ADA SAATNYA TEGAS DAN ADA SAATNYA LEMBUT DALAM MENDIDIK

ADA SAATNYA TEGAS DAN ADA SAATNYA LEMBUT DALAM MENDIDIK

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

والإنسان العاقل يعرف كيف يربي أهله، يعاملهم تارة بالحزم وتارة باللين، حسب ما تقتضيه الأحوال، إذا رأى منهم شدة فليكن أمامهم لينا، وإذا رأى منهم لينا وقبولا فليكن أمامهم حازما ولا أقول: شديدا بل يكون حازما لا يفوت الفرصة.

“Seorang yang berakal mengetahui bagaimana cara mendidik keluarganya. Terkadang dia bergaul bersama mereka dengan tegas dan terkadang dengan lemah lembut, sesuai dengan keadaan. Apabila dia melihat mereka sedang dalam keadaan keras, maka hendaknya dia menyikapi mereka dengan lemah lembut. Apabila melihat mereka sedang dalam keadaan lunak dan bisa menerima, maka hendaknya dia menyikapi mereka dengan tegas, dan aku tidak mengatakan keras. Bahkan hendaknya dia tegas sehingga tidak terluputkan darinya kesempatan.”

Sumber: Al-Liqā’ asy-Syahrī, jilid 28, hlm. 10.

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga : BETAPA BESAR KEUTAMAAN MEMBANTU ORANG LAIN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

TIDAK BAIK BERMUSUHAN KARENA URUSAN DUNIA

TIDAK BAIK BERMUSUHAN KARENA URUSAN DUNIA

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

الأعمال تعرض على الرب عز وجل كل إثنين وكل خميس إلا رجلين بينهما شحناء وفي قلوبهما شيء من الكراهية والعداوة فإنه يقال: (أنظرا هذين حتى يصطلحا) ولذلك ينبغي للإنسان أن يحاول ألا يكون في قلبه غل على أحد من المسلمين، حتى لو أن النفس الأمارة بالسوء قالت له: إن فلانا فعل كذا وفعل كذا وقال كذا، يجب أن يمحو ذلك من قلبه وأن يكون قلبه نظيفا بالنسبة لإخوانه المسلمين.

“Setiap amalan kebaikan akan dihadapkan kepada Rabb ‘Azza wa Jalla setiap hari Senin dan Kamis kecuali dua orang yang terjadi di antara mereka permusuhan dan di hati mereka berdua terdapat kebencian dan permusuhan. Sesungguhnya dikatakan, ‘Tundalah amalan mereka berdua ini sampai mereka berdamai’. Oleh karena ini, semestinya bagi seseorang untuk berusaha agar tidak ada di hatinya kebencian kepada seorang pun dari muslimin, sekalipun jika jiwa yang memerintahkan kepada kejelekan ini berbisik kepadanya, ‘Sesungguhnya si anu telah berbuat demikian dan demikian, telah berkata demikian’. Maka wajib baginya untuk menghapus itu dari hatinya. Wajib baginya untuk membersihkan hatinya dari kebencian terhadap saudara-saudaranya semuslim.”

Sumber: Al-Liqā’ asy-Syahrī, jilid 36, hlm. 26.

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga :TATKALA TUJUAN IBADAH INGIN DISEBUT-SEBUT ORANG LAIN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

TATKALA TUJUAN IBADAH INGIN DISEBUT-SEBUT ORANG LAIN

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

فلا تقبل العبادة حجا كانت أم غيره إذا كان الإنسان يرائي بها عباد الله، أي يقوم بها من أجل أن يراه الناس فيقولون: ما أتقى فلانا ما أعبد فلانا لله. وما أشبه هذا. ولا تقبل العبادة إذا كان الحامل عليها رؤية الأماكن، أو رؤية الناس،
أو ما أشبه ذلك مما ينافي الإخلاص

“Tidak akan diterima ibadah baik berupa haji atau yang lainnya apabila tujuannya ingin dilihat hamba-hamba Allah; yakni dia mengerjakan ibadah tersebut agar dilihat manusia. Maka dengan sebab itu mereka akan berkata, ‘Alangkah bertakwanya si anu, alangkah giatnya dia beribadah kepada Allah’, dan ucapan yang semisal ini. Tidak akan diterima ibadah tersebut apabila tujuannya ingin memperlihatkan tempat atau ingin dilihat orang atau yang semisal ini dari perbuatan-perbuatan yang meniadakan keikhlasan.”

Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 21, hlm. 19.

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga : KESIBUKAN DALAM MENCARI NAFKAH BISA BERNILAI IBADAH KAWAN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

BETAPA BESAR KEUTAMAAN MEMBANTU ORANG LAIN

بسم الله الرحمن الرحيم

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

فاحرص على نفع إخوانك، واعلم أن الجزاء من جنس العمل، فإذا أحسنت إلى إخوانك أحسن الله إليك، وأيهما أعظم: أن تحسن أنت إلى أخيك، أو أن يحسن الله إليك؟ الثاني أعظم، وفي الحديث الصحيح عن النبي صلى الله عليه وسلم: (الله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه) أي: أن عون الله للإنسان كعونه لأخيه.

“Bersemangatlah memberikan manfaat kepada saudara-saudaramu. Ketahuilah! Sesungguhnya balasan itu sesuai dengan jenis amalan. Apabila engkau berbuat baik kepada saudara-saudaramu, niscaya Allah akan berbuat baik kepadamu. Kebaikan mana yang lebih besar, engkau berbuat baik kepada saudaramu semuslim atau Allah yang berbuat baik kepadamu? Tentu yang kedua lebih besar. Disebutkan di dalam hadis yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‘Allah akan senantiasa menolong hambanya selama hamba tersebut menolong saudaranya.’

Yakni pertolongan Allah kepada seseorang sebagaimana pertolongannya kepada saudaranya.”

Sumber: Al-Liqā’ asy-Syahrī, jilid 67, hlm. 5.

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga : SESIBUK APA PUN DIRIMU, JANGAN LALAI DENGAN KELUARGA

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

TENTANG PRASANGKA

بسم الله الرحمن الرحيم

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

الواجب إحسان الظن بالمسلم الذي ظاهره العدالة ولا يحل لأحد أن يظن سوءا بأخيه بدون قرينة أو بينة

“Perkara yang wajib adalah berbaik sangka kepada seorang muslim yang secara lahiriahnya adalah adil (baik). Dan tidak halal bagi seorang pun untuk berburuk sangka kepada saudaranya tanpa ada indikasi dan bukti yang jelas.”

Sumber: Fatāwā Nūrun ‘Alā ad-Darb, jilid 24, hlm. 2.

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: CARA MEREDAM EMOSI

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

AKIBAT TIDAK SIBUK DENGAN AIB SENDIRI

بسم الله الرحمن الرحيم

AKIBAT TIDAK SIBUK DENGAN AIB SENDIRI

Al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah berkata,

والعاقل لا يخفى عليه عيب نفسه لأن من خفي عليه عيب نفسه خفيت عليه محاسن غيره وإن من أشد العقوبة للمرء أن يخفى عليه عيبه

“Seorang yang berakal tidaklah samar baginya aib dirinya sendiri karena barang siapa yang menjadi samar padanya aib dirinya, niscaya akan menjadi samar padanya kebaikan-kebaikan orang lain. Sesungguhnya termasuk dari hukuman terbesar bagi seseorang adalah menjadi samar baginya aibnya sendiri.”

Sumber: Raudhatul Uqalā’, jilid 1, hlm. 22.

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga : PENGARUH AKHLAK PADA KEHORMATAN SESEORANG

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

JANGAN MUDAH UCAPKAN KATA ‘CERAI’!

بسم الله الرحمن الرحيم

JANGAN MUDAH UCAPKAN KATA ‘CERAI’!

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

لا ينبغي للإنسان أن يطلق إلا في حال لا يمكن الصبر معها، وإلا فما دام يمكن الصبر فليصبر، يقول الله تبارك وتعالى: فإن كرهتموهن فعسى أن تكرهوا شيئا ويجعل الله فيه خيرا كثيرا (النساء:١٩). لا تطلق إلا عند الحاجة الملحة، اصبر، قد يقول الإنسان: كيف أصبر على امرأة تعصيني ولا تطيعني؟ نقول: اصبر، وتذكر قول النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم: لا يفرك مؤمن مؤمنة–يعني: لا يكرهها وينفر منها–إن كره منها خلقا رضي منها خلقا آخر إذا كره خلقا ينظر إلى الخلق الآخر الذي يرضى به فيقابل بين هذا وهذا ويحصل الرضا.

“Tidak semestinya bagi seseorang untuk menceraikan istrinya kecuali dalam kondisi yang tidak mungkin lagi untuk bersabar terhadapnya. Jika belum sampai pada tingkatan ini, selama masih bisa bersabar, maka hendaknya dia bersabar.

Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, ‘Jika kalian membenci mereka, maka bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal Allah jadikan padanya kebaikan yang banyak’ (Al-Nisa’: 19).

Jangan ceraikan kecuali ketika benar-benar sudah dalam kondisi sangat diperlukan mengambil keputusan itu. Bersabarlah!

Terkadang seseorang berkata, ‘Bagaimana aku bisa sabar terhadap istri yang durhaka dan tidak menaatiku?’ Kita jawab, ‘Bersabarlah! Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Tidak boleh seorang suami membenci istrinya. Jika dia tidak menyukai darinya suatu akhlak, maka dia masih bisa rida terhadapnya dengan akhlak yang lain.

Apabila dia membenci sebagian akhlaknya, perhatikanlah akhlak lain yang bisa membuatnya rida. Oleh karena itu, hendaknya dia hadapkan dan pertimbangkan antara akhlak ini dan ini, sehingga dengan sebab itu akan terwujud rasa rida.”

Sumber: Al-Liqā’ al-Syahrī, Jilid 55, hlm. 7.

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga : HATI-HATI DALAM BERCANDA

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

BELAJAR ITU UNTUK DIAMALKAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Al-Imam Ibnu Hibban berkata,

العاقل لا يشتغل في طلب العلم إلا وقصده العمل به لأن من سعى فيه لغير ما وصفنا ازداد فخرا وتجبرا

“Seorang yang berakal, tidaklah sibuk dalam menuntut ilmu agama melainkan bertujuan untuk mengamalkannya karena barang siapa yang berusaha dalam hal menuntut ilmu ini untuk selain beramal, niscaya akan semakin bertambah kesombongan dan keangkuhannya.”

Sumber: Raudhatul ‘Uqalā’, jilid 1, hlm. 35.

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga : PENGARUH AKHLAK PADA KEHORMATAN SESEORANG

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

HATI-HATI DALAM BERCANDA

بسم الله الرحمن الرحيم

Al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah berkata,

المزاح في غير طاعة الله مسلبة للبهاء مقطعة للصداقة يورث الضغن وينبت الغل

“Bercanda dalam hal selain ketaatan kepada Allah (canda yang melampaui batas) dapat menghilangkan wibawa, memutuskan persahabatan, mewariskan kebencian, dan menumbuhkan kedengkian.”

Sumber: Raudhatul ‘Uqalā’, jilid 1, hlm. 78.

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga : PENGARUH AKHLAK PADA KEHORMATAN SESEORANG

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

MEMVIRALKAN SI PHP (PEMBERI HARAPAN PALSU) DALAM JUAL BELI

MEMVIRALKAN SI PHP (PEMBERI HARAPAN PALSU) DALAM JUAL BELI

Pertanyaan:

Bagaimanakah hukum memviralkan si PHP? Dengan niat supaya si PHP itu jadi viral dan tau rasa, dan supaya hati plong dari memendam rasa marah dengan si PHP dikarenakan dia sudah membohongi dan mengecewakan penjual.

Jazakallahu khairan.

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail ‘Abdurrahman Ibnu Umar hafizhahullah.

Hendaknya dia bersabar dan tidak menyebarkan hal itu karena diharuskan dalam jual beli itu sifat sabar, sabar itu maknanya memendam emosi dari kedongkolan (perasaan kesal yang terpendam) di hati. Ketika seseorang marah, semestinya ditahan bukan dilepaskan dengan tujuan plong. Ingatlah, kesabaran itu keutamaannya sangat besar.

Wallahua’lam.

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail