JIKA ADA RUANGAN KHUSUS SEPERTI PERPUSTAKAAN BERADA DI DEKAT MASJID, APAKAH ITU TERMASUK MASJID?

JIKA BANGUNAN ITU BERTINGKAT, SALAH SATUNYA DIGUNAKAN UNTUK KEPERLUAN KHUSUS, APAKAH ITU BAGIAN DARI MASJID?

Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang hal yang semisal ini.
Beliau menjawab,

إذا كان المبنى المذكور قد أعد مسجدا ويسمع أهل الدورين الأعلى والأسفل صوت الإمام صحت صلاة الجميع…أما إن كان الدور الأسفل لم ينوه الواقف من المسجد، وإنما نواه مخزنا ومحلا لما ذكر في السؤال من الحاجات، فإنه لا يكون له حكم المسجد

“Apabila bangunan tersebut disediakan untuk masjid dan masing-masing dari yang berada di tingkat bangunan itu mendengar suara imam, maka salat mereka semua sah. Adapun jika bangunan bawah, tidak diniatkan oleh pewakaf sebagai masjid, hanya saja dia niatkan untuk tempat penyimpanan keperluan-keperluan sebagaimana disebutkan dalam pertanyaan, maka itu bukanlah masjid.” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 10, hlm. 221-222).

Jadi kesimpulan dari penjelasan beliau di atas, dikembalikan kepada niat pengurus wakaf pada bagian pembangunan. Jika tempat tersebut, digunakan untuk masjid, maka itu bagian dari masjid, jika tidak, maka tidak. Wallahua’lam.

JIKA ADA RUANGAN KHUSUS SEPERTI PERPUSTAKAAN BERADA DI DEKAT MASJID, APAKAH ITU TERMASUK MASJID?

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hal ini pada tiga keadaan,

١– إذا كان باب المكتبة داخل المسجد .

٢– إذا كان باب المكتبة خارج المسجد .

٣– إذا كان للمكتبة بابان أحدهما داخله والآخر خارجه .

1. Apabila pintu perpustakaan tersebut di bagian dalam masjid.
2. Apabila pintunya di bagian luar masjid.
3. Apabila pintunya ada dua yakni di bagian dalam dan di bagian luar.

Beliau menjawab,

في الحال الأولى وهي: ما إذا كان باب المكتبة داخل المسجد تكون المكتبة من المسجد فلها حكمه، فتشرع تحية المسجد لمن دخلها، ولا يحل للجنب المكث فيها إلا بوضوء، ويصح الاعتكاف فيها، ويحرم فيها البيع والشراء، وهكذا بقية أحكام المسجد المعروفة

وفي الحال الثانية وهي: ما إذا كان بابها خارج المسجد، وليس لها باب على المسجد، لا تكون من المسجد فلا يثبت لها أحكام المساجد، فليس لها تحية مسجد، ولا يصح الاعتكاف فيها، ولا يحرم فيها البيع والشراء، لأنها ليست من المسجد لانفصالها عنه.

وفي الحال الثالثة وهي: ما إذا كان لها بابان، أحدهما: داخل المسجد. والثاني: خارجه، إن كان سور المسجد محيطا بها فهي من المسجد فتثبت لها أحكام المسجد، وإن كان غير محيط بها بل لها سور مستقل فليس لها حكم المسجد فلا تثبت لها أحكامه؛ لأنها منفصلة عن المسجد، ولهذا لم تكن بيوت النبي صلى الله عليه وسلم من مسجده، مع أن لها أبوابا على المسجد؛ لأنها منفصلة عنه

“Pada keadaan pertama, yaitu apabila pintu perpustakaan tersebut, di bagian dalam masjid, maka ruangan perpustakaan itu termasuk dari masjid dan hukumnya hukum masjid. Disyariatkan salat tahiyatul masjid bagi yang memasukinya, (menurut sebagian pendapat ulama, -pen) tidak boleh bagi orang yang junub tinggal di dalamnya kecuali dalam keadaan berwudu, sah beriktikaf di dalamnya, dan tidak boleh melakukan jual beli di dalamnya, demikian pula hukum-hukum masjid yang lain yang sudah diketahui.

Pada keadaan kedua, yaitu apabila pintunya di bagian luar masjid dan tidak ada pintu yang menyambung ke masjid, maka ruangan ini bukanlah masjid, tidak berlaku padanya hukum masjid, tidak berlaku padanya tahiyatul masjid, tidak sah dijadikan tempat iktikaf dan tidak dilarang jual beli di dalamnya karena ruangan tersebut bukan bagian dari masjid sebab, sudah terpisah dari masjid.

Pada keadaan ketiga, yaitu apabila ruangan tersebut memiliki dua pintu, di bagian dalam masjid dan di bagian luar masjid. Jika pagar masjid mengelilinginya, ruangan tersebut termasuk dari masjid, berlaku padanya hukum-hukum masjid. Dan jika tidak dikelilingi oleh pagar masjid, bahkan tempat tersebut memiliki pagar  tersendiri, maka tidak ada padanya hukum masjid dan tidak berlaku hukum-hukum yang berkaitan dengan masjid padanya karena ruangan tersebut terpisah dari masjid. Oleh karena inilah, rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak termasuk bagian dari masjidnya padahal di rumah beliau banyak pintu ke masjid sebab, rumah beliau terpisah dari masjid.” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 14, hlm. 351-352).

Baca Juga: Seputar Hukum Masjid

Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Penyusun: Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar
Murajaah: al-Ustadz Ahmad Khadim hafidzahullah
Editor bahasa: Abu Abdil Muhsin Fudhail

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *