DUA PERKARA YANG HARUS DIBEDAKAN SAAT TIDAK PUASA TANPA UZUR

بسم الله الرحمن الرحيم

Tanya jawab bersama al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah.

Pertanyaan:

Aku sengaja tidak berpuasa selama tiga hari pada bulan Ramadan, bisa jadi lebih (dari tiga hari). Kemudian aku bertobat kepada Allah. Apa yang wajib atasku?

Jawaban:

Wajib atasmu mengqada hari-hari yang engkau tinggalkan ini jika engkau berbuka pada siang harinya. Adapun jika engkau meninggalkan puasa dari awal dan belum memulainya, jika engkau mengqada tidak akan diterima. Wajib atasmu untuk bertobat kepada Allah dan memperbanyak amal saleh.

Teks Arab:

سؤال: أفطرت في رمضان متعمدا ثلاثة أيام وقد تزيد ثم تبت إلى الله والحمد لله فماذا يجب علي؟

جواب: يجب عليك أن تقضي هذه الأيام التي أفطرتها إذا كنت أفطرتها في أثناء النهار أما إذا كنت تركتها من الأصل ولم تشرع في الصوم فإنها لا تقبل منك ولو قضيتها ولكن عليك أن تتوب إلى الله وتكثر من الأعمال الصالحة.

Sumber: Al-Liqa’ al-Syahri, 3/74–75.

Alih Bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: INDAHNYA BIMBINGAN ISLAM TATKALA BERBUKA PUASA

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

APA MASUKNYA SESUATU MELALUI HIDUNG MEMBATALKAN PUASA?

بسم الله الرحمن الرحيم

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

(وبالغ في الاستنشاق) يعني استنشاق الماء عند الوضوء (إلا أن تكون صائما) فلا تبالغ في الاستنشاق لأنك إذا بالغت في الاستنشاق دخل الماء إلى جوفك من طريق الأنف فدل ذلك على أن وصول الأكل أو الشرب عن طريق الأنف كوصوله عن طريق الفم، يعني أنه يفطر الصائم

“(Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) ‘bersunguh-sungguhlah dalam ber-istinsyaq,’ yakni memasukkan air ke dalam hidung ketika berwudu. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, ‘Kecuali ketika engkau sedang berpuasa,’ maka jangan bersungguh-sungguh dalam ber-istinsyaq karena hal itu bisa membuat air masuk ke dalam perut melalui lubang hidung. Dengan demikian, hadis tersebut menunjukkan bahwa sampainya makanan atau minuman melalui hidung sama dengan melalui mulut, yakni perbuatan tersebut membatalkan puasa.”

Sumber: Syarh Riyadh al-Shalihin, Jilid 3, hlm. 392.

Alih Bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar غفر الرحمن له.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

APAKAH SUNTIK MEMBATALKAN PUASA?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

الإبر التي تكون في الوريد أو تكون في اليد أو تكون في الظهر أو في أي مكان لا تفطر الصائم إلا الإبر المغذية التي يستغنى بها عن الأكل والشرب فهذه تفطر الصائم ولا يحل له إذا كان صومه فرضا أن يستعملها إلا عند الضرورة فإذا اضطر إلى ذلك أفطر واستعمل الإبر وقضى يوما مكانه

“Suntikan di pembuluh darah, tangan, punggung, atau di mana saja tidak membatalkan puasa, kecuali suntikan nutrisi yang setara dengan makan dan minum, maka membatalkan puasa. Tidak halal baginya untuk menggunakannya ketika sedang puasa wajib, kecuali dalam kondisi darurat. Jika dibutuhkan, dia batalkan puasanya dengan menggunakannya dan mengganti puasanya pada selain bulan Ramadan.”

Sumber: Syarh Riyadh al-Shalihin, Jilid 3, hlm. 392.

Alih Bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar غفر الرحمن له.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

INDAHNYA BIMBINGAN ISLAM TATKALA BERBUKA PUASA

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

النبي صلى الله عليه وسلم قال: لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر، فما دام الناس يبادرون إلى السنة ويتسابقون إلى الخير فهم بخير لا يزالون بخير أما إذا تباطئوا ولم يفطروا مبادرين فإن ذلك هو الشر ولهذا كان الرافضة المخالفون لسنة الرسول يؤخرون الفطر لا يفطرون إلا إذا اشتبكت النجوم فيحرمون من الأجر والثواب ويحرمون من تعجيل إعطاء النفوس حظوظها من الأكل والشرب يعذبون في الدنيا قبل الآخرة لأن الإنسان إذا تأخر وهو مثلا عطشان أو جائع يتألم أكثر، فهم يؤلمون أنفسهم بتأخير الفطور

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Manusia selalu dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka’. Selama manusia bersegera mengamalkan sunah, berlomba-lomba menuju kebaikan, mereka berada pada kebaikan. Adapun tatkala mereka melambatkan, tidak berbuka dengan segera, maka yang demikian itu adalah kejelekan. Oleh karena itu, para penganut aliran Syiah Rafidhah yang menyelisihi sunah, mereka mengakhirkan berbuka. Tidaklah mereka berbuka melainkan tatkala bintang-bintang banyak bertebaran di langit. Mereka terhalangi dari mendapat pahala dan menyegerakan pemberian bagian terhadap jiwa dari makan dan minum. Mereka diazab di dunia sebelum di akhirat karena seseorang apabila terlambat berbuka dari waktunya dalam keadaan dia sedang lapar dan haus, niscaya yang demikian itu sangat menyakitkannya. Mereka menyiksa diri mereka dengan mengakhirkan berbuka.”

Sumber: Syarh Riyadh al-Shalihin, Jilid 3, hlm. 389.

Alih Bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar غفر الرحمن له.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

TENTANG MENINGGALKAN PUASA RAMADAN TANPA UZUR

Puasa Ramadan adalah salah satu di antara sekian rukun Islam. Tidak boleh bagi seorang muslim yang balig, berakal, dan mukalaf untuk meninggalkan puasa Ramadan tanpa uzur (alasan yang dibenarkan), seperti safar, sakit, dan lain sebagainya.

Berikut ini kami akan menyajikan di hadapan para pembaca sekalian tentang bagaimana tinjauan syariat tentang orang-orang yang tidak puasa tanpa uzur yang disyariatkan.

HUKUMNYA

Allah subhanahu wa taala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan kepada kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (Al-Baqarah: 183).

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُنِىَ الْإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima perkara, yaitu syahadat tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan puasa Ramadan” (Al-Bukhari, no. 8 dan Muslim, no. 16).

