HUKUM MENGANGKAT SALAH SATU TELAPAK TANGAN KETIKA SUJUD

HUKUM MENGANGKAT SALAH SATU TELAPAK TANGAN KETIKA SUJUD

Pertanyaan:

Bismillah.
Afwan ustadz ingin bertanya. Ketika seseorang sujud, dia mengangkat satu telapak tangannya karena ada keperluan kemudian meletakkannya ulang, apakah sujudnya batal?

Jazakumullahu khayran.

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail ‘Abdurrahman Ibnu ‘Umar hafizhahullah.

Di dalam hadis sahih disebutkan,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ وَلَا نَكْفِتَ الثِّيَابَ وَالشَّعَرَ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku diperintahkan untuk melaksanakan sujud dengan tujuh tulang (anggota sujud); kening—beliau lantas memberi isyarat dengan tangannya menunjuk hidung—kedua telapak tangan, kedua lutut, ujung jari dari kedua kaki, dan tidak boleh menahan rambut atau pakaian (sehingga menghalangi anggota sujud).” (HR. al-Bukhari, no. 812).

Banyak faedah yang dapat dipetik dari hadis di atas di antaranya:

  1. Wajibnya sujud dengan menggunakan tujuh anggota tersebut karena disebutkan dengan lafaz yang bermakna perintah sehingga memberikan makna pengharusan.

Jika seseorang tidak mengamalkan sebagiannya, yakni misal dia hanya sujud dengan satu tangan sedangkan tangan satunya disembunyikan, atau dia angkat kakinya dan yang satu disentuhkan ke lantai sahkah salatnya? Jawabannya adalah salatnya batal, Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

والسجود على هذه الأعضاء السبعة واجب في كل حال السجود، بمعنى أنه لا يجوز أن يرفع عضوا من أعضائه حال سجوده، لا يدا، ولا رجلا، ولا أنفا، ولا جبهة، ولا شيئا من هذه الأعضاء السبعة. فإن فعل؛ فإن كان في جميع حال السجود فلا شك أن سجوده لا يصح؛ لأنه نقص عضوا من الأعضاء التي يجب أن يسجد عليها.

“Sujud dengan tujuh anggota ini hukumnya wajib pada setiap keadaan. Maknanya adalah tidak boleh seseorang mengangkat satu saja dari anggota-anggota sujud tersebut ketika dalam keadaan sujud, entah itu tangan, kaki, hidung, atau kening apapun bentuknya dari tujuh anggota tersebut. Jika dia lakukan dalam keadaan sujud secara sempurna, maka sujudnya tidak sah tanpa diragukan lagi karena dia telah mengurangi salah satu dari anggota-anggota yang wajib baginya untuk sujud dengannya.” (As-Syarhul Mumti’, jilid 3, hlm. 116).

Jika seseorang tidak mampu, misal tangannya hanya satu, atau telapak tangannya terluka parah?

Jawabannya adalah bertakwa kepada Allah sesuai kemampuan karena hal ini di luar kesanggupannya, Allah ta’ala berfirman,

{فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ } [التغابن: 16]

“Maka bertakwalah kepada Allah sesuai (batas) kemampuan kalian.” (at-Taghabun: 16).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُم

“Apabila aku perintahkan kalian terhadap suatu perkara maka tunaikanlah semampu kalian.” (HR. al-Bukhari, no. 7288).

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

فإذا قدر أن إحدى يديه جريحة، لا يستطيع أن يسجد عليها، فليسجد على بقية الأعضاء؛ لقوله تعالى: {فاتقوا الله ما استطعتم} [التغابن: ١٦]

“Apabila telah ditakdirkan salah satu dari tangannya terluka, dia tidak mampu sujud dengannya, maka hendaknya dia sujud semampunya dengan sebagian anggota sujud yang dia mampu berdasarkan firman Allah,

‘Hendaknya kalian bertakwa sesuai dengan kemampuan kalian.’.” (As-Syarhul Mumti’, jilid 3, hlm.117).

Bagaimana jika seseorang berkeinginan menggarut salah satu anggota tubuhnya?

Semestinya yang seperti ini dihindari, hal ini lebih selamat, hendaknya dia bersabar sampai pindah keadaannya dari sujud.

Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menerangkan,

وأما إن كان في أثناء السجود؛ بمعنى أن رجلا حكته رجله مثلا فحكها بالرجل الأخرى فهذا محل نظر، قد يقال: إنها لا تصح صلاته لأنه ترك هذا الركن في بعض السجود.
وقد يقال: إنه يجزئه لأن العبرة بالأعم والأكثر، فإذا كان الأعم والأكثر أنه ساجد على الأعضاء السبعة أجزأه، وعلى هذا فيكون الاحتياط: ألا يرفع شيئا وليصبر حتى لو أصابته حكة في يده مثلا، أو في فخذه، أو في رجله فليصبر حتى يقوم من السجود.

“Adapun apabila di pertengahan sujud seseorang ingin menggarut kakinya sebagai contoh. Dia garut dengan kakinya yang berada di samping, maka hal ini perlu ditinjau. Bisa jadi dikatakan, ‘Salatnya tidak sah karena dia telah meninggalkan rukun ini ketika sujud.’ Dan terkadang bisa dikatakan, ‘Salatnya tetap sah karena yang dijadikan tolok ukur adalah keumuman, apabila secara umum dan kebanyakan dia sujud dengan tujuh anggota ini maka tetap sah.’

Atas dasar ini sebaiknya untuk kehati-hatian jangan dia mengangkat sedikit pun dari tujuh anggota tersebut saat sujud! Hendaknya dia bersabar! Sekalipun dia merasakan gatal di tangan, paha, atau kakinya sebagai contoh. Maka hendaknya dia bersabar sampai berdiri dari sujud.” (Asy-Syarhul Mumti’, jilid 3, hlm. 116).

  1. Sujud wanita sama dengan sujud laki-laki berdasarkan keumuman hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik dengan lafaz di atas ataupun dengan lafaz lain.”

Barakallahu fiykum.

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

BAGAIMANA CARA PEMBAGIAN WARISAN UNTUK IBU

BAGAIMANA CARA PEMBAGIAN WARISAN UNTUK IBU

Pertanyaan

Bismillah.
Seorang ibu mempunyai harta warisan 50 juta (hanya punya ibu, bapak sudah meninggal), beliau memiliki 2 anak laki-laki dan 6 anak perempuan. Afwan ustadz bagaimana cara pembagian warisnya Jazakumullohukhoiron.

Jawaban

Oleh al-Ustadz Abu Ahmad Purwokerto hafizhahullah

Ibu dari yang meninggal dapat seperenam dari 50 jt, sisanya (5/6) dibagi antara anak-anak, anak laki-laki mendapat dua kali bagian anak perempuan.

Berarti 5/6 tersebut dibagi 10 bagian (4 bagian untuk 2 anak laki-laki dan 6 bagian untuk 6 anak perempuan), masing-masing bagian = 5/60 atau sama dengan 1/12, anak perempuan dapat 1 bagian (1/12) anak laki-laki dapat dua bagian (2/12=1/6)

Kesimpulannya pada kasus yang disebutkan ibu mendapatkan 8.333.333.

Anak-anak laki-laki masing-masing mendapatkan 8.333.333 juga.

Anak-anak perempuan masing-masing mendapatkan setengahnya 4.166.666.

Pembulatannya sesuai kesepakatan saja.

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

BERPUASA PADA TANGGAL 11 MUHARAM

Pertanyaan:

Bismillah.
Assalamu’alaikum. Afwan ustadz, izin bertanya. Apakah boleh jika kita berpuasa pada tanggal 10 Muharam, kemudian berpuasa pula tanggal 11 Muharam (karena terlewatkan pada tanggal 9)? Atau hanya tanggal 10 saja?

Mohon bimbingannya. Barakallahu fiikum.

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail ‘Abdurrahman ibnu ‘Umar hafizhahullah.

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, pendapat yang ana lebih cenderung padanya adalah yang telah dikuatkan oleh Syekh Zakariya hafizhahullah bahwa,

“Cukup puasa tanggal 10 saja bagi yang terlewatkan tanggal 9.”

Karena tidak ada dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa tanggal 11, untuk menetapkan suatu ibadah diperlukan dalil yang shahih dan jelas.

Tetapi bagaimana untuk menyelisihi kaum Yahudi?

Menyelisihi Yahudi dan Nasrani itu pada tanggal 9, bukan pada tanggal 11.

Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata,

حين صام رسول الله يوم عاشوراء وأمر بصيامه قالوا يا رسول الله إنه يوم يعظمه اليهود والنصارى فقال رسول الله فإذا كان العام المقبل إن شاء الله صمنا اليوم التاسع قال: فلم يأت العام المقبل حتى توفي رسول الله

Ketika Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam puasa pada hari Asyura dan memerintahkan untuk puasa pada hari itu, para sahabat berkata:

“Itu adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.”

Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Bila tiba tahun depan insyaallah kita akan puasa pada hari ke-9 (bulan Muharam).”

Ibnu ‘Abbas berkata:

“Namun belum sampai tahun depan kecuali Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam telah wafat terlebih dahulu.” (HR. Muslim no.1134).

Wallahua’lam

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

APAKAH DISUNAHKAN MEMAKAN HATI HEWAN KURBAN BAGI YANG BERKURBAN?

بسم الله الرحمن الرحيم

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

يسن الأكل منأضحيته، والأكل من الأضحية عليه دليل منالكتاب والسنة، قال تعالى: {فَكُلُواْ مِنْهَا وَأَطْعِمُواْ الْبَآئِسَ الْفَقِيرَ} . والنبي عليه الصلاة والسلام، أمر بالأكل من الأضحية، وأكل منأضحيته، فاجتمعت السنتان القولية، والفعلية.
وأما اختيار أن يكون الأكل من الكبد فإنما اختاره الفقهاء، لأنها أخف وأسرع نضجاً، وليس من باب التعبد بذلك

“Disunahkan bagi yang berkurban makan dari hewan kurbannya, dan hal ini terdapat dalil dari al-Quran dan as-Sunnah, Allah Ta’ala berfirman,

‘Dan makanlah dari hewan kurban tersebut dan berilah makan orang-orang yang kesulitan lagi fakir.’ (al-Hajj: 28).

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memakan dari hewan kurban dan beliau pun memakan hewan kurbannya. Maka terkumpulah dua sunah, ucapan dan perbuatan.

Adapun orang yang berkurban memilih untuk memakan hati dari hewannya, maka ini adalah pendapat yang dipilih oleh fukaha karena hatinya lebih ringan dan lebih cepat matang. Dan hal itu bukan termasuk dalam bab ibadah.”

Sumber: Majmu’ al-Fatāwā, jilid 16, hlm. 236.

📲 Alih bahasa:
Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له

Baca Juga: HAL LAIN YANG TERKAIT DENGAN HEWAN KURBAN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

FAEDAH PENTING TENTANG KURBAN DAN AKIKAH

بسم الله الرحمن الرحيم

FAEDAH PENTING TENTANG KURBAN DAN AKIKAH

  1. Jenis hewan yang dijadikan akikah dan kurban
  2. Hukum akikah atau berkurban dengan hewan betina

Saudara-saudara sekalian perlu kita ketahui bahwa berkurban harus dengan bahimatul an-‘ām dan akikah menurut pendapat yang kuat harus dengan kambing, bolehkah berkurban atau akikah dengan hewan betina? Mari kita simak penjelasan ulama berikut ini.

Akikah tidak boleh melainkan harus dengan kambing, karena Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan dengan kambing. Ini yang dipahami oleh Ummul Mukminin Aisyah  radhiyallahu ‘anha.

عَنْ عَطَاءٍ قَالَ: قَالَتِ امْرَأَةٌ عِنْدَ عَائِشَةَ: لَوْ وَلَدَتِ امْرَأَةُ فَلَانٍ نَحْرَنَا عَنْهُ جَزُورًا. قَالَتْ عَائِشَةُ: لاَ، وَلَكِنَّ السُّنَّةَ عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ وَاحِدَةٌ

Dari ‘Atha’, seseorang berkata di hadapan Aisyah, “Seandainya istri si anu melahirkan, kami akan menyembelihkan seekor unta untuknya.” Aisyah berkata, “Tidak, yang sesuai dengan sunah (ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) untuk anak laki-laki dua ekor kambing, sedangkan untuk anak wanita satu ekor.”

Asy-Syaikh al-Albani mengatakan,

وقولها “لا” فإنه صريح في أنه لا تجزئ العقيقة بغير الغنم

“Ucapan Aisyah, ‘Tidak’, merupakan penegasan bahwa akikah tidak sah dengan selain kambing.” (Ash-Shahihah, no. 2720).

Adapun untuk kurban, maka Allah Ta’ala telah menerangkan,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

“Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) supaya mereka menyebut Nama Allah terhadap bahimatul an-‘ām yang telah direzekikan Allah kepada mereka.” (Al-Hajj: 34).

Yang dimaksud dengan bahimatul an-‘ām atau al-ān’am adalah unta, sapi, dan kambing dengan segala macam jenisnya.

al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata,

فَشَرْطُ الْمُجْزِئِ فِي الْأُضْحِيَّةِ أَنْ يَكُونَ مِنْ الْأَنْعَامِ وَهِيَ الْإِبِلُ وَالْبَقَرُ وَالْغَنَمُ… وَسَوَاءٌ الذَّكَرُ وَالْأُنْثَى مِنْ جَمِيعِ ذَلِكَ وَلَا خِلَافَ فِي شئ مِنْ هَذَا عِنْدَنَا

“Syarat sah pada hewan kurban adalah termasuk dari al-ān’am yaitu unta, sapi dan kambing… baik jantan maupun betina dari semua jenis hewan tersebut dan tidak ada perbedaan pendapat tentang hal ini di dalam mazhab kami.” (al-Majmu’, jilid 8, hlm. 393).

Boleh menggunakan hewan betina baik untuk akikah atau pun kurban. Al-Imam an-Nawawi pun menjelaskan,

قال النبي صلى الله عليه وسلم “على الغلام شاتان وعلى الجارية شاة لا يضركم ذكرانا كن أو أناثا ” وإذا جاز ذلك في العقيقة بهذا الخبر دل على جوازه في الأضحية ولأن لحم الذكر أطيب ولحم الأنثى أرطب

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Untuk anak laki-laki akikah dengan dua kambing dan anak perempuan dengan satu kambing, tidak mengapa menggunakan kambing jantan atau pun betina’. Apabila ini dibolehkan dalam hal akikah dengan berlandaskan hadis ini, maka menunjukkan boleh juga dalam hal berkurban karena daging hewan jantan lebih bagus dan daging hewan betina lebih segar.” (al-Majmu’, jilid 8, hlm. 393).

Adapun dari sisi mana yang lebih utama, maka hewan jantan lebih utama untuk kurban karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan hewan jantan, al-Hafizh Ibnu Hajar tatkala menerangkan hadis yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua kambing jantan yang bertanduk, beliau menyebutkan,

وفيه أن  الذَّكَرَ فِي الْأُضْحِيَّةِ أَفْضَلُ مِنَ الْأُنْثَى

“Di dalam hadis ini diambil faedah bahwa hewan jantan lebih utama daripada hewan betina untuk berkurban.” (Fath al-Bārī, jilid 10, hlm. 11).

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa untuk akikah yang wajib adalah menggunakan kambing, baik kambing jantan maupun betina, dua-duanya sah. Adapun untuk berkurban maka yang wajib adalah menggunakan al-ān’am yaitu unta, sapi, atau kambing; baik hewan jantan atau pun betina, dua-duanya sah, namun yang afdal adalah hewan jantan. Oleh karena ini antara kurban dan akikah ada sisi kesamaan dan perbedaan, sisi kesamaannya adalah akikah dan kurban boleh hewan jantan maupun betina, sisi perbedaannya adalah kurban harus dengan bahimatul an-‘ām sedangkan akikah harus dengan kambing.

Demikian pembahasan ini dikumpulkan semoga bermanfaat untuk kaum muslimin secara umum.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم والحمد لله رب العالمين

✍🏻 Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: JANGAN PERNAH BERHENTI BERTOBAT

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

LARANGAN MEMOTONG KUKU RAMBUT DAN KULIT BAGI YANG BERKURBAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Dalam hal ini terdapat dalil yang jelas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ummul mukminin ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا دخلت العشر وأراد أحدكم أن يضحي فلا يمس من شعره وبشره شيئا

“Apabila sudah masuk sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dan di antara kalian ada yang ingin berkurban, maka janganlah dia mengambil sedikitpun dari rambut dan kulitnya.” (HR. Muslim no. 1.977).

Di dalam lafaz lain disebutkan,

مَن كانَ له ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فإذا أُهِلَّ هِلالُ ذِي الحِجَّةِ، فلا يَأْخُذَنَّ مِن شَعْرِهِ، ولامِن أظْفارِهِ شيئًا حتَّى يُضَحِّيَ.

“Barang siapa yang memiliki sesembelihan yang akan disembelihnya (untuk kurban) dan telah masuk bulan Zulhijah, maka janganlah dia memotong rambut dan kukunya sedikitpun sampai dia berkurban.” (HR. Muslim no. 1.977).

Kesimpulan dari kedua lafaz hadis di atas, bahwa tidak boleh mengambil salah satu dari bagian yang disebutkan di dalam hadis ini yaitu rambut, kulit dan kuku, larangan tersebut berlaku tatkala seseorang ingin berkurban mulai awal bulan Zulhijah sampai dia berkurban.

Masalah pertama: Hukum mengambil salah satu dari bagian-bagian tersebut.

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum mengambil bagian-bagian yang disebutkan di dalam hadis di atas, pendapat yang kuat wal’ilmu ‘indallah bahwa hukumnya adalah haram karena hukum asal di dalam larangan adalah haram, al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan tentang hadis di atas beliau berkata,

ومقتضى النهي التحريم

“Konsekuensi larangan di dalam hadis tersebut adalah hukumnya haram.” (al-Mughni, Jilid 9, hlm. 437).

Syekh Abdul Aziz ibnu Baz berkata,

حرم على من أراد الضحية من الرجال أو النساء أخذ شيء من الشعر، أو الظفر، أو البشرة من جميع البدن، سواء كان من شعر الرأس، أو من الشارب أو من العانة، أو من الإبط، أو من بقية البدن… حتى يضحي

“Haram hukumnya bagi yang ingin berkurban dari kalangan laki-laki maupun perempuan untuk mengambil sesuatu dari rambut, kuku atau kulit dari seluruh tubuh, baik rambut kepala, kumis, rambut kemaluan dan ketiak atau semua yang tumbuh di anggota badan…sampai dia berkurban.” (Majmu’ al-Fatawa, Jilid 18, hlm. 181).

Masalah kedua: Seseorang hendak berkurban setelah tanggal 1 Zulhijah dan sebelum itu sudah memotong rambut.

Jika seseorang hendak berkurban di pertengahan hari-hari dari sepuluh hari pertama bulan Zulhijah, misal dia hendak berkurban pada tanggal 6 tetapi antara tanggal 1 sampai 5, dia sudah melakukan potong rambut dan kuku, bolehkah yang demikian ini? Jawabannya adalah boleh, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan hukum larangan tidak bolehnya mengambil bagian-bagian tersebut dengan keinginan untuk berkurban. Maka larangan tersebut berlaku ketika seseorang memiliki keinginan untuk berkurban, Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

فإن دخل العشر وهو لا يريد الأضحية ثم أرادها في أثناء العشر أمسك عن أخذ ذلك منذ إرادته ولا يضره ما أخذ قبل إرادته

“Jika telah masuk sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dalam keadaan dia belum ada keinginan berkurban, kemudian dia baru berkeinginan di pertengahannya (setelah tanggal 1), maka hendaknya dia menahan diri dari mengambil bagian-bagian tersebut semenjak dia berkeinginan. Dan tidak mengapa jika dia telah melakukannya sebelum itu.” (Ahkam al-Udhiyyah, Jilid 2, hlm. 255).

Masalah ketiga: Jika seseorang lupa atau tidak sengaja.

Tatkala seseorang lupa atau tidak sengaja memotong kuku atau melakukan larangan tersebut, maka tidak berdosa berdasarkan firman Allah ta’ala,

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (QS. Al Baqarah: 286).
Lalu Allah menjawab, “ya (Aku telah mengabulkannya).”
(HR. Muslim no. 125).

Masalah keempat: Jika seseorang sengaja melanggarnya apakah kurbannya tidak diterima?

Tidak diragukan lagi tatkala seseorang melanggar larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia terjatuh ke dalam perbuatan dosa, namun apakah konsekuensinya kurbannya tidak akan diterima? Dalam hal ini syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah telah menerangkan,

يتوهم بعض العامة أن من أراد الأضحية ثم أخذ من شعره أو ظفره أو بشرته شيئا في أيام العشر لم تقبل أضحيته هذا خطأ بين فلا علاقة بين قبول الأضحية والأخذ مما ذكر لكن من أخذ بدون عذر فقد خالف أمر النبي صلى الله عليه وسلم بالإمساك ووقع فيما نهى عنه من الأخذ فعليه أن يستغفر الله ويتوب إليه ولا يعود وأما ضحيته فلا يمنع قبولها أخذه من ذلك

“Sebagian orang awam memahami bahwa barang siapa yang ingin berkurban, kemudian dia mengambil sesuatu dari rambut, kuku atau kulitnya pada waktu sepuluh hari itu, maka kurbannya tidak akan diterima. Ini adalah kesalahan yang jelas, tidak ada kaitannya antara diterimanya kurban dengan mengambil bagian-bagian yang telah disebutkan. Akan tetapi, barang siapa yang melakukannya tanpa uzur, maka sungguh dia telah menyelesihi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menahan diri dari melakukannya dan dia telah terjatuh ke dalam melanggar larangan. Maka wajib baginya untuk beristigfar bertaubat kepada Allah dan tidak mengulanginya. Adapun kurbannya, maka tidak menghalangi untuk diterima.” (Ahkam al-Udhiyyah, Jilid 2, hlm. 256).

Masalah kelima: Jika diperlukan untuk memotong rambut, kuku dan kulit dalam kondisi darurat.

Jika seseorang terluka di kepala atau di tempat manapun dari anggota tubuhnya yang mengharuskan untuk diambil kulit, rambut atau kukunya, maka hukumnya boleh karena itu semua adalah perkara darurat, dalam hal ini syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan,

وأما من احتاج إلى أخذ الشعر والظفر والبشرة فأخذها فلا حرج عليه مثل أن يكون به جرح فيحتاج إلى قص الشعر عنه أو ينكسر ظفره فيؤذيه فيقص ما يتأذى به أو تتدلى قشرة من جلده فتؤذيه فيقصها فلا حرج عليه في ذلك كله

“Adapun seseorang yang memerlukan untuk mengambil rambut, kuku dan kulit, maka tidak mengapa, seperti terdapat luka (dikepalanya) maka diperlukan untuk menggunting rambutnya, atau kukunya retak sehingga hal itu mengganggunya, maka digunting bagian kuku yang mengganggu tersebut, atau kulitnya menggantung sehingga mengganggunya, maka digunting bagian yang mengganggu tersebut, semua ini hukumnya tidak mengapa.” ( Ahkam al-Udhiyyah, Jilid 2, hlm. 256).

Masalah keenam: Ketika bersisir rambut berjatuhan.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

إذا احتاجت المرأة إلى المشط في هذه الأيام وهي تريد أن تضحي فلا حرج عليها أن تمشط رأسها ولكن تكده برفق فإن سقط شيء من الشعر بغير قصد فلا إثم عليها لأنها لم تكد الشعر من أجل أن يتساقط ولكن من أجل إصلاحه والتساقط حصل بغير قصد.

“Apabila seorang wanita memerlukan untuk bersisir pada sepuluh hari pertama ini dan dia berkeinginan untuk berkurban, maka tidak mengapa dia menyisir rambutnya tetapi, dengan perlahan. Jika berjatuhan tanpa sengaja maka tidak ada dosa baginya karena tidaklah dia menyisir rambutnya dengan tujuan untuk merontokkannya, tetapi untuk merapikannya. Dan berjatuhannya rambut tersebut terjadi tanpa disengaja.” (Fatāwa Nūrun āla ad-Darb, Jilid 13, hlm. 2).

Masalah ketujuh: Apakah ada tebusan bagi yang melakukannya?

Tatkala larangan tersebut dilanggar baik karena lupa ataupun sengaja, maka tidak ada tebusan apapun bagi pelakunya berdasarkan kesepakatan para ulama dan tidak menghalangi keabsahan kurbannya, al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

إذَا ثَبَتَ هَذَا، فَإِنَّهُ يَتْرُكُ قَطْعَ الشَّعْرِ وَتَقْلِيمَ الْأَظْفَارِ، فَإِنْ فَعَلَ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ تَعَالَى. وَلَا فِدْيَةَ فِيهِ إجْمَاعًا، سَوَاءٌ فَعَلَهُ عَمْدًا أَوْ نِسْيَانًا.

“Apabila hal ini telah tetap, maka tidak boleh rambut dan kuku dipotong, jika dia lakukan, maka hendaknya dia beristigfar kepada Allah ta’ala. Dan tidak ada tebusan apapun bagi yang melakukannya sesuai dengan kesepakatan ulama baik dikerjakan dengan sengaja ataupun tidak, seperti lupa.” (al-Mughni, Jilid 9, hlm. 437).

Masalah kedelapan: Apakah larangan tersebut berlaku pula bagi keluarga yang berkurban dan yang lainnya?

Larangan ini hanya berlaku bagi yang berkurban saja, adapun orang-orang yang diniatkan pahalanya seperti keluarga dan yang lainnya maka syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

وأما من يضحى عنه فظاهر الحديث وكلام كثير من أهل العلم أن النهي لا يشمله، فيجوز له الأخذ من شعره وظفره وبشرته، ويؤيد ذلك أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يضحي عن آل محمد ولم ينقل أنه كان ينهاهم عن ذلك

“Adapun orang yang diniatkan pahalanya, maka yang nampak dari hadis dan penjelasan kebanyakan ulama bahwa larangan tersebut tidak mencakup mereka. Maka boleh bagi mereka untuk mengambil rambut, kuku dan kulitnya, yang menguatkan hal ini adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berkurban untuk keluarga Muhammad dan tidak dinukil bahwa beliau melarang mereka dari yang demikian itu.” (Ahkam al-Udhiyyah, Jilid 2, hlm. 256).

Dan larangan ini juga tidak berlaku pada wakil yang diserahi penyembelihan, syekh Abdul Aziz Ibnu Baz rahimahullah berkata,

أما الوكيل الموكل على الضحايا، فهذا لا حرج عليه، الوكيل ما هو مضحٍّ

“Adapun wakil yang diserahi penyembelihan hewan-hewan kurban maka tidak mengapa, karena wakil itu bukanlah yang berkurban.”
(Fatāwā Nūrun Alā ad-Darb, Jilid 18, hlm. 181).

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: 
RINGKASAN FIKIH KURBAN
SYARAT-SYARAT HEWAN KURBAN
JENIS HEWAN YANG DIJADIKAN KURBAN
PIHAK YANG BERHAK MENERIMA KURBAN
HAL YANG BERKAITAN TENTANG PENYEMBELIHAN
LARANGAN MEMOTONG KUKU RAMBUT DAN KULIT BAGI YANG BERKURBAN
HAL LAIN YANG TERKAIT DENGAN HEWAN KURBAN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

HAL LAIN YANG TERKAIT DENGAN HEWAN KURBAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Pada subjudul ini kita akan menyebutkan beberapa pembahasan lain yang masih berkaitan dengan hewan kurban. Ada beberapa pembahasan yang akan kita lewati di antaranya:

  1. Apakah wajib berkurban di tempat mukim dan apakah boleh seseorang berkurban di luar daerahnya? Yang afdal adalah seseorang berkurban di daerahnya. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata,

الْأَفْضَلُ أَنْ يُضَحِّيَ فِي دَارِهِ بِمَشْهَدِ أَهْلِهِ هكذا قاله أصحابنا

“Yang afdal adalah seseorang berkurban di tempat mukimnya dengan disaksikan keluarganya. Demikianlah pendapat mazhab kami.” (Al-Majmu’, Jilid 8, hlm. 425).

Hal itu karena tatkala seseorang berkurban di selain tempatnya, akan luput sunah memakan kurban tersebut bersama keluarganya. Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin ‘ berkata,

فالأفضل لمن أراد أن يضحي عن أهله وعنه أن يضحي في مكان إقامتهم جميعًا؛ ليأكلوا منها جميعًا

“Yang afdal bagi orang yang hendak berkurban untuknya dan keluarganya adalah hendaknya dia berkurban di tempat mereka mukim agar semua bisa memakannya” (Majmu’ al-Fatawa, Jilid 25, hlm. 92).

Bagaimana jika seseorang tinggal di negara atau daerah kafir yang sulit dijumpai di dalamnya orang-orang muslim, apakah boleh dia berkurban di negara atau daerah lain agar bisa dibagi-bagikan kepada muslimin? Syekh ‘Abdul’aziz bin Baz rahimahullah mengatakan,

لا مانع في ذلك إن أرسلها تذبح هناك، هذا حسن بواسطة الثقات، وإن أرسل قيمتها فلا بأس، لكن كونه يذبحها عنده إذا تيسر من يأكلها من أصحابه وإخوانه أفضل، يقيم السنة في محله عند الجاليات الإسلامية، ويهدي لإخوانه الطلبة والمسلمين، ويهدي منها إلى الكفار، ما فيه بأس إذا كانوا غير محاربين للإسلام؛

“Tidak mengapa jika dia lakukan hal itu. Dia mengirim hewan kurban supaya disembelih di sana. Yang demikian ini bagus jika dengan perantara orang-orang yang terpercaya. Adapun jika dia mengirimkan uang untuk dibeli dan dikurbankan di sana, tidak mengapa. Namun, jika dia sembelih di tempatnya dan jika dimudahkan sahabat-sahabat dan saudara-saudaranya menyantapnya, maka yang demikian afdal. Dia menegakkan sunah di tempatnya di komunitas Islam. Dia hadiahkan teruntuk saudara-saudaranya dari kalangan penuntut ilmu dan muslimin. Boleh dia hadiahkan kurban tersebut kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi islam.” (Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Jilid 18, hlm. 206).

Beliau pun menerangkan dalam kesempatan yang lain,

إذا ضحى في بيته وأكل منها ووسع على من حوله كان أفضل تأسيًا بالنبي
صلى الله عليه وسلم

“Apabila seseorang berkurban di tempatnya, dia makan dan bagi-bagikan kepada orang-orang sekitarnya, maka yang demikian ini afdal karena meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Jilid 18, hlm. 207).

Kesimpulannya, yang afdal adalah seseorang berkurban di tempat mukimnya meskipun boleh dia berkurban di tempat lain karena suatu hal.

  1. Bolehkah menggabungkan antara niat kurban, akikah, dan walimah dalam satu resepsi untuk tiga jenis ibadah? Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Pendapat yang kuat–wal-’ilmu ‘indallah–tidak boleh karena masing-masing ibadah tersendiri. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah menerangkan,

لَوْ نَوَى بِشَاةٍ الْأُضْحِيَّةَوَالْعَقِيقَةَ لَمْ تَحْصُلْ وَاحِدَةٌ مِنْهُمَا وهو ظاهر لأن كلا منهما سنة مقصودة

“Jika seseorang berniat dengan kambingnya untuk berkurban dan akikah, tidaklah bisa tercapai. Inilah yang tampak karena masing-masing dari keduanya sunah yang dituju (secara sendiri-sendiri).” (Tuhfah al-Muhtaj, Jilid 9, hlm. 369–370).

Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menerangkan,

لو لم يعين الأضحية وأراد أن يجمع في شاة واحدة أضحية ووليمة فلا يجوز ذلك، وإن كان قياس كلام ابن القيم جواز ذلك، حيث أجاز رحمه الله الجمع بين نية الأضحية والعقيقة في شاة واحدة، وفي كلامه نظر، لاختلاف الحكم بين الأضحية والعقيقة، واختلاف السبب أيضا، فالصحيح عدم الجواز في الجمع بين نية الأضحية والعقيقة، وكذلك بين نية الأضحية والوليمة

“Jika seseorang belum menentukan kurban dan dia ingin menggabungkan niat dengan satu kambing untuk kurban dan walimah, maka yang demikian itu tidak boleh meskipun kias dari ucapan Ibnul Qayyim menyebutkan akan bolehnya hal itu. Beliau berpendapat bolehnya menggabungkan niat kurban dan akikah dengan satu kambing. Namun, pendapat beliau ini perlu ditinjau lagi karena antara akikah dan kurban hukum dan sebabnya berbeda. Pendapat yang benar adalah tidak boleh menggabungkan antara niat kurban dan akikah. Demikian pula antara niat kurban dan walimah.” (Majmu’ al-Fatawa, Jilid 25, hlm.107).

  1. Tatkala seseorang menyembelih hewan kurbannya sendiri, maka yang demikian afdal. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

وإن ذبحها بيده كان أفضل لأن النبي صلى الله عليه وسلم ضحى بكبشين أقرنين أملحين ذبحهما بيده

“Jika seseorang menyembelihnya dengan tangannya sendiri, maka yang demikian itu afdal karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua kambing bertanduk yang putih kehitam-hitaman dan beliau sembelih dengan tangannya.” (Al-Mughni, Jilid 9, hlm. 455–456).

Namun, boleh dia mencari ganti karena mungkin belum ahli dalam penyembelihan. Ibnu Qudamah rahimahullah menerangkan,

فإن استناب فيها جاز لأن النبي صلى الله عليه وسلم استناب من نحر باقي بدنه بعد ثلاث وستين

“Jika dia mencari ganti dalam penyembelihan, maka hukumnya boleh karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencari ganti orang yang me-nahr sisa untanya setelah beliau sembelih sebanyak 63 ekor.” (Al-Mughni, Jilid, 9, hlm. 456).

  1. Apakah harus seseorang menyaksikan proses penyembelihan? Ibnu Qudamah menyebutkan bahwa hukum menyaksikannya adalah sunah. Beliau mengatakan,

ويستحب أن يحضر ذبحها

“Disunahkan menghadiri penyembelihannya.” (Al-Mughni, Jilid 9, hlm. 456).

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah pun menerangkan,

وَيُسْتَحَبُّ إذَا وَكَّلَ أَنْ يَحْضُرَ ذَبْحَهَ

“Disunahkan apabila seseorang mewakilkan sesembelihan hewan kurban untuk menghadirinya.” (Al-Majmu’, Jilid 8, hlm. 405).

Demikian pula Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berkata,

وقد قال أهل العلم إن المضحي إذا كان لا يحسن الذبح فالأفضل أن يحضر ذبحها

“Sungguh para ulama mengatakan, sesungguhnya seseorang yang berkurban apabila tidak bisa melakukan penyembelihan dengan baik, maka yang afdal adalah dia tetap menghadiri proses penyembelihan.” (Majmu’ al-Fatawa, Jilid 25, hlm. 69).

Kesimpulannya, ketika seseorang berkurban secara utuh, maka yang afdal adalah dia menyembelih sendiri. Namun, jika dia belum mangetahui tata caranya dengan baik, maka boleh diwakilkan. Namun, yang afdal adalah dia menyaksikan proses penyembelihan. Adapun jika dia tidak menghadirinya yang mungkin terhalangi dengan uzur, maka dia tidak berdosa. Adapun hadis dengan lafaz,

فاطمةُ قُومي إلى أضحيتِكِ فاشهدَيها، فإنَّ لكِ بكلِّ قطرةٍ تَقطرُ من دمِها أن يُغْفَرَ لكِ ما سلفَ من ذنوبِكِ قالتْ: يا رسولَ اللهِ ألنا خاصةًأهلَ البيتِ أو لنا وللمسلمينَ عامةً ؟ قال: بل لنا وللمسلمينَ عامةً

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fatimah, “Wahai Fatimah datanglah ke tempat penyembelihan hewan kurbanmu dan saksikanlah saat penyembelihannya. Sesungguhnya bagimu dari setiap tetesan darahnya yang mengalir pengampunan dosa-dosa yang telah lalu.” Fathimah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah hal ini khusus bagi kita ahlulbait atau juga untuk kaum muslimin secara umum?” Beliau menjawab, “Untuk kita dan kaum muslimin secara umum.”

Hadis ini tidak disebutkan dengan satu lafaz. Namun, Imam ahli hadis Muhammad Nashiruddin al-Albani menyebutkan di dalam adh-Dha’ifah no. 6.828 bahwa sanadnya lemah. Beliau juga menyebutkan di dalam kitab yang sama no. 528 sebagian lafaznya dengan sanad yang mungkar, sehingga hadis di atas tidak bisa dijadikan sandaran.

Demikian pembahasan ini dikumpulkan.

untuk penomoran kitab Ahkam al-Udhiyyah dari al-Maktabah asy-Syamilah

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم والحمد لله رب العالمين

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له ولوالديه ولإخوانه المسلمين
Baturaja, 24 Syawal 1441 H/16 Juni 2020.

Baca Juga: 
RINGKASAN FIKIH KURBAN
SYARAT-SYARAT HEWAN KURBAN
JENIS HEWAN YANG DIJADIKAN KURBAN
PIHAK YANG BERHAK MENERIMA KURBAN
HAL YANG BERKAITAN TENTANG PENYEMBELIHAN
LARANGAN MEMOTONG KUKU RAMBUT DAN KULIT BAGI YANG BERKURBAN
HAL LAIN YANG TERKAIT DENGAN HEWAN KURBAN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

HAL YANG BERKAITAN TENTANG PENYEMBELIHAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Pembahasan tentang penyembelihan ini lebih umum karena mencakup hewan kurban, akikah, dan lain sebagainya yang di dalam kitab-kitab fikih kerap disebut dengan sebutan dzakah. Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menerangkan,

الذكاة نحر الحيوان البري الحلال أو ذبحه أو جرحه في أي موضع من بدنه فالنحر للإبل والذبح لما سواها والجرح لكل ما لا يقدر عليه إلا به من أبل وغيرها

“Dzakah maknanya menjagal hewan darat yang halal; menyembelihnya atau melukainya di bagian mana pun dari tubuhnya. Karena itu, menjagal pada unta dengan melakukan nahr, pada hewan yang lainnya dengan menyembelih, dan pada hewan yang tidak bisa dijagal kecuali dengan melukai maka dengan melukai, baik unta maupun yang lainnya.” (Ahkam al-Udhhiyyah, Jilid 2, hlm. 259).

Masalah Pertama: Cara Melakukan Nahr pada Unta.

Bagaimana tata cara melakukan nahr pada unta? Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan,

المستحب في الإبل النحر، وهو قطع اللبة أسفل العنق

“Perkara disunahkan pada unta adalah nahr, yakni dengan cara memotong labah, yaitu (tempat kalung) bagian bawah leher.” (Raudhah ath-Thalibin, Jilid 3, hlm. 206).

Beliau pun menerangkan tata caranya,

فيستحب نحر الإبل وهي قائمة معقولة اليد اليسرى صح في سنن أبي داود عن جابر رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه كانوا ينحرون البدنة معقولة اليسرى قائمة على ما بقي من قوائمها إسناده على شرط مسلم

“Disunahkan melakukan nahr pada unta dalam keadaan unta tersebut berdiri dan kaki depan sebelah kiri diikat. Telah sahih riwayat di dalam sunan Abu Dawud dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya melakukan nahr pada unta, kaki depan sebelah kirinya diikat, dalam keadaan berdiri diatas tiga kakinya yang tersisa. Sanad riwayat ini sesuai dengan syarat Muslim.” (Syarh Shahih Muslim, Jilid 9, hlm. 69).

Namun, untuk penyembelihan unta ini hendaknya diserahkan kepada yang ahli dan berpengalaman karena tidak semua orang bisa melakukannya. Telah disebutkan suatu kisah tentang al-Imam Abu Hanifah rahimahullah,

وقد روي عن أبي حنيفة رضي الله عنه أنه قال: نحرت بدنة قائمة معقولة فلم أشق عليها فكدت أهلك ناسا لأنها نفرت فاعتقدت أن لا أنحرها إلا باركة معقولة وأولي
من هو أقدر على ذلك مني

“Sungguh telah diriwayatkan dari Abu Hanifah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, ‘Aku telah melakukan nahr pada unta dalam keadaan berdiri lagi terikat, tetapi aku tidak mampu untuk merobek lehernya. Hampir-hampir aku mencelakakan manusia karena unta tersebut lari. Hal itu membuatku yakin bahwa aku tidak akan melakukan nahr pada unta kecuali dalam keadaan dia menderum dan terikat. Kemudian setelah itu, aku serahkan (penyembelihan unta) kepada yang lebih berpengalaman dariku” (Badai’ ash-Shani’, Jilid 5, hlm. 79).

Masalah Kedua: Cara Penyembelihan Sapi dan Kambing.

Adapun untuk sapi dan kambing, cara yang mudah adalah dengan disembelih seperti yang al-Imam an-Nawawi rahimahullah sampaikan,

أما البقر والغنم فيستحب أن تذبح مضجعة على جنبها الأيسر وتترك رجلها اليمنى وتشد قوائمها الثلاث

“Adapun sapi dan kambing, dianjurkan untuk disembelih dengan membaringkannya ke sebelah kiri, membiarkan kaki kanannya, dan mengikat tiga kakinya yang lain.” (Syarh Shahih Muslim, Jilid 9, hlm. 69).

Beliau pun menerangkan,

واتفق العلماء وعمل المسلمين على أن إضجاعها يكون على جانبها الأيسر لأنه أسهل على الذابح في أخذ السكين باليمين وإمساك رأسها باليسار

“Para ulama sepakat, demikian pula amalan kaum muslimin bahwa hewan kurban tersebut dibaringkan ke sebelah kiri karena yang demikian itu lebih mudah bagi si penyembelih tatkala dia memegang pisau dengan tangan kanannya dan tangan kiri memegang kepala hewan tersebut.” (Syarh Shahih Muslim, Jilid 13, hlm. 122).

Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menyebutkan bahwa hewan selain unta, disembelih dengan dibaringkan secara umum tanpa menyebutkan arahnya ke kiri atau ke kanan. Beliau mengatakan,

يذبح غير الإبل مضجعة على جنبها، ويضع رجله على صفحة عنقها ليتمكن منها؛ لما روى أنس بن مالك رضي الله عنه قال: ضحى رسول الله صلى الله عليه وسلم بكبشين أملحين ـ وفي رواية: أقرنين فرأيته واضعا قدمه على صفاحهما يسمى ويكبر فذبحهما بيده. رواه البخاري

“Hewan selain unta, disembelih dengan membaringkan lambungnya dan yang menyembekih meletakkan kakinya di atas lehernya agar kuat ketika menyembelihnya. Hal itu berlandaskan pada riwayat yang datang dari Anas radhiyallahu ‘anhu yang berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dua kambing yang warnanya putih kehitam-hitaman–di dalam suatu riwayatdisebutkan bertanduk. Aku melihat beliau meletakkan kakinya di leher hewan tersebut. Kemudin beliau membaca basmalah dan takbir. Setelah itu, beliau menyembelih hewan tersebut dengan tangannya.” (Ahkam al-Udhhiyyah, Jilid 2, hlm. 284).

Memang yang lebih mudah membaringkan hewan ke sebelah kiri. Namun, terkadang seorang yang kidal sulit untuk menerapkan hal tersebut. Jika seperti ini keadaannya, hewan dibaringkan ke sebelah kanan. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menuturkan,

ويكون الإضجاع على الجنب الأيسر، لأنه اسهل للذبح، فإن كان الذابح أعسر وهو الأشدف الذي يعمل بيده اليسرى عمل اليد اليمني، وكان اليسر له أن يضجعها على الجنب الأيمن، فلا بأس أن يضجعها عليه؛ لأن المهم راحة الذبيحة

“Hewan tersebut dibaringkan ke lambung sebelah kirinya karena hal itu lebih mudah untuk penyembelihan. Jika si penyembelih merasa kesulitan karena dia adalah seorang yang kidal yang tangan kirinya berperan menjadi tangan kanan dan menjadi mudah baginya untuk menyembelih ketika dibaringkan ke sebelah kanan, maka tidak mengapa karena yang terpenting adalah menjadikan hewan yang disembelih tersebut merasa nyaman.” (Ahkam al-Udhhiyyah, Jilid 2, hlm. 284).

Ketika menyembelih, hendaknya kepala hewan diangkat agar terlihat bagian yang akan disembelih. Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menerangkan,

وينبغي أن يمسك برأسها ويرفعه قليلا ليبين محل الذبح

“Semestinya untuk menahan kepala (hewan) dan mengangkatnya sedikit (mendongakkannya) agar terlihat jelas bagian yang akan disembelih.” (Ahkam al-Udhhiyyah, Jilid 2, hlm. 284).

Ketika menyembelih hewan, hendaknya dengan cara mengistirahatkannya agar jangan sampai dia tersiksa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan,

وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ

“Hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim no. 1.955).

Disebutkan di dalam fatwa al-Lajnah ad-Da’imah,

يجب أن تكون التذكية في محل الذبح، وأن يقطع المريء والودجان، أو أحدهما

“Penyembelihan wajib dilakukan pada bagian tempat dipotongnya (leher) dan harus terpotong kerongkongan serta dua urat leher atau salah satunya.” (Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, Jilid 22, hlm. 464).

Setelah hewan disembelih, hendaknya dibiarkan saja, jangan ditahan. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan,

ويستحب أن لا يمسكها بعد الذبح مانعا لها من الاضطراب

“Dianjurkan untuk tidak menahannya setelah penyembelihan untuk mencegahnya dari menggelepar-gelepar. ” (Al-Majmu’, Jilid 9, hlm. 89).

Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menyebutkan dari sebagian ulama hikmahnya,

من فوائد إطلاقها وعدم إمساكها أن حركتها تزيد في إنهار الدم وإفراغه من الجسم

“Di antara faedah melepaskan dan tidak menahannya bahwasanya dengan bergeraknya hewan tersebut akan menambah darahnya mengalir dan menghabiskannya dari jasad.” (Ahkam al-Udhhiyyah, Jilid 2, hlm. 284).

Masalah Ketiga: Hukum Hewan yang Terpotong Kepalanya.

Jika si penyembelih melampaui batas dalam penyembelihannya sampai kepalanya terpotong, halalkah sembelihannya? Jawabannya adalah halal. Al-Imam al-Bukhari rahimahullah menyebutkan di dalam Shahih-nya di dalam kitab adz-Dzabaih wash-Shaid pada bab an-Nahr wadz-Dzabh,

وقال ابن عمر وابن عباس وأنس إذا قطع الرأس فلا بأس

“Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, dan Anas mengatakan, apabila kepalanya sampai terpotong, maka tidak mengapa.”

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menyebutkan,

فإن أحمد سئل عن رجل ذبح دجاجة، فأبان رأسها؟ قال: يأكلها

“Sesungguhnya al-Imam Ahmad telah ditanya tentang seseorang yang menyembelih ayam sampai kepalanya terpotong. Beliau menjawab, tidak mengapa untuk dimakan.” (Al-Mughni, Jilid 9, hlm. 401).

Namun, semestinya seorang muslim berhati-hati dalam menyembelih dan tidak melakukan yang demikian itu. Al-Imam Ibnu Abi Zaid al-Qayrawani rahimahullah menerangkan,

وإن تمادى حتى قطع الرأس أساء ولتؤكل

“Jika si penyembelih melampaui batas sampai terpotong kepala hewan tersebut, maka dia telah berbuat kesalahan. Namun, hukum hewannya (halal) dimakan.” (Ar-Risalah, Jilid 1, hlm. 80).

Masalah Keempat: Syarat Sah Hewan Sembelihan.

Terkait tentang syarat sahnya hewan sembelihan, maka Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menyebutkan ada sembilan syarat.

  1. Seorang yang menyembelih memungkinkan untuk bertujuan (berniat) ketika menyembelih, yaitu berusia tamyiz dan berakal.
  2. Si penyembelih adalah muslim atau ahli kitab (Yahudi dan Nasrani).
  3. Dia berniat menyembelih.
  4. Tidak menyembelih untuk selain Allah.
  5. Tidak memperuntukkannya kepada selain Allah dengan menyebut nama selain Allah ketika menyembelih.
  6. Membaca basmalah.
  7. Menyembelih dengan benda yang tajam yang dapat mengalirkan darah, tetapi bukan gigi atau kuku.
  8. Mengalirkan darah pada tempat penyembelihannya.
  9. Orang yang menyembelih adalah orang yang diizinkan oleh syariat dalam penyembelihannya (baik dengan hak Allah, yaitu dia bukan seorang yang sedang ihram; atau dengan hak makhluk, yaitu hewannya bukan hasil curian atau yang semisalnya).

Masalah Kelima: Hukum Hewan yang Disembelih Tanpa Disebut Basmalah.

Apakah hewan yang disembelih dengan tanpa disebut basmalah masih tetap sah walaupun lupa atau tidak sengaja? Dalam hal ini Allah taala telah menyebutkan,

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

“Janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.” (Al-An’am: 121).

Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menerangkan,

ولا فرق بين أن يترك اسم الله عليها عمدا مع العلم أو نسيانا أو جهلا لعموم هذه الاية، ولأن النبي صلى الله عليه وسلم جعل التسمية شرطا في الحل، والشرط لا يسقط بالنسيان والجهل

“Tidak ada perbedaan tatkala seseorang meninggalkan basmalah baik disengaja maupun tidak karena ayat ini umum. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan basmalah sebagai syarat dalam kehalalan hewan sembelihan; dan syarat tidaklah gugur karena lupa atau tidak sengaja.” (Mukhtashar Ahkam al-Udhhiyyah, Jilid 1, hlm 24).

Mungkin ada yang bertanya, bukankah Allah memaafkan orang yang lupa dan tidak sengaja? Beliau pun menerangkan,

أما أن نعرف أن هذه الذبيحة لم يسم عليها، فلا يجوز أكلها وأما فعل الذابح: فإذا نسي التسمية، فقد قال الله تعالى: ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا (البقرة: ٢٨٦) فإذا قال قائل: كيف تؤاخذونه وقد نسي؟! قلنا: لا نؤاخذه، فنقول: ليس عليك إثم بعدم التسمية، ولو تعمدت ترك التسمية لكنت آثما لما في ذلك من إضاعة المال وإفساده

“Adapun tatkala kita mengetahui bahwa sembelihan ini disembelih tanpa membaca basmalah, maka tidak boleh dimakan. Adapun jika si penyembelihnya lupa akan hal itu, maka sungguh Allah telah berfirman,

‘Ya Rabb kami, jangan engkau siksa kami jika kami lupa atau tidak sengaja.’ (Al-Baqarah: 286).

Jika ada yang bertanya bagaimana kalian menyatakan berdosa seseorang yang lupa? Kita katakan, kami tidak mengatakan demikian, tetapi kami katakan, engkau tidak berdosa jika melakukannya karena lupa. Namun, jika engkau sengaja, niscaya engkau berdosa karena telah menyia-nyiakan harta dan merusaknya.” (Asy-Syarh al-Mumti’, Jilid 7, hlm. 444).

Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan, hendaknya seseorang sangat berhati-hati ketika menyembelih hewan. Jangan sampai lupa membaca basmalah karena akibatnya fatal. Jika seseorang meninggalkan bacaan basmalah dengan sengaja, maka dia berdosa dan sembelihannya haram. Namun, jika dia lupa atau tidak sengaja, dia tidak berdosa, tetapi hewannya tetap tidak halal untuk dimakan.

Masalah Keenam: Adab Penyembelihan.

Ada beberapa adab lainnya yang perlu diperhatikan tatkala menyembelih hewan kurban di antaranya:

Berbuat baik kepada hewan sembelihan tanpa menyiksanya sedikit pun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan,

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ. فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوْا اْلقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوْا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa taala telah menetapkan perbuatan ihsan (baik) pada segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim no. 1.955).

Di antara perbuatan baik dalam penyembelihan adalah menajamkan pisau; tidak menyembelihnya di hadapan hewan lain; dan tidak mengasah pisau di depan hewan yang akan disembelih. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,

أنَّ النَّبيَّ أمرَ أن تُحَدَّ الشِّفارُ، وأن تُوارَى عنِ البَهائمِ وقالَ: إذا ذبحَ أحدُكُم فليُجهِزْ–أيْ فليُتِمَّ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menajamkam pisau dan tidak melakukan penyembelihan di hadapan hewan-hewan lain. Beliau mengatakan, ‘Apabila salah seorang dari kalian menyembelih, hendaklah menyempurnakannya.” (Ash-Shahihah, 7/360).

Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhuma menerangkan,

مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى رَجُلٍ وَاضِعٍ رِجْلَهُ عَلَى صَفْحَةِ شَاةٍ وَهُوَ يَحُدُّ شَفْرَتَهُ وَهِىَ تَلْحَظُ إِلَيْهِ بِبَصَرِهَا فَقَالَ: أَفَلاَ قَبْلَ هَذَا أَتُرِيدُ أَنْ تُمِيتَهَا مَوْتَتين

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati seseorang yang sedang meletakkan kakinya di leher kambing sambil mengasah pisaunya, sedangkan kambing itu melihat kepadanya dengan pandangannya. Lalu beliau bersabda,

‘Kenapa engkau tidak melakukannya (mengasahnya) sebelum ini? Apakah engkau hendak membunuhnya dua kali?’.” (HR. al-Baihaqi; disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 24).

Masalah Ketujuh: Apakah Ada Bacaan Tertentu Selain Basmalah?

Apakah ada bacaan yang dibaca ketika menyembelih selain basmalah? Berkaitan tentang bacaan menyembelih, para ulama telah membahasnya. Ibnu Qudamah rahimahullah menyebutkan,

وقد ثبت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا ذبح قال بسم الله والله أكبر

“Sungguh telah tetap bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak menyembelih beliau membaca bismillahi wallahu akbar.” (Al-Mughni, Jilid 9, hlm. 368).

Syekh ‘Abdul’aziz bin Baz rahimahullah menerangkan,

السنة عند الذبح أن يقول: باسم الله، والله أكبر سواء ضحية أو للأكل

“Yang sesuai dengan sunah ketika menyembelih adalah mengatakan bismillahi wallahu akbar, baik untuk hewan kurban maupun sekedar untuk dimakan.” (Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Jilid 18, hlm. 185).

Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

يقول: بسم الله وجوبا؛ لأن من شرط حل الذبيحة أو النحيرة التسمية، و «الله أكبر» استحبابا

“Seseorang membaca bismillah ketika menyembelih hukumnya wajib karena termasuk dari syarat halalnya sembelihan atau yang di-nahr adalah mengucapkan bismillah. Adapun allahu akbar hukumnya sunah.” (Asy-Syarh al-Mumti’, Jilid 7, hlm. 443).

Adapun yang berkaitan dengan sembelihan hewan kurban, sungguh telah disebutkan dalam beberapa hadis dan penjelasan ulama. Sahabat yang mulia, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor kambing putih kehitaman yang bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangannya sendiri. Beliau membaca basmalah dan bertakbir sambil meletakkan kakinya di atas leher kambing tersebut.” (HR. al-Bukhari no. 5.565 dan Muslim no. 1.966).

Demikian pula dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhuma berkata,

شهدت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم الأضحى بالمصلى، فلما قضى خطبته , نزل من منبره , وأتى بكبش , فذبحه رسول الله صلى الله عليه وسلم بيده , وقال: بسم الله والله أكبر هذا عنى وعن من لم يضح من أمتي

“Aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadiri salat Iduladha di tanah lapang. Tatkala telah menyelesaikan khotbahnya, beliau turun dari mimbarnya dan didatangkan kepada beliau kambing. Beliau pun menyembelihnya dengan tangannya dan membaca, bismillah wallahu akbar hadza ‘anni wa ‘amman lam yudhahi min ummati (bismillah, Allahu Akbar, ini dariku dan dari umatku yang belum berkurban).” (HR. Abu Dawud no. 2.810, at-Tirmidzi, ath-Thahawi, dan yang lainnya; disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam al-Irwa’ no. 1.138).

Disebutkan pula dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,

أن النبى صلى الله عليه وسلم، ذبح يوم العيد كبشين–وفيه–ثم قال: بسم الله والله أكبر, اللهم هذا منك ولك

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Iduladha menyembelih dua ekor kambing. (Sebelum menyembelih) beliau membaca zikir bismillahi wallahu akbar, Allahumma hadza minka wa laka (bismillah, Allahu Akbar, ya Allah ini adalah darimu dan untukmu).” (HR. Abu Dawud; disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam al-Irwa’ no. 1.152).

Demikian pula dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِي سَوَادٍ، وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ، وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ، فَأُتِيَ بِهِ لِيُضَحِّيَ بِهِ، فَقَالَ لَهَا: يَا عَائِشَةُ، هَلُمِّي الْمُدْيَةَ، ثُمَّ قَالَ: اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ، فَفَعَلَتْ: ثُمَّ أَخَذَهَا، وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ، ثُمَّ ذَبَحَهُ، ثُمَّ قَالَ: بِسْمِ اللهِ، اللهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ، وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ، ثُمَّ ضَحَّى بِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan (untuk membeli) seekor kambing jantan yang bertanduk, kakinya hitam, perutnya hitam, dan matanya hitam. Hewan tersebut pun didatangkan kepada beliau untuk beliau berkurban dengannya. Lalu beliau berkata kepada ‘Aisyah, ‘Wahai ‘Aisyah, berikan pisau itu.’ Kemudian beliau berkata, ‘Asahlah dengan batu.’ ‘Aisyah pun melakukannya. Kemudian beliau mengambilnya kembali dan mengambil kambing jantan tersebut. Lalu beliau membaringkannya lantas menyembelihnya seraya membaca, bismillah, Allaahumma taqabbal min Muhammad wa ali Muhammad, wa min ummati Muhammad (bismillah, Ya Allah terimalah dari Muhammad, keluarganya, dan umatnya). Kemudian beliau berkurban dengan hewan tersebut.” (HR. Muslim no. 1.967)

Ibnu Qudamah rahimahullah menerangkan,

وَإِنْ زَادَ فَقَالَ: اللَّهُمَّ هَذَا مِنْك وَلَك، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّي، أَوْ مِنْ فُلَانٍ فَحَسَنٌ وَبِهِ قَالَ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ

“Jika setelah bacaan takbir dan basmalah dia menambahkan bacaan Allahumma taqabbal minni au min fulan (Ya Allah, terimalah dariku atau dari si anu–sebutkan nama yang berkurban–), maka yang demikian itu bagus dan ini adalah pendapat jumhur ulama.” (Al-Mughni, Jilid 9, hlm. 456).

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan tatkala menjelaskan hadis ‘Aisyah di atas,

فِيهِ دَلِيلٌ لِاسْتِحْبَابِ قَوْلِ الْمُضَحِّي حَالَ الذَّبْحِ مَعَ التَّسْمِيَةِ وَالتَّكْبِيرِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّي

“Di dalam hadis ini terdapat dalil tentang disunahkan menyertakan ucapan doa Allahumma taqabbal minni (Ya Allah terimalah dariku) setelah membaca basmalah dan takbir tatkaka seseorang menyembelih hewan kurban.” (Syarh Shahih Muslim, Jilid 13, hlm. 122).

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan:

Yang harus dibaca tatkala menyembelih adalah basmalah dan jika ditambah dengan lafaz takbir, maka lebih utama. Adapun untuk hewan kurban, maka ada tambahan bacaan-bacaan yang disunahkan untuk dibaca, sebagaimana yang telah disebutkan pada penjelasan diatas. Namun, jika dia mencukupkan dengan bacaan basmalah saja, maka sembelihannya baik dalam bentuk kurban atau selainnya sah karena bacaan setelah basmalah hukumnya sunah, wallahu a’lam.

Masalah Kedelapan: Haruskah Menyembelih Menghadap Kiblat?

Apakah ketika menyembelih harus menghadap ke arah kiblat? Tidak harus demikian, tetapi jika dimudahkan, itulah yang afdal. Al-Lajnah ad-Da’imah pun telah mengeluarkan fatwa,

توجيه الذبيحة إلى القبلة وقت الذبح ليس من شروط صحة الذكاة، وإنما هو سنة

“Mengarahkan sembelihan ke arah kiblat ketika menyembelih bukanlah syarat sahnya sembelihan. Hanya saja, hukumnya adalah sunah.” (Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, Jilid 22, hlm. 497).

Disebutkan pula dalam keterangan fatwa yang lain tatkala menerangkan sunah-sunah menyembelih,

توجيه الذبيحة إلى القبلة؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم ما ذبح ذبيحة ولا نحر هديا إلا وجهه إلى القبلة

“Menghadapkan sembelihan ke arah kiblat karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyembelih satu hewan sembelihan pun dan melakukan nahr pada hadyu melainkan beliau arahkan ke kiblat.” (Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, Jilid 22, hlm. 363).

Jika ternyata tidak menghadap kiblat, maka tidak memberikan pengaruh terhadap sembelihannya, tetap sah. Disebutkan pula dalam keterangan fatwa yang lain tatkala ditanya tentang seorang yang menyembelih tidak menghadap kiblat,

فالذبح صحيح مجزئ في حل الأكل من الذبيحة لكن الذابح خالف السنة بتركه استقبال جهة القبلة بالذبيحة حين ذبحها

“Sembelihan tersebut sah dalam kehalalannya untuk dimakan dari hewan sembelihan. Namun, si penyembelih telah menyelisihi sunah dengan perbuatannya yang meninggalkan menghadap kiblat dengan sembelihan tatkala menyembelihnya.” (Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, Jilid 22, hlm. 478).

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: 
RINGKASAN FIKIH KURBAN
SYARAT-SYARAT HEWAN KURBAN
JENIS HEWAN YANG DIJADIKAN KURBAN
PIHAK YANG BERHAK MENERIMA KURBAN
HAL YANG BERKAITAN TENTANG PENYEMBELIHAN
LARANGAN MEMOTONG KUKU RAMBUT DAN KULIT BAGI YANG BERKURBAN
HAL LAIN YANG TERKAIT DENGAN HEWAN KURBAN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

PIHAK YANG BERHAK MENERIMA KURBAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Dalam hal ini, Allah subhanahu wa taala berfirman,

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَآئِسَ الْفَقِيْرَ

“Makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (Al-Hajj: 28).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كلوا وادخروا وتصدقوا

“Makan dan simpanlah serta bersedekahlah dengannya.” (HR. Muslim no. 1.971).

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan,

كلوا وأطعموا وادخروا

“Makanlah, bagikanlah, dan simpanlah.” (HR. al-Bukhari no. 5.569).

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan dua hadis di atas,

وهو أعم من الأول لأن الإطعام يشمل الصدقة على الفقراء والهدية للأغنياء

“Hadis yang kedua ini lebih umum daripada yang pertama karena lafaz al-ith‘ām mencakup sedekah untuk orang-orang fakir dan hadiah untuk orang-orang kaya.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 251).

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa daging kurban dibagi-bagikan, dimakan, dan disimpan oleh pemiliknya, serta dibagi-bagikan dalam bentuk sedekah dan hadiah. Apakah ketentuan dalam pembagiannya sepertiga? Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Namun, tidak ada dalil yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ukurannya. Karena itu, boleh dia bagi dengan sepertiga boleh juga tidak. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

الصدقة بالثلث من الأضحية ليست بالواجب لك أن تأكل كل الأضحية إلا شيئا قليلا تتصدق به والباقي لك أن تأكله لكن الأفضل أن تتصدق وتهدي وتأكل

“Bersedekah dengan sepertiga dari kurban tidaklah wajib, boleh semuanya engkau makan dan hanya menyisakan sedikit untuk disedekahkan. Namun, yang lebih utama adalah engkau bersedekah, menghadiahkan, dan memakannya.” (Fatāwā Nūr ‘ala ad-Darb, Jilid 13, hlm. 2).

Pembagian hewan kurban ini luas, mencakup orang kaya dan orang miskin, bahkan boleh dibagikan kepada kerabat-kerabat dan tetangga-tetangga. Syekh ‘Abdul‘aziz bin Baz rahimahullah menerangkan,

في الهدايا والضحايا، يأكل منها ما تيسر، ويطعم الفقراء، ويهدي إلى أقاربه، كل هذا أمر مستحب، وليس فيه تحديد، قد رأى بعض أهل العلم التثليث، وأنه يستحب أن يثلث، فيأخذ ثلثا لنفسه وأهل بيته، وثلثا يهديه لأقاربه وجيرانه، وثلثا للفقراء، ولكن هذا ليس بواجب، إذا فعل ذلك فلا بأس، وإذا أكل أكثر من الثلث، أو أهدى أكثر من الثلث، أو أعطى الفقراء غالبا فلا بأس به، والحمد لله

“Dalam pembahasan hadyu dan hewan kurban, boleh dia makan yang mudah baginya, menyedekahkan kepada orang-orang fakir, menghadiahkan kepada kerabat-kerabat, dan semuanya perkara yang disunahkan. Tidak ada batasan dalam pembagiannya. Sebagian ulama berpendapat dianjurkan dibagi tiga: sepertiga untuk dirinya dan keluarganya; sepertiga untuk kerabat dan tetangga-tetangganya; serta sepertiga untuk orang-orang fakir. Namun, pembagian seperti ini tidaklah wajib. Jika dia lakukan, tidak mengapa. Jika dia makan atau menghadiahkannya lebih dari sepertiga, atau dia berikan sebagian besarnya kepada orang-orang fakir, maka semua ini tidak mengapa, walhamdulillah.” (Fatāwā Nūr ‘ala ad-Darb, Jilid 17, hlm. 353).

Masalah Pertama: Ketentuan Daging yang Dibagikan.

Apakah daging yang dibagikan harus mentah? Al-Lajnah ad-Da’imah telah mengeluarkan fatwa dalam hal ini,

والأمر في توزيعهامطبوخة أو غير مطبوخة واسع، وإنما المشروع فيها أن يأكل منها، ويهدي، ويتصدق

“Dalam pembagiannya, apakah dimasak atau mentah, urusannya mudah (boleh semua). Hanya saja yang disyariatkan adalah memakan, menghadiahkan, dan bersedekah dengannya.” (Fatāwā al-Lajnah ad-Da’imah, Jilid 11, hlm. 394).

Masalah Kedua: Hukum Menjual Daging Kurban dan Upah Si Penjagal.

Bolehkah menjual daging kurban atau memberi upah si penjagal? Dalam hal ini al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

ويحرم أن يبيع شيئا منها من لحم أو شحم أو دهن أو جلد أو غيره لأنها مال أخرجه لله فلا يجوز فيه الرجوع كالصدقة ولا يعطي الجازر شيئا منها في مقابلة أجرته أو بعضها لأن ذلك بمعنى البيع

“Diharamkan menjual sesuatu dari hewan kurban, seperti daging, lemak, kulit, atau yang lainnya karena kurban adalah harta yang dikeluarkan untuk Allah. Tidak boleh mengambil kembali pemberiannya, sebagaimana sedekah. Penjagalnya pun tidak diberikan sesuatu sebagai balasan dari perbuatannya karena yang seperti ini bermakna jual beli.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 253).

Adapun orang yang menerimanya, maka boleh dia jual belikan dan berikan kepada pihak lain sebagai sedekah atau hadiah karena sudah menjadi miliknya. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

فأما من أهدي له شيء منها أو تصدق به عليه فله أن يتصرف فيه بما شاء من بيع وغيره؛ لأنه ملكه ملكا تاما فجاز له التصرف فيه

“Adapun orang yang dihadiahkan dan mendapatkan sedekah dari kurban, maka boleh berbuat sesuai yang dia inginkan seperti menjual dan yang lainnya karena sudah menjadi miliknya dengan sempurna. Boleh dia berbuat pada sesuatu yang sudah menjadi miliknya.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 253).

Namun, bagi yang sudah memberikan dagingnya, tidak boleh membelinya kepada orang yang telah dia hadiahkan atau sedekahkan. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

لا يشتريه من أهداه أو تصدق به لأنه نوع من الرجوع في الهبة والصدقة

“Tidak boleh membelinya kepada orang yang telah dihadiahkan atau sedekahkan dengannya karena hal ini termasuk dari jenis menarik pemberian dan sedekah.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 253).

Dalil dalam hal ini adalah hadis sahih dari Zaid bin Aslam dari ayahnya yang mendengar ‘Umar radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

عمر رضي الله عنه يقول حملت على فرس في سبيل الله فأضاعه الذي كان عنده فأردت أن أشتريه وظننت أنه يبيعه برخص فسألت النبي صلى الله عليه وسلم فقال لا تشتري ولا تعد في صدقتك وإن أعطاكه بدرهم فإن العائد في صدقته كالعائد في قيئه

“Aku menyedekahkan kuda untuk berperang di jalan Allah. Namun, pemiliknya menyia-nyiakannya, maka aku berkeinginan untuk membelinya dan aku mengira bahwa dia akan menjualnya dengan harga yang murah. Aku pun bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau menjawab, ‘Jangan engkau beli! Jangan engkau ambil kembali sedekahmu walaupun dengan bayaran (beberapa) dirham karena orang yang menarik kembali sedekahnya sama seperti dia menjilat muntahannya kembali.” (HR. al-Bukhari no. 1.490 dan Muslim no. 1.620).

Dibolehkan bagi penjagal untuk mengambil pemberian hewan kurban berupa hadiah atau sedekah bukan sebagai upah. Bahkan dia sangat berhak mendapatkannya. Ibnu Qudamah rahimahullah menerangkan,

فأما إن دفع إليه لفقره، أو على سبيل الهدية، فلا بأس؛ لأنه مستحق للأخذ، فهو كغيره، بل هو أولى؛ لأنه باشرها، وتاقت نفسه إليها

“Adapun jika dia diberi karena dia fakir; atau jika tidak, sebagai hadiah, maka tidak mengapa karena dia berhak mendapatkannya sebagaimana yang lainnya. Bahkan dia lebih berhak dari yang lainnya karena dia yang mengurusi penyembelihannya yang tentu pada jiwanya ada rasa berharap mendapatkannya.” (Al-Mughni, Jilid 9, hlm. 450).

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: 
RINGKASAN FIKIH KURBAN
SYARAT-SYARAT HEWAN KURBAN
JENIS HEWAN YANG DIJADIKAN KURBAN
PIHAK YANG BERHAK MENERIMA KURBAN
HAL YANG BERKAITAN TENTANG PENYEMBELIHAN
LARANGAN MEMOTONG KUKU RAMBUT DAN KULIT BAGI YANG BERKURBAN
HAL LAIN YANG TERKAIT DENGAN HEWAN KURBAN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

SYARAT-SYARAT HEWAN KURBAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Berkaitan tentang hal ini, al-’Allamah Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menyebutkan ada empat syarat.

  1. Hewan kurban tersebut dimiliki oleh orang yang berkurban.
  2. Hewan yang dijadikan kurban adalah hewan yang ditentukan syariat, yaitu unta, sapi, dan kambing.
  3. Hewan yang dijadikan kurban telah mencapai usia yang telah ditentukan.
  4. Selamat dari cacat yang menghalangi sahnya kurban tersebut. (Ahkām al-Udhhiyyah, Jilid 2, hlm. 236–237).

Terkait syarat pertama, sangat jelas tidak boleh kita mengambil hak orang lain tanpa cara yang benar, kemudian dikurbankan. Adapun syarat kedua, sungguh telah berlalu penjelasannya. Kemudian syarat ketiga, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan usia hewan yang harus terpenuhi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنَ الضَّأْنِ

“Janganlah kalian menyembelih hewan kurban melainkan telah mencapai usia musinnah. Kecuali bila kalian mengalami kesulitan, silakan kalian menyembelih kambing domba yang berumur jadza’ah.” (HR. Muslim no. 1.963).

Al-’Allamah Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menerangkan,

فالثني من الإبل: ما تم له خمس سنين، والثني من البقر ما تم له سنتان، والثني من الغنم ضأنها ومعزها ما تم له سنة، والجذع من الضأن: ما تم له نصف سنة

“(Yang dimaksud dengan usia musinnah adalah) untuk unta yang telah genap berusia lima tahun; untuk sapi yang telah genap berusia dua tahun; untuk kambing baik yang domba maupun ma’iz yang telah genap berusia satu tahun. Adapun domba yang berumur jadz’ah maknanya adalah yang telah genap usia enam bulan.” (Ahkām al-Udhhiyyah, Jilid 2, hlm. 237).

Dari penjelasan di atas, bisa kita ambil kesimpulan untuk usia hewan kurban sebagai berikut.

Kita diperintahkan untuk mencari hewan yang mencapai usia musinnah, yaitu unta lima tahun atau lebih; sapi dua tahun atau lebih; dan kambing satu tahun atau lebih. Jika kesulitan, boleh kambing domba yang usianya setengah tahun. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan,

قال العلماء المسنة هي الثنية من كل شيء من الإبل والبقر والغنم فما فوقها وهذا تصريح بأنه لا يجوز الجذع من غير الضأن في حال من الأحوال

“Ulama mengatakan, yang dimaksud dengan musinnah adalah tsaniyah, yaitu unta, sapi, dan kambing yang usianya telah terpenuhi atau lebih. Di sini terdapat penjelasan bahwa tidak boleh jadza’ (yang berusia enam bulan) kecuali domba bagaimanapun keadaannya.” (Syarh Shahih Muslim, Jilid 13, hlm. 117).

Adapun syarat keempat, sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أربعٌ لا تُجزئُ في الأضاحيِّ: العَوراءُ البيِّنُ عوَرُها، والمريضةُ البيِّنُ مرضُها، والعَرجاءُ البيِّنُ ظَلعُها، والكسيرةُ الَّتي لاتُنقي

“Empat hal yang tidak diperbolehkan pada hewan kurban, yaitu yang buta sebelah matanya dan jelas butanya; yang sakit dan jelas sakitnya; yang pincang dan jelas pincangnya; serta yang kurus dan tidak bersumsum.” (Ibnu Majah; Shahih Ibnu Majah no. 2.562).

Para ulama sepakat dalam memilih hewan kurban bahwa dianjurkan yang bagus. Adapun yang cacat yang disebutkan di dalam hadis, semakna, atau bahkan lebih parah, maka tidak sah. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan,

وأجمعوا على استحباب استحسانهاواختيار أكملها وأجمعوا على أن العيوب الأربعة المذكورة في حديث البراء وهو المرض والعجف والعور والعرج البين لاتجزى التضحية بها وكذا ماكان في معناها أو أقبح كالعمى وقطع الرجل وشبهه وحديث البراء هذا لم يخرجه البخاري ومسلم فى صحيحهما ولكنه صحيح رواه أبوداود والترمذي والنسائي وغيرهم من أصحاب السنن بأسانيد صحيحة وحسنة قال أحمد بن حنبل ما أحسنه من حديث وقال الترمذي حديث حسن صحيح والله أعلم

“Para ulama sepakat tentang dianjurkannya memilih hewan kurban yang bagus dan paling sempurna. Mereka juga sepakat bahwa empat cacat yang disebutkan di dalam hadis dari sahabat Barra’, yaitu sakit yang jelas, kurus tanpa sum-sum, buta sebelah yang jelas butanya, pincang yang jelas, tidak sah berkurban dengannya. Demikian pula yang semakna dengannya atau yang lebih parah seperti kedua matanya buta; terpotong kakinya; atau yang semisalnya. Hadis Barra’ tidak dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam Shahih, tetapi hadis tersebut adalah hadis yang sahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan yang lainnya dari ashabussunan dengan sanad-sanad yang sahih dan hasan. Ahmad bin hambal rahimahullah mengatakan, ‘Alangkah bagus (sanadnya).’ At-Tirmidzi mengatakan, ‘Hadis hasan sahih.’ Wallahu a’lam.” (Syarh Shahih Muslim, Jilid 13, hlm. 120).

Masalah Pertama: Hewan Kurban yang Dipelihara Mengalami Sakit atau Cacat.

Memelihara hewan untuk kurban kemudian setelah itu hewan tersebut sakit atau cacat. Selanjutnya jika seseorang telah memelihara hewan untuk kurban sebelum waktunya, tatkala masuk waktu berkurban ternyata hewan tersebut sakit atau cacat apa yang harus dia lakukan? Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menerangkan,

يقول العلماء رحمهم الله من عين الأضحية وقال هذه أضحيتي صارت أضحية فإذا أصابها مرض أو كسر فإن كنت أنت السبب فإنها لا تجزئ وبجب عليك أن تشتري بدلها مثلها أو أحسن منها وإن لم تكن السبب فإنها تجزئ

“Ulama rahimahumullah mengatakan, siapa saja yang telah menentukan hewan kurbannya seraya mengatakan ini hewan kurbanku, maka jadilah itu hewan kurban. Tatkala hewan tersebut sakit atau cacat dan engkau menjadi penyebabnya (karena kelalaian atau yang lainnya), maka wajib membeli ganti yang semisalnya atau yang lebih bagus. Jika tidak menjadi penyebabnya, maka berkurban dengannya sah.” (Al-Liqa’ asy-Syahri, Jilid 25, hlm. 99).

Namun, beliau mengingatkan ketika membeli hewan untuk jangan terburu-buru menentukannya sebagai kurban. Beliau menuturkan,

الأولى أن الإنسان يصبر في تعيينها فيشتريها مبكرا من أجل أن يغذيها بغذاء طيب ولكن لا يعينها فإذا كان عن الذبح عينها وقال اللهم هذا منك ولك هذا عني وعن أهل بيتي وهو إذا لم يعين يستفيد فائدة مهمة وهي لو طرأ أن يدعها ويشتري غيرها فله ذلك لأنه لم يعينها

“Yang lebih utama adalah seseorang bersabar dalam menentukannya sebagai hewan kurban. Karena itu, silakan dia beli dengan segera untuk diberi nutrisi yang baik. Namun, waktu menentukannya adalah ketika menyembelih dan berkata, Allahumma hadza minka wa laka wa hadza ‘anni wa an ahli baiti. Dia akan mendapatkan faedah ketika belum menentukannya, yaitu jika terjadi sesuatu pada hewan tersebut dan dia ingin membeli yang lain, maka boleh baginya karena dia belum menentukannya.” (Al-Liqa’ asy-Syahri, Jilid 25, hlm. 99).

Masalah Kedua: Cara Penentuan Hewan Kurban.

Adapun yang berkaitan tentang penentuan hewan kurban, maka Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menyebutkan bisa tercapai dengan salah satu dari dua:

  1. Dengan melafazkannya, dia berkata ini hewan kurban. Dia membangun penentuan tersebut dari niatnya.
  2. Menyembelihnya dengan niat kurban. Tatkala dia sembelih dengan niat kurban, maka telah tetap padanya hukum kurban.

Inilah pendapat yang beliau kuatkan. Dan beliau menukil dari Syaikhul Islam yang menambahkan ketentuan ketiga yaitu penentuan kurban bisa tercapai juga dengan membelinya disertai niat berkurban. (Ahkām al-Udhīyah, jilid 2, hlm. 245).

Pendapat yang lebih mendekati kebenaran wal’ilmu ‘indallah adalah pendapat syaikhul Islam bahwa hewan kurban bisa tercapai penentuannya dengan salah satu dari tiga:

  1. Melafazkan bahwa ini adalah hewan kurban sebelum berkurban.
  2. Menyembelih dengan niat berkurban.
  3. Membeli hewan tersebut dengan niat berkurban.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إنما الأعمال بالنيات

“Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niatnya.” (HR. al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1.907).

Al-Lajnah ad-Daimah pun telah mengeluarkan fatwa,

الأضحية تتعين بشرائها بنية الأضحية أو بتعيينه

“Hewan kurban bisa tercapai penentuannya dengan membelinya disertai niat atau dengan menentukannya.” (Fatawa al-Lajnah, Jilid 11, hlm. 402).

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: 
RINGKASAN FIKIH KURBAN
SYARAT-SYARAT HEWAN KURBAN
JENIS HEWAN YANG DIJADIKAN KURBAN
PIHAK YANG BERHAK MENERIMA KURBAN
HAL YANG BERKAITAN TENTANG PENYEMBELIHAN
LARANGAN MEMOTONG KUKU RAMBUT DAN KULIT BAGI YANG BERKURBAN
HAL LAIN YANG TERKAIT DENGAN HEWAN KURBAN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com