HAL YANG BERKAITAN TENTANG PENYEMBELIHAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Pembahasan tentang penyembelihan ini lebih umum karena mencakup hewan kurban, akikah, dan lain sebagainya yang di dalam kitab-kitab fikih kerap disebut dengan sebutan dzakah. Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menerangkan,

الذكاة نحر الحيوان البري الحلال أو ذبحه أو جرحه في أي موضع من بدنه فالنحر للإبل والذبح لما سواها والجرح لكل ما لا يقدر عليه إلا به من أبل وغيرها

“Dzakah maknanya menjagal hewan darat yang halal; menyembelihnya atau melukainya di bagian mana pun dari tubuhnya. Karena itu, menjagal pada unta dengan melakukan nahr, pada hewan yang lainnya dengan menyembelih, dan pada hewan yang tidak bisa dijagal kecuali dengan melukai maka dengan melukai, baik unta maupun yang lainnya.” (Ahkam al-Udhhiyyah, Jilid 2, hlm. 259).

Masalah Pertama: Cara Melakukan Nahr pada Unta.

Bagaimana tata cara melakukan nahr pada unta? Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan,

المستحب في الإبل النحر، وهو قطع اللبة أسفل العنق

“Perkara disunahkan pada unta adalah nahr, yakni dengan cara memotong labah, yaitu (tempat kalung) bagian bawah leher.” (Raudhah ath-Thalibin, Jilid 3, hlm. 206).

Beliau pun menerangkan tata caranya,

فيستحب نحر الإبل وهي قائمة معقولة اليد اليسرى صح في سنن أبي داود عن جابر رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه كانوا ينحرون البدنة معقولة اليسرى قائمة على ما بقي من قوائمها إسناده على شرط مسلم

“Disunahkan melakukan nahr pada unta dalam keadaan unta tersebut berdiri dan kaki depan sebelah kiri diikat. Telah sahih riwayat di dalam sunan Abu Dawud dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya melakukan nahr pada unta, kaki depan sebelah kirinya diikat, dalam keadaan berdiri diatas tiga kakinya yang tersisa. Sanad riwayat ini sesuai dengan syarat Muslim.” (Syarh Shahih Muslim, Jilid 9, hlm. 69).

Namun, untuk penyembelihan unta ini hendaknya diserahkan kepada yang ahli dan berpengalaman karena tidak semua orang bisa melakukannya. Telah disebutkan suatu kisah tentang al-Imam Abu Hanifah rahimahullah,

وقد روي عن أبي حنيفة رضي الله عنه أنه قال: نحرت بدنة قائمة معقولة فلم أشق عليها فكدت أهلك ناسا لأنها نفرت فاعتقدت أن لا أنحرها إلا باركة معقولة وأولي
من هو أقدر على ذلك مني

“Sungguh telah diriwayatkan dari Abu Hanifah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, ‘Aku telah melakukan nahr pada unta dalam keadaan berdiri lagi terikat, tetapi aku tidak mampu untuk merobek lehernya. Hampir-hampir aku mencelakakan manusia karena unta tersebut lari. Hal itu membuatku yakin bahwa aku tidak akan melakukan nahr pada unta kecuali dalam keadaan dia menderum dan terikat. Kemudian setelah itu, aku serahkan (penyembelihan unta) kepada yang lebih berpengalaman dariku” (Badai’ ash-Shani’, Jilid 5, hlm. 79).

Masalah Kedua: Cara Penyembelihan Sapi dan Kambing.

Adapun untuk sapi dan kambing, cara yang mudah adalah dengan disembelih seperti yang al-Imam an-Nawawi rahimahullah sampaikan,

أما البقر والغنم فيستحب أن تذبح مضجعة على جنبها الأيسر وتترك رجلها اليمنى وتشد قوائمها الثلاث

“Adapun sapi dan kambing, dianjurkan untuk disembelih dengan membaringkannya ke sebelah kiri, membiarkan kaki kanannya, dan mengikat tiga kakinya yang lain.” (Syarh Shahih Muslim, Jilid 9, hlm. 69).

Beliau pun menerangkan,

واتفق العلماء وعمل المسلمين على أن إضجاعها يكون على جانبها الأيسر لأنه أسهل على الذابح في أخذ السكين باليمين وإمساك رأسها باليسار

“Para ulama sepakat, demikian pula amalan kaum muslimin bahwa hewan kurban tersebut dibaringkan ke sebelah kiri karena yang demikian itu lebih mudah bagi si penyembelih tatkala dia memegang pisau dengan tangan kanannya dan tangan kiri memegang kepala hewan tersebut.” (Syarh Shahih Muslim, Jilid 13, hlm. 122).

Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menyebutkan bahwa hewan selain unta, disembelih dengan dibaringkan secara umum tanpa menyebutkan arahnya ke kiri atau ke kanan. Beliau mengatakan,

يذبح غير الإبل مضجعة على جنبها، ويضع رجله على صفحة عنقها ليتمكن منها؛ لما روى أنس بن مالك رضي الله عنه قال: ضحى رسول الله صلى الله عليه وسلم بكبشين أملحين ـ وفي رواية: أقرنين فرأيته واضعا قدمه على صفاحهما يسمى ويكبر فذبحهما بيده. رواه البخاري

“Hewan selain unta, disembelih dengan membaringkan lambungnya dan yang menyembekih meletakkan kakinya di atas lehernya agar kuat ketika menyembelihnya. Hal itu berlandaskan pada riwayat yang datang dari Anas radhiyallahu ‘anhu yang berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dua kambing yang warnanya putih kehitam-hitaman–di dalam suatu riwayatdisebutkan bertanduk. Aku melihat beliau meletakkan kakinya di leher hewan tersebut. Kemudin beliau membaca basmalah dan takbir. Setelah itu, beliau menyembelih hewan tersebut dengan tangannya.” (Ahkam al-Udhhiyyah, Jilid 2, hlm. 284).

Memang yang lebih mudah membaringkan hewan ke sebelah kiri. Namun, terkadang seorang yang kidal sulit untuk menerapkan hal tersebut. Jika seperti ini keadaannya, hewan dibaringkan ke sebelah kanan. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menuturkan,

ويكون الإضجاع على الجنب الأيسر، لأنه اسهل للذبح، فإن كان الذابح أعسر وهو الأشدف الذي يعمل بيده اليسرى عمل اليد اليمني، وكان اليسر له أن يضجعها على الجنب الأيمن، فلا بأس أن يضجعها عليه؛ لأن المهم راحة الذبيحة

“Hewan tersebut dibaringkan ke lambung sebelah kirinya karena hal itu lebih mudah untuk penyembelihan. Jika si penyembelih merasa kesulitan karena dia adalah seorang yang kidal yang tangan kirinya berperan menjadi tangan kanan dan menjadi mudah baginya untuk menyembelih ketika dibaringkan ke sebelah kanan, maka tidak mengapa karena yang terpenting adalah menjadikan hewan yang disembelih tersebut merasa nyaman.” (Ahkam al-Udhhiyyah, Jilid 2, hlm. 284).

Ketika menyembelih, hendaknya kepala hewan diangkat agar terlihat bagian yang akan disembelih. Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menerangkan,

وينبغي أن يمسك برأسها ويرفعه قليلا ليبين محل الذبح

“Semestinya untuk menahan kepala (hewan) dan mengangkatnya sedikit (mendongakkannya) agar terlihat jelas bagian yang akan disembelih.” (Ahkam al-Udhhiyyah, Jilid 2, hlm. 284).

Ketika menyembelih hewan, hendaknya dengan cara mengistirahatkannya agar jangan sampai dia tersiksa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan,

وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ

“Hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim no. 1.955).

Disebutkan di dalam fatwa al-Lajnah ad-Da’imah,

يجب أن تكون التذكية في محل الذبح، وأن يقطع المريء والودجان، أو أحدهما

“Penyembelihan wajib dilakukan pada bagian tempat dipotongnya (leher) dan harus terpotong kerongkongan serta dua urat leher atau salah satunya.” (Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, Jilid 22, hlm. 464).

Setelah hewan disembelih, hendaknya dibiarkan saja, jangan ditahan. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan,

ويستحب أن لا يمسكها بعد الذبح مانعا لها من الاضطراب

“Dianjurkan untuk tidak menahannya setelah penyembelihan untuk mencegahnya dari menggelepar-gelepar. ” (Al-Majmu’, Jilid 9, hlm. 89).

Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menyebutkan dari sebagian ulama hikmahnya,

من فوائد إطلاقها وعدم إمساكها أن حركتها تزيد في إنهار الدم وإفراغه من الجسم

“Di antara faedah melepaskan dan tidak menahannya bahwasanya dengan bergeraknya hewan tersebut akan menambah darahnya mengalir dan menghabiskannya dari jasad.” (Ahkam al-Udhhiyyah, Jilid 2, hlm. 284).

Masalah Ketiga: Hukum Hewan yang Terpotong Kepalanya.

Jika si penyembelih melampaui batas dalam penyembelihannya sampai kepalanya terpotong, halalkah sembelihannya? Jawabannya adalah halal. Al-Imam al-Bukhari rahimahullah menyebutkan di dalam Shahih-nya di dalam kitab adz-Dzabaih wash-Shaid pada bab an-Nahr wadz-Dzabh,

وقال ابن عمر وابن عباس وأنس إذا قطع الرأس فلا بأس

“Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, dan Anas mengatakan, apabila kepalanya sampai terpotong, maka tidak mengapa.”

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menyebutkan,

فإن أحمد سئل عن رجل ذبح دجاجة، فأبان رأسها؟ قال: يأكلها

“Sesungguhnya al-Imam Ahmad telah ditanya tentang seseorang yang menyembelih ayam sampai kepalanya terpotong. Beliau menjawab, tidak mengapa untuk dimakan.” (Al-Mughni, Jilid 9, hlm. 401).

Namun, semestinya seorang muslim berhati-hati dalam menyembelih dan tidak melakukan yang demikian itu. Al-Imam Ibnu Abi Zaid al-Qayrawani rahimahullah menerangkan,

وإن تمادى حتى قطع الرأس أساء ولتؤكل

“Jika si penyembelih melampaui batas sampai terpotong kepala hewan tersebut, maka dia telah berbuat kesalahan. Namun, hukum hewannya (halal) dimakan.” (Ar-Risalah, Jilid 1, hlm. 80).

Masalah Keempat: Syarat Sah Hewan Sembelihan.

Terkait tentang syarat sahnya hewan sembelihan, maka Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menyebutkan ada sembilan syarat.

  1. Seorang yang menyembelih memungkinkan untuk bertujuan (berniat) ketika menyembelih, yaitu berusia tamyiz dan berakal.
  2. Si penyembelih adalah muslim atau ahli kitab (Yahudi dan Nasrani).
  3. Dia berniat menyembelih.
  4. Tidak menyembelih untuk selain Allah.
  5. Tidak memperuntukkannya kepada selain Allah dengan menyebut nama selain Allah ketika menyembelih.
  6. Membaca basmalah.
  7. Menyembelih dengan benda yang tajam yang dapat mengalirkan darah, tetapi bukan gigi atau kuku.
  8. Mengalirkan darah pada tempat penyembelihannya.
  9. Orang yang menyembelih adalah orang yang diizinkan oleh syariat dalam penyembelihannya (baik dengan hak Allah, yaitu dia bukan seorang yang sedang ihram; atau dengan hak makhluk, yaitu hewannya bukan hasil curian atau yang semisalnya).

Masalah Kelima: Hukum Hewan yang Disembelih Tanpa Disebut Basmalah.

Apakah hewan yang disembelih dengan tanpa disebut basmalah masih tetap sah walaupun lupa atau tidak sengaja? Dalam hal ini Allah taala telah menyebutkan,

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

“Janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.” (Al-An’am: 121).

Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menerangkan,

ولا فرق بين أن يترك اسم الله عليها عمدا مع العلم أو نسيانا أو جهلا لعموم هذه الاية، ولأن النبي صلى الله عليه وسلم جعل التسمية شرطا في الحل، والشرط لا يسقط بالنسيان والجهل

“Tidak ada perbedaan tatkala seseorang meninggalkan basmalah baik disengaja maupun tidak karena ayat ini umum. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan basmalah sebagai syarat dalam kehalalan hewan sembelihan; dan syarat tidaklah gugur karena lupa atau tidak sengaja.” (Mukhtashar Ahkam al-Udhhiyyah, Jilid 1, hlm 24).

Mungkin ada yang bertanya, bukankah Allah memaafkan orang yang lupa dan tidak sengaja? Beliau pun menerangkan,

أما أن نعرف أن هذه الذبيحة لم يسم عليها، فلا يجوز أكلها وأما فعل الذابح: فإذا نسي التسمية، فقد قال الله تعالى: ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا (البقرة: ٢٨٦) فإذا قال قائل: كيف تؤاخذونه وقد نسي؟! قلنا: لا نؤاخذه، فنقول: ليس عليك إثم بعدم التسمية، ولو تعمدت ترك التسمية لكنت آثما لما في ذلك من إضاعة المال وإفساده

“Adapun tatkala kita mengetahui bahwa sembelihan ini disembelih tanpa membaca basmalah, maka tidak boleh dimakan. Adapun jika si penyembelihnya lupa akan hal itu, maka sungguh Allah telah berfirman,

‘Ya Rabb kami, jangan engkau siksa kami jika kami lupa atau tidak sengaja.’ (Al-Baqarah: 286).

Jika ada yang bertanya bagaimana kalian menyatakan berdosa seseorang yang lupa? Kita katakan, kami tidak mengatakan demikian, tetapi kami katakan, engkau tidak berdosa jika melakukannya karena lupa. Namun, jika engkau sengaja, niscaya engkau berdosa karena telah menyia-nyiakan harta dan merusaknya.” (Asy-Syarh al-Mumti’, Jilid 7, hlm. 444).

Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan, hendaknya seseorang sangat berhati-hati ketika menyembelih hewan. Jangan sampai lupa membaca basmalah karena akibatnya fatal. Jika seseorang meninggalkan bacaan basmalah dengan sengaja, maka dia berdosa dan sembelihannya haram. Namun, jika dia lupa atau tidak sengaja, dia tidak berdosa, tetapi hewannya tetap tidak halal untuk dimakan.

Masalah Keenam: Adab Penyembelihan.

Ada beberapa adab lainnya yang perlu diperhatikan tatkala menyembelih hewan kurban di antaranya:

Berbuat baik kepada hewan sembelihan tanpa menyiksanya sedikit pun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan,

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ. فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوْا اْلقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوْا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa taala telah menetapkan perbuatan ihsan (baik) pada segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim no. 1.955).

Di antara perbuatan baik dalam penyembelihan adalah menajamkan pisau; tidak menyembelihnya di hadapan hewan lain; dan tidak mengasah pisau di depan hewan yang akan disembelih. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,

أنَّ النَّبيَّ أمرَ أن تُحَدَّ الشِّفارُ، وأن تُوارَى عنِ البَهائمِ وقالَ: إذا ذبحَ أحدُكُم فليُجهِزْ–أيْ فليُتِمَّ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menajamkam pisau dan tidak melakukan penyembelihan di hadapan hewan-hewan lain. Beliau mengatakan, ‘Apabila salah seorang dari kalian menyembelih, hendaklah menyempurnakannya.” (Ash-Shahihah, 7/360).

Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhuma menerangkan,

مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى رَجُلٍ وَاضِعٍ رِجْلَهُ عَلَى صَفْحَةِ شَاةٍ وَهُوَ يَحُدُّ شَفْرَتَهُ وَهِىَ تَلْحَظُ إِلَيْهِ بِبَصَرِهَا فَقَالَ: أَفَلاَ قَبْلَ هَذَا أَتُرِيدُ أَنْ تُمِيتَهَا مَوْتَتين

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati seseorang yang sedang meletakkan kakinya di leher kambing sambil mengasah pisaunya, sedangkan kambing itu melihat kepadanya dengan pandangannya. Lalu beliau bersabda,

‘Kenapa engkau tidak melakukannya (mengasahnya) sebelum ini? Apakah engkau hendak membunuhnya dua kali?’.” (HR. al-Baihaqi; disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 24).

Masalah Ketujuh: Apakah Ada Bacaan Tertentu Selain Basmalah?

Apakah ada bacaan yang dibaca ketika menyembelih selain basmalah? Berkaitan tentang bacaan menyembelih, para ulama telah membahasnya. Ibnu Qudamah rahimahullah menyebutkan,

وقد ثبت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا ذبح قال بسم الله والله أكبر

“Sungguh telah tetap bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak menyembelih beliau membaca bismillahi wallahu akbar.” (Al-Mughni, Jilid 9, hlm. 368).

Syekh ‘Abdul’aziz bin Baz rahimahullah menerangkan,

السنة عند الذبح أن يقول: باسم الله، والله أكبر سواء ضحية أو للأكل

“Yang sesuai dengan sunah ketika menyembelih adalah mengatakan bismillahi wallahu akbar, baik untuk hewan kurban maupun sekedar untuk dimakan.” (Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Jilid 18, hlm. 185).

Syekh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

يقول: بسم الله وجوبا؛ لأن من شرط حل الذبيحة أو النحيرة التسمية، و «الله أكبر» استحبابا

“Seseorang membaca bismillah ketika menyembelih hukumnya wajib karena termasuk dari syarat halalnya sembelihan atau yang di-nahr adalah mengucapkan bismillah. Adapun allahu akbar hukumnya sunah.” (Asy-Syarh al-Mumti’, Jilid 7, hlm. 443).

Adapun yang berkaitan dengan sembelihan hewan kurban, sungguh telah disebutkan dalam beberapa hadis dan penjelasan ulama. Sahabat yang mulia, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor kambing putih kehitaman yang bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangannya sendiri. Beliau membaca basmalah dan bertakbir sambil meletakkan kakinya di atas leher kambing tersebut.” (HR. al-Bukhari no. 5.565 dan Muslim no. 1.966).

Demikian pula dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhuma berkata,

شهدت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم الأضحى بالمصلى، فلما قضى خطبته , نزل من منبره , وأتى بكبش , فذبحه رسول الله صلى الله عليه وسلم بيده , وقال: بسم الله والله أكبر هذا عنى وعن من لم يضح من أمتي

“Aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadiri salat Iduladha di tanah lapang. Tatkala telah menyelesaikan khotbahnya, beliau turun dari mimbarnya dan didatangkan kepada beliau kambing. Beliau pun menyembelihnya dengan tangannya dan membaca, bismillah wallahu akbar hadza ‘anni wa ‘amman lam yudhahi min ummati (bismillah, Allahu Akbar, ini dariku dan dari umatku yang belum berkurban).” (HR. Abu Dawud no. 2.810, at-Tirmidzi, ath-Thahawi, dan yang lainnya; disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam al-Irwa’ no. 1.138).

Disebutkan pula dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,

أن النبى صلى الله عليه وسلم، ذبح يوم العيد كبشين–وفيه–ثم قال: بسم الله والله أكبر, اللهم هذا منك ولك

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Iduladha menyembelih dua ekor kambing. (Sebelum menyembelih) beliau membaca zikir bismillahi wallahu akbar, Allahumma hadza minka wa laka (bismillah, Allahu Akbar, ya Allah ini adalah darimu dan untukmu).” (HR. Abu Dawud; disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam al-Irwa’ no. 1.152).

Demikian pula dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِي سَوَادٍ، وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ، وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ، فَأُتِيَ بِهِ لِيُضَحِّيَ بِهِ، فَقَالَ لَهَا: يَا عَائِشَةُ، هَلُمِّي الْمُدْيَةَ، ثُمَّ قَالَ: اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ، فَفَعَلَتْ: ثُمَّ أَخَذَهَا، وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ، ثُمَّ ذَبَحَهُ، ثُمَّ قَالَ: بِسْمِ اللهِ، اللهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ، وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ، ثُمَّ ضَحَّى بِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan (untuk membeli) seekor kambing jantan yang bertanduk, kakinya hitam, perutnya hitam, dan matanya hitam. Hewan tersebut pun didatangkan kepada beliau untuk beliau berkurban dengannya. Lalu beliau berkata kepada ‘Aisyah, ‘Wahai ‘Aisyah, berikan pisau itu.’ Kemudian beliau berkata, ‘Asahlah dengan batu.’ ‘Aisyah pun melakukannya. Kemudian beliau mengambilnya kembali dan mengambil kambing jantan tersebut. Lalu beliau membaringkannya lantas menyembelihnya seraya membaca, bismillah, Allaahumma taqabbal min Muhammad wa ali Muhammad, wa min ummati Muhammad (bismillah, Ya Allah terimalah dari Muhammad, keluarganya, dan umatnya). Kemudian beliau berkurban dengan hewan tersebut.” (HR. Muslim no. 1.967)

Ibnu Qudamah rahimahullah menerangkan,

وَإِنْ زَادَ فَقَالَ: اللَّهُمَّ هَذَا مِنْك وَلَك، اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّي، أَوْ مِنْ فُلَانٍ فَحَسَنٌ وَبِهِ قَالَ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ

“Jika setelah bacaan takbir dan basmalah dia menambahkan bacaan Allahumma taqabbal minni au min fulan (Ya Allah, terimalah dariku atau dari si anu–sebutkan nama yang berkurban–), maka yang demikian itu bagus dan ini adalah pendapat jumhur ulama.” (Al-Mughni, Jilid 9, hlm. 456).

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan tatkala menjelaskan hadis ‘Aisyah di atas,

فِيهِ دَلِيلٌ لِاسْتِحْبَابِ قَوْلِ الْمُضَحِّي حَالَ الذَّبْحِ مَعَ التَّسْمِيَةِ وَالتَّكْبِيرِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّي

“Di dalam hadis ini terdapat dalil tentang disunahkan menyertakan ucapan doa Allahumma taqabbal minni (Ya Allah terimalah dariku) setelah membaca basmalah dan takbir tatkaka seseorang menyembelih hewan kurban.” (Syarh Shahih Muslim, Jilid 13, hlm. 122).

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan:

Yang harus dibaca tatkala menyembelih adalah basmalah dan jika ditambah dengan lafaz takbir, maka lebih utama. Adapun untuk hewan kurban, maka ada tambahan bacaan-bacaan yang disunahkan untuk dibaca, sebagaimana yang telah disebutkan pada penjelasan diatas. Namun, jika dia mencukupkan dengan bacaan basmalah saja, maka sembelihannya baik dalam bentuk kurban atau selainnya sah karena bacaan setelah basmalah hukumnya sunah, wallahu a’lam.

Masalah Kedelapan: Haruskah Menyembelih Menghadap Kiblat?

Apakah ketika menyembelih harus menghadap ke arah kiblat? Tidak harus demikian, tetapi jika dimudahkan, itulah yang afdal. Al-Lajnah ad-Da’imah pun telah mengeluarkan fatwa,

توجيه الذبيحة إلى القبلة وقت الذبح ليس من شروط صحة الذكاة، وإنما هو سنة

“Mengarahkan sembelihan ke arah kiblat ketika menyembelih bukanlah syarat sahnya sembelihan. Hanya saja, hukumnya adalah sunah.” (Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, Jilid 22, hlm. 497).

Disebutkan pula dalam keterangan fatwa yang lain tatkala menerangkan sunah-sunah menyembelih,

توجيه الذبيحة إلى القبلة؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم ما ذبح ذبيحة ولا نحر هديا إلا وجهه إلى القبلة

“Menghadapkan sembelihan ke arah kiblat karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menyembelih satu hewan sembelihan pun dan melakukan nahr pada hadyu melainkan beliau arahkan ke kiblat.” (Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, Jilid 22, hlm. 363).

Jika ternyata tidak menghadap kiblat, maka tidak memberikan pengaruh terhadap sembelihannya, tetap sah. Disebutkan pula dalam keterangan fatwa yang lain tatkala ditanya tentang seorang yang menyembelih tidak menghadap kiblat,

فالذبح صحيح مجزئ في حل الأكل من الذبيحة لكن الذابح خالف السنة بتركه استقبال جهة القبلة بالذبيحة حين ذبحها

“Sembelihan tersebut sah dalam kehalalannya untuk dimakan dari hewan sembelihan. Namun, si penyembelih telah menyelisihi sunah dengan perbuatannya yang meninggalkan menghadap kiblat dengan sembelihan tatkala menyembelihnya.” (Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, Jilid 22, hlm. 478).

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: 
RINGKASAN FIKIH KURBAN
SYARAT-SYARAT HEWAN KURBAN
JENIS HEWAN YANG DIJADIKAN KURBAN
PIHAK YANG BERHAK MENERIMA KURBAN
HAL YANG BERKAITAN TENTANG PENYEMBELIHAN
LARANGAN MEMOTONG KUKU RAMBUT DAN KULIT BAGI YANG BERKURBAN
HAL LAIN YANG TERKAIT DENGAN HEWAN KURBAN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *