BEKERJA DI RUMAH MAKAN MILIK NON MUSLIM SELAMA RAMADAN

Pertanyaan:

Bismillah, ‘Afwan ustadz mau tanya.

Jika kami bekerja di sebuah rumah makan yang pengunjungnya lebih dominan non muslim dan kami tetap masak seperti biasa pada bulan puasa ini, bagaimana sikap kami ya ustadz? Sedang pemilik rumah makan non muslim.

Jazakumullahu khairan.

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar hafizhahullah.

Pendapat yang benar adalah bahwa orang-orang kafir juga dituntut untuk mengerjakan kewajiban-kewajiban Islam, namun tentu saja mereka harus masuk Islam terlebih dahulu.

Karena tidak sah kewajiban-kewajiban tersebut selama mereka masih kafir, artinya orang-orang kafir apabila tidak masuk ke dalam Islam dan tidak mengerjakan kewajiban-kewajiban Islam, mereka tidak sekadar diazab karena kekufurannya. Namun, juga karena mereka telah meninggalkan kewajiban-kewajiban Islam di antaranya adalah berpuasa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

{مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (٤٢) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (٤٣) وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ (٤٤) وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ (٤٥) وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ (٤٦)}
[المدثر : ٤٢-٤٦]

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan.” (al-Muddatsir: 42-46)

Oleh karena itu, tidak boleh tolong-menolong dengan orang kafir ketika mereka meninggalkan kewajiban puasa.

Hendaknya antum berusaha mencari pekerjaan yang lain atau meminta uzur untuk tidak bekerja selama bulan Ramadan, dan tidak mengapa untuk kembali bekerja di sana selepas bulan Ramadan. Semoga Allah memberikan keluasan rezeki bagi antum.


وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا (٢)
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ
[الطلاق : ٢-٣]

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (ath-Thalaq: 2-3)

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

JUAL MAKANAN PADA SIANG HARI RAMADAN

Pertanyaan:

Bismillah ustadz, izin bertnya, bagaimana hukum jual makanan pada jam siang hari bulan Ramadan.

Jazakallah khairan.

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar hafizhahullah.

Semaksimal mungkin diusahakan agar tidak tolong menolong dalam perkara dosa, mungkin dengan cara tempatnya tertutup yang sangat kuat indikasi bahwa yang belanja adalah orang-orang yang mendapat uzur seperti wanita haid dan nifas, atau pada sore hari yang besar kemungkinan yang belanja adalah orang yang ingin menyiapkan bekal berbuka. Jangan di tempat dan pada waktu yang dapat membuat kaum muslimin merusak puasa mereka.

Wallahua’lam.

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

SUDAH SALAT TARAWIH BERSAMA IMAM, APAKAH BOLEH SALAT LAGI PADA AKHIR MALAM?

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum ustadz, afwan izin bertanya.

Bolehkah seseorang telah melakukan salat tarawih bersama imam pada awal malam, kemudian pada akhir malamnya dia melakukan salat lagi. Apakah bisa yang demikian?

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar hafizhahullah.

Wa’alaykassalam warahmatullah wa barakatuh.

Boleh, bilangan salat malam atau tarawih pada bulan Ramadan tidak ada batasannya, ketika Rasulullah ditanya bagaimana salat malam, beliau menjawab

صلاة الليل مثنى مثنى

“Salat malam itu dua dua.” (HR. Muslim, no. 749).

Namun, yang afdal adalah tidak lebih dari 11 rakaat berdasarkan hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata,

ما كانَ يَزِيدُفي رَمَضَانَ ولَا في غيرِهِ علَى إحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً،

“Rasulullah tidak pernah melebihi salat malamnya baik pada bulan Ramadan atau selain pada bulan Ramadan dari 11 rakaat.”
(HR. al-Bukhari, no. 3.569).

Sehingga ketika seseorang sudah menyelesaikan salat tarawih bakda isya bersama imam sampai selesai dan dia terbangun lagi pada malam hari, ingin melanjutkan salat malamnya, maka hal ini dibolehkan. Tetapi, witirnya cukup pada waktu dia bersama imam pada awal malam, tidak lagi witir karena tidak boleh dua witir dalam satu malam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لا وتران في ليلة

“Tidak boleh dua witir dalam satu malam.” (HR. an-Nasāī, ibnu Khuzaimah, dan selain keduanya. Dihasankan oleh al-Hafidz ibnu Hajar dalam Fath al-Bārī, jilid 2, hlm. 481).

Wallahua’lam.

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

APAKAH BERBEKAM MEMBATALKAN PUASA?

Pertanyaan:

Bismillah.

Semoga ustadz dan keluarga dalam keadaan sehat. Aamiin.

Mau bertanya ustadz, bagaimana hukumnya berbekam atau membekam pada saat siang hari puasa?

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar hafizhahullah.

Berbekam, menurut pendapat yang kuat, tidak membatalkan puasa berdasarkan hadis dari sahabat ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

أن النبي صلى الله عليه وسلم احتجم وهو محرم واحتجم وهو صائم

“Bahwa nabi shallallahu alaihi wa sallam berbekam dalam keadaan beliau sedang ihram dan dalam keadaan beliau sedang puasa.”
(HR. al-Bukhari, no. 1938).

Dan juga hadis dari Abu Said al-Khudri,

رخص للصائم في الحجامة والقبلة

“Telah diberi keringanan bagi yang berpuasa untuk berbekam dan mencium istrinya.” (HR. at-Thabrani, dan ad-Daraquthni disahihkan oleh al-Albani didalam al-Irwa’, no. 931).

Hadis ini menghapus hukum yang telah disebutkan di dalam hadis,

أفطر الحاجم والمحجوم

“Telah batal puasa bagi orang yang membekam dan dibekam.”
(Disahihkan oleh syekh al-Albani di dalam al-Irwa’, no. 931).

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata,

فالحديث بهذه الطرق صحيح لا شكفيه , وهو نص فى النسخ , فوجب الأخذ به كما سبق عن ابن حزم رحمه الله

“Hadis yang menyebutkan tentang keringan bagi yang berpuasa untuk berbekam dengan dikumpulkan jalur-jalur periwayatannya adalah hadis yang shahih. Dan hadis tersebut menghapus hukum hadis yang menyebutkan batalnya puasa orang yang membekam dan dibekam. Maka wajib untuk beramal dengan hadis yang menghapus ini sebagaimana penjelasan ibnu Hazm yang telah lalu.” (al-Irwā’, no. 931).

Jika kondisi lemah pada siang hari sebaiknya tidak berbekam. Dan berbekam pada malam hari berdasarkan riwayat yang diceritakan oleh Tsabit al-Bunani rahimahullah beliau berkata,

سُئِلَ أنَسُ بنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عنْه: أكُنْتُمْ تَكْرَهُونَ الحِجَامَةَ لِلصَّائِمِ؟ قالَ: لَا، إلَّا مِن أجْلِ الضَّعْفِ

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya, ‘Apakah kalian (yakni pada zaman Nabi) tidak menyukai berbekam bagi orang yang berpuasa?’ Beliau menjawab, ‘Tidak kecuali dalam kondisi lemah.'”
(HR. al-Bukhari, no. 1940).

Dari penjelasan ini semua, menjadi jelas bahwa berbekam tidak membatalkan puasa. Tetapi, jika seseorang dalam kondisi lemah pada siang hari, sebaiknya dia berbekam pada malam hari.

Wallahua’lam

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

APAKAH TES SWAB MEMBATALKAN PUASA?

Pertanyaan:

Bismillah.

Afwan ustadz hafizhahumullah. Bagaimana hukumnya swab saat puasa?

Jazakallahu khairan.

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar hafizhahullah.

Telah ditanyakan pertanyaan ini kepada syekh Salim Bamuhriz hafizhahullah dengan pertanyaan,

Syaikhana semoga Allah menjaga anda, apakah tes swab membatalkan puasa?

Beliau menjawab:

“Yang nampak bagiku bahwa hal itu tidak membatalkan puasa. Semoga Allah memberkahimu.”

Sumber: https://bit.ly/3wKVHxf

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

MEMBAWA HP KE KAMAR MANDI YANG ADA DI DALAMNYA APLIKASI AL-QUR’AN

Pertanyaan:

Bismillah.
Assalamualaikum, afwan ustadz izin bertanya.

Apakah boleh membawa HP ke kamar mandi yang terdapat di dalamnya ayat al-Qur’an?

Jazakumullahu khairan.

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar hafizhahullah.
Wa’alaykassalam wa rahmatullah wa barakatuh.

Hal ini telah dijawab oleh syekh Abdul Aziz ‘Alu asy-Syaikh. Beliau berkata,

إن كان الجوال مغلقاً غير مفتوح فلا مانع كالشريط فقط ، أما إن كان الجوال مفتوحاً فلا يصلح ، لأن القرآن لا يليق أن يقرأ في دورة المياه ، لكن إن كان مغلقاً فلا مانع من ذلك

“Jika HP tersebut dalam kondisi terkunci dan tidak terbuka, maka tidak mengapa, hal ini hanya seperti kaset. Adapun jika hp tersebut terbuka, maka tidak semestinya karena al-Qur’an tidak pantas dibaca di kamar kecil. Tetapi, jika dalam kondisi terkunci tidak mengapa.”

Sumber: https://mufti.af.org.sa/ar/content

Jadi kesimpulannya kalau mau membawa HP yang ada mushaf atau zikir di dalamnya, hendaknya dikunci dan tidak dibuka aplikasi yang ada zikir-zikirnya.

Wallahua’lam

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

BETAPA BESAR MANFAAT SAHUR

بسم الله الرحمن الرحيم

BETAPA BESAR MANFAAT SAHUR

Tanya jawab bersama Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah.

Pertanyaan:

Apa yang dimaksud dengan keberkahan sahur yang disebutkan di dalam hadis?

Jawaban:

Yang dimaksud adalah keberkahan secara syariat dan fisik. Secara syariat di antaranya sebagai bentuk pengamalan terhadap perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencontoh beliau. Adapun secara fisik di antaranya adalah menambah nutrisi dan kekuatan bagi tubuh dalam menjalankan puasa.

Teks Arab:

السؤال: ما المراد ببركة السحور المذكورة في الحديث؟

فأجاب فضيلته بقوله: بركة السحور المراد بها البركة الشرعية والبركة البدنية أما البركة الشرعية فمنها امتثال أمر الرسول والاقتداء به صلى الله عليه وسلم وأما البركة البدنية فمنها تغذية البدن وقوته على الصيام.

Sumber: Majmu‘ Fatawa wa Rasa’il al-‘Utsaimin, Jilid 19, hlm. 362.

Alih Bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

CARA BERISTIGFAR UNTUK ORANG TUA YANG SUDAH MENINGGAL

CARA BERISTIGFAR UNTUK ORANG TUA YANG SUDAH MENINGGAL

Pertanyaan:

Bismillah.
Assalamu’alaikum ustadz hafizhakallah. Ana mau bertanya, bagaimana bacaan istigfar untuk orang tua yang sudah meninggal?

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail ‘Abdurrahman Ibnu ‘Umar hafizhahullah.

Mendoakan ampunan teruntuk orang tua yang telah meninggal merupakan amalan yang dianjurkan. Semestinya bagi kita semua untuk selalu mendoakan ampunan teruntuk kedua orang tua kita yang muslim, terlebih lagi jika mereka sudah meninggal dunia karena hal itu sangat bermanfaat bagi mereka.

Untuk lafaznya bisa dengan kalimat Allaahummaghfir liy waliwaalidayya (Ya Allah ampunilah aku dan kedua orang tuaku) atau Allaahummaghfirlahumaa (Ya Allah ampunilah mereka berdua) dan doa-doa yang semisal ini yang ditujukan kepada mereka.

Adapun seseorang beristigfar dengan mengucapkan astaghfirullah kemudian pahalanya untuk si mayit, maka ini adalah amalan yang tidak ada asalnya dalam agama Islam. Syekh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah berkata,

التبرع بالاستغفار وتثويبه له ليس بمشروع، لكن الدعاء، تقول: اللهم اغفر له. أما أن تستغفر لنفسه، وتقول: اللهم اجعل ثوابه له فهذا لا أصل له.

“Memberikan bacaan istigfar dan pahalanya untuk simayit tidak disyariatkan. Namun, hendaknya dia membaca doa (semisal) Allaahummaghfirlahu. Adapun seseorang beristigfar untuk dirinya kemudian berdoa, Ya Allah berikanlah pahalanya untuk dia, maka ini adalah amalan yang tidak ada asalnya dalam Islam.” (Fatāwā Nūrun ‘alā ad-Darb, jilid 14, hlm. 284).

Wallahua’lam.

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

KENAPA SURAH AT-TAUBAH TIDAK DIAWALI DENGAN BASMALLAH?

KENAPA SURAH AT-TAUBAH TIDAK DIAWALI DENGAN BASMALLAH?

Pertanyaan

Bismillah afwan ustadz ijin tanya, kenapa di surah At-Taubah tidak ada basmallah nya yaa

jazakallahu khairan ustadz

Jawaban

Oleh al-Ustadz Abu Ahmad hafizhahullah

Untuk alasan pastinya tentu Allah yang lebih tahu kenapa Surat At-Taubah tidak didahului dengan basmalah, namun para ulama berusaha untuk menyebutkan hikmah nya di antaranya bahwa surat at-taubah نزلت بالسيف (turun dengan membawa pedang), di mana makna yang terkandung di dalam surat at-Taubah adalah mengenai sikap berlepas diri dan pernyataan peperangan kepada kaum musyrikin, ini berlawanan dengan makna basmalah yang mengandung rahmah (kasih sayang).

Ada pula diantara ulama yang menyebutkan bahwa Surat At-Taubah adalah bagian dari surat sebelumnya yaitu surat al-Anfal dengan bukti bahwa tema yang dibahas masih sama yaitu mengenai perang. Karena masih dalam satu surat yang sama maka tidak diawali dengan basmalah

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

UZUR TIDAK SALAT BERJAMAAH DI MASJID KARENA MAYORITAS JAMAAH MASJID TERSEBUT BELUM MENERAPKAN PROTOKOL KESEHATAN

UZUR TIDAK SALAT BERJAMAAH DI MASJID KARENA MAYORITAS JAMAAH MASJID TERSEBUT BELUM MENERAPKAN PROTOKOL KESEHATAN

Pertanyaan:

Bismillah.
Izin bertanya ustadz. Pemerintah sudah membolehkan untuk melakukan salat berjamaah di masjid sesuai dengan menerapkan protokol kesehatan.

Namun, di masjid tempat tinggal kami, orang atau jamaahnya hampir semua belum menerapkan protokol kesehatan seperti tidak menggunkakan masker, jarak tidak sampai 1 meter, dan tidak ada tempat cuci tangan di depan pintu masjid.

Pertanyaan ana, apakah jika ana tidak ikut berjamaah di masjid masih termasuk uzur karena khawatir?

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail ‘Abdurrahman Ibnu ‘Umar hafizhahullah.

Jika di masjid tersebut belum menerapkan protokol kesehatan, maka perasaan khawatir kita dari terkena wabah pada masa wabah sekarang ini merupakan uzur dari meninggalkan salat berjamaah.

Namun, jika di masjid tersebut sudah berupaya maksimal dalam menerapkan protokol kesehatan disertai dengan kerja sama yang baik bersama pemerintah setempat, maka sebaiknya ke masjid.

Wallahua’lam.

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail