HAL LAIN YANG TERKAIT DENGAN HEWAN KURBAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Pada subjudul ini kita akan menyebutkan beberapa pembahasan lain yang masih berkaitan dengan hewan kurban. Ada beberapa pembahasan yang akan kita lewati di antaranya:

  1. Apakah wajib berkurban di tempat mukim dan apakah boleh seseorang berkurban di luar daerahnya? Yang afdal adalah seseorang berkurban di daerahnya. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata,

الْأَفْضَلُ أَنْ يُضَحِّيَ فِي دَارِهِ بِمَشْهَدِ أَهْلِهِ هكذا قاله أصحابنا

“Yang afdal adalah seseorang berkurban di tempat mukimnya dengan disaksikan keluarganya. Demikianlah pendapat mazhab kami.” (Al-Majmu’, Jilid 8, hlm. 425).

Hal itu karena tatkala seseorang berkurban di selain tempatnya, akan luput sunah memakan kurban tersebut bersama keluarganya. Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin ‘ berkata,

فالأفضل لمن أراد أن يضحي عن أهله وعنه أن يضحي في مكان إقامتهم جميعًا؛ ليأكلوا منها جميعًا

“Yang afdal bagi orang yang hendak berkurban untuknya dan keluarganya adalah hendaknya dia berkurban di tempat mereka mukim agar semua bisa memakannya” (Majmu’ al-Fatawa, Jilid 25, hlm. 92).

Bagaimana jika seseorang tinggal di negara atau daerah kafir yang sulit dijumpai di dalamnya orang-orang muslim, apakah boleh dia berkurban di negara atau daerah lain agar bisa dibagi-bagikan kepada muslimin? Syekh ‘Abdul’aziz bin Baz rahimahullah mengatakan,

لا مانع في ذلك إن أرسلها تذبح هناك، هذا حسن بواسطة الثقات، وإن أرسل قيمتها فلا بأس، لكن كونه يذبحها عنده إذا تيسر من يأكلها من أصحابه وإخوانه أفضل، يقيم السنة في محله عند الجاليات الإسلامية، ويهدي لإخوانه الطلبة والمسلمين، ويهدي منها إلى الكفار، ما فيه بأس إذا كانوا غير محاربين للإسلام؛

“Tidak mengapa jika dia lakukan hal itu. Dia mengirim hewan kurban supaya disembelih di sana. Yang demikian ini bagus jika dengan perantara orang-orang yang terpercaya. Adapun jika dia mengirimkan uang untuk dibeli dan dikurbankan di sana, tidak mengapa. Namun, jika dia sembelih di tempatnya dan jika dimudahkan sahabat-sahabat dan saudara-saudaranya menyantapnya, maka yang demikian afdal. Dia menegakkan sunah di tempatnya di komunitas Islam. Dia hadiahkan teruntuk saudara-saudaranya dari kalangan penuntut ilmu dan muslimin. Boleh dia hadiahkan kurban tersebut kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi islam.” (Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Jilid 18, hlm. 206).

Beliau pun menerangkan dalam kesempatan yang lain,

إذا ضحى في بيته وأكل منها ووسع على من حوله كان أفضل تأسيًا بالنبي
صلى الله عليه وسلم

“Apabila seseorang berkurban di tempatnya, dia makan dan bagi-bagikan kepada orang-orang sekitarnya, maka yang demikian ini afdal karena meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Jilid 18, hlm. 207).

Kesimpulannya, yang afdal adalah seseorang berkurban di tempat mukimnya meskipun boleh dia berkurban di tempat lain karena suatu hal.

  1. Bolehkah menggabungkan antara niat kurban, akikah, dan walimah dalam satu resepsi untuk tiga jenis ibadah? Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Pendapat yang kuat–wal-’ilmu ‘indallah–tidak boleh karena masing-masing ibadah tersendiri. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah menerangkan,

لَوْ نَوَى بِشَاةٍ الْأُضْحِيَّةَوَالْعَقِيقَةَ لَمْ تَحْصُلْ وَاحِدَةٌ مِنْهُمَا وهو ظاهر لأن كلا منهما سنة مقصودة

“Jika seseorang berniat dengan kambingnya untuk berkurban dan akikah, tidaklah bisa tercapai. Inilah yang tampak karena masing-masing dari keduanya sunah yang dituju (secara sendiri-sendiri).” (Tuhfah al-Muhtaj, Jilid 9, hlm. 369–370).

Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menerangkan,

لو لم يعين الأضحية وأراد أن يجمع في شاة واحدة أضحية ووليمة فلا يجوز ذلك، وإن كان قياس كلام ابن القيم جواز ذلك، حيث أجاز رحمه الله الجمع بين نية الأضحية والعقيقة في شاة واحدة، وفي كلامه نظر، لاختلاف الحكم بين الأضحية والعقيقة، واختلاف السبب أيضا، فالصحيح عدم الجواز في الجمع بين نية الأضحية والعقيقة، وكذلك بين نية الأضحية والوليمة

“Jika seseorang belum menentukan kurban dan dia ingin menggabungkan niat dengan satu kambing untuk kurban dan walimah, maka yang demikian itu tidak boleh meskipun kias dari ucapan Ibnul Qayyim menyebutkan akan bolehnya hal itu. Beliau berpendapat bolehnya menggabungkan niat kurban dan akikah dengan satu kambing. Namun, pendapat beliau ini perlu ditinjau lagi karena antara akikah dan kurban hukum dan sebabnya berbeda. Pendapat yang benar adalah tidak boleh menggabungkan antara niat kurban dan akikah. Demikian pula antara niat kurban dan walimah.” (Majmu’ al-Fatawa, Jilid 25, hlm.107).

  1. Tatkala seseorang menyembelih hewan kurbannya sendiri, maka yang demikian afdal. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

وإن ذبحها بيده كان أفضل لأن النبي صلى الله عليه وسلم ضحى بكبشين أقرنين أملحين ذبحهما بيده

“Jika seseorang menyembelihnya dengan tangannya sendiri, maka yang demikian itu afdal karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua kambing bertanduk yang putih kehitam-hitaman dan beliau sembelih dengan tangannya.” (Al-Mughni, Jilid 9, hlm. 455–456).

Namun, boleh dia mencari ganti karena mungkin belum ahli dalam penyembelihan. Ibnu Qudamah rahimahullah menerangkan,

فإن استناب فيها جاز لأن النبي صلى الله عليه وسلم استناب من نحر باقي بدنه بعد ثلاث وستين

“Jika dia mencari ganti dalam penyembelihan, maka hukumnya boleh karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencari ganti orang yang me-nahr sisa untanya setelah beliau sembelih sebanyak 63 ekor.” (Al-Mughni, Jilid, 9, hlm. 456).

  1. Apakah harus seseorang menyaksikan proses penyembelihan? Ibnu Qudamah menyebutkan bahwa hukum menyaksikannya adalah sunah. Beliau mengatakan,

ويستحب أن يحضر ذبحها

“Disunahkan menghadiri penyembelihannya.” (Al-Mughni, Jilid 9, hlm. 456).

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah pun menerangkan,

وَيُسْتَحَبُّ إذَا وَكَّلَ أَنْ يَحْضُرَ ذَبْحَهَ

“Disunahkan apabila seseorang mewakilkan sesembelihan hewan kurban untuk menghadirinya.” (Al-Majmu’, Jilid 8, hlm. 405).

Demikian pula Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berkata,

وقد قال أهل العلم إن المضحي إذا كان لا يحسن الذبح فالأفضل أن يحضر ذبحها

“Sungguh para ulama mengatakan, sesungguhnya seseorang yang berkurban apabila tidak bisa melakukan penyembelihan dengan baik, maka yang afdal adalah dia tetap menghadiri proses penyembelihan.” (Majmu’ al-Fatawa, Jilid 25, hlm. 69).

Kesimpulannya, ketika seseorang berkurban secara utuh, maka yang afdal adalah dia menyembelih sendiri. Namun, jika dia belum mangetahui tata caranya dengan baik, maka boleh diwakilkan. Namun, yang afdal adalah dia menyaksikan proses penyembelihan. Adapun jika dia tidak menghadirinya yang mungkin terhalangi dengan uzur, maka dia tidak berdosa. Adapun hadis dengan lafaz,

فاطمةُ قُومي إلى أضحيتِكِ فاشهدَيها، فإنَّ لكِ بكلِّ قطرةٍ تَقطرُ من دمِها أن يُغْفَرَ لكِ ما سلفَ من ذنوبِكِ قالتْ: يا رسولَ اللهِ ألنا خاصةًأهلَ البيتِ أو لنا وللمسلمينَ عامةً ؟ قال: بل لنا وللمسلمينَ عامةً

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fatimah, “Wahai Fatimah datanglah ke tempat penyembelihan hewan kurbanmu dan saksikanlah saat penyembelihannya. Sesungguhnya bagimu dari setiap tetesan darahnya yang mengalir pengampunan dosa-dosa yang telah lalu.” Fathimah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah hal ini khusus bagi kita ahlulbait atau juga untuk kaum muslimin secara umum?” Beliau menjawab, “Untuk kita dan kaum muslimin secara umum.”

Hadis ini tidak disebutkan dengan satu lafaz. Namun, Imam ahli hadis Muhammad Nashiruddin al-Albani menyebutkan di dalam adh-Dha’ifah no. 6.828 bahwa sanadnya lemah. Beliau juga menyebutkan di dalam kitab yang sama no. 528 sebagian lafaznya dengan sanad yang mungkar, sehingga hadis di atas tidak bisa dijadikan sandaran.

Demikian pembahasan ini dikumpulkan.

untuk penomoran kitab Ahkam al-Udhiyyah dari al-Maktabah asy-Syamilah

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم والحمد لله رب العالمين

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له ولوالديه ولإخوانه المسلمين
Baturaja, 24 Syawal 1441 H/16 Juni 2020.

Baca Juga: 
RINGKASAN FIKIH KURBAN
SYARAT-SYARAT HEWAN KURBAN
JENIS HEWAN YANG DIJADIKAN KURBAN
PIHAK YANG BERHAK MENERIMA KURBAN
HAL YANG BERKAITAN TENTANG PENYEMBELIHAN
LARANGAN MEMOTONG KUKU RAMBUT DAN KULIT BAGI YANG BERKURBAN
HAL LAIN YANG TERKAIT DENGAN HEWAN KURBAN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

HAL YANG BERKAITAN TENTANG PENYEMBELIHAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Pembahasan tentang penyembelihan ini lebih umum karena mencakup hewan kurban, akikah, dan lain sebagainya yang di dalam kitab-kitab fikih kerap disebut dengan sebutan dzakah. Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menerangkan,

الذكاة نحر الحيوان البري الحلال أو ذبحه أو جرحه في أي موضع من بدنه فالنحر للإبل والذبح لما سواها والجرح لكل ما لا يقدر عليه إلا به من أبل وغيرها

“Dzakah maknanya menjagal hewan darat yang halal; menyembelihnya atau melukainya di bagian mana pun dari tubuhnya. Karena itu, menjagal pada unta dengan melakukan nahr, pada hewan yang lainnya dengan menyembelih, dan pada hewan yang tidak bisa dijagal kecuali dengan melukai maka dengan melukai, baik unta maupun yang lainnya.” (Ahkam al-Udhhiyyah, Jilid 2, hlm. 259).

Masalah Pertama: Cara Melakukan Nahr pada Unta.

Bagaimana tata cara melakukan nahr pada unta? Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan,

المستحب في الإبل النحر، وهو قطع اللبة أسفل العنق

“Perkara disunahkan pada unta adalah nahr, yakni dengan cara memotong labah, yaitu (tempat kalung) bagian bawah leher.” (Raudhah ath-Thalibin, Jilid 3, hlm. 206).

Beliau pun menerangkan tata caranya,

فيستحب نحر الإبل وهي قائمة معقولة اليد اليسرى صح في سنن أبي داود عن جابر رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه كانوا ينحرون البدنة معقولة اليسرى قائمة على ما بقي من قوائمها إسناده على شرط مسلم

“Disunahkan melakukan nahr pada unta dalam keadaan unta tersebut berdiri dan kaki depan sebelah kiri diikat. Telah sahih riwayat di dalam sunan Abu Dawud dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya melakukan nahr pada unta, kaki depan sebelah kirinya diikat, dalam keadaan berdiri diatas tiga kakinya yang tersisa. Sanad riwayat ini sesuai dengan syarat Muslim.” (Syarh Shahih Muslim, Jilid 9, hlm. 69).

Namun, untuk penyembelihan unta ini hendaknya diserahkan kepada yang ahli dan berpengalaman karena tidak semua orang bisa melakukannya. Telah disebutkan suatu kisah tentang al-Imam Abu Hanifah rahimahullah,

وقد روي عن أبي حنيفة رضي الله عنه أنه قال: نحرت بدنة قائمة معقولة فلم أشق عليها فكدت أهلك ناسا لأنها نفرت فاعتقدت أن لا أنحرها إلا باركة معقولة وأولي
من هو أقدر على ذلك مني

“Sungguh telah diriwayatkan dari Abu Hanifah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, ‘Aku telah melakukan nahr pada unta dalam keadaan berdiri lagi terikat, tetapi aku tidak mampu untuk merobek lehernya. Hampir-hampir aku mencelakakan manusia karena unta tersebut lari. Hal itu membuatku yakin bahwa aku tidak akan melakukan nahr pada unta kecuali dalam keadaan dia menderum dan terikat. Kemudian setelah itu, aku serahkan (penyembelihan unta) kepada yang lebih berpengalaman dariku” (Badai’ ash-Shani’, Jilid 5, hlm. 79).

Masalah Kedua: Cara Penyembelihan Sapi dan Kambing.

Adapun untuk sapi dan kambing, cara yang mudah adalah dengan disembelih seperti yang al-Imam an-Nawawi rahimahullah sampaikan,

أما البقر والغنم فيستحب أن تذبح مضجعة على جنبها الأيسر وتترك رجلها اليمنى وتشد قوائمها الثلاث

“Adapun sapi dan kambing, dianjurkan untuk disembelih dengan membaringkannya ke sebelah kiri, membiarkan kaki kanannya, dan mengikat tiga kakinya yang lain.” (Syarh Shahih Muslim, Jilid 9, hlm. 69).

Beliau pun menerangkan,

واتفق العلماء وعمل المسلمين على أن إضجاعها يكون على جانبها الأيسر لأنه أسهل على الذابح في أخذ السكين باليمين وإمساك رأسها باليسار

“Para ulama sepakat, demikian pula amalan kaum muslimin bahwa hewan kurban tersebut dibaringkan ke sebelah kiri karena yang demikian itu lebih mudah bagi si penyembelih tatkala dia memegang pisau dengan tangan kanannya dan tangan kiri memegang kepala hewan tersebut.” (Syarh Shahih Muslim, Jilid 13, hlm. 122).

Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menyebutkan bahwa hewan selain unta, disembelih dengan dibaringkan secara umum tanpa menyebutkan arahnya ke kiri atau ke kanan. Beliau mengatakan,

يذبح غير الإبل مضجعة على جنبها، ويضع رجله على صفحة عنقها ليتمكن منها؛ لما روى أنس بن مالك رضي الله عنه قال: ضحى رسول الله صلى الله عليه وسلم بكبشين أملحين ـ وفي رواية: أقرنين فرأيته واضعا قدمه على صفاحهما يسمى ويكبر فذبحهما بيده. رواه البخاري

“Hewan selain unta, disembelih dengan membaringkan lambungnya dan yang menyembekih meletakkan kakinya di atas lehernya agar kuat ketika menyembelihnya. Hal itu berlandaskan pada riwayat yang datang dari Anas radhiyallahu ‘anhu yang berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dua kambing yang warnanya putih kehitam-hitaman–di dalam suatu riwayatdisebutkan bertanduk. Aku melihat beliau meletakkan kakinya di leher hewan tersebut. Kemudin beliau membaca basmalah dan takbir. Setelah itu, beliau menyembelih hewan tersebut dengan tangannya.” (Ahkam al-Udhhiyyah, Jilid 2, hlm. 284).

Memang yang lebih mudah membaringkan hewan ke sebelah kiri. Namun, terkadang seorang yang kidal sulit untuk menerapkan hal tersebut. Jika seperti ini keadaannya, hewan dibaringkan ke sebelah kanan. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menuturkan,

ويكون الإضجاع على الجنب الأيسر، لأنه اسهل للذبح، فإن كان الذابح أعسر وهو الأشدف الذي يعمل بيده اليسرى عمل اليد اليمني، وكان اليسر له أن يضجعها على الجنب الأيمن، فلا بأس أن يضجعها عليه؛ لأن المهم راحة الذبيحة

“Hewan tersebut dibaringkan ke lambung sebelah kirinya karena hal itu lebih mudah untuk penyembelihan. Jika si penyembelih merasa kesulitan karena dia adalah seorang yang kidal yang tangan kirinya berperan menjadi tangan kanan dan menjadi mudah baginya untuk menyembelih ketika dibaringkan ke sebelah kanan, maka tidak mengapa karena yang terpenting adalah menjadikan hewan yang disembelih tersebut merasa nyaman.” (Ahkam al-Udhhiyyah, Jilid 2, hlm. 284).

Ketika menyembelih, hendaknya kepala hewan diangkat agar terlihat bagian yang akan disembelih. Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menerangkan,

وينبغي أن يمسك برأسها ويرفعه قليلا ليبين محل الذبح

“Semestinya untuk menahan kepala (hewan) dan mengangkatnya sedikit (mendongakkannya) agar terlihat jelas bagian yang akan disembelih.” (Ahkam al-Udhhiyyah, Jilid 2, hlm. 284).

Ketika menyembelih hewan, hendaknya dengan cara mengistirahatkannya agar jangan sampai dia tersiksa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan,

وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ

“Hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim no. 1.955).

Disebutkan di dalam fatwa al-Lajnah ad-Da’imah,

يجب أن تكون التذكية في محل الذبح، وأن يقطع المريء والودجان، أو أحدهما

“Penyembelihan wajib dilakukan pada bagian tempat dipotongnya (leher) dan harus terpotong kerongkongan serta dua urat leher atau salah satunya.” (Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, Jilid 22, hlm. 464).

Setelah hewan disembelih, hendaknya dibiarkan saja, jangan ditahan. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan,

ويستحب أن لا يمسكها بعد الذبح مانعا لها من الاضطراب

“Dianjurkan untuk tidak menahannya setelah penyembelihan untuk mencegahnya dari menggelepar-gelepar. ” (Al-Majmu’, Jilid 9, hlm. 89).

Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menyebutkan dari sebagian ulama hikmahnya,

من فوائد إطلاقها وعدم إمساكها أن حركتها تزيد في إنهار الدم وإفراغه من الجسم

“Di antara faedah melepaskan dan tidak menahannya bahwasanya dengan bergeraknya hewan tersebut akan menambah darahnya mengalir dan menghabiskannya dari jasad.” (Ahkam al-Udhhiyyah, Jilid 2, hlm. 284).

Masalah Ketiga: Hukum Hewan yang Terpotong Kepalanya.

Jika si penyembelih melampaui batas dalam penyembelihannya sampai kepalanya terpotong, halalkah sembelihannya? Jawabannya adalah halal. Al-Imam al-Bukhari rahimahullah menyebutkan di dalam Shahih-nya di dalam kitab adz-Dzabaih wash-Shaid pada bab an-Nahr wadz-Dzabh,

وقال ابن عمر وابن عباس وأنس إذا قطع الرأس فلا بأس

“Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, dan Anas mengatakan, apabila kepalanya sampai terpotong, maka tidak mengapa.”

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menyebutkan,

فإن أحمد سئل عن رجل ذبح دجاجة، فأبان رأسها؟ قال: يأكلها

“Sesungguhnya al-Imam Ahmad telah ditanya tentang seseorang yang menyembelih ayam sampai kepalanya terpotong. Beliau menjawab, tidak mengapa untuk dimakan.” (Al-Mughni, Jilid 9, hlm. 401).

Namun, semestinya seorang muslim berhati-hati dalam menyembelih dan tidak melakukan yang demikian itu. Al-Imam Ibnu Abi Zaid al-Qayrawani rahimahullah menerangkan,

وإن تمادى حتى قطع الرأس أساء ولتؤكل

“Jika si penyembelih melampaui batas sampai terpotong kepala hewan tersebut, maka dia telah berbuat kesalahan. Namun, hukum hewannya (halal) dimakan.” (Ar-Risalah, Jilid 1, hlm. 80).

Masalah Keempat: Syarat Sah Hewan Sembelihan.

Terkait tentang syarat sahnya hewan sembelihan, maka Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menyebutkan ada sembilan syarat.

  1. Seorang yang menyembelih memungkinkan untuk bertujuan (berniat) ketika menyembelih, yaitu berusia tamyiz dan berakal.
  2. Si penyembelih adalah muslim atau ahli kitab (Yahudi dan Nasrani).
  3. Dia berniat menyembelih.
  4. Tidak menyembelih untuk selain Allah.
  5. Tidak memperuntukkannya kepada selain Allah dengan menyebut nama selain Allah ketika menyembelih.
  6. Membaca basmalah.
  7. Menyembelih dengan benda yang tajam yang dapat mengalirkan darah, tetapi bukan gigi atau kuku.
  8. Mengalirkan darah pada tempat penyembelihannya.
  9. Orang yang menyembelih adalah orang yang diizinkan oleh syariat dalam penyembelihannya (baik dengan hak Allah, yaitu dia bukan seorang yang sedang ihram; atau dengan hak makhluk, yaitu hewannya bukan hasil curian atau yang semisalnya).

Masalah Kelima: Hukum Hewan yang Disembelih Tanpa Disebut Basmalah.

Apakah hewan yang disembelih dengan tanpa disebut basmalah masih tetap sah walaupun lupa atau tidak sengaja? Dalam hal ini Allah taala telah menyebutkan,

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

“Janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.” (Al-An’am: 121).

Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menerangkan,

ولا فرق بين أن يترك اسم الله عليها عمدا مع العلم أو نسيانا أو جهلا لعموم هذه الاية، ولأن النبي صلى الله عليه وسلم جعل التسمية شرطا في الحل، والشرط لا يسقط بالنسيان والجهل

“Tidak ada perbedaan tatkala seseorang meninggalkan basmalah baik disengaja maupun tidak karena ayat ini umum. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan basmalah sebagai syarat dalam kehalalan hewan sembelihan; dan syarat tidaklah gugur karena lupa atau tidak sengaja.” (Mukhtashar Ahkam al-Udhhiyyah, Jilid 1, hlm 24).

Mungkin ada yang bertanya, bukankah Allah memaafkan orang yang lupa dan tidak sengaja? Beliau pun menerangkan,

أما أن نعرف أن هذه الذبيحة لم يسم عليها، فلا يجوز أكلها وأما فعل الذابح: فإذا نسي التسمية، فقد قال الله تعالى: ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا (البقرة: ٢٨٦) فإذا قال قائل: كيف تؤاخذونه وقد نسي؟! قلنا: لا نؤاخذه، فنقول: ليس عليك إثم بعدم التسمية، ولو تعمدت ترك التسمية لكنت آثما لما في ذلك من إضاعة المال وإفساده

“Adapun tatkala kita mengetahui bahwa sembelihan ini disembelih tanpa membaca basmalah, maka tidak boleh dimakan. Adapun jika si penyembelihnya lupa akan hal itu, maka sungguh Allah telah berfirman,

‘Ya Rabb kami, jangan engkau siksa kami jika kami lupa atau tidak sengaja.’ (Al-Baqarah: 286).

Jika ada yang bertanya bagaimana kalian menyatakan berdosa seseorang yang lupa? Kita katakan, kami tidak mengatakan demikian, tetapi kami katakan, engkau tidak berdosa jika melakukannya karena lupa. Namun, jika engkau sengaja, niscaya engkau berdosa karena telah menyia-nyiakan harta dan merusaknya.” (Asy-Syarh al-Mumti’, Jilid 7, hlm. 444).

Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan, hendaknya seseorang sangat berhati-hati ketika menyembelih hewan. Jangan sampai lupa membaca basmalah karena akibatnya fatal. Jika seseorang meninggalkan bacaan basmalah dengan sengaja, maka dia berdosa dan sembelihannya haram. Namun, jika dia lupa atau tidak sengaja, dia tidak berdosa, tetapi hewannya tetap tidak halal untuk dimakan.

Masalah Keenam: Adab Penyembelihan.

Ada beberapa adab lainnya yang perlu diperhatikan tatkala menyembelih hewan kurban di antaranya:

Berbuat baik kepada hewan sembelihan tanpa menyiksanya sedikit pun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan,

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ. فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوْا اْلقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوْا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa taala telah menetapkan perbuatan ihsan (baik) pada segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim no. 1.955).

Di antara perbuatan baik dalam penyembelihan adalah menajamkan pisau; tidak menyembelihnya di hadapan hewan lain; dan tidak mengasah pisau di depan hewan yang akan disembelih. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,

أنَّ النَّبيَّ أمرَ أن تُحَدَّ الشِّفارُ، وأن تُوارَى عنِ البَهائمِ وقالَ: إذا ذبحَ أحدُكُم فليُجهِزْ–أيْ فليُتِمَّ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menajamkam pisau dan tidak melakukan penyembelihan di hadapan hewan-hewan lain. Beliau mengatakan, ‘Apabila salah seorang dari kalian menyembelih, hendaklah menyempurnakannya.” (Ash-Shahihah, 7/360).

Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhuma menerangkan,

مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى رَجُلٍ وَاضِعٍ رِجْلَهُ عَلَى صَفْحَةِ شَاةٍ وَهُوَ يَحُدُّ شَفْرَتَهُ وَهِىَ تَلْحَظُ إِلَيْهِ بِبَصَرِهَا فَقَالَ: أَفَلاَ قَبْلَ هَذَا أَتُرِيدُ أَنْ تُمِيتَهَا مَوْتَتين

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati seseorang yang sedang meletakkan kakinya di leher kambing sambil mengasah pisaunya, sedangkan kambing itu melihat kepadanya dengan pandangannya. Lalu beliau bersabda,

‘Kenapa engkau tidak melakukannya (mengasahnya) sebelum ini? Apakah engkau hendak membunuhnya dua kali?’.” (HR. al-Baihaqi; disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 24).

Masalah Ketujuh: Apakah Ada Bacaan Tertentu Selain Basmalah?

Apakah ada bacaan yang dibaca ketika menyembelih selain basmalah? Berkaitan tentang bacaan menyembelih, para ulama telah membahasnya. Ibnu Qudamah rahimahullah menyebutkan,

وقد ثبت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا ذبح قال بسم الله والله أكبر

“Sungguh telah tetap bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak menyembelih beliau membaca bismillahi wallahu akbar.” (Al-Mughni, Jilid 9, hlm. 368).

Syekh ‘Abdul’aziz bin Baz rahimahullah menerangkan,

السنة عند الذبح أن يقول: باسم الله، والله أكبر سواء ضحية أو للأكل

“Yang sesuai dengan sunah ketika menyembelih adalah mengatakan bismillahi wallahu akbar, baik untuk hewan kurban maupun sekedar untuk dimakan.” (Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Jilid 18, hlm. 185).

Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

يقول: بسم الله وجوبا؛ لأن من شرط حل الذبيحة أو النحيرة التسمية، و «الله أكبر» استحبابا

“Seseorang membaca bismillah ketika menyembelih hukumnya wajib karena termasuk dari syarat halalnya sembelihan atau yang di-nahr adalah mengucapkan bismillah. Adapun allahu akbar hukumnya sunah.” (Asy-Syarh al-Mumti’, Jilid 7, hlm. 443).

Adapun yang berkaitan dengan sembelihan hewan kurban, sungguh telah disebutkan dalam beberapa hadis dan penjelasan ulama. Sahabat yang mulia, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor kambing putih kehitaman yang bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangannya sendiri. Beliau membaca basmalah dan bertakbir sambil meletakkan kakinya di atas leher kambing tersebut.” (HR. al-Bukhari no. 5.565 dan Muslim no. 1.966).

Demikian pula dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhuma berkata,

شهدت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم الأضحى بالمصلى، فلما قضى خطبته , نزل من منبره , وأتى بكبش , فذبحه رسول الله صلى الله عليه وسلم بيده , وقال: بسم الله والله أكبر هذا عنى وعن من لم يضح من أمتي

“Aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadiri salat Iduladha di tanah lapang. Tatkala telah menyelesaikan khotbahnya, beliau turun dari mimbarnya dan didatangkan kepada beliau kambing. Beliau pun menyembelihnya dengan tangannya dan membaca, bismillah wallahu akbar hadza ‘anni wa ‘amman lam yudhahi min ummati (bismillah, Allahu Akbar, ini dariku dan dari umatku yang belum berkurban).” (HR. Abu Dawud no. 2.810, at-Tirmidzi, ath-Thahawi, dan yang lainnya; disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam al-Irwa’ no. 1.138).

Disebutkan pula dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,

أن النبى صلى الله عليه وسلم، ذبح يوم العيد كبشين–وفيه–ثم قال: بسم الله والله أكبر, اللهم هذا منك ولك

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Iduladha menyembelih dua ekor kambing. (Sebelum menyembelih) beliau membaca zikir bismillahi wallahu akbar, Allahumma hadza minka wa laka (bismillah, Allahu Akbar, ya Allah ini adalah darimu dan untukmu).” (HR. Abu Dawud; disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam al-Irwa’ no. 1.152).

Demikian pula dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِي سَوَادٍ، وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ، وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ، فَأُتِيَ بِهِ لِيُضَحِّيَ بِهِ، فَقَالَ لَهَا: يَا عَائِشَةُ، هَلُمِّي الْمُدْيَةَ، ثُمَّ قَالَ: اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ، فَفَعَلَتْ: ثُمَّ أَخَذَهَا، وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ، ثُمَّ ذَبَحَهُ، ثُمَّ قَالَ: بِسْمِ اللهِ، اللهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ، وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ، ثُمَّ ضَحَّى بِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan (untuk membeli) seekor kambing jantan yang bertanduk, kakinya hitam, perutnya hitam, dan matanya hitam. Hewan tersebut pun didatangkan kepada beliau untuk beliau berkurban dengannya. Lalu beliau berkata kepada ‘Aisyah, ‘Wahai ‘Aisyah, berikan pisau itu.’ Kemudian beliau berkata, ‘Asahlah dengan batu.’ ‘Aisyah pun melakukannya. Kemudian beliau mengambilnya kembali dan mengambil kambing jantan tersebut. Lalu beliau membaringkannya lantas menyembelihnya seraya membaca, bismillah, Allaahumma taqabbal min Muhammad wa ali Muhammad, wa min ummati Muhammad (bismillah, Ya Allah terimalah dari Muhammad, keluarganya, dan umatnya). Kemudian beliau berkurban dengan hewan tersebut.” (HR. Muslim no. 1.967)

Ibnu Qudamah rahimahullah menerangkan,

وَإِنْ زَادَ فَقَالَ: اللَّهُمَّ هَذَا مِنْك وَلَك، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّي، أَوْ مِنْ فُلَانٍ فَحَسَنٌ وَبِهِ قَالَ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ

“Jika setelah bacaan takbir dan basmalah dia menambahkan bacaan Allahumma taqabbal minni au min fulan (Ya Allah, terimalah dariku atau dari si anu–sebutkan nama yang berkurban–), maka yang demikian itu bagus dan ini adalah pendapat jumhur ulama.” (Al-Mughni, Jilid 9, hlm. 456).

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan tatkala menjelaskan hadis ‘Aisyah di atas,

فِيهِ دَلِيلٌ لِاسْتِحْبَابِ قَوْلِ الْمُضَحِّي حَالَ الذَّبْحِ مَعَ التَّسْمِيَةِ وَالتَّكْبِيرِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّي

“Di dalam hadis ini terdapat dalil tentang disunahkan menyertakan ucapan doa Allahumma taqabbal minni (Ya Allah terimalah dariku) setelah membaca basmalah dan takbir tatkaka seseorang menyembelih hewan kurban.” (Syarh Shahih Muslim, Jilid 13, hlm. 122).

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan:

Yang harus dibaca tatkala menyembelih adalah basmalah dan jika ditambah dengan lafaz takbir, maka lebih utama. Adapun untuk hewan kurban, maka ada tambahan bacaan-bacaan yang disunahkan untuk dibaca, sebagaimana yang telah disebutkan pada penjelasan diatas. Namun, jika dia mencukupkan dengan bacaan basmalah saja, maka sembelihannya baik dalam bentuk kurban atau selainnya sah karena bacaan setelah basmalah hukumnya sunah, wallahu a’lam.

Masalah Kedelapan: Haruskah Menyembelih Menghadap Kiblat?

Apakah ketika menyembelih harus menghadap ke arah kiblat? Tidak harus demikian, tetapi jika dimudahkan, itulah yang afdal. Al-Lajnah ad-Da’imah pun telah mengeluarkan fatwa,

توجيه الذبيحة إلى القبلة وقت الذبح ليس من شروط صحة الذكاة، وإنما هو سنة

“Mengarahkan sembelihan ke arah kiblat ketika menyembelih bukanlah syarat sahnya sembelihan. Hanya saja, hukumnya adalah sunah.” (Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, Jilid 22, hlm. 497).

Disebutkan pula dalam keterangan fatwa yang lain tatkala menerangkan sunah-sunah menyembelih,

توجيه الذبيحة إلى القبلة؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم ما ذبح ذبيحة ولا نحر هديا إلا وجهه إلى القبلة

“Menghadapkan sembelihan ke arah kiblat karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyembelih satu hewan sembelihan pun dan melakukan nahr pada hadyu melainkan beliau arahkan ke kiblat.” (Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, Jilid 22, hlm. 363).

Jika ternyata tidak menghadap kiblat, maka tidak memberikan pengaruh terhadap sembelihannya, tetap sah. Disebutkan pula dalam keterangan fatwa yang lain tatkala ditanya tentang seorang yang menyembelih tidak menghadap kiblat,

فالذبح صحيح مجزئ في حل الأكل من الذبيحة لكن الذابح خالف السنة بتركه استقبال جهة القبلة بالذبيحة حين ذبحها

“Sembelihan tersebut sah dalam kehalalannya untuk dimakan dari hewan sembelihan. Namun, si penyembelih telah menyelisihi sunah dengan perbuatannya yang meninggalkan menghadap kiblat dengan sembelihan tatkala menyembelihnya.” (Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, Jilid 22, hlm. 478).

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: 
RINGKASAN FIKIH KURBAN
SYARAT-SYARAT HEWAN KURBAN
JENIS HEWAN YANG DIJADIKAN KURBAN
PIHAK YANG BERHAK MENERIMA KURBAN
HAL YANG BERKAITAN TENTANG PENYEMBELIHAN
LARANGAN MEMOTONG KUKU RAMBUT DAN KULIT BAGI YANG BERKURBAN
HAL LAIN YANG TERKAIT DENGAN HEWAN KURBAN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

PIHAK YANG BERHAK MENERIMA KURBAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Dalam hal ini, Allah subhanahu wa taala berfirman,

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَآئِسَ الْفَقِيْرَ

“Makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (Al-Hajj: 28).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كلوا وادخروا وتصدقوا

“Makan dan simpanlah serta bersedekahlah dengannya.” (HR. Muslim no. 1.971).

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan,

كلوا وأطعموا وادخروا

“Makanlah, bagikanlah, dan simpanlah.” (HR. al-Bukhari no. 5.569).

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan dua hadis di atas,

وهو أعم من الأول لأن الإطعام يشمل الصدقة على الفقراء والهدية للأغنياء

“Hadis yang kedua ini lebih umum daripada yang pertama karena lafaz al-ith‘ām mencakup sedekah untuk orang-orang fakir dan hadiah untuk orang-orang kaya.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 251).

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa daging kurban dibagi-bagikan, dimakan, dan disimpan oleh pemiliknya, serta dibagi-bagikan dalam bentuk sedekah dan hadiah. Apakah ketentuan dalam pembagiannya sepertiga? Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Namun, tidak ada dalil yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ukurannya. Karena itu, boleh dia bagi dengan sepertiga boleh juga tidak. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

الصدقة بالثلث من الأضحية ليست بالواجب لك أن تأكل كل الأضحية إلا شيئا قليلا تتصدق به والباقي لك أن تأكله لكن الأفضل أن تتصدق وتهدي وتأكل

“Bersedekah dengan sepertiga dari kurban tidaklah wajib, boleh semuanya engkau makan dan hanya menyisakan sedikit untuk disedekahkan. Namun, yang lebih utama adalah engkau bersedekah, menghadiahkan, dan memakannya.” (Fatāwā Nūr ‘ala ad-Darb, Jilid 13, hlm. 2).

Pembagian hewan kurban ini luas, mencakup orang kaya dan orang miskin, bahkan boleh dibagikan kepada kerabat-kerabat dan tetangga-tetangga. Syekh ‘Abdul‘aziz bin Baz rahimahullah menerangkan,

في الهدايا والضحايا، يأكل منها ما تيسر، ويطعم الفقراء، ويهدي إلى أقاربه، كل هذا أمر مستحب، وليس فيه تحديد، قد رأى بعض أهل العلم التثليث، وأنه يستحب أن يثلث، فيأخذ ثلثا لنفسه وأهل بيته، وثلثا يهديه لأقاربه وجيرانه، وثلثا للفقراء، ولكن هذا ليس بواجب، إذا فعل ذلك فلا بأس، وإذا أكل أكثر من الثلث، أو أهدى أكثر من الثلث، أو أعطى الفقراء غالبا فلا بأس به، والحمد لله

“Dalam pembahasan hadyu dan hewan kurban, boleh dia makan yang mudah baginya, menyedekahkan kepada orang-orang fakir, menghadiahkan kepada kerabat-kerabat, dan semuanya perkara yang disunahkan. Tidak ada batasan dalam pembagiannya. Sebagian ulama berpendapat dianjurkan dibagi tiga: sepertiga untuk dirinya dan keluarganya; sepertiga untuk kerabat dan tetangga-tetangganya; serta sepertiga untuk orang-orang fakir. Namun, pembagian seperti ini tidaklah wajib. Jika dia lakukan, tidak mengapa. Jika dia makan atau menghadiahkannya lebih dari sepertiga, atau dia berikan sebagian besarnya kepada orang-orang fakir, maka semua ini tidak mengapa, walhamdulillah.” (Fatāwā Nūr ‘ala ad-Darb, Jilid 17, hlm. 353).

Masalah Pertama: Ketentuan Daging yang Dibagikan.

Apakah daging yang dibagikan harus mentah? Al-Lajnah ad-Da’imah telah mengeluarkan fatwa dalam hal ini,

والأمر في توزيعهامطبوخة أو غير مطبوخة واسع، وإنما المشروع فيها أن يأكل منها، ويهدي، ويتصدق

“Dalam pembagiannya, apakah dimasak atau mentah, urusannya mudah (boleh semua). Hanya saja yang disyariatkan adalah memakan, menghadiahkan, dan bersedekah dengannya.” (Fatāwā al-Lajnah ad-Da’imah, Jilid 11, hlm. 394).

Masalah Kedua: Hukum Menjual Daging Kurban dan Upah Si Penjagal.

Bolehkah menjual daging kurban atau memberi upah si penjagal? Dalam hal ini al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

ويحرم أن يبيع شيئا منها من لحم أو شحم أو دهن أو جلد أو غيره لأنها مال أخرجه لله فلا يجوز فيه الرجوع كالصدقة ولا يعطي الجازر شيئا منها في مقابلة أجرته أو بعضها لأن ذلك بمعنى البيع

“Diharamkan menjual sesuatu dari hewan kurban, seperti daging, lemak, kulit, atau yang lainnya karena kurban adalah harta yang dikeluarkan untuk Allah. Tidak boleh mengambil kembali pemberiannya, sebagaimana sedekah. Penjagalnya pun tidak diberikan sesuatu sebagai balasan dari perbuatannya karena yang seperti ini bermakna jual beli.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 253).

Adapun orang yang menerimanya, maka boleh dia jual belikan dan berikan kepada pihak lain sebagai sedekah atau hadiah karena sudah menjadi miliknya. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

فأما من أهدي له شيء منها أو تصدق به عليه فله أن يتصرف فيه بما شاء من بيع وغيره؛ لأنه ملكه ملكا تاما فجاز له التصرف فيه

“Adapun orang yang dihadiahkan dan mendapatkan sedekah dari kurban, maka boleh berbuat sesuai yang dia inginkan seperti menjual dan yang lainnya karena sudah menjadi miliknya dengan sempurna. Boleh dia berbuat pada sesuatu yang sudah menjadi miliknya.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 253).

Namun, bagi yang sudah memberikan dagingnya, tidak boleh membelinya kepada orang yang telah dia hadiahkan atau sedekahkan. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

لا يشتريه من أهداه أو تصدق به لأنه نوع من الرجوع في الهبة والصدقة

“Tidak boleh membelinya kepada orang yang telah dihadiahkan atau sedekahkan dengannya karena hal ini termasuk dari jenis menarik pemberian dan sedekah.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 253).

Dalil dalam hal ini adalah hadis sahih dari Zaid bin Aslam dari ayahnya yang mendengar ‘Umar radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

عمر رضي الله عنه يقول حملت على فرس في سبيل الله فأضاعه الذي كان عنده فأردت أن أشتريه وظننت أنه يبيعه برخص فسألت النبي صلى الله عليه وسلم فقال لا تشتري ولا تعد في صدقتك وإن أعطاكه بدرهم فإن العائد في صدقته كالعائد في قيئه

“Aku menyedekahkan kuda untuk berperang di jalan Allah. Namun, pemiliknya menyia-nyiakannya, maka aku berkeinginan untuk membelinya dan aku mengira bahwa dia akan menjualnya dengan harga yang murah. Aku pun bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau menjawab, ‘Jangan engkau beli! Jangan engkau ambil kembali sedekahmu walaupun dengan bayaran (beberapa) dirham karena orang yang menarik kembali sedekahnya sama seperti dia menjilat muntahannya kembali.” (HR. al-Bukhari no. 1.490 dan Muslim no. 1.620).

Dibolehkan bagi penjagal untuk mengambil pemberian hewan kurban berupa hadiah atau sedekah bukan sebagai upah. Bahkan dia sangat berhak mendapatkannya. Ibnu Qudamah rahimahullah menerangkan,

فأما إن دفع إليه لفقره، أو على سبيل الهدية، فلا بأس؛ لأنه مستحق للأخذ، فهو كغيره، بل هو أولى؛ لأنه باشرها، وتاقت نفسه إليها

“Adapun jika dia diberi karena dia fakir; atau jika tidak, sebagai hadiah, maka tidak mengapa karena dia berhak mendapatkannya sebagaimana yang lainnya. Bahkan dia lebih berhak dari yang lainnya karena dia yang mengurusi penyembelihannya yang tentu pada jiwanya ada rasa berharap mendapatkannya.” (Al-Mughni, Jilid 9, hlm. 450).

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: 
RINGKASAN FIKIH KURBAN
SYARAT-SYARAT HEWAN KURBAN
JENIS HEWAN YANG DIJADIKAN KURBAN
PIHAK YANG BERHAK MENERIMA KURBAN
HAL YANG BERKAITAN TENTANG PENYEMBELIHAN
LARANGAN MEMOTONG KUKU RAMBUT DAN KULIT BAGI YANG BERKURBAN
HAL LAIN YANG TERKAIT DENGAN HEWAN KURBAN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

SYARAT-SYARAT HEWAN KURBAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Berkaitan tentang hal ini, al-’Allamah Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menyebutkan ada empat syarat.

  1. Hewan kurban tersebut dimiliki oleh orang yang berkurban.
  2. Hewan yang dijadikan kurban adalah hewan yang ditentukan syariat, yaitu unta, sapi, dan kambing.
  3. Hewan yang dijadikan kurban telah mencapai usia yang telah ditentukan.
  4. Selamat dari cacat yang menghalangi sahnya kurban tersebut. (Ahkām al-Udhhiyyah, Jilid 2, hlm. 236–237).

Terkait syarat pertama, sangat jelas tidak boleh kita mengambil hak orang lain tanpa cara yang benar, kemudian dikurbankan. Adapun syarat kedua, sungguh telah berlalu penjelasannya. Kemudian syarat ketiga, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan usia hewan yang harus terpenuhi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنَ الضَّأْنِ

“Janganlah kalian menyembelih hewan kurban melainkan telah mencapai usia musinnah. Kecuali bila kalian mengalami kesulitan, silakan kalian menyembelih kambing domba yang berumur jadza’ah.” (HR. Muslim no. 1.963).

Al-’Allamah Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menerangkan,

فالثني من الإبل: ما تم له خمس سنين، والثني من البقر ما تم له سنتان، والثني من الغنم ضأنها ومعزها ما تم له سنة، والجذع من الضأن: ما تم له نصف سنة

“(Yang dimaksud dengan usia musinnah adalah) untuk unta yang telah genap berusia lima tahun; untuk sapi yang telah genap berusia dua tahun; untuk kambing baik yang domba maupun ma’iz yang telah genap berusia satu tahun. Adapun domba yang berumur jadz’ah maknanya adalah yang telah genap usia enam bulan.” (Ahkām al-Udhhiyyah, Jilid 2, hlm. 237).

Dari penjelasan di atas, bisa kita ambil kesimpulan untuk usia hewan kurban sebagai berikut.

Kita diperintahkan untuk mencari hewan yang mencapai usia musinnah, yaitu unta lima tahun atau lebih; sapi dua tahun atau lebih; dan kambing satu tahun atau lebih. Jika kesulitan, boleh kambing domba yang usianya setengah tahun. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan,

قال العلماء المسنة هي الثنية من كل شيء من الإبل والبقر والغنم فما فوقها وهذا تصريح بأنه لا يجوز الجذع من غير الضأن في حال من الأحوال

“Ulama mengatakan, yang dimaksud dengan musinnah adalah tsaniyah, yaitu unta, sapi, dan kambing yang usianya telah terpenuhi atau lebih. Di sini terdapat penjelasan bahwa tidak boleh jadza’ (yang berusia enam bulan) kecuali domba bagaimanapun keadaannya.” (Syarh Shahih Muslim, Jilid 13, hlm. 117).

Adapun syarat keempat, sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أربعٌ لا تُجزئُ في الأضاحيِّ: العَوراءُ البيِّنُ عوَرُها، والمريضةُ البيِّنُ مرضُها، والعَرجاءُ البيِّنُ ظَلعُها، والكسيرةُ الَّتي لاتُنقي

“Empat hal yang tidak diperbolehkan pada hewan kurban, yaitu yang buta sebelah matanya dan jelas butanya; yang sakit dan jelas sakitnya; yang pincang dan jelas pincangnya; serta yang kurus dan tidak bersumsum.” (Ibnu Majah; Shahih Ibnu Majah no. 2.562).

Para ulama sepakat dalam memilih hewan kurban bahwa dianjurkan yang bagus. Adapun yang cacat yang disebutkan di dalam hadis, semakna, atau bahkan lebih parah, maka tidak sah. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan,

وأجمعوا على استحباب استحسانهاواختيار أكملها وأجمعوا على أن العيوب الأربعة المذكورة في حديث البراء وهو المرض والعجف والعور والعرج البين لاتجزى التضحية بها وكذا ماكان في معناها أو أقبح كالعمى وقطع الرجل وشبهه وحديث البراء هذا لم يخرجه البخاري ومسلم فى صحيحهما ولكنه صحيح رواه أبوداود والترمذي والنسائي وغيرهم من أصحاب السنن بأسانيد صحيحة وحسنة قال أحمد بن حنبل ما أحسنه من حديث وقال الترمذي حديث حسن صحيح والله أعلم

“Para ulama sepakat tentang dianjurkannya memilih hewan kurban yang bagus dan paling sempurna. Mereka juga sepakat bahwa empat cacat yang disebutkan di dalam hadis dari sahabat Barra’, yaitu sakit yang jelas, kurus tanpa sum-sum, buta sebelah yang jelas butanya, pincang yang jelas, tidak sah berkurban dengannya. Demikian pula yang semakna dengannya atau yang lebih parah seperti kedua matanya buta; terpotong kakinya; atau yang semisalnya. Hadis Barra’ tidak dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam Shahih, tetapi hadis tersebut adalah hadis yang sahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan yang lainnya dari ashabussunan dengan sanad-sanad yang sahih dan hasan. Ahmad bin hambal rahimahullah mengatakan, ‘Alangkah bagus (sanadnya).’ At-Tirmidzi mengatakan, ‘Hadis hasan sahih.’ Wallahu a’lam.” (Syarh Shahih Muslim, Jilid 13, hlm. 120).

Masalah Pertama: Hewan Kurban yang Dipelihara Mengalami Sakit atau Cacat.

Memelihara hewan untuk kurban kemudian setelah itu hewan tersebut sakit atau cacat. Selanjutnya jika seseorang telah memelihara hewan untuk kurban sebelum waktunya, tatkala masuk waktu berkurban ternyata hewan tersebut sakit atau cacat apa yang harus dia lakukan? Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menerangkan,

يقول العلماء رحمهم الله من عين الأضحية وقال هذه أضحيتي صارت أضحية فإذا أصابها مرض أو كسر فإن كنت أنت السبب فإنها لا تجزئ وبجب عليك أن تشتري بدلها مثلها أو أحسن منها وإن لم تكن السبب فإنها تجزئ

“Ulama rahimahumullah mengatakan, siapa saja yang telah menentukan hewan kurbannya seraya mengatakan ini hewan kurbanku, maka jadilah itu hewan kurban. Tatkala hewan tersebut sakit atau cacat dan engkau menjadi penyebabnya (karena kelalaian atau yang lainnya), maka wajib membeli ganti yang semisalnya atau yang lebih bagus. Jika tidak menjadi penyebabnya, maka berkurban dengannya sah.” (Al-Liqa’ asy-Syahri, Jilid 25, hlm. 99).

Namun, beliau mengingatkan ketika membeli hewan untuk jangan terburu-buru menentukannya sebagai kurban. Beliau menuturkan,

الأولى أن الإنسان يصبر في تعيينها فيشتريها مبكرا من أجل أن يغذيها بغذاء طيب ولكن لا يعينها فإذا كان عن الذبح عينها وقال اللهم هذا منك ولك هذا عني وعن أهل بيتي وهو إذا لم يعين يستفيد فائدة مهمة وهي لو طرأ أن يدعها ويشتري غيرها فله ذلك لأنه لم يعينها

“Yang lebih utama adalah seseorang bersabar dalam menentukannya sebagai hewan kurban. Karena itu, silakan dia beli dengan segera untuk diberi nutrisi yang baik. Namun, waktu menentukannya adalah ketika menyembelih dan berkata, Allahumma hadza minka wa laka wa hadza ‘anni wa an ahli baiti. Dia akan mendapatkan faedah ketika belum menentukannya, yaitu jika terjadi sesuatu pada hewan tersebut dan dia ingin membeli yang lain, maka boleh baginya karena dia belum menentukannya.” (Al-Liqa’ asy-Syahri, Jilid 25, hlm. 99).

Masalah Kedua: Cara Penentuan Hewan Kurban.

Adapun yang berkaitan tentang penentuan hewan kurban, maka Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menyebutkan bisa tercapai dengan salah satu dari dua:

  1. Dengan melafazkannya, dia berkata ini hewan kurban. Dia membangun penentuan tersebut dari niatnya.
  2. Menyembelihnya dengan niat kurban. Tatkala dia sembelih dengan niat kurban, maka telah tetap padanya hukum kurban.

Inilah pendapat yang beliau kuatkan. Dan beliau menukil dari Syaikhul Islam yang menambahkan ketentuan ketiga yaitu penentuan kurban bisa tercapai juga dengan membelinya disertai niat berkurban. (Ahkām al-Udhīyah, jilid 2, hlm. 245).

Pendapat yang lebih mendekati kebenaran wal’ilmu ‘indallah adalah pendapat syaikhul Islam bahwa hewan kurban bisa tercapai penentuannya dengan salah satu dari tiga:

  1. Melafazkan bahwa ini adalah hewan kurban sebelum berkurban.
  2. Menyembelih dengan niat berkurban.
  3. Membeli hewan tersebut dengan niat berkurban.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إنما الأعمال بالنيات

“Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niatnya.” (HR. al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1.907).

Al-Lajnah ad-Daimah pun telah mengeluarkan fatwa,

الأضحية تتعين بشرائها بنية الأضحية أو بتعيينه

“Hewan kurban bisa tercapai penentuannya dengan membelinya disertai niat atau dengan menentukannya.” (Fatawa al-Lajnah, Jilid 11, hlm. 402).

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: 
RINGKASAN FIKIH KURBAN
SYARAT-SYARAT HEWAN KURBAN
JENIS HEWAN YANG DIJADIKAN KURBAN
PIHAK YANG BERHAK MENERIMA KURBAN
HAL YANG BERKAITAN TENTANG PENYEMBELIHAN
LARANGAN MEMOTONG KUKU RAMBUT DAN KULIT BAGI YANG BERKURBAN
HAL LAIN YANG TERKAIT DENGAN HEWAN KURBAN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

JENIS HEWAN YANG DIJADIKAN KURBAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

الجنس الذي يضحى به بهيمة الأنعام فقط لقوله تعالى وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ وبهيمة الأنعام هي الإبل والبقر والغنم من ضأن ومعز

“Jenis hewan yang dijadikan kurban hanya bahīmatul-an‘am, berlandaskan firman Allah ta’ala,

‘Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap bahīmatul-an‘am yang telah direzekikan Allah kepada mereka.’ (Al-Hajj: 34).

Yang dimaksud dengan bahīmatul-an‘am adalah unta, sapi, dan kambing dari jenis domba serta ma’iz (yakni kambing kacang dan yang semisalnya,-ed).” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 229).

Masalah: Berkurban dengan Selain Bahīmatul An’am.

Bolehkah seseorang berkurban dengan selain yang telah disebutkan, misalnya dengan ayam, burung, dan lain sebagainya? Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

فمن ضحى بشيء غير بهيمة الأنعام لم تقبل منه، مثل أن يضحي الإنسان بفرس، أو بغزال، أو بنعامة، فإن ذلك لا يقبل منه؟ لأن الأضحية إنما وردت في بهيمة الأنعام، والأضحية عبادة وشرع، لا يشرع منها ولا يتعبد لله بشيء منها إلا بما جاء به الشرع، لقول النبي صلى الله عليه وسلم: من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد أي مردود

“Barang siapa yang berkurban dengan selain bahīmatul-an‘am, seperti kuda, kijang, ataupun burung unta, maka tidak akan diterima karena berkurban hanyalah datang penyebutannya di dalam syariat dengan bahīmatul-an‘am. Berkurban adalah ibadah dan syariat. Tidak disyariatkan dan tidak boleh dijadikan ibadah kepada Allah kecuali dengan bimbingan yang dibawa oleh syariat. Hal ini berlandaskan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‘Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka tertolak’.” (Majmu‘ al-Fatāwa, Jilid 25, hlm. 12).

Adapun yang ternukilkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau berkurban dengan daging; dan Bilal dengan ayam jantan, maka hal ini tidak menunjukkan bolehnya berkurban dengan selain bahīmatul-an‘am. Ibnu ‘Abdilbarr rahimahullah menjelaskan,

وقال عكرمة بعثني بن عباس بدرهمين أشتري له بهما لحما وقال من لقيت فقل هذه أضحية بن عباس وهذا نحو فعل بلال فيما نقل عنه أنه ضحى بديك ومعلوم أن بن عباس إنما قصد بقوله أن الضحية ليست بواجبة وأن اللحم الذي ابتاعه بدرهمين أغناه عن الأضحى إعلاما منه بأن الضحية غير واجبة ولا لازمة وكذلك معنى الخبر عن بلال لو صح وبالله التوفيق

“‘Ikrimah mengatakan, ‘Ibnu ‘Abbas telah mengutusku membawa uang dua dirham untuk membeli daging dan beliau mengatakan, siapa saja yang engkau jumpai maka katakanlah: Ini kurban Ibnu ‘Abbas.’ Dinukil pula yang seperti ini dari Bilal bahwa beliau berkurban dengan ayam jantan. Perkara yang sudah maklum, Ibnu ‘Abbas hanyalah bertujuan dengan ucapannya untuk menjelaskan bahwa kurban itu tidak wajib dan daging yang dibeli dengan harga dua dirham telah mencukupinya dari binatang sembelihan untuk memberitahukan bahwa berkurban itu bukanlah kewajiban dan bukan suatu keharusan. Demikian pula makna berita yang datang dari Bilal. Wa billahit-taufiq.” (Al-Istidzkār, Jilid 5, hlm. 230).

Dengan demikian, yang diinginkan dari ucapan tersebut adalah untuk menjelaskan kepada umat bahwa berkurban itu tidak wajib, bukan bolehnya berkurban dengan jenis hewan tersebut karena telah ternukil bahwa Ibnu ‘Abbas tidak berkurban. Asy-Syathibi rahimahullah menjelaskan,

وقال طاوس: ما رأيت بيتا أكثر لحما وخبزا وعلما من بيت ابن عباس، يذبح وينحر كل يوم، ثم لا يذبح يوم العيد! وإنما كان يفعل ذلك لئلا يظن الناس أنها واجبة، وكان إماما يقتدى به

“Thawus berkata, ‘Aku tidak pernah melihat rumah yang paling banyak daging, roti, dan ilmunya dari rumah Ibnu ‘Abbas. Beliau menyembelih setiap hari, kemudian beliau tidak menyembelih hewan kurban pada hari raya. Hanyalah beliau lakukan itu agar manusia tidak mengira bahwa berkurban itu wajib sedangkan beliau adalah seorang imam yang diikuti’.” (Al-I‘tishām, Jilid 2, hlm. 491).

Oleh karena itu, yang wajib adalah berkurban dengan unta, sapi, atau kambing. Tidak boleh dengan selain ini karena demikianlah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

الأضحية عبادة كالهدي، فلا يشرع منها إلا ما جاء عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولم ينقل عنه صلى الله عليه وسلم أنه أهدى أو ضحى بغير الإبل والبقر والغنم.

“Berkurban adalah ibadah seperti hadyu. Oleh karena itu, tidak disyariatkan darinya kecuali dengan apa yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ternukil dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melakukan hadyu dan kurban dengan selain unta, sapi, dan kambing” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 229).

HEWAN YANG LEBIH UTAMA DIJADIKAN KURBAN

Pendapat yang kuat dalam hal ini adalah seseorang berkurban dengan seekor unta sendirian. Jika tidak mampu, maka dengan sapi sendirian. Jika tidak mampu pula, maka dengan kambing sendirian. Inilah pendapat mazhab Syafi‘i dan yang lainnya. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

مذهبنا أن أفضل التضحية بالبدنة ثم البقرة ثم الضأن ثم المعز وبه قال أبو حنيفة وأحمد وداود

“Mazhab kami (memandang), yang lebih utama dalam berkurban adalah unta, kemudian sapi, kemudian kambing jenis domba, kemudian ma’iz. Ini juga pendapat Abu Hanifah, Ahmad, dan Dawud” (Al-Majmū’, Jilid 8, hlm. 398).

Yang menunjukkan hal tersebut adalah lafaz hadis,

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ

“Barang siapa mandi sebagaimana mandi junub pada hari Jumat kemudian dia berangkat (pada waktu pertama), seakan-akan dia telah berkurban seekor unta. Barang siapa datang pada waktu kedua, seakan-akan dia telah berkurban seekor sapi. Barang siapa datang pada waktu ketiga, seakan-akan dia telah berkurban dengan seekor domba yang bertanduk” (HR. al-Bukhari no. 881 dan Muslim no. 850).

Disebutkan dengan urutan yang terbesar, yaitu unta karena dagingnya lebih banyak. Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan kenapa unta yang lebih utama,

لأنها أكثر ثمنا ولحما وأنفع

“Karena lebih besar, lebih banyak dagingnya, dan lebih bermanfaat.” (Al-Mughni, Jilid 9, hlm. 439).

Namun, perlu kita ketahui bahwa berkurban dengan kambing sendirian lebih utama daripada dengan unta atau sapi patungan. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

ذكر الفقهاء رحمهم الله أنه إذا ضحى بالبهيمة كاملة فالأفضل الإبل ثم البقر ثم الغنم والضأن أفضل من الماعز أما إذا ضحى بسبع من البدنة أو البقرة فإن الغنم أفضل والضأن أفضل من الماعز

“Fukaha rahimahumullah menyebutkan apabila seseorang berkurban dengan hewan secara sempurna untuk dia sendiri, maka yang afdal adalah unta, sapi, kemudian kambing. Kambing domba lebih utama daripada ma’iz. Adapun jika dia patungan tujuh orang baik dengan unta atau sapi, maka kambing (untuk sendiri) lebih utama dan kambing domba lebih utama daripada mā’iz.” (Majmū‘ al-Fatāwa, Jilid 25, hlm. 34).

Dibolehkan pula seseorang berkurban dengan kerbau karena termasuk jenis sapi. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

الجاموس من البقر

“Kerbau termasuk jenis sapi.” (Majmū‘ al-Fatāwa, Jilid 25, hlm. 34).

Ketentuan dalam hewan kurban, yaitu kambing untuk sendirian. Adapun sapi dan unta bisa untuk sendirian, bisa patungan. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

ولا يجزئ أن يشترك اثنان فأكثر اشتراك ملك في الأضحية الواحدة من الغنم ضأنها أو معزها، أما الاشتراك في البقرة أو البعير فيجوز أن يشترك سبعة في الواحدة

“Tidak sah untuk patungan dua orang atau lebih dalam kepemilikan satu ekor kambing, baik kambing jenis domba maupun ma’iz. Adapun patungan pada sapi atau unta, maka boleh tujuh orang dengan satu hewan.” (Majmū‘ al-Fatāwa, Jilid 25, hlm. 22).

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

تجزئ الشاة عن واحد ولا تجزئ عن أكثر من واحد

“Satu kambing mencukupi (dalam hal kepemilikan hewan kurban) untuk satu orang dan tidak sah lebih dari itu.” (Al-Majmū’, Jilid 8, hlm. 397).

Dari semua penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahasan dalam kepemilikan hewan kurban sebagai berikut.

  1. Apabila berkurban sendirian, maka yang afdal adalah unta, sapi, kemudian kambing. Kambing domba lebih utama daripada ma’iz.
  2. Jika patungan, yang afdal seperti urutannya yang awal, yaitu unta, kemudian sapi. Namun, jika seseorang berkurban sendirian dengan satu ekor kambing maka lebih utama.
  3. Khusus untuk kambing, tidak boleh patungan dan boleh patungan pada unta dan sapi.

Masalah Pertama: Berkurban Lebih dari Satu.

Tatkala seseorang diberikan kelapangan rezeki, bolehkah berkurban dengan lebih dari satu hewan kurban? Selama tidak melakukan pemborosan, maka tidak mengapa karena tidak ada batasan tentang jumlahnya. Syekh ‘Abdul‘aziz bin Baz rahimahullah tatkala ditanya tentang hal ini beliau menerangkan,

ما فيه تحديد، فالنبي صلى الله عليه وسلم كان يضحي بثنتين عليه الصلاة والسلام: أحداهما عنه وعن أهل بيته، والثانية عمن لم يضح من أمة محمد عليه الصلاة والسلام. فإذا ضحى الإنسان بواحدة أو اثنتين أو بأكثر فلا بأس

“Tidak ada batasan dalam hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berkurban dengan dua ekor hewan kurban: yang satu untuk beliau dan keluarganya serta yang satunya lagi untuk umatnya yang belum berkurban. Apabila seseorang berkurban dengan satu, dua, atau lebih, maka tidak mengapa.” (Fatāwa Nūr ‘ala ad-Darb, Jilid 18, hlm. 196).

Meskipun boleh, yang afdal adalah berkurban satu saja. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

لا شك أن التمسك بالسنة خير من عدمه وأضرب لذلك مثلا برجلين أحدهما قام يصلي سنة الفجر لكن يخففها والثاني قام يصلي سنة الفجر لكن يطول فيها أيهما الأوفق للسنة؟ الأول الذي يخفف ولكن الثاني وإن كان يطول ويفعل خلاف السنة إلا أنه لا يأثم فإذا قلنا إن السنة أن يجمع أهل البيت على أضحية واحدة فيقوم بها رب البيت فليس معنى ذلك أنهم لو ضحوا بأكثر من واحدة أنهم يأثمون لا يأثمون لكن المحافظة على السنة أفضل من كثرة العمل قال الله تعالى ليبلوكم أيكم أحسن عملا

“Tidak diragukan lagi bahwa berpegang teguh dengan sunah lebih baik daripada tidak demikian. Aku berikan permisalan. Sebagai contoh, ada dua orang yang menunaikan salat sunah dua rakaat sebelum subuh. Orang pertama meringankan salatnya dan yang kedua memperlama, mana yang lebih sesuai dengan sunah? Tentu yang pertama, yaitu yang meringankan salatnya. Akan tetapi, orang yang kedua meskipun dia memperlama dan menyelisihi sunah, dia tidak berdosa. Apabila kita katakan, sesungguhnya yang sunah adalah penghuni rumah berkurban dengan satu hewan dan kepala rumah tangganya melakukan demikian, maka dia telah mencocoki sunah. Namun, bukan berarti tatkala mereka berkurban lebih dari itu mereka berdosa. Mereka tidak berdosa, tetapi menjaga amalan agar menepati sunah adalah afdal daripada memperbanyak amal. Allah taala berfirman,

‘Agar Dia menguji kalian siapa yang lebih baik amalannya’ (Al-Mulk: 2).” (Majmū’ al-Fatāwa, Jilid 25, hlm. 39).

Selanjutnya, di antara perkara penting yang perlu kita ketahui bahwasanya dalam perserikatan hewan kurban ada dua macam.

  1. Berserikat dalam pahala. Hal ini dibolehkan tanpa batasan, yakni seseorang berniat dengan kurbannya pahalanya untuk keluarganya semua dan teman-temannya meskipun jumlah mereka banyak. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

والتشريك في الثواب لا حصر له

“Berserikat dalam hal pahala tidak ada batasannya.” (Asy-Syarh al-Mumti’, Jilid 7, hlm. 428).

Beliau pun menerangkan,

الاشتراك في الثواب، بأن يكون مالك الأضحية واحد ويشرك معه غيره من المسلمين في ثوابها فهذا جائز مهما كثر الأشخاص فإن فضل الله واسع

“Berserikat dalam pahala seperti pemilik hewan kurban satu dan ikut bergabung bersamanya orang lain dari kalangan muslimin dalam hal pahala, maka yang demikian ini adalah boleh sebanyak apa pun orangnya karena keutamaan Allah luas.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 230).

Beliau juga menerangkan,

فإذا ضحى الرجل بالشاة عنه وعن أهل بيته أو من شاء من المسلمين صح ذلك، وإذا ضح بسبع البعير أو البقرة عنه وعن أهل بيته أو من شاء من المسلمين صح ذلك

“Apabila seseorang berkurban dengan seekor kambing, dia niatkan pahalanya untuknya, keluarganya, dan siapa saja yang dia inginkan dari muslimin. Apabila dia berkurban patungan tujuh orang dengan sapi atau unta, dia niatkan pahalanya untuknya, keluarganya, dan siapa saja yang dia kehendaki dari muslimin, maka yang demikian itu sah.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 231).

  1. Berserikat dalam kepemilikan. Adapun dalam hal ini, maka telah berlalu penjelasannya, yaitu unta, sapi, dan kambing boleh bagi seseorang berkurban sendirian. Adapun jika ingin patungan, bilangannya tujuh untuk satu hewan; dan hewan yang bisa patungan hanya unta dan sapi, tidak pada kambing. Kambing hanya untuk satu orang.

Masalah Kedua: Berkurban dengan Berserikat, Namun Anggotanya Kurang dari Tujuh.

Bolehkah patungan untuk sapi atau unta dengan bilangan kurang dari tujuh atau lebih dalam kepemilikan? Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah telah menjelaskan,

ولا تجزئ عن أكثر من سبعة وإذا كانوا أقل من سبعة أجزأت عنهم

“Tidak sah berkurban lebih dari tujuh orang. Namun, apabila bilangan mereka kurang dari tujuh, maka boleh.” (Al-Umm, Jilid 2, hlm. 244).

Namun, jika bilangannya dipaskan tujuh, itulah yang lebih utama karena mengikuti hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jabir radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

نحرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عام الحديبية البدنة عن سبعة والبقرة عن سبعة

“Kami menyembelih hewan kurban bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Tahun Hudaibiah berupa unta patungan tujuh orang dan sapi patungan tujuh orang.” (HR. Muslim no. 1.318).

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: 
RINGKASAN FIKIH KURBAN
SYARAT-SYARAT HEWAN KURBAN
JENIS HEWAN YANG DIJADIKAN KURBAN
PIHAK YANG BERHAK MENERIMA KURBAN
HAL YANG BERKAITAN TENTANG PENYEMBELIHAN
LARANGAN MEMOTONG KUKU RAMBUT DAN KULIT BAGI YANG BERKURBAN
HAL LAIN YANG TERKAIT DENGAN HEWAN KURBAN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

RINGKASAN FIKIH KURBAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Pembahasan yang akan disajikan kali ini adalah yang berkaitan tentang fikih kurban. Dalam kesempatan ini, kami akan membawakan penjelasan ulama yang dilandasi dengan dalil-dalil dari al-Qur’an dan sunah karena kita sangat membutuhkan penjelasan ulama dalam memahami keduanya.
Kami mengucapkan terimakasih dengan untaian jazahumullahu khairan yang menjadi sebab terkumpulnya faedah-faedah ini dan tidak lupa kita saling mengingatkan karena kesalahan sangat mungkin terjadi pada manusia. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk selalu dalam kebaikan.

DEFINISI KURBAN

Kata kurban dalam syariat Islam disebut dengan al-Udhhiyah. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

الأضحية: ما يذبح من بهيمة الأنعام أيام الأضحى بسبب العيد؛ تقربا إلى الله عز وجل

“Al-Udhhiyah adalah segala sesuatu yang disembelih berupa bahīmatul-an‘ām pada hari-hari penyembelihan karena Iduladha (diselenggarakan) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.” (Ahkām al-Udhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 213).

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan yang dimaksud bahīmatul-an‘ām,

يعني الإبل والبقر والغنم

“Yaitu unta, sapi, dan kambing.” (Tafsīr Ibnu Katsīr, Jilid 5, hlm. 416).

HUKUM BERKURBAN

Kaum muslimin sepakat bahwa berkurban adalah amalan yang dianjurkan dan termasuk amalan yang disyariatkan. Allah subhanahu wa taala berfirman,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Karena itu, dirikanlah salat karena Rabb-mu dan berkurbanlah.” (Al-Kautsar: 3).

Allah taala pun menerangkan,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

“Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka.” (Al-Hajj: 34).

Sahabat yang mulia, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor kambing putih kehitaman yang bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangannya sendiri. Beliau membaca basmalah dan bertakbir sambil meletakkan kakinya di atas leher (sebelah kanan) kambing tersebut.”
(HR. al-Bukhari no. 5.565 dan Muslim no. 1.966).

Ibnu Qudamah rahimahullah menyebutkan,

وأجمع المسلمون على مشروعية الأضحية

“Kaum muslimin sepakat akan disyariatkannya berkurban.” (Al-Mughni, Jilid 9, hlm. 435).

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah juga menjelaskan,

ولا خلاف في كونها من شرائع الدين

“Tidak ada perbedaan pendapat bahwa berkurban ini termasuk dari syariat agama Islam.” (Fath al-Bāri, Jilid 1, hlm. 3).

Namun, para ulama berbeda pendapat tentang wajib atau sunahnya seseorang yang memiliki kemampuan untuk berkurban. Dalam hal ini, ada dua pendapat.

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menyebutkan bahwa yang berpendapat wajib adalah al-Auza‘i, Laits, mazhab Abu Hanifah, salah satu dari dua riwayat al-Imam Ahmad, dan salah satu dari dua pendapat al-Imam Malik, serta yang tampak dari mazhab al-Imam Malik. Sementara itu, yang berpendapat sunah muakadah dan jika ditinggalkan dalam keadaan mampu hukumnya makruh adalah mayoritas ulama, mazhab Syafi‘i, serta yang masyhur dari mazhab al-Imam Malik dan al-Imam Ahmad. (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 214–215).

Kemudian telah dinukil dari beberapa sahabat dengan sanad yang sahih bahwa hukum berkurban adalah sunah. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menukil dari Abu Bakr al-Shiddiq, ‘Umar bin al-Khaththab, Bilal, dan Abu Mas‘ud al-Badri radhiyallahu ‘anhum (Syarh Shahih Muslim, Jilid 13, hlm. 110).

Hal tersebut dikuatkan oleh pendapat Ibnu Hazm, sebagaimana yang dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah,

قال بن حزم لا يصح عن أحد من الصحابة أنها واجبة

“Ibnu Hazm mengatakan tidak ada yang sahih dari seorang pun dari kalangan para sahabat yang berpendapat bahwa berkurban itu hukumnya wajib.” (Fath al-Bāri, Jilid 10, hlm. 3).

Pendapat ini lebih mendekati kebenaran, wal-‘ilmu ‘indallah, dan lebih menenangkan hati karena inilah pendapat para sahabat, pendapat yang mewajibkan berpegang dengan lafaz-lafaz perintah dalam al-Qur’an ataupun hadis tentang berkurban. Namun, yang semestinya dilakukan oleh setiap muslim tatkala memiliki kemampuan adalah bersegera untuk berkurban dalam rangka mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; bersegera dalam kebaikan; dan mengagungkan syiar Allah. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

وسلوك سبيل الاحتياط أن لا يدعها مع القدرة عليها، لما فيها من تعظيم الله وذكره وبراءة الذمة بيقين

“Untuk berhati-hati dalam hal ini, hendaknya seseorang tidak meninggalkannya tatkala memiliki kemampuan karena dalam ibadah kurban terdapat pengagungan terhadap Allah; mengingat-Nya; dan melepaskan tanggungan dengan yakin.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 219).

Ibnu ‘Abdilbarr rahimahullah mengatakan,

ضحى رسول الله صلى الله عليه وسلم طول عمره ولم يأت عنه أنه ترك الأضحى وندب إليها فلا ينبغي لمؤمن موسر تركها وبالله التوفيق

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berkurban dan tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau tidak berkurban. Beliau menganjurkan untuk menunaikannya. Karena itu, tidak selayaknya bagi setiap mukmin yang diberi kelapangan meninggalkan berkurban. Wa billahit-taufiq.” (Al-Istidzkār, Jilid 5, hlm. 230).

Dengan demikian, tatkala seseorang memiliki kemampuan untuk berkurban, maka yang afdal adalah berkurban dan tidak bersedekah dengan seukuran harga hewan kurban. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

ويدل على أن ذبح الأضحية أفضل من الصدقة بثمنها أنه هو عمل النبي صلى الله عليه وسلم والمسلمين فإنهم كانوا يضحون ولو كانت الصدقة بثمن الأضحية أفضل لعدلوا إليها

“Yang menunjukkan bahwa menyembelih kurban lebih utama daripada bersedekah dengan seukuran harganya adalah amalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin yang mereka berkurban. Kalau seandainya bersedekah dengan seukuran harganya lebih utama, tentu mereka akan mengedepankannya.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 220).

BERKURBAN UNTUK ORANG YANG MENINGGAL

Dalam hal ini, al-Lajnah ad-Dā’imah mengeluarkan fatwa sebagai berikut.

أما الضحية عن الميت فإن كان أوصى بها في ثلث ماله مثلا أو جعلها في وقف له وجب على القائم على الوقف والوصية تنفيذها، وإن لم يكن أوصى بها ولا جعلها، وأحب إنسان أن يضحي عن أبيه أو أمه أو غيرهما فهو حسن ويعتبر هذا من نوع الصدقة عن الميت والصدقة عنه مشروعة في قول أهل السنة والجماعة

“Adapun berkurban untuk orang yang meninggal, jika dia mewasiatkan sepertiga hartanya untuk berkurban atau dia jadikan hewan kurban tersebut sebagai wakaf, maka wajib atas orang yang diserahi urusan wakaf dan wasiat tersebut untuk menunaikannya. Jika tidak demikian, misal seseorang ingin berkurban untuk ayah, ibunya, atau yang lain, maka ini adalah kebaikan dan terhitung sebagai bersedekah untuk orang yang meninggal. Sementara itu, bersedekah untuk orang yang meninggal disyariatkan menurut pendapat ahlusunah waljamaah.” (Fatāwa al-Lajnah ad-Dā’mah, Jilid 11, hlm. 418–419).

WAKTU BERKURBAN

Berkaitan dengan waktu berkurban, para ulama telah menjelaskan hal tersebut. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

أول وقتها بعد صلاة العيد لمن يصلون كأهل البلدان أو بعد قدرها من يوم العيد لمن لا يصلون كالمسافرين وأهل البادية فمن ذبح قبل الصلاة فشاته شاة لحم وليست بأضحية ويجب عليه ذبح بدلها على صفتها بعد الصلاة

“Awal waktu penyembelihan adalah setelah salat Id bagi yang menegakkan salat Id, seperti penduduk kota; atau setelah waktu yang diperkirakan salat itu berakhir bagi yang tidak menegakkan salat Id, seperti musafirin dan orang-orang yang tinggal di pedalaman. Barang siapa yang menyembelihnya sebelum salat, maka hewan sembelihan tersebut dagingnya untuk dimakan saja bukan hewan kurban (tidak sah) dan wajib untuk menggantinya setelah salat Id sesuai dengan tata caranya.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 225).

Dari penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa awal waktu penyembelihan adalah setelah salat secara langsung dan jika dilakukan sebelum salat, maka kurbannya tidak sah. Hal ini sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis,

مَنْ صَلىَّ صَلَاتَنَا وَنَسَكَ نُسُكَنَا فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا أُخْرَى

“Barang siapa yang salat seperti salat kami dan menyembelih hewan kurban seperti sembelihan kami, maka telah benar kurbannya. Barang siapa yang menyembelih sebelum salat, maka hendaklah dia menggantinya dengan yang lain.” (HR. al-Bukhari no. 5.563 dan Muslim no. 1.553).

Secara terperinci, waktu yang afdal adalah setelah selesai khotbah Iduladha. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

والأفضل أن يؤخر الذبح حتى تنتهي الخطبتان لأن ذلك فعل النبي صلى الله عليه وسلم قال جندب بن سفيان البجلي رضي الله عنه صلى النبي صلى الله عليه وسلم يوم النحر ثم خطب ثم ذبح . الحديث، رواه البخاري

“Yang afdal adalah tidak menyembelih sampai selesai khotbah karena yang demikian ini adalah perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jundub bin Sufyan al-Bajali radhiyallahu ‘anhu (dalam HR. al-Bukhari no. 985) mengatakan, ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan salat pada Iduladha, kemudian berkhotbah, kemudian menyembelih’.” (Ahkām al-Udhhiyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 225).

Adapun batas waktu penyembelihan dijelaskan oleh beliau sebagai berikut.

وينتهي وقت الأضحية بغروب الشمس من آخر يوم من أيام التشريق وهو يوم الثالث عشر من ذي الحجة فيكون الذبح في أربعة أيام: يوم العيد، و يوم الحادي عشر ويوم الثاني عشر ويوم الثالث عشر

“Waktu penyembeliahan berakhir dengan tenggelamnya matahari pada akhir hari tasyrik yakni hari ke-13 bulan Zulhijah. Karena itu, penyembelihan bisa dilakukan dalam waktu empat hari: hari Id, hari ke-11,12, dan 13.” (Ahkām al-Udhhiyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 226).

Hari ke-11, 12, dan 13 ini dinamakan dengan hari tasyrik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya untuk kita sebagai hari makan dan minum. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أيام التشريق أيام أكل وشرب وذكر الله

“Hari-hari tasyrik adalah hari makan dan minum serta berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim no. 1.141).

Kemudian menurut pendapat yang kuat, hari-hari ini juga merupakan hari penyembelihan hewan kurban berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كل أيام التشريق ذبح

“Semua hari tasyrik adalah hari penyembelihan (hewan kurban).” (Ash-Shahihah no. 2.476).

Masalah Pertama: Waktu yang Tepat untuk Berkurban.

Dalam waktu empat hari tersebut, kapan waktu yang tepat untuk berkurban? Penyembeliham boleh dilakukan pada waktu kapan pun dalam empat hari tersebut. Boleh dilakukan pada siang atau bahkan malam hari. Namun, yang afdal adalah dilakukan pada siang hari. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

والذبح في النهار أفصل ويجوز في الليل لأن الأيام إذا أطلقت دخلت فيها اليالي

“Menyembelih pada siang hari lebih utama. Namun, (menyembelih juga) boleh dilakukan pada malam hari karena hari-hari apabila disebutkan secara mutlak termasuk di dalamnya waktu malam.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 227).

Tidak ada satu dalil pun yang bisa dijadikan sandaran bahwa menyembelih pada malam hari itu hal yang terlarang. Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari Ibnu ‘Abbas tentang larangan penyembelihan pada malam hari, maka hadis tersebut bukanlah hadis yang sahih karena terdapat cacat di dalam sanadnya. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan,

حديث (أنه صلى الله عليه وسلم نهى عن الذبح ليلا) الطبراني من حديث ابن عباس وفيه سليمان بن سلمة الخبائري وهو متروك

“Hadis yang lafaznya: ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyembelih pada malam hari’ diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari sahabat Ibnu ‘Abbas. Di dalam sanadnya terdapat seseorang yang bernama Sulaiman bin Salamah al-Khabāiri. Dia adalah seorang yang matruk (ditinggalkan periwayatan hadisnya).” (At-Talkhis, Jilid 4, hlm. 260).

Oleh karena itu, Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menyebutkan,

ولا يكره الذبح في الليل؛ لأنه لا دليل على الكراهة، والكراهة حكم شرعي يفتقر إلى دليل.

“Tidak makruh menyembelih pada malam hari karena tidak ada dalil yang menyebutkan tentang hal ini. Kata ‘makruh’ adalah hukum syariat yang butuh terhadap dalil untuk menetapkannya.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 227).

Masalah Kedua: Tidak Sempat Berkurban pada Waktunya karena Uzur.

Bagi yang tidak sempat berkurban di hari-hari tersebut karena uzur. Telah kita ketahui tatkala seseorang menyembelih sebelum salat, maka sesembelihannya tidak sah sebagai hewan kurban. Namun, bolehkah seseorang terlambat dari menyembelih karena uzur, misalnya dalam kondisi darurat, dia hanya bisa melakukannya setelah hari tasyrik selesai, yaitu pada hari ke-14? Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan jika dalam kondisi seperti ini,

الأضحية عبادة موقتة لا تجزئ قبل وقتها على كل حال، ولا تجزئ بعده إلا على سبيل القضاء إذا أخرها لعذر

“Berkurban adalah ibadah yang ditentukan waktunya. Tidak sah dilakukan sebelum waktunya bagaimana pun keadaannya. Tidak sah pula dilakukan setelah waktunya, kecuali dalam rangka mengqadanya ketika seseorang mengakhirkannya karena uzur.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 225).

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: 
RINGKASAN FIKIH KURBAN
SYARAT-SYARAT HEWAN KURBAN
JENIS HEWAN YANG DIJADIKAN KURBAN
PIHAK YANG BERHAK MENERIMA KURBAN
HAL YANG BERKAITAN TENTANG PENYEMBELIHAN
LARANGAN MEMOTONG KUKU RAMBUT DAN KULIT BAGI YANG BERKURBAN
HAL LAIN YANG TERKAIT DENGAN HEWAN KURBAN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

PEMBAHASAN PENTING TENTANG DUA RAKAAT SEBELUM SUBUH

بسم الله الرحمن الرحيم

Saudara sekalian, salat sunah adalah penyempurna salat fardu. Tentunya setiap hamba sangat butuh untuk memperbanyak ibadah sunah agar bisa menutupi kekurangan pada ibadah wajibnya. Di antara salat sunah yang sangat besar keutamaannya adalah dua rakaat sebelum Subuh. Berikut akan kami sebutkan beberapa pembahasan tentang pembahasan dua rakaat sebelum Subuh dari para ulama. Semoga dapat bermanfaat untuk kita semua.

KEUTAMAAN

Tentang keutamaan dua rakaat sebelum Subuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat fajar (sunah sebelum Subuh) lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya” (Muslim, no 752 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha).

Karena keutamaannya yang sangat besar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam rutin mengerjakannya. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau berkata,

لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم على شيء من النوافل أشد منه تعاهداً على ركعتي الفجر

“Tidak ada ibadah sunah yang paling Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam jaga (rutinkan) selain dua rakaat fajar (sebelum Subuh).”
(Al-Bukhari, no. 1.169).

Kemudian dalam lafaz yang lain disebutkan,

أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ لم يكن على شيءٍ من النَّوافلِ، أشدَّ معاهدةً منه، على ركعتَينِ قبلَ الصبحِ

“Tidak ada ibadah sunah yang paling Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam jaga (rutinkan) selain dua rakaat sebelum Subuh” (Muslim, no. 724).

Kenapa dua rakaat sebelum Subuh dikatakan lebih baik daripada dunia beserta isinya? Al-‘Allamah ‘Abdurrahman al-Mubarakfuri rahimahullah mengatakan,

قال الشاه ولي الله الدهلوي في حجة الله البالغة إنما كانتا خيرا منها؛ لأن الدنيا فانية ونعيمها لا يخلو عن كدر النصب والتعب، وثوابهما باق غير كدر

“Syah Waliyullah al-Dahlawi mengatakan, hanya saja dua rakaat sebelum Subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya karena dunia serta kenikmatannya itu fana, tidak lepas dari rasa letih dan lelah. Adapun pahala dua rakaat sebelum Subuh tetap dan tidak luntur.”
(Tuhfah al-Ahwadzi, Jilid 2, hlm. 388).

Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

الدنيا منذ خلقت إلى قيام الساعة بما فيها من كل الزخارف من ذهب وفضة ومتاع وقصور ومراكب وغير ذلك، هاتان الركعتان خير من الدنيا وما فيها؛ لأن هاتين الركعتين باقيتان والدنيا زائلة

“Dunia sejak diciptakan hingga hari kiamat dengan segala bentuk perhiasan di dalamnya, entah berupa emas, perak, perhiasan, istana, kendaraan atau yang lainnya, maka dua rakaat sebelum Subuh lebih baik daripada dunia beserta isinya tersebut. Hal itu karena dua rakaat ini (pahalanya) tetap, sedangkan dunia pasti akan sirna” (Al-Syarh al-Mumti‘, Jilid 4, hlm. 70).

Beliau juga mengatakan,

سنة الفجر الراتبة خير من الدنيا وما فيها، الدنيا من أولها إلى آخرها بملوكها ورؤسائها وزخارفها (ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها) والله نعم يا إخوان، نعم، نعم! يعني: أنت إذا صليت راتبة الفجر كأنما الدنيا كلها من أولها إلى آخرها قد حصلت عليها، بل حصلت على خير منها (ركعتا الفجرخير من الدنيا وما فيها)

“Salat sunah sebelum Subuh lebih baik daripada dunia beserta isinya dari awal sampai akhirnya; kerajaan-kerajaannya, pemimpin-pemimpinnya, dan segala perhiasannya. ‘Dua rakaat sebelum Subuh lebih baik daripada dunia beserta isinya,’ yakni apabila engkau salat sunah sebelum Subuh, seakan-akan dunia semuanya dari awal hingga akhir sungguh telah engkau dapatkan. Bahkan, engkau telah mendapatkan yang lebih baik daripada itu semua” (Al-Liqa’ al-Syahri, Jilid 52, hlm. 23).

HUKUM

Terjadi perbedaan pendapat tentang hukum salat dua rakaat sebelum Subuh. Namun, pendapat yang paling kuat adalah sunah muakadah karena tidak ada pengharusan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, wallahu a’lam. Inilah pendapat jumhur ulama. Al-Imam al-Nawawi rahimahullah berkata,

وأنهما سنة ليستا واجبنين وبه قال جمهور العلماء

“Dua rakaat tersebut hukumnya sunah, tidak wajib. Inilah pendapat jumhur ulama” (Syarh Shahih Muslim, Jilid 6, hlm. 4).

HUKUMNYA KETIKA SAFAR

Disunahkan bagi setiap muslim untuk selalu mengerjakan salat sunah sebelum Subuh ini, baik dalam keadaan safar maupun mukim, karena di antara salat yang selalu dijaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dua rakaat sebelum Subuh. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وكان من هديه صلى الله عليه وسلم فيسفره الاقتصار على الفرض، ولم يحفظ عنه أنه صلى سنة الصلاة قبلها ولا بعدها إلا ما كان من الوتر، وسنة الفجر فإنه لم يكن ليدعهما حضرا ولا سفرا

“Termasuk petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar adalah mencukupkan salat fardu (tidak mengerjakan salat rawatib). Tidak terdapat riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mengerjakan salat sunah sebelum dan sesudahnya kecuali salat witir serta dua rakaat sebelum Subuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya, baik dalam safar maupun mukim” (Zad al-Ma’ad, Jilid 1, hlm. 456).

Syekh ‘Abdul‘aziz bin Baz rahimahullah tatkala ditanya tentang mengerjakan salat sunah rawatib ketika safar menjelaskan,

الأولى تركها في السفر إلا سنة الفجر تأسيا بالنبي صلى الله عليه وسلم، فيصلي سنة الفجر معها، أما سنة الظهر والمغرب والعشاء والعصر أفضل تركها لأن الله خفف على المسافر نصف الصلاة، فيترك التطوعات التي مع الفريضة، أما كونه يصلي صلاة الضحى أو سنة الوضوء أو التهجد بالليل، فهذا باق يفعله المسافر وغيره، كان النبي صلى الله عليه وسلم يتهجد من الليل، يصلي الضحى وهو مسافر لكن سنة الظهر القبلية والبعدية، وسنة العصر قبلها، وسنة المغرب بعدها، وسنة العشاء بعدها الأفضل تركها في السفر

“Yang lebih utama adalah tidak mengerjakan salat sunah rawatib kecuali dua rakaat sebelum Subuh karena mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun salat sunah Zuhur, Maghrib, Isya, dan Asar, yang lebih utama adalah ditinggalkan karena Allah meringankan bagi musafir setengah salat. Karena itu, salat-salat sunah yang mengiringi salat wajib ditinggalkan. Adapun salat duha, sunah wudu, atau tahajud, tetap dilakukan musafir dan yang bukan musafir karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam salat tahajud dan salat duha dalam keadaan beliau musafir. Adapun salat sunah Zuhur qabliyah dan ba‘diyah, salat qabliyah Asar, ba‘diyah Maghrib, serta ba‘diyah Isya, yang lebih utama adalah tidak dikerjakan ketika safar” (Fatawa Nur ‘ala al-Darb, Jilid 10, hlm. 381).

SIFAT

Dua rakaat ini tidak sulit untuk dikerjakan. Yang sesuai dengan sunah adalah dikerjakan dengan dua rakaat ringan dan tidak panjang. Dari Hafshah radhiyallahu ‘anha berkata,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا طلع الفجر لا يصلي إلا ركعتين خفيفتين

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila waktu fajar telah terbit, tidaklah beliau mengerjakan salat melainkan dua rakaat ringan sebelum Subuh” (Muslim, no. 723).

Al-Imam al-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

يسن تخفيف سنة الصبح وأنهما ركعتان

“Disunahkan meringankan salat sunah Subuh dan bilangannya adalah dua rakaat” (Syarh Shahih Muslim, Jilid 6, hlm. 2).

Meskipun sifatnya dua rakaat ringan, tidak boleh dikerjakan dengan tergesa-gesa dan harus tetap menjaga thuma’ninah karena itu merupakan keharusan dan termasuk dari rukun salat. Apa itu thuma’ninah? Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

المحافظة على الطمأنينة ركن من أركان الصلاة

“Menjaga thuma’ninah termasuk rukun dari rukun-rukun salat” (Majmu‘ Fatawa, Jilid 15, hlm. 155).

Beliau juga mengatakan,

الطمأنينة كما قال الفقهاء: السكون وإن قل

“Thuma’ninah sebagaimana kata fukaha adalah sifat tenang walaupun dalam waktu yang sebentar (berhenti dan diam walaupun sejenak–pen)” (Fath Dzi al-Jalali wa al-Ikram, Jilid 2, hlm. 13).

SURAH YANG DIBACA

Setelah bacaan al-Fatihah disunahkan membaca beberapa surah sebagai berikut.

  1. Surah al-Kafirun di rakaat pertama dan al-Ikhlas di rakaat kedua berdasarkan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قرأ في ركعتي الفجر
(قل ياأيها الكافرون)
(قل هو الله أحد)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah qul ya ayyuhal kafirun dan qul huwallahu ahad di dua rakaat sebelum Subuh” (Muslim, no. 726).

  1. Surah al-Baqarah ayat ke-136 di rakaat pertama dan surah Ali ‘Imran ayat ke-52 di rakaat kedua berdasarkan hadis dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرأ في ركعتي الفجر في الأولى منهما
(قولوا آمنا بالله وما أنزل إلينا)
الآية التي في البقرة وفي الآخرة منهما
(آمنا بالله واشهد بأنا مسلمون)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dua rakaat sebelum Subuh membaca qulu amanna billah wa ma unzila ilaina, yaitu ayat yang terdapat di dalam surah al-Baqarah; dan di rakaat yang kedua amanna billahi wasyhad bianna muslimun” (Muslim, no. 727).

  1. Surah al-Baqarah ayat ke-136 di rakaat pertama dan surah Ali ‘Imran ayat ke-64 di rakaat kedua berdasarkan hadis dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرأ في ركعتي الفجر

(قولوا آمنا بالله وما أنزل إلينا)

والتي في آل عمران

(تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم)

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca di dua rakaat sebelum Subuh quluu amanna billahi wama unzila ilaina dan ayat yang ada pada surah Ali ‘Imran ta’alau ila kalimatin sawa’in bainana wa bainakum” (Muslim, no 727).

Yang sunah adalah dia meragamkan bacaannya, terkadang membaca ayat ini dan terkadang ayat ini sesuai yang disunahkan tersebut. Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

إن الأفضل أن يفعل هذا تارة وهذا تارة ليأتي بالسنة على وجوهها الواردة

“Sesungguhnya yang afdal adalah terkadang dia melakukan ini dan terkadang melakukan ini agar dapat mengamalkan semua sunah yang datang (tentang bacaan tersebut)” (Fatawa Nur ’ala al-Darb, Jilid 8, hlm. 2).

Namun, jika waktu sempit karena sudah mendekati ikamah, tidak mengapa mencukupkan dengan bacaan al-Fatihah saja. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

لا حرج أن تقتصر على الفاتحة في ركعتي الفجر

“Tidak mengapa mencukupkan dengan al-Fatihah saja pada dua rakaat sebelum Subuh” (Majmu‘ Fatawa, Jilid 13, hlm. 155).

TATKALA BANGUN KESIANGAN

Dalam hal ini Syekh ‘Abdul‘aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,

إن فاتته هذه السنة بأن نام مثلا ولم يستيقظ إلا بعد طلوع الفجر فإنه يبدأبسنة الفجر ثم يصلي الفريضة كما فعل النبي صلى الله عليه وسلم لما نام هو وأصحابه في بعض الأسفار عن صلاة الفجر

“Jika sunah ini terluputkan bagi seseorang pada waktunya, misal karena tertidur, tidaklah dia bangun kecuali setelah fajar terbit, maka yang semestinya dia lakukan adalah memulai dengan salat sunah Subuh kemudian salat wajib, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala tertidur dari salat Subuh bersama para sahabatnya dalam sebagian safarnya” (Majmu‘ Fatawa, Jilid 11, hlm. 377).

HUKUM MENGQADANYA

Tatkala seseorang terluputkan untuk melaksanakan salat sunah sebelum Subuh karena sudah didahului ikamah, maka boleh bagi seseorang mengqada salat sunah rawatib secara umum, selama dia meninggalkannya karena uzur. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

من فاته شيء من هذه الرواتب، فإنه يسن له قضاؤه، بشرط أن يكون الفوات لعذر كاالنسيان والنوم والانشغال بما هو أهم

“Barang siapa yang terluputkan sesuatu dari sunah-sunah rawatib ini, maka disunahkan untuk diqada dengan syarat luput karena uzur, seperti lupa, tertidur, atau tersibukkan dengan urusan yang lebih penting” (Al-Syarh al-Mumti‘, Jilid 4, hlm. 72–73).

Adapun jika dia meninggalkannya dengan sengaja, maka tidak sah jika diqada. Beliau kembali menjelaskan,

أما إذا تركها عمدا حتى فات وقتها فإنه لا يقضيها ولو قضاها لم تصح منه راتبة وذلك لأن الرواتب عبادات مؤقتة والعبادات المؤقتة إذا تعمد الإنسان إخراجها عن وقتها لم تقبل منه ودليل ذلك من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Adapun jika dia meninggalkannya dengan sengaja sampai terluput waktunya, maka hendaknya tidak dia qada. Jika dia lakukan, maka tidak sah karena salat rawatib adalah ibadah yang ditentukan waktunya. Jika seseorang sengaja meninggalkannya sampai keluar dari waktunya, maka tidak akan diterima. Yang menjadi landasan dalam hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Barang siapa melakukan amalan yang tidak ada contoh dari kami, maka tertolak'” (Al-Syarh al-Mumti‘, Jilid 4, hlm. 73).

WAKTU QADA

Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ibnu Qudamah menyebutkan bahwa al-Imam Ahmad berpendapat, diqada pada waktu duha. Jika dikerjakan langsung setelah Subuh, maka sah. Adapun Atha’, Ibnu Juraij, dan al-Imam al-Syafi’i berpendapat diqada setelah Subuh, sementara al-Imam Abu Hanifah berpendapat tidak diqada setelah subuh” (Al-Mughni, Jilid 2, hlm. 89).

Pendapat yang kuat adalah pendapat al-Imam Ahmad rahimahullah bahwa yang afdal adalah dikerjakan pada waktu tatkala matahari telah terbit, yaitu pada waktu duha. Hal itu berdasarkan hadis sahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من لم يصل ركعتي الفجر فليصلهما بعد ما تطلع الشمس

“Barang siapa yang belum mengerjakan dua rakaat sebelum subuh, hendaknya dilakukan setelah matahari terbit” (Al-Tirmidzi; Ibnu Khuzaimah; Ibnu Hibban; dan yang lainnya; disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam al-Shahihah, no 2.361).

Jika dilakukan langsung setelah salat Subuh pun boleh meskipun pada waktu terlarang karena telah disebutkan di dalam hadis.

رأَى رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ رجلًا يصلِّي بعدَ الغداةِ فقالَ يا رسولَ اللَّهِ لم أكُنْ صلَّيتُ ركعتيِ الفجرِفصلَّيتُهما الآنَ فلم يقُل شيئًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki salat setelah salat Subuh, maka dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku belum sempat mengerjakan salat dua rakaat sebelum Subuh, maka aku kerjakan sekarang.’ Nabi tidak mengatakan sesuatu pun” (Ahmad, no. 23.760; al-Tirmidzi, no. 422; dan Abu Dawud, no. 1.267).

Al-Imam al-Syaukani rahimahullah menguatkan hadis ini setelah menyebutkan beberapa riwayat. Beliau berkata,

قال العراقي وإسناده حسن ويحتمل أن الرجل هو قيس المتقدم

“Al-‘Iraqi mengatakan sanad hadis ini hasan (dengan dikumpulkan jalan-jalannya) dan kemungkinan (besar) laki-laki ini adalah Qais bin ‘Amr bin Sahl radhiyallahu ‘anhu” (Nail al-Authar, Jilid 3, hlm. 33).

Al-‘Allamah ‘Abdurrahman al-Mubarakfuri rahimahullah mengatakan,

وقد ثبت هذا الحديث

“Sungguh telah tetap (sanad) hadis ini” (Tuhfah al-Ahwadzi, Jilid 2, hlm. 403).

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

 وسكوت النبي صلى الله عليه وسلم يدل على الجواز، ولأن النبي صلى الله عليه وسلم قضى سنة الظهر بعد العصر

“Diamnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal ini menunjukkan bahwa perbuatan ini dibolehkan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengqada salat sunah Zuhur setelah Asar (ketika itu beliau tersibukkan dengan tamu–pen)” (Al-Mughni, Jilid 2, hlm. 89).

Namun, jika dikerjakan pada waktu duha, itulah yang afdal keluar dari khilaf. Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,

وإذا كان الأمر هكذا كان تأخيرها إلى وقت الضحى أحسن لنخرج من الخلاف ولا نخالف عموم الحديث وإن فعلها فهو جائز

“Jika dia mengerjakannya pada waktu duha, niscaya lebih baik agar keluar dari perselisihan dan tidak menyelisihi dalil-dalil umum (yang melarang salat setelah subuh sampai matahari terbit). Jika dia kerjakan setelah Subuh, maka tidak mengapa” (Al-Mughni, Jilid 2, hlm. 89).

Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan tentang hal ini,

قضاء سنة الفجر بعد صلاة الفجر لا بأس به على القول الراجح. ولا يعارض ذلك حديث النهي عن الصلاة بعد صلاة الفجر؛ لأن المنهي عنه الصلاة التي لا سبب لها. ولكن إن أخر قضاءها إلى الضحى ولم يخش من نسيانها، أو الانشغال عنها فهو أولى

“Tidak mengapa mengqada salat sunah Subuh setelah salat Subuh menurut pendapat yang kuat. Hal ini tidak bertentangan dengan hadis larangan salat setelah salat Subuh karena larangan tersebut berlaku bagi salat yang tidak ada sebabnya. Akan tetapi, jika dia akhirkan sampai waktu duha dan tidak khawatir terlupakan serta tersibukkan dengan yang lainnya, hal ini lebih utama” (Majmu‘ Fatawa, Jilid 14, hlm. 280).

✍🏻 Oleh: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga : TENTANG PUASA SYAWAL ENAM HARI

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

AGAMA ISLAM ITU MENYELAMATKAN MANUSIA

بسم الله الرحمن الرحيم

Syekkh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

فكل ما يؤدي إلى الضرر فهو حرام وقال النبي عليه الصلاة وسلم: لا ضرر ولا ضرار وربما يستدل له أيضا بقوله تعالى: وَإِن كُنتُم مَّرۡضَىٰٓ أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوۡ جَآءَ أَحَدٞ مِّنكُم مِّنَ ٱلۡغَآئِطِ أَوۡ لَٰمَسۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءٗ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدٗا طَيِّبٗا ووجه ذلك أن الله أوجب التيمم على المريض حماية له عن الضرر فعدل به عن الماء الذي قد يتضرر باستعماله في البرد والمرض ونحوهما إلى التيمم

“Segala sesuatu yang dapat mengantarkan pada kemudaratan haram hukumnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak boleh memudaratkan diri sendiri dan pihak lain.’ Boleh jadi hal tersebut diambil dari firman Allah subhanahu wa taala, ‘Apabila kalian sakit atau sedang dalam perjalanan atau datang dari tempat buang air besar atau menyentuh wanita (jimak) sementara tidak mendapatkan air, bertayamumlah dengan tanah yang baik (suci)’ (al-Maidah: 6). Yang demikian itu karena Allah mewajibkan tayamum bagi orang yang sakit sebagai bentuk penjagaan terhadap dirinya dari mara bahaya. Karena itulah, Allah mengganti (perintah) penggunaan air yang bisa jadi membahayakannya tatkala digunakan di waktu dingin, sakit, dan lain-lain menjadi tayamum.”

Sumber: Al-Syarh al-Mumti‘, Jilid 15, hlm. 12–13.

Alih Bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga : BETAPA PENTINGNYA KEBERADAAN SAUDARA SEIMAN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

TENTANG PUASA SYAWAL ENAM HARI

بسم الله الرحمن الرحيم

Saudara-saudara sekalian, puasa adalah ibadah yang sangat agung. Puasa merupakan salah satu dari sekian banyak amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Setelah menyelesaikan puasa Ramadan selama satu bulan penuh, seorang muslim tentu merasakan kekurangan dalam amalannya. Oleh karena itu, ia akan berupaya menutupi amalannya dengan ibadah-ibadah sunah.

Berikut ini akan kami sajikan di hadapan para pembaca sekalian beberapa pembahasan yang berkaitan dengan puasa Syawal yang dikerjakan sebanyak enam hari. Semoga dapat memberikan manfaat untuk kita semua.

KEUTAMAAN PUASA SYAWAL

Tentang keutamaan puasa Syawal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

من صام رمضان ثمّ أتبعه ستاّ من شوّال كان كصيام الدّهر

“Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian mengiringinya dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal, maka seakan-akan dia telah berpuasa setahun penuh lamanya” (Muslim, no.1.984 dari sahabat Abu Ayyub al-Anshari).

Demikian pula hadis dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

من صام ستة أيام بعد الفطر كان تمام السنة (من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها)

“Barang siapa berpuasa enam hari setelah Idulfitri, maka (pahala) puasanya menjadi sempurna satu tahun (barang siapa melakukan amal yang baik, baginya [pahala] sepuluh kali lipat)”
(Ibnu Majah; disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1.402).

Mengapa dikatakan pahala puasanya seperti puasa setahun penuh? Imam al-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

وإنما كان ذلك كصيام الدهر لأن الحسنة بعشر أمثالها فرمضان بعشرة أشهر والستة بشهرين

“Hanya saja hal tersebut dikatakan seperti puasa setahun penuh karena kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Sebab itu, hitungan puasa Ramadan menjadi sepuluh bulan ditambah dengan Syawal dua bulan, maka genaplah satu tahun”
(Syarh Shahih Muslim, Jilid 8, hlm. 56).

Dengan kata lain, sehari puasa Ramadan dihitung sepuluh hari, maka tiga puluh hari dihitung tiga ratus hari yang sama dengan sepuluh bulan. Sementara itu, puasa Syawal enam hari menjadi enam puluh, maka genaplah 360 hari atau setahun penuh. Namun, seorang muslim bisa saja mendapatkan pahala yang lebih tergantung keutamaan Allah kepada setiap hamba.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana diriwayatkan dari  Rabb-nya  tabaraka wa ta’ala,

إِنَّ الله كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ؛ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمائَةِ ضِعْفٍ إِلىَ أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ

“Sesungguhnya Allah menetapkan adanya kebaikan dan kejelekan, kemudian Dia menjelaskannya. Barang siapa yang berniat untuk mengerjakan amal kebaikan dan belum terlaksana, Allah akan catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Kemudian jika dia berniat untuk kebaikan dan mengerjakannya, Allah akan catat baginya dengan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan sampai berlipat–lipat banyaknya” (Al-Bukhari, no. 6.491 dan Muslim no. 131).

Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

 الله عز وجل بفضله ورحمته جعل الجزاء في الحسنات أكثر من العمل، الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائةضعف إلى أضعاف كثيرة

“Allah ‘azza wa jalla, berkat keutamaan dan rahmat-Nya, menjadikan balasan kebaikan-kebaikan itu lebih banyak daripada amalannya. Kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat atau bahkan sampai berkali-kali lipat” (Fath Dzi al-Jalali wa al-Ikram, Jilid 1, hlm. 192).

HUKUM PUASA SYAWAL

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum puasa Syawal. Namun, pendapat yang benar hukumnya adalah sunah sesuai dengan penjelasan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah lalu. Inilah pendapat jumhur ulama. Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan,

صوم ستة أيام من شوال مستحب عند كثير من أهل العلم. روي ذلك عن كعب الأحبار، والشعبي، وميمون بن مهران وبه قال الشافعي

“Puasa Syawal sebanyak enam hari hukumnya sunah menurut jumhur ulama. Yang demikian itu diriwayatkan dari Ka‘ab al-Ahbar, al-Sya‘bi, dan Maimun bin Mihran. Inilah pendapat al-Syafi‘i” (Al-Mughni, Jilid 3, hlm. 176).

WAKTU PELAKSANAAN PUASA SYAWAL

Boleh bagi seseorang untuk memulai puasa Syawal pada awal bulan secara berkesinambungan atau terpisah karena yang demikian itu masih termasuk puasa Syawal sebanyak enam hari. Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,

فلا فرق بين كونها متتابعة أو متفرقة في أول الشهر أو في آخره لأن الحديث ورد بها مطلقاً من غير تقييد، ولأن فضيلتها لكونها تصير مع الشهر ستة وثلاثين يوماً، والحسنة بعشر أمثالها فيكون ذلك كثلاثمائة وستين يوماً وهو السنة كلها فإذا وجد ذلك في كل سنة صار كصيام الدهر كله وهذا المعنى يحصل بالتفريق والله أعلم

“Tidak ada perbedaan jika puasa tersebut dilakukan langsung setelah Ramadan secara berkesinambungan atau dilakukan secara terpisah pada awal atau akhir bulan. Hal itu karena lafaz hadis menyebutkan secara mutlak tanpa memberi batasan dan karena keutamaannya terhitung bersama satu bulan (Ramadan) dengan dilengkapi Syawal menjadi 36 hari. Adapun kebaikannya dilipatgandakan sepuluh kali lipat, maka jadilah seperti puasa 360 hari, yaitu setahun penuh. Jika yang demikian itu dilakukan setiap tahun, maka seperti puasa sepanjang masa. Keutamaan yang seperti ini masih akan didapatkan jika dilakukan secara terpisah, wallahu a‘lam” (Al-Mughni, Jilid 3, hlm. 177).

Namun, jika seseorang langsung mengerjakannya setelah Ramadan secara berkesinambungan, maka inilah yang afdal karena lebih bersegera dalam kebaikan. Allah tabaraka wa ta‘ala berfirman,

فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ

“Berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan” (Al-Baqarah: 148).

Inilah pendapat mazhab Syafi‘iyyah. Imam al-Nawawi rahimahullah berkata,

قال أصحابنا والأفضل أن تصام الستة متوالية عقب يوم الفطر فإن فرقها أو أخرها عن أوائل شوال إلى أواخره حصلت فضيلة المتابعة لأنه يصدق أنه أتبعه ستا من شوال

“Sahabat-sahabat kami (dari mazhab Syafi‘iyyah) berkata, yang afdal adalah puasa Syawal sebanyak enam hari dilakukan secara langsung dan berurutan setelah Idulfitri. Jika dilakukan secara terpisah atau diakhirkan dari awal-awal bulan sampai akhir bulan, masih tetap mendapat keutamaannya karena hal ini pantas untuk dikatakan puasa Ramadan dan diikuti puasa Syawal sebanyak enam hari”
(Syarh Shahih Muslim, Jilid 8, hlm. 56).

Jika dilakukan langsung setelah hari Id pada tanggal dua Syawal, maka hal ini afdal dan tidak terlarang melakukannya. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

ستة الأيام من شوال لا بأس أن تكون من ثاني العيد

“Tidak mengapa puasa Syawal sebanyak enam hari dilakukan pada hari kedua setelah Id” (Majmu‘ Fatawa, Jilid 20, hlm. 20).

Puasa hari kedua setelah Idulfitri pun tidaklah makruh menurut jumhur ulama. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata,

وأكثر العلماء على أنه لا يكره صيام ثاني يوم لفطر

“Kebanyakan ulama berpandangan bahwa puasa pada hari kedua setelah Idulfitri tidaklah makruh” (Latha’if al-Ma‘arif, Jilid 1, hlm. 219).

Tidak ada waktu tertentu untuk puasa Syawal enam hari ini. Boleh bagi seseorang untuk memulai dan mengakhirinya pada hari apa pun dari hari-hari dalam bulan itu. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

وهذه الست ليس لها أيام محدودة معينة من شوال بل يختارها المؤمن من جميع الشهر

“Enam hari ini tidak ada padanya batasan hari-hari tertentu. Bahkan, boleh seorang mukmin memilihnya dari setiap hari pada bulan itu” (Majmu‘ al-Fatawa, Jilid 20, hlm. 21).

HUKUM MENGGABUNGKAN NIAT PUASA QADA DAN SYAWAL ENAM HARI

Masalah ini telah ditanyakan kepada al-‘Allamah ‘Abdul‘aziz bin Baz rahimahullah dan beliau menjawab,

نعم، تبدأ بالقضاء، ثم تصوم الست إذا أرادت، الست نافلة، إذا قَضَتْ في شوال ما عليها ثم صامت الست في شوال هذا خير عظيم، وأما أن تصوم الست بنية القضاء والست، فلا يظهر لنا أنه يحصل لها الأجر في ذلك، الست تحتاج لها نية خاصة في أيام مخصوصة

“Hendaknya engkau memulai dengan qada Ramadan kemudian jika engkau menginginkan puasa Syawal sebanyak enam hari, maka berpuasalah. Jika seseorang telah mengqada utang puasa Ramadannya pada bulan Syawal kemudian dia berpuasa enam hari, ini adalah kebaikan yang besar. Adapun dia menggabung niat puasa Syawal enam hari dengan qada Ramadan, hal ini tidak jelas bagi kami bahwa dia akan mendapat pahala atas yang demikian itu sebab puasa Syawal enam hari membutuhkan niat yang khusus pada hari yang khusus” (Fatawa Nur ‘ala al-Darb, Jilid 16, hlm. 446).

HUKUM MENGGABUNGKAN NIAT PUASA SYAWAL DENGAN PUASA SUNAH LAINNYA

Selama puasa tersebut hukumnya sunah dengan sunah, maka niatnya boleh digabung. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

وإذا اتفق أن يكون صيام هذه الستة في يوم الاثنين أو الخميس فإنه يحصل على الأجرين بنية أجر الأيام الستة وبنية أجر يوم الاثنين والخميس لقوله صلى الله عليه وسلم إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرء ما نوى

“Apabila puasa Syawal enam hari ini bertepatan dengan hari Senin dan Kamis, maka sesungguhnya bisa mendapatkan dua pahala dengan niat puasa Syawal enam hari dan puasa Senin-Kamis. Hal itu berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan hanyalah seseorang mendapatkan apa yang dia niatkan'” (Majmu‘ Fatawa, Jilid 20, hlm. 18–19).

Syekh ‘Abdul‘aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,

إذا كان الصوم واجبا لا بد من نية الصوم الواجب الذي عليه، أما إذا كان تطوعا الحمد لله، إذا وافق يوم الاثنين، يوما من الأيام البيض، وافق خيرا على خير والحمد لله

“Apabila puasa tersebut wajib, harus niat puasa yang wajib tersebut atasnya (tidak digabungkan dengan puasa sunah). Adapun apabila puasa sunah, alhamdulillah apabila bertepatan dengan hari Senin, Kamis, dan yaumul bidh, maka ketika niatnya digabungkan sungguh telah menepati kebaikan di atas kebaikan, alhamdulillah” (Fatawa Nur ‘ala al-Darb, Jilid 16, hlm. 424–425).

HUKUM MENDAHULUKAN PUASA SYAWAL DARIPADA QADA PUASA RAMADAN

Dalam hal ini, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada dua pendapat.

Pendapat pertama, harus menyelesaikan qada Ramadan terlebih dahulu untuk mendapatkan keutamaan puasa Syawal. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah menjelaskan,

لأنها مع صيام رمضان أي: جميعه وإلا لم يحصل الفضل الآتي وإن أفطر لعذركصيام الدهر

“(Seseorang harus menqada puasa Ramadan terlebih dahulu untuk mendapatkan keutamaan puasa Syawal) karena puasa Syawal beriringan dengan puasa Ramadan, yaitu keseluruhannya. Jika tidak demikian, maka tidak akan mendapatkan keutamaannya, yaitu seperti puasa sepanjang masa, jika dia tidak mengerjakan puasa karena uzur.” (Tuhfah al-Muhtaj, Jilid 3, hlm. 456).

Demikian pula Ibnu Muflih rahimahullah menjelaskan,

ويتوجه تحصيل فضيلتها لمن صامها وقضى رمضان وقد أفطره لعذر لعله مراد الأصحاب

“Akan didapat keutamaan puasa Syawal enam hari bagi orang yang telah melakukannya dan telah mengqada puasa Ramadan ketika dia tidak berpuasa Ramadan karena uzur. Sepertinya, inilah yang diinginkan oleh mazhab Hanabilah.” (Al-Furu‘, Jilid 5, hlm. 86).

Pendapat inilah yang dipilih oleh Syekh ‘Abdul‘aziz bin Baz, Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, dan yang lainnya rahimahumullah. Syekh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan,

قال النبي صلى الله عليه وسلم: من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر. وإذا كان على الإنسان قضاء وصام الست قبل أن يصوم القضاء فهل يقال إنه صام رمضان وأتبعه بست من شوال؟ لا ما صام رمضان إذ لا يقال صام رمضان إلا إذا أكمله وعلى هذا فلا يثبت أجر صيام ستة من شوال لمن صامها وعليه قضاء من رمضان إلا إذا قضى رمضان ثم صامها

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan puasa Syawal sebanyak enam hari, maka seakan-akan dia telah berpuasa setahun penuh lamanya.’ Apabila seseorang mempunyai utang puasa Ramadan, kemudian dia berpuasa enam hari pada bulan Syawal sebelum mengqadanya, apakah bisa orang yang seperti ini dikatakan sesungguhnya dia telah puasa Ramadan dan diikuti puasa Syawal sebanyak enam hari? Jawabannya tentu tidak. Dia belum puasa Ramadan karena tidaklah dikatakan dia telah puasa Ramadan kecuali apabila telah menyempurnakannya. Atas dasar ini, tidak berlaku pahala puasa Syawal sebanyak enam hari bagi yang telah mengerjakannya, tetapi masih ada utang puasa Ramadan. Kecuali apabila dia telah menyelesaikan utang-utang puasa Ramadan, kemudian melanjutkan puasa Syawal sebanyak enam hari.” (Majmu‘ Fatawa, Jilid 20, hlm. 20).

Bagaimana jika seseorang mempunyai utang puasa sebulan penuh, seperti wanita nifas atau yang semisalnya, kapan dia akan melakukan puasa Syawal? Menurut Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, dia harus menyelesaikan qada terlebih dahulu, kemudian baru berpuasa Syawal pada bulan Zulkaidah. Beliau rahimahullah menjelaskan,

فلو فرض أن القضاء استوعب جميع شوال مثل أن تكون امرأة نفساء ولم تصم يوما من رمضان ثم شرعت في قضاء الصوم في شوال ولم تنته إلا بعد دخول شهر ذي القعدة فإنها تصوم الأيام الستة ويكون لها أجر من صامها في شوال لأن تأخيرها هنا للضرورة وهو متعذر، فصار لها الأجر

“Jika seseorang mengqada puasa Ramadan sebulan penuh pada bulan Syawal, seperti wanita nifas, dia tidak melakukan puasa Ramadan walaupun satu hari. Kemudian dia memulai membayar utangnya pada bulan Syawal. Tidaklah dia menyelesaikan qadanya melainkan telah masuk bulan Zulkaidah. Karena itu, yang hendaknya dia lakukan adalah puasa enam hari Syawal pada bulan tersebut. Adapun dia tetap mendapat pahala seperti orang yang puasa enam hari pada bulan Syawal karena keterlambatannya di sini adalah perkara yang darurat. Dia mendapat uzur, maka dia tetap mendapatkan pahalanya” (Majmu‘ Fatawa, Jilid 20, hlm. 19).

Adapun ucapan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

كَانَ يَكُوْنُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيْعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلاَّ فِي شَعْبَانَ. قَالَ يَحْيَى: الشُّغْلُ مِنَ النبيِّ أوْ بالنبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ.

“Dahulu aku memiliki utang puasa Ramadan dan tidaklah aku sempat mengqadanya kecuali setelah sampai bulan Syakban (yakni terus tertunda hingga tiba bulan Syakban berikutnya–pen).” Yahya mengatakan, “Hal itu karena kesibukannya dalam melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Al-Bukhari, no.1.950).

Syekh ‘Abdul‘aziz bin Baz rahimahullah menerangkan,

ويظهر في هذا أن عائشة رضي الله عنها، ما كانت تصوم الست من شوال في حياة الرسول صلى الله عليه وسلم، ولا غيرها من النوافل، وعليها القضاء، والظاهر أنها تؤخر القضاء وغير القضاء

“Yang tampak di sini bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tidak melakukan puasa enam hari pada bulan Syawal selama bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula puasa sunah lainnya dalam keadaan beliau masih memiliki utang puasa. Yang tampak adalah beliau mengakhirkan qada dan yang lainnya” (Fatawa Nur ‘ala al-Darb, Jilid 16, hlm. 445).

Pendapat kedua, boleh bagi seseorang untuk mengakhirkan qada dan mendahulukan puasa Syawal sebanyak enam hari, terlebih bagi yang memiliki utang puasa Ramadan yang banyak. Hal itu karena qada Ramadan bisa dilakukan pada bulan apa pun dan waktunya luas. Adapun puasa enam hari ini, keutamaannya hanya ada pada bulan Syawal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan keutamaannya khusus dengan bulan Syawal. Adapun mengqada Ramadan, kewajibannya tidak harus langsung ditunaikan, bahkan boleh ada senggang waktu menurut mayoritas ulama salaf. Imam al-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

مذهب مالك وأبي حنيفة والشافعي وأحمد وجماهير السلف والخلف أن قضاء رمضان في حق من أفطر بعذر كحيض وسفر يجب على التراخي ولا يشترط المبادرة به في أول الإمكان

“Mazhab Imam Malik, Abu Hanifah, al-Syafi’i, Ahmad, dan jumhur ulama salaf, serta yang setelahnya adalah qada Ramadan bagi orang yang tidak berpuasa karena uzur seperti di antara contohnya haid dan safar, wajib disertai dengan senggang waktu. Tidak disyaratkan untuk bersegera sebisa mungkin pada awal waktu” (Syarh Shahih Muslim, Jilid 8, hlm. 22–23).

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كَانَ يَكُوْنُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيْعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلاَّ فِي شَعْبَانَ. قَالَ يَحْيَى: الشُّغْلُ مِنَ النبيِّ أوْ بالنبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ.

“Dahulu aku memiliki utang puasa Ramadan dan tidaklah aku sempat mengqadanya kecuali setelah sampai bulan Syakban (yakni terus tertunda hingga tiba bulan Syakban berikutnya–pen).” Yahya mengatakan, “Hal itu karena kesibukannya dalam melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Al-Bukhari, no.1.950).

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan,

وفي الحديث دلالة على جواز تأخير قضاء رمضان مطلقا سواء كان لعذر أو لغير عذر

“Di dalam hadis tersebut terdapat dalil atas bolehnya mengakhirkan qada Ramadan, baik karena uzur maupun tidak.” (Fath al-Bari, Jilid 4, hlm. 191).

Oleh karena itu, jika seseorang mampu untuk mengqada puasa Ramadan terlebih dahulu, setelah itu puasa Syawal sebanyak enam hari. Inilah yang semestinya ditempuh karena kewajiban harus didahulukan. Namun, jika sulit karena uzur, tidak mengapa seseorang mendahukukan puasa Syawalnya. Syekh Muqbil bin Hadi rahimahullah menjelaskan,

وقت القضاء موسع، بخلاف صوم الست فليس لها محل إلا في شوال أما وقت القضاء فقد جاء عن عائشة رضي الله تعالى عنها أنها قالت: ما كنت أقضي إلا في شعبان، أي لأنها تشغل برسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم.

“Waktu qada itu luas. Berbeda halnya dengan puasa enam hari pada bulan Syawal yang tidaklah berlaku kecuali pada bulan Syawal. Adapun waktu qada, sungguh telah datang riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menerangkan bahwa beliau tidaklah mengqada utang puasanya kecuali pada bulan Syakban karena beliau sibuk berkhidmat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” (http://muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=2278).

Inilah pendapat yang kuat, wal-‘ilmu ‘indallah. Meskipun ini adalah ucapan ‘Aisyah, riwayat tersebut secara hukum disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan,

للحديث حكم الرفع لأن الظاهر اطلاع النبي صلى الله عليه وسلم على ذلك مع توفر دواعي أزواجه على السؤال منه عن أمر الشرع فلو لا أن ذلك كان جائزا لم تواظب عائشة عليه

“Hadis ini memiliki hukum disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang tampak adalah beliau mengetahui hal itu karena sudah semestinya istri-istri beliau bertanya tentang hukum syariat. Seandainya hal itu tidak boleh, tentu ‘Aisyah tidak terus-menerus seperti itu.”
(Fath al-Bari, Jilid 4, hlm. 191).

✍🏻 Oleh: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: BERSYUKURLAH WALAUPUN ENGKAU MEMANDANGNYA SEDIKIT

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

PEMBAHASAN RINGKAS TENTANG ZAKAT FITRAH

بسم الله الرحمن الرحيم

Zakat fitrah termasuk salah satu amalan yang wajib diketahui hukum-hukumnya oleh seluruh kaum muslimin. Karena itu, berikut beberapa pembahasan mengenai zakat fitrah.

MAKSUD ZAKAT FITRAH

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

وأضيفت الصدقة للفطر لكونها تجب بالفطر من رمضان وقال بن قتيبة المراد بصدقة الفطر صدقة النفوس مأخوذة من الفطرة التي هي أصل الخلقة والأول أظهر

“Disandarkannya zakat ini kepada lafaz fitri (yang artinya berbuka) adalah karena kewajiban setelah selesai dari Ramadan. Ibnu Qutaibah rahimahullah menyebutkan bahwa maksud dari zakat fitrah ini adalah zakat jiwa, yaitu diambil dari kata al-Fithrah yaitu ‘asal-usul penciptaan manusia’. Namun, yang pertama lebih jelas” (Fath al-Bari, Jilid 3, hlm. 373).

HUKUM ZAKAT FITRAH

Zakat fitrah hukumnya adalah wajib berdasarkan hadis yang disampaikan oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berikut.

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ من أدَّاها قبلَ الصَّلاةِ فَهيَ زَكاةٌ مقبولةٌ ومن أدَّاها بعدَ الصَّلاةِ فَهيَ صدقةٌ منَ الصَّدقاتِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin. Barang siapa yang menunaikannya sebelum salat Id, maka itulah zakat yang diterima. Barang siapa yang menunaikannya setelah salat Id, maka jadilah itu sebagai sedekah” (Abu Dawud; Shahih Sunan Abi Dawud, no. 1.609).

BENTUK PEMBAYARAN ZAKAT FITRAH

Wajib untuk mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk keumuman makanan pokok di suatu negeri tempat seseorang itu berada. Hal tersebut berdasarkan hadis dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَاْلأُنْثَى وَالصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha’ kurma atau gandum atas budak sahaya, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil, dan orang dewasa dari kalangan kaum muslimin. Nabi pun memerintahkan untuk menunaikannya sebelum keluarnya orang-orang menuju salat (Id)” (Al-Bukhari, no. 1.503).

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

من حكمة إيجاب زكاة الفطر أنها طعمة للمساكين، وهذه لا تتحقق إلا حين تكون قوتا للناس، وتعيين التمر والشعير في حديث عبد الله بن عمر رضي الله عنهما ليس لعلة فيهما، بل لكونهما غالب قوت الناس وقتئذ بدليل ما رواه البخاري في باب الصدقة قبل العيد، عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: كنا نخرج في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم الفطر صاعا من طعام، قال أبو سعيد: وكان طعامنا الشعير، والزبيب، والأقط، والتمر. وفي الاستذكار لابن عبد البر ٩/٢٦٣: وقال أشهب: سمعت مالكا يقول: لا يؤدي الشعير إلا من هو أكله يؤده كما يأكله. ا. هـ. وعبر كثير من الفقهاء بقولهم: يجب صاع من غالب قوت بلده

Termasuk hikmah zakat fitrah adalah untuk memberi makan fakir miskin. Yang demikian itu tidaklah terwujud kecuali dengan memberikan makanan pokok kepada manusia yang disebutkan secara jelas di dalam hadis Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dengan lafaz gandum dan kurma, bukan karena harus mengeluarkan (zakat) dalam bentuk kedua jenis makanan tersebut, melainkan karena kedua jenis makanan itu menjadi makanan pokok manusia (masyarakat Arab) ketika itu.

Hal tersebut berlandaskan hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah di dalam bab al-Shadaqah Qabla al-‘Id dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan, ‘Dahulu pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami mengeluarkan zakat fitrah pada hari Id sebanyak satu sha’ makanan.’ Abu Sa‘id mengatakan, ‘Makanan kami ketika itu berupa gandum, kismis, keju, dan kurma.’

Ibnu ‘Abdilbarr menyebutkan di dalam al-Istidzkar (9/263) dari Asyhab yang berkata bahwa dia mendengar Imam Malik rahimahullah berkata, ‘Tidaklah menunaikan zakat fitrah dengan gandum melainkan orang yang memakannya (menjadikannya makanan pokok). Dia tunaikan sebagaimana dia telah memakannya.’ Kebanyakan ulama ahli fikih menyebutkan dengan ungkapan, wajib mengeluarkan satu sha’ keumuman makanan pokoknya” (Majmu‘ al-Fatawa, Jilid 18, hlm. 282).

HUKUM MEMBAYAR ZAKAT FITRAH DENGAN SELAIN MAKANAN POKOK, MISALNYA UANG

Menurut pendapat yang kuat, jawabannya adalah tidak boleh. Hal tersebut dijelaskan sebagai berikut.

ولا يجزئ إخراج قيمة الطعام لأن ذلك خلاف ما أمر به رسول الله صلى الله عليه وسلم ولأنه مخالف لعمل الصحابة فقد كانوا يخرجونها صاعا من طعام ولأن زكاة الفطر عبادة مفروضة من جنس معين وهو الطعام فلا يجزئ إخراجها من غير الجنس المعين

“Tidak sah mengeluarkan zakat fitrah dengan ukuran harga makanan karena yang demikian itu menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyelisihi amalan para sahabat. Sungguh, mereka dahulu mengeluarkannya dengan satu sha’ makanan (pokok) karena zakat fitrah adalah ibadah wajib dari jenis tertentu, yaitu makanan. Tidak sah mengeluarkannya dari selain jenis tertentu tersebut” (Al-Fiqh al-Muyassar, hlm. 144).

UKURAN ZAKAT FITRAH

Ukuran zakat fitrah adalah sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَاْلأُنْثَى وَالصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha’ kurma atau gandum atas budak sahaya, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil, dan orang dewasa dari kalangan kaum muslimin. Nabi pun memerintahkan untuk menunaikannya sebelum keluarnya orang-orang menuju salat (Id)” (Al-Bukhari, no. 1.503).

Satu sha’ jika diperkirakan dengan ukuran timbangan akan sulit untuk ditentukan agar benar-benar pas. Oleh karena itu, para ulama menyebutkan dengan bahasa kurang lebih, dan yang lebih hati-hati adalah mengikuti pendapat al-Lajnah al-Dai’mah, sebanyak tiga kilogram (Fatawa al-Lajnah al-Dai’mah, Jilid 9, hlm. 371).

PIHAK YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT FITRAH

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang siapa yang berhak menerima zakat fitrah. Namun, pendapat yang paling kuat adalah zakat fitrah hanya diberikan kepada fakir miskin berlandaskan hadis sahih dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma,

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ من أدَّاها قبلَ الصَّلاةِ فَهيَ زَكاةٌ مقبولةٌ ومن أدَّاها بعدَ الصَّلاةِ فَهيَ صدقةٌ منَ الصَّدقاتِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin. Barang siapa yang menunaikannya sebelum salat Id, maka itulah zakat yang diterima. Barang siapa yang menunaikannya setelah salat Id, maka jadilah itu sebagai sedekah” (Abu Dawud; Shahih Sunan Abi Dawud, no. 1.609).

KRITERIA FAKIR MISKIN

Hendaknya seseorang mengetahui kriteria fakir miskin agar bisa berhati-hati ketika memberikan zakat. Hal itu karena tidaklah semua yang mengaku miskin bisa diberikan zakat fitrah. Para ulama menjelaskan kriteria fakir miskin adalah sebagai berikut.

الفقير هو من لا يملك ما يسد حاجته ولا يقوى على كسب ما يسدها والمسكين من كان أخف حاجة من الفقير هذا هو الصحيح من أقوال العلماء فيهما

“Seseorang dikatakan fakir tatkala dia tidak memiliki sesuatu yang dapat menutupi kebutuhannya dan tidak mampu untuk berkerja supaya menutupinya. Adapun miskin lebih ringan daripada fakir dalam hal kebutuhannya. Inilah pendapat yang benar tentang perbedaan dari keduanya” (Fatawa al-Lajnah al-Dai’mah, Jilid 10, hlm. 21).

Saudara-saudaraku sekalian perlu kita ketahui bahwa kata miskin tatkala disebutkan tanpa kata fakir, demikian pula sebaliknya maka kedua-duanya mencakup, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

الفقير إذا ذكر بدون ذكر المسكين فهوا يشمل المسكين، والمسكين لذا ذكر بدون الفقير يشمل الفقير، وإذا اجتمعا افترقا، فصار الفقير أشد حاجة من المسكين

“Jika disebutkan kata ‘fakir’ tanpa digandeng
dengan ‘miskin’ maka sesungguhnya orang miskin juga
termasuk, demikian pula jika disebutkan kata ‘miskin’ tanpa digandeng dengan ‘fakir’ maka sesungguhnya orang fakir juga termasuk. Apabila dua kata ini disebutkan secara beriringan dalam kalimat maka memiliki makna sendiri-sendiri, maka maknanya fakir lebih membutuhkan dari miskin.” (Fathu Dzil Jalali wal-Ikram, jilid, 3. Hal.95)

Sehingga menjadi jelas dari penyebutan hadis Ibnu Abbas radhiallahu anhuma bahwa zakat fitrah itu untuk diberikan kepada orang-orang miskin, juga mencakup orang-orang fakir karena disebutkan secara terpisah.

KRITERIA MUSLIM YANG DIANJURKAN UNTUK DIBERIKAN ZAKAT FITRAH

Jika seseorang memberikan zakat fitrahnya kepada seorang fakir dari kalangan muslimin yang baik dan taat kepada Allah, maka inilah yang afdal. Namun, jika sulit menemukannya, tidak mengapa diberikan kepada muslim yang fasik dan masih melakukan kemaksiatan-kemaksiatan selama tidak keluar dari Islam.

تدفع زكاة الفطر لفقراء المسلمين وإن كانوا عصاة معصية لا تخرجهم من الإسلام، والعبرة في فقر من يأخذها حالته الظاهرة، ولو كان في الباطن غنيا، وينبغي لدافعها أن يتحرى الفقراء الطيبين بقدر الاستطاعة

“Zakat fitrah diberikan kepada orang-orang fakir muslimin meskipun mereka masih ada yang melakukan kemaksiatan yang tidak mengeluarkan mereka dari islam. Yang dijadikan tolok ukur adalah orang yang fakir secara lahiriahnya sekalipun dia kaya di dalam batinnya. Semestinya bagi yang akan menyerahkan zakat fitrah untuk berhati-hati mencari orang-orang fakir yang taat” (Fatawa al-Lajnah al-Dai’mah, Jilid 9, hlm. 376).

Namun, jika ternyata setelah itu dia mengetahui bahwa yang diberikan zakat fitrah tidak sesuai dengan kriteria tersebut, menurut pendapat yang kuat zakat fitrahnya sah dan tidak memudaratkannya. Allah subhanahu wa taala berfirman,

فاتقوا الله ما استطعتم

“Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kesanggupan kalian” (al-Taghabun: 16).

Al-Lajnah al-Da’imah pun mengeluarkan fatwanya sebagai berikut.

وينبغي لدافعها أن يتحرى الفقراء الطيبين بقدر الاستطاعة وإن ظهر أن آخذها غني فيما بعد فلا يضر ذلك دافعها بل هي مجزئة والحمد لله

“Semestinya bagi yang akan menyerahkan zakat fitrah berhati-hati mencari orang-orang fakir yang taat. Jika tampak jelas setelah pemberian zakat fitrah bahwa yang menerimanya adalah orang kaya, hal itu tidak memudaratkan pemberinya, bahkan zakat tersebut tetap sah, alhamdulillah” (Fatawa al-Lajnah al-Dai’mah, Jilid 9, hlm. 376).

HUKUM ZAKAT SATU KELUARGA ATAU LEBIH DIBERIKAN HANYA KEPADA SATU ORANG MISKIN

Zakat satu keluarga atau lebih boleh diberikan hanya kepada satu orang miskin. Selama tidak memudaratkan fakir miskin lainnya, maka hal itu tidak mengapa. Syekh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

ويجوز دفع عدد من الفطر إلى مسكين واحد لأن النبي صلى الله عليه وسلم قدر الواجب ولم يقدر من يدفع إليه

“Boleh menyerahkan zakat fitrah beberapa orang untuk satu orang miskin karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menentukan ukuran wajib zakat fitrah. Beliau tidak memberikan batasan untuk orang yang menerimanya” (Majmu‘ al-Fatawa, Jilid 20, hlm. 397).

HUKUM MEMBERIKAN ZAKAT KEPADA KARIB KERABAT

Jika seseorang memiliki kerabat-kerabat yang miskin, baik yang dekat maupun yang jauh, seperti kakak, adik, paman, keponakan sepupu, dan yang lainnya, boleh bagi seseorang memberikan zakat fitrahnya kepada mereka dengan ketentuan mereka bukan orang yang dinafkahinya. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

يجوز أن تدفع زكاة الفطر وزكاة المال المال إلى الأقارب الفقراء، بل إن دفعها إلى الأقارب أولى من دفعها إلى الأباعد؛ لأن دفعها إلى الأقارب صدقة وصلة، لكن بشرط ألا يكون في دفعها حماية ماله، وذلك فيما إذا كان هذا الفقير تجب عليه نفقته أي على الغني، فإنه في هذه الحال لا يجوز له أن يدفع حاجته بشيء من زكاته، لأنه إذا فعل ذلك فقد وفر ماله بما دفعه من الزكاة، وهذا لا يجوز ولا يحل، أما إذا كان لا تجب عليه نفقته، فإن له أن يدفع إليه زكاته، بل إن دفعالزكاة إليه أفضل من دفعها للبعيد لقول النبي صلى الله عليه وسلم: صدقتك على القريب صدقة وصلة

“Boleh memberikan zakat fitrah dan zakat mal kepada kerabat-kerabat yang miskin, bahkan memberikan kepada mereka lebih utama daripada yang lain karena ketika diberikaan kepada mereka akan menjadi zakat dan penyambung hubungan. Akan tetapi, dengan syarat (mereka) tidak dalam tanggung jawabnya. Maksudnya apabila seorang yang fakir ini wajib dinafkahi olehnya, maka dalam keadaan seperti ini tidak boleh menutupi kebutuhannya dengan zakat. Jika dia melakukan hal itu, sungguh dia telah menunaikan kewajiban hartanya dengan zakat. Hal ini tidak diperbolehkan dan tidak halal. Adapun apabila bukan dari orang yang wajib diberikan nafkah, maka (boleh) zakat diberikan kepadanya. Bahkan inilah yang afdal daripada orang-orang yang jauh berlandaskan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Sedekahmu kepada kerabat akan menjadi sedekah dan menyambung hubungan” (Majmu‘ al-Fatawa, Jilid 18, hlm. 413–414).

HUKUM MEMBERIKAN ZAKAT KEPADA ORANG TUA

Tidak boleh bagi seseorang untuk memberikan zakat fitrahnya kepada orang tuanya. Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,

قال ابن المنذرِ: أجمعَ أهلُ العلمِ علَى أنَّ الزكاةَ لا يجوزُ دفعُها إلى الوالدينِ في الحال التي يُجبَرُ الدَّافعُ إليهِمْ على النَّفقةِ عليهمْ، ولأنَّ دفع زكاتِهِ إليهم تغنيهِمْ عن نفقتِهِ وتسقطُها عنه ويعود نفعها إليه، فكأنَّه دفعها إلى نفسهِ فلم تجزِ، كما لو قضى بها دينه

“Ibnu Mundzir rahimahullah berkata, para ulama sepakat bahwa zakat tidak boleh diberikan kepada kedua orang tua pada keadaan yang sangat dibutuhkan untuk seseorang menafkahi mereka. Hal itu karena akan tercukupi nafkah wajib yang hendak dia keluarkan dan akan menggugurkannya serta manfaatnya akan kembali kepadanya. Jika seperti ini keadaannya, seakan-akan dia memberikan zakat itu kepada dirinya sendiri seperti dia membayar hutang dengan zakat tersebut” (Al-Mughni, Jilid 2, hlm. 482).

HUKUM MEMBERIKAN ZAKAT KEPADA ANAK, CUCU, NENEK, DAN KAKEK

Tidak boleh pula bagi seseorang untuk memberikan zakat fitrahnya kepada anak, cucu, kakek, dan neneknya. Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,

نص عليه الإمام أحمد فقال: لا يعطي الوالدين من الزكاة ولا الولد ولا ولد الولد ولا الجد ولا الجدة ولا ولد البنت قال النبي إن ابني هذا سيد يعني الحسن فجعله ابنه ولأنه من عمود نسبه فأشبه الوارث ولأن بينهما قرابة جزئية وبعضية بخلاف غيرها

“Al-Imam Ahmad rahimahullah menyebutkan bahwa tidak boleh orang tua memberikan zakat kepada anak, cucu, nenek dan kakeknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya anakku ini adalah penghulu,’ yakni al-Hasan. Beliau katakan dengan panggilan anak sebab anak termasuk tiang nasabnya; sebab di antara keduanya terdapat kedekatan dalam suatu bagian berbeda dengan selainnya” (Al-Mughni, Jilid 2, hlm. 483). Dengan demikian, selain mereka, maka diperbolehkan dan lebih utama, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

HUKUM MEMBAYARKAN ZAKAT ORANG LAIN

Zakat fitrah hukumnya wajib atas setiap individu muslimin. Namun, dibolehkan bagi seseorang membayarkan zakat fitrah untuk orang lain baik dari keluarganya maupun bukan. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

والأصل في الفرض أنه يجب على كل واحد بعينه دون غيره.
ولقول الله تعالى: ولا تزر وازرة وزر أخرى (الأنعام: ١٦٤) ولو وجبت زكاة الفطر على الشخص نفسه وعمن يمونه فإنه سوف تزر وازرة وزر أخرى، لكن لو أخرجها عمن يمونهم وبرضاهم فلا بأس بذلك ولا حرج، كما أنه لو قضى إنسان دينا عن غيره وهو راض بذلك فلا حرج، ولأنه يجوز دفع الزكاة عن الغير

“Hukum asal dalam kewajiban (zakat fitrah) adalah wajib atas siapa pun, bukan kewajiban atas orang lain berlandaskan firman Allah taala, ‘Seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain’ (Al-An’am: 164). Jika seandainya zakat fitrah wajib atas seseorang dan yang ditanggungnya, maka akan terjadi pemikulan dosa orang lain. Akan tetapi, jika dia keluarkan zakat fitrah untuk orang yang dalam tanggungannya dengan persetujuan mereka, maka tidak mengapa. Hal ini sebagaimana kejadian jika dia membayarkan utang orang lain dengan persetujuannya, maka tidak mengapa karena boleh membayarkan zakat orang lain” (Syarh al-Mumti‘, Jilid 6, hlm. 155).

HUKUM MEMBERIKAN ZAKAT FITRAH KEPADA ORANG KAFIR YANG MISKIN

Berkaitan dengan hal tersebut, sebuah pertanyaan disampaikan kepada Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, beliau menjawab,

لا يجوز إعطاؤها إلا للفقير من المسلمين

“(Zakat fitrah) tidak boleh diberikan kecuali kepada seorang yang fakir dari kalangan kaum muslimin” (Majmu‘ Fatawa, Jilid 18, hlm. 433).

HUKUM MEMBERIKAN ZAKAT FITRAH UNTUK TEMPAT-TEMPAT KEBAIKAN SEPERTI MASJID

Jawabannya, sebagaimana yang telah lalu, bahwa pendapat yang kuat adalah zakat fitrah hanya diberikan kepada fakir miskin saja. Ini kriterianya. Adapun jika diberikan ke masjid-masjid, maka tidak boleh.

ولا يجوز وضعها في بناء مسجد أو مشاريع خيرية

“Tidak boleh zakat fitrah diberikan dalam rangka pembangunan masjid atau program-program kebaikan lainnya” (Fatawa al-Lajnah al-Dai’mah, Jilid 9, hlm. 369).

Berkaitan dengan hal tersebut, Syekh ‘Abdul‘aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,

المعروف عند العلماء كافة، وهو رأي الجمهور والأكثرين، وهو كالإجماع من علماء السلف الصالح الأولين–أن الزكاة لا تصرف في عمارة المساجد وشراء الكتب ونحو ذلك

“(Ini adalah) pendapat yang dikenal di sisi para ulama semuanya. Inilah pendapat kebanyakan ulama, bahkan sudah seperti ijmak ulama salaf saleh bahwa zakat tidaklah diberikan untuk pembangunan masjid, membeli kitab-kitab, dan lain sebagainya” (Majmu‘ Fatawa, Jilid 14, hlm. 294).

HUKUM MEMBERIKAN ZAKAT DI TEMPAT SELAIN DAERAHNYA

Para ulama menyebutkan, memberikan zakat di tempat selain daerahnya itu dibolehkan jika memang lebih bermaslahat.

ويجوز نقلها إلى فقراء بلد أخرى أهلها أشد حاجة

“Boleh (zakat fitrah) dipindahkan ke fakir miskin di tempat lain yang lebih membutuhkan” (Fatawa al-Lajnah al-Dai’mah, Jilid 9, hlm. 369).

WAKTU PENYERAHAN ZAKAT FITRAH

Syekh ‘Abdul‘aziz bin Baz rahimahullah berkata,

والواجب أيضا إخراجها قبل صلاة العيد ولا يجوز تأخيرها إلى ما بعد صلاة العيد ولا مانع من إخراجها قبل العيد بيوم أو يومين

“Yang wajib adalah mengeluarkan zakat fitrah sebelum salat Id. Tidak boleh diakhirkan sampai setelah selesai Id. Namun, tidak mengapa diberikan sehari atau dua hari sebelum hari Id” (Majmu‘ Fatawa, Jilid 14, hlm. 201).

HUKUM MEMBENTUK PANITIA ZAKAT FITRAH

Berkenaan dengan hukum membentuk panitia zakat fitrah, para ulama menjelaskan,

ويجوز لإمام المسجد ونحوه من ذوي الأمانة أن يجمعها ويوزعها على الفقراء؛ على أن تصل إلى مستحقيها قبل صلاة العيد

“Boleh (untuk membentuk panitia zakat) bagi imam masjid atau selainnya yang memiliki amanah untuk mengumpulkan dan membagi-bagikan zakat fitrah kepada fakir miskin yang berhak mendapatkannya sebelum salat Id dimulai” (Fatawa al-Lajnah al-Dai’mah, Jilid 9, hlm. 369).

TIDAK ADA BACAAN KHUSUS KETIKA MENYERAHKAN ZAKAT FITRAH

Tidak ada bacaan dan doa khusus saat menyerahkan zakat fitrah, berkaitan dengan hal ini al-Lajnah al-Daimah pun telah menyebutkan didalam fatwanya sebagai berikut.

لا نعلم دعاء معينا يقال عند إخراجها

“Kami tidak mengetahui ada doa khusus (dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam) yang diucapkan ketika menyerahkan zakat fitrah”(Fatawa al-Lajnah al-Daimah, jilid 9, hlm. 387).

HUKUM ORANG YANG TIDAK MAMPU MEMBAYAR ZAKAT FITRAH

Sungguh syariat Islam sangat memperhatikan maslahat pemeluknya dan sama sekali tidak memberatkan mereka. Allah taala berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menginginkan bagi kalian kemudahan dan tidak menginginkan kesukaran bagi kalian” (Al-Baqarah: 185).

Allah taala juga berfirman,

 فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah kepada Allah sesuai (batas) kemampuan kalian” (al-Taghabun:16).

Para ulama kita mengatakan dalam kaidah:

لا واجب مع العجز

“Tidak ada kewajiban jika seseorang tidak mampu.”

Kemudian, para ulama menjelaskan terkait hal tersebut,

ومن ليس لديه إلا قوت يوم العيد لنفسه ومن يجب عليه نفقته تسقط عنه

“Barang siapa yang di sisinya tidak ada makanan pokok pada hari Id melainkan untuk dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya saja, maka gugur kewajiban untuk membayar zakat fitrah.” (Fatawa al-Lajnah al-Dai’mah, Jilid 9, hlm. 369).

Namun, tatkala dimalam atau dihari id dia memiliki kelebihan atas makanan pokoknya, maka wajib untuk dikeluarkan zakatnya

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

فإذا كان عنده ما يقوته يوم العيد وليلته وبقي صاع فإنه يجب عليه إخراجه وكذلك لو بقي نصف صاع فإنه يخرجه لقوله تعالى (فاتقوا الله ما استطعتم)

“Apabila ada makanan pokoknya yang bisa mencukupi pada malam dan hari Id dan tersisa satu sha’, maka wajib untuk dikeluarkan (zakatnya). Demikian pula apabila yang tersisa hanya setengah sha’, maka wajib untuk dikeluarkan berlandaskan firman Allah taala, ‘Bertakwalah kepada Allah sesuai (batas) kemampuan kalian!’ (al-Taghabun:16) (Al-Syarh al-Mumti‘, Jilid 6, hlm. 151).

Beliau juga mengatakan,

زكاة الفطر لا تجب إلا إذا تحقق الشرطان الآتيان: الإسلام؛ الغنى على الوجه الذي ذكره المؤلف وهو أن يكون عنده يوم العيد وليلته صاع زائد عن قوته وقوت عياله وحوائجه الأصلية

“Zakat fitrah tidaklah wajib melainkan apabila terpenuhi dua syarat berikut: Islam dan berkecukupan, yaitu tatkala malam dan hari Id dia memiliki kelebihan berupa satu sha’ makanan pokok, kebutuhan keluarganya, dan kebutuhan-kebutuhan pokoknya” (Al-Syarh al-Mumti‘, Jilid 6, hlm. 152).

Semoga memberikan manfaat untuk kita semua.

✍🏻 Oleh:
Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: BERSYUKURLAH WALAUPUN ENGKAU MEMANDANGNYA SEDIKIT

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com