ANANDA PERLU DILATIH PUASA RAMADAN

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

والصغير لا يلزمه الصوم حتى يبلغ، ولكن يؤمر به متى أطاقه ليتمرن عليه ويعتاده، فيسهل عليه بعد البلوغ، وقد كان الصحابة رضي الله عنهم وهم خير هذه الأمة يصومون أولادهم
وهم صغار.

“Anak kecil, tidaklah diwajibkan berpuasa sampai dia balig. Namun, jika dia mampu, diperintahkan berpuasa agar dia latihan dan terbiasa dengan puasa, maka dengan sebab itu akan memudahkannya setelah dia balig nantinya. Para sahabat radhiyallahu ‘anhum, mereka adalah orang-orang terbaik umat ini, mereka membiasakan anak-anak mereka berpuasa ketika masih kecil.”

Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 19, hlm. 28-29.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

SEMESTINYA LEBIH DERMAWAN PADA BULAN RAMADAN

Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz berkata,

وقد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس، وكان أجود ما يكون في رمضان، فتأسوا بنبيكم صلى الله عليه وسلم، واقتدوا به في مضاعفة الجود والإحسان في شهر رمضان، وأعينوا إخوانكم الفقراء على الصيام والقيام واحتسبوا أجر ذلك عند الملك العلام، واحفظوا صيامكم عما حرم الله عليكم من الأوزار والآثام

“Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam manusia yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadan. Maka ambilah teladan dari Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam! Contohlah beliau dalam sifat dermawan yang lebih dan berbuat baik pada bulan Ramadan! Bantulah saudara-saudara kalian yang fakir untuk berpuasa dan salat tarawih! Dan berharaplah pahala dari itu semua di sisi Allah! Jagalah puasa kalian dari perkara yang Allah haramkan dari dosa-dosa!”

Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 15, hlm. 45-46.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

TENTANG KUNUT WITIR

Pertanyaan:

Apa hukumnya kalau kita jadi makmum pada salat witir yang imamnya kunut, bagaimana kita menyikapinya?

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar hafizhahullah.

Berkaitan tentang kunut witir, maka terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Pendapat yang kuat wallahua’lam kunut witir disyariatkan, dianjurkan untuk dilakukan berdasarkan riwayat yang datang dari al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,

علمني رسول الله صلى الله عليه وسلم كلمات أقولهن في قنوت الوتر: اللهم أهدني فيمن هديت، وعافني فيمن عافيت، وتولني فيمن توليت، وبارك لي فيما أعطيت، وقني شر ما قضيت، فإنك تقضي ولا يقضى عليك، وإنه لا يذل من واليت، تباركت ربنا وتعاليت

“Rasulullah mengajarkan kepadaku doa yang aku ucapkan pada saat kunut witir,

Ya Allah berilah aku hidayah bersama orang-orang yang engkau beri hidayah, berilah aku keselamatan bersama orang-orang yang engkau beri keselamatan, berikanlah perhatianmu kepadaku bersama orang-orang yang engkau berikan perhatikan, berkahilah aku pada apa saja yang Engkau berikan, jagalah aku dari kejelekan apa saja yang engkau tentukan. Sesungguhnya engkaulah yang menghukumi dan tidak ada seorang pun yang menghukumimu, sesungguhnya tidak akan hina orang yang menjadi walimu, maha berkah engkau wahai Rabb kami lagi maha tinggi.” (HR. al-Baihaqi, Ahmad dan yang lainnya disahihkan oleh syekh al-Albani di dalam Irwā’ al-Ghalīl, no. 429).

Kunut witir yang afdal adalah dilakukan sebelum rukuk, berdasarkan hadis dari sahabat Ubai bin Ka’ab yang menyebutkan bahwa Rasulullah salat witir 3 rakaat, di rakaat pertama beliau membaca sabbihisma rabbikal a’la di rakaat ke dua beliau membaca qul yaa ayyuhalkaafiruun dan dirakaat ketiga beliau membaca qulhuwallahu ahad lalu beliau menyebutkan,

ويقنت قبل الركوع

“Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan kunut sebelum rukuk.” ( Shahih an-Nasāī, 1.698).

Dan boleh juga dilakukan setelah rukuk yakni setelah zikir dari iktidal berdasarkan riwayat dari ‘Urwah ibnu az-Zubair, pada masa Umar, ketika beliau memerintahkan Ubay ibnu Ka’ab mengimami salat, maka saat itu beliau kunut witir setelah itu disebutkan,

ثمَّ يُكَبِّرُ ويَهْوي ساجدً

“Kemudian dia bertakbir dan turun sujud.” (Ibnu Khuzaimah dan disahihkan oleh syekh al-Albani di dalam Shahih Ibnu Khuzaimah, no. 1100).

Ini menunjukkan ketika itu mereka kunut sesudah rukuk.

Kunut witir ini hukumnya sunah boleh dilakukan terus menerus dan boleh juga dilakukan kadang-kadang. Syekh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang sebagian imam yang selalu melakukan kunut witir di setiap malam, lalu beliau menjawab,

: لا حرج في ذلك، بل هو سنة؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم لما علم الحسن بن علي رضي الله عنهما القنوت في الوتر لم يأمر بتركه بعض الأحيان ولا بالمداومة عليه، فدل ذلك على جواز الأمرين، ولهذا ثبت عن أبي بن كعب رضي الله عنه حين كان يصلي بالصحابة رضي الله عنهم في مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه كان يترك القنوت بعض الليالي ولعل ذلك ليعلم الناس أنه ليس بواجب

“Hal itu tidak mengapa. Bahkan kunut witir, hukumnya sunah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajari al-Hasan ibnu ‘Ali radhiyallahu ‘anhu kunut ketika salat witir, beliau tidak memerintahkannya untuk dilakukan kadang-kadang dan tidak memerintahkannya untuk dilakukan terus menerus. Ini menunjukkan bahwa kedua-duanya boleh dilakukan. Oleh karena ini, telah jelas berita dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu ketika mengimami para sahabat radhiyallahu ‘anhum di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau meninggalkan kunut witir pada sebagian keadaan, bisa jadi hal itu beliau lakukan untuk menjelaskan kepada manusia bahwa kunut witir ini hukumnya tidak wajib.” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 30, hlm. 33).

Wallahua’lam

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

SALAT TARAWIH PUN HARUS TETAP THUMA’NINAH

Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz berkata,

وكثير من الناس يصلي في قيام رمضان صلاة لا يعقلها ولا يطمئن فيها، بل ينقرها نقرا، وذلك لا يجوز، بل هو منكر لا تصح معه الصلاة؛ لأن الطمأنينة ركن في الصلاة، لا بد منه

“Kebanyakan dari manusia ketika melakukan salat tarawih, dia tidak memahaminya dan tidak thuma’ninah. Bahkan, dia mematuk-matuk pada salatnya (saking cepatnya gerakannya). Yang demikian itu tidak boleh, bahkan ini merupakan perbuatan mungkar, tidak sah salatnya karena thuma’ninah merupakan rukun salat yang harus dilakukan.”

Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 15, hlm. 30

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar غفر الرحمن له.

#nasihat

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

PENTINGNYA MENJAGA SALAT PADA BULAN APA PUN

Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz berkata,

ومن أهم الأمور التي يجب على المسلم العناية بها والمحافظة عليها في رمضان وفي غيره الصلوات الخمس في أوقاتها؛ فإنها عمود الإسلام وأعظم الفرائض بعد الشهادتين، وقد عظم الله شأنها وأكثر من ذكرها في كتابه العظيم

“Di antara perkara yang paling penting yang wajib diperhatikan dan dijaga oleh seorang muslim baik pada bulan Ramadan atau pada selain bulan Ramadan adalah salat lima waktu pada waktunya. Karena sesungguhnya salat itu adalah tiang Islam dan kewajiban yang paling besar setelah dua kalimat syahadat. Sungguh Allah telah mengagungkannya dan memperbanyak penyebutannya di dalam kitab-Nya yang mulia.”

Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 15, hlm. 32.

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar.

#nasihat

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

JANGAN SALAH NIAT KETIKA BERPUASA

بسم الله الرحمن الرحيم

Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz berkata,

الواجب على المسلم أن يصوم إيمانا واحتسابا لا رياء ولا سمعة ولا تقليدا للناس، أو متابعة لأهله أو أهل بلده، بل الواجب عليه أن يكون الحامل له على الصوم هو إيمانه بأن الله قد فرض عليه ذلك، واحتسابه الأجر عند ربه في ذلك.

“Yang wajib bagi setiap muslim berpuasa karena keimanan dan mengharap pahala. Bukan karena ingin dilihat dan didengar, bukan pula karena mengikuti manusia, keluarga, atau penduduk negerinya. Bahkan, wajib baginya menghadirkan di hatinya bahwa yang mendorong dia untuk berpuasa adalah keimanannya bahwa Allah mewajibkan atasnya hal itu dan dia mengharapkan pahala di sisi Rabbnya dalam hal itu.”

Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 15, hlm. 16.

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar غفر الرحمن له.

#nasihat

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Web: https://alfudhail.com

TUJUAN DARI BERPUASA

بسم الله الرحمن الرحيم

TUJUAN DARI BERPUASA

Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz berkata,

المقصود بالصيام هو طاعة الله سبحانه، وتعظيم حرماته، وجهاد النفس على مخالفة هواها في طاعة مولاها، وتعويدها الصبر عما حرم الله، وليس المقصود مجرد ترك الطعام والشرب وسائر المفطرات،

“Yang dimaksud dengan puasa adalah melakukan ketaatan kepada Allah Subhanahu, mengagungkan aturan-aturan Allah, memerangi jiwa untuk menyelisihi hawa nafsunya dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan membiasakan jiwa untuk bersabar dari meninggalkan segala yang diharamkan oleh Allah. Dan bukanlah maksud dari berpuasa sekadar meninggalkan makan, minum, dan segala yang membatalkan.”

Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 15, hlm. 15.

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar غفر الرحمن له.

#nasihat

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

ALANGKAH NIKMATNYA BERJUMPA DENGAN RAMADAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

إخواني: بلوغ رمضان نعمة كبيرة على من بلغه وقام بحقه بالرجوع إلى ربه من معصيته إلى طاعته، ومن الغفلة عنه إلى ذكره، ومن البعد عنه إلى الإنابة إليه

“Wahai saudara-saudaraku! Berjumpa dengan bulan Ramadan merupakan nikmat yang besar bagi orang yang menjumpainya, menunaikan haknya dengan kembali kepada Rabbnya dari kemaksiatan menuju ketaatan kepada-Nya, dari kelalaian menuju ingat kepada-Nya dan dari kejauhan menuju kedekatan untuk segera kembali kepada-Nya.”

Sumber: Majālis Syahri Ramadhān, 1/12.

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar غفر الرحمن له.

#nasihat

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

DI ANTARA HIKMAH PUASA (Bag ke-7)

بسم الله الرحمن الرحيم

DI ANTARA HIKMAH PUASA
(Bag ke-7)

Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz berkata,

ومنها أيضا: أنه يحمل المرء على التقوى والعبادة، ولهذا نرى الناس في رمضان يكثرون من العبادة أكثر منها في غير رمضان

“Di antara faedah puasa adalah membawa seseorang untuk bertakwa dan beribadah. Oleh karena ini, kita melihat manusia pada bulan Ramadan lebih banyak melakukan ibadah daripada selain bulan Ramadan.”

Sumber: Fath Dzī al-Jalāli wal Ikrām, jilid 3, hlm. 207.

Alih bahasa:
Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

NASIHAT BAGI PEKERJA BERAT PADA BULAN RAMADAN

بسم الله الرحمن الرحيم

NASIHAT BAGI PEKERJA BERAT PADA BULAN RAMADAN

Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz berkata,

فاتق الله ما استطعت، اعمل عملا قليلا وأنت محتاج إليه، ليس فيه ما يمنعك من الصوم، وإلا فادخر من أعمالك التي قبل رمضان ما يعينك على الفراغ بالصيام مع المسلمين

“Bertakwalah engkau kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu! Lakukanlah pekerjaan yang ringan yang engkau membutuhkannya dan pekerjaan tersebut tidak menghalangimu dari berpuasa. Dan jika tidak bisa, maka menabunglah dari pekerjaan-pekerjaanmu yang engkau lakukan sebelum Ramadan sehingga dapat membantumu untuk lapang berpuasa bersama kaum muslimin.”

Sumber: Fatāwā Nūrun ‘Alā ad-Darb, jilid 16, hlm. 168.

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram:
https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com