KENAPA SURAH AT-TAUBAH TIDAK DIAWALI DENGAN BASMALLAH?

KENAPA SURAH AT-TAUBAH TIDAK DIAWALI DENGAN BASMALLAH?

Pertanyaan

Bismillah afwan ustadz ijin tanya, kenapa di surah At-Taubah tidak ada basmallah nya yaa

jazakallahu khairan ustadz

Jawaban

Oleh al-Ustadz Abu Ahmad hafizhahullah

Untuk alasan pastinya tentu Allah yang lebih tahu kenapa Surat At-Taubah tidak didahului dengan basmalah, namun para ulama berusaha untuk menyebutkan hikmah nya di antaranya bahwa surat at-taubah نزلت بالسيف (turun dengan membawa pedang), di mana makna yang terkandung di dalam surat at-Taubah adalah mengenai sikap berlepas diri dan pernyataan peperangan kepada kaum musyrikin, ini berlawanan dengan makna basmalah yang mengandung rahmah (kasih sayang).

Ada pula diantara ulama yang menyebutkan bahwa Surat At-Taubah adalah bagian dari surat sebelumnya yaitu surat al-Anfal dengan bukti bahwa tema yang dibahas masih sama yaitu mengenai perang. Karena masih dalam satu surat yang sama maka tidak diawali dengan basmalah

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

UZUR TIDAK SALAT BERJAMAAH DI MASJID KARENA MAYORITAS JAMAAH MASJID TERSEBUT BELUM MENERAPKAN PROTOKOL KESEHATAN

UZUR TIDAK SALAT BERJAMAAH DI MASJID KARENA MAYORITAS JAMAAH MASJID TERSEBUT BELUM MENERAPKAN PROTOKOL KESEHATAN

Pertanyaan:

Bismillah.
Izin bertanya ustadz. Pemerintah sudah membolehkan untuk melakukan salat berjamaah di masjid sesuai dengan menerapkan protokol kesehatan.

Namun, di masjid tempat tinggal kami, orang atau jamaahnya hampir semua belum menerapkan protokol kesehatan seperti tidak menggunkakan masker, jarak tidak sampai 1 meter, dan tidak ada tempat cuci tangan di depan pintu masjid.

Pertanyaan ana, apakah jika ana tidak ikut berjamaah di masjid masih termasuk uzur karena khawatir?

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail ‘Abdurrahman Ibnu ‘Umar hafizhahullah.

Jika di masjid tersebut belum menerapkan protokol kesehatan, maka perasaan khawatir kita dari terkena wabah pada masa wabah sekarang ini merupakan uzur dari meninggalkan salat berjamaah.

Namun, jika di masjid tersebut sudah berupaya maksimal dalam menerapkan protokol kesehatan disertai dengan kerja sama yang baik bersama pemerintah setempat, maka sebaiknya ke masjid.

Wallahua’lam.

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

HUKUM SALAT DI MASJID YANG BAGIAN SAMPINGNYA TERDAPAT KUBURAN YANG DIBATASI DINDING

HUKUM SALAT DI MASJID YANG BAGIAN SAMPINGNYA TERDAPAT KUBURAN YANG DIBATASI DINDING

Pertanyaan:

Bismilah.

Afwan ustadz, apa hukumnya salat di masjid yang di bagian samping agak belakang sisi masjid ada kuburannya, hanya dibatasi dengan dinding masjid?

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail ‘Abdurrahman Ibnu ‘Umar hafizhahullah.

Jika kuburan tersebut di luar kawasan masjid, maka tidak menjadi masalah, salatnya sah. Jika kuburan tersebut di dalam masjid, maka dalam hal ini ada dua keadaan:

  1. Jika masjid tersebut lebih dahulu dibangun, maka salat didalamnya tetap sah, kecuali apabila kuburan tersebut berada ke arah kiblat maka tidak sah salat menghadapnya karena di dalam Shahih Muslim dari Abu Martsad al-Ghanawi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاتجلسوا على القبور ولاتصلوا إليها

“Jangan kalian duduk di atas kubur dan jangan pula kalian salat menghadapnya.”

  1. Apabila kubur tersebut lebih dahulu dibangun dari masjid, maka salat di dalamnya tidak sah di manapun letak kuburnya karena tanah tersebut adalah tanah kuburan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mendirikan bangunan di atas kubur dan menjadikannya sebagai masjid. Maka wajib bagi yang memiliki kekuasaan dari pemerintah setempat untuk memindahkan masjid tersebut ke tanah lain.

Jika ada pemisah antara masjid dengan kuburan seperti dinding atau jalan, maka salatnya tetap sah baik di depan, sebelah kanan, kiri ataupun di belakang.

Ini penjelasan syekh Ibnu Utsaimin dan ulama lainnya secara makna. Tetapi yang lebih selamat adalah meninggalkan salat di masjid tersebut yang terdapat kuburan karena tatkala seorang ahlusunah salat di sana, bisa jadi dijadikan dalil oleh orang-orang yang melakukan ibadah di sisi kubur atau yang semisalnya untuk membolehkan perbuatan mereka. Namun, jika kondisinya mendesak, maka sebagaimana rincian yang telah disebutkan tadi.

Wallahua’lam.

📃 Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
✉️ Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

HUKUM MENGANGKAT SALAH SATU TELAPAK TANGAN KETIKA SUJUD

HUKUM MENGANGKAT SALAH SATU TELAPAK TANGAN KETIKA SUJUD

Pertanyaan:

Bismillah.
Afwan ustadz ingin bertanya. Ketika seseorang sujud, dia mengangkat satu telapak tangannya karena ada keperluan kemudian meletakkannya ulang, apakah sujudnya batal?

Jazakumullahu khayran.

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail ‘Abdurrahman Ibnu ‘Umar hafizhahullah.

Di dalam hadis sahih disebutkan,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ وَلَا نَكْفِتَ الثِّيَابَ وَالشَّعَرَ

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku diperintahkan untuk melaksanakan sujud dengan tujuh tulang (anggota sujud); kening—beliau lantas memberi isyarat dengan tangannya menunjuk hidung—kedua telapak tangan, kedua lutut, ujung jari dari kedua kaki, dan tidak boleh menahan rambut atau pakaian (sehingga menghalangi anggota sujud).” (HR. al-Bukhari, no. 812).

Banyak faedah yang dapat dipetik dari hadis di atas di antaranya:

  1. Wajibnya sujud dengan menggunakan tujuh anggota tersebut karena disebutkan dengan lafaz yang bermakna perintah sehingga memberikan makna pengharusan.

Jika seseorang tidak mengamalkan sebagiannya, yakni misal dia hanya sujud dengan satu tangan sedangkan tangan satunya disembunyikan, atau dia angkat kakinya dan yang satu disentuhkan ke lantai sahkah salatnya? Jawabannya adalah salatnya batal, Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

والسجود على هذه الأعضاء السبعة واجب في كل حال السجود، بمعنى أنه لا يجوز أن يرفع عضوا من أعضائه حال سجوده، لا يدا، ولا رجلا، ولا أنفا، ولا جبهة، ولا شيئا من هذه الأعضاء السبعة. فإن فعل؛ فإن كان في جميع حال السجود فلا شك أن سجوده لا يصح؛ لأنه نقص عضوا من الأعضاء التي يجب أن يسجد عليها.

“Sujud dengan tujuh anggota ini hukumnya wajib pada setiap keadaan. Maknanya adalah tidak boleh seseorang mengangkat satu saja dari anggota-anggota sujud tersebut ketika dalam keadaan sujud, entah itu tangan, kaki, hidung, atau kening apapun bentuknya dari tujuh anggota tersebut. Jika dia lakukan dalam keadaan sujud secara sempurna, maka sujudnya tidak sah tanpa diragukan lagi karena dia telah mengurangi salah satu dari anggota-anggota yang wajib baginya untuk sujud dengannya.” (As-Syarhul Mumti’, jilid 3, hlm. 116).

Jika seseorang tidak mampu, misal tangannya hanya satu, atau telapak tangannya terluka parah?

Jawabannya adalah bertakwa kepada Allah sesuai kemampuan karena hal ini di luar kesanggupannya, Allah ta’ala berfirman,

{فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ } [التغابن: 16]

“Maka bertakwalah kepada Allah sesuai (batas) kemampuan kalian.” (at-Taghabun: 16).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُم

“Apabila aku perintahkan kalian terhadap suatu perkara maka tunaikanlah semampu kalian.” (HR. al-Bukhari, no. 7288).

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

فإذا قدر أن إحدى يديه جريحة، لا يستطيع أن يسجد عليها، فليسجد على بقية الأعضاء؛ لقوله تعالى: {فاتقوا الله ما استطعتم} [التغابن: ١٦]

“Apabila telah ditakdirkan salah satu dari tangannya terluka, dia tidak mampu sujud dengannya, maka hendaknya dia sujud semampunya dengan sebagian anggota sujud yang dia mampu berdasarkan firman Allah,

‘Hendaknya kalian bertakwa sesuai dengan kemampuan kalian.’.” (As-Syarhul Mumti’, jilid 3, hlm.117).

Bagaimana jika seseorang berkeinginan menggarut salah satu anggota tubuhnya?

Semestinya yang seperti ini dihindari, hal ini lebih selamat, hendaknya dia bersabar sampai pindah keadaannya dari sujud.

Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menerangkan,

وأما إن كان في أثناء السجود؛ بمعنى أن رجلا حكته رجله مثلا فحكها بالرجل الأخرى فهذا محل نظر، قد يقال: إنها لا تصح صلاته لأنه ترك هذا الركن في بعض السجود.
وقد يقال: إنه يجزئه لأن العبرة بالأعم والأكثر، فإذا كان الأعم والأكثر أنه ساجد على الأعضاء السبعة أجزأه، وعلى هذا فيكون الاحتياط: ألا يرفع شيئا وليصبر حتى لو أصابته حكة في يده مثلا، أو في فخذه، أو في رجله فليصبر حتى يقوم من السجود.

“Adapun apabila di pertengahan sujud seseorang ingin menggarut kakinya sebagai contoh. Dia garut dengan kakinya yang berada di samping, maka hal ini perlu ditinjau. Bisa jadi dikatakan, ‘Salatnya tidak sah karena dia telah meninggalkan rukun ini ketika sujud.’ Dan terkadang bisa dikatakan, ‘Salatnya tetap sah karena yang dijadikan tolok ukur adalah keumuman, apabila secara umum dan kebanyakan dia sujud dengan tujuh anggota ini maka tetap sah.’

Atas dasar ini sebaiknya untuk kehati-hatian jangan dia mengangkat sedikit pun dari tujuh anggota tersebut saat sujud! Hendaknya dia bersabar! Sekalipun dia merasakan gatal di tangan, paha, atau kakinya sebagai contoh. Maka hendaknya dia bersabar sampai berdiri dari sujud.” (Asy-Syarhul Mumti’, jilid 3, hlm. 116).

  1. Sujud wanita sama dengan sujud laki-laki berdasarkan keumuman hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik dengan lafaz di atas ataupun dengan lafaz lain.”

Barakallahu fiykum.

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

HUKUM MENYIMPAN UANG DI BANK

HUKUM MENYIMPAN UANG DI BANK

Pertanyaan:

Bismillah.
Assalamu’alaikum.
Ana mau tanya, apa hukum menyimpan atau menabung di bank seperti BCA, BRI, Mandiri, dan BNI? Apakah haram? Kalau itu haram, jika hendak menyimpan atau menabung hendaknya melalui bank apa ya?

Jazakallah khairan, barakallahfiikum.

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Ahmad hafizhahullah.

Hukum asal menyimpan di bank yang mengandung riba adalah haram, karena mengandung unsur ta’awwun (tolong menolong) atas perbuatan dosa yang mereka perbuat. Hanya saja ketika seorang merasa khawatir terhadap hartanya apabila disimpan sendiri akan hilang, dicuri, dirampok, dan sebagainya, maka dalam kondisi seperti ini ada keringanan untuk menyimpan harta di bank ribawi selama tidak mengambil bunganya.

Kalau tidak ada kekhawatiran tersebut, maka kembali kepada hukum asalnya, yaitu haram. Hendaknya disimpan sendiri atau diamanahkan kepada seseorang yang terpercaya.

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

CELANA TERKENA KENCING, SAHKAH SALATNYA?

CELANA TERKENA KENCING, SAHKAH SALATNYA?

Pertanyaan:

Bismillah.
Assalamu’alaikum ustadz sekalian, afwan izin bertanya. Jika celana kita tidak sengaja terkena air kencing sementara kita mau salat fardu pada saat itu juga. Bagaimana cara yang tepat dalam menangani hal yang seperti ini?

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Sholeh al-Maydaniy hafizhahullah.

Wa’alaikumsalam.

Hendaknya celana yang terkena kencing diganti, kemudian setelah itu baru salat, karena menghilangkan najis di pakaian, badan, dan tempat (yang digunakan untuk salat) merupakan syarat sahnya salat. Jika ditinggalkan syarat tersebut, maka tidak sah salatnya.

Wallahua’lam.

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

SALAT HANYA DENGAN GERAKAN DAN TIDAK MEMBACA, APAKAH BOLEH?

SALAT HANYA DENGAN GERAKAN DAN TIDAK MEMBACA, APAKAH BOLEH?

Pertanyaan

Bismillah,

Afwan mohon bimbingan.. seorang dia sudah mulai mau salat berjamaah di masjid namun sepertinya dalam salat hanya gerakannya saja sementara bacaanya tidak bisa karena dia tidak bisa bicara (bisu), tidak bisa baca tulis. Apakah salatnya di terima ustadz?

Jawaban

Oleh: al-Ustadz Abu Fudhail ‘Abdurrahman Ibnu ‘Umar hafizhahullah

Dipastikan dulu apakah memang benar demikian, kalau dia bisu tapi bisa baca, maka dia membaca sesuai kesanggupannya yaitu didalam hatinya, kalau memang sebagaimana yang disebutkan maka dia termasuk dari orang yang mendapat keringanan.

Wallahua’lam.

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

HUKUM MENGUCAPKAN ISTIRJA’ UNTUK NONMUSLIM YANG MENINGGAL

HUKUM MENGUCAPKAN ISTIRJA’ UNTUK NONMUSLIM YANG MENINGGAL

Pertanyaan:

Bismillah.
Afwan ustadz. Apakah boleh mengucapkan kalimat istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) untuk nonmuslim yang meninggal?

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Sholeh al-Maydaniy hafizhahullah.

Boleh kita mengucapkan,

“إنا لله وإنا إليه راجعون”

Jika orang kafir meninggal, karena semua kita akan kembali kepada Allah. Yang tidak boleh adalah mendoakan mereka, memintakan ampunan untuk mereka, dan bersedekah atas nama mereka, jika telah meninggal dunia. (Fatwa Syaikh Bin Baz)

Wallahua’lam.

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

SUAMI ISTRI BERSENTUHAN, BATALKAH WUDUNYA?

SUAMI ISTRI BERSENTUHAN, BATALKAH WUDUNYA?

Pertanyaan:

Bismilah.
Ustadz ana izin bertanya. Apabila kita dalam keadaan berwudu mau melakukan salat wajib dan bersentuan suami istri, yang demikian itu membatalkan wudu atau tidak?

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail ‘Abdurrahman Ibnu ‘Umar hafizhahullah.

Tidak ada dalil yang sahih dan jelas yang menyatakan menyentuh wanita membatalkan wudu. Pendapat yang benar adalah menyentuh wanita tidak membatalkan wudu.

Wallahua’lam.

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

HUKUM MEMAKAI BAJU ATAU JUBAH WARNA MERAH

HUKUM MEMAKAI BAJU ATAU JUBAH WARNA MERAH

Pertanyaan:

Bismillahirrahmanirrahiim.
Ustadz, ana ingin menanyakan hukum memakai baju atau jubah berwarna merah?

Jazakumulllahu khairan ya ustadz.

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail ‘Abdurrahman Ibnu Umar hafizhahullah.

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang mengenakan pakaian berwarna merah, di antara mereka ada yang melarang secara mutlak, ada yang merinci bahwa yang dilarang tersebut adalah yang murni merah tanpa ada campuran dan ada yang membolehkan. Pendapat yang kuat wal’ilmu ‘indallah adalah boleh karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengenakan pakaian merah, dalilnya adalah hadis yang disebutkan di dalam Shahih al-Bukhari no. 3.551.

عن البراء بن عازب رضي الله عنه قال: “كان النبي صلى الله عليه وسلم مربوعاً بعيد ما بين المنكبين، له شعر يبلغ شحمة أذنه، رأيته في حلة حمراء لم أر شيئاً قط أحسن منه”،

“Dari al-Barra’ ibnu Azib radhiyallahu anhu berkata, ‘Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah seorang yang berbadan sedang, kedua bahunya bidang sedangkan rambutnya sampai menyentuh daun telinganya. Aku melihat beliau mengenakan pakaian merah, belum pernah aku melihat seorang sama sekali yang lebih tampan dari beliau.”

Dan disebutkan di dalam Sunan Abi Dawud, hadis dari Hilal bin Amir dari ayahnya,

رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يخطب بمنى على بعير وعليه برد أحمر وإسناده حسن

“Aku melihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam di Mina berkhotbah di atas untanya dan beliau mengenakan pakaian merah.”

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata,

“Hadis ini sanadnya hasan.” (Fath al-Bārī, jilid 10, hlm. 305.).

Adapun hadis,

مرَّ علَى النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ رجلٌ عليهِ ثوبانِ
أحمرانِ فسلَّمَ عليهِ فلم يردَّعليهِ النَّبيُّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpapasan dengan seseorang yang padanya terdapat dua baju yang berwarna merah, orang itu mengucapkan salam kepada beliau dan disebabkan hal itu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjawab salamnya.”

Hadis ini dinyatakan daif (lemah) oleh Syekh al-Albani di dalam Dha’if Abi Dawud, no. 4.069.

Adapun hadis,

إنَّ الحُمرةَ مِن زينةِ الشَّيطانِ ، وإنَّ الشَّيطانَ يحبُّ الحُمرةَ

“Sesungguhnya warna merah adalah perhiasan setan dan setan menyukai warna merah.”

Hadis ini dikeluarkan oleh Abdurrazaq, no. 19.965 dari Ma’mar, dari seorang laki-laki, dari al-Hasan. Akan tetapi, hadis ini mursal, tidak sampai kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam disebutkan oleh Syekh al-Albani di dalam adh-Dha’ifah, no 4.331.

Oleh karena itu, asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz berkata,

الذي يظهر أن لِبس الأحمر جائز؛ لأنها أصح، أحاديث لِبس الأحمر أصح وأثْبَت.

“Yang nampak adalah bahwa mengenakan pakaian merah adalah boleh karena hadis-hadisnya lebih sahih. Hadis-hadis yang menyebutkan tentang bolehnya berpakaian merah lebih sahih dan lebih kuat.” (Fatāwā ad-Durūs).

https://binbaz.org.sa/fatwas

Wallahua’lam

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail