HAK SIAPAKAH IKAMAH ITU?

بسم الله الرحمن الرحيم

HAK SIAPAKAH IKAMAH ITU?

Saudaraku sekalian yang semoga dirahmati oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala pada kesempatan ini kita akan membahas tentang menegakkan ikamah. Mudah-mudahan dapat bermanfaat teruntuk kaum muslimin secara umum.

Disebutkan di dalam Sunan at-Tirmidzi,

بَابُ مَا جَاءَ أَنَّ الإِمَامَ أَحَقُّ بِالإِقَامَةِ

“Bab tentang imam lebih berhak terhadap ikamah.”

Kemudian al-Imam at-Tirmidzi menyebutkan hadis Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu,

كَانَ مُؤَذِّنُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُمْهِلُ فَلاَ يُقِيمُ، حَتَّى إِذَا رَأَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ خَرَجَ أَقَامَ الصَّلاَةَ حِينَ يَرَاهُ.

“Dahulu muazin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunda, tidaklah menegakkan ikamah sampai apabila melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam sungguh benar telah keluar, dia menegakkan ikamah ketika melihat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
( Sunan at-Tirmidzi, no. 202  dan dihasankan oleh at-Tirmidzi).

Dan al-Imam at-Tirmidzi pun menukil dari sebagian ulama. Beliau berkata,

وَهَكَذَا قَالَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ: إِنَّ الْمُؤَذِّنَ أَمْلَكُ بِالأَذَانِ، وَالإِمَامُ أَمْلَكُ بِالإِقَامَةِ.

“Demikianlah sebagian ulama berkata,
‘Sesungguhnya muazin lebih berhak terhadap azan sedangkan imam lebih berhak terhadap ikamah.'”
( Sunan at-Tirmidzi, no. 202  dan dihasankan oleh at-Tirmidzi).

Di dalam Shahih Muslim dari sahabat Jabir bin Samurah pula disebutkan,

كانَ بلَالٌ يُؤَذِّنُ إذَا دَحَضَتْ، فلا 

يُقِيمُ حتَّى يَخْرُجَ النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ ،فَإِذَا خَرَجَ أَقَامَ الصَّلَاةَ 

حِينَ يَرَاهُ

“Dahulu Bilal melakukan azan tatkala matahari tergelincir. Tidaklah beliau menegakkan ikamah sampai apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah keluar. Apabila beliau telah keluar, Bilal pun menegakkan ikamah tatkala melihat beliau shallallahu ‘alaihi wa salllam.”( Shahih Muslim, no. 606).

Sedangkan di dalam riwayat yang lain dari sahabat Abu Qatadah al-Harits bin Rib’ī   
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فلا تَقُومُوا حتَّى تَرَوْنِي

“Apabila ikamah telah ditegakkan, maka janganlah kalian berdiri sampai kalian melihat aku.”
( al-Bukhari, no. 637, 638  dan Muslim, no. 604).

Hadis pertama, yakni dari sahabat Jabir bin Samurah memberikan faedah bahwa tidaklah ditegakkan ikamah kecuali setelah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan hadis kedua yakni dari sahabat Abu Qatadah memberikan faedah bahwa tidaklah ditegakkan ikamah kecuali sebelum melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana menggabungkan dua hadis tersebut? Pembaca sekalian yang semoga dirahmati oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala marilah kita simak penjelasan dari ulama kita tentang hal ini. Al-Imam al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan,

وَيُجْمَعُ بَيْنَهُمَا بِأَنَّ بِلَالًا كَانَ يُرَاقِبُ وَقْتَ خُرُوجِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَوَّلَ مَا يَرَاهُ يَشْرَعُ فِي الْإِقَامَةِ قَبْلَ أَنْ يَرَاهُ غَالِبُ النَّاسِ ثُمَّ إِذَا رَأَوْهُ قَامُوا

“Kedua hadis tersebut digabungkan pemahamannya, yaitu bahwa Bilal dahulu menanti waktu keluarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Awal mula beliau melihat Rasulullah, beliau langsung memulai ikamah sebelum keumuman manusia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian tatkala mereka melihat beliau, mereka pun langsung berdiri.”    (  Tuhfah al-Ahwadzī, jilid 1, hlm. 513 )

Saudaraku yang semoga dirahmati oleh Allah, seperti inilah keadaan pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; tidaklah muazin menegakkan ikamah melainkan tatkala melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau adalah sebagai imam salat, maka atas dasar ini, imam lebih berhak terhadap ikamah dan semestinya bagi setiap masjid kaum muslimin memiliki imam tetap dalam menunaikan salat 5 waktu. Saudaraku sekalian yang semoga selalu dibimbing oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala ada beberapa permasalahan yang perlu kita bahas, mungkin hal ini terjadi pada zaman kita.

  1. JIKA IMAM BELUM TIBA DAN MUAZIN INGIN MENEGAKKAN IKAMAH, APAKAH HARUS IZIN KEPADA IMAM?

Saudaraku yang semoga selalu dirahmati oleh Allah ‘Azza wa Jalla jika kita lihat kepada hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, kita akan dapati, tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlambat, beberapa sahabat mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta izin agar segera menegakkan salat. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أَعْتَمَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ في العِشَاءِ حتَّى نَادَاهُ عُمَرُ: قدْ نَامَ النِّسَاءُ والصِّبْيَانُ، فَخَرَجَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَقَالَ: إنَّه ليسَ أحَدٌ مِن أهْلِ الأرْضِ يُصَلِّي هذِه الصَّلَاةَغَيْرُكُمْ، ولَمْ يَكُنْ أحَدٌ يَومَئذٍ يُصَلِّي غيرَ أهْلِ المَدِينَةِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan salat isya sampai Umar memanggil beliau (meminta izin untuk menegakkan salat) karena para wanita dan anak-anak yang hadir di masjid sudah tertidur, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun keluar dari rumahnya dan berkata,

‘Sesungguhnya tidak ada seorang pun dari penduduk bumi yang salat seperti ini melainkan kalian.’

Dan tidak ada seorang pun ketika itu yang salat selain penduduk Madinah.” ( al-Bukhari, no. 862).

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,

كانَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذاسَكَتَ المُؤَذِّنُ بالأُولَى 

مِن صَلاةِ الفَجْرِقامَ، فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ صَلاةِالفَجْرِ، بَعْدَ أنْ يَسْتَبِينَ الفَجْرُ، ثُمَّ اضْطَجَعَ علَى شِقِّهِ الأيْمَنِ، حتَّى يَأْتِيَهُ المُؤَذِّنُ لِلْإِقامَةِ

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila muazin telah selesai azan salat subuh, beliau pun berdiri melakukan salat dua rakaat ringan sebelum subuh. Kemudian beliau berbaring pada lambung sebelah kanannya sampai muazin mendatangi beliau meminta izin untuk menegakkan ikamah.” ( al-Bukhari, no. 626).

Bahkan, tatkala beliau sedang sakit parah pun para sahabat tetap meminta izin beliau selaku imam salat agar menegakkan ikamah untuk menunaikan salat. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha

لَمَّا مَرِضَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ

مَرَضَهُ الذي مَاتَ فيه أَتَاهُ 

بلَالٌ يُوذِنُهُ بالصَّلَاةِ، فَقالَ: مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ

“Ketika Rasulullah sakit yang mengantarkannya sampai meninggal, Bilal mendatangi beliau memberitahukan beliau tentang salat, maka beliau pun bersabda,

‘Perintahkanlah Abu Bakr untuk menjadi imam.'”( al-Bukhari, no. 712).

Atas dasar ini, para ulama menyebutkan bahwa ikamah itu tidaklah ditegakkan oleh muazin melainkan setelah mendapat izin dari imam. Al-Imam Ibnu Qudamah al-Hambali berkata,

وَلَا يُقِيمُ حَتَّى يَأْذَنَ لَهُ الْإِمَامُ، فَإِنَّ بِلَالًا كَانَ يَسْتَأْذِنُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Tidaklah muazin menegakkan ikamah sampai mendapat izin dari imam karena sesungguhnya Bilal dahulu meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Mughnī, jilid 1, hlm. 302.)  

Al-Imam an-Nawawi berkata,

قَالَ أَصْحَابُنَاوَقْتُ الْأَذَانِ مَنُوطٌ بِنَظَرِ الْمُؤَذِّنِ لَا يَحْتَاجُ فِيهِ إلَى مُرَاجَعَةِ الْإِمَامِ وَوَقْتُ الْإِقَامَةِ مَنُوطٌ بِالْإِمَامِ فَلَا يُقِيمُ الْمُؤَذِّنُ إلَّا بِإِشَارَتِهِ

“Mazhab kami (mazhab Syafi’i) berkata, ‘Waktu azan, diserahkan kepada pandangan muazin. Tidak perlu dia bertanya kepada imam. Sedangkan waktu ikamah, diserahkan kepada imam. Tidak boleh muazin menegakkan ikamah kecuali dengan isyaratnya.”  ( al-Majmū’, jilid 3, hlm. 128).

  • Apa hukumnya jika muazin mengumandangkan ikamah tanpa izin imam?

Hal ini telah diterangkan oleh syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin beliau berkata,

يجب أن نعلم أن لكلٍ من المؤذن والإمام وظيفة فوظيفة الأذان إلى المؤذن هو المسؤول عنه ووظيفة الإقامة إلى الإمام هو المسؤول عنها ولا يحل للمؤذن أن يقيم حتى يحضر الإمام وإن أقام قبل أن يحضر فمحرمٌ عليه ذلك وهو آثم ومن العلماء من يقول إن الصلاة لا تصح لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال (لا يؤم الرجل الرجل في سلطانه إلا بإذنه) والسلطان في إقامة الصلاة هو الإمام

“Wajib bagi kita untuk mengetahui bahwa bagi masing-masing dari muazin dan imam memiliki tugas. Tugas dalam mengumandangkan azan, merupakan hak muazin, sedangkan tugas  ikamah merupakan hak imam. Tidak halal bagi muazin untuk menegakkan ikamah sampai imam telah datang. Jika dia menegakkan ikamah sebelum kedatangan imam, haram hukumnya dan dia berdosa. Di antara ulama ada yang berpendapat salatnya tidak sah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Tidak boleh seorang muslim menjadi imam bagi muslim lain yang berada di wilayah kewenangannya kecuali dengan izinnya.’

Yang berwenang dalam menegakkan ikamah adalah imam salat.”

  • Bagaimana jika imam sudah mengizinkan orang lain untuk menjadi imam?

Syekh pun melanjutkan,

نعم لو أذن الإمام وقال للمؤذن متى انتهى الوقت الذي حدد فأقم الصلاة فلا بأس

“Jika imam telah mengizinkan dan berkata kepada muazin, ‘Kapan pun waktu yang telah ditentukan habis (sesuai kesepakatan), tegakkanlah ikamah, maka tidak mengapa.”
(Fatāwā Nūrun ‘Alā ad-Darb, 8/2.)

  • Apa yang harus dilakukan jika imam terlambat sampai hampir habis waktu salat?

Saudaraku yang mulia, kejadian seperti ini kadang terjadi, terlebih pada salat yang waktunya sempit dan tidak lama seperti salat subuh. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menjelaskan,

إذا تأخر الإمام حتى كادت الشمس تطلع وضاق الوقت فحينئذ يصلون ولا ينتظرونه، أما ما دام الوقت باقياً فإنهم لا يصلون حتى يحضر الإمام، لكن ينبغي للإمام أن يحدد وقتاً معيناً للناس فيقول مثلاً: إذا تأخرت عن هذا الوقت فصلوا ليكون في هذا الحال أيسر لهم وأصلح له هو أيضاً ولا يقع الناس في حرج أو ضيق

“Apabila imam terlambat sampai hampir matahari terbit dan waktunya sempit, maka dalam keadaan seperti ini, hendaknya para makmum menegakkan salat tanpa menantinya. Adapun jika waktunya masih lapang, maka tidaklah mereka salat sampai kedatangan imam. Namun, semestinya bagi imam untuk menentukan waktu tertentu bagi para jamaah seperti dia mengucapkan, ‘Apabila aku terlambat pada waktu ini, maka dirikanlah salat agar dalam keadaan ini lebih mudah bagi mereka dan lebih bermaslahat baginya juga dan dia tidak memberatkan para jamaah.” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 12, hlm. 192).

  • Bagaimana jika imam terlambat dari waktu kebiasaannya?

Jika seperti ini keadaannya terkadang banyak dari para jamaah yang merasa keberatan karena masing-masing dari mereka, tentu ada kesibukan. Maka dari itu, jika tempat tinggal imam dekat dengan masjid, maka sebaiknya ditemui dan muazin meminta izin untuk segera ditegakkan ikamah agar imam tersebut segera mengimami para jamaah kecuali jika dia memerintahkan orang lain sebagaimana penjelasan yang telah lalu, yaitu  yang terjadi pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beberapa sahabat datang menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menegakkan ikamah dan tempat tinggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdampingan dengan masjid. Jika terasa sulit mungkin karena imamnya sulit ditemui dan dihubungi atau tempat tinggalnya jauh, maka tidak mengapa menegakkan ikamah walaupun tanpa izin imam. Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman,

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidaklah membebani jiwa melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” ( al-Baqarah: 286).

Allah Ta’ala berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kesanggupan kalian.” ( at-Taghabun:16).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُم

“Apabila aku perintahkan kalian terhadap suatu perkara maka tunaikanlah semampu kalian.”
( al-Bukhari, no. 7.288).

Dewan fatwa al-Lajnah ad-Dāimah mengeluarkan fatwa,

 الأصل ألا يصلي أحد إماما بالناس في مسجد له إمام راتب إلا بإذنه؛ لأنه بمنزلة صاحب البيت، وهو أحق بالإمامة؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم «لا يؤمن الرجل الرجل في سلطانه ولا يقعد على  تكرمته إلا بإذنه  » رواه مسلم فإن تأخر عن وقته المعتاد حضوره فيه جاز أن يتقدم غيره للصلاة بالناس دفعا للحرج

“Secara asal, tidak boleh seorang pun salat menjadi imam bagi para jamaah di masjid yang memiliki imam tetap kecuali dengan izinnya karena dia kedudukannya sama dengan tuan rumah dan dia lebih berhak menjadi imam berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‘Janganlah sekali-kali seorang muslim menjadi imam bagi muslim lainnya dan jangan pula duduk di ruang tamunya kecuali telah mendapat izin darinya.’ (Muslim).

Jika dia terlambat datang dari waktu kebiasaannya, boleh bagi yang lain untuk maju menjadi imam agar para jamaah tidak merasa keberatan.”

  • Jika imam ini datang dan ternyata salat sudah dimulai, apa yang harus dia lakukan? Jawabannya adalah boleh dia mengambil alih posisi imamnya dan penggantinya mengambil posisi sebagai makmum dan boleh juga dia menjadi makmum. Dijelaskan di dalam fatwa di atas lanjutannya,

فإذا حضر الإمام الراتب فله أن يتقدم للإمامة وله أن يصلي مأموما…

 وقد تأخر النبي صلى الله عليه وسلم مرة في السفر حين ذهب ليقضي حاجته فجاء صلى الله عليه وسلم وعبد الرحمن بن عوف يصلي بالناس فأراد عبد الرحمن أن يتأخر فأشار النبي صلى الله عليه وسلم إليه أن يستمر وصلى مأموما وراء عبد الرحمن .  وتأخر مرة أخرى في المدينة ليصلح بين بني عمرو بن عوف ثم جاء وأبو بكر رضي الله عنه يصلي بالناس. فلما أحس به أبو بكر رضي الله عنه تأخر إلى الصف وتقدم النبي صلى الله عليه وسلم إماما

“Apabila imam tetap tersebut datang, boleh baginya untuk menjadi imam dan boleh juga menjadi makmum. Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terlambat pada suatu ketika dalam kondisi safar, ketika itu beliau sedang menunaikan hajatnya dan Abdurrahman bin Auf yang menjadi imam salat, ketika Nabi datang, Abdurrahman ingin mundur, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan kepadanya untuk melanjutkan salatnya, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam salat menjadi makmum Abdurrahman.  Pernah juga terjadi pada suatu ketika di Madinah, Rasulullah terlambat karena beliau sedang mendamaikan antara bani Amr bin Auf, kemudian beliau datang ke masjid untuk salat dan saat itu Abu Bakr yang menjadi imam, maka tatkala Abu Bakr merasa ada Rasulullah di belakang, Abu Bakr pun akhirnya mundur ke saf, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maju menjadi imam.”
(Fatāwā al-Lajnah, jilid 7, hlm. 418)

2. BERAPAKAH JARAK WAKTU ANTARA AZAN DAN IKAMAH?

Saudaraku yang semoga selalu diberi taufik oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala pentingnya bagi imam masjid untuk memperkirakan waktu yang tepat untuk menegakkan ikamah. Namun, adakah batasan waktu tertentu di dalam syariat tentang batasan waktu ini. Jika seseorang salat sendiri di rumah karena uzur syar’i atau seorang wanita yang salat sendiri di rumahnya, yang afdal adalah bersegera berdasarkan firman Allah Ta’ala,

فاستبقوا الخيرات

“Bersegeralah menuju kebaikan.” ( al-Baqarah: 148).

Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Abdullah bin Masud radhiyallahu ‘anhu berkata,

سَأَلْتُ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: أيُّ العَمَلِ أحَبُّ إلى اللَّهِ؟ قالَ: الصَّلَاةُ علَىوقْتِهَا قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: برُّ الوَالِدَيْنِقالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: الجِهَادُ في سَبيلِ اللَّهِ

“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah? Beliau menjawab, ‘Salat pada waktunya.’ Kemudian apa lagi, beliau menjawab, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Kemudian apa lagi, beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah.'”
(al-Bukhari, no. 5.970  dan Muslim, no. 85).

Adapun jika berjamaah di masjid, seorang imam mesti memperkirakan waktu. Al-Imam al-Bukhari di dalam Shahihnya di dalam kitab al-Adzaan menyebutkan bab,

كم بين الأذان والإقامة

“Berapa jarak waktu antara azan dan ikamah.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan,

وَلَعَلَّهُ أَشَارَ بِذَلِكَ إِلَى مَارُوِيَ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ 

وَسلم قَالَ لِبِلَالٍ اجْعَلْ بَيْنَ أَذَانِكَ وَإِقَامَتِكَ قَدْرَ مَايَفْرُغُ الْآكِلُ مِنْ أَكْلِهِ وَالشَّارِبُ مِنْ شُرْبِهِ وَالْمُعْتَصِرُ إِذَا دَخَلَ لِقَضَاءِ حَاجَتِهِ أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ لَكِنْ إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ وَلَهُ شَاهِدٌ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَمِنْ حَدِيثِ سَلْمَانَ أَخْرَجَهُمَا أَبُو الشَّيْخِ وَمِنْ حَدِيثِ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَخْرَجَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ فِي زِيَادَاتِ الْمُسْنَدِ وَكُلُّهَا وَاهِيَةٌ فَكَأَنَّهُ أَشَارَ إِلَى أَنَّ التَّقْدِيرَ بِذَلِكَ لَمْ يثبت وَقَالَ ابن بَطَّالٍ لَا حَدَّ لِذَلِكَ غَيْرَ تَمَكُّنِ دُخُولِ الْوَقْتِ وَاجْتِمَاعِ الْمُصَلِّينَ

“Bisa jadi beliau mengisyaratkan kepada yang telah diriwayatkan dari Jabir bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal,

‘Jadikanlah antara azan dan ikamahmu seukuran orang yang makan selesai dari makannya dan orang yang minum selesai dari minumnya serta orang yang telah membuang hajat apabila menunaikan hajatnya.’

Hadis ini dikeluarkan oleh at-Tidmidzi dan al-Hakim namun sanadnya lemah dan ada penguatnya, yaitu hadis dari sahabat Abu Hurairah dan Salman yang dikeluarkan oleh Abu asy-Syaikh serta dari sahabat Ubay bin Ka’ab yang dikeluarkan oleh Abdullah bin Ahmad di dalam Ziyaadaah al-Musnad dan semua riwayatnya lemah. Seakan-akan al-Imam al-Bukhari mengisyaratkan bahwa hadis yang menyebutkan dengan ukuran waktu tersebut tidak shahih. Ibnu Bathal berkata,

‘Tidak ada batasan dalam hal ini. Hanya saja yang menjadi tolok ukurnya adalah masuknya waktu dan para jamaah salat yang sudah berkumpul.'” ( Fath al-Bārī, jilid 2, hlm. 106 ).

Kesimpulan dari penjelasan di atas, tidak ada dalil yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang batasan waktu terkait hal ini. Hanya saja yang dilakukan imam adalah dengan memperkirakan waktu yang tepat untuk memerintahkan muazin menegakkan ikamah.

  • Bolehkah menggunakan timer untuk digunakan sebagai batasan jarak antara azan dan ikamah?

Saudaraku yang semoga selalu dibimbing oleh Allah, dalam hal ini dikembalikan kepada keputusan imam, jika imam memandang perlu, tidak mengapa dan jika tidak, maka tidak. Syekh Abdul Aziz ibnu Baz pernah ditanya tentang hal ini dan beliau menjelaskan,

إن رأى الإمام ذلك للمصلحة لا حرج

“Apabila imam memandang hal itu diperlukan karena ada maslahatnya, maka tidak mengapa.”
( Masāil al-Imām Ibnu Baz, 1/70).

3. IMAM MASJID ITU SEBAGAI TUAN RUMAH.

Saudaraku yang semoga selalu diberi petunjuk oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala, sungguh telah disebutkan oleh para ulama kriteria yang lebih utama untuk menjadi imam salat namun, ini tidak masuk dalam pembahasan kita. Pembahasan kita kali ini berkaitan tentang seseorang yang telah ditetapkan sebagai imam tetap di suatu masjid, maka dialah tuan rumah di masjid tersebut dan yang paling berhak menjadi imam. Al-Imam an-Nawawi berkata,

قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ مَعْنَاهُ مَا ذَكَرَهُ أَصْحَابُنَا وَغَيْرُهُمْ أَنَّ صَاحِبَ الْبَيْتِ

وَالْمَجْلِسِ وَإِمَامَ الْمَسْجِدِ أَحَقُّ مِنْ غَيْرِهِ وَإِنْ كَانَ ذَلِكَ الْغَيْرُ أَفْقَهَ وَأَقْرَأَ وَأَوْرَعَ وَأَفْضَلَ مِنْهُ 

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Janganlah seseorang menjadi imam bagi orang lain di tempat kekuasaannya.’ Maknanya adalah sebagaimana yang telah disebutkan oleh ulama dari mazhab kami (Syafi’i) dan yang lainnya, ‘Tuan rumah dan pemimpin majelis serta imam masjid lebih berhak dari selainnya. Meskipun orang lain tersebut lebih fakih, lebih hafal, lebih wara’, dan lebih utama darinya.”
( Syarh Shahih Muslim, jilid 5, hlm. 173).

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

وَإِمَامُ الْمَسْجِدِ الرَّاتِبُ أَوْلَى مِنْ غَيْرِهِ؛ لِأَنَّهُ فِي مَعْنَى صَاحِبِ الْبَيْتِ وَالسُّلْطَانِ

“Imam masjid tetap lebih berhak dibandingkan yang lain karena dia tuan rumah dan penguasa di tempatnya.”
( al-Mughni, jilid 2, hlm. 151).

  • Bagaimanakah cara imam memberi izin kepada yang lain untuk mengimami salat?

Saudaraku sekalian, sudah kita lalui pembahasan ini. Dan pada kesempatan ini, insya Allah akan kita perjelas lagi bahwa izin dari imam agar orang lain menggantikannya dengan dua cara; izin secara umum dan izin secara khusus. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan ,

إلا بإذنه أي: إلاَّ إذا وَكَّلَهُ توكيلاً خاصًّا أو توكيلاً عاماً. فالتوكيل الخاص: أن يقول: يا فلان صَلِّ بالناس، والتوكيل العام أن يقول للجماعة: إذا تأخَّرتُ عن موعدِ الإقامةِ المعتادِ كذا وكذا فصلُّوا.

“‘Kecuali dengan izinnya,’ maknanya adalah kecuali jika dia mewakilkan kepada seseorang secara khusus atau secara umum. Secara khusus seperti dia berkata, ‘Wahai polan, imamilah para jamaah!’ Secara umum seperti dia berkata kepada para jamaah, ‘Apabila aku terlambat dari waktu ikamah yang biasanya, maka salatlah kalian!” ( asy-Syarhul Mumti’, jilid 4, hlm. 153-154). 

  • Sahkah salat, jika imamnya tidak mendapat izin dari imam tetap?

Para pembaca sekalian, telah kita lewati hadis,

لا يؤم الرجل الرجل في سلطانه إلا بإذنه

“Janganlah seorang muslim mengimami muslim lainnya di wilayah wewenangnya kecuali dengan izinnya.”

Hadis ini merupakan hadis yang shahih diriwayatkan oleh al-Imam Muslim di dalam Shahihnya dengan lafaz,

ولا يؤمنَّ الرجل الرجل في سلطانه ولا يقعد في بيته على تكرمته إلا بإذنه

“… dan janganlah seorang muslim mengimami muslim lainnya yang di daerah wewenangnya, dan jangan pula duduk di ruang tamunya kecuali telah mendapatkan izin darinya.” ( Muslim no. 673).

Adapun terkait tentang sahkah salat orang yang seperti ini keadaannya. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan,

في هذا لأهلِ العِلمِ قولان:

القول الأول: أنَّ الصَّلاة تصحُّ مع الإثم.

القول الثاني: أنهم آثمون، ولا تصحُّ صلاتُهم، ويجبُ عليهم أن يُعيدُوها.

والرَّاجح القول الأول: لأنَّ تحريمَ الصَّلاةِ بدون إذن الإمام أو عُذره ظاهرٌ من الحديثِ والتعليل، وأما صِحةُ الصلاةِ؛ فالأصلُ الصحةُ حتى يقومَ دليلٌ على الفسادِ

“Dalam hal ini ada dua pendapat di kalangan ulama:

1. Salatnya sah disertai dosa.

2. Mereka berdosa, salatnya tidak sah dan wajib mengulangi salatnya.

Pendapat yang kuat adalah pendapat pertama karena pengharaman mengimami tanpa izin dan uzur imam itulah yang nampak dari hadis dan sebab hukum pada hadis tersebut. Adapun salatnya, secara asal sah sampai ada dalil yang menyebutkan bahwa salatnya tidak sah.”
( asy-Syarhul Mumti’, jilid 4, hlm. 153).

Namun, sebagaimana penjelasan yang telah lalu, hendaknya kita lebih berhati-hati dan tidak memberanikan diri menjadi iman di tempat yang bukan kewenangan kita kecuali dengan izin dari tuan rumah.

Semoga manfaatnya bisa tersebar luas kepada segenap kaum muslimin. Mohon mohon maaf atas segala kekurangan dan jazaakumullahu khairan kepada semua pihak yang telah membantu penyebaran artikel ini.

Baturaja, 27  Agustus 2021  bertepatan dengan, 18  al-Muharram 1443 Hijriah.

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *