PIHAK YANG BERHAK MENERIMA KURBAN

بسم الله الرحمن الرحيم

Dalam hal ini, Allah subhanahu wa taala berfirman,

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَآئِسَ الْفَقِيْرَ

“Makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (Al-Hajj: 28).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كلوا وادخروا وتصدقوا

“Makan dan simpanlah serta bersedekahlah dengannya.” (HR. Muslim no. 1.971).

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan,

كلوا وأطعموا وادخروا

“Makanlah, bagikanlah, dan simpanlah.” (HR. al-Bukhari no. 5.569).

Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menerangkan dua hadis di atas,

وهو أعم من الأول لأن الإطعام يشمل الصدقة على الفقراء والهدية للأغنياء

“Hadis yang kedua ini lebih umum daripada yang pertama karena lafaz al-ith‘ām mencakup sedekah untuk orang-orang fakir dan hadiah untuk orang-orang kaya.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 251).

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa daging kurban dibagi-bagikan, dimakan, dan disimpan oleh pemiliknya, serta dibagi-bagikan dalam bentuk sedekah dan hadiah. Apakah ketentuan dalam pembagiannya sepertiga? Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Namun, tidak ada dalil yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ukurannya. Karena itu, boleh dia bagi dengan sepertiga boleh juga tidak. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

الصدقة بالثلث من الأضحية ليست بالواجب لك أن تأكل كل الأضحية إلا شيئا قليلا تتصدق به والباقي لك أن تأكله لكن الأفضل أن تتصدق وتهدي وتأكل

“Bersedekah dengan sepertiga dari kurban tidaklah wajib, boleh semuanya engkau makan dan hanya menyisakan sedikit untuk disedekahkan. Namun, yang lebih utama adalah engkau bersedekah, menghadiahkan, dan memakannya.” (Fatāwā Nūr ‘ala ad-Darb, Jilid 13, hlm. 2).

Pembagian hewan kurban ini luas, mencakup orang kaya dan orang miskin, bahkan boleh dibagikan kepada kerabat-kerabat dan tetangga-tetangga. Syekh ‘Abdul‘aziz bin Baz rahimahullah menerangkan,

في الهدايا والضحايا، يأكل منها ما تيسر، ويطعم الفقراء، ويهدي إلى أقاربه، كل هذا أمر مستحب، وليس فيه تحديد، قد رأى بعض أهل العلم التثليث، وأنه يستحب أن يثلث، فيأخذ ثلثا لنفسه وأهل بيته، وثلثا يهديه لأقاربه وجيرانه، وثلثا للفقراء، ولكن هذا ليس بواجب، إذا فعل ذلك فلا بأس، وإذا أكل أكثر من الثلث، أو أهدى أكثر من الثلث، أو أعطى الفقراء غالبا فلا بأس به، والحمد لله

“Dalam pembahasan hadyu dan hewan kurban, boleh dia makan yang mudah baginya, menyedekahkan kepada orang-orang fakir, menghadiahkan kepada kerabat-kerabat, dan semuanya perkara yang disunahkan. Tidak ada batasan dalam pembagiannya. Sebagian ulama berpendapat dianjurkan dibagi tiga: sepertiga untuk dirinya dan keluarganya; sepertiga untuk kerabat dan tetangga-tetangganya; serta sepertiga untuk orang-orang fakir. Namun, pembagian seperti ini tidaklah wajib. Jika dia lakukan, tidak mengapa. Jika dia makan atau menghadiahkannya lebih dari sepertiga, atau dia berikan sebagian besarnya kepada orang-orang fakir, maka semua ini tidak mengapa, walhamdulillah.” (Fatāwā Nūr ‘ala ad-Darb, Jilid 17, hlm. 353).

Masalah Pertama: Ketentuan Daging yang Dibagikan.

Apakah daging yang dibagikan harus mentah? Al-Lajnah ad-Da’imah telah mengeluarkan fatwa dalam hal ini,

والأمر في توزيعهامطبوخة أو غير مطبوخة واسع، وإنما المشروع فيها أن يأكل منها، ويهدي، ويتصدق

“Dalam pembagiannya, apakah dimasak atau mentah, urusannya mudah (boleh semua). Hanya saja yang disyariatkan adalah memakan, menghadiahkan, dan bersedekah dengannya.” (Fatāwā al-Lajnah ad-Da’imah, Jilid 11, hlm. 394).

Masalah Kedua: Hukum Menjual Daging Kurban dan Upah Si Penjagal.

Bolehkah menjual daging kurban atau memberi upah si penjagal? Dalam hal ini al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

ويحرم أن يبيع شيئا منها من لحم أو شحم أو دهن أو جلد أو غيره لأنها مال أخرجه لله فلا يجوز فيه الرجوع كالصدقة ولا يعطي الجازر شيئا منها في مقابلة أجرته أو بعضها لأن ذلك بمعنى البيع

“Diharamkan menjual sesuatu dari hewan kurban, seperti daging, lemak, kulit, atau yang lainnya karena kurban adalah harta yang dikeluarkan untuk Allah. Tidak boleh mengambil kembali pemberiannya, sebagaimana sedekah. Penjagalnya pun tidak diberikan sesuatu sebagai balasan dari perbuatannya karena yang seperti ini bermakna jual beli.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 253).

Adapun orang yang menerimanya, maka boleh dia jual belikan dan berikan kepada pihak lain sebagai sedekah atau hadiah karena sudah menjadi miliknya. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

فأما من أهدي له شيء منها أو تصدق به عليه فله أن يتصرف فيه بما شاء من بيع وغيره؛ لأنه ملكه ملكا تاما فجاز له التصرف فيه

“Adapun orang yang dihadiahkan dan mendapatkan sedekah dari kurban, maka boleh berbuat sesuai yang dia inginkan seperti menjual dan yang lainnya karena sudah menjadi miliknya dengan sempurna. Boleh dia berbuat pada sesuatu yang sudah menjadi miliknya.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 253).

Namun, bagi yang sudah memberikan dagingnya, tidak boleh membelinya kepada orang yang telah dia hadiahkan atau sedekahkan. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,

لا يشتريه من أهداه أو تصدق به لأنه نوع من الرجوع في الهبة والصدقة

“Tidak boleh membelinya kepada orang yang telah dihadiahkan atau sedekahkan dengannya karena hal ini termasuk dari jenis menarik pemberian dan sedekah.” (Ahkām al-Udhhiyyah wa adz-Dzakāh, Jilid 2, hlm. 253).

Dalil dalam hal ini adalah hadis sahih dari Zaid bin Aslam dari ayahnya yang mendengar ‘Umar radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

عمر رضي الله عنه يقول حملت على فرس في سبيل الله فأضاعه الذي كان عنده فأردت أن أشتريه وظننت أنه يبيعه برخص فسألت النبي صلى الله عليه وسلم فقال لا تشتري ولا تعد في صدقتك وإن أعطاكه بدرهم فإن العائد في صدقته كالعائد في قيئه

“Aku menyedekahkan kuda untuk berperang di jalan Allah. Namun, pemiliknya menyia-nyiakannya, maka aku berkeinginan untuk membelinya dan aku mengira bahwa dia akan menjualnya dengan harga yang murah. Aku pun bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau menjawab, ‘Jangan engkau beli! Jangan engkau ambil kembali sedekahmu walaupun dengan bayaran (beberapa) dirham karena orang yang menarik kembali sedekahnya sama seperti dia menjilat muntahannya kembali.” (HR. al-Bukhari no. 1.490 dan Muslim no. 1.620).

Dibolehkan bagi penjagal untuk mengambil pemberian hewan kurban berupa hadiah atau sedekah bukan sebagai upah. Bahkan dia sangat berhak mendapatkannya. Ibnu Qudamah rahimahullah menerangkan,

فأما إن دفع إليه لفقره، أو على سبيل الهدية، فلا بأس؛ لأنه مستحق للأخذ، فهو كغيره، بل هو أولى؛ لأنه باشرها، وتاقت نفسه إليها

“Adapun jika dia diberi karena dia fakir; atau jika tidak, sebagai hadiah, maka tidak mengapa karena dia berhak mendapatkannya sebagaimana yang lainnya. Bahkan dia lebih berhak dari yang lainnya karena dia yang mengurusi penyembelihannya yang tentu pada jiwanya ada rasa berharap mendapatkannya.” (Al-Mughni, Jilid 9, hlm. 450).

Abu Fudhail Abdurrahman bin Umar غفر الرحمن له.

Baca Juga: 
RINGKASAN FIKIH KURBAN
SYARAT-SYARAT HEWAN KURBAN
JENIS HEWAN YANG DIJADIKAN KURBAN
PIHAK YANG BERHAK MENERIMA KURBAN
HAL YANG BERKAITAN TENTANG PENYEMBELIHAN
LARANGAN MEMOTONG KUKU RAMBUT DAN KULIT BAGI YANG BERKURBAN
HAL LAIN YANG TERKAIT DENGAN HEWAN KURBAN

Ayo Gabung dan Bagikan:
Kanal Telegram: https://t.me/alfudhail
Situs Web: https://alfudhail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *