وَلَا نَكْفِتَ الثِّيَابَ وَالشَّعَرَ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku diperintahkan untuk melaksanakan sujud dengan tujuh tulang (anggota sujud); kening—beliau lantas memberi isyarat dengan tangannya menunjuk hidung—kedua telapak tangan, kedua lutut, ujung jari dari kedua kaki, dan tidak boleh menahan rambut atau pakaian (sehingga menghalangi anggota sujud).” (HR. al-Bukhari, no. 812).

Banyak faedah yang dapat dipetik dari hadis di atas di antaranya:

  1. Wajibnya sujud dengan menggunakan tujuh anggota tersebut karena disebutkan dengan lafaz yang bermakna perintah sehingga memberikan makna pengharusan.

Jika seseorang tidak mengamalkan sebagiannya, yakni misal dia hanya sujud dengan satu tangan sedangkan tangan satunya disembunyikan, atau dia angkat kakinya dan yang satu disentuhkan ke lantai sahkah salatnya? Jawabannya adalah salatnya batal, Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

والسجود على هذه الأعضاء السبعة واجب في كل حال السجود، بمعنى أنه لا يجوز أن يرفع عضوا من أعضائه حال سجوده، لا يدا، ولا رجلا، ولا أنفا، ولا جبهة، ولا شيئا من هذه الأعضاء السبعة. فإن فعل؛ فإن كان في جميع حال السجود فلا شك أن سجوده لا يصح؛ لأنه نقص عضوا من الأعضاء التي يجب أن يسجد عليها.

“Sujud dengan tujuh anggota ini hukumnya wajib pada setiap keadaan. Maknanya adalah tidak boleh seseorang mengangkat satu saja dari anggota-anggota sujud tersebut ketika dalam keadaan sujud, entah itu tangan, kaki, hidung, atau kening apapun bentuknya dari tujuh anggota tersebut. Jika dia lakukan dalam keadaan sujud secara sempurna, maka sujudnya tidak sah tanpa diragukan lagi karena dia telah mengurangi salah satu dari anggota-anggota yang wajib baginya untuk sujud dengannya.” (As-Syarhul Mumti’, jilid 3, hlm. 116).

Jika seseorang tidak mampu, misal tangannya hanya satu, atau telapak tangannya terluka parah?

Jawabannya adalah bertakwa kepada Allah sesuai kemampuan karena hal ini di luar kesanggupannya, Allah ta’ala berfirman,

{فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ } [التغابن: 16]

“Maka bertakwalah kepada Allah sesuai (batas) kemampuan kalian.” (at-Taghabun: 16).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُم

“Apabila aku perintahkan kalian terhadap suatu perkara maka tunaikanlah semampu kalian.” (HR. al-Bukhari, no. 7288).

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

فإذا قدر أن إحدى يديه جريحة، لا يستطيع أن يسجد عليها، فليسجد على بقية الأعضاء؛ لقوله تعالى: {فاتقوا الله ما استطعتم} [التغابن: ١٦]

“Apabila telah ditakdirkan salah satu dari tangannya terluka, dia tidak mampu sujud dengannya, maka hendaknya dia sujud semampunya dengan sebagian anggota sujud yang dia mampu berdasarkan firman Allah,

‘Hendaknya kalian bertakwa sesuai dengan kemampuan kalian.’.” (As-Syarhul Mumti’, jilid 3, hlm.117).

Bagaimana jika seseorang berkeinginan menggarut salah satu anggota tubuhnya?

Semestinya yang seperti ini dihindari, hal ini lebih selamat, hendaknya dia bersabar sampai pindah keadaannya dari sujud.

Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menerangkan,

وأما إن كان في أثناء السجود؛ بمعنى أن رجلا حكته رجله مثلا فحكها بالرجل الأخرى فهذا محل نظر، قد يقال: إنها لا تصح صلاته لأنه ترك هذا الركن في بعض السجود.
وقد يقال: إنه يجزئه لأن العبرة بالأعم والأكثر، فإذا كان الأعم والأكثر أنه ساجد على الأعضاء السبعة أجزأه، وعلى هذا فيكون الاحتياط: ألا يرفع شيئا وليصبر حتى لو أصابته حكة في يده مثلا، أو في فخذه، أو في رجله فليصبر حتى يقوم من السجود.

“Adapun apabila di pertengahan sujud seseorang ingin menggarut kakinya sebagai contoh. Dia garut dengan kakinya yang berada di samping, maka hal ini perlu ditinjau. Bisa jadi dikatakan, ‘Salatnya tidak sah karena dia telah meninggalkan rukun ini ketika sujud.’ Dan terkadang bisa dikatakan, ‘Salatnya tetap sah karena yang dijadikan tolok ukur adalah keumuman, apabila secara umum dan kebanyakan dia sujud dengan tujuh anggota ini maka tetap sah.’

Atas dasar ini sebaiknya untuk kehati-hatian jangan dia mengangkat sedikit pun dari tujuh anggota tersebut saat sujud! Hendaknya dia bersabar! Sekalipun dia merasakan gatal di tangan, paha, atau kakinya sebagai contoh. Maka hendaknya dia bersabar sampai berdiri dari sujud.” (Asy-Syarhul Mumti’, jilid 3, hlm. 116).

  1. Sujud wanita sama dengan sujud laki-laki berdasarkan keumuman hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik dengan lafaz di atas ataupun dengan lafaz lain.”

Barakallahu fiykum.

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

BAGAIMANA CARA PEMBAGIAN WARISAN UNTUK IBU

BAGAIMANA CARA PEMBAGIAN WARISAN UNTUK IBU

Pertanyaan

Bismillah.
Seorang ibu mempunyai harta warisan 50 juta (hanya punya ibu, bapak sudah meninggal), beliau memiliki 2 anak laki-laki dan 6 anak perempuan. Afwan ustadz bagaimana cara pembagian warisnya Jazakumullohukhoiron.

Jawaban

Oleh al-Ustadz Abu Ahmad Purwokerto hafizhahullah

Ibu dari yang meninggal dapat seperenam dari 50 jt, sisanya (5/6) dibagi antara anak-anak, anak laki-laki mendapat dua kali bagian anak perempuan.

Berarti 5/6 tersebut dibagi 10 bagian (4 bagian untuk 2 anak laki-laki dan 6 bagian untuk 6 anak perempuan), masing-masing bagian = 5/60 atau sama dengan 1/12, anak perempuan dapat 1 bagian (1/12) anak laki-laki dapat dua bagian (2/12=1/6)

Kesimpulannya pada kasus yang disebutkan ibu mendapatkan 8.333.333.

Anak-anak laki-laki masing-masing mendapatkan 8.333.333 juga.

Anak-anak perempuan masing-masing mendapatkan setengahnya 4.166.666.

Pembulatannya sesuai kesepakatan saja.

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

BERPUASA PADA TANGGAL 11 MUHARAM

Pertanyaan:

Bismillah.
Assalamu’alaikum. Afwan ustadz, izin bertanya. Apakah boleh jika kita berpuasa pada tanggal 10 Muharam, kemudian berpuasa pula tanggal 11 Muharam (karena terlewatkan pada tanggal 9)? Atau hanya tanggal 10 saja?

Mohon bimbingannya. Barakallahu fiikum.

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail ‘Abdurrahman ibnu ‘Umar hafizhahullah.

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, pendapat yang ana lebih cenderung padanya adalah yang telah dikuatkan oleh Syekh Zakariya hafizhahullah bahwa,

“Cukup puasa tanggal 10 saja bagi yang terlewatkan tanggal 9.”

Karena tidak ada dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa tanggal 11, untuk menetapkan suatu ibadah diperlukan dalil yang shahih dan jelas.

Tetapi bagaimana untuk menyelisihi kaum Yahudi?

Menyelisihi Yahudi dan Nasrani itu pada tanggal 9, bukan pada tanggal 11.

Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata,

حين صام رسول الله يوم عاشوراء وأمر بصيامه قالوا يا رسول الله إنه يوم يعظمه اليهود والنصارى فقال رسول الله فإذا كان العام المقبل إن شاء الله صمنا اليوم التاسع قال: فلم يأت العام المقبل حتى توفي رسول الله

Ketika Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam puasa pada hari Asyura dan memerintahkan untuk puasa pada hari itu, para sahabat berkata:

“Itu adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.”

Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Bila tiba tahun depan insyaallah kita akan puasa pada hari ke-9 (bulan Muharam).”

Ibnu ‘Abbas berkata:

“Namun belum sampai tahun depan kecuali Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam telah wafat terlebih dahulu.” (HR. Muslim no.1134).

Wallahua’lam

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

APAKAH DISUNAHKAN MEMAKAN HATI HEWAN KURBAN BAGI YANG BERKURBAN?

بسم الله الرحمن الرحيم

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

يسن الأكل منأضحيته، والأكل من الأضحية عليه دليل منالكتاب والسنة، قال تعالى: {فَكُلُواْ مِنْهَا وَأَطْعِمُواْ الْبَآئِسَ الْفَقِيرَ} . والنبي عليه الصلاة والسلام، أمر بالأكل من الأضحية، وأكل منأضحيته، فاجتمعت السنتان القولية، والفعلية.
وأما اختيار أن يكون الأكل من الكبد فإنما اختاره الفقهاء، لأنها أخف وأسرع نضجاً، وليس من باب التعبد بذلك

“Disunahkan bagi yang berkurban makan dari hewan kurbannya, dan hal ini terdapat dalil dari al-Quran dan as-Sunnah, Allah Ta’ala berfirman,

‘Dan makanlah dari hewan kurban tersebut dan berilah makan orang-orang yang kesulitan lagi fakir.’ (al-Hajj: 28).

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memakan dari hewan kurban dan beliau pun memakan hewan kurbannya. Maka terkumpulah dua sunah, ucapan dan perbuatan.

Adapun orang yang berkurban memilih untuk memakan hati dari hewannya, maka ini adalah pendapat yang dipilih oleh fukaha karena hatinya lebih ringan dan lebih cepat matang. Dan hal itu bukan termasuk dalam bab ibadah.”

Sumber: Majmu’ al-Fatāwā, jilid 16, hlm. 236.

📲 Alih bahasa:
Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له

Baca Juga: HAL LAIN YANG TERKAIT DENGAN HEWAN KURBAN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

FAEDAH PENTING TENTANG KURBAN DAN AKIKAH

بسم الله الرحمن الرحيم

FAEDAH PENTING TENTANG KURBAN DAN AKIKAH

  1. Jenis hewan yang dijadikan akikah dan kurban
  2. Hukum akikah atau berkurban dengan hewan betina

Saudara-saudara sekalian perlu kita ketahui bahwa berkurban harus dengan bahimatul an-‘ām dan akikah menurut pendapat yang kuat harus dengan kambing, bolehkah berkurban atau akikah dengan hewan betina? Mari kita simak penjelasan ulama berikut ini.

Akikah tidak boleh melainkan harus dengan kambing, karena Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan dengan kambing. Ini yang dipahami oleh Ummul Mukminin Aisyah  radhiyallahu ‘anha.

عَنْ عَطَاءٍ قَالَ: قَالَتِ امْرَأَةٌ عِنْدَ عَائِشَةَ: لَوْ وَلَدَتِ امْرَأَةُ فَلَانٍ نَحْرَنَا عَنْهُ جَزُورًا. قَالَتْ عَائِشَةُ: لاَ، وَلَكِنَّ السُّنَّةَ عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ وَاحِدَةٌ

Dari ‘Atha’, seseorang berkata di hadapan Aisyah, “Seandainya istri si anu melahirkan, kami akan menyembelihkan seekor unta untuknya.” Aisyah berkata, “Tidak, yang sesuai dengan sunah (ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) untuk anak laki-laki dua ekor kambing, sedangkan untuk anak wanita satu ekor.”

Asy-Syaikh al-Albani mengatakan,

وقولها “لا” فإنه صريح في أنه لا تجزئ العقيقة بغير الغنم

“Ucapan Aisyah, ‘Tidak’, merupakan penegasan bahwa akikah tidak sah dengan selain kambing.” (Ash-Shahihah, no. 2720).

Adapun untuk kurban, maka Allah Ta’ala telah menerangkan,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

“Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) supaya mereka menyebut Nama Allah terhadap bahimatul an-‘ām yang telah direzekikan Allah kepada mereka.” (Al-Hajj: 34).

Yang dimaksud dengan bahimatul an-‘ām atau al-ān’am adalah unta, sapi, dan kambing dengan segala macam jenisnya.

al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata,

فَشَرْطُ الْمُجْزِئِ فِي الْأُضْحِيَّةِ أَنْ يَكُونَ مِنْ الْأَنْعَامِ وَهِيَ الْإِبِلُ وَالْبَقَرُ وَالْغَنَمُ… وَسَوَاءٌ الذَّكَرُ وَالْأُنْثَى مِنْ جَمِيعِ ذَلِكَ وَلَا خِلَافَ فِي شئ مِنْ هَذَا عِنْدَنَا

“Syarat sah pada hewan kurban adalah termasuk dari al-ān’am yaitu unta, sapi dan kambing… baik jantan maupun betina dari semua jenis hewan tersebut dan tidak ada perbedaan pendapat tentang hal ini di dalam mazhab kami.” (al-Majmu’, jilid 8, hlm. 393).

Boleh menggunakan hewan betina baik untuk akikah atau pun kurban. Al-Imam an-Nawawi pun menjelaskan,

قال النبي صلى الله عليه وسلم “على الغلام شاتان وعلى الجارية شاة لا يضركم ذكرانا كن أو أناثا ” وإذا جاز ذلك في العقيقة بهذا الخبر دل على جوازه في الأضحية ولأن لحم الذكر أطيب ولحم الأنثى أرطب

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Untuk anak laki-laki akikah dengan dua kambing dan anak perempuan dengan satu kambing, tidak mengapa menggunakan kambing jantan atau pun betina’. Apabila ini dibolehkan dalam hal akikah dengan berlandaskan hadis ini, maka menunjukkan boleh juga dalam hal berkurban karena daging hewan jantan lebih bagus dan daging hewan betina lebih segar.” (al-Majmu’, jilid 8, hlm. 393).

Adapun dari sisi mana yang lebih utama, maka hewan jantan lebih utama untuk kurban karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan hewan jantan, al-Hafizh Ibnu Hajar tatkala menerangkan hadis yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua kambing jantan yang bertanduk, beliau menyebutkan,

وفيه أن  الذَّكَرَ فِي الْأُضْحِيَّةِ أَفْضَلُ مِنَ الْأُنْثَى

“Di dalam hadis ini diambil faedah bahwa hewan jantan lebih utama daripada hewan betina untuk berkurban.” (Fath al-Bārī, jilid 10, hlm. 11).

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa untuk akikah yang wajib adalah menggunakan kambing, baik kambing jantan maupun betina, dua-duanya sah. Adapun untuk berkurban maka yang wajib adalah menggunakan al-ān’am yaitu unta, sapi, atau kambing; baik hewan jantan atau pun betina, dua-duanya sah, namun yang afdal adalah hewan jantan. Oleh karena ini antara kurban dan akikah ada sisi kesamaan dan perbedaan, sisi kesamaannya adalah akikah dan kurban boleh hewan jantan maupun betina, sisi perbedaannya adalah kurban harus dengan bahimatul an-‘ām sedangkan akikah harus dengan kambing.

Demikian pembahasan ini dikumpulkan semoga bermanfaat untuk kaum muslimin secara umum.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم والحمد لله رب العالمين

✍🏻 Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: JANGAN PERNAH BERHENTI BERTOBAT

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

LARANGAN MEMOTONG KUKU RAMBUT DAN KULIT BAGI YANG BERKURBAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Dalam hal ini terdapat dalil yang jelas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ummul mukminin ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا دخلت العشر وأراد أحدكم أن يضحي فلا يمس من شعره وبشره شيئا

“Apabila sudah masuk sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dan di antara kalian ada yang ingin berkurban, maka janganlah dia mengambil sedikitpun dari rambut dan kulitnya.” (HR. Muslim no. 1.977).

Di dalam lafaz lain disebutkan,

مَن كانَ له ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فإذا أُهِلَّ هِلالُ ذِي الحِجَّةِ، فلا يَأْخُذَنَّ مِن شَعْرِهِ، ولامِن أظْفارِهِ شيئًا حتَّى يُضَحِّيَ.

“Barang siapa yang memiliki sesembelihan yang akan disembelihnya (untuk kurban) dan telah masuk bulan Zulhijah, maka janganlah dia memotong rambut dan kukunya sedikitpun sampai dia berkurban.” (HR. Muslim no. 1.977).

Kesimpulan dari kedua lafaz hadis di atas, bahwa tidak boleh mengambil salah satu dari bagian yang disebutkan di dalam hadis ini yaitu rambut, kulit dan kuku, larangan tersebut berlaku tatkala seseorang ingin berkurban mulai awal bulan Zulhijah sampai dia berkurban.

Masalah pertama: Hukum mengambil salah satu dari bagian-bagian tersebut.

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum mengambil bagian-bagian yang disebutkan di dalam hadis di atas, pendapat yang kuat wal’ilmu ‘indallah bahwa hukumnya adalah haram karena hukum asal di dalam larangan adalah haram, al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan tentang hadis di atas beliau berkata,

ومقتضى النهي التحريم

“Konsekuensi larangan di dalam hadis tersebut adalah hukumnya haram.” (al-Mughni, Jilid 9, hlm. 437).

Syekh Abdul Aziz ibnu Baz berkata,

حرم على من أراد الضحية من الرجال أو النساء أخذ شيء من الشعر، أو الظفر، أو البشرة من جميع البدن، سواء كان من شعر الرأس، أو من الشارب أو من العانة، أو من الإبط، أو من بقية البدن… حتى يضحي

“Haram hukumnya bagi yang ingin berkurban dari kalangan laki-laki maupun perempuan untuk mengambil sesuatu dari rambut, kuku atau kulit dari seluruh tubuh, baik rambut kepala, kumis, rambut kemaluan dan ketiak atau semua yang tumbuh di anggota badan…sampai dia berkurban.” (Majmu’ al-Fatawa, Jilid 18, hlm. 181).

Masalah kedua: Seseorang hendak berkurban setelah tanggal 1 Zulhijah dan sebelum itu sudah memotong rambut.

Jika seseorang hendak berkurban di pertengahan hari-hari dari sepuluh hari pertama bulan Zulhijah, misal dia hendak berkurban pada tanggal 6 tetapi antara tanggal 1 sampai 5, dia sudah melakukan potong rambut dan kuku, bolehkah yang demikian ini? Jawabannya adalah boleh, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan hukum larangan tidak bolehnya mengambil bagian-bagian tersebut dengan keinginan untuk berkurban. Maka larangan tersebut berlaku ketika seseorang memiliki keinginan untuk berkurban, Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

فإن دخل العشر وهو لا يريد الأضحية ثم أرادها في أثناء العشر أمسك عن أخذ ذلك منذ إرادته ولا يضره ما أخذ قبل إرادته

“Jika telah masuk sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dalam keadaan dia belum ada keinginan berkurban, kemudian dia baru berkeinginan di pertengahannya (setelah tanggal 1), maka hendaknya dia menahan diri dari mengambil bagian-bagian tersebut semenjak dia berkeinginan. Dan tidak mengapa jika dia telah melakukannya sebelum itu.” (Ahkam al-Udhiyyah, Jilid 2, hlm. 255).

Masalah ketiga: Jika seseorang lupa atau tidak sengaja.

Tatkala seseorang lupa atau tidak sengaja memotong kuku atau melakukan larangan tersebut, maka tidak berdosa berdasarkan firman Allah ta’ala,

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (QS. Al Baqarah: 286).
Lalu Allah menjawab, “ya (Aku telah mengabulkannya).”
(HR. Muslim no. 125).

Masalah keempat: Jika seseorang sengaja melanggarnya apakah kurbannya tidak diterima?

Tidak diragukan lagi tatkala seseorang melanggar larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia terjatuh ke dalam perbuatan dosa, namun apakah konsekuensinya kurbannya tidak akan diterima? Dalam hal ini syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah telah menerangkan,

يتوهم بعض العامة أن من أراد الأضحية ثم أخذ من شعره أو ظفره أو بشرته شيئا في أيام العشر لم تقبل أضحيته هذا خطأ بين فلا علاقة بين قبول الأضحية والأخذ مما ذكر لكن من أخذ بدون عذر فقد خالف أمر النبي صلى الله عليه وسلم بالإمساك ووقع فيما نهى عنه من الأخذ فعليه أن يستغفر الله ويتوب إليه ولا يعود وأما ضحيته فلا يمنع قبولها أخذه من ذلك

“Sebagian orang awam memahami bahwa barang siapa yang ingin berkurban, kemudian dia mengambil sesuatu dari rambut, kuku atau kulitnya pada waktu sepuluh hari itu, maka kurbannya tidak akan diterima. Ini adalah kesalahan yang jelas, tidak ada kaitannya antara diterimanya kurban dengan mengambil bagian-bagian yang telah disebutkan. Akan tetapi, barang siapa yang melakukannya tanpa uzur, maka sungguh dia telah menyelesihi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menahan diri dari melakukannya dan dia telah terjatuh ke dalam melanggar larangan. Maka wajib baginya untuk beristigfar bertaubat kepada Allah dan tidak mengulanginya. Adapun kurbannya, maka tidak menghalangi untuk diterima.” (Ahkam al-Udhiyyah, Jilid 2, hlm. 256).

Masalah kelima: Jika diperlukan untuk memotong rambut, kuku dan kulit dalam kondisi darurat.

Jika seseorang terluka di kepala atau di tempat manapun dari anggota tubuhnya yang mengharuskan untuk diambil kulit, rambut atau kukunya, maka hukumnya boleh karena itu semua adalah perkara darurat, dalam hal ini syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan,

وأما من احتاج إلى أخذ الشعر والظفر والبشرة فأخذها فلا حرج عليه مثل أن يكون به جرح فيحتاج إلى قص الشعر عنه أو ينكسر ظفره فيؤذيه فيقص ما يتأذى به أو تتدلى قشرة من جلده فتؤذيه فيقصها فلا حرج عليه في ذلك كله

“Adapun seseorang yang memerlukan untuk mengambil rambut, kuku dan kulit, maka tidak mengapa, seperti terdapat luka (dikepalanya) maka diperlukan untuk menggunting rambutnya, atau kukunya retak sehingga hal itu mengganggunya, maka digunting bagian kuku yang mengganggu tersebut, atau kulitnya menggantung sehingga mengganggunya, maka digunting bagian yang mengganggu tersebut, semua ini hukumnya tidak mengapa.” ( Ahkam al-Udhiyyah, Jilid 2, hlm. 256).

Masalah keenam: Ketika bersisir rambut berjatuhan.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

إذا احتاجت المرأة إلى المشط في هذه الأيام وهي تريد أن تضحي فلا حرج عليها أن تمشط رأسها ولكن تكده برفق فإن سقط شيء من الشعر بغير قصد فلا إثم عليها لأنها لم تكد الشعر من أجل أن يتساقط ولكن من أجل إصلاحه والتساقط حصل بغير قصد.

“Apabila seorang wanita memerlukan untuk bersisir pada sepuluh hari pertama ini dan dia berkeinginan untuk berkurban, maka tidak mengapa dia menyisir rambutnya tetapi, dengan perlahan. Jika berjatuhan tanpa sengaja maka tidak ada dosa baginya karena tidaklah dia menyisir rambutnya dengan tujuan untuk merontokkannya, tetapi untuk merapikannya. Dan berjatuhannya rambut tersebut terjadi tanpa disengaja.” (Fatāwa Nūrun āla ad-Darb, Jilid 13, hlm. 2).

Masalah ketujuh: Apakah ada tebusan bagi yang melakukannya?

Tatkala larangan tersebut dilanggar baik karena lupa ataupun sengaja, maka tidak ada tebusan apapun bagi pelakunya berdasarkan kesepakatan para ulama dan tidak menghalangi keabsahan kurbannya, al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

إذَا ثَبَتَ هَذَا، فَإِنَّهُ يَتْرُكُ قَطْعَ الشَّعْرِ وَتَقْلِيمَ الْأَظْفَارِ، فَإِنْ فَعَلَ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ تَعَالَى. وَلَا فِدْيَةَ فِيهِ إجْمَاعًا، سَوَاءٌ فَعَلَهُ عَمْدًا أَوْ نِسْيَانًا.

“Apabila hal ini telah tetap, maka tidak boleh rambut dan kuku dipotong, jika dia lakukan, maka hendaknya dia beristigfar kepada Allah ta’ala. Dan tidak ada tebusan apapun bagi yang melakukannya sesuai dengan kesepakatan ulama baik dikerjakan dengan sengaja ataupun tidak, seperti lupa.” (al-Mughni, Jilid 9, hlm. 437).

Masalah kedelapan: Apakah larangan tersebut berlaku pula bagi keluarga yang berkurban dan yang lainnya?

Larangan ini hanya berlaku bagi yang berkurban saja, adapun orang-orang yang diniatkan pahalanya seperti keluarga dan yang lainnya maka syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

وأما من يضحى عنه فظاهر الحديث وكلام كثير من أهل العلم أن النهي لا يشمله، فيجوز له الأخذ من شعره وظفره وبشرته، ويؤيد ذلك أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يضحي عن آل محمد ولم ينقل أنه كان ينهاهم عن ذلك

“Adapun orang yang diniatkan pahalanya, maka yang nampak dari hadis dan penjelasan kebanyakan ulama bahwa larangan tersebut tidak mencakup mereka. Maka boleh bagi mereka untuk mengambil rambut, kuku dan kulitnya, yang menguatkan hal ini adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berkurban untuk keluarga Muhammad dan tidak dinukil bahwa beliau melarang mereka dari yang demikian itu.” (Ahkam al-Udhiyyah, Jilid 2, hlm. 256).

Dan larangan ini juga tidak berlaku pada wakil yang diserahi penyembelihan, syekh Abdul Aziz Ibnu Baz rahimahullah berkata,

أما الوكيل الموكل على الضحايا، فهذا لا حرج عليه، الوكيل ما هو مضحٍّ

“Adapun wakil yang diserahi penyembelihan hewan-hewan kurban maka tidak mengapa, karena wakil itu bukanlah yang berkurban.”
(Fatāwā Nūrun Alā ad-Darb, Jilid 18, hlm. 181).

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: 
RINGKASAN FIKIH KURBAN
SYARAT-SYARAT HEWAN KURBAN
JENIS HEWAN YANG DIJADIKAN KURBAN
PIHAK YANG BERHAK MENERIMA KURBAN
HAL YANG BERKAITAN TENTANG PENYEMBELIHAN
LARANGAN MEMOTONG KUKU RAMBUT DAN KULIT BAGI YANG BERKURBAN
HAL LAIN YANG TERKAIT DENGAN HEWAN KURBAN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com