TENTANG KUNUT WITIR

Pertanyaan:

Apa hukumnya kalau kita jadi makmum pada salat witir yang imamnya kunut, bagaimana kita menyikapinya?

Jawaban:

Oleh al-Ustadz Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar hafizhahullah.

Berkaitan tentang kunut witir, maka terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Pendapat yang kuat wallahua’lam kunut witir disyariatkan, dianjurkan untuk dilakukan berdasarkan riwayat yang datang dari al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,

علمني رسول الله صلى الله عليه وسلم كلمات أقولهن في قنوت الوتر: اللهم أهدني فيمن هديت، وعافني فيمن عافيت، وتولني فيمن توليت، وبارك لي فيما أعطيت، وقني شر ما قضيت، فإنك تقضي ولا يقضى عليك، وإنه لا يذل من واليت، تباركت ربنا وتعاليت

“Rasulullah mengajarkan kepadaku doa yang aku ucapkan pada saat kunut witir,

Ya Allah berilah aku hidayah bersama orang-orang yang engkau beri hidayah, berilah aku keselamatan bersama orang-orang yang engkau beri keselamatan, berikanlah perhatianmu kepadaku bersama orang-orang yang engkau berikan perhatikan, berkahilah aku pada apa saja yang Engkau berikan, jagalah aku dari kejelekan apa saja yang engkau tentukan. Sesungguhnya engkaulah yang menghukumi dan tidak ada seorang pun yang menghukumimu, sesungguhnya tidak akan hina orang yang menjadi walimu, maha berkah engkau wahai Rabb kami lagi maha tinggi.” (HR. al-Baihaqi, Ahmad dan yang lainnya disahihkan oleh syekh al-Albani di dalam Irwā’ al-Ghalīl, no. 429).

Kunut witir yang afdal adalah dilakukan sebelum rukuk, berdasarkan hadis dari sahabat Ubai bin Ka’ab yang menyebutkan bahwa Rasulullah salat witir 3 rakaat, di rakaat pertama beliau membaca sabbihisma rabbikal a’la di rakaat ke dua beliau membaca qul yaa ayyuhalkaafiruun dan dirakaat ketiga beliau membaca qulhuwallahu ahad lalu beliau menyebutkan,

ويقنت قبل الركوع

“Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan kunut sebelum rukuk.” ( Shahih an-Nasāī, 1.698).

Dan boleh juga dilakukan setelah rukuk yakni setelah zikir dari iktidal berdasarkan riwayat dari ‘Urwah ibnu az-Zubair, pada masa Umar, ketika beliau memerintahkan Ubay ibnu Ka’ab mengimami salat, maka saat itu beliau kunut witir setelah itu disebutkan,

ثمَّ يُكَبِّرُ ويَهْوي ساجدً

“Kemudian dia bertakbir dan turun sujud.” (Ibnu Khuzaimah dan disahihkan oleh syekh al-Albani di dalam Shahih Ibnu Khuzaimah, no. 1100).

Ini menunjukkan ketika itu mereka kunut sesudah rukuk.

Kunut witir ini hukumnya sunah boleh dilakukan terus menerus dan boleh juga dilakukan kadang-kadang. Syekh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang sebagian imam yang selalu melakukan kunut witir di setiap malam, lalu beliau menjawab,

: لا حرج في ذلك، بل هو سنة؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم لما علم الحسن بن علي رضي الله عنهما القنوت في الوتر لم يأمر بتركه بعض الأحيان ولا بالمداومة عليه، فدل ذلك على جواز الأمرين، ولهذا ثبت عن أبي بن كعب رضي الله عنه حين كان يصلي بالصحابة رضي الله عنهم في مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه كان يترك القنوت بعض الليالي ولعل ذلك ليعلم الناس أنه ليس بواجب

“Hal itu tidak mengapa. Bahkan kunut witir, hukumnya sunah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajari al-Hasan ibnu ‘Ali radhiyallahu ‘anhu kunut ketika salat witir, beliau tidak memerintahkannya untuk dilakukan kadang-kadang dan tidak memerintahkannya untuk dilakukan terus menerus. Ini menunjukkan bahwa kedua-duanya boleh dilakukan. Oleh karena ini, telah jelas berita dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu ketika mengimami para sahabat radhiyallahu ‘anhum di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau meninggalkan kunut witir pada sebagian keadaan, bisa jadi hal itu beliau lakukan untuk menjelaskan kepada manusia bahwa kunut witir ini hukumnya tidak wajib.” ( Majmū’ al-Fatāwā, jilid 30, hlm. 33).

Wallahua’lam

Sumber: Majmu’ah al-Fudhail
Publikasi: https://t.me/TJMajmuahFudhail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *