SEMESTINYA LEBIH DERMAWAN PADA BULAN RAMADAN

Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz berkata,

وقد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس، وكان أجود ما يكون في رمضان، فتأسوا بنبيكم صلى الله عليه وسلم، واقتدوا به في مضاعفة الجود والإحسان في شهر رمضان، وأعينوا إخوانكم الفقراء على الصيام والقيام واحتسبوا أجر ذلك عند الملك العلام، واحفظوا صيامكم عما حرم الله عليكم من الأوزار والآثام

“Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam manusia yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadan. Maka ambilah teladan dari Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam! Contohlah beliau dalam sifat dermawan yang lebih dan berbuat baik pada bulan Ramadan! Bantulah saudara-saudara kalian yang fakir untuk berpuasa dan salat tarawih! Dan berharaplah pahala dari itu semua di sisi Allah! Jagalah puasa kalian dari perkara yang Allah haramkan dari dosa-dosa!”

Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 15, hlm. 45-46.

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

TENTANG KUNUT WITIR

Pertanyaan:

Apa hukumnya kalau kita jadi makmum pada salat witir yang imamnya kunut, bagaimana kita menyikapinya?

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar hafizhahullah.

Berkaitan tentang kunut witir, maka terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Pendapat yang kuat wallahua’lam kunut witir disyariatkan, dianjurkan untuk dilakukan berdasarkan riwayat yang datang dari al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,

علمني رسول الله صلى الله عليه وسلم كلمات أقولهن في قنوت الوتر: اللهم أهدني فيمن هديت، وعافني فيمن عافيت، وتولني فيمن توليت، وبارك لي فيما أعطيت، وقني شر ما قضيت، فإنك تقضي ولا يقضى عليك، وإنه لا يذل من واليت، تباركت ربنا وتعاليت

“Rasulullah mengajarkan kepadaku doa yang aku ucapkan pada saat kunut witir,

Ya Allah berilah aku hidayah bersama orang-orang yang engkau beri hidayah, berilah aku keselamatan bersama orang-orang yang engkau beri keselamatan, berikanlah perhatianmu kepadaku bersama orang-orang yang engkau berikan perhatikan, berkahilah aku pada apa saja yang Engkau berikan, jagalah aku dari kejelekan apa saja yang engkau tentukan. Sesungguhnya engkaulah yang menghukumi dan tidak ada seorang pun yang menghukumimu, sesungguhnya tidak akan hina orang yang menjadi walimu, maha berkah engkau wahai Rabb kami lagi maha tinggi.” (HR. al-Baihaqi, Ahmad dan yang lainnya disahihkan oleh syekh al-Albani di dalam Irwā’ al-Ghalīl, no. 429).

Kunut witir yang afdal adalah dilakukan sebelum rukuk, berdasarkan hadis dari sahabat Ubai bin Ka’ab yang menyebutkan bahwa Rasulullah salat witir 3 rakaat, di rakaat pertama beliau membaca sabbihisma rabbikal a’la di rakaat ke dua beliau membaca qul yaa ayyuhalkaafiruun dan dirakaat ketiga beliau membaca qulhuwallahu ahad lalu beliau menyebutkan,

ويقنت قبل الركوع

“Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan kunut sebelum rukuk.” ( Shahih an-Nasāī, 1.698).

Dan boleh juga dilakukan setelah rukuk yakni setelah zikir dari iktidal berdasarkan riwayat dari ‘Urwah ibnu az-Zubair, pada masa Umar, ketika beliau memerintahkan Ubay ibnu Ka’ab mengimami salat, maka saat itu beliau kunut witir setelah itu disebutkan,

ثمَّ يُكَبِّرُ ويَهْوي ساجدً

“Kemudian dia bertakbir dan turun sujud.” (Ibnu Khuzaimah dan disahihkan oleh syekh al-Albani di dalam Shahih Ibnu Khuzaimah, no. 1100).

Ini menunjukkan ketika itu mereka kunut sesudah rukuk.

Kunut witir ini hukumnya sunah boleh dilakukan terus menerus dan boleh juga dilakukan kadang-kadang. Syekh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang sebagian imam yang selalu melakukan kunut witir di setiap malam, lalu beliau menjawab,

: لا حرج في ذلك، بل هو سنة؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم لما علم الحسن بن علي رضي الله عنهما القنوت في الوتر لم يأمر بتركه بعض الأحيان ولا بالمداومة عليه، فدل ذلك على جواز الأمرين، ولهذا ثبت عن أبي بن كعب رضي الله عنه حين كان يصلي بالصحابة رضي الله عنهم في مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه كان يترك القنوت بعض الليالي ولعل ذلك ليعلم الناس أنه ليس بواجب

“Hal itu tidak mengapa. Bahkan kunut witir, hukumnya sunah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajari al-Hasan ibnu ‘Ali radhiyallahu ‘anhu kunut ketika salat witir, beliau tidak memerintahkannya untuk dilakukan kadang-kadang dan tidak memerintahkannya untuk dilakukan terus menerus. Ini menunjukkan bahwa kedua-duanya boleh dilakukan. Oleh karena ini, telah jelas berita dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu ketika mengimami para sahabat radhiyallahu ‘anhum di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau meninggalkan kunut witir pada sebagian keadaan, bisa jadi hal itu beliau lakukan untuk menjelaskan kepada manusia bahwa kunut witir ini hukumnya tidak wajib.” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 30, hlm. 33).

Wallahua’lam

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

SALAT TARAWIH PUN HARUS TETAP THUMA’NINAH

Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz berkata,

وكثير من الناس يصلي في قيام رمضان صلاة لا يعقلها ولا يطمئن فيها، بل ينقرها نقرا، وذلك لا يجوز، بل هو منكر لا تصح معه الصلاة؛ لأن الطمأنينة ركن في الصلاة، لا بد منه

“Kebanyakan dari manusia ketika melakukan salat tarawih, dia tidak memahaminya dan tidak thuma’ninah. Bahkan, dia mematuk-matuk pada salatnya (saking cepatnya gerakannya). Yang demikian itu tidak boleh, bahkan ini merupakan perbuatan mungkar, tidak sah salatnya karena thuma’ninah merupakan rukun salat yang harus dilakukan.”

Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 15, hlm. 30

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar غفر الرحمن له.

#nasihat

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

PENTINGNYA MENJAGA SALAT PADA BULAN APA PUN

Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz berkata,

ومن أهم الأمور التي يجب على المسلم العناية بها والمحافظة عليها في رمضان وفي غيره الصلوات الخمس في أوقاتها؛ فإنها عمود الإسلام وأعظم الفرائض بعد الشهادتين، وقد عظم الله شأنها وأكثر من ذكرها في كتابه العظيم

“Di antara perkara yang paling penting yang wajib diperhatikan dan dijaga oleh seorang muslim baik pada bulan Ramadan atau pada selain bulan Ramadan adalah salat lima waktu pada waktunya. Karena sesungguhnya salat itu adalah tiang Islam dan kewajiban yang paling besar setelah dua kalimat syahadat. Sungguh Allah telah mengagungkannya dan memperbanyak penyebutannya di dalam kitab-Nya yang mulia.”

Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 15, hlm. 32.

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar.

#nasihat

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

KRITERIA TIDUR YANG MEMBATALKAN WUDU

Pertanyaan:

بسْم ألله.

Izin bertanya ustadz.
Seseorang yang tertidur hingga mendengkur ketika khatib khutbah Jumat, lalu terbangun ketika ikamah salat Jumat. Apakah dia harus berwudu kembali sebelum salat?

جَزَاكَ اللّهُ خَيْرًا كثيرًأ

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar hafizhahullah.

Selama masih bisa mendengar dan merasa, maka wudunya tidak batal. Tidur yang membatalkan wudu adalah tidur nyenyak yang seseorang itu tidak bisa lagi merasa.

Syekh Abdul Aziz ibnu Baz berkata,

النوم ينقض الوضوء إذا كان
مستغرقا قد أزال الشعور؛ لما روى الصحابي الجليل صفوان بن عسال المرادي – رضي الله عنه – قال: «كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يأمرنا إذا كنا مسافرين أن لا ننزع خفافنا ثلاثة أيام ولياليهن إلا من جنابة ولكن من غائط وبول ونوم » أخرجه النسائي، والترمذي واللفظ له، وصححه ابن خزيمة.
ولما روى معاوية – رضي الله عنه – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – أنه قال: «العين وكاء السه، فإذا نامت العينان استطلق الوكاء » رواه أحمد، والطبراني، وفي سنده ضعف، لكن له شواهد تعضده، كحديث صفوان المذكور، وبذلك يكون حديثا حسنا.
وبذلك يعلم أن من نام من الرجال أو النساء في المسجد الحرام أو غيره فإنه تنتقض طهارته، وعليه الوضوء، فإن صلى بغير وضوء لم تصح صلاته،

“Tidur itu membatalkan wudu apabila sifatnya nyenyak yang menghilangkan rasa berdasarkan apa yang diriwayatkan dari sahabat yang mulia Shafwan ibnu ‘Assal al-Muraadii radhiyallahu’anhu beliau berkata,

كان يأمرنا إذا كنا مسافرين أن لا ننزع خفافنا ثلاثة أياك وليالهن إلا من جنابة ولكن من غائط وبول ونوم

Dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kami, apabila safar, untuk tidak melepas khuf (sepatu) kami tiga hari tiga malam, kecuali jika junub. Akan tetapi, bersucinya batal karena buang air besar, buang air kecil dan tidur.” ( an-Nasā’ī dan at-Tirmidzī dengan lafaz dari at-Tirmidzì, disahihkan oleh ibnu Khuzaimah)

Dan juga berdasarkan hadis dari Muawiyah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallah alaihi wa sallam beliau bersabda,

‘Mata itu adalah tali yang ikatannya ke dubur. Apabila mata itu tidur, niscaya tali itu akan lepas (sehingga dengan sebab itu, tidak merasa lagi keluarnya sesuatu dari duburnya).’ ( HR. Ahmad dan at-Thabrani).

Di dalam sanadnya terdapat kelemahan, tetapi menjadi kuat dengan dikumpulkan jalan-jalanya seperti hadis Shafwan yang telah disebutkan. Maka dengan sebab itu hadisnya menjadi hasan.

Atas dasar ini, diketahui bahwa barang siapa yang tidur baik dari laki-laki maupun perempuan di Masjidilharam atau yang lainnya, maka bersucinya batal dan wajib baginya untuk wudu kembali, jika dia salat tanpa berwudu lagi, maka salatnya tidak sah.” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 10, hlm. 144).

Wallahua’lam.

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

BELUM SEMPAT MEMBACA SALAWAT TETAPI IMAM SUDAH SALAM, APAKAH SAH SALATNYA?

BELUM SEMPAT MEMBACA SALAWAT TETAPI IMAM SUDAH SALAM, APAKAH SAH SALATNYA?

Pertanyaan:

Bismillah.

Izin bertanya ustadz. Apakah sah salat tarawih seseorang ketika hanya membaca doa tasyahud akhir tidak selesai (tidak membaca salawat). Karena di masjid di daerah ana kebanyakan begitu, belum sampe selesai bacaan tasyahud akhir (membaca salawat), imam langsung salam.

Mohon bimbingan. Jazakumullahu khairan.

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar hafizhahullah.

Pendapat yang rajih (kuat) bacaan salawat pada tasyahud akhir adalah sunah yang ditekankan dan tidak wajib sehingga jika seseorang tidak membacanya, salatnya sah. Ini adalah pendapat Malikiyyah, Ibnu Abi Zaid al-Qairawani rahimahullah setelah menyebutkan bacaan tasyahud, beliau berkata setelah itu,

فإن سلمت بعد هذا أجزأك

“Jika engkau salam setelah ini, maka hal ini mencukupimu.” ( ar-Risālah, 1/29).

Di antara dalilnya adalah hadis dari sahabat Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari para sahabat bacaan tasyahud (akhir) setelah ucapan asyhadu allaa ilaa haillallah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh, beliau berkata,

ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ المَسْأَلَةِ ما شَاءَ

“Kemudian hendaknya seseorang memilih dari permintaan yang dia inginkan.” (al-Bukhari, no. 6.328, Muslim, no. 402).

Dan beliau tidak menyebutkan bacaan salawat di sini yang tentu hal ini menunjukkan bacaan salawat itu hukumnya sunah dan tidak wajib.

Demikian pula doa perlindungan dari 4 perkara setelah salawat, hukumnya sunah yang ditekankan. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

ويستحب أن يتعوذ من أربع.

“Sunah hukumnya meminta perlindungan dari 4 perkara pada tasyahud akhir.” ( al-Mughnī, jilid 1, hlm. 391).

Jika seseorang salat di belakang imam baik salat tarawih atau pun yang lainnya, kemudian imamnya salam ketika makmum baru selesai dari membaca tasyahud dan belum sempat membaca salawat dan doa dari empat perkara, maka yang semestinya dia lakukan adalah mengikuti salamnya imam, jika memang dia telah menyelesaikan bacaan tasyahudnya, hal ini agar terwujud padanya mengikuti imam di dalam salat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّما جُعِلَ الإمَامُ لِيُؤْتَمَّ به

“Hanyalah imam itu diangkat untuk diikuti.” (al-Bukhari, no. 734).

Wallahua’lam

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

JANGAN SALAH NIAT KETIKA BERPUASA

بسم الله الرحمن الرحيم

Asy-Syaikh Abdul Aziz ibnu Baz berkata,

الواجب على المسلم أن يصوم إيمانا واحتسابا لا رياء ولا سمعة ولا تقليدا للناس، أو متابعة لأهله أو أهل بلده، بل الواجب عليه أن يكون الحامل له على الصوم هو إيمانه بأن الله قد فرض عليه ذلك، واحتسابه الأجر عند ربه في ذلك.

“Yang wajib bagi setiap muslim berpuasa karena keimanan dan mengharap pahala. Bukan karena ingin dilihat dan didengar, bukan pula karena mengikuti manusia, keluarga, atau penduduk negerinya. Bahkan, wajib baginya menghadirkan di hatinya bahwa yang mendorong dia untuk berpuasa adalah keimanannya bahwa Allah mewajibkan atasnya hal itu dan dia mengharapkan pahala di sisi Rabbnya dalam hal itu.”

Sumber: Majmū’ al-Fatāwā, jilid 15, hlm. 16.

Alih bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar غفر الرحمن له.

#nasihat

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Web: https://alfudhail.com

BEKERJA DI RUMAH MAKAN MILIK NON MUSLIM SELAMA RAMADAN

Pertanyaan:

Bismillah, ‘Afwan ustadz mau tanya.

Jika kami bekerja di sebuah rumah makan yang pengunjungnya lebih dominan non muslim dan kami tetap masak seperti biasa pada bulan puasa ini, bagaimana sikap kami ya ustadz? Sedang pemilik rumah makan non muslim.

Jazakumullahu khairan.

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar hafizhahullah.

Pendapat yang benar adalah bahwa orang-orang kafir juga dituntut untuk mengerjakan kewajiban-kewajiban Islam, namun tentu saja mereka harus masuk Islam terlebih dahulu.

Karena tidak sah kewajiban-kewajiban tersebut selama mereka masih kafir, artinya orang-orang kafir apabila tidak masuk ke dalam Islam dan tidak mengerjakan kewajiban-kewajiban Islam, mereka tidak sekadar diazab karena kekufurannya. Namun, juga karena mereka telah meninggalkan kewajiban-kewajiban Islam di antaranya adalah berpuasa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

{مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (٤٢) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (٤٣) وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ (٤٤) وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ (٤٥) وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ (٤٦)}
[المدثر : ٤٢-٤٦]

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan.” (al-Muddatsir: 42-46)

Oleh karena itu, tidak boleh tolong-menolong dengan orang kafir ketika mereka meninggalkan kewajiban puasa.

Hendaknya antum berusaha mencari pekerjaan yang lain atau meminta uzur untuk tidak bekerja selama bulan Ramadan, dan tidak mengapa untuk kembali bekerja di sana selepas bulan Ramadan. Semoga Allah memberikan keluasan rezeki bagi antum.


وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا (٢)
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ
[الطلاق : ٢-٣]

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (ath-Thalaq: 2-3)

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com