MERAIH PAHALA DENGAN HARTA YANG DIKELUARKAN

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

كل شيء تنفقه صغيرا كان أم كبيرا على نفسك أو على أهلك أو على أصحابك أو على أي واحد من الناس إذا ابتغيت به وجه الله أثابك الله على ذلك.

“Segala sesuatu yang engkau keluarkan dari hartamu baik dalam jumlah yang kecil maupun besar yang engkau berikan untuk dirimu, keluargamu, sahabat-sahabatmu, atau siapa saja dari kalangan manusia, apabila engkau mengharapkan dengannya wajah Allah, niscaya Allah akan memberimu pahala atas hal itu.”

Sumber: Syarh Riyadh al-Shalihin, Jilid 1, hlm. 34.

Alih Bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar غفر الرحمن له.

Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail

HENDAKNYA SELALU BERHATI-HATI KETIKA MELANGKAH

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

يقولون لا تضع قدمك إلا حيث علمت السلامة يعني الإنسان يخطو يمشي لا يضع قدمه في شيء لا يدري أحفرة هو أم شوكا أم حصى أم نارا أم ثلج حتى يعرف أين يضع قدمه فالتأمل هذا مهم ولا تتعجل لا تتعجل إلا إذا دعت الحاجة إلى ذلك.

“Para ulama mengatakan, ‘Janganlah engkau meletakkan kedua kakimu kecuali di tempat yang engkau ketahui keselamatannya’, yaitu ketika melangkah jangan engkau letakkan kakimu pada sesuatu yang tidak engkau ketahui, entah itu lubang, duri, kerikil, api, atau es, sehingga diketahui di mana dia meletakkan kakinya. Oleh karena itu, perkara ini penting untuk diperhatikan (dalam kehidupan seseorang). Jangan tergesa-gesa, jangan tergesa-gesa, kecuali dalam kondisi yang diperlukan!”

Sumber: Syarh al-Hilyah, hlm. 62.

Alih Bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar غفر الرحمن له.

Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail

Kunjungi web kami: https://www.alfudhail.com

KAJIAN DUNIA INI SEMENTARA

AGENDA TAKLIM KAUM MUSLIMIN DI MARTAPURA OKUT DAN SEKITARNYA

“Jangan lupa, hadirilah majelis ilmu syar’i, ambil dan amalkan faedahnya”

Sampaikan informasi ini ke famili, saudara, teman dan kenalan, jika ikhlas berpahala insyaa Allah

AHAD MALAM SENIN, 14RAJAB 1441H / 08 MARET 2020M

BIMBINGAN ISLAM DALAM MENGHADAPI VIRUS CORONA

Oleh asy-Syaikh Muhammad bin Ghalib al-‘Umari hafizhahullah.

Pembahasan tentang penyakit-penyakit masuk ke dalam bab ujian dari Allah jalla wa ‘ala, entah penyakit yang disebut dengan virus corona ataupun selainnya.

Hendaknya seorang hamba mengetahui bahwa penyakit ini adalah tentara Allah. Allah menurunkannya sebagai ujian karena suatu hikmah yang diketahui oleh-Nya subhanahu wa taala yang bisa jadi sebagai ujian atau hukuman dari Allah bagi para hamba-Nya. Semua itu ada hikmah yang dalam bagi Allah jalla wa ‘ala. Dia berbuat dan memutuskan sekehendak-Nya subhanahu wa taala.

Yang wajib bagi para hamba adalah kembali dan memohon pertolongan kepada Allah jalla wa ‘ala dalam menolak semua itu. Di antaranya adalah dengan berdoa agar dihindarkan dari penyakit-penyakit dan di antara doa Nabi ‘alaihi shalatu wa sallam adalah,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, lepra, dan dari segala penyakit buruk lainnya.

Demikian pula hendaknya (mereka) membentengi diri dengan zikir-zikir yang disyariatkan, zikir pagi dan petang, seperti zikir yang dibaca oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Dengan nama Allah, yang tidak ada sesuatu pun yang mampu memberi mudarat bersama dengan menyebut nama-Nya baik di bumi maupun di langit dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

(Zikir ini) dibaca tiga kali di waktu pagi dan petang serta zikir-zikir lainnya. Demikian pula hendaknya (mereka) beristigfar, bertobat, kembali kepada Allah jalla wa ‘ala, dan menempuh sebab yang disyariatkan, seperti tidak melakukan perjalanan ke negeri yang tersebar wabah ini dan yang semisal itu.

Bersamaan dengan menempuh sebab-sebab yang disyariatkan untuk melindungi dirinya, seorang hamba sebelum itu harus yakin bahwa segala sesuatu yang ditakdirkan untuknya tidak akan meleset dan yang tidak ditakdirkan tidak akan mengenainya.

Kemudian hendaknya seseorang itu bersemangat ketika penyakit ini muncul di tempatnya untuk melaporkannya kepada pemerintah setempat agar bisa segera diobati sehingga penyakit tersebut tidak menambah kemudaratannya dan orang lain yang ada di sekitarnya.

Dan hendaknya seorang hamba berupaya dan bersungguh-sungguh untuk menempuh hal ini, semua itu termasuk sebab-sebab yang disyariatkan. Allah tabaraka wa taala ditanganNyalah perbendaharaan langit dan bumi, ditanganNya segala sesuatu, hendaknya setiap insan selalu bersandar dan berdoa kepada Allah agar diberikan keselamatan dan dihindarkan dari penyakit-penyakit(seperti) ini, Dia maha kuasa atas segala sesuatu, Dialah yang mentakdirkan penyakit dan Dialah yang menyembuhkannya.”

Sumber : https://t.me/m_g_alomari/4957

Alih Bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar غفر الرحمن له

Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail

KAJIAN AL-USHUL ATS-TSALATSAH & KEUTAMAAN ILMU

AGENDA TAKLIM KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAH DI BATURAJA DAN SEKITARNYA

“Jangan lupa, hadirilah majelis ilmu syar’i, ambil dan amalkan faedahnya”

Sampaikan informasi ini ke famili, saudara, teman dan kenalan, jika ikhlas berpahala insyaa Allah

Sabtu dan Ahad 13 Rajab 1441H / 07 & 08 Maret 2020M

BIMBINGAN ISLAM DALAM MENGHADAPI VIRUS CORONA

Oleh asy-Syaikh Muhammad bin Ghalib al-‘Umari hafizhahullah.

Pembahasan tentang penyakit-penyakit masuk ke dalam bab ujian dari Allah jalla wa ‘ala, entah penyakit yang disebut dengan virus corona ataupun selainnya.

Hendaknya seorang hamba mengetahui bahwa penyakit ini adalah tentara Allah. Allah menurunkannya sebagai ujian karena suatu hikmah yang diketahui oleh-Nya subhanahu wa taala yang bisa jadi sebagai ujian atau hukuman dari Allah bagi para hamba-Nya. Semua itu ada hikmah yang dalam bagi Allah jalla wa ‘ala. Dia berbuat dan memutuskan sekehendak-Nya subhanahu wa taala.

Yang wajib bagi para hamba adalah kembali dan memohon pertolongan kepada Allah jalla wa ‘ala dalam menolak semua itu. Di antaranya adalah dengan berdoa agar dihindarkan dari penyakit-penyakit dan di antara doa Nabi ‘alaihi shalatu wa sallam adalah,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, lepra, dan dari segala penyakit buruk lainnya.

Demikian pula hendaknya (mereka) membentengi diri dengan zikir-zikir yang disyariatkan, zikir pagi dan petang, seperti zikir yang dibaca oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Dengan nama Allah, yang tidak ada sesuatu pun yang mampu memberi mudarat bersama dengan menyebut nama-Nya baik di bumi maupun di langit dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

(Zikir ini) dibaca tiga kali di waktu pagi dan petang serta zikir-zikir lainnya. Demikian pula hendaknya (mereka) beristigfar, bertobat, kembali kepada Allah jalla wa ‘ala, dan menempuh sebab yang disyariatkan, seperti tidak melakukan perjalanan ke negeri yang tersebar wabah ini dan yang semisal itu.

Bersamaan dengan menempuh sebab-sebab yang disyariatkan untuk melindungi dirinya, seorang hamba sebelum itu harus yakin bahwa segala sesuatu yang ditakdirkan untuknya tidak akan meleset dan yang tidak ditakdirkan tidak akan mengenainya.

Kemudian hendaknya seseorang itu bersemangat ketika penyakit ini muncul di tempatnya untuk melaporkannya kepada pemerintah setempat agar bisa segera diobati sehingga penyakit tersebut tidak menambah kemudaratannya dan orang lain yang ada di sekitarnya.

Dan hendaknya seorang hamba berupaya dan bersungguh-sungguh untuk menempuh hal ini, semua itu termasuk sebab-sebab yang disyariatkan. Allah tabaraka wa taala ditanganNyalah perbendaharaan langit dan bumi, ditanganNya segala sesuatu, hendaknya setiap insan selalu bersandar dan berdoa kepada Allah agar diberikan keselamatan dan dihindarkan dari penyakit-penyakit(seperti) ini, Dia maha kuasa atas segala sesuatu, Dialah yang mentakdirkan penyakit dan Dialah yang menyembuhkannya.”

Sumber : https://t.me/m_g_alomari/4957

Alih Bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar غفر الرحمن له

Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail

DUA MUSIBAH, SUDAH JATUH TERTIMPA TANGGA

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

التسخط بالجوارح أن يلطم خده أو يصفع رأسه أو ينتف شعره أو يشق ثوبه وما أشبه هذا. هذا حال السخط حال الهليعين الذين حرموا من الثواب ولم ينجو من المصيبة بل الذين اكتسبوا الإثم فصار عندهم مصيبتان مصيبة في الدين بالسخط ومصيبة في الدنيا بما أتاهم مما يؤلمهم.

“Sifat murka terhadap musibah dengan anggota badan seperti seseorang menampar pipinya, membenturkan kepalanya, menarik-narik rambutnya, atau merobek bajunya dan yang semisal ini. Ini adalah keadaan orang yang berkeluh kesah. Mereka diharamkan mendapat pahala dan tidak selamat dari musibah tersebut, bahkan mereka menuai dosa. Mereka mendapatkan dua musibah: Musibah dalam agama, yaitu dengan murka terhadap takdir Allah dan musibah dunia dengan mendapat sesuatu yang menyakitkan mereka.”

Sumber: Syarh Riyadh al-Shalihin, Jilid 1, hlm. 84.

Alih Bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar غفر الرحمن له.

Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail

AMALAN YANG PALING DICINTAI OLEH ALLAH

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

في الحديث (إن أحب العمل إلى الله أدومه وإن قل) فعليك بالراحة، لا تقصر ولا تزد، فإن خير الهدي هدي النبي صلى الله عليه وسلم أسأل الله أن يجعلني وإياكم من متبعي هديه الذين يمشون على طريقته وسنته.

“Disebutkan dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit’. Oleh karena itu, wajib bagimu untuk bersikap tenang: tidak mengurangi dan tidak menambah (jika belum mampu istikamah dalam menjalankannya). Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku memohon kepada Allah agar menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang mengikuti petunjuknya, yaitu orang-orang yang berjalan di atas jalannya.”

Sumber: Syarh Riyadh al-Shalihin, Jilid 1, hlm. 366.

Alih Bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar غفر الرحمن له.

Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail

WASIAT INDAH ULAMA SALAF

Al-Imam Sufyan al-Tsauri rahimahullah berkata,

وارض بما قسم الله لك من الرزق تكن غنيا وتوكل على الله تكن قويا ولا تنازع أهل الدنيا في دنياهم يحبك الله وأهل الأرض وكن متواضعا تستكمل أعمال البر.

“Hendaknya engkau rida dengan rezeki yang Allah berikan untukmu, niscaya engkau akan merasa cukup. Tawakallah kepada Allah, niscaya engkau akan menjadi kuat. Jangan bertikai dengan penduduk dunia dalam urusan dunia mereka, niscaya engkau akan dicintai oleh Allah dan penduduk bumi. Hendaknya engkau tawaduk, niscaya akan sangat mudah engkau melakukan amalan-amalan kebaikan.”

Sumber: Lamm al-Durr al-Mantsur, hlm. 258.

Alih Bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar غفر الرحمن له.

Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail

MULIANYA SEORANG MUSLIM

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

قال صلى الله عليه وسلم: كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه. يعني أن المسلم حرام على المسلم في هذه الأمور الثلاثة أي في كل شيء لأن هذه الأمور الثلاثة تضمن كل شيء كالقتل والجراح وما أشبهها، والعرض كالغيبة، والمال كأكل المال و أكل المال له طرق كثيرة منها سرقة ومنها الغصب وهو أخذ المال قهرا ومنها أن يجحده ما عليه من الدين لغيره ومنها أن يدعي ما ليس له وغير ذلك وكل هذه الأشياء حرام ويجب على المسلم أن يحترم أخاه في ماله ودمه وعرضه.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Setiap muslim atas muslim lainnya haram darah, harta, dan kehormatannya’, yakni seorang muslim haram untuk melanggar atas muslim lainnya dalam tiga hal ini, yaitu segala sesuatunya. Hal itu karena tiga hal ini mencakup segala sesuatu seperti pembunuhan, melukai, dan yang semisalnya; melanggar kehormatan seperti gibah; melanggar harta seperti memakan harta orang lain dengan cara yang batil dan caranya banyak seperti mencuri, mengambil harta dengan paksa, melampaui batas tatkala berhutang dengan orang lain. Semua ini haram hukumnya dan wajib bagi setiap muslim untuk memuliakan saudaranya pada harta, darah, dan kehormatannya.”

Sumber: Syarh Riyadh al-Shalihin, Jilid 2, hlm. 158–159.

Alih Bahasa: Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu Umar غفر الرحمن له.

Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail