HAK SIAPAKAH IKAMAH ITU?

بسم الله الرحمن الرحيم

HAK SIAPAKAH IKAMAH ITU?

Saudaraku sekalian yang semoga dirahmati oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala pada kesempatan ini kita akan membahas tentang menegakkan ikamah. Mudah-mudahan dapat bermanfaat teruntuk kaum muslimin secara umum.

Disebutkan di dalam Sunan at-Tirmidzi,

بَابُ مَا جَاءَ أَنَّ الإِمَامَ أَحَقُّ بِالإِقَامَةِ

“Bab tentang imam lebih berhak terhadap ikamah.”

Kemudian al-Imam at-Tirmidzi menyebutkan hadis Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu,

كَانَ مُؤَذِّنُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُمْهِلُ فَلاَ يُقِيمُ، حَتَّى إِذَا رَأَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ خَرَجَ أَقَامَ الصَّلاَةَ حِينَ يَرَاهُ.

“Dahulu muazin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunda, tidaklah menegakkan ikamah sampai apabila melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam sungguh benar telah keluar, dia menegakkan ikamah ketika melihat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
( Sunan at-Tirmidzi, no. 202  dan dihasankan oleh at-Tirmidzi).

Dan al-Imam at-Tirmidzi pun menukil dari sebagian ulama. Beliau berkata,

وَهَكَذَا قَالَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ: إِنَّ الْمُؤَذِّنَ أَمْلَكُ بِالأَذَانِ، وَالإِمَامُ أَمْلَكُ بِالإِقَامَةِ.

“Demikianlah sebagian ulama berkata,
‘Sesungguhnya muazin lebih berhak terhadap azan sedangkan imam lebih berhak terhadap ikamah.'”
( Sunan at-Tirmidzi, no. 202  dan dihasankan oleh at-Tirmidzi).

Di dalam Shahih Muslim dari sahabat Jabir bin Samurah pula disebutkan,

كانَ بلَالٌ يُؤَذِّنُ إذَا دَحَضَتْ، فلا 

يُقِيمُ حتَّى يَخْرُجَ النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ ،فَإِذَا خَرَجَ أَقَامَ الصَّلَاةَ 

حِينَ يَرَاهُ

“Dahulu Bilal melakukan azan tatkala matahari tergelincir. Tidaklah beliau menegakkan ikamah sampai apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah keluar. Apabila beliau telah keluar, Bilal pun menegakkan ikamah tatkala melihat beliau shallallahu ‘alaihi wa salllam.”( Shahih Muslim, no. 606).

Sedangkan di dalam riwayat yang lain dari sahabat Abu Qatadah al-Harits bin Rib’ī   
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فلا تَقُومُوا حتَّى تَرَوْنِي

“Apabila ikamah telah ditegakkan, maka janganlah kalian berdiri sampai kalian melihat aku.”
( al-Bukhari, no. 637, 638  dan Muslim, no. 604).

Hadis pertama, yakni dari sahabat Jabir bin Samurah memberikan faedah bahwa tidaklah ditegakkan ikamah kecuali setelah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan hadis kedua yakni dari sahabat Abu Qatadah memberikan faedah bahwa tidaklah ditegakkan ikamah kecuali sebelum melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana menggabungkan dua hadis tersebut? Pembaca sekalian yang semoga dirahmati oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala marilah kita simak penjelasan dari ulama kita tentang hal ini. Al-Imam al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan,

وَيُجْمَعُ بَيْنَهُمَا بِأَنَّ بِلَالًا كَانَ يُرَاقِبُ وَقْتَ خُرُوجِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَوَّلَ مَا يَرَاهُ يَشْرَعُ فِي الْإِقَامَةِ قَبْلَ أَنْ يَرَاهُ غَالِبُ النَّاسِ ثُمَّ إِذَا رَأَوْهُ قَامُوا

“Kedua hadis tersebut digabungkan pemahamannya, yaitu bahwa Bilal dahulu menanti waktu keluarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Awal mula beliau melihat Rasulullah, beliau langsung memulai ikamah sebelum keumuman manusia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian tatkala mereka melihat beliau, mereka pun langsung berdiri.”    (  Tuhfah al-Ahwadzī, jilid 1, hlm. 513 )

Saudaraku yang semoga dirahmati oleh Allah, seperti inilah keadaan pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; tidaklah muazin menegakkan ikamah melainkan tatkala melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau adalah sebagai imam salat, maka atas dasar ini, imam lebih berhak terhadap ikamah dan semestinya bagi setiap masjid kaum muslimin memiliki imam tetap dalam menunaikan salat 5 waktu. Saudaraku sekalian yang semoga selalu dibimbing oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala ada beberapa permasalahan yang perlu kita bahas, mungkin hal ini terjadi pada zaman kita.

  1. JIKA IMAM BELUM TIBA DAN MUAZIN INGIN MENEGAKKAN IKAMAH, APAKAH HARUS IZIN KEPADA IMAM?

Saudaraku yang semoga selalu dirahmati oleh Allah ‘Azza wa Jalla jika kita lihat kepada hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, kita akan dapati, tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlambat, beberapa sahabat mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta izin agar segera menegakkan salat. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أَعْتَمَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ في العِشَاءِ حتَّى نَادَاهُ عُمَرُ: قدْ نَامَ النِّسَاءُ والصِّبْيَانُ، فَخَرَجَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَقَالَ: إنَّه ليسَ أحَدٌ مِن أهْلِ الأرْضِ يُصَلِّي هذِه الصَّلَاةَغَيْرُكُمْ، ولَمْ يَكُنْ أحَدٌ يَومَئذٍ يُصَلِّي غيرَ أهْلِ المَدِينَةِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan salat isya sampai Umar memanggil beliau (meminta izin untuk menegakkan salat) karena para wanita dan anak-anak yang hadir di masjid sudah tertidur, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun keluar dari rumahnya dan berkata,

‘Sesungguhnya tidak ada seorang pun dari penduduk bumi yang salat seperti ini melainkan kalian.’

Dan tidak ada seorang pun ketika itu yang salat selain penduduk Madinah.” ( al-Bukhari, no. 862).

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,

كانَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذاسَكَتَ المُؤَذِّنُ بالأُولَى 

مِن صَلاةِ الفَجْرِقامَ، فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ صَلاةِالفَجْرِ، بَعْدَ أنْ يَسْتَبِينَ الفَجْرُ، ثُمَّ اضْطَجَعَ علَى شِقِّهِ الأيْمَنِ، حتَّى يَأْتِيَهُ المُؤَذِّنُ لِلْإِقامَةِ

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila muazin telah selesai azan salat subuh, beliau pun berdiri melakukan salat dua rakaat ringan sebelum subuh. Kemudian beliau berbaring pada lambung sebelah kanannya sampai muazin mendatangi beliau meminta izin untuk menegakkan ikamah.” ( al-Bukhari, no. 626).

Bahkan, tatkala beliau sedang sakit parah pun para sahabat tetap meminta izin beliau selaku imam salat agar menegakkan ikamah untuk menunaikan salat. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha

لَمَّا مَرِضَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ

مَرَضَهُ الذي مَاتَ فيه أَتَاهُ 

بلَالٌ يُوذِنُهُ بالصَّلَاةِ، فَقالَ: مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ

“Ketika Rasulullah sakit yang mengantarkannya sampai meninggal, Bilal mendatangi beliau memberitahukan beliau tentang salat, maka beliau pun bersabda,

‘Perintahkanlah Abu Bakr untuk menjadi imam.'”( al-Bukhari, no. 712).

Atas dasar ini, para ulama menyebutkan bahwa ikamah itu tidaklah ditegakkan oleh muazin melainkan setelah mendapat izin dari imam. Al-Imam Ibnu Qudamah al-Hambali berkata,

وَلَا يُقِيمُ حَتَّى يَأْذَنَ لَهُ الْإِمَامُ، فَإِنَّ بِلَالًا كَانَ يَسْتَأْذِنُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Tidaklah muazin menegakkan ikamah sampai mendapat izin dari imam karena sesungguhnya Bilal dahulu meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Mughnī, jilid 1, hlm. 302.)  

Al-Imam an-Nawawi berkata,

قَالَ أَصْحَابُنَاوَقْتُ الْأَذَانِ مَنُوطٌ بِنَظَرِ الْمُؤَذِّنِ لَا يَحْتَاجُ فِيهِ إلَى مُرَاجَعَةِ الْإِمَامِ وَوَقْتُ الْإِقَامَةِ مَنُوطٌ بِالْإِمَامِ فَلَا يُقِيمُ الْمُؤَذِّنُ إلَّا بِإِشَارَتِهِ

“Mazhab kami (mazhab Syafi’i) berkata, ‘Waktu azan, diserahkan kepada pandangan muazin. Tidak perlu dia bertanya kepada imam. Sedangkan waktu ikamah, diserahkan kepada imam. Tidak boleh muazin menegakkan ikamah kecuali dengan isyaratnya.”  ( al-Majmū’, jilid 3, hlm. 128).

  • Apa hukumnya jika muazin mengumandangkan ikamah tanpa izin imam?

Hal ini telah diterangkan oleh syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin beliau berkata,

يجب أن نعلم أن لكلٍ من المؤذن والإمام وظيفة فوظيفة الأذان إلى المؤذن هو المسؤول عنه ووظيفة الإقامة إلى الإمام هو المسؤول عنها ولا يحل للمؤذن أن يقيم حتى يحضر الإمام وإن أقام قبل أن يحضر فمحرمٌ عليه ذلك وهو آثم ومن العلماء من يقول إن الصلاة لا تصح لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال (لا يؤم الرجل الرجل في سلطانه إلا بإذنه) والسلطان في إقامة الصلاة هو الإمام

“Wajib bagi kita untuk mengetahui bahwa bagi masing-masing dari muazin dan imam memiliki tugas. Tugas dalam mengumandangkan azan, merupakan hak muazin, sedangkan tugas  ikamah merupakan hak imam. Tidak halal bagi muazin untuk menegakkan ikamah sampai imam telah datang. Jika dia menegakkan ikamah sebelum kedatangan imam, haram hukumnya dan dia berdosa. Di antara ulama ada yang berpendapat salatnya tidak sah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Tidak boleh seorang muslim menjadi imam bagi muslim lain yang berada di wilayah kewenangannya kecuali dengan izinnya.’

Yang berwenang dalam menegakkan ikamah adalah imam salat.”

  • Bagaimana jika imam sudah mengizinkan orang lain untuk menjadi imam?

Syekh pun melanjutkan,

نعم لو أذن الإمام وقال للمؤذن متى انتهى الوقت الذي حدد فأقم الصلاة فلا بأس

“Jika imam telah mengizinkan dan berkata kepada muazin, ‘Kapan pun waktu yang telah ditentukan habis (sesuai kesepakatan), tegakkanlah ikamah, maka tidak mengapa.”
(Fatāwā Nūrun ‘Alā ad-Darb, 8/2.)

  • Apa yang harus dilakukan jika imam terlambat sampai hampir habis waktu salat?

Saudaraku yang mulia, kejadian seperti ini kadang terjadi, terlebih pada salat yang waktunya sempit dan tidak lama seperti salat subuh. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menjelaskan,

إذا تأخر الإمام حتى كادت الشمس تطلع وضاق الوقت فحينئذ يصلون ولا ينتظرونه، أما ما دام الوقت باقياً فإنهم لا يصلون حتى يحضر الإمام، لكن ينبغي للإمام أن يحدد وقتاً معيناً للناس فيقول مثلاً: إذا تأخرت عن هذا الوقت فصلوا ليكون في هذا الحال أيسر لهم وأصلح له هو أيضاً ولا يقع الناس في حرج أو ضيق

“Apabila imam terlambat sampai hampir matahari terbit dan waktunya sempit, maka dalam keadaan seperti ini, hendaknya para makmum menegakkan salat tanpa menantinya. Adapun jika waktunya masih lapang, maka tidaklah mereka salat sampai kedatangan imam. Namun, semestinya bagi imam untuk menentukan waktu tertentu bagi para jamaah seperti dia mengucapkan, ‘Apabila aku terlambat pada waktu ini, maka dirikanlah salat agar dalam keadaan ini lebih mudah bagi mereka dan lebih bermaslahat baginya juga dan dia tidak memberatkan para jamaah.” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 12, hlm. 192).

  • Bagaimana jika imam terlambat dari waktu kebiasaannya?

Jika seperti ini keadaannya terkadang banyak dari para jamaah yang merasa keberatan karena masing-masing dari mereka, tentu ada kesibukan. Maka dari itu, jika tempat tinggal imam dekat dengan masjid, maka sebaiknya ditemui dan muazin meminta izin untuk segera ditegakkan ikamah agar imam tersebut segera mengimami para jamaah kecuali jika dia memerintahkan orang lain sebagaimana penjelasan yang telah lalu, yaitu  yang terjadi pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beberapa sahabat datang menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menegakkan ikamah dan tempat tinggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdampingan dengan masjid. Jika terasa sulit mungkin karena imamnya sulit ditemui dan dihubungi atau tempat tinggalnya jauh, maka tidak mengapa menegakkan ikamah walaupun tanpa izin imam. Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman,

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidaklah membebani jiwa melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” ( al-Baqarah: 286).

Allah Ta’ala berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kesanggupan kalian.” ( at-Taghabun:16).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُم

“Apabila aku perintahkan kalian terhadap suatu perkara maka tunaikanlah semampu kalian.”
( al-Bukhari, no. 7.288).

Dewan fatwa al-Lajnah ad-Dāimah mengeluarkan fatwa,

 الأصل ألا يصلي أحد إماما بالناس في مسجد له إمام راتب إلا بإذنه؛ لأنه بمنزلة صاحب البيت، وهو أحق بالإمامة؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم «لا يؤمن الرجل الرجل في سلطانه ولا يقعد على  تكرمته إلا بإذنه  » رواه مسلم فإن تأخر عن وقته المعتاد حضوره فيه جاز أن يتقدم غيره للصلاة بالناس دفعا للحرج

“Secara asal, tidak boleh seorang pun salat menjadi imam bagi para jamaah di masjid yang memiliki imam tetap kecuali dengan izinnya karena dia kedudukannya sama dengan tuan rumah dan dia lebih berhak menjadi imam berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‘Janganlah sekali-kali seorang muslim menjadi imam bagi muslim lainnya dan jangan pula duduk di ruang tamunya kecuali telah mendapat izin darinya.’ (Muslim).

Jika dia terlambat datang dari waktu kebiasaannya, boleh bagi yang lain untuk maju menjadi imam agar para jamaah tidak merasa keberatan.”

  • Jika imam ini datang dan ternyata salat sudah dimulai, apa yang harus dia lakukan? Jawabannya adalah boleh dia mengambil alih posisi imamnya dan penggantinya mengambil posisi sebagai makmum dan boleh juga dia menjadi makmum. Dijelaskan di dalam fatwa di atas lanjutannya,

فإذا حضر الإمام الراتب فله أن يتقدم للإمامة وله أن يصلي مأموما…

 وقد تأخر النبي صلى الله عليه وسلم مرة في السفر حين ذهب ليقضي حاجته فجاء صلى الله عليه وسلم وعبد الرحمن بن عوف يصلي بالناس فأراد عبد الرحمن أن يتأخر فأشار النبي صلى الله عليه وسلم إليه أن يستمر وصلى مأموما وراء عبد الرحمن .  وتأخر مرة أخرى في المدينة ليصلح بين بني عمرو بن عوف ثم جاء وأبو بكر رضي الله عنه يصلي بالناس. فلما أحس به أبو بكر رضي الله عنه تأخر إلى الصف وتقدم النبي صلى الله عليه وسلم إماما

“Apabila imam tetap tersebut datang, boleh baginya untuk menjadi imam dan boleh juga menjadi makmum. Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlambat pada suatu ketika dalam kondisi safar, ketika itu beliau sedang menunaikan hajatnya dan Abdurrahman bin Auf yang menjadi imam salat, ketika Nabi datang, Abdurrahman ingin mundur, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan kepadanya untuk melanjutkan salatnya, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam salat menjadi makmum Abdurrahman.  Pernah juga terjadi pada suatu ketika di Madinah, Rasulullah terlambat karena beliau sedang mendamaikan antara bani Amr bin Auf, kemudian beliau datang ke masjid untuk salat dan saat itu Abu Bakr yang menjadi imam, maka tatkala Abu Bakr merasa ada Rasulullah di belakang, Abu Bakr pun akhirnya mundur ke saf, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maju menjadi imam.”
(Fatāwā al-Lajnah, jilid 7, hlm. 418)

2. BERAPAKAH JARAK WAKTU ANTARA AZAN DAN IKAMAH?

Saudaraku yang semoga selalu diberi taufik oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala pentingnya bagi imam masjid untuk memperkirakan waktu yang tepat untuk menegakkan ikamah. Namun, adakah batasan waktu tertentu di dalam syariat tentang batasan waktu ini. Jika seseorang salat sendiri di rumah karena uzur syar’i atau seorang wanita yang salat sendiri di rumahnya, yang afdal adalah bersegera berdasarkan firman Allah Ta’ala,

فاستبقوا الخيرات

“Bersegeralah menuju kebaikan.” ( al-Baqarah: 148).

Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Abdullah bin Masud radhiyallahu ‘anhu berkata,

سَأَلْتُ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أيُّ العَمَلِ أحَبُّ إلى اللَّهِ؟ قالَ: الصَّلَاةُ علَىوقْتِهَا قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: برُّ الوَالِدَيْنِقالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: الجِهَادُ في سَبيلِ اللَّهِ

“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah? Beliau menjawab, ‘Salat pada waktunya.’ Kemudian apa lagi, beliau menjawab, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Kemudian apa lagi, beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah.'”
(al-Bukhari, no. 5.970  dan Muslim, no. 85).

Adapun jika berjamaah di masjid, seorang imam mesti memperkirakan waktu. Al-Imam al-Bukhari di dalam Shahihnya di dalam kitab al-Adzaan menyebutkan bab,

كم بين الأذان والإقامة

“Berapa jarak waktu antara azan dan ikamah.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan,

وَلَعَلَّهُ أَشَارَ بِذَلِكَ إِلَى مَارُوِيَ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ 

وَسلم قَالَ لِبِلَالٍ اجْعَلْ بَيْنَ أَذَانِكَ وَإِقَامَتِكَ قَدْرَ مَايَفْرُغُ الْآكِلُ مِنْ أَكْلِهِ وَالشَّارِبُ مِنْ شُرْبِهِ وَالْمُعْتَصِرُ إِذَا دَخَلَ لِقَضَاءِ حَاجَتِهِ أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ لَكِنْ إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ وَلَهُ شَاهِدٌ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَمِنْ حَدِيثِ سَلْمَانَ أَخْرَجَهُمَا أَبُو الشَّيْخِ وَمِنْ حَدِيثِ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَخْرَجَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ فِي زِيَادَاتِ الْمُسْنَدِ وَكُلُّهَا وَاهِيَةٌ فَكَأَنَّهُ أَشَارَ إِلَى أَنَّ التَّقْدِيرَ بِذَلِكَ لَمْ يثبت وَقَالَ ابن بَطَّالٍ لَا حَدَّ لِذَلِكَ غَيْرَ تَمَكُّنِ دُخُولِ الْوَقْتِ وَاجْتِمَاعِ الْمُصَلِّينَ

“Bisa jadi beliau mengisyaratkan kepada yang telah diriwayatkan dari Jabir bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal,

‘Jadikanlah antara azan dan ikamahmu seukuran orang yang makan selesai dari makannya dan orang yang minum selesai dari minumnya serta orang yang telah membuang hajat apabila menunaikan hajatnya.’

Hadis ini dikeluarkan oleh at-Tidmidzi dan al-Hakim namun sanadnya lemah dan ada penguatnya, yaitu hadis dari sahabat Abu Hurairah dan Salman yang dikeluarkan oleh Abu asy-Syaikh serta dari sahabat Ubay bin Ka’ab yang dikeluarkan oleh Abdullah bin Ahmad di dalam Ziyaadaah al-Musnad dan semua riwayatnya lemah. Seakan-akan al-Imam al-Bukhari mengisyaratkan bahwa hadis yang menyebutkan dengan ukuran waktu tersebut tidak shahih. Ibnu Bathal berkata,

‘Tidak ada batasan dalam hal ini. Hanya saja yang menjadi tolok ukurnya adalah masuknya waktu dan para jamaah salat yang sudah berkumpul.'” ( Fath al-Bārī, jilid 2, hlm. 106 ).

Kesimpulan dari penjelasan di atas, tidak ada dalil yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang batasan waktu terkait hal ini. Hanya saja yang dilakukan imam adalah dengan memperkirakan waktu yang tepat untuk memerintahkan muazin menegakkan ikamah.

  • Bolehkah menggunakan timer untuk digunakan sebagai batasan jarak antara azan dan ikamah?

Saudaraku yang semoga selalu dibimbing oleh Allah, dalam hal ini dikembalikan kepada keputusan imam, jika imam memandang perlu, tidak mengapa dan jika tidak, maka tidak. Syekh Abdul Aziz ibnu Baz pernah ditanya tentang hal ini dan beliau menjelaskan,

إن رأى الإمام ذلك للمصلحة لا حرج

“Apabila imam memandang hal itu diperlukan karena ada maslahatnya, maka tidak mengapa.”
( Masāil al-Imām Ibnu Baz, 1/70).

3. IMAM MASJID ITU SEBAGAI TUAN RUMAH.

Saudaraku yang semoga selalu diberi petunjuk oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala, sungguh telah disebutkan oleh para ulama kriteria yang lebih utama untuk menjadi imam salat namun, ini tidak masuk dalam pembahasan kita. Pembahasan kita kali ini berkaitan tentang seseorang yang telah ditetapkan sebagai imam tetap di suatu masjid, maka dialah tuan rumah di masjid tersebut dan yang paling berhak menjadi imam. Al-Imam an-Nawawi berkata,

قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ مَعْنَاهُ مَا ذَكَرَهُ أَصْحَابُنَا وَغَيْرُهُمْ أَنَّ صَاحِبَ الْبَيْتِ

وَالْمَجْلِسِ وَإِمَامَ الْمَسْجِدِ أَحَقُّ مِنْ غَيْرِهِ وَإِنْ كَانَ ذَلِكَ الْغَيْرُ أَفْقَهَ وَأَقْرَأَ وَأَوْرَعَ وَأَفْضَلَ مِنْهُ 

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Janganlah seseorang menjadi imam bagi orang lain di tempat kekuasaannya.’ Maknanya adalah sebagaimana yang telah disebutkan oleh ulama dari mazhab kami (Syafi’i) dan yang lainnya, ‘Tuan rumah dan pemimpin majelis serta imam masjid lebih berhak dari selainnya. Meskipun orang lain tersebut lebih fakih, lebih hafal, lebih wara’, dan lebih utama darinya.”
( Syarh Shahih Muslim, jilid 5, hlm. 173).

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

وَإِمَامُ الْمَسْجِدِ الرَّاتِبُ أَوْلَى مِنْ غَيْرِهِ؛ لِأَنَّهُ فِي مَعْنَى صَاحِبِ الْبَيْتِ وَالسُّلْطَانِ

“Imam masjid tetap lebih berhak dibandingkan yang lain karena dia tuan rumah dan penguasa di tempatnya.”
( al-Mughni, jilid 2, hlm. 151).

  • Bagaimanakah cara imam memberi izin kepada yang lain untuk mengimami salat?

Saudaraku sekalian, sudah kita lalui pembahasan ini. Dan pada kesempatan ini, insya Allah akan kita perjelas lagi bahwa izin dari imam agar orang lain menggantikannya dengan dua cara; izin secara umum dan izin secara khusus. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan ,

إلا بإذنه أي: إلاَّ إذا وَكَّلَهُ توكيلاً خاصًّا أو توكيلاً عاماً. فالتوكيل الخاص: أن يقول: يا فلان صَلِّ بالناس، والتوكيل العام أن يقول للجماعة: إذا تأخَّرتُ عن موعدِ الإقامةِ المعتادِ كذا وكذا فصلُّوا.

“‘Kecuali dengan izinnya,’ maknanya adalah kecuali jika dia mewakilkan kepada seseorang secara khusus atau secara umum. Secara khusus seperti dia berkata, ‘Wahai polan, imamilah para jamaah!’ Secara umum seperti dia berkata kepada para jamaah, ‘Apabila aku terlambat dari waktu ikamah yang biasanya, maka salatlah kalian!” ( asy-Syarhul Mumti’, jilid 4, hlm. 153-154). 

  • Sahkah salat, jika imamnya tidak mendapat izin dari imam tetap?

Para pembaca sekalian, telah kita lewati hadis,

لا يؤم الرجل الرجل في سلطانه إلا بإذنه

“Janganlah seorang muslim mengimami muslim lainnya di wilayah wewenangnya kecuali dengan izinnya.”

Hadis ini merupakan hadis yang shahih diriwayatkan oleh al-Imam Muslim di dalam Shahihnya dengan lafaz,

ولا يؤمنَّ الرجل الرجل في سلطانه ولا يقعد في بيته على تكرمته إلا بإذنه

“… dan janganlah seorang muslim mengimami muslim lainnya yang di daerah wewenangnya, dan jangan pula duduk di ruang tamunya kecuali telah mendapatkan izin darinya.” ( Muslim no. 673).

Adapun terkait tentang sahkah salat orang yang seperti ini keadaannya. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan,

في هذا لأهلِ العِلمِ قولان:

القول الأول: أنَّ الصَّلاة تصحُّ مع الإثم.

القول الثاني: أنهم آثمون، ولا تصحُّ صلاتُهم، ويجبُ عليهم أن يُعيدُوها.

والرَّاجح القول الأول: لأنَّ تحريمَ الصَّلاةِ بدون إذن الإمام أو عُذره ظاهرٌ من الحديثِ والتعليل، وأما صِحةُ الصلاةِ؛ فالأصلُ الصحةُ حتى يقومَ دليلٌ على الفسادِ

“Dalam hal ini ada dua pendapat di kalangan ulama:

1. Salatnya sah disertai dosa.

2. Mereka berdosa, salatnya tidak sah dan wajib mengulangi salatnya.

Pendapat yang kuat adalah pendapat pertama karena pengharaman mengimami tanpa izin dan uzur imam itulah yang nampak dari hadis dan sebab hukum pada hadis tersebut. Adapun salatnya, secara asal sah sampai ada dalil yang menyebutkan bahwa salatnya tidak sah.”
( asy-Syarhul Mumti’, jilid 4, hlm. 153).

Namun, sebagaimana penjelasan yang telah lalu, hendaknya kita lebih berhati-hati dan tidak memberanikan diri menjadi iman di tempat yang bukan kewenangan kita kecuali dengan izin dari tuan rumah.

Semoga manfaatnya bisa tersebar luas kepada segenap kaum muslimin. Mohon mohon maaf atas segala kekurangan dan jazaakumullahu khairan kepada semua pihak yang telah membantu penyebaran artikel ini.

Baturaja, 27  Agustus 2021  bertepatan dengan, 18  al-Muharram 1443 Hijriah.

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

ORANG YANG DI MASJID, TETAPI SERING KELUAR MASUK KARENA HAJAT SEPERTI BERWUDU, APAKAH TETAP SALAT TAHIYATUL MASJID?

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

أما الذي يخرج من المسجد ويعود عن قرب فلا يصلي تحية المسجد؛ لأنه لم يخرج خروجا منقطعا، ولهذا لم ينقل عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه كان إذا خرج لبيته لحاجة وهو معتكف ثم عاد أنه كان يصلي ركعتين، وأيضا فإن هذا الخروج لا يعد خروجا، بدليل أنه لا يقطع اعتكاف المعتكف، ولو كان خروجه يعتبر مفارقة للمسجد لقطع الاعتكاف به، ولهذا لو خرج شخص من المسجد على نية أنه لن يرجع إلا في وقت الفرض التالي، وبعد أن خطا خطوة رجع إلى المسجد ليتحدث مع شخص آخر ولو بعد نصف دقيقة فهذا يصلي ركعتين؛ لأنه خرج بنية الخروج المنقطع.

“Adapun orang yang keluar dari masjid dan kembali dalam waktu dekat, maka dia tidak salat tahiyatul masjid karena dia tidak keluar dengan memutus hubungan dengan masjid. Oleh karena ini, tidak dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa tatkala beliau keluar menuju rumahnya untuk suatu keperluan dalam keadaan beliau sedang beriktikaf kemudian kembali lagi lalu salat dua rakaat ketika masuk. Dan keluar dengan bentuk yang seperti ini, tidak dianggap keluar dengan dalil bahwa hal ini tidak memutus iktikafnya orang yang beriktikaf, kalaulah keluarnya dia terhitung memisahkan diri dari masjid, tentu iktikafnya terputus. Dan atas dasar ini jika ada seseorang yang keluar dari masjid dengan niat tidak akan kembali lagi kecuali pada waktu salat wajib yang berikutnya, setelah dia melangkahkan kakinya, dia kembali lagi ke masjid ingin berbincang-bincang dengan orang lain walaupun hanya dalam waktu setengah menit, maka dia menunaikan salat dua rakaat karena dia telah keluar dengan niat yang terputus.”
( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 14, hlm. 353).

Baca Juga: Seputar Hukum Masjid

Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Penyusun: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar
Murajaah: al-Ustadz Ahmad Khadim hafidzahullah
Editor bahasa: Abu Abdil Muhsin Fudhail

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

JIKA ADA RUANGAN KHUSUS SEPERTI PERPUSTAKAAN BERADA DI DEKAT MASJID, APAKAH ITU TERMASUK MASJID?

JIKA BANGUNAN ITU BERTINGKAT, SALAH SATUNYA DIGUNAKAN UNTUK KEPERLUAN KHUSUS, APAKAH ITU BAGIAN DARI MASJID?

Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang hal yang semisal ini.
Beliau menjawab,

إذا كان المبنى المذكور قد أعد مسجدا ويسمع أهل الدورين الأعلى والأسفل صوت الإمام صحت صلاة الجميع…أما إن كان الدور الأسفل لم ينوه الواقف من المسجد، وإنما نواه مخزنا ومحلا لما ذكر في السؤال من الحاجات، فإنه لا يكون له حكم المسجد

“Apabila bangunan tersebut disediakan untuk masjid dan masing-masing dari yang berada di tingkat bangunan itu mendengar suara imam, maka salat mereka semua sah. Adapun jika bangunan bawah, tidak diniatkan oleh pewakaf sebagai masjid, hanya saja dia niatkan untuk tempat penyimpanan keperluan-keperluan sebagaimana disebutkan dalam pertanyaan, maka itu bukanlah masjid.” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 10, hlm. 221-222).

Jadi kesimpulan dari penjelasan beliau di atas, dikembalikan kepada niat pengurus wakaf pada bagian pembangunan. Jika tempat tersebut, digunakan untuk masjid, maka itu bagian dari masjid, jika tidak, maka tidak. Wallahua’lam.

JIKA ADA RUANGAN KHUSUS SEPERTI PERPUSTAKAAN BERADA DI DEKAT MASJID, APAKAH ITU TERMASUK MASJID?

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hal ini pada tiga keadaan,

١– إذا كان باب المكتبة داخل المسجد .

٢– إذا كان باب المكتبة خارج المسجد .

٣– إذا كان للمكتبة بابان أحدهما داخله والآخر خارجه .

1. Apabila pintu perpustakaan tersebut di bagian dalam masjid.
2. Apabila pintunya di bagian luar masjid.
3. Apabila pintunya ada dua yakni di bagian dalam dan di bagian luar.

Beliau menjawab,

في الحال الأولى وهي: ما إذا كان باب المكتبة داخل المسجد تكون المكتبة من المسجد فلها حكمه، فتشرع تحية المسجد لمن دخلها، ولا يحل للجنب المكث فيها إلا بوضوء، ويصح الاعتكاف فيها، ويحرم فيها البيع والشراء، وهكذا بقية أحكام المسجد المعروفة

وفي الحال الثانية وهي: ما إذا كان بابها خارج المسجد، وليس لها باب على المسجد، لا تكون من المسجد فلا يثبت لها أحكام المساجد، فليس لها تحية مسجد، ولا يصح الاعتكاف فيها، ولا يحرم فيها البيع والشراء، لأنها ليست من المسجد لانفصالها عنه.

وفي الحال الثالثة وهي: ما إذا كان لها بابان، أحدهما: داخل المسجد. والثاني: خارجه، إن كان سور المسجد محيطا بها فهي من المسجد فتثبت لها أحكام المسجد، وإن كان غير محيط بها بل لها سور مستقل فليس لها حكم المسجد فلا تثبت لها أحكامه؛ لأنها منفصلة عن المسجد، ولهذا لم تكن بيوت النبي صلى الله عليه وسلم من مسجده، مع أن لها أبوابا على المسجد؛ لأنها منفصلة عنه

“Pada keadaan pertama, yaitu apabila pintu perpustakaan tersebut, di bagian dalam masjid, maka ruangan perpustakaan itu termasuk dari masjid dan hukumnya hukum masjid. Disyariatkan salat tahiyatul masjid bagi yang memasukinya, (menurut sebagian pendapat ulama, -pen) tidak boleh bagi orang yang junub tinggal di dalamnya kecuali dalam keadaan berwudu, sah beriktikaf di dalamnya, dan tidak boleh melakukan jual beli di dalamnya, demikian pula hukum-hukum masjid yang lain yang sudah diketahui.

Pada keadaan kedua, yaitu apabila pintunya di bagian luar masjid dan tidak ada pintu yang menyambung ke masjid, maka ruangan ini bukanlah masjid, tidak berlaku padanya hukum masjid, tidak berlaku padanya tahiyatul masjid, tidak sah dijadikan tempat iktikaf dan tidak dilarang jual beli di dalamnya karena ruangan tersebut bukan bagian dari masjid sebab, sudah terpisah dari masjid.

Pada keadaan ketiga, yaitu apabila ruangan tersebut memiliki dua pintu, di bagian dalam masjid dan di bagian luar masjid. Jika pagar masjid mengelilinginya, ruangan tersebut termasuk dari masjid, berlaku padanya hukum-hukum masjid. Dan jika tidak dikelilingi oleh pagar masjid, bahkan tempat tersebut memiliki pagar  tersendiri, maka tidak ada padanya hukum masjid dan tidak berlaku hukum-hukum yang berkaitan dengan masjid padanya karena ruangan tersebut terpisah dari masjid. Oleh karena inilah, rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak termasuk bagian dari masjidnya padahal di rumah beliau banyak pintu ke masjid sebab, rumah beliau terpisah dari masjid.” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 14, hlm. 351-352).

Baca Juga: Seputar Hukum Masjid

Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Penyusun: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar
Murajaah: al-Ustadz Ahmad Khadim hafidzahullah
Editor bahasa: Abu Abdil Muhsin Fudhail

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

HUKUM MEMBICARAKAN URUSAN DUNIA DI MASJID

BOLEHKAH MENEMPEL PENGUMUMAN TENTANG KEBERANGKATAN HAJI DAN UMRAH MELALUI TRAVEL-TRAVEL TERTENTU?

Berkaitan tentang hal ini, syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan,

لا يجوز أن تعلق الإعلانات للحج والعمرة داخل المسجد؛ لأن غالب الذين يأخذون هذه الرحلات يقصدون الكسب المالي فيكون هذا نوعا من التجارة، لكن بدلا من أن تكون في المسجد تكون عند باب المسجد من الخارج.

 “Tidak boleh meletakkan pengumuman-pengumuman tentang haji dan umrah di bagian dalam masjid karena secara umum, orang-orang yang mengurusi urusan keberangkatan-keberangkatan yang seperti ini, tujuan mereka untuk pekerjaan dalam mencari harta. Namun, solusinya sebaiknya di tempel di pintu masjid bagian luar.” ( Liqā’ Bab al-Maftūh, 151/19).

HUKUM MEMBICARAKAN URUSAN DUNIA DI MASJID

Berkaitan tentang hal ini syekh Abdul Aziz ibnu Baz berkata,

التحدث في المساجد إذا كان في أمور الدنيا، والتحدث بين الإخوان والأصحاب في أمور دنياهم إذا كان قليلا لا حرج فيه إن شاء الله، أما إن كان كثيرا فيكره؛ لأنه يكره اتخاذ المساجد محل أحاديث الدنيا، فإنها بنيت لذكر الله وقراءة القرآن والصلوات الخمس وغير هذا من وجوه الخير؛ كالتنفل والاعتكاف وحلقات العلم، أما اتخاذها للسواليف في أمور الدنيا فيكره ذلك،

“Berbincang-bincang di dalam masjid apabila berkaitan dengan perkara dunia dan berbincang-bincang di antara ikhwan dan sahabat dalam urusan-urusan dunia, jika sedikit, tidak mengapa insya Allah. Adapun jika banyak, maka hal itu dibenci karena menjadikan masjid-masjid sebagai tempat pembicaraan dunia merupakan perbuatan yang dibenci. Karena tujuan dibangunnya masjid adalah untuk berzikir kepada Allah, membaca al-Qur’an, salat lima waktu, dan selain ini dari perkara-perkara kebaikan seperti salat sunah, iktikaf dan halakah-halakah ilmu. Adapun menjadikan masjid sebagai tempat pembicaraan-pembicaran  dalam perkara-perkara dunia, maka hal itu dibenci.” ( Fatāwā Nūrun ‘alā ad-Darb, 11/344-345).

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan,

الكلام في المسجد ينقسم إلى قسمين:

القسم الأول أن يكون فيه تشويش على المصلىن والقارئين والدارسين فهذا لا يجوز وليس لأحد أن يفعل ما يشوش على المصلىن والقارئين والدارسين.

القسم الثاني أن لا يكون فيه تشويش على أحد فهذا إن كان في أمور الخير فهو خير وإن كان في أمور الدنيا فإن منه ما هو ممنوع ومنه ما هو جائز فمن الممنوع البيع والشراء والإجارة فلا يجوز للإنسان أن يبيع أو يشتري في المسجد أو يستأجر أو يؤجر في المسجد وكذلك إنشاد الضالة فإن الرسول عليه الصلاة والسلام قال (إذا سمعتم من ينشد الضالة فقولوا لا ردها الله عليك فإن المساجد لم تبن لهذا) ومن الجائز أن يتحدث الناس في أمور الدنيا بالحديث الصدق الذي ليس فيه شيء محرم.

“Pembicaraan di dalam masjid terbagi menjadi dua:

1. Pembicaraan yang mengganggu orang-orang yang sedang salat, membaca al-Qur’an dan belajar. Maka ini hukumnya tidak boleh, tidak boleh bagi seorang pun melakukan hal ini.

2. Pembicaraan yang tidak mengganggu seorang pun, maka jenis ini, jika dalam urusan kebaikan, maka itu adalah kebaikan dan jika dalam urusan dunia, maka ada yang dilarang dan ada yang boleh, yang dilarang, seperti jual beli dan sewa menyewa. Tidak boleh bagi seorang pun untuk melakukan jual beli dan sewa menyewa di dalam masjid, demikian pula dengan mengumumkan barang hilang karena Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Barang siapa yang mendengar seseorang mengumumkan barangnya yang hilang di dalam masjid, maka doakanlah, ‘Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu.’ Karena sesungguhnya masjid-masjid itu tidaklah dibangun untuk ini.’

Dan yang diperbolehkan adalah seseorang berbicara tentang urusan dunia dengan pembicaraan yang jujur dan tidak ada pada pembicaraan tersebut keharaman.”
( Fatāwā Nūrun ‘Alā ad-Darb, 8/2).

Baca Juga: Seputar Hukum Masjid

Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Penyusun: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar
Murajaah: al-Ustadz Ahmad Khadim hafidzahullah
Editor bahasa: Abu Abdil Muhsin Fudhail

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

HUKUM MELAKUKAN JUAL BELI DAN MENGUMUMKAN BARANG HILANG DI DEPAN PINTU MASJID BAGIAN LUAR

HUKUM MELAKUKAN JUAL BELI DAN MENGUMUMKAN BARANG HILANG DI DEPAN PINTU MASJID BAGIAN LUAR

Komite al-Lajnah ad-Dāimah pernah ditanya tentang jual beli di depan pintu masjid bagian luar, maka jawabannya,

 البيع عند باب المسجد خارجه جائز

“Melakukan jual beli di pintu masjid bagian luarnya hukumnya boleh.”
( Fatāwā al-Lajnah, no. 1.5316).

Demikian pula yang berkaitan dengan barang hilang, boleh seseorang berdiri di depan pintu masjid bagian luar, lalu mengumumkan hal itu. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

إنشاد الضالة يجيء رجل ويقول ضاع مني كذا مثل محفظة الدراهم فهذا حرام لا يجوز حتى وإن غلب على أمرك أنه سرق في المسجد لا تقل هذا كيف أتوصل إلى هذا اجلس عند باب المسجد خارج المسجد وقل جزاكم الله خيرا ضاع مني كذا 

“Mengumumkan barang hilang (di masjid), contohnya, seseorang datang dan berkata, aku telah kehilangan dompet. Maka yang demikian ini haram hukumnya, tidak boleh walaupun berdasarkan perkiraan yang kuat bahwa ada seseorang yang disangka telah mencuri di masjid, jangan engkau katakan yang seperti ini.
Lantas bagaimana aku bisa mengatasi hal ini?
Jawabannya adalah duduklah engkau di sisi pintu masjid bagian luar, lalu katakanlah, ‘Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan, aku telah kehilangan barang, demikian dan demikian.'” ( Syarh Riyadh ash-Shālihīn, jilid 6, hlm. 444).

Bahkan dewan komite al-Lajnah ad-Dāimah memberikan solusi jika pengumuman tersebut berkaitan dengan hal yang bukan bagian dari agama,

ويمكن أن يلصق الإعلان خارج باب المسجد في مكان معين دائما

ليعرفه الناس، وبهذا تدرأ المفسدة عن المسجد وتحصل المصلحة من الإعلان

“Memungkinkan pengumuman tersebut ditempel di pintu masjid bagian luar di tempat tertentu. Hal itu dilakukan  terus menerus agar manusia mengetahuinya. Dan dengan ini tercegahlah kerusakan di masjid dan kemaslahatan yang diinginkan pun terwujud dari pengumuman tersebut.” ( Fatāwā al-Lajnah, no. 3.842).

Namun, apakah halaman atau teras masjid yang berada di pinggiran masjid dan terkadang digunakan untuk salat jika bagian dalam masjid penuh bukan bagian dari masjid padahal tempat ini masih masuk dalam lingkup pagar masjid? Jawabannya adalah sebaiknya tidak berjual beli dan tidak mengumumkan barang hilang karena tempat tersebut masih tercakup pada bagian dari bangunan masjid dan bersambung dengan masjid, maka tentu hukumnya, hukum masjid sebagaimana dalam penjelasan batasan masjid. Bisa jadi yang dimaksud penjelasan di depan pintu masjid bagian luar di atas adalah di depan pintu teras masjid wallahua’lam.
Sebagaimana ditegaskan oleh As-Suyuthī rahimahullah beliau berkata,

وحريم المسجد، فحكمه حكم المسجد، ولا يجوز الجلوس فيه للبيع ولا للجنب،
 ويجوز الاقتداء فيه بمن في المسجد، والاعتكاف فيه .

“Teras pinggiran masjid termasuk dalam hukum masjid. Tidak boleh berjual beli di sana dan tidak boleh bagi orang yang junub memasukinya (menurut pendapat sebagian ulama, -pen). Dan boleh mengikuti salat orang yang di dalam masjid (jika kondisi bagian dalam penuh) dan boleh beriktikaf di sana.” ( al-Asybāh wa an-Nadzāir, jilid 1/ 125).

Dari penjelasan di atas, menjadi jelas bagi kita  bahwa semestinya bagi setiap muslim, untuk tidak melakukan jual beli dan mengumumkan barang hilang di dalam atau di teras masjid. Jika ingin melakukannya, lakukanlah di luar pintu bagian depan masjid atau di tempat parkir yang tidak termasuk bagian dalam masjid. Wallahua’lam.

Baca Juga: Seputar Hukum Masjid

Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Penyusun: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar
Murajaah: al-Ustadz Ahmad Khadim hafidzahullah
Editor bahasa: Abu Abdil Muhsin Fudhail

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

SEPUTAR HUKUM MASJID

SEPUTAR HUKUM MASJID

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah, pada kesempatan ini kami akan menuangkan pembahasan yang mudah-mudahan bermanfaat untuk kaum muslimin secara umum, yakni pembahasan ringkas berkaitan tentang hukum seputar masjid. Kami memohon pertolongan kepada Allah agar dapat menyelesaikan pembahasan ini dengan sebaik mungkin.

PENGERTIAN MASJID

Pengertian secara bahasa dan istilah saling berdekatan maknanya, masjid secara bahasa adalah tempat yang digunakan untuk sujud dan beribadah kepada Allah. Di dalam kamus Lisanul Arab disebutkan pengertian masjid secara bahasa,

والمسجد: الذي يسجد فيه،
وفي الصحاح: واحد المساجد. وقال الزجاج: كل موضع يتعبد فيه فهو مسجد [مسجد]،
ألا ترى أن النبي، صلى الله عليه وسلم، قال: جعلت لي الأرض مسجدا وطهورا.

Masjid adalah yang digunakan untuk sujud padanya.
Di dalam kitab ash-Shihhāh disebutkan, masjid merupakan kata tunggal dari masājid.
Dan az-Zujaj berkata,

“Setiap tempat yang digunakan untuk beribadah padanya, maka itulah masjid.
Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Telah dijadikan bagiku bumi ini sebagai masjid dan suci.'” ( Lisān al-‘Arab, jilid 3, hlm. 243).

Komite al-Lajnah ad-Dāimah menyebutkan pengertian masjid dari dua sisinya,

المسجد لغة موضع السجود، وشرعا كل ما أعد ليؤدي فيه المسلمون الصلوات الخمس جماعة

“Masjid secara bahasa adalah tempat sujud sedangkan secara istilah syariat adalah segala yang disiapkan untuk kaum muslimin menunaikan ibadah salat lima waktu secara berjamaah.”
( Fatāwā al-Lajnah, no. 1.319).

BATASAN MASJID

Berkaitan tentang hal ini, sungguh dewan komite fatwa al-Lajnah ad-Dāimah telah menerangkan,

حدود المسجد الذي أعد ليصلي فيه المسلمون الصلوات الخمس جماعة هي ما أحاط به من بناء أو أخشاب أو جريد أو قصب أو نحو ذلك، وهذا هو الذي يعطي حكم المسجد

“Batasan masjid (secara syariat) adalah tempat yang disediakan untuk salat lima waktu secara berjamaah bagi kaum muslimin, yaitu yang tercakup pada bagian dari bangunan baik dari bangunan permanen, kayu, pelepah kurma, rotan, atau yang semisal itu. Inilah yang memberikan hukum masjid.” ( Fatāwā al-Lajnah, jilid 6, hlm. 223).

Baca juga: HUKUM JUAL BELI DAN MENGUMUMKAN BARANG HILANG DI DALAM MASJID

PERBEDAAN ANTARA MASJID DAN MUSHALLA

Dalam hal ini, sungguh para ulama telah menerangkan dengan jelas perbedaan antara keduanya. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah tatkala ditanyakan tentang perbedaan di antara keduanya. Beliau menerangkan,

أما بالمعنى العام فكل الأرض مسجد لقوله صلى الله عليه وسلم: ((جعلت لي الأرض مسجدا وطهورا)) . وأما بالمعنى الخاص فالمسجد: ما أعد للصلاة فيه دائما وجعل خاصا بها سواء بني بالحجارة والطين والإسمنت أم لم يبن، وأما المصلى فهو ما اتخذه الإنسان ليصلي فيه، ولكن لم يجعله موضعا للصلاة دائما، إنما يصلي فيه إذا صادف الصلاة ولا يكون هذا مسجدا، ودليل ذلك أن الرسول صلى الله عليه وسلم كان يصلي في بيته النوافل، ولم يكن بيته مسجدا، وكذلك دعاه عتبان بن مالك إلى بيته ليصلي في مكان يتخذه عتبان مصلى ولم يكن ذلك المكان مسجدا . فالمصلى ما أعد للصلاة فيه دون أن يعين مسجدا عاما يصلي فيه الناس ويعرف أنه قد خصص لهذا الشيء.

“Adapun makna masjid secara umum, maka setiap bagian bumi bisa dikatakan masjid. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‘Telah dijadikan bagiku bumi ini sebagai masjid dan suci.’

Sedangkan makna secara khusus, maka masjid adalah tempat yang di dalamnya digunakan dan dikhususkan selalu untuk salat baik terbuat dari batu, tanah, disemen, atau bahkan tidak dibangun.

Adapun mushalla adalah tempat yang digunakan di dalamnya untuk melakukan salat, tetapi tempat tersebut tidak dijadikan untuk salat selalu, hanyalah seseorang salat di dalamnya apabila kebetulan saja bertepatan dengan waktu salat dan tempat ini tidak dikatakan sebagai masjid. Landasan dalam hal ini adalah bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan salat sunah di rumahnya dan tentu rumah beliau bukan masjid, demikian pula tatkala ‘Itban bin Malik memanggil beliau ke rumahnya untuk salat di tempat yang telah disediakan ‘Itban sebagai mushalla, dan tempat itu bukanlah masjid. Mushalla itu adalah tempat yang digunakan untuk salat di dalamnya namun, tidak ditentukan sebagai masjid secara umum yang manusia salat di dalamnya dan mengetahui kekhususannya untuk hal ini.”
( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 12, hlm. 394-395).

Syekh Abdul Aziz ibnu Baz pun menerangkan,

وإنما المسجد ما يعد للصلاة وقفا تؤدى فيه الصلاة كسائر المساجد، أما المصلى المؤقت فتصلي فيه جماعة الدائرة، أو جماعة نزلوا لوقت معين ثم يرتحلون، فهذا لا يسمى مسجدا

“Tidaklah dikatakan masjid melainkan tempat yang disediakan untuk salat dalam bentuk wakaf, ditunaikan di dalamnya salat seperti masjid-masjid secara umumnya. Adapun tempat salat sementara waktu (mushalla) yang salat di dalamnya jamaah dari kalangan pegawai di kantor atau jamaah yang singgah pada waktu tertentu kemudian pergi, maka tempat ini tidak dinamakan masjid.” ( Fatāwā Nūrun ‘alā ad-Darb, jilid 11, hlm. 293.)

Dari penjelasan ke dua syekh di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dikatakan masjid apabila terpenuhi padanya beberapa ketentuan:

  1. Diwakafkan dan bukan milik pribadi atau instansi tertentu. Maka atas dasar ini bagaimanapun bentuk bangunannya, meskipun tidak digunakan untuk salat jumat namun, bangunan tersebut dibangun di atas tanah yang diwakafkan, maka itu adalah masjid.
  2. Mendapatkan izin secara umum yakni tidak dilarang seorang pun salat di dalamnya.
  3. Digunakan untuk salat lima waktu secara terus menerus.

Dan menjadi jelas pula dalam hal ini bahwa mushalla di kantor-kantor pemerintahan tidak termasuk masjid demikian pula dengan tempat salat khusus wanita. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

المصليات التي تكون في مكاتب
الأعمال الحكومية لا يثبت لها حكم المسجد، وكذلك مصليات النساء في مدارس البنات لا يعتبر لها حكم المسجد، لأنها ليست مساجد حقيقة، ولا حكما

” Mushalla yang ada di kantor pemerintah tidaklah bisa dikatakan masjid. Demikian pula dengan mushalla-mushalla wanita yang berada di sekolahan putri, tidak teranggap padanya hukum masjid karena tempat-tempat tersebut bukanlah disebut masjid-masjid baik secara hakikatnya maupun hukumnya.” ( asy-Syarhul Mumti‘, jilid 6, hlm. 512).

Baca Juga: HUKUM MEMBICARAKAN URUSAN DUNIA DI MASJID

APAKAH BERLAKU HUKUM MASJID DI MUSHALLA?

Telah diketahui bahwa tidak boleh melakukan jual beli di masjid, mengumumkan barang hilang, disyariatkan ketika masuk masjid untuk melakukan salat dua rakaat tahiyatul masjid dan yang semisal ini. Apakah hukum ini juga berlaku untuk mushalla? Syekh Abdul Aziz ibnu Baz menerangkan,

ليس للمصلى حكم المساجد، فلا تشرع الركعتان لدخوله، ولا حرج في البيع والشراء فيه؛ لأنه موضع للصلاة عند الحاجة وليس مسجدا

” Mushalla tidaklah sama dengan hukum masjid. Tidak disyariatkan ketika memasukinya salat dua rakaat tahiyatul masjid dan tidak mengapa berjual beli di dalamnya karena tempat tersebut adalah tempat salat ketika diperlukan saja dan bukan masjid.” ( Fatāwā Nūrun ‘alā ad-Darb, jilid 11, hlm. 293.).

Baca juga: JIKA ADA RUANGAN KHUSUS SEPERTI PERPUSTAKAAN BERADA DI DEKAT MASJID, APAKAH ITU TERMASUK MASJID?

MAKNA LAIN DARI MUSHALLA

Mushalla juga bisa bermakna tanah lapang sebagaimana ketika disandarkan kepada dua id dan jenazah berdasarkan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan wafatnya Najasyi pada hari wafatnya. Beliau pun keluar menuju mushalla (tanah lapang) memerintahkan para sahabat berbaris di shaf mereka lalu beliau mengerjakan salat jenazah dengan empat takbir.” (HR. al-Bukhari, no. 1.245).

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,

كان النبي صلى الله عليه وسلم يخرج في الفطر والأضحى إلى المصلى

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menunaikan salat idulfitri dan iduladha menuju mushalla
(tanah lapang).” (HR. al-Bukhari_, no. 956 dan Muslim, no. 889).

Baca juga: ORANG YANG DI MASJID, TETAPI SERING KELUAR MASUK KARENA HAJAT SEPERTI BERWUDU, APAKAH TETAP SALAT TAHIYATUL MASJID?

MANA YANG LEBIH UTAMA, SALAT DI MASJID TEMPAT TINGGALNYA ATAU DI MASJID LAIN?

Dalam hal ini syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

والصواب أن يقال: إن الأفضل أن تصلي فيما حولك من المساجد؛ لأن هذا سبب لعمارته إلا أن يمتاز أحد المساجد بخاصية فيه فيقدم، مثل: لو كنت في المدينة، أو كنت في مكة، فإن الأفضل أن تصلي في المسجد الحرام في مكة وفي المسجد النبوي في المدينة.
أما إذا لم يكن هناك مزية فإن صلاة الإنسان في مسجده أفضل؛ لأنه يحصل به عمارته؛ والتأليف للإمام وأهل الحي، ويندفع به ما قد يكون في قلب الإمام إذا لم تصل معه؛ لا سيما إذا كنت رجلا لك اعتبارك

“Pendapat yang benar, sesungguhnya yang afdal adalah engkau salat di masjid-masjid yang ada di sekitar mu karena hal ini menjadi sebab kemakmurannya kecuali jika salah satu dari masjid-masjid tersebut memiliki keistimewaan secara khusus, maka itu yang lebih didahulukan seperti tatkala engkau berada di Madinah atau di Makkah, maka sesungguhnya yang afdal adalah engkau salat di masjidilharam ketika di Makkah dan di masjid nabawi ketika di Madinah. Adapun apabila tidak ada keistimewaan, maka sesungguhnya seseorang salat di masjidnya lebih utama karena dengan itu bisa memakmurkannya dan menyatukan hati dengan imam dan penduduk kampung dan dapat menepis perasaan di hati imam apabila engkau tidak salat bersamanya terlebih jika engkau dianggap oleh mereka.”
( asy-Syarhul Mumti’, jilid 4, hlm. 151-152).

Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Baturaja, 22 Dzulqa’dah 1442 H bertepatan dengan 3 Juli 2021.

Penyusun: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar
Murajaah: al-Ustadz Ahmad Khadim hafidzahullah
Editor bahasa: Abu Abdil Muhsin Fudhail

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

ANANDA PERLU DILATIH PUASA RAMADAN

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

والصغير لا يلزمه الصوم حتى يبلغ، ولكن يؤمر به متى أطاقه ليتمرن عليه ويعتاده، فيسهل عليه بعد البلوغ، وقد كان الصحابة رضي الله عنهم وهم خير هذه الأمة يصومون أولادهم
وهم صغار.

“Anak kecil, tidaklah diwajibkan berpuasa sampai dia balig. Namun, jika dia mampu, diperintahkan berpuasa agar dia latihan dan terbiasa dengan puasa, maka dengan sebab itu akan memudahkannya setelah dia balig nantinya. Para sahabat radhiyallahu ‘anhum, mereka adalah orang-orang terbaik umat ini, mereka membiasakan anak-anak mereka berpuasa ketika masih kecil.”

Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 19, hlm. 28-29.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

SEMESTINYA LEBIH DERMAWAN PADA BULAN RAMADAN

Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz berkata,

وقد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس، وكان أجود ما يكون في رمضان، فتأسوا بنبيكم صلى الله عليه وسلم، واقتدوا به في مضاعفة الجود والإحسان في شهر رمضان، وأعينوا إخوانكم الفقراء على الصيام والقيام واحتسبوا أجر ذلك عند الملك العلام، واحفظوا صيامكم عما حرم الله عليكم من الأوزار والآثام

“Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam manusia yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadan. Maka ambilah teladan dari Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam! Contohlah beliau dalam sifat dermawan yang lebih dan berbuat baik pada bulan Ramadan! Bantulah saudara-saudara kalian yang fakir untuk berpuasa dan salat tarawih! Dan berharaplah pahala dari itu semua di sisi Allah! Jagalah puasa kalian dari perkara yang Allah haramkan dari dosa-dosa!”

Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 15, hlm. 45-46.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

TENTANG KUNUT WITIR

Pertanyaan:

Apa hukumnya kalau kita jadi makmum pada salat witir yang imamnya kunut, bagaimana kita menyikapinya?

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar hafizhahullah.

Berkaitan tentang kunut witir, maka terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Pendapat yang kuat wallahua’lam kunut witir disyariatkan, dianjurkan untuk dilakukan berdasarkan riwayat yang datang dari al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,

علمني رسول الله صلى الله عليه وسلم كلمات أقولهن في قنوت الوتر: اللهم أهدني فيمن هديت، وعافني فيمن عافيت، وتولني فيمن توليت، وبارك لي فيما أعطيت، وقني شر ما قضيت، فإنك تقضي ولا يقضى عليك، وإنه لا يذل من واليت، تباركت ربنا وتعاليت

“Rasulullah mengajarkan kepadaku doa yang aku ucapkan pada saat kunut witir,

Ya Allah berilah aku hidayah bersama orang-orang yang engkau beri hidayah, berilah aku keselamatan bersama orang-orang yang engkau beri keselamatan, berikanlah perhatianmu kepadaku bersama orang-orang yang engkau berikan perhatikan, berkahilah aku pada apa saja yang Engkau berikan, jagalah aku dari kejelekan apa saja yang engkau tentukan. Sesungguhnya engkaulah yang menghukumi dan tidak ada seorang pun yang menghukumimu, sesungguhnya tidak akan hina orang yang menjadi walimu, maha berkah engkau wahai Rabb kami lagi maha tinggi.” (HR. al-Baihaqi, Ahmad dan yang lainnya disahihkan oleh syekh al-Albani di dalam Irwā’ al-Ghalīl, no. 429).

Kunut witir yang afdal adalah dilakukan sebelum rukuk, berdasarkan hadis dari sahabat Ubai bin Ka’ab yang menyebutkan bahwa Rasulullah salat witir 3 rakaat, di rakaat pertama beliau membaca sabbihisma rabbikal a’la di rakaat ke dua beliau membaca qul yaa ayyuhalkaafiruun dan dirakaat ketiga beliau membaca qulhuwallahu ahad lalu beliau menyebutkan,

ويقنت قبل الركوع

“Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan kunut sebelum rukuk.” ( Shahih an-Nasāī, 1.698).

Dan boleh juga dilakukan setelah rukuk yakni setelah zikir dari iktidal berdasarkan riwayat dari ‘Urwah ibnu az-Zubair, pada masa Umar, ketika beliau memerintahkan Ubay ibnu Ka’ab mengimami salat, maka saat itu beliau kunut witir setelah itu disebutkan,

ثمَّ يُكَبِّرُ ويَهْوي ساجدً

“Kemudian dia bertakbir dan turun sujud.” (Ibnu Khuzaimah dan disahihkan oleh syekh al-Albani di dalam Shahih Ibnu Khuzaimah, no. 1100).

Ini menunjukkan ketika itu mereka kunut sesudah rukuk.

Kunut witir ini hukumnya sunah boleh dilakukan terus menerus dan boleh juga dilakukan kadang-kadang. Syekh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang sebagian imam yang selalu melakukan kunut witir di setiap malam, lalu beliau menjawab,

: لا حرج في ذلك، بل هو سنة؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم لما علم الحسن بن علي رضي الله عنهما القنوت في الوتر لم يأمر بتركه بعض الأحيان ولا بالمداومة عليه، فدل ذلك على جواز الأمرين، ولهذا ثبت عن أبي بن كعب رضي الله عنه حين كان يصلي بالصحابة رضي الله عنهم في مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه كان يترك القنوت بعض الليالي ولعل ذلك ليعلم الناس أنه ليس بواجب

“Hal itu tidak mengapa. Bahkan kunut witir, hukumnya sunah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajari al-Hasan ibnu ‘Ali radhiyallahu ‘anhu kunut ketika salat witir, beliau tidak memerintahkannya untuk dilakukan kadang-kadang dan tidak memerintahkannya untuk dilakukan terus menerus. Ini menunjukkan bahwa kedua-duanya boleh dilakukan. Oleh karena ini, telah jelas berita dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu ketika mengimami para sahabat radhiyallahu ‘anhum di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau meninggalkan kunut witir pada sebagian keadaan, bisa jadi hal itu beliau lakukan untuk menjelaskan kepada manusia bahwa kunut witir ini hukumnya tidak wajib.” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 30, hlm. 33).

Wallahua’lam

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

SALAT TARAWIH PUN HARUS TETAP THUMA’NINAH

Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz berkata,

وكثير من الناس يصلي في قيام رمضان صلاة لا يعقلها ولا يطمئن فيها، بل ينقرها نقرا، وذلك لا يجوز، بل هو منكر لا تصح معه الصلاة؛ لأن الطمأنينة ركن في الصلاة، لا بد منه

“Kebanyakan dari manusia ketika melakukan salat tarawih, dia tidak memahaminya dan tidak thuma’ninah. Bahkan, dia mematuk-matuk pada salatnya (saking cepatnya gerakannya). Yang demikian itu tidak boleh, bahkan ini merupakan perbuatan mungkar, tidak sah salatnya karena thuma’ninah merupakan rukun salat yang harus dilakukan.”

Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 15, hlm. 30

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar غفر الرحمن له.

#nasihat

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com