Ayat dan hadis di atas menunjukkan bahwa puasa Ramadan hukumnya wajib dan termasuk salah satu rukun Islam.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

صيام رمضان أحد أركان الإسلام هذه منزلته في دين الإسلام وهو فرض بإجماع المسلمين لدلالة الكتاب والسنة على ذلك

“Puasa Ramadan merupakan salah satu dari rukun-rukun Islam. Inilah kedudukannya di dalam Islam, yaitu wajib sesuai dengan ijmak kaum muslimin berlandaskan dengan al-Qur’an dan sunah”
(Syarh al-Kaba’ir, hlm. 52).

BAGI YANG MELALAIKAN ATAU MENGINGKARINYA

Al-Imam al-Dzahabi menyebutkan di dalam kitabnya al-Kaba’ir, urutan keenam dari dosa-dosa besar adalah meninggalkan puasa Ramadan tanpa uzur.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata,

وأجمع المسلمون على وجوب صومه وأن من أنكره كفر

“Kaum muslimin sepakat atas wajibnya puasa Ramadan. Barang siapa yang mengingkarinya, maka dia kafir” (Al-Mulakhkhash al-Fiqhi, hlm. 178).

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

واختلف العلماء فيما لو تركه تهاونا أو كسلا هل يكفر أم لا؟ والصحيح أنه لا يكفر

“Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, jika dia meninggalkan puasa Ramadan karena melalaikan dan malas-malasan (tetapi tetap meyakini kewajibannya) apakah dia kafir atau tidak? Pendapat yang benar adalah tidak sampai pada tingkatan kafir” (Syarh al-Kaba’ir, hlm. 53).

Meskipun tidak sampai pada tingkatan kafir bagi yang meninggalkannya dengan sengaja tanpa uzur dan masih meyakini kewajibannya, hendaknya setiap hati merasakan takut terhadap azab yang sangat pedih yang Allah subhanahu wa taala persiapkan bagi mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَتَانِي رَجُلاَنِ فَأَخَذَا بِضَبْعَىَّ فَأَتَيَا بِي جَبَلاً وَعْرًا فَقَالاَ: اصْعَدْ فَقُلْتُ: إِنِّى لاَ أُطِيقُهُ فَقَالاَ: إِنَّا سَنُسَهِّلُهُ لَكَ فَصَعِدْتُ حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِى سَوَاءِ الْجَبَلِ إِذَا أَنَا بَأَصْوَاتٍ شَدِيدَةٍ قُلْتُ: مَا هَذِهِ الأَصْوَاتُ قَالُوا: هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ، ثُمَّ انْطُلِقَا بِي فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا قَالَ قُلْتُ: مَنْ هَؤُلاَءِ قَالَ: هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ

“(Ketika aku sedang tidur) tiba-tiba ada dua laki-laki yang mendatangiku (yaitu malaikat–pen). Keduanya memegangi kedua lenganku, kemudian membawaku ke sebuah gunung yang bergelombang. Keduanya berkata kepadaku, ‘Naiklah!’ Aku menjawab, ‘Aku tidak mampu.’ Keduanya berkata, ‘Kami akan memudahkannya untukmu.’ Aku pun naik. Ketika aku berada di tengah gunung itu, tiba-tiba aku mendengar suara-suara yang keras. Aku bertanya, ‘Suara apa itu?’ Mereka menjawab, ‘Itu teriakan penduduk neraka.’ Kemudian aku dibawa, tiba-tiba aku melihat sekelompok orang tergantung (terbalik) dengan urat-urat kaki mereka (di sebelah atas), ujung-ujung mulut mereka sobek mengalirkan darah. Aku bertanya, ‘Mereka itu siapa?’ Mereka menjawab, ‘Meraka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktunya’.”
(Al-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, dan yang lainnya).

Al-Imam al-Albani rahimahullah mengomentari hadis tersebut,

أقول: هذه عقوبة من صام ثم أفطر عمدا قبل حلول وقت الإفطار فكيف حال من لا يصوم أصلا؟ نسأل الله السلامة والعافية في الدنيا والآخرة

“Saya katakan, inilah hukuman bagi orang yang berpuasa kemudian dia berbuka dengan sengaja sebelum masuk waktu berbuka. Lantas, bagaimana keadaan orang yang sama sekali tidak berpuasa?
Kita memohon kepada Allah keselamatan di dunia dan di akhirat”
(Silsilah al-Shahihah, no. 3.951).

Perhatikanlah hadis ini wahai saudaraku. Alangkah sedih hati ini ketika masih ada yang bermudah-mudahan meninggalkan puasa dengan sengaja tanpa uzur. Hendaknya mereka takut dan segera bertobat kepada Allah, Zat yang Maha Pengampun. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa, semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'” (al-Zumar: 53).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدَ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama rohnya belum sampai di kerongkongan”
(Al-Tirmidzi, no. 3.537; dihasankan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Takhrij Misykah al-Mashabih, 2/449).

KETIKA BERTOBAT APAKAH WAJIB MENGQADA PUASA YANG TELAH DITINGGALKAN?

Seseorang yang telah meninggalkan puasa Ramadan dengan sengaja tanpa uzur sedikit pun, kemudian dia mendapat hidayah, menyadari bahwa tidaklah ada jalan keselamatan di dunia dan di akhirat melainkan harus kembali kepada Allah ‘azza wa jalla, lalu dia bertobat, apakah wajib baginya mengqada puasa yang telah dia tinggalkan walaupun sudah sekian tahun lamanya? Mari kita simak penjelasan berikut.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

إذا تركه بغير تأويل فإن القول الراجح من أقوال أهل العلم أن كل عبادة مؤقتة إذا تعمد الإنسان إخراجها عن وقتها بلا عذر فإنها لا تقبل منه وإنما يكتفي منه بالعمل الصالح وكثرة النوافل والاستغفار ودليل ذلك قول النبي صلى الله عليه وسلم فيما صح عنه: من عمل عمل ليس عليه أمرنا فهو رد (رواه البخاري ومسلم) فكما أن العبادة المؤقتة لا تفعل قبل وقتها فكذلك لا تفعل بعد وقتها. أما إذا كان هناك عذر كالجهل والنسيان فإن النبي صلى الله عليه وسلم قال في النسيان: من نام عن صلاة أو نسيها فليصلها إذا ذكرها لا كفارة لها إلا ذلك

“Apabila dia meninggalkan puasa Ramadan dengan sengaja tanpa uzur yang disyariatkan, pendapat yang kuat dari pendapat para ulama, yakni setiap ibadah yang ditentukan waktunya, apabila seseorang menyengaja meninggalkannya tanpa uzur sampai keluar waktunya, ibadah tersebut tidak akan diterima. (Jika dia mengqadanya), yang harus dia lakukan adalah cukup dengan melakukan amal saleh, memperbanyak ibadah sunah, dan istigfar kepada Allah ‘azza wa jalla. Yang menjadi landasan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
‘Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka tertolak’ (Muttafaq ‘alaih).

Ibadah yang telah ditentukan waktunya tidak boleh dilakukan sebelum masuk waktunya. Demikian pula tidak boleh dikerjakan setelah waktunya selesai. Adapun jika ada uzur seperti tidak mengetahui dan lupa, sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda tentang orang yang lupa mengerjakan salat, ‘Barang siapa yang tertidur dari salatnya atau lupa, hendaknya dia kerjakan ketika ingat. Tidak ada tebusan baginya kecuali mengerjakannya'” (Syarh al-Kaba’ir, hlm. 53).

Tidak diperintahkan untuk mengqada bagi orang yang meninggalkan ibadah puasa atau salat dengan sengaja tanpa uzur. Hendaknya seseorang tidak menganggap hal ini sebagai keringanan tanpa ada rasa sedih sedikit pun. Bahkan hendaknya dia menyesali atas perbuatan yang telah dia lakukan dan bertekad untuk memperbaikinya dengan memperbanyak amal saleh dan tobat kepada Allah subhanahu wa taala. Kemudian hendaknya dia bersyukur atas hidayah yang Allah berikan kepadanya sebelum ajal menjemputnya. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada kita semua.

✍🏻 Oleh:
Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

BOLEHKAH MAKAN SAHUR DALAM KEADAAN JUNUB?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

النبي صلى الله عليه وسلم كان يصبح جنبا فيصوم ثم يغتسل وهذا أيضا جائز يعني يجوز للجنب أن ينوي الصوم وإن لم يغتسل إلا بعد طلوع الفجر كما كان النبي صلى الله عليه وسلم يفعل ذلك

“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun dalam keadaan junub, maka beliau berpuasa kemudian mandi. Yang demikian ini boleh, yakni tidak mengapa bagi yang sedang dalam keadaan junub berniat puasa walaupun tidak mandi (wajib), kecuali setelah terbit fajar (masuk waktu subuh), sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Sumber: Syarh Riyadh al-Shalihin, Jilid 3, hlm. 392.

Alih Bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar غفر الرحمن له.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com


KAPAN WAKTU IMSAK DIMULAI?

Asy-Syaikh ‘Abdullah Alu Bassam rahimahullah berkata,

إن وقت الإمساك هو طلوع الفجر كما قال تعالى ( وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ) وبهذا نعلم أن ما يجعله الناس من وقتين وقت للإمساك ووقت لطلوع الفجر بدعة ما أنزل الله بها من سلطان وإنما هي وسوسة من الشيطان ليلبس عليهم دينهم وإلا فإن السنة المحمدية أن الإمساك يكون على أول طلوع الفحر

“Sesungguhnya waktu imsak itu adalah tatkala waktu subuh tiba, sebagaimana firman Allah subhanahu wa taala, ‘Makan dan minumlah sampai jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam (yakni waktu Subuh)’ (Al-Baqarah: 187). Dengan ini kita mengetahui bahwa perbuatan manusia yang menjadikan dua waktu, yaitu waktu imsak dan waktu subuh, adalah bidah. Allah tidak menurunkan keterangan padanya. Itu hanya waswas setan untuk mengaburkan agama mereka. Padahal, di dalam sunah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam waktu imsak itu pada awal terbitnya fajar (yaitu waktu subuh).”

Sumber: Taisir al-‘Allam, hlm. 337.

Alih Bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar غفر الرحمن له.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

TENTANG PUASA RAMADAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Puasa pada bulan Ramadan adalah salah satu di antara sekian ibadah yang disyariatkan dalam Islam. Oleh karena itu, semestinya bagi setiap muslim untuk mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengannya sesuai dengan bimbingan Islam agar amalannya diterangi dengan cahaya ilmu dan jauh dari kegelapan yang menyesatkannya.

Berikut ini beberapa faedah tentang puasa Ramadan. Semoga dapat memberikan manfaat yang luas untuk kaum muslimin.

DEFINISI PUASA

Puasa secara bahasa bermakna al-Imsak ‘anisy syai’, yaitu ‘menahan dari sesuatu’ (al-Fiqh al-Muyassar, hlm. 151). Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa taala tatkala mengisahkan ucapan Maryam,

إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنسِيًّا

“Sesungguhnya aku telah bernazar menahan diri untuk Ar-Rahman, maka pada hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun” (Maryam: 26).

Adapun puasa secara syariat maknanya adalah

الإمساك عن الأكل والشرب وسائر المفطرات مع النية من طلوع الفجر الصادق إلى غروب الشمس

“menahan diri dari makan, minum, dan segala sesuatu yang dapat membatalkannya disertai dengan niat mulai dari waktu fajar sadik sampai matahari tenggelam”.

RUKUN-RUKUN PUASA

Disebutkan di dalam al-Fiqh al-Muyassar (151) bahwa berdasarkan definisinya, rukun puasa ada dua.

  1. Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari berdasarkan firman Allah,

وَكـُلـُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتـَبَيَّنَ لـَكُمُ اْلخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ اْلخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجر ثم أتم الصيام إلى اللَّيل

“Makan dan minumlah kalian (pada malam hari) sampai tampak jelas pada kalian perbedaan antara benang putih dan benang hitam dari waktu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam” (al-Baqarah: 187).

  • 2.Niat berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إنما الأعمال بالنيات

“Hanyalah amalan itu tergantung niatnya.” (Al-Bukhari, no. 1 dan Muslim, no 1.907).

Oleh karena itu, bagi yang berpuasa Ramadan harus berniat pada malam harinya. Niat maknanya adalah tujuan, bukan melafazkan bacaan-bacaan tertentu.

KEUTAMAAN PUASA RAMADAN

Sesungguhnya setiap amalan yang diperintahkan di dalam Islam pasti memiliki keutamaan. Tidak terlepas dari itu, ibadah yang sangat agung ini, yaitu puasa Ramadan, pun sangat banyak keutamaannya. Di antaranya adalah sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه ومن صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barang siapa yang menegakkan malam Lailatulqadar karena iman dan mengharap pahala, niscaya dosa-dosanya yang lalu diampuni. Barang siapa yang puasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, niscaya dosa-dosanya yang lalu diampuni” (Al-Bukhari, no. 1.901 dan Muslim, no. 760).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتُ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْـتَـنَبَ الْكَبَائِرَ

“Salat lima waktu, (salat) Jumat ke Jumat berikutnya, (puasa) Ramadan ke Ramadan berikutnya merupakan penghapus dosa-dosa, selama dia meninggalkan dosa-dosa besar” (Muslim, no 233).

Yang dimaksud dengan dihapuskannya dosa dari hadis-hadis ini dan yang semisalnya adalah dosa kecil. Adapun dosa besar, tidaklah bermanfaat kecuali dengan tobat. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

أما الكبائر فلا ينفع فيها إلا التوبة

“Adapun dosa-dosa besar tidak akan bermanfaat untuk menghilangkannya kecuali dengan tobat” (Syarh Riyadh al-Shalihin, Jilid 1, hlm. 80).

Selain itu, keterangan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلاَّ الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي

“Seluruh amal manusia dilipatgandakan. Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah subhanahu wa taala berfirman, “Kecuali amalan puasa. Sesungguhnya ia hanya untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya. Dia meninggalkan syahwat dan makannya ikhlas karena Aku’.” (Muslim, no 1.151).

HUKUM-HUKUM PUASA

Puasa Ramadan dahulu pada awal-awal Islam hukumnya belum wajib. Saat itu, kaum muslimin masih diberi kesempatan untuk memilih antara puasa dan memberi makan fakir miskin. Meski demkian, berpuasa tetap yang lebih utama. Allah subhanahu wa taala berfirman,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ ۚ وَأَن تَصُومُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

”Wajib bagi orang yang berat untuk menjalankan puasa membayar fidiah, yaitu dengan cara memberi makan seorang miskin setiap harinya. Barang siapa yang dengan kerelaan memberi makan lebih dari itu, maka itulah yang lebih baik baginya. Jika kalian melakukan puasa, hal itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahuinya” (Al-Baqarah: 184).

Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu berkata,

لما نزلت ( وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين) كان من أراد أن يفطر ويفتدي حتى نزلت الآية التي بعدها فنسختها

“Ketika turun firman Allah ‘wajib bagi orang yang berat untuk menjalankan puasa membayar fidiah, yaitu dengan cara memberi makan seorang miskin setiap harinya’, ayat ini dahulu berkenaan dengan orang yang tidak berpuasa, tetapi membayar fidiah. Kemudian turun ayat setelahnya yang menghapus hukum tersebut (sehingga puasa menjadi wajib–pen) (Al-Bukhari, no. 4 507). Ayat yang dimaksud adalah firman Allah subhanahu wa taala,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Barang siapa yang menyaksikan (datangnya) bulan itu, berpuasalah” (Al-Baqarah: 185).

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata,

شرع الصوم على أطوار. الطور الأول: التخيير فمن شاء صام ومن شاء أفطر والصوم أفضل، ومن أفطر أطعم عن كل يوم مسكينًا … والطور الثاني: الإلزام برمضان والصوم بنسخ الإفطار والتخيير وأن من أدركه رمضان وهو صحيح مقيم وجب عليه الصيام واستقرت الشريعة على هذا على الصوم لمن كان صحيحًا مقيمًا

والطور الثالث: أنه كان إذا نام بعد المغرب بعد غروب الشمس أو بعد صلاة العتمة حرم عليه الأكل والشرب، ثم نسخ هذا لما فيه من المشقة العظيمة وجعل الله الليل كله محل إفطار قال جل وعلا: ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ (البقرة:187) فصار الصيام في البياض في النهار والليل كله إفطار نام أو لم ينم، وهذا من توسعة الله ورحمته سبحانه وتعالى.

“Puasa disyariatkan pada tiga tingkatan.

  • 1.Diberi pilihan antara yang ingin puasa atau tidak, tetapi berpuasa tetap lebih afdal. Adapun yang tidak puasa, hendaknya memberi makan seorang miskin.
  • 2. Wajibnya puasa dan hukum ini menghapus syariat yang pertama, yaitu saat diberi pilihan. Barang siapa yang mendapati Ramadan dalam keadaan sehat dan mukim, wajib atasnya berpuasa. Seperti inilah syariat Islam menetapkan, yaitu wajib puasa bagi yang sehat dan mukim.
  • 3. Orang yang tertidur pada malam harinya setelah salat Magrib atau Isya (dan belum berbuka), haram atasnya makan dan minum. Kemudian syariat ini dihapus hukumnya karena sangat memberatkan dan Allah menjadikan seluruh malam untuk tidak puasa. Allah subhanahu wa taala berfirman,

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَام إلَى اللَّيْل

“Kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam” (Al-Baqarah: 187).

Dengan demikian, puasa itu dilakukan pada siang hari. Adapun pada malam harinya, tidak untuk berpuasa, baik seseorang tertidur atau tidak. Ini merupakan kelapangan dan rahmat dari Allah subhanahu wa taala (https://binbaz.org.sa/audios/230/29-%D9%85%D9%86-%D9%82%D9%). Oleh karena itu, puasa Ramadan hukumnya wajib. Allah subhanahu wa taala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan kepada kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (Al-Baqarah: 183).

Bahkan, puasa Ramadan termasuk salah satu dari rukun-rukun Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُنِىَ الْإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun atas lima perkara, yaitu syahadat tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan puasa Ramadan” (Al-Bukhari, no. 8 dan Muslim, no. 16).

Atas dasar ini, barang siapa yang meninggalkan puasa Ramadan dengan sengaja, sungguh dia telah melakukan dosa besar dalam Islam. Adapun jika dia mengingkari wajibnya puasa Ramadan, sungguh dia telah kafir menurut pendapat yang paling benar, sebagaimana yang difatwakan oleh asy-Syaikh Ibnu Baz (https://binbaz.org.sa/fatwas/12320/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%AA%D8%A7%D8%B).

HIKMAH WAJIBNYA PUASA RAMADAN

Hikmah disyariatkannya puasa adalah agar orang-orang yang beriman meraih tujuan yang sangat tinggi, yaitu ketakwaan. Allah subhaanahu wa taala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (Al-Baqarah: 183).

Takwa adalah tujuan yang sangat mulia. Betapa tidak, karena dengannya, kemuliaan seseorang diukur di sisi Allah. Allah subhanahu wa taala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa” (Al-Hujurat: 13).

Adapun makna takwa, para ulama berbeda pendapat secara lafaz, tetapi maknanya kurang lebih sama. Di antara makna yang paling komprehensif adalah yang disebutkan oleh salah seorang tabiin, Thalq bin Habib. Beliau rahimahullah mengatakan,

التقوى أن تعمل بطاعة الله على نور من الله ترجو ثواب الله وأن تترك معصية الله على نور من الله تخاف عقاب الله

“Takwa adalah beramal ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah dengan mengharap pahala-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut akan azab-Nya.”

SYARAT-SYARAT WAJIBNYA PUASA RAMADAN

Berikut syarat-syarat wajibnya puasa Ramadan yang diringkas dari al-Fiqhu al-Muyassar (153).

1.Islam

Tidak sah puasa orang yang kafir karena puasa adalah ibadah dan tidak sah apabila dilakukan oleh orang kafir. Namun, apabila orang kafir masuk Islam, dia tidak diperintahkan untuk mengqada puasa Ramadan yang terluputkan.

2.Balig

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَبْلُغَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يُفِيقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ

“Diangkat pena (maksudnya amalan mereka tidak akan dicatat–pen) dari tiga golongan 
manusia, yaitu anak kecil sampai ia dewasa, orang gila sampai ia sadar, dan orang yang tidur sampai ia bangun” (Abu Dawud dan selain beliau; disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam al-Irwa’, no. 2.207).

Namun, anak-anak yang belum balig sebaiknya tetap diperintahkan untuk ikut berpuasa. Hal ini sebagai bentuk tarbiah bagi dirinya sehingga dia menjadi terbiasa berpuasa ketika telah dewasa.

3. Berakal

Tidak wajib puasa bagi orang gila atau yang semisalnya berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَبْلُغَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يُفِيقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ

“Diangkat pena (maksudnya amalan mereka tidak akan dicatat–pen) dari tiga golongan 
manusia, yaitu anak kecil sampai ia dewasa, orang gila sampai ia sadar, dan orang yang tidur sampai 
ia bangun” (Abu Dawud dan selain beliau; disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam al-Irwa’, no. 2.207)

4.Sehat

Puasa tidak wajib bagi orang sakit yang tidak mampu. Namun, jika dia berpuasa, puasanya sah. Sementara itu, jika dia tidak berpuasa, dia bisa mengqadanya di luar bulan Ramadan berdasarkan firman Allah subhanahu wa taala,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Barang siapa yang sakit atau melakukan perjalanan jauh (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa) pada hari-hari lain” (Al-Baqarah: 184).

5. Mukim

Bagi orang yang melakukan perjalanan jauh, tidak wajib berpuasa. Namun, wajib baginya untuk mengqada puasa di luar bulan Ramadan. Adapun jika dia berpuasa, puasanya sah. Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa taala,

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَ3ى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Barang siapa yang sakit atau melakukan perjalanan jauh (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa) pada hari-hari lain” (Al-Baqarah: 184).

6.Tidak sedang Haid dan Nifas

Wajib bagi wanita yang sedang haid dan nifas untuk mengqada puasa di luar bulan Ramadan dan tidak boleh bagi mereka berpuasa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أليس إذا حاضت لم تصل ولم تصم ؟ فذلك من نقصان دينها

“Bukankah wanita itu ketika haid tidak puasa dan salat? Hal itu yang menunjukkan lemahnya agama mereka” (Al-Bukhari, no. 304).

Kemudian ucapan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

كان يصيبنا ذلك فنؤمر بقضاء الصوم ولا نؤمر بقضاء الصلاة

“Itulah yang menimpa kita kaum wanita. Kita hanya diperintahkan mengqada puasa dan tidak diperintahkan mengqada salat” (Muslim, no. 335).

Disebutkan oleh asy-Syaikh ‘Abdurrahman al-Sa‘di rahimahullah di dalam Minhaj al-Salikin (122) bahwa puasa Ramadan wajib bagi setiap muslim yang balig, berakal, mampu berpuasa, dan melihat hilal atau menyempurnakan bilangan Syakban tiga puluh (jika hilal tidak terlihat).

BAGAIMANA PENETAPAN AWAL DAN AKHIR BULAN RAMADAN?

Penetapannya adalah dengan melihat hilal berdasarkan firman Allah subhanahu wa taala,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Barang siapa yang menyaksikan (datangnya) bulan itu, berpuasalah” (Al-Baqarah: 185).

Kemudian sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إذا رأيتموه فصوموه

“Apabila kalian melihat hilal, hendaknya kalian berpuasa” (Al-Bukhari, no. 1900 dan Muslim, no. 1080).

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata,

يجب الصيام عند رؤية الهلال من عدل فلصيامه صلى الله عليه وسلم وأمره للناس بالصيام

“Wajib untuk berpuasa Ramadan dengan melihat hilal dari seorang yang adil. Hal itu karena puasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memang demikian dan perintah beliau kepada manusia untuk berpuasa” (Al-Darari al-Mudhiyyah Syarh al-Durar al-Bahiyyah, hlm. 374).

Jika hilalnya tidak terlihat yang mungkin karena hujan atau mendung, maka digenapkan bilangan Syakban menjadi tiga puluh. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين

“Berpuasalah kalian berdasarkan pada terlihatnya hilal dan beridulfitrilah kalian berdasarkan pada terlihatnya hilal. Jika (hilal) terhalangi atas kalian, sempurnakanlah (bulan Syakban menjadi) tiga puluh” (Al-Bukhari, no. 1.909 dan Muslim, no. 1081).

Jika terjadi perbedaan pendapat, bolehkah seseorang atau sekelompok orang menyendiri dari mayoritas masyarakat di negerinya dalam memulai puasa atau mengakhirinya walaupun dengan cara melihat hilal?

Jawabanya, pendapat yang kuat dalam hal ini adalah tidak boleh. Wajib bagi setiap muslim untuk berpuasa dan beridulfitri bersama pemerintahnya, mengawali serta mengakhiri Ramadan secara bersama-sama. Tidak boleh baginya untuk menyendiri dalam hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ

“Puasa itu pada saat kalian berpusa, Idulfitri itu saat kalian beridulfitri, dan Iduladha itu pada hari kalian menyembelih (sembelihan)”
(Al-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam al-Shahihah, no. 224).

Maknanya adalah bersama pemerintah di negeri kalian masing-masing. Asy-Syaikh al-‘Allamah Abdul‘aziz bin Baz rahimahullah berkata,

على المسلم أن يصوم مع الدولة التي هو فيها ويفطر معها؛ لقول النبي ﷺ: الصوم يوم تصومون، والفطر يوم تفطرون، والأضحى يوم تضحون. وبالله التوفيق

“Wajib bagi (setiap) muslim untuk berpuasa bersama pemerintah di negara dimana dia tinggal. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Puasa itu pada saat kalian berpuasa, Idulfitri itu saat kalian beridulfitri, dan Iduladha itu pada hari kalian menyembelih (sembelihan)’, wabillahit-taufiq” (https://binbaz.org.sa/fatwas/10918/%D8%B9%D9%84%D9%89-%D8%A7).

BAGAIMANA PENETAPAN AWAL DAN AKHIR RAMADAN BAGI YANG TINGGAL DI NEGERI KAFIR?

Hendaknya bagi mereka yang tinggal di negeri kafir untuk berpindah ke negeri Islam. Apabila mereka tetap berada di sana, cara penetapannya adalah diadakan majelis perkumpulan bagi mereka dan kesepakatan untuk melihat hilal. Hendaknya mereka bersungguh-sungguh mengetahui hal ini. Janganlah mereka berselisih dan hendaknya ada di antara mereka yang mempunyai perhatian dalam hal ini. Akan tetapi, apabila tidak didapati yang seperti ini, hendaknya melihat kepada negara Islam yang paling dekat dengan mereka, berpuasa sama dengan mereka, sebagaimana hal ini disampaikan oleh asy-Syaikh ‘Arafat bin Hasan al-Muhammadi hafizhahullah (https://bit.ly/2KaAQw9).

Oleh: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar غفر الرحمن له.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

TENTANG FIDIAH PADA BULAN RAMADAN

Islam mengajarkan kepada kita untuk bersikap ilmiah dalam segala hal; berilmu sebelum beramal.

Oleh karena itu, semestinya bagi setiap muslim untuk mengetahui hukum-hukum fidiah agar amalannya berdasarkan ilmu dan sesuai dengan bimbingan ulama.

Pada kesempatan kali ini, kami akan menyajikan beberapa faedah yang diambil dari al-Qur’an, sunah, dan penjelasan ulama. Kami juga mencantumkan sebagian faedah yang didapat dari beberapa syekh dalam bentuk tanya jawab via WhatsApp ataupun Telegram. Semoga apa yang kami sampaikan dapat memberikan manfaat untuk kaum muslimin.

Allah subhanahu wa taala berfirman,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya, membayar fidiah, (yaitu) memberi makan seorang miskin” (Al-Baqarah: 184).

Di antara orang yang pantas membayar fidiah adalah orang tua lemah yang tidak kuat lagi berpuasa, wanita hamil dan menyusui berdasarkan fatwa sahabat yang mulia ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

BAGAIMANA CARA PEMBAYARANNYA?

◽ Boleh dengan cara mengumpulkan fakir miskin sejumlah puasa yang ditinggalkan, lalu menyiapkan makanan siap santap yang dapat mengenyangkan mereka. Hal ini berdasarkan berita yang telah sahih dari sahabat yang mulia Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

أنه ضعف عن الصوم عاما فصنع جفنة ثريد ودعا ثلاثين مسكينا فأشبعهم

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu tatkala kondisinya lemah, tidak mampu berpuasa genap satu bulan, beliau membuat satu mangkuk besar tsarid (remah roti yang dicampur kuah) dan mengundang tiga puluh fakir miskin. Kemudian beliau menyuguhkan hidangannya kepada mereka sampai mengenyangkan mereka” (Al-Thabrani; disahihkan oleh al-Imam al-Albani dalam al-Irwa’, 4/21).

◽ Boleh juga dengan membuat nasi bungkus, kemudian diberikan kepada fakir miskin sejumlah puasa yang ditinggalkan. Cara seperti ini juga telah memenuhi tujuan fidiah, yaitu memberi makan fakir miskin.

◽ Adapun jika dengan barang mentah–seperti beras–banyak perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang takarannya. Fatwa Ibnu ‘Abbas setengah sha‘ dan diperkirakan 1,5 kg menurut al-Imam Ibnu Baz rahimahullah, sementara Syekh Zakaria hafizhahullah menyebutkan setengah kilo tatkala ditanya tentang hal ini (https://bit.ly/3dTgcOD). Namun, untuk kehati-hatian adalah dengan mengikuti hitungan dari al-‘Allamah Ibnu Baz rahimahullah.

◽ Adapun jika dibayarkan dengan bentuk makanan siap saji, maka lebih sederhana dan praktis serta memudahkan karena tidak ada ukuran tertentu dalam hal ini. Yang jadi tolok ukur adalah makanan yang mengenyangkan si miskin tersebut, sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Perkara yang perlu diperhatikan pula adalah tidak boleh memberi fidiah dengan bentuk uang, tetapi harus dalam bentuk makanan karena itulah yang disebutkan di dalam al-Qur’an.

Allah subhanahu wa taala berfirman,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya, membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin” (Al-Baqarah: 184).

KAPAN WAKTUNYA?

Yang afdal adalah setelah selesai Ramadan. Boleh juga dengan hitungan per hari dari bulan Ramadan yang telah dilaluinya dengan menyicil memberi nasi bungkus. Namun, jika seseorang merasa tidak mampu karena melihat kondisi fisiknya yang sangat lemah, maka boleh dibayarkan pada awal bulan, sebagaimana jawaban Syekh Abu Muhammad Shalah Kantusy hafizhahullah (https://bit.ly/2xLNJcW).

BOLEHKAH DIBERIKAN KEPADA SATU ORANG MISKIN SAJA?

Tatkala seseorang ingin membayarkan fidiahnya dengan bentuk barang mentah atau nasi bungkus per hari kepada fakir miskin, tetapi dia sulit mencari orang yang pas kriterianya kecuali satu orang saja di kampungnya, bolehkah dia memberikan semua fidiahnya kepada satu orang miskin tadi?

Jawabannya adalah boleh, tetapi bilangannya harus sesuai dengan puasa yang ditinggalkannya, sebagaimana jawaban dari Syekh Zakaria hafidzahullah (https://bit.ly/2R80NjH).

BAGAIMANA DENGAN ORANG TUA YANG PIKUN?

Bagi orang tua yang sudah pikun, tidak ada kewajiban apa pun padanya karena pena telah terangkat darinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَبْلُغَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يُفِيقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ

“Diangkat pena (maksudnya amalan mereka tidak akan dicatat–pen) dari tiga golongan manusia, yaitu anak kecil sampai ia dewasa, orang gila sampai ia sadar, dan orang yang tidur sampai ia bangun” (Abu Dawud dan selain beliau; disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam al-Irwa’, no. 2.207)

Pernah hal ini ditanyakan kepada Syekh Zakaria hafizhahullah, beliau menjawab tidak ada kewajiban apapun atasnya (https://bit.ly/3dT62NW).

BAGAIMANA DENGAN ORANG YANG PENDAPATNYA BERUBAH?

Seorang muslim diperintahkan untuk mengikuti dalil yang tampak rajih (kuat) olehnya dalam permasalahan fikih. Sebagai contoh dalam hal ini adalah tatkala seorang wanita pada awalnya berpendapat bagi wanita hamil dan menyusui itu harus mengqada. Kemudian setelah dia membaca penjelasan dari beberapa ulama, yang tampak rajih (kuat) baginya adalah membayar fidiah. Apakah dia membayarkan fidiah dari awal dia berpendapat qada? Demikian pula sebaliknya, tatkala ia pada awal berpendapat fidiah kemudian berpindah pada qada apakah dia mengqada semua puasa ketika dia berpendapat fidiah?

Jawabannya adalah cukup dia mengamalkan yang dia telah berubah pendapat saja. Tidak perlu membayar pendapat lamanya, sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh Syekh Zakaria hafizhahullah (https://bit.ly/2R48ur5).

Alih Bahasa:
Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar غفر الرحمن له

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

TENTANG BULAN SYAKBAN

Syakban adalah bulan yang di dalamnya terdapat kebaikan yang sangat besar. Tidak semestinya bagi setiap muslim untuk melewatkan momen yang sangat berharga ini dalam kehidupannya.

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

يا رسول الله ولم أرك تصوم من شهر من الشهور ما تصوم من شعبان؟ قال  صلى الله عليه وسلم: ذاك شهرٌ يغفلُ الناسُ عنه، بين رجبَ ورمضانَ، وهو شهرٌ تُرفَعُ فيه الأعمالُ إلى ربِّ العالمين، فأُحِبُّ أن يُرفَعَ عملي وأنا صائمٌ.

“Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau melakukan puasa seperti pada bulan Syakban.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Itu adalah bulan tatkala manusia lalai darinya, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadan. Pada bulan tersebut amalan seseorang diangkat menuju Rabb al-‘Alamin. Oleh karena itu, aku senang bila amalanku diangkat sementara aku sedang berpuasa” (al-Nasa’i; dihasankan oleh Syekh al-Albani dalam al-Irwa’, 4/103).

Pada bulan ini, setiap muslim dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh, terutama puasa dan membaca al-Qur’an.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa sehingga kami mengatakan beliau tidak berbuka dan beliau tidak berpuasa sehingga kami mengatakan beliau tidak berpuasa. Aku sama sekali tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa secara sempurna dalam sebulan kecuali pada bulan Ramadan dan aku juga tidak pernah melihat beliau paling banyak berpuasa (dalam sebulan) dari berpuasa pada bulan Syakban” (Al-Bukhari, no. 1.969 dan Muslim 1.156).

APAKAH DISUNAHKAN PUASA SYAKBAN SEBULAN PENUH?

Telah disebutkan dalam banyak hadis bahwa Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berpuasa pada bulan Syakban, dan terdapat juga di dalam Shahih Muslim, no. 1.156 dari Abu Salamah yang berkata,

سألت عائشة عن صيام رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت كان يصوم حتى نقول قد صام ويفطر حتى نقول قد أفطر ولم أره صائما من شهر قط أكثر من صيامه من شعبان كان يصوم شعبان كله كان يصوم شعبان إلا قليلا.

“Aku bertanya kepada ‘Aisyah tentang puasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menjawab, dahulu Rasulullah berpuasa sehingga kami mengatakan beliau telah berpuasa dan beliau tidak berpuasa sehingga kami mengatakan beliau tidak berpuasa. Aku pun belum pernah melihat beliau banyak berpuasa dalam satu bulan kecuali pada bulan Syakban. Beliau berpuasa sebulan penuh dan berpuasa pada kebanyakan harinya.”

Bagaimana menggabungkan dua hal yang seakan-akan bertentangan dalam hadis ini? Jawabannya adalah tidak ada yang bertentangan dan masih mungkin untuk digabungkan. Semuanya disunahkan. Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Namun, yang lebih mendekati kebenaran, wallahu a’lam, apa yang disampaikan oleh Syekh Ibnu Baz rahimahullah yang berkata,

من صام أكثر الشهر أو الشهر كله فقد أصاب السنة.

“Barang siapa yang berpuasa di kebanyakan hari pada bulan tersebut atau puasa sebulan penuh, sungguh amalannya sesuai dengan sunah.”

Sumber: https://bit.ly/2ymtcMr

HIKMAH DIANJURKAN MEMPERBANYAK PUASA DI BULAN SYAKBAN

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin _rahimahullah_ berkata,

ينبغي للإنسان أن يكثر من الصيام في شهر شعبان أكثر مت غيره لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يصومه قال أهل العلم: والحكمة من ذلك أنه يكون بين يدي رمضان كالرواتب بين يدي الفريضة.

“Semestinya bagi seseorang untuk lebih banyak berpuasa pada bulan Syakban daripada selainnya karena Nabi _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ melakukannya. Para ulama mengatakan, hikmahnya adalah bahwa di hadapan bulan Syakban ada bulan Ramadan, sebagaimana salat rawatib yang dilakukan sebelum salat fardu.”

Sumber: Syarh Riyadh al-Shalihin, Jilid 3, hlm. 393.

APA HUKUMNYA PUASA DI PERTENGAHAN BULAN SYAKBAN?

Dalam hal ini terdapat hadis dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh al-Imam Abu Daud, al-Tirmidzi, dan yang lainnya,

إذا انتصف شعبان فلا تصوموه حتى رمضان.

“Apabila Syakban sudah di pertengahan, jangan kalian berpuasa sampai Ramadan tiba!”

Terjadi perbedaan pendapat di antara ulama tentang kesahihan hadis ini. Di antara mereka ada yang menyatakannya sahih, seperti al-Imam al-Albani dan yang bersama dengan beliau. Namun, kebanyakan ulama menyatakannya lemah, seperti al-Imam Ahmad, Ibnu Ma‘in dan yang lainnya rahimahumullah.

Yang lebih mendekati kebenaran tentang hal ini, wallahu a’lam, adalah apa yang telah disampaikan oleh al-‘Allamah Ibnu Baz rahimahullah,

أما الحديث الذي فيه النهي عن الصوم بعد انتصاف شعبان فهو صحيح كما قال الأخ العلامة الشيخ ناصر الدين الألباني، والمراد به النهي عن ابتداء الصوم بعد النصف.

“Adapun hadis yang melarang puasa setelah pertengahan bulan Syakban adalah hadis yang sahih, sebagaimana dikatakan oleh al-‘Allamah al-Syaikh Nashiruddin al-Albani. Akan tetapi, yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah larangan memulai puasa setelah pertengahan bulan Syakban.”

Sumber: https://bit.ly/2JDzB8g

Adapun al-‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata tentang hadis tersebut,

وحتى لو صح الحديث فالنهي فيه ليس للتحريم وإنما هو للكراهة، كما أخذ بذلك بعض أهل العلم رحمهم الله إلا من له عادة بصوم فإنه يصوم ولو بعد نصف شعبان.

“Bahkan jika hadis tersebut sahih, maka larangan tersebut tidak bermakna haram, hanya saja bermakna makruh sebagaimana pendapat sebagian ulama rahimahumullah. Dikecualikan orang yang memiliki kebiasaan puasa sebelumnya, silakan dia berpuasa sekalipun setelah pertengahan Syakban.”

Sumber:
Syarh Riyadh al-Shalihin, Jilid 3, hlm. 386.

APA BENAR ALLAH MENJANJIKAN AMPUNAN PADA MALAM NISFU SYA’BAN?

Dalam hal ini terdapat hadis yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lafaz,

يطَّلِعُ اللهُ إلى جميعِ خلقِه ليلةَ النِّصفِ من شعبانَ ، فيَغفِرُ لجميع خلْقِه إلا لمشركٍ ، أو مُشاحِنٍ.

“Allah melihat kepada para hamba-Nya pada malam pertengahan Syakban, kemudian Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

Al-Imam al-Muhaddits al-Albani rahimahullah mengatakan,

حديث صحيح روي عن جماعة من الصحابة من طرق مختلفة يشد بعضها بعضا وهم معاذ بن جبل، وأبو ثعلبة الخشني وعبد الله بن عمرو وأبو موسى الأشعري وأبو هريرة وأبو بكر الصديق وعوف بن مالك وعائشة.

“Ini adalah hadis yang sahih yang diriwayatkan dari sekumpulan sahabat melalui banyak jalan yang saling menguatkan satu sama lain, yaitu Mu‘adz bin Jabal, Abu Tsa’labah al-Khusyani, ‘Abdullah bin ‘Amr, Abu Musa al-Asy‘ari, Abu Hurairah, Abu Bakr al-Shiddiq, ‘Auf bin Malik, dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum.”

Sumber: Al-Shahihah, no. 1.144.

Oleh karena itu, perhatikan hadis yang agung ini wahai saudaraku. Segera selesaikan urusan pribadi dengan saudaramu. Alangkah meruginya orang-orang yang berselisih dalam urusan duniawinya dan lebih mengedepankan egonya pada bulan ini. Mereka tidak mendapatkan janji dari Allah berupa ampunan-Nya yang pada hakikatnya itu adalah harapan setiap mukmin.

APAKAH ADA IBADAH KHUSUS PADA MALAM NISFU SYA’BAN?

Asy-Syaikh al-‘Allamah Ibnu Baz rahimahullah berkata,

تخصيص يوم النصف من شعبان بالعبادة أو الصيام أو ليلة النصف لا أصل له، بل هو بدعة، الصحيح من أقوال العلماء أنه بدعة والأحاديث التي فيه ضعيفة، ليلة النصف من شعبان كلها ضعيفة وبعضها موضوع لا صحة لها.

“Mengkhususkan pertengahan Syakban untuk ibadah dan puasa, baik siang maupun malamnya, tidak ada asalnya di dalam syariat Islam, bahkan hal itu adalah bidah. Pendapat yang benar adalah bidah. Hadis-hadis tentang hal itu (dengan penelitian telah dinyatakan) semuanya lemah dan sebagiannya palsu.”

Sumber: https://bit.ly/346X7UI

Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengkhususkan ibadah pada hari itu karena tidak ada contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang semestinya dilakukan adalah memperbanyak amal saleh secara umum pada bulan Syakban ini, terutama puasa dan membaca al-Qur’an.

BOLEHKAH PUASA PADA HARI SYAK?

Hari syak adalah hari yang seseorang ragu apakah sudah masuk bulan Ramadan atau belum. Oleh karena itu, dalam rangka berhati-hati dia berpuasa. Hari keberapakah itu?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ, إِلاَّ أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذلِكَ الْيَوْمَ‏.

“Jangan sekali-kali seseorang di antara kalian mendahului Ramadan dengan puasa sehari atau dua hari. Kecuali seseorang yang memang memiliki kebiasaan puasa sunah (kemudian bertepatan dengan hari itu), boleh baginya untuk berpuasa.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

لا يجوز أن يصوم يوم الشك وهو يوم الثلاثين إذا كان في اليلة غيم أو قطر يمنع من رؤية الهلال مطلقا. إلا من له عادة مثل أن يكون من عادته أن يصوم يوم الاثنين فصادف يوم الاثنين قبل رمضان بيوم أو يومين فلا بأس أو يكون من عادته أن يصوم أيام البيض ولم يتمكن أن يصوم اليوم الثالث عشر والرابع عشر والخامس عشر ولم يتيسر إلا أن يصوم قبل رمضان بيوم أو يومين فلا بأس.

“Tidak boleh puasa pada hari syak, yaitu hari ke-30 tatkala pada malam itu mendung atau hujan sehingga tercegah dari dapat melihat hilal secara mutlak, kecuali orang yang sebelumnya sudah punya kebiasaan berpuasa sunah. Sebagai contoh, kebiasaan sebelumnya dia puasa Senin, kemudian hari Senin itu bertepatan satu atau dua hari sebelum Ramadan, maka tidak mengapa atau kebiasaannya puasa tiga hari setiap bulan dan dia tidak sempat melakukannya pada tanggal 13, 14, dan 15. Tidaklah dia dimudahkan untuk melakukannya melainkan satu atau dua hari sebelum Ramadan, tidak mengapa.”

Sumber: Syarh Riyadh al-Shalihin, Jilid 3, hlm. 385.

Wallahu a’lam.

Oleh: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar غفر الرحمن له.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com