BAGAIMANA CARA PEMBAGIAN WARISAN UNTUK IBU

BAGAIMANA CARA PEMBAGIAN WARISAN UNTUK IBU

Pertanyaan

Bismillah.
Seorang ibu mempunyai harta warisan 50 juta (hanya punya ibu, bapak sudah meninggal), beliau memiliki 2 anak laki-laki dan 6 anak perempuan. Afwan ustadz bagaimana cara pembagian warisnya Jazakumullohukhoiron.

Jawaban

Oleh al-Ustadz Abu Ahmad Purwokerto hafizhahullah

Ibu dari yang meninggal dapat seperenam dari 50 jt, sisanya (5/6) dibagi antara anak-anak, anak laki-laki mendapat dua kali bagian anak perempuan.

Berarti 5/6 tersebut dibagi 10 bagian (4 bagian untuk 2 anak laki-laki dan 6 bagian untuk 6 anak perempuan), masing-masing bagian = 5/60 atau sama dengan 1/12, anak perempuan dapat 1 bagian (1/12) anak laki-laki dapat dua bagian (2/12=1/6)

Kesimpulannya pada kasus yang disebutkan ibu mendapatkan 8.333.333.

Anak-anak laki-laki masing-masing mendapatkan 8.333.333 juga.

Anak-anak perempuan masing-masing mendapatkan setengahnya 4.166.666.

Pembulatannya sesuai kesepakatan saja.

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

BERPUASA PADA TANGGAL 11 MUHARAM

Pertanyaan:

Bismillah.
Assalamu’alaikum. Afwan ustadz, izin bertanya. Apakah boleh jika kita berpuasa pada tanggal 10 Muharam, kemudian berpuasa pula tanggal 11 Muharam (karena terlewatkan pada tanggal 9)? Atau hanya tanggal 10 saja?

Mohon bimbingannya. Barakallahu fiikum.

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail ‘Abdurrahman ibnu ‘Umar hafizhahullah.

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, pendapat yang ana lebih cenderung padanya adalah yang telah dikuatkan oleh Syekh Zakariya hafizhahullah bahwa,

“Cukup puasa tanggal 10 saja bagi yang terlewatkan tanggal 9.”

Karena tidak ada dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa tanggal 11, untuk menetapkan suatu ibadah diperlukan dalil yang shahih dan jelas.

Tetapi bagaimana untuk menyelisihi kaum Yahudi?

Menyelisihi Yahudi dan Nasrani itu pada tanggal 9, bukan pada tanggal 11.

Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata,

حين صام رسول الله يوم عاشوراء وأمر بصيامه قالوا يا رسول الله إنه يوم يعظمه اليهود والنصارى فقال رسول الله فإذا كان العام المقبل إن شاء الله صمنا اليوم التاسع قال: فلم يأت العام المقبل حتى توفي رسول الله

Ketika Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam puasa pada hari Asyura dan memerintahkan untuk puasa pada hari itu, para sahabat berkata:

“Itu adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.”

Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Bila tiba tahun depan insyaallah kita akan puasa pada hari ke-9 (bulan Muharam).”

Ibnu ‘Abbas berkata:

“Namun belum sampai tahun depan kecuali Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam telah wafat terlebih dahulu.” (HR. Muslim no.1134).

Wallahua’lam

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

HUKUM UANG TIPS KEPADA KARYAWAN YANG TELAH DIGAJI OLEH PERUSAHAANYA UNTUK PEKERJAAN TERSEBUT

Pertanyaan

Bismillah izin bertanya ustadz. Bolehkah kita memberi imbalan kepada karyawan toko yang telah menyiapkan/membawakan barang belanjaan kita, sedang karyawan tersebut di gaji memang untuk pekerjaan tersebut, apakah memberi upah kepeda karyawan tersebut termasuk dalam suap? jazaakumullahu khairan

Jawaban

Oleh: al-Ustadz Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar hafizhahullah

Kalau bentuknya sekedar hadiah atau pemberian saja dari antum, maka tidak mengapa.

Pemberian dari antum kepada karyawan tersebut, tidak mengapa namun, karyawan ini berkewajiban untuk melaporkan upah yang antum berikan kepada sipemilik toko karena dia kedudukannya sebagai wakil dari pemilik toko kecuali, jika sebelumnya sudah ada pembicaraan dan izin dari pemilik toko bahwa setiap ada yang memberi, maka itu untuk dia atau sudah menjadi kebiasaan bagi pemilik toko dan karyawannya bahwa jika karyawannya diberi uang, maka itu untuknya.

Adapun hadis

هدايا العمال غلول

‘Hadiah yang diberikan kepada pekerja itu suap’

Dan hadis yang semisal ini seperti yang disebutkan dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim tentang larangan bagi pekerja untuk diberikan hadiah, maka Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah telah menjelaskan yang dimaksud adalah pegawai pemerintah silakan dengarkan penjelasan beliau
https://youtu.be/COFhVqZrCHo

Jika seseorang menjadi pekerja dalam kepemerintahan suatu proyek, dia diberi hadiah agar urusan tersebut menjadi lancar, maka ini dilarang dalam syariat karena hal ini akan membuka lebar pintu suap menyuap demikian makna dari penjelasan Syekh rahimahullah.

Wallahua’lam

Tetapi jika meragukan, apakah karyawan tersebut melaporkan itu ke pemilik toko atau tidak, maka sebaiknya ditinggalkan

Rasul shallallahu alaihi wa sallam yang mulia bersabda,

دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيْبَةٌ

“Tinggalkan perkara yang meragukanmu menuju kepada perkara yang tidak meragukanmu. Karena kejujuran itu adalah ketenangan di hati sedangkan kedustaan itu adalah keraguan.”

Hadis ini dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang shahih dishahihkan oleh banyak Imam hadis.

Wallahua’lam

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail