JENIS HEWAN YANG DIJADIKAN KURBAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

الجنس الذي يضحى به بهيمة الأنعام فقط لقوله تعالى وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ وبهيمة الأنعام هي الإبل والبقر والغنم من ضأن ومعز

“Jenis hewan yang dijadikan kurban hanya bahīmatul-an‘am, berlandaskan firman Allah ta’ala,

‘Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap bahīmatul-an‘am yang telah direzekikan Allah kepada mereka.’ (Al-Hajj: 34).

Yang dimaksud dengan bahīmatul-an‘am adalah unta, sapi, dan kambing dari jenis domba serta ma’iz (yakni kambing kacang dan yang semisalnya,-ed).” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 229).

Masalah: Berkurban dengan Selain Bahīmatul An’am.

Bolehkah seseorang berkurban dengan selain yang telah disebutkan, misalnya dengan ayam, burung, dan lain sebagainya? Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

فمن ضحى بشيء غير بهيمة الأنعام لم تقبل منه، مثل أن يضحي الإنسان بفرس، أو بغزال، أو بنعامة، فإن ذلك لا يقبل منه؟ لأن الأضحية إنما وردت في بهيمة الأنعام، والأضحية عبادة وشرع، لا يشرع منها ولا يتعبد لله بشيء منها إلا بما جاء به الشرع، لقول النبي صلى الله عليه وسلم: من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد أي مردود

“Barang siapa yang berkurban dengan selain bahīmatul-an‘am, seperti kuda, kijang, ataupun burung unta, maka tidak akan diterima karena berkurban hanyalah datang penyebutannya di dalam syariat dengan bahīmatul-an‘am. Berkurban adalah ibadah dan syariat. Tidak disyariatkan dan tidak boleh dijadikan ibadah kepada Allah kecuali dengan bimbingan yang dibawa oleh syariat. Hal ini berlandaskan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‘Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka tertolak’.” (Majmu‘ al-Fatāwa, Jilid 25, hlm. 12).

Adapun yang ternukilkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau berkurban dengan daging; dan Bilal dengan ayam jantan, maka hal ini tidak menunjukkan bolehnya berkurban dengan selain bahīmatul-an‘am. Ibnu ‘Abdilbarr rahimahullah menjelaskan,

وقال عكرمة بعثني بن عباس بدرهمين أشتري له بهما لحما وقال من لقيت فقل هذه أضحية بن عباس وهذا نحو فعل بلال فيما نقل عنه أنه ضحى بديك ومعلوم أن بن عباس إنما قصد بقوله أن الضحية ليست بواجبة وأن اللحم الذي ابتاعه بدرهمين أغناه عن الأضحى إعلاما منه بأن الضحية غير واجبة ولا لازمة وكذلك معنى الخبر عن بلال لو صح وبالله التوفيق

“‘Ikrimah mengatakan, ‘Ibnu ‘Abbas telah mengutusku membawa uang dua dirham untuk membeli daging dan beliau mengatakan, siapa saja yang engkau jumpai maka katakanlah: Ini kurban Ibnu ‘Abbas.’ Dinukil pula yang seperti ini dari Bilal bahwa beliau berkurban dengan ayam jantan. Perkara yang sudah maklum, Ibnu ‘Abbas hanyalah bertujuan dengan ucapannya untuk menjelaskan bahwa kurban itu tidak wajib dan daging yang dibeli dengan harga dua dirham telah mencukupinya dari binatang sembelihan untuk memberitahukan bahwa berkurban itu bukanlah kewajiban dan bukan suatu keharusan. Demikian pula makna berita yang datang dari Bilal. Wa billahit-taufiq.” (Al-Istidzkār, Jilid 5, hlm. 230).

Dengan demikian, yang diinginkan dari ucapan tersebut adalah untuk menjelaskan kepada umat bahwa berkurban itu tidak wajib, bukan bolehnya berkurban dengan jenis hewan tersebut karena telah ternukil bahwa Ibnu ‘Abbas tidak berkurban. Asy-Syathibi rahimahullah menjelaskan,

وقال طاوس: ما رأيت بيتا أكثر لحما وخبزا وعلما من بيت ابن عباس، يذبح وينحر كل يوم، ثم لا يذبح يوم العيد! وإنما كان يفعل ذلك لئلا يظن الناس أنها واجبة، وكان إماما يقتدى به

“Thawus berkata, ‘Aku tidak pernah melihat rumah yang paling banyak daging, roti, dan ilmunya dari rumah Ibnu ‘Abbas. Beliau menyembelih setiap hari, kemudian beliau tidak menyembelih hewan kurban pada hari raya. Hanyalah beliau lakukan itu agar manusia tidak mengira bahwa berkurban itu wajib sedangkan beliau adalah seorang imam yang diikuti’.” (Al-I‘tishām, Jilid 2, hlm. 491).

Oleh karena itu, yang wajib adalah berkurban dengan unta, sapi, atau kambing. Tidak boleh dengan selain ini karena demikianlah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

الأضحية عبادة كالهدي، فلا يشرع منها إلا ما جاء عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولم ينقل عنه صلى الله عليه وسلم أنه أهدى أو ضحى بغير الإبل والبقر والغنم.

“Berkurban adalah ibadah seperti hadyu. Oleh karena itu, tidak disyariatkan darinya kecuali dengan apa yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ternukil dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melakukan hadyu dan kurban dengan selain unta, sapi, dan kambing” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 229).

HEWAN YANG LEBIH UTAMA DIJADIKAN KURBAN

Pendapat yang kuat dalam hal ini adalah seseorang berkurban dengan seekor unta sendirian. Jika tidak mampu, maka dengan sapi sendirian. Jika tidak mampu pula, maka dengan kambing sendirian. Inilah pendapat mazhab Syafi‘i dan yang lainnya. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

مذهبنا أن أفضل التضحية بالبدنة ثم البقرة ثم الضأن ثم المعز وبه قال أبو حنيفة وأحمد وداود

“Mazhab kami (memandang), yang lebih utama dalam berkurban adalah unta, kemudian sapi, kemudian kambing jenis domba, kemudian ma’iz. Ini juga pendapat Abu Hanifah, Ahmad, dan Dawud” (Al-Majmū’, Jilid 8, hlm. 398).

Yang menunjukkan hal tersebut adalah lafaz hadis,

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ

“Barang siapa mandi sebagaimana mandi junub pada hari Jumat kemudian dia berangkat (pada waktu pertama), seakan-akan dia telah berkurban seekor unta. Barang siapa datang pada waktu kedua, seakan-akan dia telah berkurban seekor sapi. Barang siapa datang pada waktu ketiga, seakan-akan dia telah berkurban dengan seekor domba yang bertanduk” (HR. al-Bukhari no. 881 dan Muslim no. 850).

Disebutkan dengan urutan yang terbesar, yaitu unta karena dagingnya lebih banyak. Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan kenapa unta yang lebih utama,

لأنها أكثر ثمنا ولحما وأنفع

“Karena lebih besar, lebih banyak dagingnya, dan lebih bermanfaat.” (Al-Mughni, Jilid 9, hlm. 439).

Namun, perlu kita ketahui bahwa berkurban dengan kambing sendirian lebih utama daripada dengan unta atau sapi patungan. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

ذكر الفقهاء رحمهم الله أنه إذا ضحى بالبهيمة كاملة فالأفضل الإبل ثم البقر ثم الغنم والضأن أفضل من الماعز أما إذا ضحى بسبع من البدنة أو البقرة فإن الغنم أفضل والضأن أفضل من الماعز

“Fukaha rahimahumullah menyebutkan apabila seseorang berkurban dengan hewan secara sempurna untuk dia sendiri, maka yang afdal adalah unta, sapi, kemudian kambing. Kambing domba lebih utama daripada ma’iz. Adapun jika dia patungan tujuh orang baik dengan unta atau sapi, maka kambing (untuk sendiri) lebih utama dan kambing domba lebih utama daripada mā’iz.” (Majmū‘ al-Fatāwa, Jilid 25, hlm. 34).

Dibolehkan pula seseorang berkurban dengan kerbau karena termasuk jenis sapi. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

الجاموس من البقر

“Kerbau termasuk jenis sapi.” (Majmū‘ al-Fatāwa, Jilid 25, hlm. 34).

Ketentuan dalam hewan kurban, yaitu kambing untuk sendirian. Adapun sapi dan unta bisa untuk sendirian, bisa patungan. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

ولا يجزئ أن يشترك اثنان فأكثر اشتراك ملك في الأضحية الواحدة من الغنم ضأنها أو معزها، أما الاشتراك في البقرة أو البعير فيجوز أن يشترك سبعة في الواحدة

“Tidak sah untuk patungan dua orang atau lebih dalam kepemilikan satu ekor kambing, baik kambing jenis domba maupun ma’iz. Adapun patungan pada sapi atau unta, maka boleh tujuh orang dengan satu hewan.” (Majmū‘ al-Fatāwa, Jilid 25, hlm. 22).

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan,

تجزئ الشاة عن واحد ولا تجزئ عن أكثر من واحد

“Satu kambing mencukupi (dalam hal kepemilikan hewan kurban) untuk satu orang dan tidak sah lebih dari itu.” (Al-Majmū’, Jilid 8, hlm. 397).

Dari semua penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahasan dalam kepemilikan hewan kurban sebagai berikut.

  1. Apabila berkurban sendirian, maka yang afdal adalah unta, sapi, kemudian kambing. Kambing domba lebih utama daripada ma’iz.
  2. Jika patungan, yang afdal seperti urutannya yang awal, yaitu unta, kemudian sapi. Namun, jika seseorang berkurban sendirian dengan satu ekor kambing maka lebih utama.
  3. Khusus untuk kambing, tidak boleh patungan dan boleh patungan pada unta dan sapi.

Masalah Pertama: Berkurban Lebih dari Satu.

Tatkala seseorang diberikan kelapangan rezeki, bolehkah berkurban dengan lebih dari satu hewan kurban? Selama tidak melakukan pemborosan, maka tidak mengapa karena tidak ada batasan tentang jumlahnya. Syekh ‘Abdul‘aziz bin Baz rahimahullah tatkala ditanya tentang hal ini beliau menerangkan,

ما فيه تحديد، فالنبي صلى الله عليه وسلم كان يضحي بثنتين عليه الصلاة والسلام: أحداهما عنه وعن أهل بيته، والثانية عمن لم يضح من أمة محمد عليه الصلاة والسلام. فإذا ضحى الإنسان بواحدة أو اثنتين أو بأكثر فلا بأس

“Tidak ada batasan dalam hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berkurban dengan dua ekor hewan kurban: yang satu untuk beliau dan keluarganya serta yang satunya lagi untuk umatnya yang belum berkurban. Apabila seseorang berkurban dengan satu, dua, atau lebih, maka tidak mengapa.” (Fatāwa Nūr ‘ala ad-Darb, Jilid 18, hlm. 196).

Meskipun boleh, yang afdal adalah berkurban satu saja. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

لا شك أن التمسك بالسنة خير من عدمه وأضرب لذلك مثلا برجلين أحدهما قام يصلي سنة الفجر لكن يخففها والثاني قام يصلي سنة الفجر لكن يطول فيها أيهما الأوفق للسنة؟ الأول الذي يخفف ولكن الثاني وإن كان يطول ويفعل خلاف السنة إلا أنه لا يأثم فإذا قلنا إن السنة أن يجمع أهل البيت على أضحية واحدة فيقوم بها رب البيت فليس معنى ذلك أنهم لو ضحوا بأكثر من واحدة أنهم يأثمون لا يأثمون لكن المحافظة على السنة أفضل من كثرة العمل قال الله تعالى ليبلوكم أيكم أحسن عملا

“Tidak diragukan lagi bahwa berpegang teguh dengan sunah lebih baik daripada tidak demikian. Aku berikan permisalan. Sebagai contoh, ada dua orang yang menunaikan salat sunah dua rakaat sebelum subuh. Orang pertama meringankan salatnya dan yang kedua memperlama, mana yang lebih sesuai dengan sunah? Tentu yang pertama, yaitu yang meringankan salatnya. Akan tetapi, orang yang kedua meskipun dia memperlama dan menyelisihi sunah, dia tidak berdosa. Apabila kita katakan, sesungguhnya yang sunah adalah penghuni rumah berkurban dengan satu hewan dan kepala rumah tangganya melakukan demikian, maka dia telah mencocoki sunah. Namun, bukan berarti tatkala mereka berkurban lebih dari itu mereka berdosa. Mereka tidak berdosa, tetapi menjaga amalan agar menepati sunah adalah afdal daripada memperbanyak amal. Allah taala berfirman,

‘Agar Dia menguji kalian siapa yang lebih baik amalannya’ (Al-Mulk: 2).” (Majmū’ al-Fatāwa, Jilid 25, hlm. 39).

Selanjutnya, di antara perkara penting yang perlu kita ketahui bahwasanya dalam perserikatan hewan kurban ada dua macam.

  1. Berserikat dalam pahala. Hal ini dibolehkan tanpa batasan, yakni seseorang berniat dengan kurbannya pahalanya untuk keluarganya semua dan teman-temannya meskipun jumlah mereka banyak. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

والتشريك في الثواب لا حصر له

“Berserikat dalam hal pahala tidak ada batasannya.” (Asy-Syarh al-Mumti’, Jilid 7, hlm. 428).

Beliau pun menerangkan,

الاشتراك في الثواب، بأن يكون مالك الأضحية واحد ويشرك معه غيره من المسلمين في ثوابها فهذا جائز مهما كثر الأشخاص فإن فضل الله واسع

“Berserikat dalam pahala seperti pemilik hewan kurban satu dan ikut bergabung bersamanya orang lain dari kalangan muslimin dalam hal pahala, maka yang demikian ini adalah boleh sebanyak apa pun orangnya karena keutamaan Allah luas.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 230).

Beliau juga menerangkan,

فإذا ضحى الرجل بالشاة عنه وعن أهل بيته أو من شاء من المسلمين صح ذلك، وإذا ضح بسبع البعير أو البقرة عنه وعن أهل بيته أو من شاء من المسلمين صح ذلك

“Apabila seseorang berkurban dengan seekor kambing, dia niatkan pahalanya untuknya, keluarganya, dan siapa saja yang dia inginkan dari muslimin. Apabila dia berkurban patungan tujuh orang dengan sapi atau unta, dia niatkan pahalanya untuknya, keluarganya, dan siapa saja yang dia kehendaki dari muslimin, maka yang demikian itu sah.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 231).

  1. Berserikat dalam kepemilikan. Adapun dalam hal ini, maka telah berlalu penjelasannya, yaitu unta, sapi, dan kambing boleh bagi seseorang berkurban sendirian. Adapun jika ingin patungan, bilangannya tujuh untuk satu hewan; dan hewan yang bisa patungan hanya unta dan sapi, tidak pada kambing. Kambing hanya untuk satu orang.

Masalah Kedua: Berkurban dengan Berserikat, Namun Anggotanya Kurang dari Tujuh.

Bolehkah patungan untuk sapi atau unta dengan bilangan kurang dari tujuh atau lebih dalam kepemilikan? Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah telah menjelaskan,

ولا تجزئ عن أكثر من سبعة وإذا كانوا أقل من سبعة أجزأت عنهم

“Tidak sah berkurban lebih dari tujuh orang. Namun, apabila bilangan mereka kurang dari tujuh, maka boleh.” (Al-Umm, Jilid 2, hlm. 244).

Namun, jika bilangannya dipaskan tujuh, itulah yang lebih utama karena mengikuti hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jabir radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

نحرنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عام الحديبية البدنة عن سبعة والبقرة عن سبعة

“Kami menyembelih hewan kurban bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Tahun Hudaibiah berupa unta patungan tujuh orang dan sapi patungan tujuh orang.” (HR. Muslim no. 1.318).

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: 
RINGKASAN FIKIH KURBAN
SYARAT-SYARAT HEWAN KURBAN
JENIS HEWAN YANG DIJADIKAN KURBAN
PIHAK YANG BERHAK MENERIMA KURBAN
HAL YANG BERKAITAN TENTANG PENYEMBELIHAN
LARANGAN MEMOTONG KUKU RAMBUT DAN KULIT BAGI YANG BERKURBAN
HAL LAIN YANG TERKAIT DENGAN HEWAN KURBAN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *